Chapter 10. Ya kan? #malah nanya, woi!
Oke, chapter kemarin membingungkan ya? Iya? Iya gak? Iya pasti... (?) Ya, maklumi saja, namanya juga misteri... ya masa ngertinya cepet... (?) oke, langsung baca aja!
Selamat membaca!
Can't Come Back
Seorang gadis sebatang kara dengan rambut hitam panjangnya yang terurai berantakan, mengadah ke arah laki-laki di depannya. Pandangan matanya sungguh berharap pada laki-laki itu. kain kusam yang menyelimuti tubuhnya membuatnya terlihat sangat mengenaskan.
Wajah laki-laki itu datar saat melihat gadis itu. Tapi melihat keinginan kuat gadis itu, laki-laki itu pun akhirnya mengabulkan keinginannya.
"Kau yakin mau menjadi Sleeping Priestess?" Tanya laki-laki itu.
"Iya! Aku... Aku mau!" Gadis itu terlihat tidak yakin namun ia menjawab pertanyaan laki-laki itu dengan antusias.
"Kalau begitu, ikutlah denganku. Mulai sekarang, kau bagian dari keluarga Asou..."
Gadis berambut hitam itu pun bangkit dan ikut bersama kepala keluarga Asou. Selama perjalanan menuju kuil, mereka berdua sama-sama menutup mulut. Tidak ada niat untuk membuka mulut sama sekali.
Setelah berjalan melewati 2 desa, akhirnya gadis itu sampai di sebuah kuil. Para pelayan pun menyambut mereka dan membukakan pintu untuk mereka.
"Dia Sleeping Priestes berikutnya." Kata laki-laki itu pada seorang pelayan dengan suara pelan. pelayan itu pun berjalan beberapa langkah ke arah gadis asing itu dan membungkuk sopan. Laki-laki itu kemudian pergi begitu saja ke arah lain. Sementara pelayan itu merujuk gadis itu untuk ikut bersamanya.
Selama pelayan itu membimbing gadis itu, gadis itu terus melihat ke sekelilingnya. Suasana yang sedikit ramai dengan beberapa orang yang menatapnya dengan tatapan kagum. Juga beberapa anak kecil yang sedang bermain sambil tertawa. Pandangannya sempat bertemu dengan seorang gadis bermata emas yang sedang duduk di bawah pohon sakura.
"Silahkan masuk." Suara pelayan itu membuat gadis itu kaget. sebuah pintu sudah terbuka untuknya. Ia melihat ke arah pelayan itu. Gadis itu pun melangkah masuk sendiri.
Begitu gadis itu sudah berada di dalam ruangan, pelayan itu menutup pintunya perlahan. Di dalam ruangan itu, sudah ada gadis lain yang menunggu. Menyadari kedatangan seseorang, gadis itu pun berbalik melihat gadis di depannya.
Awalnya ekspresinya biasa saja melihat gadis berambut hitam yang baru datang itu. namun dalam hitungan detik, matanya membulat dan mulutnya terbuka lebar.
Ia segera berlari kecil menuju gadis itu. Akan tetapi, gadis itu terjatuh karena tersandung kakinya sendiri.
"A-aduh..." Gadis itu memegangi kepalanya. Saat ia membuka mata, sepasang kaki telah berdiri tepat di depannya. Ia langsung mengadah ke atas dan melihat gadis yang kebingungan melihatnya. Ia langsung berdiri sambil menahan malu.
"M-maafkan aku, Miko-sama! Aku tidak sengaja! Lain kali aku tidak akan mengulanginya lagi!" Gadis itu terus membungkuk meminta pengampunan atas ketidak sempurnaan dirinya. Ia buka sebelah matanya sedikit, dan melihat gadis itu semakin kebingungan.
"Miko-sama?" Tegur gadis itu. gadis berambut hitam itu memiringkan kepalanya. "Apa kau memanggilku?" Tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri. Gadis itu kembali panik. "A-ah! Iya! Tentu saja!"
"Namaku Yuki."
"Saat itu. Saat pertama kali kita bertemu..."
"Eh?" Gadis itu tertegun. "Jangan panggil aku 'Miko' karena itu bukan namaku." Perintah gadis itu.
"Aaah! Hal itu tidak bisa! Aku tidak bisa melakukannya! Miko adalah sebutan untuk pendeta wanita! Anda adalah Sleeping Priestess berikutnya! Aku tidak bisa memanggil anda dengan nama anda!" Gadis itu terlihat panik sambil terus membungkuk.
"Pendeta?" Gadis itu terlihat kebingungan.
"Eh? I-iya. Pendeta... " Gadis itu mengadah ke arah gadis di depannya. Tubuhnya masih membungkuk.
"Apa... tugas pendeta?" Tanya gadis itu. "Hah?! Gadis ini diangkat jadi pendeta, tapi tidak tau tugas pendeta!?" Batin gadis itu heran.
"Tugas pendeta adalah, menyerahkan dirinya pada dewa dan roh untuk menjaga keselamatan umat manusia..." Jawab gadis itu masih dalam posisi yang sama. "Anda dilarang keluar dan harus tinggal di sini..." Lanjutnya.
"Oh, begitu... lalu kau siapa?" Tanya gadis itu.
Gadis itu langsung membungkuk kembali. "A-aku adalah pelayan anda! Aku akan melayani anda sampai anda menyelesaikan ritual anda!" Jawab gadis itu agak panik.
"Apa kau akan selalu berada di sisiku?"
"Y-ya!"
"Kalau begitu, jadilah temanku!"
"Saat itu, kita mulai berteman."
"Siapa namamu?" Tanya gadis itu sambil tersenyum.
Gadis itu berdiri tegak perlahan. Wajahnya memperlihatkan rona merah karena kagum sekaligus malu.
"Namaku... Sayaka..." Jawab gadis itu tidak percaya.
Gadis itu tersenyum ke arahnya.
"Sayaka-chan." Gadis itu menggenggam tangan gadis itu dengan erat.
Kedua anak perempuan berusia 10 tahun itu terus bersama-sama, sampai sebuah ritual memisahkan mereka.
Pairing : Natsu D. & Lucy H.
Genre : Horor/Mystery
Disclaimer : Hiro Mashima
Warning : OOC buanget, Typo(s), Jelek, membingungkan, serem? Mungkin, banyak setannya.
Tubuh Natsu langsung terasa lemas beberapa detik setelah wanita itu menghilang. Ia jatuh berlutut membelakangi Lucy dan Yuki. Lucy langsung berlutut di sebelah Natsu dan menggenggam tangan Natsu yang gemetaran.
"Natsu!" Panggil Lucy.
Tidak ada jawaban dari Natsu. Menengok saja tidak. Natsu langsung melepas genggaman Lucy dan memeluk dirinya sendiri seerat mungkin. Ia terlihat kepanasan. Lucy dan Yuki hanya melihatnya dengan tatapan aneh dan takut.
Natsu langsung melepas jaketnya dan membuangnya ke sembarang tempat. Mata Lucy sekilas melihat jaket yang dibuang oleh pemiliknya itu. Namun ketika matanya kembali melihat Natsu, suatu hal yang mengejutkan terlihat di bahu Natsu.
Mata Lucy membulat dan mulutnya terbuka. "N-Natsu!" Lucy langsung menyentuh bahu Natsu. Sementara Natsu hanya menahan panas dan nyeri di bahunya. Yuki menarik nafas panjang dan langsung menghembuskannya.
"Tato Sleeping Priestess..." Gumam Yuki.
"Ada apa dengan tato ini!? Kenapa semakin meluas?!" Lucy terlihat kesal dan takut dengan tato aneh di bahu Natsu yang terus meluas ke area punggungnya.
"Wanita itu... jangan-jangan dia Sleeping Priestess..." Mata Yuki membulat ketika ia menyadari sesuatu.
"Kenapa?! Kenapa kalau dia itu Sleeping Priestess?! Apa dia melakukan sesuatu kepada Natsu?!" Tanya Lucy bertubi-tubi. Sesekali Natsu berteriak kesakitan, dan itu membuat Lucy semakin khawatir.
"Sleeping Priestess melakukan ritual untuk menjaga keselamatan umat manusia sama seperti pendeta lainnya. Ritual untuk Sleeping Priestess adalah menjaga keselamatan bagi orang-orang yang menyalahkan diri mereka sendiri karena orang lain yang meninggal. Karena ritual ini gagal, orang-orang seperti itu akan mendapatkan kutukan berupa tato seperti itu." Jelas Yuki.
"Natsu... kehilangan mamanya dalam kecelakaan mobil..." Gumam Lucy. Lucy tiba-tiba teringat dengan masa lalu Natsu yang cukup kelam. Penyebab ibunya meninggal adalah karena dirinya. Sampai sekarang, Natsu masih menyalahkan dirinya sendiri atas kematian ibunya.
Natsu mulai bisa mengatur nafasnya. Sepertinya tato itu sudah berhenti menyebar dan tidak menimbulkan rasa panas dan sakit pada tubuh Natsu. Lucy segera memeriksa keadaan Natsu. "Natsu! Kau sudah baikan?" Tanya Lucy khawatir.
Keringat di wajah Natsu terus mengalir turun sampai leher dan dadanya. Ia masih belum menjawab pertanyaan Lucy.
"Natsu! Natsu!" Panggil Lucy.
Suara Lucy terasa bergema di telinga Natsu. "Lu...cy..." Gumam Natsu. Perlahan suara Lucy terdengar aneh di telinga Natsu. Suara itu memanggilnya lembut dan tenang.
"Natsu... Natsu..." Suara Lucy berubah. Natsu yakin kalau suara Lucy berubah.
"Natsu, jangan ngambek lagi ya? Mama kan sudah membelikan boneka beruang yang kau inginkan... Natsu... Natsu..."
"Natsu!" Panggilan terakhir Lucy akhirnya berhasil membuat Natsu menengok ke arahnya. "Lucy... ?" Natsu tampak kebingungan. "Apa?" Tanya Lucy heran sekaligus terkejut.
"Apa tadi... kau mendengar suara mamaku?" Tanya Natsu dengan wajah ketakutan. Yuki hanya menunduk mendengar itu. "Semakin kau ingat dengan dia, tato itu akan..." Gumam Yuki.
"T-tidak. Tidak sama sekali... " Jawab Lucy. "Lalu... suara siapa yang aku dengar tadi? Dari mana aku mendengarnya?! Suara itu memanggilku! Suara itu berkata dia sudah membelikan boneka beruang yang aku inginkan! Satu-satunya orang yang membelikanku boneka beruang adalah mamaku!" Kata Natsu setengah berteriak. Lucy tercengang melihat Natsu.
Natsu mencoba bediri meski kakinya terasa lemas. Lucy membantunya berdiri. Ia sungguh khawatir dengan Natsu. "Aku harus mencari asal suara itu. Mama belum mati..."
"!" Lucy spontan menampar Natsu. Yuki dengan cepat langsung melihat ke arah mereka berdua.
"Apa yang kau bilang barusan?! Mamamu belum mati?! Lelucon macam apalagi yang kau buat?! Kupikir kau sudah menerima kenyataannya! Hanya karena sebuah suara yang memanggilmu, kau langsung beranggapan kalau itu adalah suara mamamu?! Natsu! Mamamu sudah meninggal dalam kecelakaan mobil!"
"... Kecelakaan..." Natsu tampak terkejut. Seakan-akan ia baru mendengar berita itu sekarang. Natsu menunduk. "Benar. Mama sudah meninggal. Dalam kecelakaan mobil. Ini semua karena aku. Andai saja aku tidak pernah meminta dibelikan boneka itu... mama akan—"
"Natsu..."
Natsu langsung mengangkat kepalanya begitu mendengar suara itu memanggilnya lagi.
"Tapi aku penasaran suara siapa yang memanggilku itu!" Natsu langsung memakai jaketnya kembali dan segera berlari menuju suara itu. Sebelum ia selesai memakai jaket itu dengan benar, Lucy melihat tato itu kembali muncul di punggungnya sekilas, lalu hilang. Yuki langsung berlari mengejar Natsu.
Setelah beberapa detik, Lucy baru bangkit dan berlari. Ia mengikuti jejak Natsu, belok ke kanan. Tapi saat ia sudah sampai di sana, Natsu tidak ada.
"C-cepat sekali..." Gumam Lucy. Ia berjalan perlahan menelusuri lorong itu sampai pada pilihan 'Kiri' atau 'Kanan'. Saat ia melihat ke kiri, sekelompok kupu-kupu berwarna ungu gelap dengan cahaya amethys sedang berkerumun di depan sebuah pintu.
Memang di pintu sebelah kanan juga ada sebuah pintu. Tapi kupu-kupu ini hanya mengerumuni pintu sebelah kiri. Lucy pun berjalan ke arahnya. Natsu juga pasti melakukan hal yang sama saat melihat kerumunan kupu-kupu ini.
"Natsu..."
Natsu berlari sampai ia menemukan 2 pecahan jalan. Kiri dan kanan. Saat ia melihat ke kanan, sekelompok kupu-kupu ungu gelap dengan cahaya amethys sedang berkerumun di depan sebuah pintu.
"Natsu..."
Natsu berjalan mendekati kupu-kupu itu sedangkan Yuki mengekor di belakangnya. "Cantik... " Mata hitamnya memantulkan cahaya yang dipancarkan oleh sekumpulan kupu-kupu itu.
"Natsu... apa kau ingin melihatku?" Ucap suara itu. Natsu membuka mulutnya, hendak menjawab. Tapi suara itu telah memotongnya.
"Kalau begitu, bukalah pintu ini, dan ikuti kupu-kupu ini. Tenang saja, kupu-kupu ini sudah menemaniku sejak lama. Mereka akan membawamu padaku."
Tanpa ragu Natsu pun membuka pintu sebelah kanan. Tidak ada kecurigaan terhadap kupu-kupu ungu ini, karena kecantikkannya telah menghipnotis Yuki. Anak-anak memang suka sesuatu yang unik kan?
Saat pintu tertutup, semua kupu-kupu itu menghilang.
Tak lama setelah itu, Lucy datang dan sampai pada posisi Natsu. Saat ia melihat ke sebelah kiri, kelompok kupu-kupu ungu itu sudah berkumpul di depan pintu sebelah kiri.
Tanpa ragu, Lucy berjalan memasuki pintu itu, ia yakin kalau Natsu ada dibaliknya.
"Tempat apa ini?" Gumam Lucy sambil menelusuri sebuah ruangan gelap. Di dalam ruangan gelap itu, mata Lucy menangkap cahaya amethys dari seekor kupu-kupu. Dengan yakin, Lucy mengikuti kupu-kupu itu.
Perlahan, Lucy menengok ke dalam sebuah ruang kecil seperti penjara. Di dalamnya ada seorang gadis seumurannya yang sedang duduk dengan kedua kaki menyamping sambil menunduk.
Lucy tak memperhatikan kupu-kupu yang sudah hilang entah sejak kapan. Perhatiannya hanya tertuju pada gadis di dalam penjara kayu itu. Jaraknya dengan Lucy hanya 1 meter.
"Aku yang telah membunuhnya." Ucap gadis berambut putih itu tiba-tiba.
Lucy tersentak kaget dan terjatuh ke belakang sehingga menimbulkan suara lumayan keras. Gadis itu kemudian menyadari kehadiran Lucy. Ia menoleh ke arahnya.
"Menurutmu, apa dia akan memaafkan aku? Karena aku sudah meninggalkannya di belakang. Karena aku tidak datang untuk menjemputnya. Karena saat aku kembali dia sudah dibawa oleh penduduk desa..." Gadis itu berbicara panjang lebar mengenai hal yang tidak Lucy ketahui.
Lucy langsung menyadari kehadiran kupu-kupu ungu itu yang sudah menunggu di depan pintu. Dilihatnya lagi gadis itu. Gadis itu tidak bergeming dan hanya menunduk.
"H-hey..." Tegur Lucy. Gadis itu tetap diam. Karena merasa takut dan juga tidak begitu penting, Lucy pun meninggalkan gadis itu sendirian.
Yang penting adalah ia harus menemukan Natsu.
"Ya. Teruslah ikuti kupu-kupu ini. Aku yakin mereka akan membawamu kepadaku."
Natsu terus berjalan mengikuti kupu-kupu itu sambil terus mendengarkan suara yang ia sayangi itu.
Kelompok kupu-kupu lain mengerumuni Yuki di belakang dengan maksud supaya perhatian anak ini tetap pada mereka, dan tidak pada Natsu. Namun begitu, Yuki tetap berjalan di balakang Natsu.
"Cantiknya..." Gumam Yuki. Senyumnya semakin mengembang ketika seekor kupu-kupu hinggap di rambutnya sehingga terlihat seperti hiasan rambut. Belum lagi kupu-kupu yang hinggap di pundak dan gaunnya. Yuki sudah benar-benar terpesona dengan kecantikan kupu-kupu itu.
Sekarang Natsu telah sampai di sebuah lorong menurun yang amat gelap. Cahaya dari kupu-kupu itu menjadi penerang yang sangat indah. Kupu-kupu yang berada di sekitar Yuki pun pergi untuk menerangi jalan Natsu.
Barulah Yuki tersadar. Mata hitamnya langsung berganti menjadi keemasan.
"NATSU! JANGAN KE SANA!" Teriak Yuki. Baru satu langkah ia berlari, puluhan kupu-kupu sudah menutupi jalannya. Mereka menghalangi Yuki untuk mengejar Natsu.
Perlahan, Natsu pun hilang di dalam kegelapan.
"Nah, sebentar lagi 'kau akan melihatku...'" Ucap suara itu. Natsu sedikit senang mendengarnya.
.
.
.
"Tapi bukan berarti 'aku akan melihatmu dan mendekatimu.'"
.
.
.
"Kaulah yang harus mendekatiku."
.
.
.
"Nak."
To Be Continued
Ya! Akhirnya selesai juga! Author hiatusnya udah 1 bulan lebih #OOOOOOOOH...
Author mah kalo sekali hiatus pasti lama. Mohon dimengerti, sebentar lagi author mau UN, jadi banyak tugas dan 'Acara' dari sekolah maupun dinas. Tau kan 'Acara' apa? Mungkin sampai bulan Mei/Juni, author bakalan update tidak teratur. Setelah itu, update akan teratur seperti biasa.
Untuk request yang belum sempat dibuat, maaf, karena terlalu lama. Idenya sudah ada, tapi belum sempat di buat. Fic-fic lain pun masih menunda updatenya. Mohon tunggu sampai author selesai UN.
Akhir kata,
Jangan lupa review! :D
