Title : Tangled

Cast : Kai, Sehun, Others

Warning : This is REMAKE!

Disclaimer : Original story is belong to TANGLED By EMMA CHASE

Yang ku punya hanya nama cast/? XD
GS, buat keperluan dan kenyambungan/? cerita :3

Warning : BANYAK TYPO dan kalimat-kalimat yang susah dimengerti/?

.

.

.

Here it is chapter 10 :D

Happy Reading

.

.

.

Aku tidak membuat kalian bosan dengan detail jorok ini, kan? Aku bisa mempersingkat semua ini dengan hanya mengatakan: Sehun dan aku bercinta sepanjang akhir pekan. Tapi itu tidak akan benar-benar menyenangkan juka aku hanya berkata-kata, kalau kalian tau bercinta kami yang sebenarnya. Momen kecil kami. Momen-momen yang tampak konyol dan tidak penting pada saat itu.

"Ini adalah bantal yang sempurna."

Kami baru saja memesan makanan, masakan Itali, dan kami sedang menunggu pesanannya datang. Sehun duduk di sofa di tengah sebuah oase bantal dan selimut. Dan Sehun memegang satu bantal yang berasal dari kamar tidur di pangkuannya.

"Bantal yang sempurna?"

"Ya," katanya. "Aku sangat pilih-pilih ketika menyangkut urusan bantal. Dan yang satu ini sempurna. Tidak terlalu kempis, tidak terlalu gembung. Tidak terlalu keras, tidak terlalu lembek."

Aku tersenyum. "Senang mengetahuinya."

Kami telah memutuskan untuk menonton film. TV Kabel dengan pilihan sesuai permintaan adalah penemuan terbesar kedua di zaman ini. Yang pertama, tentu saja, TV plasma layar lebar. Aku bangkit untuk mengambil remote sementara Sehun meraih sesuatu dari tasnya di lantai. Apakah aku menyebutkan bahwa kami masih telanjang? Benar sekali. Ini pembebasan. Menyenangkan. Semua bagian yang indah mudah dijangkau. Dan pemandangannya fantastis.

Saat aku berbalik untuk berjalan kembali ke sofa, aroma yang sudah kukenal menyerang lubang hidungku. Manis dan beraroma bunga. Gula dan musim semi. Aku melihat Sehun sedang menggosok lotion di lengannya. Aku merebut botol itu darinya, seperti anjing menggigit tulang.

"Apa ini?"

Aku mendekatkan botol ke hidungku dan menghirup napas dalam-dalam, kemudian jatuh kembali di atas bantal dengan erangan puas.

Sehun tertawa. "Jangan menghirupnya. Ini pelembab. Aku tidak sadar melawan kulit kering bisa membuatmu begitu senang."

Aku mengamati botolnya. Vanili dan lavender. Aku kembali menghirupnya dalam-dalam. "Aromanya seperti kamu. Setiap kali kau dekat denganku, kau beraroma seperti...seperti buket bunga sunshine dengan gula di atasnya."

Dia tertawa lagi. "Ah, Jongin, Aku tak tahu kalau kau seorang penyair. William Shakespeare akan sangat iri."

"Apa bisa dimakan?"

Dia membuat ekspresi muak. "Tidak."

Sayang sekali. Aku akan menuangkannya pada makanan seperti saus hollandaise. Kurasa aku cukup puas mencicipinya pada Sehun. Sekarang karena aku memikirkannya—itu adalah pilihan yang lebih kusukai.

"Mereka juga membuat busa mandi. Karena kau begitu menyukainya, lain kali aku akan membawanya."

Ini petunjuk pertama yang dia dibuat tentang lain kali. Sebuah kencan di kemudian hari. Sebuah masa depan. Tidak seperti kencanku sebelumnya, usulan pertemuan kedua dengan Sehun tidak membuatku menjadi acuh tak acuh atau terganggu. Sebaliknya, aku antusias, bersemangat tentang prospeknya.

Aku terpaku menatapnya untuk sesaat, tenggelam dalam kenikmatan aneh hanya dari menatapnya. Aku bisa mengambil pekerjaan tetap dengan menonton Oh Sehun.

"Jadi," dia bertanya, "Apa kita sudah memutuskan filmnya?" Dia duduk disampingku, dan lenganku secara alami memeluknya.

"Aku sedang berpikir menonton Braveheart."

"Ugh. Ada apa dengan film itu? Kenapa semua orang kecanduan?"

"Ah, alasan yang sama kenapa wanita terobsesi dengan film The Notebook. Itu film yang akan kau usulkan, bukan?"

Dia tersenyum licik, dan kutahu aku menebak dengan benar. "The Notebook adalah film romantis."

"Sangat gay."

Dia memukul wajahku dengan bantal yang. "Itu film yang manis."

"Memuakkan. Aku punya beberapa teman homoseksual sejati dan film itu katanya terlalu gay untuk mereka."

Dia mendesah sambil menerawang. "Ini adalah kisah cinta, kisah cinta yang indah. Bagimana setiap orang mencoba memisahkan mereka. Tapi kemudian, bertahun-tahun kemudian, mereka saling bertemu lagi. Itu adalah takdir."

Aku memutar mata. "Takdir? Ayolah. Takdir itu cerita dongeng, Sayang. Dan sisanya adalah setumpuk omong kosong juga. Kehidupan nyata tidak berjalan seperti itu."

"Tapi itu—"

"Itulah sebabnya tingkat perceraian begitu tinggi. Karena film seperti itu memberikan wanita harapan yang tidak masuk akal. Dan pria manakah yang mau membangun kamar di rumahnya untuk seorang gadis yang mengisap kejantanannya? Pria manakah yang mau menunggu selama bertahun-tahun untuk gadis yang sama akan muncul di pintu rumahnya, hanya untuk mengetahui bahwa gadis itu sudah bersama pria lain? Dia sama sekali bukan seorang laki-laki."

"Bukan laki-laki, kalau begitu apa?"

"Vagina berambut lebat yang tidak di wax."

Oh. Apakah itu terlalu kasar? Aku khawatir memang begitu. Sampai akhirnya Sehun menutup mulutnya dengan tangan dan jatuh di atas sofa, tertawa terbahak-bahak.

"Oh...Ya...Tuhan. Kau benarbenar...orang...jorok. Bagaimana...kau bisa menemukan kalimat itu?"

Aku mengangkat bahu. "Aku menyebut mereka menurut pandanganku. Aku tidak akan minta maaf untuk itu."

Tawanya mereda, tapi senyumnya masih tersisa. "Oke, jangan menonton Notebook."

"Terima kasih."

Kemudian wajahnya berseri. "Oohh, bagaimana kalau Anchorman:The Legend of Ron Burgundy?"

"Kau suka Will Ferrell?"

"Apa kau bercanda? Apa kau pernah menonton Blades of Glory?"

Itu salah satu film favoritku. "The Iron Lotus? Film klasik."

Dia menaik turunkan alisnya kearahku dan mengutip kalimatnya dengan ahli, "Kau punya krim untuk meredakan luka bakar yg parah itu?"

Aku tertawa. "Ya Tuhan, aku cinta k—" Kemudian aku tersedak. Dan batuk. Dan berdehem. "Aku cinta...film itu." Aku memainkan remotenya, dan kami berbaring di sofa ketika film Anchorman mulai.

Oke—jangan marah padaku sekarang. Mohon semua tenang sebentar, bisa? Ini adalah kesalahan kecil. Keceplosan. Tidak lebih. Lidahku akhir-akhir ini terlalu sering dipakai, jadi kupikir ini bisa dimaklumi.

.

Setelah makan, kami terus menonton Ron Burgundy, saling menyandarkan tubuh satu sama lain di sofa, punggungnya menempel dadaku. Wajahku di rambutnya lagi, menghirup aroma yang sudah membuatku menjadi kecanduan. Aku terhanyut kedalam mimpi.

Tawa Sehun bergetar di dadaku saat ia bertanya dengan lembut, "Apa itu yang kau pikirkan tentangku?"

"Hmmm?"

"Saat aku mulai bekerja di perusahaan. Apa kau pikir aku adalah seorang 'wanita kalajengking'?"

Dia mengacu pada kalimat dari Will Ferrell yang baru saja diucapkan dalam film. Aku tersenyum dengan mengantuk.

"Aku...ketika aku pertama kali melihatmu hari itu di ruang konferensi, itu sangat mengejutkanku. Setelah itu, aku tahu bahwa segalanya tidak akan pernah seperti dulu lagi."

Dia pasti menyukai jawabanku. Karena satu menit kemudian, ia menggesek pinggulnya ke tubuhku. Dan kejantanan setengah tegakku meluncur di antara celah pantatnya. Aku tak peduli betapa lelahnya seorang pria, dia bisa saja bekerja tiga puluh lima jam mengangkut kantong pasir ke seluruh penjuru negeri, gerakan itu akan selalu dan selalu membangunkannya.

Bibirku bergerak menuju lehernya saat tanganku meluncur di perutnya. "Oh Tuhan, Sehun. Aku tidak bisa berhenti...menginginkanmu."

Sudah mulai menggelikan, bukan? Aku merasa napasnya meningkat. Dia berbalik menghadapku, dan bibir kami bertemu. Tapi sebelum kami melangkah lebih jauh, rasa penasaran menguasaiku, dan aku menarik diri. "Apa yang kau pikirkan tentangku ketika kita pertama kali bertemu?"

Matanya bergulir ke langit-langit sambil merenungkan jawabannya. Kemudian dia tersenyum. "Yah...malam pertama di REM, kupikir kau...berbahaya. Kau memancarkan aura seks dan pesona." Jemarinya menelusuri bibir dan alisku. "Senyum itu, matamu, keduanya seharusnya terlarang. Selama pacaran dengan Luhan, itu adalah pertama kalinya aku berharap aku masih single. "

Wow.

"Dan kemudian di kantor aku mendengar para sekretaris membicarakanmu. Bagaimana kau gonta-ganti cewek setiap akhir pekan. Tapi setelah beberapa saat...Aku melihat bahwa ada banyak hal yang lebih tentang dirimu. Kau brilian dan lucu. Kau protektif dan perhatian. Kau bersinar begitu terang, Jongin. Segala sesuatu yang kau lakukan, caramu berpikir, hal-hal yang kau ucapkan, caramu bergerak, itu...menyilaukan. Aku merasa beruntung...hanya berada di dekatmu."

Aku tak mampu bicara. Jika ada wanita lain mengatakan itu padaku, aku setuju dengannya. Aku akan mengatakan padanya bahwa dia beruntung bisa bersamaku, karena aku terbaik dari yang terbaik. Tak ada yang lebih baik. Namun berasal dari bibir Sehun? Dari seseorang yang pikirannya membuatku iri, pendapat siapa yang sebenarnya lebih kukagumi? Aku hanya...tidak punya kata-kata. Jadi, sekali lagi, aku membiarkan perbuatanku saja yang bicara. Bibirku menekan bibirnya, dan lidahku memohon untuk masuk. Tapi ketika aku mencoba untuk memutar kami sehingga aku berada di atas tubuhnya, Sehun punya ide lain. Dia mendorong bahuku sampai aku telentang. Lalu dia menggerakkan mulutnya di atas rahang dan leherku, membakar jejak ke bawah dada dan perutku. Aku menelan ludah. Dia memegang kejantananku di tangannya dan memompa dengan perlahan, dan milikku sudah keras seperti baja. Milikku sudah tegang saat dia mulai bicara tadi. "Oh Tuhan, Sehun..." aku tetap membuka mataku, dan melihat dari atas saat ia membasahi bibirnya, membuka mulutnya, dan milikku meluncur masuk "Sial..." Dia memasukkan seluruh kejantananku di dalam mulutnya dan mengisap keras saat ia menarik keluar dengan perlahan. Lalu dia melakukannya lagi.

Aku adalah penikmat oral seks. Untuk seorang pria, oral seks adalah jenis seks yang paling mudah. Tanpa repot, sedikit kekacauan. Jika ada di antara kalian di luar sana belum pernah melakukannya, aku akan memberitahu kalian sebuah rahasia kecil. Setelah kejantanan seorang pria masuk ke dalam mulutmu, dia akan sangat senang, hingga tidak terlalu peduli apa yang kalian lakukan pada dia sesudahnya. Namun, ada trik tertentu yang membuat oral seks lebih nikmat.

Sehun memompa milikku dengan tangannya sambil meningkatkan hisapan di ujungnya dengan mulut kecilnya yang seksi. Seperti sekarang, misalnya. Dia memutar-mutar lidahnya di sekitar bagian kepala seperti dia menjilati permen lolipop. Dari mana dia mempelajarinya? Aku mengerang tak berdaya dan mencengkeram bantal sofa. Dia memasukkan seluruh milikku ke tenggorokannya sekali, kemudian dua kali. Kemudian dia berganti menjadi gerakan cepat, memompa secara pendek dengan mulut dan tangan. Ini luar biasa. Aku sudah pernah di hisap oleh yang terbaik dari mereka. Dan aku bersumpah, Oh Sehun punya teknik seorang bintang porno.

Aku mencoba untuk tetap diam, sadar bahwa ini sesungguhnya adalah kali pertamanya, tapi sulit. Dan kemudian tangannya berpindah ke bawah tubuhku, pada pantatku, mendesakku ke atas. Dia membimbing pinggulku naik turun, mendorongku keluar masuk . Dia menyingkirkan tangannya, tapi pinggulku terus bergerak dalam tusukan dangkal. Aku hampir kehilangan kendali—tapi aku selalu memberikan peringatan terlebih dulu. Jika seorang pria tidak memperingatkanmu? Campakkan dia secepatnya. Dia cowok brengsek.

"Sehun...Sayang, aku...kalau kau tidak menyingkir sekarang...Oh Tuhan, aku akan..." kata-kata yang jelas rupanya sudah di luar kemampuanku saat ini.

Namun, kupikir dia memahaminya. Tapi dia tidak menyingkir. Dia tidak berhenti. aku menunduk bersamaan saat Sehun membuka matanya dan mendongak. Dan hanya itulah yang kubutuhkan. Ini adalah momen yang sudah kubayangkan sejak pertama kali aku melihatnya. Mata cokelat besarnya menatapku ketika kejantananku meluncur kedalam bibir sempurnanya. Dengan merintih menyebut namanya, aku mengisi mulutnya dengan semburan cairanku. Sehun mengerang dan mengisap semuanya, menelan dengan rakusnya. Setelah apa yang nampaknya lama sekali, aku mulai tenang. Kalian tahu rasanya saat pertama kali melangkah keluar dari Jacuzzi? Bagaimana kaki kalian terasa lunglai seperti Jelly? Ya—itu aku. Saat ini.

Aku terengah-engah dan menyeringai seperti orang idiot saat aku menarik Sehun ke atas dengan memegang bahunya dan mencium dengan dalam. Sebagian pria jijik mencium seorang wanita yang mulutnya baru saja mereka masuki. Aku bukan salah satu dari mereka.

"Bagaimana kau belajar memberikan oral seperti itu?"

Sehun menertawakan ekspresi heran dalam suaraku saat ia telentang di atasku. "Jessi berkencan dengan seorang cowok di kampus. Cowok itu benar-benar suka film porno. Setiap kali datang cowok itu selalu meninggalkan film di asrama kami. Dan, sesekali...Aku akan menontonnya."

Lain kali kalau aku bertemu Jessi Je, ingatkan aku untuk berterima kasih padanya.

.

Setelah filmnya selesai, Sehun dan aku memutuskan untuk menonton film Will Ferrell secara marathon. Kami sudah menonton separuh film Blades of Glory ketika teleponku berdering. Kami masih duduk di sofa, berbaring berdampingan dengan nyaman, dan aku tak punya niat untuk bangun. Atau bicara pada seseorang yang tidak ada di ruangan ini, sebetulnya. Aku membiarkan mesin penjawab telepon yang menjawab.

Suara Chanyeol memenuhi ruangan, berteriak diantara dentuman musik di belakangnya: "Jongin, hei, ayo angkat! Di mana kau?" Dia berhenti sesaat, dan kukira dia menyadari aku tidak akan mengangkatnya.

"Kau harus keluar malam ini, bung! Aku ada di klub Sixty-Nine, dancada seseorang di sini yang ingin bertemu denganmu."

Ini tidak terdengar menjanjikan. Aku mulai duduk, naluri laki-lakiku mengatakan untuk mematikan mesinnya. Sekarang. Tapi aku masih kurang cepat. Dan suara wanita yang sensual keluar dari Kotak Pandora. "Jongiiin..ini Staaaacey. Aku merindukanmu, sayang. Aku ingin naik taksi lagi. Ingat malam itu ketika aku mengisap kejantananmu begitu nik-"

Tanganku menepuk ke bawah pada tombol off. Lalu aku melirik ke arah Sehun. Wajahnya beku ke layar TV, ekspresinya tidak terbaca. Aku seharusnya mengatakan sesuatu. Tapi apa yang harus kukatakan? 'Maaf, salah satu pelacurku menelepon?' Tidak, karena alasan tertentu, kupikir alasan itu tidak akan diterima dengan baik.

Dia duduk tegak dengan kaku. "Aku mungkin seharusnya pergi."

Sial. Terkutuk kau Chanyeol.

Sehun bangkit, memegang bantal dengan erat, menutupi tubuhnya. Yah, itu bukan pertanda bagus. Satu jam yang lalu dia mendorong selangkangannya ke wajahku. Sekarang dia bahkan tidak ingin aku melihatnya. Sialan. Dia berjalan melewatiku menuju kamar tidur. Bahkan dengan perutku yang melilit, aku masih saja mengagumi goyangan pantat ketatnya saat ia berlalu. Bisa ditebak, kejantananku berdiri seperti Dracula bangkit dari peti matinya. Aku mendesah. Dan bangun untuk mengikuti Sehun. Pada saat aku sampai ke kamar tidur, roknya sudah terpasang dan blusnya sudah terkancing. Dia tidak melihat ke arahku ketika aku berjalan masuk.

"Sehun—"

"Apa kau tahu di mana sepatuku yang satunya?" Matanya menatap lantai, tempat tidur, ke manapun kecuali kearahku.

"Sehun—"

"Mungkin di bawah tempat tidur." Dia berlutut.

"Kau tidak harus pergi."

Dia tidak mendongak. "Aku tidak ingin menghalangi rencanamu."

Rencana siapa? Satu-satunya rencana yang aku punya adalah memakan dengan rakus prasmanan lezat yang ada di antara pahanya. Lagi.

"Aku tidak—"

"Tidak apa-apa, Jongin. Kau tahu, ini sudah bagus..."

Bagus?Dia menyebut apa yang kami lakukan tadi malam dan sepanjang hari—di kamar tidur, dapur, kamar mandi, menempel dinding lorong—"bagus"? Apa dia bercanda? Dia pasti melihat ekspresi wajahku, karena dia berhenti di tengah kalimat dan mengangkat alis.

"Maafkan aku, apa itu kata sifat yang salah? Apa aku menghina ego laki-lakimu?"

Aku tergagap dengan marah, "Well...ya."

"Kata apa yang lebih kau sukai?"

Sekedar info-Aku masih telanjang, dan jika kondisi kejantananku adalah indikasinya, tidak butuh seorang Einstein untuk mengetahui apa yang benar-benar kusukai pada saat ini.

"Luar biasa? Transenden? Tak tertandingi?" aku menekankan setiap kata dengan langkah predator ke arahnya.

Dia mengimbangi langkah majuku dengan berjalan mundur secara gugup, sampai pantatnya membentur meja. Aku menyeringai ke arahnya. "Kau lulusan dari program bisnis paling bergengsi di negara ini, Sehun. Kehormatanku menuntutmu untuk memunculkan sesuatu, apapun, yang lebih baik dari kata 'bagus.'"

Dia menatap dadaku sebentar. Lalu ia mendongak menatap mataku. Dia tampak serius. "Aku harus pergi."

Dia mencoba untuk berjalan melewatiku, tapi aku meraih lengannya dan menariknya kembali. "Aku tak ingin kau pergi."

Jangan—jangan tanya kenapa. aku tidak akan menjawab. Tidak sekarang. Aku hanya terfokus pada kejadian di sini, dan dia. Sisanya tidak penting. Dia melihat tanganku yang memegang lengannya, lalu menatapku. "Jongin..."

"Jangan pergi, Sehun." aku mengangkat tubuhnya, mendudukkan dia atas meja, dan melangkah di antara kedua kakinya. "Tinggallah." Aku mencium leher dan menggigit telinganya. Dia bergidik. Bisikku, "Tinggallah bersamaku, Sehun." aku menatap ke arah matanya. "Kumohon."

Dia menggigit bibir. Lalu tersenyum perlahan. "Baiklah."

Aku tersenyum membalasnya. Dan kemudian mulutku menempel di bibirnya. Ciuman ini panjang dan lambat dan dalam. Aku menyingkap roknya, menelusuri kulit pahanya dengan ujung jariku. Dia masih tidak memakai celana dalam. Kalian pasti menyukai akses yang mudah. Aku berlutut di depannya.

"Jongin...?" Ini setengah pertanyaan, setengah rintihan.

"Shhh. Jika aku ingin mengungguli apa yang kau sebut 'bagus', aku perlu berkonsentrasi."

Dan tak ada satu pun kata yang jelas dari kami sepanjang sisa malam.

.

Setiap superhero memiliki tempat persembunyian, tempat perlindungan. Setidaknya semua superhero yang baik melakukannya. Aku juga punya tempat persembunyian. Bat Cave pribadi. Tempat di mana keajaiban terjadi. Di mana aku telah membangun legenda, yaitu karierku. Kantor yang ada di rumahku. Ini adalah tempat berlindung kaum pria. Sebuah zona bebas wanita , di lihat dari sudut pandang yang baik. Setiap orang harus memilikinya. Aku mendekorasinya sendiri, setiap bagian, setiap detail. Jika mobilku adalah anak bungsu, ruangan ini anak sulungku. Kebanggaan dan sukacitaku.

Lantai kayu mahoni, karpet oriental buatan tangan, sofa kulit dari Inggris. Sebuah perapian batu dan rak buku built-in berjajar di salah satu dinding. Di belakang mejaku ada jendela lebar yang menawarkan pemandangan tak ternilai dari kota ini. Dan di sudut ada meja untuk bermain kartu di mana aku dan teman-temanku minum Scotch tua, mengisap cerutu Kuba, dan bermain poker sebulan sekali. Ini satu-satunya waktu di mana Sunwoo diperbolehkan keluar dan bermain.

Aku berada di mejaku, memakai celana boxer, bekerja dengan laptopku. Itu yang kulakukan setiap hari Minggu sore. Sehun? Tidak, dia masih di sini. Tapi setelah kami bercinta secara maraton tadi malam, kurasa aku harus membiarkan dia tidur. Isi ulang baterai. Aku membatalkan santap siang dengan ibuku dan mengabaikan permainan basket dengan teman-temanku. Dan sekarang aku menatap rancangan akhir dari sebuah kontrak ketika suara mengantuk memanggilku dari ambang pintu.

"Hei."

Aku mendongak dan tersenyum. "Hai."

Dia mengenakan salah satu dari T-shirt-ku, T-shirt Metallica hitamku. Kaosnya menjuntai sampai melewati lututnya. Apa yang ia kenakan dan rambut acak-acakan sehabis tidurnya, membuat dia terlihat manis tapi seksi. Memikat. Dibandingkan dengan Sehun, bekerja terlihat tidak begitu membuatku berselera lagi. Dia mengusap tangan keatas rambutnya saat matanya menyapu seluruh ruangan.

"Ini adalah kantor yang indah, Jongin. Menakjubkan."

Sehun adalah tipe wanita yang menghargai pentingnya sebuah ruang kerja yang menakjubkan. Jika kalian ingin menjadi pemenang, Kalian perlu sebuah kantor yang menyatakan bahwa kalian memang sudah menjadi pemenang.

"Terima kasih. Ini ruang favorit di apartemenku."

"Aku bisa melihat alasannya."

Dia mengambil sebuah pigura dari salah satu rak dan menunjukkannya padaku. "Siapa ini?"

Ini adalah foto Sulli dan aku saat di pantai musim panas lalu. Dia menguburku sampai ke leher di pasir. "Keponakanku, Sulli."

Dia menatap foto itu dan tersenyum. "Dia menggemaskan. Kalian sepertinya sangat akrab."

"Ya, memang. Dan aku yakin akan memotong tanganku untuknya jika dia memintanya. Dia satu-satunya wanita yang memiliki jiwa ragaku seluruhnya. Dan sepertinya, aku akan senang untuk mempertemukanmu dengannya suatu hari nanti."

Sehun tidak ragu-ragu. "Aku akan sangat menyukainya."

Dia berjalan menghampiri kursiku dan mengambil posisi duduk di lututku. Aku membungkuk sampai bibirku menemukan bibirnya, lidahku mendorong jauh ke dalam bibirnya yang sekarang sudah kukenal dengan baik.

Dia merapatkan tubuhnya ke dada telanjangku. "Kau begitu hangat."

Dia menyandarkan kepalanya di bahuku dan melihat ke arah komputerku. "Apa yang sedang kau kerjakan?"

Aku mendesah. "Ini kesepakatan dengan Jarvis Technologies."

Jarvis adalah sebuah perusahaan komunikasi. Mereka ingin mengakuisisi anak perusahaan satelit broadband. Aku mengusap mataku.

"Ada masalah?"

Aku biasanya adalah serigala kesepian ketika terkait dengan urusan bisnis. Aku tidak curhat, tidak terbiasa berbagi. Pendapatku adalah satu-satunya yang diperhitungkan. Tapi berbicara dengan Sehun tentang bisnis adalah seperti berbicara dengan diri sendiri. Aku benar-benar tertarik untuk mendengar apa yang akan dia katakan.

"Ya. CEO-nya cuma pintar tapi tidak punya nyali. Aku sudah punya kesepakatan sempurna yang berjajar mengantri, tapi dia tidak mau menarik pelatuk. Dia cemas tentang risikonya."

Jarinya menelusuri rahangku. "Setiap akuisisi memiliki risiko. Kau harus menunjukkan padanya imbalannya cukup layak."

"Itulah apa yang sedang coba kulakukan."

Dia kemudian berseri. "Kau tahu, aku punya sesuatu yang bisa membantumu. Salah satu mitra studi lamaku mendesain template untuk model valuasi baru. Kalau kau menjalankannya dan angkanya akurat, mungkin saja cukup untuk membujuk Jarvis agar mau mengambil risiko."

Aku mulai menganggap bahwa kecerdasan Sehun membuatku menjadi terangsang hampir sama dengan pantatnya. Hampir.

"Itu ada di dalam flash disk di tasku. Akan kuambilkan untukmu."

Ketika dia berdiri untuk pergi, aku meraih bagian bawah kaosnya dan menariknya kembali ke pangkuanku, jadi tidak mungkin dia tidak merasakan kejantananku yang tegang terus menerus. Lenganku melingkari pinggangnya, menjebak dirinya. Mulutku menempel telinganya.

"Sebelum kita masuk ke sana, ada sesuatu yang ingin kulakukan terlebih dulu."

Ada nada geli dalam suaranya saat ia bertanya, "Apa yang ingin kau lakukan, Jongin?"

Aku mengangkatnya, menyapu segala benda dari mejaku, dan membaringkannya.

"Kau."

.

Kami menghabiskan sisa hari dengan bekerja. Dan ngobrol. Dan tertawa. Aku menceritakan pada Sehun tentang Sulli dan Stoples Omongan Jorok yang mengisap uangku sampai kering. Dia memberitahuku lebih jauh tentang masa remajanya dan kafe orangtuanya. Kami makan siang di balkon. Saat ini dingin, jadi Sehun duduk di pangkuanku agar tetap hangat dan menyuapiku dengan jemarinya. Aku tidak ingat pernah menikmati waktu seindah ini. Dan kami bahkan tidak bercinta. Sungguh aneh.

.

Saat ini jam sepuluh lewat. Kami sedang bersiap-siap untuk tidur. Sehun ada di kamar mandi. Sendirian. Dia mengambil pisau cukurku dan mengusirku keluar. Berbeda dengan wanita, pria tidak butuh privasi. Tidak ada kebutuhan jasmani seorang pria yang tidak akan dilakukan di depan orang lain. Kami tidak punya malu. Tapi terserah, jika Sehun membutuhkan ruang, dia bisa mendapatkannya. Aku menyibukkan diri sementara aku menunggunya. Aku mengganti seprai. Aku mengambil kotak kondom dari laciku, untuk menyiapkan beberapa buah agar mudah dijangkau. Kemudian aku langsung kecewa. Dan jika bisa, penisku pasti akan menangis.

Kotaknya kosong. "Sial."

"Aku juga berpikir begitu. Dua orang yang berpikiran sama."

Aku berbalik mendengar suara Sehun. Dia berdiri di ambang pintu, satu tangan di pinggulnya, tangan yang lain berpegangan pada kusen pintu. Dia telanjang dengan indah dan mengagumkan. Astaga. Aku terus menunggu ketika tubuh Sehun tidak lagi mempengaruhiku. Ketika aku merasa sudah-pernah-mengalaminya. Sejauh ini, malah sebaliknya. Ini seperti...makan lobster. Kalau kalian belum pernah memakannya, kalian berpikir, 'eh, mungkin saja.' Tapi setelah kalian mencicipinya? Kesempatan untuk memakannya lagi membuat mulutmu berliur seperti Sungai Mississippi. Karena sekarang kalian tahu betapa lezat sebenarnya. Bahkan hanya berpikir dia...Oh Tuhan.

Aku mungkin menjadi orang pertama dalam sejarah yang mampu bermasturbasi tanpa menyentuh diriku sendiri. Tanpa tangan.

Dia berjalan ke arahku, melingkarkan lengannya di leherku dan menciumku dengan perlahan, lidahnya keluar menelusuri bibir bawahku dengan cara yang paling seksi. Aku memaksa diri untuk mundur.

"Sehun, tunggu...kita tidak bisa."

Tangannya meluncur ke celana boxerku, menuju kejantananku yang sudah keras. Dia memompanya beberapa kali. "Kupikir dia tidak setuju denganmu."

Aku menekan keningku dengan keningnya. Suaraku terdengar seperti tercekik. "Tidak...maksudku, kita kehabisan. Kondom. Aku...um..." Aku menaruh tanganku di tangannya, menghentikan gesekannya sehingga aku bisa merangkai beberapa kata yang dapat dipahami menjadi satu. "Aku harus pergi ke toko di sudut jalan dan membeli lebih banyak lagi...dan kemudian...Oh Tuhan, lalu aku akan bercinta denganmu sepanjang malam."

Sehun menunduk dan menelan ludah. Suaranya berbisik. "Atau, kita bisa...tidak...memakainya."

"Apa?"

Aku belum pernah berhubungan seks tanpa kondom. Sekali pun. Bahkan saat masa remajaku. Aku terlalu menyayangi kejantananku sehingga takut terkena penyakit yang menyebabkan milikku jadi mengerut dan rontok.

"Aku minum pil, Jongin. Dan Luhan...dia bisa berarti banyak hal, tapi ia tidak pernah berselingkuh. Apa kau pernah...dites?"

Tentu saja aku pernah. Sekali sebulan, selama aku bisa ingat. Ini suatu keharusan untuk gaya hidupku. Bisa dibilang sebuah risiko profesi. Suaraku praktis seperti mencicit. "Ya. Aku...aku pernah. Hasilnya bagus. Tapi...apa kau yakin?"

Aku sudah pernah ditawari banyak hal di tempat tidur. Segala jenis alat aneh dan permainan peran yang bisa kalian bayangkan. Beberapa dari kalian mungkin tidak bisa membayangkannya. Namun bercinta tanpa pelindung belum pernah masuk dalam daftar. Ini bukan tindakan yang pintar atau aman. Seorang wanita bisa mengatakan dia minum pil, tapi bagaimana kalian bisa benar-benar tahu? Orang bisa mengatakan mereka bebas penyakit, tapi aku tidak akan meyakininya. Itu membutuhkan kepercayaan. Dan kepercayaan tidak pernah menjadi faktor dalam kehidupan seksku. Ini bukan tentang saling berbagi, mengenal seseorang dan membiarkan mereka mengenalku. Ini tentang bagaimana cara membuatku klimaks dan membuat gadis orgasme dalam prosesnya. Titik.

"Aku ingin merasakan milikmu, Jongin. Aku ingin kau merasakan milikku. Aku tidak ingin...ada penghalang apapun diantara kita."

Aku menatap matanya. Cara dia menatapku...persis seperti yang dia lakukan setelah kami mandi kemarin. Seolah dia memberiku sesuatu, sebuah hadiah. Hanya untukku. Dan hadiah itu adalah dirinya. Karena dia mempercayaiku, memiliki keyakinan padaku, percaya padaku. Dan kalian tahu? Aku tak pernah ingin Sehun memandangku dengan cara yang lain.

"Sehun, beberapa hari terakhir denganmu sungguh menakjubkan. Aku tidak pernah...Aku belum pernah..."

Aku bahkan tak tahu bagaimana menjelaskan apa yang sedang kurasakan. Aku tak tahu bagaimana mengatakan itu padanya. Aku mencari nafkah dengan memanfaatkan kemampuanku dalam berkomunikasi. Dengan mampu mengungkapkan sebuah ide. Mendeskripsikan rencana. Tapi pada saat ini kata-kataku sangat tidak memadai. Jadi aku meraih lengan atasnya dan menyeret Sehun kearahku. Dia mengerang karena terkejut atau senang, aku tidak yakin yang mana. Lidahnya meluncur masuk ke dalam bibirku, dan tangannya menarik-narik rambutku. Akhirnya kami berada di tempat tidur, berdampingan, mulut melebur bersama, celana boxerku di atas lantai. Tanganku meluncur di atas payudaranya, turun di perutnya, dan di antara kedua kakinya.

Aku mengerang, "Sial, Sehun, ternyata kau sudah basah."

Dan memang benar. Aku nyaris tidak menyentuhnya dan dia sudah basah kuyup untukku. Oh Tuhan. Aku tak pernah menginginkan siapapun atau apapun seperti aku menginginkannya saat ini. Dia menggigit kecil leherku saat aku menggeser jemariku ke dalam. Seksnya melingkupi jemariku seperti sarung tangan, dan kami berdua mengerang dengan keras. Kemudian tangan Sehun bergerak di seluruh tubuhku. Menangkup bolaku, membelai kejantananku, menggaruk dada dan punggungku. Aku gulingkan dia di bawahku. Aku butuh dia, sekarang. Aku merangsang miliknya agar terbuka dengan kejantananku, membasahi ujungnya dengan cairan manisnya. Panas bergulung keluar darinya. Dia seperti api, memanggilku, menarikku masuk. Aku mendorong perlahan tapi sampai ke pangkalnya, dan mataku tertutup oleh kenikmatan yang sempurna. Dia telanjang, tak terjaga, melingkupiku. Dia terasa...lebih. Lebih basah, lebih panas, lebih ketat. Lebih dalam segala hal. Sulit dipercaya.

Sehun mencengkeram pantatku, meremas dan memijat dan mendesakku lebih dalam lagi. Tapi aku menarik semuanya keluar, hanya agar dapat meluncur masuk kembali. Astaga.

Aku mengatur temponya. Tidak lambat atau manis atau lembut. Ini brutal dan panas, dan sangat menakjubkan. Rintihan nyaring keluar dari bibirnya. Kemudian mulutku melumat bibirnya lagi, memotong rintihannya. Dan kami mencengkeram satu sama lain, putus asa dan liar. Seperti ini adalah pertama kalinya. Seperti ini adalah terakhir kalinya. Dia menggulung milikku dengan segala cara. Seksnya menyelubungi kejantananku, kakinya melingkari pinggangku, tangannya merangkul leherku, semua membungkus erat seperti suatu catok yang nikmat. Dan aku membenamkan diri ke dalamnya, ingin menjadi lebih dekat, butuh lebih dalam. Oh Tuhan, jika bisa aku sangat ingin merangkak masuk dalam dirinya dan tak pernah ingin keluar lagi. Tangan Sehun menemukan tanganku. Jemari kami terjalin bersama, dan aku menariknya bergabung di atas kepalanya. Dahi kami saling menempel—setiap engahan, setiap napas bercampur dan berbaur. Pinggulnya bergerak bersama dengan pinggulku, seperti aliran laut. Maju mundur. Dengan gerakan yang serempak. Bersama.

Mata kami bertemu. "Oh Tuhan, Jongin...jangan berhenti...tolong, jangan pernah berhenti."

Aku tenggelam di dalam dirinya. Aku nyaris tak bisa menarik napas. Tapi entah kenapa akhirnya aku bisa berkata, "Tidak akan. Aku tidak akan pernah berhenti."

Aku merasakannya saat dia orgasme. Setiap inci miliknya yang basah dan panas mengetat penuh kenikmatan di sekeliling kejantananku. Dan begitu nikmat...begitu intens sampai aku ingin menangis oleh kenikmatannya. Aku membenamkan wajahku di lehernya, menghirup aromanya, melahapnya. Dan kemudian aku klimaks bersamanya—di dalam dirinya. Membanjiri tubuhnya dengan dorong penuh nafsu. Aliran listrik yang indah mengaliriku saat satu kata keluar dari bibirku berulang kali, "Sehun...Sehun...Sehun...Sehun."

Ini keajaiban. Setelah beberapa saat, tubuh kami terdiam. Satu-satunya suara di kamar ini adalah napas yang cepat dan debaran jantung.

Lalu Sehun berbisik, "Jongin? Apa kau baik-baik saja?"

Aku mendongak dan mendapati matanya yang indah sedang menatapku penuh keprihatinan. Tangannya menangkup pipiku dengan lembut.

"Kau gemetar."

Pernahkah kalian mencoba untuk mengambil foto dari sesuatu yang sangat jauh? Kalian melihat kedalam lensa dan seluruh pemandangan yang terlihat adalah gumpalan buram? Jadi kalian memainkan fokusnya, memperbesar dan memperkecilnya. Kemudian kameranya berputar dan beberapa detik kemudian—boom! Jernih seketika. Semuanya terkunci pada tempatnya. Gambarnya sejernih kristal. Seperti itulah apa yang kurasakan saat ini, saat memandang Sehun. Mendadak, semuanya begitu jelas. Jadi sangat jelas. Aku jatuh cinta padanya. Secara total. Tanpa daya. Dengan menyedihkan.

Jatuh cinta.

Sehun memiliki diriku. Jiwa dan raga. Dia yang selalu kupikirkan. Dia adalah segala hal yang tak pernah kuinginkan. Bukan hanya sempurna, dia sempurna bagiku. Aku akan melakukan apa pun untuknya. Apa pun. Aku menginginkan Sehun di dekatku, denganku. Setiap saat. Selamanya. Ini bukan hanya tentang seks. Ini bukan hanya tubuh indahnya atau pikiran cemerlangnya. Ini bukan hanya karena dia membuatku berpikir atau betapa antusiasnya dia menantangku. Lebih dari semua itu. Ini dia. Aku telah melanggar setiap aturan yang pernah kutetapkan sendiri untuk bersamanya. Dan itu bukan hanya menidurinya. Itu untuk memiliki dia. Untuk menjaga dirinya. Bagaimana aku tak pernah melihat hal ini sebelumnya? Kenapa aku tidak tahu?

"Hei?" Dia mencium dengan lembut di bibirku. "Kau melamun. Kemanapikiranmu pergi? Aku kehilanganmu sesaat. Apa kau baik-baik saja?"

"Aku..." Aku menelan ludah dengan susah. "Sehun, aku..." Aku mengambil napas dalam-dalam. "Aku...aku baik-baik saja." Aku tersenyum dan balas menciumnya. "Kurasa kau sudah menguras energiku."

Dia tertawa. "Wow. Tidak kusangka itu akan terjadi."

Ya—Aku juga setuju. Sama sekali aku tak menyangka, ini akan terjadi.

.

.

.

TBC

.

.

.

Hai, update lagi utk reader tersayang :*

Banyak kata-kata ambigu mungkin ya yg klo dibaca satu2 bikin puyeng, tapi overall...keseluruhannya bisa dimengerti kan? Hehehe xD maaf ya klo author terlalu malas utk mengganti kata-katanya, soalnya klo diganti maknanya jadi berubah total, sebagian karena malas juga sih hahahha /geplaked/?

Ayeyeyye finally Jongin falling in love! xD

.

Kmaren abis nonton yummy yummy, pas para mc masuk dorm dan menemukan kai sedang tiduran di pangkuan Sehun dan mereka ber 'aww' ria xD. Kemudian mc nanya, Sehun, apa biasanya kalo istirahat Kai sering melakukan itu ke Sehun? Tiduran di paha Sehun maksudnya. Dengan muka plongo Sehun jawab, 'ne' dan Jongin cuma cengengesan gyaaaaaahhh xDDD auwowowoowooww

.

Trus satu lagi, tiap aku lagi lelah sedih ato ga bersemangat, liat2 dance playboy nya Jongin...asli langsung semangat dan bergairah, hatiku membuncahhh eaaak xD ciyus eoh Jongin emng ganteng howt keren bgt xD

Dduh klo fangirlingan ttg Jongin ga akan abis dehhhh hwhw :3

Ayo ayo tinggalkan jejak di kotak review ne :D

.

Saranghae~