LET ME PROUDLY PRESENTS

Title : L.I.E (Love Is Enough)

For Me

Rating : T

Genre : Drama,Romance,School Of Life

Warning : Boy X Boy, OOT, OOC

Gaya bahasa disesuaikan Mood Author

Main Pair : DaeJae

Cast : BAP Member

And Other cast will appear

Author : Han Dalgi

Disclaimer THIS FANFICTION IS MINE

Don't Like, Don't Read

R&R

.

.

.

Previous Chapter :

"Jangan sentuh aku, dan jangan sebut aku Daenyon lagi karena sekarang kau bukan Baby Young lagi" ketusnya

Youngjae merasa seluruh persendian di tubuhnya melemas mendengar suara dan tatapan Daehyun yang dingin seperti es, hatinya bagai tersayat oleh pisau yang tajam dan kakinya seolah seperti jelly yang tak dapat menahan beban berat tubuhnya, ia pun jatuh bertumpu pada lututnya dan memandang sosok Daehyun yang kian menjauh. Pandangan matanya mendadak berkabut dan mengabur, menghasilkan sebulir bening yang menetes di ujung matanya. Youngjae menggigit bibirnya dan menolehkan kepalanya ketika mendengar suara hentakan sepatu yang sangat dikenalnya yang sekarang berhenti tepat dibelakangnya.

"Appa….?!"

.

Chapter 10 : Really?

.

Himchan menepikan mobilnya di parkiran sekolah, ia keluar dari mobilnya dan mendapati sesuatu yang tergeletak di lantai area parkir. Ia memungutnya dan mengenali pernah melihat kain itu di rumah Youngjae, Himchan meneguk ludahnya kasar dan mengedarkan pandangannya ke seluruh area parkiran mencari keberadaan Youngjae berharap kedatangannya tidak terlambat. Ia mendesah pelan menyadari kedatangannya sudah terlambat, dengan gontai Himchan melangkahkan kakinya meninggalkan tempat parkir dan menuju ruang kelas.

Himchan memasuki kelas dan meletakkan kain yang berisi kotak bekal itu di meja yang ditempati oleh Daehyun yang kini sedang menelungkupkan kepalanya di meja. Daehyun mendongak mendengar suara benda yang diletakkan di mejanya, ia melirik Himchan dengan wajah yang merengut dan kemudian beralih menatap benda dihadapannya. Daehyun membuka ikatan kain yang melapisi kotak makan itu dan membuka tutupnya dan mendapati ada dua buah kotak makanan, ia membuka kotak yang berada di atas dan memandangi makanan yang berada didalamnya, kemudian mendengus melihat bagaimana bentuk kimbab itu . Walaupun selera makannya telah hilang tapi perut miliknya yang selalu keroncongan setiap saat tidak dapat diajak berkompromi dan telah mengalahkan egonya untuk menolak makanan itu. Daehyun memakan kimbab berbentuk kepala kelinci dan beruang itu dengan lahap seolah ia tidak makan selama tiga hari, dan dalam hitungan menit ia sudah menghabiskan kimbab itu. Tangannya terulur mengambil dan membuka kotak makan yang lain, sumpit yang akan mengambil potongan kimchi itu tertahan di udara mendapati susunan huruf yang dibentuk oleh deretan kacang polong yang berada diatasnya, walaupun susunan kacang polong itu sudah agak berantakan, namun susunan huruf itu dapat terbaca dan membentuk inisial YJ 3 DH . Daehyun meletakkan sumpitnya dan memandangi tulisan itu lama, ia menggertakan giginya dan menggigit bibirnya dengan keras sampai tak terasa mengeluarkan cairan merah yang terasa asin dan mengalir memasuki indera pengecapnya. Bel masuk yang berdering menyadarkan Daehyun dari lamunannya, ia menutup kotak makan berisi kimchi yang belum disentuhnya dan menyimpannya di kolong mejanya.

.

.

Daehyun menerawang memandangi langit biru yang dihiasi oleh awan putih dan disinari oleh cahaya matahari yang sangat terang, cuaca yang sangat cerah dan berbanding terbalik dengan mood Daehyun saat ini namun hawa yang dirasakannya sama, terasa panas dan membuatnya kegerahan. Ia kini tengah merebahkan badannya telentang dan berada di Rooftop Sekolahnya, walaupun matanya menatap awan putih yang bergerak perlahan tapi pikirannya melayang mengingat kilasan kejadian yang dialaminya. Pertemuan pertamanya dengan Youngjae di Rooftop ini, dan ia mengerlingkan sebelah matanya pada Youngjae saat itu, Lalu saat melihat Jaebum bersama dengan Youngjae, saat Youngjae mengobati kakinya yang cedera , dan saat festival berlangsung dimana ia menyanyikan lagu untuk Youngjae dan menyatakan perasaannya, juga kencan pertama mereka di Gangnam. Daehyun bangkit dari posisinya dan membuka kotak bekal itu, mengacak susunan huruf yang bertengger diatasnya dengan sekuat tenaga dan memakan kimchi yang tadi pagi belum sempat disentuh dan dimakan itu, ia masukkan potongan kimchi ke mulutnya, tanpa mengunyahnya. Daehyun memasukkan potongan kimchi lain ke dalam mulutnya, lalu ia mengambil potongan lain, begitu seterusnya sampai mulut Daehyun penuh. Daehyun mulai mengunyah sambil ingatan dalam otaknya terbayang saat Sunhwa datang memperingatkan tentang Youngjae pada dirinya saat kencan pertama mereka di Gangnam, lalu saat Daehyun mengantar Youngjae ia teringat Youngjae beberapa kali pernah mencoba berbicara sesuatu padanya tapi selalu terpotong atau tidak jadi, Daehyun mengingat saat dirinya membuka instagram dan melihat akun miliknya di-tag, dan ia pun terbatuk dan tersedak oleh kimchi yang memenuhi mulutnya namun tidak ditelannya itu, wajahnya memerah dan setitik air mata keluar dari sudut matanya. Daehyun menyeka air mata yang keluar dari matanya itu dengan kasar, kemudian ia mengeluarkan erangan suara tawa yang terdengar lirih, putus asa, dan menyayat hati siapapun yang mendengarnya ketika mengingat hal yang terjadi padanya sambil memukul-mukul sebelah dadanya dengan keras untuk menutupi suara serta sesak yang saat ini tengah dirasakannya .

'Kenapa?Kenapa harus seperti ini?'

Daehyun meraih botol yang berisi air mineral dan meneguknya, ia tersenyum lemah dan kecut ketika merasakan air minum yang meluncur dan melewati tenggorokkannya itu kini terasa pahit.

.

.

.

Youngjae hanya menunduk mendengarkan Ayahnya yang sedang berbicara panjang lebar saat ini, bahwa dirinya telah gagal menyanggupi syarat dari Ayahnya. Telinganya mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut ayahnya sementara otaknya sibuk membagi pikirannya yang kini tengah bercabang .

Tentu saja Youngjae telah gagal menyanggupi syarat dari ayahnya, karena identitasnya telah terbongkar dan diketahui oleh orang banyak melalui video yang tersebar di media sosial. Walaupun ayahnya berkata bahwa hal itu telah diurus dan meyakinkan Youngjae bahwa si penebar video telah diperintahkan untuk menghapus post-annya itu, tak membuat hati Youngjae lega. Youngjae harus membuang impiannya jauh-jauh untuk mendalami ilmu psikologi yang diidamkannya dan menuruti keinginan ayahnya untuk memasuki fakultas bisnis agar ia meneruskan usaha ayahnya di bidang properti. Youngjae menarik nafas dan menghembuskannya perlahan kemudian tersenyum sedih menghadapi kenyataan ini, kehilangan cinta dan impiannya dalam waktu yang bersamaan membuatnya tidak peduli lagi apapun yang mungkin dan akan terjadi padanya. Ayahnya menawarkan Youngjae untuk sekolah di tempat yang sebelumnya ia tempati sebelum pindah ke SOPA atau pindah ke tempat lain, ke sekolah baru dan beradaptasi dari awal lagi. Youngjae meyakinkan ayahnya bahwa ia akan melanjutkan bisnis ayahnya dengan mengambil jurusan bisnis saat kuliah nanti, namun ayahnya terkejut ketika mendengar tempat dimana ia akan melanjutkan masa-masa SMAnya.

"Youngjae-ah, apa keputusanmu tidak terlalu cepat?"

Youngjae menggeleng menanggapi pertanyaan ayahnya dan tersenyum

"Tidak, lebih cepat lebih baik. Aku bisa langsung masuk kuliah setelah lulus SMA nanti" ucapnya tanpa keraguan

Youngjae terdiam sesaat sebelum melanjutkan ucapannya dengan suara yang terdengar lirih menyerupai bisikan yang sangat pelan namun masih dapat ditangkap oleh pendengaran ayahnya karena saat ini lampu lalu lintas sedang berwarna merah dan posisi duduk mereka yang bersebelahan di kursi penumpang.

"Lagipula Aku ingin menghilang…."

Ayahnya menatap Youngjae saat Youngjae mengucapkan hal itu, dapat dilihat dengan jelas raut wajah Youngjae yang tersirat sedih saat mengucapkan hal itu. Ayahnya meremas bahu Youngjae pelan seolah memberi Youngjae kekuatan dan dukungan atas keputusan yang telah diambil oleh Youngjae.

.

.

.

"Hyung, Daehyun-Hyung, Daehyun-Hyung….." ucap Zelo sambil mengetuk pintu

Zelo mengacak surainya kasar, ia kembali mengetuk pintu kamar Daehyun dengan keras. Sudah seminggu ini Daehyun tidak mandi, sekolah ataupun makan, ia tidak selangkahpun keluar dari kamarnya kecuali saat akan ke toilet untuk menjawab panggilan alam saja. Zelo sudah mencoba berbagai cara untuk membujuk Daehyun keluar, baik dengan cara halus atau cara kasar. Ia sudah mencoba untuk mendobrak pintu kamar Daehyun namun tak berhasil karena pintu yang berada di rumahnya semuanya terbuat dari kayu ulin, salah satu kayu yang terkuat di dunia dan tubuh serta tenaganya tidak mampu untuk membuka pintu itu. Dengan menggunakan kunci cadangan pun tidak mungkin karena kunci cadangan untuk semua pintu memang dimilikinya namun khusus untuk kunci kamar mereka simpan masing-masing.

"Hyung…"

Zelo mengulurkan tangannya ke arah kenop pintu yang ternyata tidak terkunci, sepertinya Daehyun lupa menguncinya setelah terakhir kali kembali dari toilet. Zelo memutar kenop pintu itu dan memicingkan matanya ketika kegelapan menyambut dirinya yang mencoba mencari keberadaan Daehyun. Zelo melangkahkan kakinya memasuki kamar Daehyun sambil tangannya meraba-raba dinding mencari keberadaan saklar lampu.

Trek

Zelo menekan saklar lampu, dan seberkas sinar pun menerangi kamar Daehyun. Zelo berjengit mendapati kamar Daehyun yang biasanya rapih kini sangat berantakan seperti kapal pecah, semua barang-barang yang dulunya ada di nakas dan meja belajar kini berserakan di lantai,dan dipojok ruangan terdapat tumpukan barang-barang yang tertutupi oleh sprei dan tumpukan buku. Zelo menyapu pandangannya dan melihat Daehyun yang meringkuk di kasurnya. Zelo mendekati tubuh Daehyun yang berada di kasur, ia nampak prihatin melihat keadaan Hyung-nya itu. Daehyun dalam keadaan sadar namun matanya menatap kosong dinding dihadapannya, pipinya nampak tirus, terdapat lingkaran hitam dibawah kelopak matanya yang nampak bengkak, kulit tan yang biasanya terlihat bersinar kini tampak pucat, badannya pun nampak kurus.

.

'Aku tak sanggup jika harus melihat tatapan kebencian darimu yang ditujukan padaku, biarkanlah aku menghilang tanpa suara seperti debu yang terbawa oleh angin dari kehidupanmu, maafkan aku karena telah melibatkanmu dalam kehidupanku, Selamat tinggal dan Terima kasih telah mengisi dan mewarnai hari-hariku selama ini, Daenyon...ah tidak, Jung Daehyun'

.

Terdengar suara dering handphone dibelakangnya, Zelo menyapu pandangannya, mencari asal suara dan merasa suara itu berasal dari pojok ruangan. Zelo melangkahkan kakinya dan menyingkirkan tumpukan buku yang berada di atasnya lalu menyingkap sprei serta selimut yang menutupinya, ia menatap sendu barang yang berada di balik sprei itu, ada boneka bantal Sally, sehelai kain dan dua buah kotak makan, sebuah pigura berisi foto Daehyun dan Youngjae serta handphone yang tengah berbunyi serta bergetar. Zelo mengambil handphone itu dan menjawab panggilan tersebut.

"Halo, Yongguk Hyung?"

"Zelo-ya, berikan teleponnya pada Daehyun"

Zelo menjauhkan handphone dari telinganya dan menekan tombol loud speaker, lalu mengarahkannya tepat ke telinga Daehyun.

"Daehyun-ah..sebenarnya Hime melarangku mengatakan hal ini padamu, tapi kurasa kau harus mengetahuinya. Youngjae…dia… akan pergi ke Amerika hari ini dan sebentar lagi pesawatnya akan berangkat"

Daehyun bangkit dari posisinya dan mendudukan dirinya, ia menatap nanar pada Zelo, bibirnya bergetar dan mengeluarkan sepatah kata yang terdengar serak dan parau

"Zelo-ya…."

.

.

Youngjae melambaikan tangannya dan tersenyum pada Himchan, Jaebum, dan Yongguk. Kakinya bergerak menuju gerbang keberangkatan, Youngjae memperlihatkan passport, ticket dan boarding pass miliknya pada petugas. Ia membalikkan badannya dan menatap seisi bandara sebelum melangkahkan kakinya memasuki gerbang keberangkatan dan ruang tunggu khusus penumpang didalamnya, ia mendesah pelan dan berbalik memasuki gerbang keberangkatan.

'What do you expected, Youngjae-ah?' batinnya

Youngjae menatap sekali lagi pemandangan dari balik jendela yang perlahan-lahan mulai mengecil karena pesawat yang ditumpanginya telah lepas landas dan kini tengah mengudara, ia menempelkan tangannya di jendela itu dan tersenyum sedih.

.

Zelo menepikan mobilnya, Daehyun keluar dari mobil dengan tergesa, ia berlari memasuki bandara Incheon dan berpapasan dengan Himchan, Yongguk, dan Jaebum yang sedang berjalan menuju pintu keluar yang berada dibelakangnya. Langkah Daehyun terhenti saat melihat ketiganya, nafasnya tersengal dan terengah-engah mendapati kedatangannya terlambat. Zelo berjalan mengekor dibelakang Daehyun dan melihat tiga orang yang berada dihadapan Daehyun kemudian membungkukkan badannya menyapa mereka. Himchan dan Yongguk berjalan mendekati Daehyun, penglihatan Daehyun menjadi tidak fokus dan mulai mengabur, ia mengerjapkan dan memicingkan matanya untuk memperjelas penglihatannya. Saat Himchan berada tepat dihadapan Daehyun dan mulai membuka mulutnya untuk bicara, penglihatan Daehyun menjadi gelap kemudian badannya tumbang kebelakang dan dengan sigap ditangkap oleh Zelo yang berada dibelakangnya.

.

.

.

oooOOOOooo

.

7 Tahun Kemudian…

Daehyun membanting keras pintunya tak mempedulikan tiga orang yang menutup matanya karena terkejut oleh hempasan pintu yang berada dihadapan mereka. Ia melangkahkan kakinya ke dapur, membuka kulkas dan mengambil Chesse cake beserta Cola lalu meletakkannya di meja makan dan mulai menyantapnya sambil mengabaikan suara ketukan yang terus terdengar di depan pintunya.

.

Tiga orang yang berada di depan pintu depan Daehyun saling menatap kemudian menghela nafas, dan menurunkan kedua bahunya. Ini bukan pertama kalinya mereka mendapat perlakuan seperti ini. Tiga orang ini merupakan perwakilan dari tiga perusahaan besar dibidang prorerty yang ingin membeli tanah milik Daehyun. Perusahaan pertama berasal dari Byun Group dan diwakili oleh Do Kyungsoo, Perusahaan kedua berasal dari Kim Corporation dan diwakili oleh Park Jimin serta Perusahaan ketiga berasal dari Yoo Land dan diwakili oleh Lee Sungjong.

"Ah, kurasa ini hari terakhir aku bertemu dengan kalian" ucap Kyungsoo

"Apa Byun Group juga memutuskan untuk mundur?" Tanya Jimin

"Berarti besok hanya aku sendiri yang terus membujuknya?" Ujar Sungjong

Ketiganya saling bersalaman sebelum saling berpisah menuju tempat yang ditujunya masing-masing.

.

.

.

Lee Sungjong menghembuskan nafasnya, ia menuruni mobil dan melangkahkan kakinya memasuki tempat dimana ia bekerja. Ia memandangi sebentar pintu ruangan Direkturnya,Yoo Youngjae. Sebelum akhirnya mengetuk dan memasukinya lalu menjelaskan tentang Pemilik tanah yang tetap enggan menjual tanahnya pada perusahaan manapun.

Youngjae menyipitkan matanya, dari semua proyek yang pernah ditanganinya ini merupakan proyek pertamanya yang paling sulit dan membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkannya. Setelah lima tahun menghabiskan waktunya untuk mengenyam pendidikan di Amerika, ia langsung mengambil alih Perusahaan Ayahnya . Dua tahun terakhir ia habiskan untuk mengembangkan bisnis dan mengerjakan Proyek di Jepang, dan saat kembali ke Korea ia langsung mulai mengerjakan Proyek barunya di Busan. Youngjae memijit pelipisnya pelan berusaha menahan amarahnya, setelah semua yang terjadi Youngjae tidak ingin mengalami kegagalan lagi dalam hidupnya. Ia kini menjadi seorang Workholic yang Perfectionis, apapun yang menjadi proyek atau targetnya ia akan selalu berusaha mendapatkannya dengan cara apapun. Walaupun ini hanyalah proyek membangun Resort Hotel didekat pantai dan bukanlah proyek besar seperti membangun Residence mewah beserta fasilitas yang dapat memanjakan penghuninya namun Youngjae bertekad tetap pada rencananya semula membeli tempat itu, karena letaknya yang sangat strategis dan memiliki potensi alam yang bagus dan indah.

"Sungjong-Hyung, bukankah kau selalu berhasil mendapatkan hati para Client, Apalagi saat di Jepang. Kenapa dengan orang ini gagal?"

Lee Sungjong menggaruk tenguknya yang tak gatal, ia sedikit meringis mendengar pertanyaan Youngjae.

"Dia sedikit berbeda Youngjae-ah, kau tahu dia mempunya julukan Busan Wonbin, sepertinya dia S-"

"Aku tak peduli dia itu Busan Wonbin, Busan Tom Cruise, atau Busan Brad Pitt sekalipun, yang jelas… sebelum akhir minggu ini kita harus mendapatkan tanah itu, Hyung"

"Baiklah akan kuusahakan, lagipula pesaing kita semuanya sudah mundur"

.

.

Daehyun menaikkan alisnya saat mendapati hanya ada satu orang yang mengunjunginya saat ini, dengan enggan ia mempersilahkan Sungjong memasuki rumahnya. Lee Sungjong berusaha meyakinkan Daehyun agar ia mau menjual tanahnya kepada Perusahaan tempatnya bekerja, namun Daehyun bersikeras mengatakan bahwa ia tidak akan menjualnya apapun yang terjadi. Lee Sungjong keluar dari rumah Daehyun dan menghela nafasnya berat, ia merogoh ponsel di saku celananya dan menghubungi Youngjae bahwa ia telah gagal dan si Pemilik tanah bersikeras tetap tidak akan menjual tanahnya. Youngjae berdecih dan meminta alamat Pemilik tanah itu, ia berniat mendatangi tempat itu dan menangani hal ini langsung.

.

Youngjae memarkirkan mobilnya didepan rumah pantai bercat putih, ia menuju beranda dan mengetuk pintunya yang sedikit terbuka namun tak ada jawaban atau sahutan dari dalam rumah itu. Youngjae menekan tangannya pada daun pintu, menyebabkan celah pada pintu yang terlihat menjadi semakin lebar akibat dorongan tangannya. Youngjae menyapukan pandangannya pada ruangan yang terlihat kosong, ia memajukan kakinya selangkah dan mengetuk pintunya lagi namun tetap tidak ada jawaban apapun,ia memundurkan langkahnya dan menoleh kesamping ke arah nomor rumah yang tertera, mengecek apakah alamat dan nomor rumah yang ditujunya itu memang benar. Dengan ragu Youngjae melangkahkan kakinya memasuki rumah itu.

.

Daehyun membayar belanjaannya di kasir, ia keluar dari sebuah minimarket sambil menenteng kantong plastik dan berjalan menuju rumahnya. Jarak dari minimarket ke rumahnya hanya memakan waktu sekitar sepuluh menit dengan berjalan kaki,ia melirik mobil yang terparkir didepan rumahnya sebentar dan meneruskan langkahnya menuju beranda rumahnya. Daehyun mengernyitkan dahinya bingung, seingatnya ia menutup pintunya ketika pergi tadi walaupun sengaja tidak mengunci pintunya karena tempat yang ditinggalinya saat ini merupakan zona yang aman, lagipula ia hanya pergi sebentar untuk membeli keperluannya yang mulai menipis. Daehyun memasuki rumahnya dan mendapati seseorang sedang berdiri membelakanginya.

.

Youngjae menolehkan kepalanya kekanan dan kekiri mencoba mencari keberadaan penghuni rumah itu, ia berniat memanggil nama pemilik tanah sekaligus penghuni rumah itu namun teringat bahwa ia lupa menanyakan pada Sungjong siapa nama pemilik tanah itu. Suara decitan sepatu yang membentur lantai kayu terdengar memenuhi ruangan dan berasal dari arah belakangnya, Youngjae membalikkan badannya dan membelalakkan matanya ketika melihat siapa yang kini ada dihadapannya.

.

Daehyun menjatuhkan kantong plastic yang dibawanya, beberapa isinya Nampak menggelinding kearah sosok yang baru saja membalikkan badannya. Mata Daehyun terbuka lebar, mulutnya terbuka melihat seseorang yang sudah tujuh tahun tak ditemuinya itu.

.

Keduanya hanya saling menatap dalam waktu yang cukup lama, menciptakan keheningan didalam ruangan itu. Hanya suara gemerisik tumbuhan yang tertiup oleh angin dan deburan ombak saja yang terdengar. Youngjae mengalihkan pandangannya kearah lain sebelum akhirnya menatap ujung sepatunya, ia tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Daehyun berdehem sebelum mengeluarkan suaranya.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya

Youngjae mendongak mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Daehyun

"Oh, aku… berniat untuk membeli tanah yang berjarak 500 meter dari sini"

"Jadi kau pemilik Yoo Land?"

Youngjae hanya mengangguk menjawab pertanyaan itu, Daehyun melirikkan matanya kesamping kiri dan kembali menatap Youngjae

"Apa ada hal lain yang ingin kau bicarakan padaku, selain soal tanah?"

Youngjae menggerakkan bola matanya gelisah, ia menggigit bibirnya dan menelan salivanya pelan sebelum berbicara.

"Eum…soal tujuh tahun yang lalu, Aku minta maaf"

"Haruskah Aku memaafkanmu?"

"Eu..Kau bahkan belum mendengar penjelasannya dariku kan?"

"Aku sudah mendengar semuanya dari Himchan"

"A-"

"Aku sangat kecewa dan marah saat mendengarnya"

"Aku minta maaf" cicit Youngjae

"KAU…" ucap Daehyun sambil menunjuk Youngjae

"Kau telah membuat kesalahan Youngjae, Kesalahan yang sangat besar!"

"A…ak-"

"Karena kau aku telah keluar jalur!"

"Aku mi-"

"Karena kau aku jadi tidak normal!"

"Aku min-"

"Jangan menginterupsiku Youngjae, aku belum selesai bicara!"

Youngjae hanya menunduk, ia pasrah jika saat ini akan mendapat amukan dari Daehyun

"Sudah kubilang karena kau..aku jadi tidak normal, kau membuatku kacau dan terombang-ambing oleh perasaan yang kurasakan,aku terus bertanya-tanya apa perasaan ini nyata? Atau hanya perasaan sesaat? Saat pertama kali mengetahui kau Namja tentu saja aku Shock! Cukup sulit bagiku menerima kenyataan yang mendadak dan tak pernah kubayangkan sebelumnya. Aku sangat Terpukul dan seperti orang gila saat itu. Aku hanya butuh waktu untuk menerima semua kenyataan itu, tapi saat aku menyadarinya jika rasa ini tulus dan benar adanya lalu mulai mencarimu,semua sudah terlambat, kau telah pergi dan menghilang dari kehidupanku. Seperti angin topan yang datang memporak-porandakan hati dan perasaanku lalu pergi begitu saja menciptakan kehancuran dan kekosongan di hati ini"

Youngjae mengangkat kepalanya, matanya menatap Daehyun dengan penuh harap dan kerinduan.

"Ma..maksudmu?"

Daehyun mendengus dan memutar bola matanya mendengar tanggapan dari Youngjae

"Lupakan" ucapnya

Youngjae menggaruk kepalanya, ia merasa sepertinya Daehyun sudah memaafkannya walaupun tidak terlalu jelas mendengar apa yang diucapkan Daehyun, karena Daehyun berbicara panjang lebar dengan cepat dalam satu tarikan nafas tanpa jeda dan dipenuhi oleh emosi serta penekanan dalam nada suaranya. Lagipula sudah tujuh tahun Youngjae berada di luar Korea, sehingga ia membutuhkan waktu untuk mencerna kata yang baru saja diucapkan oleh Daehyun, dan yang terus memenuhi kepalanya saat ini hanyalah pikiran tentang keberhasilan Proyeknya.

'Apa aku sekarang seperti orang bodoh yang hanya mencintaimu secara sepihak,Baby Young?' batin Daehyun

"Eum,jadi….apa kau akan menjual tanahmu padaku?" Tanya Youngjae

Daehyun menepuk dahinya, ia menggelengkan kepalanya pelan, heran atas sikap Youngjae. Sebuah pikiran baru saja melintas, ia menurunkan tangannya,menaikkan alisnya dan menatap serta tersenyum pada Youngjae, lebih tepatnya menyeringai.

"Boleh, tapi ada syaratnya" ucapnya

Youngjae mendesah mendengar kata 'syarat', entah kenapa ia jadi sedikit trauma mendengar kata itu, ingatannya terbayang saat ia ingin kuliah dan mengambil jurusan psikologi. Ayahnya mengizinkannya dengan sebuah syarat yang sangat beresiko dan berakhir seperti tujuh tahun yang lalu. Youngjae berpikir sejenak sebelum mengutarakan pendapatnya.

"Hmm…baiklah, apa syaratnya"

Daehyun tersenyum lebar dan puas mendengar jawaban dari Youngjae, ia melangkahkan kakinya mendekati tempat Youngjae berdiri. Daehyun berhenti dihadapan Youngjae yang menatapnya dengan pandangan bertanya kemudian Daehyun melingkarkan tangan kanannya pada punggung dan bawah paha Youngjae, membopongnya menuju kamarnya. Youngjae kaget dan terbelalak, ia meronta-ronta dalam pangkuan Daehyun. Daehyun membuka pintu kamarnya dengan ujung sikunya ia memutar badannya sebentar, mengarahkan kakinya pada daun pintu dan menendangnya untuk menutup pintu kamar. Daehyun menghempaskan badan Youngjae di tempat tidur, Youngjae beringsut bangkit dari posisinya dan memundurkan dirinya ketika dilihatnya Daehyun bergerak mendekat, menindih dan mengunci pergerakkannya.

"Sit back and relax your mind" ucap Daehyun sambil mendorong Youngjae pada heardboards atau sandaran tempat tidur.

"Bukankah itu lirik lagu bap body and soul?" Tanya Youngjae

Daehyun terkekeh mendengarnya, pandangannya terus melekat pada mata Youngjae

"Really?" jawabnya

"Eum, bukankah kau akan menjual tanahmu padaku dengan satu syarat?apa syaratnya?" Tanya Youngjae

Daehyun mendekatkan wajahnya pada Youngjae, Youngjae mengedip-ngedipkan matanya dan perlahan menurunkan posisinya menjadi terbaring sepenuhnya dikasur. Ia menelan ludahnya pelan saat Daehyun memperlihatkan seringaian mesum padanya, Youngjae menahan napasnya, ia memejamkan matanya dan mencengkram erat sprei dibawahnya saat merasakan hangat hembusan nafas Daehyun yang terasa di wajahnya.

.

.

.

END

Hya,hahahaha *ketawa evil* akhirnya end juga

Lanjutan yang dilakuin Dae & Jae silahkan diteruskan di imajinasi masing-masing ya :3

Maafkan atas keterlambatan Update-annya, sempet terpikir untuk berhenti nulis nih.

Makasih buat semua yang udah Baca,ngikutin,favoritin FF ini dari awal sampe akhir, maaf kalo ada salah-salah kata ya.

Super Duper Special buat orang yang udah dan selalu Review FF ini :

Ngiweung, Just DaeJae, JokoMato DaeJae, WhielDaejae, Ibob, LoveHyunFamily, Tetangga jimin, Mymihyeol94, Yooungyooungdae, Sakura Hime, Umari, BYGHIME-Julz, Yongchan, dorkeyol, babydae, deha, azzasang, , ttaya arien, jleony982, KJMZYX, lovejeje, faticha13, SilvyOfficial , aiihee bee, DoubleBae, maulina45, SeminOh, KimSungJin, raineylova93, deakwon, GitARMY.