Kenangan Kesepuluh
Dua hari sesudahnya aku sudah masuk kerja lagi. Rasanya sih sudah sehat. Meski mataku agak kabur, tak senormal biasa, tapi bisa-lah dipakai bekerja biasa.
Severus setiap hari membawakanku Ramuan. Meski aku tidak bertemu dengannya langsung, tapi tiap sore sepulang kerja, aku menemukan kuali berisi Ramuan menggelegak di atas api, siap dipindahkan ke piala dan diminum.
Keadaan sekarang cukup genting. Beberapa saat lalu konon ada siswa Hogwarts yang nyaris mengenakan kalung yang sudah dikutuk. Konon ia mendapatkannya di tempat minumnya Madam Rosmerta. Siswa itu sekarang sih sudah sekolah lagi setelah beberapa waktu dirawat di St Mungo.
Itu di Hogwarts, tempat yang konon dikenal paling aman. Jangan dikata di tempat-tempat lain. Ada yang diserang manusia serigala, padahal bukan malam bulan purnama. Ada yang dikecup Dementor, kau tahu kan, Kecupan Dementor? Belum lagi yang diserang Inferi ... Makhluk-makhluk aneh mulai bergentayangan.
Severus datang malam-malam lagi. Kali ini ia tidak memakai jubah Death Eaters-nya, hanya jubah biasa. Wajahnya muram. Kusut. Lelah. Seperti ... habis bertengkar. Tapi, bertengkar dengan siapa?
Kami duduk di sofa. Ia menyandarkan kepalanya di bahuku. Refleks tanganku mengusap-usap rambutnya. Hening. Senyap. Ia seperti yang ingin berkeluh kesah, tetapi ditahannya.
Aku juga ingin bertanya, tetapi kutahan saja. Kubiarkan saja. Mungkin tidak tepat bicara denganku. Mungkin terlalu pelik, terlalu rumit. Sebagai Squib, ada banyak permasalahan penyihir yang tidak kuketahui. Jadi kubiarkan saja.
Akhirnya ia buka suara, "Anna..."
"Hm..."
Hening lagi.
"Soal ... penyakitmu dulu."
"Tidak usah dihiraukan, Severus. Paling flu biasa," sahutku sekenanya. Aku merasa bukan hal itu yang dirisaukannya. Ada hal lain yang jauh, jauh, jauh lebih rumit sekali yang sedang dihadapinya. Masalah penyakitku, itu masalah kecil. Lagipula, aku kan sekarang sudah sehat. Paling tinggal mataku saja. Dan sendi-sendi tulangku rasanya sedikit lebih cepat lelah.
Ia duduk tegak, wajahnya seriu, "Anna, tapi aku tidak dapat menemukan apa penyakitmu waktu itu. Aku curiga ... itu penyakit Muggle."
Keningku berkerut, "Memangnya ada perbedaan antara penyakit Penyihir, Squib, dan Muggle?" tanyaku heran.
"Pada derajat tertentu, ada. Aku takkan menerangkan lebih lanjut," katanya sungguh-sungguh, "tapi, maukah kau berkonsultasi dengan Healer Muggle?"
"Dokter."
"Dokter, apalah namanya. Atau perlu kuantar?"
Aku tersenyum. Membayangkan dia dengan jubah hitamnya mengantarku ke dokter.
"Tidak usah. Biar aku sendiri saja."
Ia mengangguk, "Janji ya?"
Aku mengangguk juga.
Ia memelukku dan mencium keningku. "Aku pulang dulu. Kau pergi tidur. Jangan kurang tidur lagi, nanti kau sakit lagi."
"Kau sendiri juga ..." aku sudah mau protes, tetapi diletakkannya telunjuknya di atas bibirku.
"Jangan protes," bisiknya. Dikecupnya ringan bibirku, lalu ia keluar dari pintu depan.
Kususul ia ke pintu, tapi ia sudah lenyap.
TBC
