Friends Or?

Chap 10

Kim Minseok - Exo Member – Other

DLDR, BL, Straight, M, Little Bit Humor (I Hope), Brothership, Friendship, Romance (?)

.

..

...

BEFORE

"Entahlah, tanyakan saja apa yang ingin kau ketahui tentang diriku."

"Aku juga tidak tahu apa yang ingin kuketahui tentang dirimu."

"Kalau begitu giliranmu." Ayumi kembali menyesap minumannya.

.

..

...

"Oke, aku akan menjelaskan dengan singkat. Pertama-tama aku hanya ingin mempertegas sesuatu. Umurku 18 tahun dan tentu saja aku bukan minor. Aku sekolah di Seoul School."

"Kalau tidak salah itu sekolah khusus laki-laki kan. Teman-teman sekelasku sering menyebut nama sekolah itu."

"Begitulah."

"Apa mereka juga menginginkanmu agar kau beretika seperti seorang laki-laki sungguhan?" Ada nada geli dipertanyaan Ayumi.

Dan Minseok hanya memutar bola matanya malas. "Sebelumnya aku sekolah disekolah umum, tapi dikeluarkan tahun lalu jadi aku pindah ke Seoul School."

"Kenapa kau dikeluarkan?"

"Jadi sekarang kau mewancaraiku? Seingatku bukan begitu cara main dalam kegiatan mengakrabkan diri kita."

"Oke, lanjutkan." Ayumi menjawab dengan cepat.

"Bagus. Hobiku mendengarkan musik, jenis musik apapun asalkan membuatku tenang. Tapi aku tidak tertarik dengan memainkan alat musik apapun."

"Kenapa kau tidak tertarik?"

"Aku hanya tidak tertarik. Lalu aku menyukai semua jenis makanan, aku tidak memiliki alergi maupun phobia terhadap apapun. Aku biasa menghabiskan waktu luangku dengan tidur atau makan."

"Sekarang aku tahu bagaimana kau mendapat pipi menggemaskan itu."

Minseok menatap tajam kearah Ayumi, dan yang ditatapi hanya tersenyum dibalik gelasnya. Minseok memlih untuk mengabaikan perkataan Ayumi dan segera melanjutkan. "Jangan memotong perkataanku lagi. Aku suka warna gelap, abu-abu atau hitam. Aku tidak memiliki olahraga favorit, tapi aku mempelajari taekwondo dan keluar dari klub dua tahun yang lalu aku juga kerja part time disebuah cafe dekat sekolahku. Emmm, kurasa itu cukup."

"Cukup? Jadi pembicaraan ini berhenti disini?" Ayumi bertanya dengan kerutan didahinya.

"Sepertinya kau suka mengobrol."

"Akan sangat membosankan jika hanya diam saja, dan aku juga tidak ingin kembali keruangan membosankan itu." Keluh Ayumi.

"Aku tidak sedang dalam mood untuk mengobrol dengan siapapun."

"Oh aku lupa jika kau sedang dalam mood yang buruk. Lalu apa yang bisa memperbaiki moodmu?"

"Menghajar beberapa orang pasti akan menyenangkan."

"Wah, kau punya cara yang unik untuk memperbaiki moodmu. Aku jadi sedikit khawatir dengan diriku sendiri." Ayumi bicara dengan nada takut yang dibuat-buatnya.

"Bagus kalau kau mulai khawatir. Bagaimana jika kau mendengarkan musik, seperti yang kau lakukan tadi." Minseok menyarankan sambil melihat ponselnya sendiri. Minseok melihat ada satu pesan masuk dilayar ponselnya.

Fr : Park Dobi

Bagaimana makan malamu? (1 hour ago)

To: Park Dobi

Sangat buruk. (Sending)

Ayumi pun mengikuti apa yang dilakukan Minseok dan mulai memasang headset hitamnya ditelinganya.

Saat mereka berdua sedang sibuk dengan ponsel masing-masing, tiba-tiba Dujun datang dan membuat perhatian mereka langsung terarah pada Dujun.

"Waktunya pulang anak-anak." Kata Dujun kemudian, sambil mengambil botol dan gelas yang sudah kosong itu.

"Kau mengusir kami?" Ayumi menatap sengit kearah Dujun.

"Jangan memandangiku seperti itu, tapi orangtua kalian akan segera pulang. Aku tadi mendapat telfon dari lantai bawah."

"Kalau begitu barikan bonnya." Kata Minseok lalu mengambil dompetnya.

"Tidak perlu, saat kau membuka pintu masuk dengan kartumu kau otomatis sudah membayar apapun yang kau pesan disini."

"Benarkah? Kalau begitu tempat ini pasti benar-benar bagus." Respon Minseok datar dan kembali memasukan dompetnya kekantong celana jeansnya.

"Baiklah kalau memang begitu. Oh ya Dujun, kau sudah tidak bekerja diclub itu lagi?"

"Tenang saja, hari ini aku hanya menggantikan temanku. Kau mulai takut kehilanganku heh?" Tanya Dujun dengan senyum miringnya.

"Teruslah berharap." Jawab Ayumi membalas senyum miringnya.

Mereka menunggu pintu lift terbuka dengan wajah malas mereka karena harus kembali pada orang-orang yang mereka hindari.

"Oh ya, aku ingat sesuatu. Dari yang kudengar dari bartender tadi, sepertinya kau sudah tahu lebih dulu tentang makan malam ini, atau bahkan rencana bodoh mereka?" Minseok menoleh kearah Ayumi.

"Aah, soal tadi. Kemarin tanpa sengaja aku mendengar percakapan ibuku dengan yang menurutku adalah ibumu. Mereka membicarakan tempat untuk bertemu dan menyebut tentang kau yang akan ikut atau tidak juga kita pasti akan senang jika saling bertemu."

"Senang ya." Minseok bergumam pada dirinya sendiri. Ayumi hanya mengernyit bingung dengan maksud kata Minseok namun belum sempat bertanya, pintu lift terbuka dan Minseok langsung memasukinya tanpa menunggu Ayumi.

Sesampainya dilantai satu gedung itu, mereka sudah ditunggu oleh kedua orangtua masing-masing dengan senyum lebar mereka. Untung saja Ayumi sudah mengganti sepatu katsnya dengan higheelsnya saat didalam lift. Dan Minseok memilih tidak peduli untuk memakai kembali dasinya bahkan sepertinya meninggalkan dasinya dibar tadi.

Setalah melakukan pelukan perpisahan tak terkeculai Minseok dan Ayumi. Minseok dan orangtuanya kini sudah memasuki mobil dan menunggu agar mobil Ayumi dan orangtuanya pergi terlebih dahulu.

"Apa maksud kalian mengenalkanku dengan mereka." Minseok bertanya dengan datar.

"Pertanyaan macam apa itu. Tentu saja kami harus mengenalkanmu pada paaertner bisnis ayah. Kau yang akan mengambil alih perusahaan kelak, jadi kau harus sering-sering bertemu dengan mereka." Jawab ayahnya dengan sedikit nada terganggu.

"Sepertinya aku sudah pernah mengatakan bahwa aku tidak tertarik soal meneruskan perusahaan. Dan itu masih berlaku sampai sekarang." Minseok terus memasang wajah datarnya. "Paman turunkan aku dihalte depan. Aku akan langsung keapartmentku."

"Minseok-ah..."

"Untuk apa datang ketempat kecil itu yang bahkan kamarmu sendiri lebih besar. Aku sudah memblokir kartu akses keapartmentmu. Kau akan tinggal dirumah selama kami di Seoul." Tuan Kim berkata dengan nada finalnya. Membuat Minseok menahan amarahnya dengan mengepalkan tangannya kuat.

"Dengarkan kata ayahmu Minseok-ah. Saat ini dunia bisnis pasti tidak menarik untukmu, tapi saat kau mulai dewasa kau pasti menemukan hal-hal menarik dalam dunia perbisnisan. Bagaimanapun darah bisnis mengalir dalam tubuhmu."

"Aku akan memikirkannya. Tapi aku tetap akan tinggal diapartment kecilku yang nyaman."

"Kau sudah mendengar perkataanku dan kau tahu perkataanku adalah perintah yang harus kau turuti tanpa alasan apapun."

"Kau hanya ayahku bukan orang yang bisa memerintahku seenaknya."

"Minseok!"

Sesampainya didepan rumahnya, tanpa menunggu mobil benar-benar berhenti Minseok keluar dari mobilnya dan berjalan cepat kearah gerbang yang sudah tertutup.

"Buka gerbangnya." Minseok memerintah dengan dingin.

"Jangan buka!" Tuan Kim memerintah dengan tegas.

"Maaf Tuan Muda..."

Bugh!

Minseok memberikan pukulan keras dirahang penjaga gerbang itu dengan cepat.

Bugh!

Tanpa menunggu lama Minseok langsung menambahkan tendangan kuat dari arah samping dengan tak kalah cepatnya. Membuat penjaga itu langsung jatuh dengan lutut sebagai tumpuannya. Tanpa membuang waktu, Minseok langsung menekan tombol untuk membuka gerbang dan langsung berlari keluar sebelum penjaga lain mengejarnya. Beruntung saat Minseok berada dijalan ada taksi yang melaju kearahnya, Minseok dengan cepat masuk kedalam mobil sebelum mobil itu benar-benar berhenti.

"Aku akan bayar dua kali lipat jika paman cepat." Minseok berkata sambil menoleh kearah belakang dan benar tebakan Minseok para penjaga itu juga mengejarnya. Minseok menghela nafas lega karena berhasil melarikan diri dari kejaran orang suruhan ayahnya.

Karena tidak memiliki tujuan, maka Minseok memutuskan untuk pergi ketempat berkumpul teman-temannya atau mereka suka menyebutnya dengan dorm. Sesampainya didepan sebuah gedung yang kelihatannya sudah lama diabaikan, Minseok melihat sekeliling dari dalam mobil untuk memastikan tidak ada yang mengikutinya.

"Paman tunggu saja disini, aku akan mengambil uang. Jangan pergi sampai aku datang." Minseok lalu keluar dari taksi dengan langkah tergesa.

"Tentu saja." Sopir taksi itu menggangguk.

Untuk menuju tempat teman-temannya, Minseok harus berjalan agak jauh kedalam gedung itu juga harus melewati sebuah taman yang lumayan luas. Taman itu pula yang memisahkan antara gedung depan dengan gedung tempat teman-temannya berkumpul.

Saat hampir mendekati taman, dahi Minseok mengernyit karena mendengar kegaduhan. Mata besarnya melebar saat melihat teman-temannya kini sedang diserang oleh segerombolan orang yang sangat jelas jumlahnya lebih banyak dari teman-temannya sendiri. Bahkan Minseok tidak bisa melihat teman-temannya karena begitu banyak orang yang menyerang mereka. Tanpa menunggu lama lagi, Minseok mengambil balok kayu yang terletak tidak jauh darinya berdiri dan dengan cepat berjalan kearah kekacauan itu.

Bugh!

Satu pukulan keras dan langsung membuat orang itu terkapar tak sadarkan diri.

"Minseok?" Chanyeol yang melihat Minseok, menatapnya terkejut membuatnya lengah dan hampir saja terkena pukulan dari belakang jika saja Minseok tidak cepat memukul orang itu dengan balok kayunya.

"Sebaiknya kau lebih berkonsentrasi." Kata Minseok dingin dan kembali memberikan pukulan keras pada orang yang menyerang teman-temannya.

Entah sudah berapa orang yang berhasil Minseok jatuhkan dengan balok kayunya, seolah kerasukan iblis Minseok terus memberikan pukulan-pukulan mengerikan bahkan Minseok terus memberikan pukulan pada lawannya yang sudah tak berdaya.

Hari ini Minseok sangat kesal dan tidak ada yang lebih menyenangkan selain menghajar orang untuk melampiaskan kekesalannya. Bahkan dia menyeringai kejam saat melihat lawannya jatuh terkapar tak sadarkan diri. Minseok merasakan adrenalinnya terpacu dengan cepat dan membuatnya semakin liar saat memukuli lawannya, karena terlalu fokus Minseok tidak menyadari ada seseorang yang sedang berjalan kearahnya dengan membawa botol kaca bekas.

PRANG!

Minseok merasakan sesuatu menghantam punggungnya, tapi anehhnya Minseok tidak merasakan sakit sedikit pun. Saat berbalik Minseok memberikan seringaiannya dan dengan capat memberikan pukulan keras dikepala yang langsung membuat pria itu tidak sadarkan diri.

Merasa terpojok, para penyerang yang masih bisa berdiri kini satu persatu mulai berlari meneyelamatkan diri dengan membantu teman-teman mereka yang terkapar tak berdaya. Suho cs hanya memasang seringaian menang mereka kecuali Minseok yang sebenarnya masih ingin menghajar mereka tanpa sisa, dia bahkan masih menggenggam balok kayunya dengan erat.

Setelah semuanya kembali masuk kedalam dorm mereka, Minseok langsung menjatuhkan diri kesofa dan menyandarkan punggungnya dengan menghela nafas kasar.

"Wow. Kau kelihatan berbeda dengan pakaian itu Minseok. Auw! Jangan menekannya terlalu keras!" Kai meringis sakit saat Lay dengan sengaja menekan lukanya dengan kapas yang dicelupkan kealkohol.

Lay yang sedang mengobati luka Kai hanya diam tidak merespon ringisan Kai.

"Minseok-ah kau baik-baik saja?" Luhan bertanya dengan nada khawatirnya.

"Tolong jangan bicara denganku dulu." Minseok yang menutup matanya dengan lengan kirinya berkata dengan nada dingin namun lelahnya.

Luhan yang juga sedang mengobati luka Baekhyun menuruti keinginan Minseok dan kembali fokus pada luka Baekhyun. Karena tidak ada yang mebuka pembicaraan, ruangan itu kini hanya dihiasi dengan suara desisan menahan sakit.

"Aish aku lupa." Tiba-tiba Minseok berdiri dari duduknya dan mengejutkan semua orang yang ada diruangan itu.

"Kenapa Minseok?" Tanya Kris yang juga memasang wajah khawatir.

"Kris aku pinjam uang, aku tadi kesini naik taksi dan aku tidak membawa uang cash untuk membayar."

Kris langsung menyerahkan beberapa lembar uang ketangan Minsok. Tanpa memperdulikan pandangan khawatir teman-temannya Minseok langsung berjalan keluar. Saat berjalan keluar Minseok mulai merasakan perih dipunggungnya, namun memilih mengabaikannya dan terus berjalan menuju tempat parkir taksinya tadi. Minseok meringis saat sakitnya makin menjadi, dan memegangi pundak kanannya berharap sakitnya akan sedikit mereda. Minseok memijat kecil pundaknya sampai kearea punggung. Dahinya mengernyit saat merasakan sesuatu yang basah dipunggngnya karena penasaran Minseok melihat dengan terkjut tangannya yang kini berwarna merah. Minseok kembali meraba punggungnya dan meringis saat tangannya tak sengaja menekan lukanya. Minseok sebenarnya sudah merasakan sedikit nyeri dipunggungnya saat para penyerang itu berlari menyelamatkan diri namun dia hanya berpikir jika itu hanya luka memar biasa tidak menyangka akan berdarah seperti ini. Saat sampai didepan taksi Minseok makin meringis karena rasa sakitnya sampai membuat kepalanya ikut sakit dan mebuatnya sedikit pusing.

Dok, dok, dok.

Dengan susah payah Minseok mengetuk jendela taksi itu untuk mebangunkan sopir taksi yang ketiduran didalam mobilnya.

Dok, dok, dok.

Kali ini Minseok memperkencang ketukannya karena sopir taksi itu tidak juga terbangun. Minseok terus memegangi pundaknya yang semakin sakit. Akhirnya sopir itu terbangun juga dan langsung keluar dari mobilnya.

"Maaf, maaf. Aku ketiduran." Kata sopir taksi itu agak panik.

"Ti-tidak apa-a-apa. Isssh." Minseok semakin meringis kesakitan dan meremas kuat pundaknya untuk meredakan sakitnya.

"Anda tida apa-apa Tuan? Anda pucat sekali." Sopir taksi itu tambah panik saat melihat Minseok makin pucat dan terus meringis kesakitan.

"Sudahlah, ini uang taksinya." Sambil menahan sakitnya Minseok memberikan lembaran uang yang sudah diremas kuat Minseok hingga membuat bentuknya kumal tak beraturan juga ada bercak darah yang menodai lembaran uang itu.

"Tu-tuan berdarah! Apa anda yakin anda baik-baik saja?" Sopir itu bertanya panik pada Minseok yang kini mulai ambruk dengan lutut bertumpu pada tanah.

"Aku..."

"Tuan!"

.

"Wah aku tidak menyangka kita akan benar-benar diserang. Suho tebakanmu tapat sekali." Tao yang bertelanjang dada berjalan kearah kulkas dan mengambil sekaleng soda.

"Mereka pasti tidak akan terima dengan penolakan kerjasama itu, jadi mereka pasti akan menyerang kita dengan membawa banyak orang." Kata Suho dengan sedikit seringaiannya.

"Tapi aku tidak menyangka Minseok akan ikut dalam perkelahian tadi. Dia tiba-tiba datang dan menghajar semua orang dengan balok kayunya tanpa ampun. Dia benar-benar terihat berbeda apalagi dengan penampilannya tadi." Kai kembali mengungkit penampilan Minseok dan mendapat tatapan tajam dari teman-temannya.

"Wae!? Bukankah dia benar-benar kelihatan berbeda, bukan hanya penampilannya saja, tapi kalian harus melihat ekspresi seriusnya saat menghajar orang-orang itu. Aku belum pernah melihat ekspresinya yang seperti itu sebelumnya." Kai mencoba menjelaskan agar tidak dilahap habis oleh tema-temannya.

"Kau benar jika soal ekspresi wajahnya. Ekspresinya yang dingin dan terlihat kejam. Seolah-olah dia siap membunuh siapapun yang menghadang didepannya. Ini pasti karena makan malam itu." Chanyeol membenarkan perkataan Kai dengan membayangkan kembali ekspresi Minseok saat menyelamatkannya tadi.

"Minseok pasti benar-benar tidak menyukai orangtuanya. Moodnya bisa menjadi sangat buruk jika sudah berhubungan dengan orangtuanya. Dan mood yang buruk, untuk Minseok berarti menghajar orang." Tao berkata sambil duduk menyandarkan punggungnya disebelah Kris yang duduk disofa kulit berwarna hitam itu.

"Sial! Apa ini?" Tao yang baru saja menyandarkan punggungnya disandaran sofa langsung bangun dengan meraba punggungnya yang telanjang karena ada sesuatu yang basah dan agak lengket mengenai punggungnya. Matanya membelalak saat melihat noda merah ditangannya dan Tao dengan refleks mendekatkan tangannya pada hidungnya.

"Ada apa Tao?" Kris yang ada disamping Tao memasang wajah tanda tanyanya.

"Darah? Siapa yang tadi duduk disini?" Bukannya menjawab Tao malah balik bertanya sambil mengingat-ngingat siapa yang duduk sebelumnya.

"Apa maksdumu? Darah?" Kris makin bingung dengan pertanyaan Tao.

"Minseok! Tadi dia duduk disini. Sial!" Tanpa menjelaskan apapun Tao berlari keluar dan refleks semua orang yang ada diruangan itu ikut berlari keluar.

Saat sampai ditaman tempat mereka tadi berkelahi, seseorang dengan seragam sopir taksi berlari kearah mereka dengan wajah panik.

"Dimana Minseok." Tao bertanya dengan wajah tegangnya.

"Di-disana..."

Tanpa menunggu sopir taksi itu itu menyelesaikan perkataannya, mereka semua berlari dan melihat seseorang tergeletak disamping mobil taksi. Lay langsung memeriksa nadinya saat sampai didekat tubuh tak sadarkan diri Minseok.

"Dia bisa kehabisan banyak darah. Kita harus segera menangani lukanya!" Lay berteriak.

Dengan cepat Sehun langsung mengangkat tubuh lemas Minseok dan berlari membawanya kedalam dorm mereka.

"Ta-tadi dia kesakitan sambil memegangi pundaknya. Da-dan tiba-tiba di-dia tak sadarkan diri. Makanya saya tadi langsung berlari kedalam." Sopir taksi itu mencoba menjelaskan dengan terbata. "A-apa dia masih hidup?" Sopir taksi terlihat pucat kerena panik. "Ke-kenapa dia tidak dibawa kerumah sakit?"

"Apa anda sudah dibayar?" Tanya Kris dengan nada dalam dan tenangnya agar sopir taksi itu tenang.

"Oh! Ya. Tapi uangnya terlalu banyak dan ..."

"Ambil saja kembaliannya dan anda bisa pergi sekarang. Kami akan mengurus semuanya." Kris tidak kehilangan ekspresi datar sekaligus tenangnya walau dalam hati dia sangat mengkhawatirkan keadaan Minseok.

"Ba-baiklah. Semoga saja Tuan itu tidak apa-apa. Tadi saat naik taksi saya ada beberapa orang yang mengejarnya. Sa-saya permisi dulu. Terima kasih." Sopir taksi itu langsung masuk dan melesat pergi dari tempat itu.

Kris berjalan cepat kedalam, dan langsung berjalan terus kearah sebuah ruangan. Sesampainya disana Kris bisa melihat wajah serius Lay yang menangani luka dipunggung Minseok.

"Apakah parah?" Kris bertanya pada Chen yang ada disampingnya.

"Aku tidak tahu, tapi darahnya banyak sekali." Chen menjawab dengan mata terarah pada Minseok.

Untung saja dorm mereka dilengkapi dengan peralatan medis yang lumayan lengkap. Berterimakasih pada Lay yang menciptakan klinik kecil di dorm.

"Bagaimana? Apa kita harus membawanya kerumah sakit?" Kris langsung bertanya saat Lay selesai menjahit luka Minseok.

"Tidak perlu. Aku sudah menutup lukanya dan memberikan tranfusi darah."

"Transfusi darah? Kau punya itu disini?" Tanya Baekhyun cepat.

"Hanya untuk berjaga-jaga." Lay menjawab dengan tenang.

"Wah kau memasukan banyak hal kedalam ruangan itu." Baekhyun berkata dengan sedikit nada bercandanya untuk mencairkan ketegangan yang terjadi.

"Sabaiknya kita semua istirahat sekarang. Aku akan menjelaskan semuanya besok. Hari ini benar-benar melelahkan." Lay berjalan lebih dulu menuju ruangannya dan diikuti yang lainnya.

"Aku akan menungguinya. Mungkin dia butuh sesuatu saat dia bangun nant..."

"Dia tidak akan bangun sampai besok. Aku sudah memberikan obat bius untuknya." DO yang tadi menjadi asisten Lay memotong ucapan Luhan dengan cepat.

"Kita tidak boleh terlalu kelelahan untuk merawat Minseok." Tambah Suho sambil berjalan mengikuti yang lainnya.

Luhan menoleh kearah Minseok yang masih setia memejamkan matanya dan akhirnya berjalan mengikuti yang lainnya.

.

..

...

Tbc