Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: Sho-ai, gaje, OOC dan hal-hal lainnya.

Pairing: NaruxSasu


Daily Life Of Yakuza

.

.

(Part 10)

Special: Camping 2


_Camping, 20.00 Malam_

Hinata, Ino dan Sakura sedang sibuk memasak sesuatu diatas api unggun, Rock lee bersama Shino terlihat membawa beberapa potong kayu bakar.

"Sedang masak apa?" Tanya Rock lee sambil menyerahkan kayu-kayu tadi ke Sakura.

"Cuma beberapa masakan dasar yang mudah." Jawab Sakura lagi.

Ino tersenyum ke Rock lee, "Membuat mie intsan, itu yang paling mudah." Tambah gadis pirang itu, disebelahnya Hinata sibuk mencuri pandang ke arah Naruto yang sedang membangun tenda.

Cowok blonde itu terlihat kesusahan membangun tendanya, sedangkan disebelahnya, tenda kiba dan tenda para cewek sudah selesai.

Naruto menggaruk kepalanya, "Urghh... Aku sama sekali bingung."

Sasuke duduk sambil memperhatikan Naruto, "Cepat, aku tidak mau kalau malam ini tidur di kantong mirip ulat bulu itu." Seru Sasuke lagi.

Naruto melirik Sasuke tajam, "Kau itu merepotkan sekali, bahkan yang lain pun tidak protes walau harus tidur di kantong ulat bulu itu."

Sasuke mendengus, "Tetap saja, Aku tidak mau tidur di tempat sempit seperti kantong itu. Aku bukan mayat."

"Kau benar-benar membuatku darah tinggi." Kesal Naruto lagi.

"Daripada kau terus menggerutu seperti itu lebih baik selesaikan tendanya." Sahut Sasuke yang dibalas dengan pelototan marah dari Naruto.

Sai berjalan ke arah Naruto, "Mau kubantu?" Tanya cowok itu pada Naruto.

Naruto berbalik sambil memperlihatkan cengirannya, "Bole~."

"Tidak boleh!" Potong Sasuke. Naruto menatap Sasuke sambil menggerutu.

Sai memiringkan kepalanya pada Sasuke, "Kenapa? Aku hanya membantu."

Sasuke melirik adiknya itu tajam, "Kalau aku bilang tidak, ya tidak!"

Naruto menghela napas pasrah, "Sudahlah Sai, percuma berdebat dengan kepala ayam itu, tidak akan berguna."

"Siapa yang kau sebut kepala ayam, Dobe!" Sasuke berdiri sambil berkacak pinggang.

"Memangnya siapa lagi, Teme!" Jawab Naruto kesal sambil mengayunkan palang kayu ke depan wajah Sasuke.

.

"Uhmm... Naruto-kun..." Suara Hinata membuat pertengkaran Naruto dan Sasuke terhenti.

Naruto tersenyum ke arah Hinata, "Ada apa, Hinata-chan?"

Sasuke hanya mendengus lalu berbalik sambil menyilangkan kedua tangannya.

Hinata terlihat sedang merapikan sisi rambutnya, "Uhmm.. Kiba bilang, kalau permainan akan dimulai."

Sasuke melirik Hinata bingung, "Permainan?"

Gadis itu balas menatap Sasuke takut-takut, "Ye..yeah.. per..permainan."

Naruto memasang palang tenda terakhir, "Permainan seperti apa?" Tanya Naruto lagi kemudian berdiri sambil merapikan bajunya.

Hinata hanya menggelengkan kepalanya dengan lemah, "A..Aku tidak tahu, tapi kata Kiba kita akan dibagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari dua orang."

Sasuke memutar bola matanya malas, "Oh yeah, permainan anak-anak."

Hinata hanya menatap Sasuke dalam diam.

"Jadi..." Naruto meletakkan palunya di dekat tenda lalu melirik Sasuke, "...Kau ikut atau tidak?"

Sasuke mendengus, "Fine... Aku ikut."

Hinata hanya tersenyum dan Naruto menampilkan cengiran khasnya.

.

.

.

"Jadi, semuanya sudah berkumpulkan? Baiklah, ambil masing-masing kertas di tanganku, nomor yang sama akan menjadi satu grup." Jelas Kiba sambil memberikan satu-satu kertas yang sudah berisi nomor tadi.

Sakura mengambil kertas tadi sambil melirik Sasuke, Semoga satu tim dengan Sasuke...

"Nomor 3." Kata Ino sambil membaca kertasnya. Shino bergerak ke arah Ino, gadis pirang itu lemas seketika, Sial, satu grup dengan orang pendiam seperti dia...

"Aku nomor 5." Kata Sakura lagi.

"Kita sama, Sakura-chan." Suara Rock lee yang berada disampingnya, membuat gadis berambut pink itu memasang tampang horor seketika.

"Nomor 1." Kali Ini Sai yang bersuara. Naruto melirik Sai.

"Aku juga nomor 1." Jawab Naruto sambil tersenyum. Sasuke melirik tidak suka.

"No..Nomor 2." Ucap Hinata pelan, Sasuke melirik gadis itu lalu mendengus.

"Yeah.. Aku nomor 2." Kata Sasuke singkat.

Kiba mengangkat kedua tangannya, "Baiklah, berarti aku dan Shikamaru nomor 4, bagaimana denganmu Choji? Karena tim nya ganjil, kau mau ikut grup siapa?"

Choji duduk di depan api unggun sambil menikmati ayam bakarnya, "Tidak mau, aku masih mau makan, aku tunggu disini saja, sebagai juri."

Kiba hanya menggaruk kepalanya, "Oke... Baiklah..."

"Jadi... Bagaimana peraturannya?" Tanya Naruto yang mendapat cengiran dari Kiba.

"Aku sudah meletakkan bendera di atas bukit sana..." Tunjuk Kiba ke salah satu bukit yang pada saat malam memang tidak terlalu kelihatan jelas, "...Jadi yang bisa mendapatkannya terlebih dahulu lalu kembali kesini akan menjadi pemenangnya."

Naruto sedikit merinding melihat ke arah bukit yang saat itu gelap gulita, "Sai apa kau yakin, di bukit itu tidak ada sesuatu?"

"Maksudnya?" Kata Sai lagi.

"Maksudku, 'sesuatu'...kau tahu'kan? Sesuatu..." Jelas Naruto lagi yang terlihat ketakutan.

Sai terlihat berpikir sebentar lalu menatap Naruto sambil tersenyum, "Maksudmu Hant~bhhpp.." Mulut Sai langsung di bekap oleh Naruto.

"Ssshh... Jangan keras-keras..." Kata Naruto sambil melirik ke arah tim lain. "...Aku tidak mau ketahuan yang lain kalau aku takut hantu, mengerti?" Jelas Naruto dengan wajah memerah.

Sasuke mendelik Naruto yang terlihat membicarakan sesuatu dengan Sai.

Sai melepaskan tangan Naruto dari bibirnya, "Baiklah, aku janji..."

"Good... Kita cuma fokus dengan bendera lalu kembali... Bendera dan kembali." Ucap Naruto berulang kali sambil meredakkan detak jantungnya yang ketakutan.

Sai menepuk pundak Naruto sambil tertawa kecil.

Sasuke memalingkan wajah, "Cih..."

Hinata melirik Sasuke sambil meremas jarinya, 'Ja..Jadi... Kita jalan sekarang?" Tanya Hinata pelan.

Sasuke menatap gadis itu lalu berjalan tanpa menjawab perkataan Hinata.

Hinata mengikuti Sasuke di belakang, kemudian matanya melirik sebentar ke arah Naruto yang sedang bercanda dengan Sai.

.

.

.

Sudah setengah jam Sasuke berusaha mencari tanda menuju ke arah bukit, tetapi nihil, tidak ada jejak, tanda atau apalah yang menunjukkan jalan keluar.

Sasuke dan Hinata hanya berputar-putar di hutan, cowok raven itu menendang kerikil, "Sial, kita berputar-putar saja."

Hinata yang berada dibelakangnya mencoba mengistirahatkan kakinya di batu, "Mu..mungkin kita harus berputar arah."

Sasuke mendelik ke arah gadis itu, "Kau sudah mengatakannya puluhan kali, dan puluhan kali juga kita tetap berputar disini."

Hinata merenggut bajunya sedikit, "A..aku hanya mencoba membantu." Ucapnya lagi sambil menundukkan kepala.

Sasuke berdecak pelan lalu bersender di batang pohon, "Sial, bersama seorang cewek memang tidak berguna."

Hinata melirik Sasuke sebentar lalu merenggut bajunya dengan erat hingga tangannya terasa sakit. Pikirannya melayang ke kejadian dulu saat disekolah.

Saat itu bel istirahat berbunyi, semua siswa pergi keluar kelas terkecuali Sasuke dan beberapa gadis lain yang masih setia mencatat bahan materi di papan tulis.

Beberapa cewek bergerombol di salah satu bangku sambil melirik ke arah Hinata yang berada di pojokkan kelas.

"Kau tahu Hinata? Dia sama sekali tidak berguna." Kata salah satu cewek itu.

Cewek lain hanya mengibaskan rambutnya dengan angkuh, "Yeah, gadis itu tidak bisa diharapkan, apalagi perusahaan ayahnya sudah bangkrut."

Cewek lain berusaha berbisik pelan, "Aku dengar-dengar kakaknya Neji bekerja sebagai pembantu di kota Suna."

Hinata melirik mereka takut-takut, cewek-cewek itu memandangnya dengan tatapan meremehkan.

"Ya, kasian sekali. Bagaimana menurutmu Sasuke?" Ucap salah seorang cewek kepada Sasuke yang masih mencatat sesuatu dibukunya.

Sasuke berbalik menatap gadis itu lalu melirik Hinata kemudian Sasuke mendengus malas.

Para gadis itu terkikik geli, "See? Bahkan Sasuke pun malas untuk menatap Hinata, kasian sekali."

Hinata menundukkan wajahnya, pensil di tangannya digenggamnya kuat-kuat hingga patah.

-Trak-

.

Bunyi patahan ranting membuat Hinata kembali kedunia nyata, matanya melirik Sasuke.

Cowok itu sedang merakit sesuatu dari ranting pohon kering -Trak-

"K...Kau sedang apa?" Tanya Hinata.

"Membuat tanda, jadi kita tidak akan tersesat saat berputar arah." Jawab Sasuke sambil terus membuat simbol dari ranting pohon.

"Oh...Baguslah..." Ucap Hinata lagi. Tangan kanan gadis itu berusaha merogoh sesuatu di kantong jacketnya.

Suatu benda yang berkilat.

.

.

.

"Naruto, Kau tahu, katanya dihutan ini pernah terjadi perang, dan banyak yang mati disini." Jelas Sai sambil membuka buku sejarah yang dibawanya sejak tadi. Naruto tidak mempedulikan Sai, pikirannya melayang ke arah lain.

Sai menutup bukunya lalu menatap Naruto, "Naruto? Kau melamun?"

Cowok blonde itu sedikit tergagap, "Ah..Ya? Apa tadi yang kau bilang?"

Sai memasukan bukunya, "Bukan apa-apa." Jawab Sai singkat.

Naruto hanya ber'Oh' saja kemudian melanjutkan perjalanannya. Tangannya sesekali memainkan bendera yang didapatkannya dari bukit.

"Kau memikirkan Sasuke?"

Naruto berbalik, "Ada apa, Sai?"

Sai menghirup udara dalam-dalam, "Kataku, kau sedang memikirkan Sasuke?"

Naruto tersenyum, "Entahlah, aku hanya khawatir."

Sai bersender di batang pohon, "Khawatir?"

Naruto berhenti berjalan lalu tersenyum sendiri, "Sasuke... Anak itu buta arah. Dia selalu tersesat kalau tidak dikawal oleh bodyguard nya."

Sai memainkan kerikil, "Darimana kau tahu kalau dia tersesat?"

Naruto melirik Sai, "Soalnya setiap kali pulang sekolah, aku selalu menemukannya di pojokkan jalan sambil menangis."

"Heh, lucu..." Sai melempar kerikil tadi ke pohon dan memantul ke jalan, "...Lalu saat kau menemukannya?"

Naruto berjongkok lalu ikutan melempar kerikil ke arah lain, "Dia memasang tampang sok kuat, dan bilang kalau dia tidak tersesat, tapi pada akhirnya aku juga yang harus menggendongnya pulang."

"Haaahhh..." Sai berhenti bersender di pohon lalu tersenyum ke arah Naruto, "...Aku iri dengannya."

Naruto menatap Sai, "Iri?"

"Ya... Iri... Aku juga ingin bisa bersamamu." Ucap Sai lagi.

Tangan Sai menggenggam tangan Naruto.

"Bisakah aku menggantikan Sasuke?" Tanya Sai, kali ini dengan wajah serius.

"Menggantikan? Apa maksudmu?"

Sai mendekat ke arah Naruto, lalu menyenderkan kepalanya ke dada cowok blonde itu, "Kau tahu, seandainya Sasuke mati, apa aku bisa menggantikan posisinya?"

Naruto terdiam, "Mati? Posisi? Sai, Apa mak~."

-DORRR!-

Suara tembakan membuat Sai dan Naruto terkejut, "A..Apa itu?" Tanya Naruto bingung.

Sai menjauhkan tubuhnya dari Naruto, matanya menatap tajam ke arah lain, "Suara tembakan." bisiknya pelan.

Naruto menatap Sai, "Apa? Tembakan? Tapi bagaimana? Apa disekitar sini ada pemburu?"

Sai menatap Naruto tajam, "Entahlah, tapi suaranya terdengar dekat dari sini."

Naruto berusaha berlari menuju asal suara tembakan, "Sai, kau kembali ke kemah! Beritahu yang lain, Jangan berpencar dan tetap siaga! Mengerti?!" Teriak Naruto.

Sai mengangguk lalu menatap cowok blonde itu pergi.

.

.

.

Sasuke terjerembab di tanah, di depannya Hinata memegang pistol revolver.

"Hi..Hinata? Apa yang kau lakukan?!" Teriak Sasuke dengan nada panik.

Hinata tersenyum merendahkan, "Apa yang kulakukan?..." Hinata menarik pelatuk senjatanya, "...Tentu saja, meledakkan kepalamu, memangnya apalagi?" Hinata terkikik ngeri.

Sasuke berusaha tetap tenang, "Darimana kau dapatkan senjata itu?"

Hinata melirik Sasuke tajam, "DIAM!..." Hinata mendekatkan moncong pistol ke kening Sasuke. "...Kau tidak perlu tahu darimana aku mendapatkan senjata ini, mengerti? Kau cukup tahu, sebentar lagi kau akan kukirim ke neraka."

"Ok..Ok.. Tenang Hinata... Sebenarnya ada apa?"

"KAU TIDAK PERLU TAHU!..." Teriak Hinata sambil mendekatkan lagi moncongnya ke kepala Sasuke, "...Kau membuatku muak."

Hinata berusaha meredam amarahnya, tetapi menatap beberapa gadis itu yang menjelekkan dirinya dan Sasuke yang tidak peduli padanya makin membuat Hinata jijik pada diri sendiri.

"To..tolong hentikan." Bisik Hinata pelan, tetapi dapat didengar gerombolan cewek-cewek itu.

Salah seorang cewek hanya terkikik geli, "Hentikan apa? Aku bicara sejujurnya."

Sasuke hanya menatap Hinata diam.

Hinata mengepalkan tangannya kuat-kuat, "Jangan bicara lagi, aku mohon." Isak Hinata pelan.

Gadis itu lagi-lagi hanya terkikik geli, kemudian...

"Sudah cukup bermainnya?!" Suara Naruto membuat beberapa gerombolan cewek itu kaget.

Hinata ikut berbalik menatap Naruto. Cowok blonde itu terlihat marah.

"Kalau masih ada kerjaan 'bermain-main' dengan Hinata, kenapa tidak bermain denganku saja?" Ucap Naruto dingin sambil mengepalkan tangannya.

"Na..Naruto.." Bisik Hinata pelan. Para cewek-cewek itu hanya mendengus lalu segera pergi keluar kelas.

Naruto berjalan ke arah Hinata, "Kau tidak apa-apa?" Tanya cowok itu sambil memeriksa badan Hinata.

Cewek berambut panjang itu menggeleng pelan, "Aku baik-baik saj~.."

"Sudah Naruto!" Suara Sasuke menginterupsi mereka berdua. Hinata menatap cowok raven itu.

"Cewek seperti dia, biarkan saja. Dia memang tidak berguna." Kata Sasuke lagi.

Hinata menatap Sasuke dengan pandangan kaget, sedangkan cowok raven itu hanya mendengus lalu menarik Naruto pergi.

-DUAGH!- Sasuke menendang perut Hinata. "Gwaahh..." Hinata terjerembab ke tanah, matanya berkilat marah.

"Kau..." Hinata mengarahkan pistolnya ke Sasuke -DORR!- meleset. Sasuke segera berputar kesamping, membuat peluru mengenai badan pohon.

Sasuke bangkit lalu berusaha lari masuk ke hutan.

Hinata menyeringai mengerikan.

.

.

.

"A..Ada suara tembakan lagi." Kata Kiba sambil melihat ke arah bukit. Kiba dan yang lainnya sudah berkumpul di tempat kemah mereka, hanya sisa dua tim lagi yang belum kembali yaitu tim Sasuke dan Naruto.

Shikamaru terlihat waspada, "Menurut kaliian, apa mungkin ada pemburu?"

Ino terlihat berpikir, "Aku tidak tahu, setahuku, di belakang sekolah tidak ada binatang untuk diburu, kalaupun ada tidak mungkin malam-malam begini."

Shino menatap langit, "Tidak ada angin sama sekali, aku merasakan firasat buruk."

"Apa kita perlu cari tahu?" Tanya Sakura yang agak was-was.

"Terlalu bahaya." Potong Rock lee. Shikamaru hanya mengangguk.

"Kita cuma bisa menunggu tim Sasuke dan Naruto kembali." Sahut Shika lagi.

"Ah.." Choji membuka suara sambil menunjuk seseorang yang datang ke arah kemah, "..Itu Sai'kan?"

Sai berlari ke arah mereka, Shikamaru segera menangkap bahu Sai, "Ada apa? Mana Naruto? Sasuke dan Hinata?"

Sai menormalkan napasnya, "Aku tidak tahu dimana Sasuke dan Hinata tapi... Naruto... Dia menuju ke asal suara tembakan."

"Bukannya itu bahaya!" Terang Kiba khawatir, Sai berjalan menuju ranselnya.

"Aku tahu, tapi Naruto bilang kalian tetap disini dan jangan berpencar. Dia sendiri yang akan mencari Sasuke dan Hinata." Jelas Sai lagi.

Shikamaru mengigit bibir bawahnya, "Anak bodoh itu..."

Sai membuka tas ranselnya. Matanya menatap tajam. Sudah kuduga, pistolku hilang...

.

.

.

Naruto berlari masuk kehutan. Sasuke... Dimana kau...

"SASUKE! HINATA!" Teriakan Naruto menggema di dalam hutan. Beberapa kicauan makhluk malam membuat Naruto tidak mempedulikan ketakutannya lagi.

-Trek- Naruto menginjak sesuatu di tanah.

"Apa ini...? Simbol apa ini?" Naruto menyentuh ranting pohon, bentuk tandanya urak-urakkan, ini bahkan bukan tanda yang digunakan dalam pramuka, tanda ini dibuat sembarangan.

Naruto menatap tajam ke dalam hutan.

Sasuke...

.

.

.

TBC

Yup, maaf sedikit telat minaa-san ^O^

Spesial thanks:

MORPH, Yue Lawliet, TheBrownEyes'129, Akira no Sikhigawa: Makasih banyak ^O^

Black Lilly: hohoho oke..oke.. seep ^^

AiCinta: hohoho SasUke emang Cantik *di amaterasu ma sasuke* XD

Collin Blown a.k.a AnakYunjae: woooow *o* pasti jadi lemonan, pengen banget lemon XD *author dihajar*

Peduli Nabila: hohoho, mungkin Sai suka Naru XD *plak*