Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pair : SasufemNaru

Rate : T

Gendre: Romance,Drama.

WARNING:STR AIGT,OOC,GAJE,ABAL,typos ,DLL

.

.

Ending Chapter! ^^,

Selamat Membaca!


"Aku merindukanmu, Teme..,"

.

.

"Aku juga merindukanmu, Dobe.."

Deg!

Tubuh Naruto menegang saat ada tangan kekar memeluk pundaknya dari belakang. Secepat kilat ia berbalik kebelakang. Dengan pandangan tebelalak dan tak percaya Naruto memandang wajah tersenyum kekasihnya.

"Sa-suke..?"

"Hn," gumam Sasuke masih dengan senyuman kecil nan langkanya. Sejujurnya, Sasuke dari tadi terpesona dengan penampilan Naruto yang sekarang. Terlihat sangat cantik dan anggun. Dia benar-benar merasa beruntung dan tidak salah mencintai seorang gadis. Awalnya, ketika ia tiba disana Sasuke sedikit ragu apakah yang dilihatnya sekarang adalah Narutonya? Namun, akhirnya ia yakin ketika mendengar suara lembut kekasihnya itu.

Sementara itu, Naruto masih membatu ditempatnya. Apakah ia tak salah lihat? Sasuke ada disini? "Su-Suke..," lirihnya lagi dengan nada sedikit bergetar ketika kekasihnya kini tengah duduk disampingnya, menatapnya dengan tatapan sangat lembut. "A-apa kau masih marah padaku?" lanjutnya bertanya ketika dirinya sendiri bingung harus melakukan apa bercampur dengan rasa takutnya.

Tapi?

'Ugh! Kenapa dia melihatku seperti itu sih?' Naruto yang risih dengan tatapan mupeng Sasuke– membatin.

"Kau terlihat sangat cantik," alih-alih menjawab pertanyaan kekasihnya, sang Uchiha malah sempat-sempatnya memuji dengan pandangan mesumnya itu. Lantas, pemuda itu dengan naluri naturalnya semakin mendekatkan wajahnya kepada wajah Naruto. Sementara itu, Naruto yang merasa situasinya menjadi terasa aneh, malah mendongkak mundur menghindari Sasuke yang sepertinya ingin menciumnya –bulat-bulat. Namun, namanya juga Sasuke, pemuda itu malah semakin maju mendekatkan wajahnya kewajah cantik Naruto.

Lalu?

Plak!

"Ouch! Apa-apaan kau Dobe?!"

"Kau yang apa-apaan Teme ?! Kau menghancurkan suasana tahu!" semprot Naruto setelah memukul kepala Sasuke telak. Misuh-misuh sendiri karena kelakuan kekasihnya yang aneh. Naruto jadi kesal, padahalkan dirinya dan Sasuke lagi marahan, lagi galau. Eh malah bersikap seperti tidak terjadi apa-apa! Naruto akhirnya manyun seraya memalingkan wajahnya sebal. Padahal baru saja gadis itu masih merasa takut, dan beradegan melow.

Sasuke mendengus, kemudian ia kembali merubah posisinya kembali duduk menghadap depan. Lantas pemuda itu mengamit lengan Naruto erat, seraya berujar : "Hn. Aku memaafkanmu. Maafkan aku juga karena tel-..."

"Ssssttt..!" Potong Naruto membawa jarinya pada bibir Sasuke, gadis itu tersenyum maklum. "Aku mengerti. Asalkan kau sudah memaafkanku Teme, aku lega," lanjutnya berkilat senang membawa dirinya bersandar pada bahu sang kekasih yang akhir-akhir ini tak bisa ia temui. Hidungnya menghirup aroma parfum mint sang kekasih dengan nyaman, aroma yang begitu ia rindukan. "Aku hanya mencintaimu, tidak ada orang lain dihatiku," ucap Naruto dengan semburat merah diwajahnya saat mengatakan itu. Rasanya ia sedikit lebay, tapi itu kenyataannya kok, sehingga ia harus mengatakan ini kepada Sasuke, agar kekasihnya tahu bahwa Sasukelah yang ada dihati Naruto.

Sasuke tersenyum mendengarnya, ia begitu bahagia dan lega diwaktu bersamaan ketika gadis yang ia cintai mengatakan hal tersebut. Memandang Naruto penuh sayang, pemuda itu melingkarkan tangannya dipinggang sang kekasih erat. "Begitukah?" tanyanya menggoda.

"Serius!"

"Kalau begitu mana buktinya?"

Cup!

Walaupun hanya ciuman sekilas dibibir, tapi Sasuke begitu menikmatinya. Dapat dilihatnya wajah bak kepiting rebus Naruto. Sangat manis dan cantik, ia sungguh menyukainya. Kemudian, ia memeluk Naruto erat, begitu posesif. "Hn. Aku pecaya," gumamnya setelah mengecup puncak kepala gadis pirang itu.

Naruto mengangguk dalam pelukan Sasuke, kemudian ia mendongkak memandang onyx indah kekasihnya. Ia teringat sesuatu, "Err.. Ngomong-ngomong kenapa kau tahu aku berada disini?" tanyanya heran.

"Insting?" Sahut Sasuke malah mengecup pipi gembil Naruto, benar-benar nyari kesempatan melepas rindunya.

Naruto mengembungkan pipinya sebelah– merajuk atas jawaban Sasuke. Mendesah panjang akhirnya Sasuke menjelaskan semuanya dengan malas karena ia harus menahan dulu kissu-kissu kepada Narutonya. Naruto menatap Sasuke tak percaya, mendengar semua penjelasan pemuda itu membuat Naruto melongo dengan tidak elitnya.

"Jadi kau pergi kealamat rumah baruku yang diberikan kakakmu?"

"Hn."

"La-lu kau bertemu dengan ayahku? Dan ka-u bi-bilang padanya kalau kita se-pasang ke-ka-sih?"

"Hn."

Hening..

Hening..

"A-APAAAAA?!" pekik Naruto berteriak seraya melotot kearah Sasuke. Tentu saja, Sasuke yang mendapat teriakan dari Naruto plus pelototan horornya, terkaget-kaget.

"Kenapa kau berteriak Dobe?!" sahut Sasuke keras selepas menutup kedua telinganya yang hampir saja dibuat tuli karena ulah kekasihnya sendiri.

Masih mempertahkan wajah horornya Naruto menelan ludahnya– paksa. Wajahnya berubah pucat pasi menuai rasa khawatir pada Sasuke. "Kau kenapa sih Dobe?" tanyanya lagi.

"Ah.. Kiamat sudah..," lirih Naruto pasrah. "Kau mungkin akan hidup menderita setelah ini,Teme," lanjutnya semakin membuat Sasuke terheran-heran mendengar pernyataan aneh Naruto.

"Hn?"

.

.

Mikoto tahu bahwa Fugaku itu sangat mencintainya. Buktinya adalah sekarang, suaminya itu turun langsung untuk menyiapkan pesta ulang tahunnya secara khusus. Fugaku rela bercapek ria dengan mengatur dan mengawasi semuanya dengan serius dan sendiri. Untuk pertama kalinya, Mikoto melihat Fugaku sangat bersemangat dan antusias. Ia sangat bahagia karenanya.

"Aku mencintaimu, Fugaku," kata Mikoto seraya mengecup pipi suaminya penuh sayang sebagai ungkapan terimakasihnya.

"Hn," sahut Fugaku bergumam malas seraya terus menyapu semua ruangan dan mencari sesuatu yang kurang, namun tidak ada. Ruangan buat pestanya sudah sempurna, sesuai keinginan dan konsepnya.

'Aaah! Semuanya sempurna! Aku harus membuat pesta yang baik untuk calon menantuku, dia harus terkesan. Aku tidak boleh gagal membuat calon menantuku senang untuk menghadiri pesta ini! Sasuke, ayahandamu menunggu sang calon menantu cantik itu dengan tidak Sabar!' batin Fugaku menggebu-gebu sembari tersenyum lebar membuat Author sweatdrop sendiri karena tingkah ajaib sang kepala Uchiha itu.

Ternyata Mikoto salah. Suaminya menyiapkan semua ini bukan untuk dirinya, melainkan untuk calon menantu impian Fugaku. Kasihan, untung saja Mikoto tidak tahu. Biarlah wanita cantik itu salah faham dengan kesimpulannya sendiri.

"Sayang, lebih baik kau istirahat dulu. Sekarang sudah waktunya makan siang!" Ujar Mikoto seraya menyeret Fugaku, "sepertinya Itachi dan Dei-chan sudah menunggu," lanjutnya ketika melihat Itachi dan menantu ukenya– Deidara– berjalan diarah pintu masuk mansion.

"Dei-chan~!" Mikoto berhambur kearah Deidara dan memeluk pemuda manis itu dengan gemas. Itachi dan Fugaku hanya tersenyum kecil melihat keakraban Mikoto dan Deidara. Hubungan Itachi dan Deidara memang sudah lama– 4 tahun. Hal itu membuat Deidara semakin akrab dan dekat dengan keluarganya. Rencananya, Itachi akan menikahi Deidara tahun ini juga. Dan Fugaku mengetahui itu. Awalnya memang Fugaku menolak keras hubungan menyimpang anaknya tersebut, namun semuanya berubah ketika Fugaku mengetahui Deidara adalah pewaris tunggal dari Senju corp. Masih ingatkan bahwa Fugaku itu menjunjung tinggi derajat kekayaan? Jika saja, Uchiha corp– perusahaannya– bekerja sama dengan perusahaan tersukses dan terbesar di Jepang itu, maka ia akan mendapatkan suatu keuntungan yang besar. Impiannya menguasai pasar industri Jepang, tentu akan cepat tercapai bila Senju- Uchiha bersatu. Ah.. Fugaku memang licik.

Tapi..

Itachi tentu saja mengetahui alasan ayahnya merestui hubungan mereka itu. Dan ia tidak mempermasalahkannya. Selama tidak ada yang rugi, semuanya terkendali.

"Selamat siang, Tou-san!" Sapa Deidara kepada Fugaku.

Kepala keluarga Uchiha itu mengangguk sedikit setelah bergumam 'Hn' kesayanganya. Dan merekapun segera bergegas kemeja makan setelah Choji, sang koki, memberi tahu bahwa makan siang telah siap.

.

.

Sekarang Sasuke tahu arti dari "Kiamat" yang Naruto ucapkan tadi setelah ia berhadapan dengan sang Namikaze Minato secara langsung. Ayah Naruto ini begitu terlihat menakutkan, bagi Sasuke. Senyuman 'ramahnya' mungkin lebih menyeramkan ketimbang tatapan maut ayahnya sendiri. Walaupun diluar Sasuke terlihat tenang-tenang saja dengan gaya cool nya, siapa yang tahu bahwa dalam hatinya pemuda itu sudah dag dig dug tak karuan. Menghadapi pria berwajah malaikat namun berhati iblis tentu saja membuat Sasuke mau tak mau ciut juga.

Ia melirik sedikit kearah Naruto yang duduk berseberangan dengannya, dan ia hanya mendapatkan senyuman kaku dari kekasihnya itu. Sepertinya, suasana hati Naruto memang tak berbeda jauh darinya. Perasaan Sasuke semakin tak enak dikala sang calon mertuanya itu berujar.

"Naru-chan~, sebaiknya Naru-chan pergi kekamarmu saja, atau bantu Shizune untuk menyiapkan makan siang!"

Naruto tahu bahwa ayahnya sedang mengusirnya, kalimat yang terdengar teramat manis itu mungkin sama saja dengan artian : "Tolong- tinggalkan- kami- berdua!". Kalimat yang menyiratkan tidak menerima penolakan apalagi bantahan. Dengan terpaksa, Naruto akhirnya meninggalkan kekasihnya beserta ayahnya diruang tamu yang mencekam itu. Tentu saja, setelah Naruto memberikan senyuman menyemangati kepada kekasihnya itu.

Naruto pergi, dan Minato semakin melebarkan senyuman ganjilnya. Hati Sasukepun mencelos karenanya.

Oh Tidak!

"Jadi, sejak kapan kau menjadi kekasih Naru-chanKU, nak?"

Oke, Sasuke mulai panik sekarang!

"Du-dua bulan yang lalu, paman," jawab Sasuke kentara dengan nada gugupnya. Pemuda itu bahkan merutuki dirinya sendiri karena nada itu. Shit! Uchiha tidak seperti ini! Sekuat tenaga Sasuke menormalkan kembali nada bicaranya ketika Minato mulai mengintrogasinya lagi. Demi Tuhan! Sasuke berani jamin, ia lebih melilih diintrogasi polisi paling menyeramkan sekalian ketimbang calon mertua dihadapannya ini.

'Ayah Overprotektif,' pikir pemuda itu seraya tersenyum kaku yang disertai keringat dingin didahinya, saat Minato bertanya: "Sudah melakukan apa saja dengan Naruto? Pelukan? Ciuman? Oh tentu jangan sampai melukan hal yang lebih dari itu. Kalau iya, maka ucapkan selamat tinggal pada dunia, Nak!" katanya dengan mata melotot ala psikopat yang gatal ingin memutilasi korbannya.

"Tentu saja TIDAK, paman!" sahut Sasuke cepat, dengan yakin seyakin-yakinnya ucapan, melihat Minato dengan sorot mata yang tegas.

Minato manggut-manggut seraya tersenyum. "Baguslah..," leganya sedikit melunak.

Sasuke pun ikut lega, sekarang ia bahkan leluasa meneguk ludahnya yang sedari tadi terasa tersumbat ditenggorokannya. Waktu berlalu begitu lambat bagi Sasuke, dan itu sangat menyebalkan baginya. Pertanyaan demi pertanyaanpun Minato layangkan kepada Sasuke, dan jangan lupakan plus wajengan-wajengan panjang lebarnya. Yah.. Wajengan yang disertai nada mengancam terselubung didalamnya.

Dan dua jampun berlalu dengan mengerikan bagi Sasuke. Betapa Sasuke sangat bersyukur ketika suara malaikat kekasihnya terdengar bagaikan nyanyian surga diruangan sebelah.

"Tou-san`~ , makan siang sudah siap!"

Ah! Dia semakin mencintai kekasih cantiknya itu.

"Oke, Naru-chan! Nah.. Ayo nak kita makan siang dulu!" sahutnya bergiliran kepada Naruto dan Sasuke. Pemuda tampan itupun menganggukkan kepalanya sedikit semangat, sebelum mengikuti Minato dengan mengelus dadanya terlebih dahulu. Sasuke ternyata bisa ciut juga ya?

Disana, dimeja makan berukuran hampir sama dengan meja makan dirumahnya, Sasuke melihat Naruto tengah duduk berseberangan dengan seorang pria paruh baya dengan rambut putih panjangnya. Siapa? Batin Sasuke bertanya karena ia baru melihat pria tua itu.

"Suke! Duduklah!" Ujar Naruto ketika melihat kekasihnya datang, ia menepuk kursi sebelahnya sebagai sinyal untuk pemuda itu duduk disebelahnya. Akan tetapi, Naruto segera mengkerutkan dahinya saat melihat wajah kaku dan pucat Sasuke. Lantas, gadis imut itu dengan cepat mendelik tajam kearah ayahnya– menuntut penjelasan. Sementara, Minato hanya mengedikan bahunya pura-pura tidak tahu dengan senyuman polosnya. Naruto mendesah karenanya. 'Tou-san pasti nih gara-garanya,' gerutunya dalam hati, tahu dengan sifat ayahnya tersebut. Naruto kemudian tersenyum manis kearah kekasihnya yang kini tengah duduk disampingnya.

"Jadi dia Naru-chan?" tanya Jiraya memecah keheningan.

"Iya, kek. Suke, ini Kakekku, Jiraya-jiichan!" katanya mengenalkan. Sasuke kemudian bertemu pandang dengan mata Jiraya, ia pun mengangguk sopan.

"Salam kenal pam-"

"Panggil saja, Kakek!" potong Jiraya ramah. "Kau pemuda yang tampan," lanjutnya tersenyum simpul memuji ketampanan calon cucu menantunya.

Sasuke membalas tersenyum kecil, "Terima kasih, kek."

"Cukup. Nanti kita lanjutkan lagi berbincangnya. Sekarang waktunya makan siang!" interupsi Minato menuai anggukan dari semua orang.

Lalu?

"Itadakimasu!" koor mereka bersamaan.

Dan makan siang dikediaman Namikaze itupun berjalan dalam keheningan.

.

.

~Skip Time~

Malam haripun tiba. Tepat pukul 7 malam kurang 30 menit, bungsu Uchiha itu mengedarai mobil sportnya dengan pakaian formal yang gagah. Setelan jas putih senada dengan kemeja dan celananya, Sasuke tampil sangat tampan dengan dasi hitam yang melilit sempurna dilehernya. Rambutnya walaupun tetap dalam gaya melawan gravitasi, pada malam ini ia sedikit rapikan, sehingga kesan emo sama sekali tak menempel padanya. Semuanya serasi, dan singkron. Jika saja, para gadis melihat penampilannya sekarang, maka sudah dipastikan lautan fantasi romantisme akan hinggap disetiap remaja yang melihatnya.

Sasuke tampak sempurna malam ini.

Tentu saja, ia tidak mau tampil biasa saja dimalam yang spesial ini. Malam dimana ia akan membawa sang permaisuri hati menghadap ayah dan Ibundanya. Memikirkannya, Sasuke mau tak mau menaikan sudut bibirnya. Bahkan secara tak sadar ia melajukan mobilnya dengan kecepatan yang bertambah, merasa benar-benar tak sabar.

Sementara itu, dikediaman Namikaze, seorang gadis tengah menggerutu kepada wanita dengan rambut hitam sebahu, Shizune sang pelayan wanita dikediaman itu.

"Aiiishh! Shizune-san..! Apakah pakaian dan semua ini tidak berlebihan? Naru tak nyaman memakainya!" seru Naruto seraya berusaha menjauhkan benda berbulu yang kini Shizune sedang kibas-kibaskan pada pipi chubbynya. "Ahh! Jauhkan benda itu! hihi.. Geli-geli!"Lanjutnya berseru seraya terkikik kegelian.

Shizune menampakan wajah garangnya, "Naru-chan~ diam! Malam ini kau harus tampil cantik! Wah.. Pasti kalian serasi sekali! Kyaaa...!" pekiknya membuat Naruto membatu seketika karena merasakan aura yang aneh dari wanita didepannya. Antara takut dan illfeel. "Nah.. Begitu.. Kau harus diam. Fufufu.."

'Me-menyeramkan!'

Beberapa saat kemudian..

"Kyaaaaa! Kau benar-benar sangat cantik Naru-chan!" Puji Shizune melihat penampilan Naruto sekarang. "Kau seperti barbie hidup!"Lanjutnya menuai kernyitan tak suka dari Naruto saat gadis itu disamakan dengan boneka barbie. Barbie hidup? Kok kesannya horor ya, seperti hantu gitu? Pikirnya jadi semakin tidak pe-de dengan penampilannya sekarang.

"Be-begitu ya..? Apa sebaiknya kita ganti saja pakaiannya? Ano.. Dan hiasan rambut ini juga sebaiknya- .. engh.. Errr... Tidak jadi!" Naruto yang hendak mengeluarkan protes buru-buru mengurungkannya ketika melihat wajah Shizune yang begitu menyeramkan.

Shizune tersenyum manis– teramat manis. "Bagus!"

Teng Tong Teng Tong...

Terdengar suara bel berbunyi, Shizune menjentrikan jarinya keudara tampak semangat. "Itu pasti Sasuke-san! Naru-chan tunggu dulu disini, biar saya yang bukakan!" Tukasnya, kemudian bergegas cepat seraya cekikikan tak jelas.

Naruto sweatdrop. Gadis itu kembali memperhatikan dirinya dibalik cermin, memandang pantulan sosoknya dengan pandangan tak percaya. 'I-itu aku?' gumamnya dalam hati. Wajahnya memerah, saat membayangkan perkataan Shizune tadi. Mendadak ia menjadi nervous untuk bertemu kekasihnya.

Sasuke disambut oleh pekikan khas Fansgirl saat pintu kediaman Namikaze itu terbuka sempurna. Tampaknya, Shizune sangat terpesona dengan penampilan Sasuke. Wajah pelayan itu merona hebat, menyambut kedatangan Sasuke dengan gugup.

"A-yo masuk Sasuke-san! Naru-chan sudah siap!"

"Hn."

Dan teriakan sang pelayanpun terdengar Naruto. Dengan perasaan campur aduk, Naruto melangkah keluar kamar. 'Aiih.. Kenapa aku harus segugup ini?' batinnya saat merasakan perutnya berputar layaknya sedang diaduk-aduk. Langkah Naruto semakin lemas tat kala onyx itu menghipnotis semua dunianya. Pipi yang merona sudah pasti bertengger wajib diwajahnya, ketika ia harus melihat sang pujaan hati berdiri gagah dengan tampannya. Ah.. Sasuke memang sangat tampan!

Dan?

Sasuke tak berani berkedip sedetikpun ketika melihat kekasihnya menuruni satu persatu anak tangga itu dengan anggun. Entah untuk kesekian kalinya, Sasuke merasa jatuh cinta lagi kepada sosok yang sama. Bagaimana tidak? Sekarang, ia seperti melihat seorang bidadari teramat cantik didepannya. Tersenyum begitu indah kepadanya, dunianya terasa sempurna malam ini. Naruto teramat cantik dengan balutan dress warna peach dengan obi pita cokelat dipinggangnya yang ramping. Manik-manik berlian itu menghias dress dengan sempurna, memantulkan efek kemilau yang luar biasa. Kaki jenjang Naruto dirias dengan sepatu highheels putih yang serasi, sehingga semakin membuatnya terlihat anggun ketika ia berjalan. Wajahnya dirias dengan make up warna natural yang nampak sesuai dan tidak mencolok, dengan bibir yang diberi lips glose pink bening, sehingga disaat gadis itu tersenyum akan nampak semakin menawan, apalagi lesung pipit itu nampak malu-malu. Rambut pirangnya dibiarkan tergerai dengan style menyisi, dan diberi mahkota kecil yang berkilau dibagian atas sisinya. Sangat cantik. Sepertinya, Sasuke memang memacari seorang barbie hidup.

Lalu?

"Ayo kita pergi tuan puteri!" ujar Sasuke tersenyum charming seraya mengangkat tangan kanannya menyambut Naruto ala seorang pangeran.

"Hehehe~.. Baiklah!" Sahut Naruto menerima uluran tangan kekasihnya dengan sedikit canggung dan malu. 'Kami-sama.. Sasuke tampan sekali,' takjubnya sekali lagi menatap lekat kekasihnya, sebaliknya juga Sasuke. Kemudian dua sejoli itupun berjalan beriringan dengan Naruto menggandeng lengan Sasuke– mesra. Shizune yang sedari tadi berdiri diantara merekapun terabaikan begitu saja. 'Serasa dunia milik berdua,' batinya mengomentari karena merasa kehadirannya dianggap bak patung oleh kedua sejoli itu .

"Wah.. Mereka benar-benar serasi," bisiknya kemudian antara takjub dan iri. Lantas pelayan yang sudah dianggap keluarga Namikaze itupun tersenyum lembut, dalam hati ia berdoa: semoga mereka berdua menjadi pasangan yang langgeng.

"Tunggu!"

Eh?

"Tou-san, ada apa?" Naruto memanggil ayahnya dengan pandangan heran. Penampilan Minato terlihat teramat janggal dimata Sasuke. Kenapa? Itu karena setelan jas hitam dan dasi biru itu terlihat begitu rapi bagi calon mertuanya. Jika untuk berpenampilan didalam rumah, penampilan Minato terasa begitu aneh dan terlalu formal.

Minato tersenyum manis. Dan seketika itu juga, perasaan Sasuke menjadi tak enak.

"Ehm..! Apakah Tou-san boleh ikut kepesta? Sepertinya, jika Tou-san tetap disini, Tou-san akan mati kebosanan.. Haah.." Entah sejak kapan Minato sudah berdiri dibelakang mereka, tersenyum aneh dengan sorot mata tajam kearah Sasuke.

Kacau sudah!

"Eh? Apa boleh Suke?" Naruto yang sepertinya tidak paham suasana hati Sasuke yang mendadak dongkol, bertanya dengan polosnya. Sasuke menghela nafas berat, dalam hati pemuda yang sedang menampakan wajah datar tanpa emosi itu tengah mengutuk kelakuan calon mertuanya yang mengganggu. Sifat overprotektifnya memang terlalu lebay! Pikir Sasuke sebal karena merasa Minato keterlaluan. Namun, mau tak mau dengan berat hati pemuda itupun mengangguk– membolehkan.

"Hn," gumamnya lemas. Lalu, dengan tidak berprikeromantisan, Minato berdiri ditengah-tengah antara Sasuke dan Naruto. Memisahkan acara gandengan tangan itu dengan tidak sabar. Hampir saja Sasuke mengacak rambutnya frustasi, kalau-kalau ia tak ingat bahwa dirinya seorang Uchiha.

"Ayo!" kini Minato yang berujar semangat. Naruto yang polos ternyata nampak senang-senang saja ketika ayahnya ikut, benar-benar tak mengerti situasi yang sedang kekasihnya rasakan. Merekanpun pergi menuju halaman, meninggalkan Shizune yang cengok dengan tampang tak percaya.

Lalu?

"Hahahah! Minato-san parah sekali! Hmmmppft..!"

.

.

Sepanjang perjalanan yang sudah Sasuke bayangkan akan berjalan dengan tenang, damai dan romantis saat tangannya saling bertautan dengan jari mungil Naruto kini hancur sudah. Memang, keadaannya tenang dan damai– sesuai imajinasinya, namun mungkin sekarang suasana romantis itu berubah menjadi..

Tegang.

'Damn! Kenapa semuanya jadi begini? Si Dobe juga..' rutuknya dalam hati untuk sekian kali. Matanya melirik sebal kearah kaca spion yang memperlihatkan Naruto dan Minato yang sedang mengobrol– entah apa– dengan asiknya, menganggap Sasuke hanyalah seorang supir belaka. Kasihan.

20 menit berlalu begitu saja, pemuda Uchiha itu menghentikan mobilnya tepat didepan sebuah Mansion mewah yang kini terlihat ramai dengan lalu lalang orang-orang yang menghadiri pesta ibunya. Sasuke segera keluar dan membukakan pintu mobil layaknya seorang supir kepada majikannya. Minato benar-benar mengerjai calon menantunya sendiri.

"Kita sudah sampai," kata Sasuke seraya membuka pintu mobilnya. Ia mengulurkan tangannya kepada Naruto, berharap kekasihnya itu menyambut ulurannya dan menggandengnya seperti tadi. Tapi sayang, Sasuke belum beruntung, pemuda itu malah mendapati tangan sang calon mertua yang menyambutnya dengan watadosnya. Dan Naruto hanya cekikikan sembari menggeleng saat melihat raut wajah kekasihnya yang mendadak kesal.

"Tou-san!" Tegur Naruto akhirnya karena tak tega juga melihat Sasuke yang seperti itu, lantas gadis cantik itu meraih lengan Sasuke dan menggandengnya, menyisakan Minato yang kesal karena putri kecilnya memilih menggandeng kekasihnya ketimbang ayahnya. Dan Sasukepun menyeringai penuh kemenangan.

Well, persaingan yang aneh.

Sementara itu, diruangan pesta tampak Mikoto berdiri cantik dengan gaun ungunya ditengah-tengah pesta bersama Fugaku yang mendampinginya menyambut kedatangan para tamu dengan suka cita. Senyuman tak lepas dari wanita paruh baya yang sedang berulang tahun itu, ia terlihat begitu bahagia malam ini.

"Sasuke belum tiba sayang?" tanya Mikoto kepada suaminya yang kini sudah selesai menyalami para tamunya. Fugaku menyapu matanya kearah seluruh ruangan, kemudian menggeleng pelan sebagai jawaban atas pertanyaan istrinya. Fugaku sendiri sebenarnya dalam hati sudah tidak sabar ingin bertemu dengan calon menantu yang katanya cantik itu. Ini sudah jam 7 malam, namun Sasuke belum juga terlihat padahal anak itu menjanjikan kedatangannya jam segini. Yeah begitulah keadaan batin Fugaku padahal nyatanya sekarang masih jam tujuh kurang sepuluh.

Itachi dan Deidara yang menyadari gelagat kedua orang tuanya karena kedua sejoli itu terus memperhatikan, hanya tersenyum maklum. Itachipun lantas membawa Deidara menghampiri kedua orang tuannya. Membawa Mikoto dan Fugaku berbincang ringan sebelum para tamu yang lain datang untuk sekedar memberi ucapan selamat dan hadiah.

Suasanya pestapun berlangsung meriah dan elegan. Dihadiri berbagai kalangan kelas atas, para kolega Uchiha sendiri. Ruangan pesta yang mewah, bertemakan pesta Eropa yang bernuansa warna hitam dan putih yang kontras. Sajian makananpun tak kalah mewah, dipimpin langsung oleh koki handal ternama diKonoha sehingga menghasilkan makanan yang elit. Standing party ini memang sangat sempurna bagi kalangan sekelas Uchiha. Dan Naruto sangat teramat canggung dan gugup karenanya. Kebiasaan hidup sederhana membuatnya kikuk saat melangkahkan kakinya dikarpet hitam yang menjulur kedalam ruangan super mewah itu. Ia semakin mengeratkan gandengannya dilengan Sasuke ketika ia sudah berada didepan pintu masuk, Sasuke yang mengerti perasaan kekasihnya hanya mengelus lengan Naruto sebagai pengganti kata 'Tak apa'. Minato sendiri malah mengaitkan tangannya dilengan sang puteri tak mau kalah, sehingga Naruto nampak diapit oleh dua pria yang tampan sekaligus.

Dan?

Suara musik klasik terdengar merdu ditelinga Naruto saat gadis itu memasuki ruang pesta. Pandangannya tercengang dengan apa yang ia lihat. 'Luar biasa.. Inikah kekayaan seorang Uchiha?' batinnya takjub. Fugaku sepertinya memang telah sukses membuat calon menantunya terkesan. Naruto bahkan sampai tak sadar ketika semua mata penghuni pesta memandangnya dengan pandangan terpesona. Tentu saja siapa yang tak terpesona ketika melihat seorang barbie hidup? Diapit dua pria tampan pula!

Tap Tap Tap..

Sasuke membawa Naruto menuju kedua orang tuannya yang nampak keadaannya tak jauh berbeda dengan semua orang, memandang kearah mereka tanpa berkedip. Sementara itu, Minato diam-diam memperhatikan calon besannya tersebut. 'Benar-benar tak berubah,' batinnya.

"Se-selamat malam tante, om!" Naruto menyapa Mikoto dan Fugaku kentara dengan nada gugupnya. "Selamat Ulang tahun, tante!" lanjutnya salah tingkah ketika kedua orang tua kekasihnya malah diam menatapnya tak berkedip.

Pandang..

Pandang..

Pandang..

Grep!

"Ya Tuhaaaaaan! Inikah gadis yang kau maksud Sasuke?!" seru Fugaku antusias tiba-tiba memeluk Naruto erat, dengan OOC-nya. Ia tersenyum lebar, "kau kekasih anakku?" lanjutnya bertanya senang memastikan bahwa gadis yang teramat cantik dalam pelukannya adalah benar-benar calon menantunya. Naruto mengangguk kaku– malu. "Hahaha... Kau cantik sekali!" seru Fugaku memuji melepaskan pelukannya kemudian memandang ramah kearah Naruto yang kini wajahnya sudah menyamai warna tomat, kesukaan kekasihnya.

Hening..

Dan semua orang nampak cengok. Antara shock dan tak percaya melihat sikap Fugaku yang terkesan begitu OOC-nya, melepas semua wajah flat dan arogannya. Yang paling parah adalah Mikoto sendiri, wanita itu memadang suaminya dengan pandangan layaknya melihat seekor (?) hantu– horor.

Seketika itu juga Itachi dan Sasuke merasakan perasaan malu atas tingkah ayahnya sendiri. Deidara menyikut perut kekasihnya sedikit– berniat menyadarkan. Itachi yang lebih dahulu menyadari situasinya cepat-cepat berdehem keras, mengambil inisiatif untuk mengalihkan perhatian semua orang. "Wah.. Inikah yang bernama Naruto?" serunya agak keras berhasil menguasai situasi. "Kenalkan aku Itachi, kakaknya Sasuke. Panggil saja kakak!" ucapnya ramah seraya mengulurkan tangannya kepada Naruto.

"I-iya. Yoroshiku, Itachi-nii," timpal Naruto menyambut uluran tangan Itachi dengan sedikit senyuman gugup. Semua orangpun kembali keaktifitas masing-masing, menikmati pestanya kembali. Sasuke diam-diam mendesah lega. Sedangkan Fugaku kembali kewajah flatnya, menyadari bahwa dirinya barusan sudah lepas kendali. Berterima kasihlah kepada Itachi.

"Sasuke, Kaa-san sangat senang dengan kadomu ini, nak. Terimakasih..," kini giliran sang Ibu yang memeluk lembut Naruto. Entah kenapa gadis itu merasa nyaman, dan perasaan hangat menjalar dihatinya. Pelukan Mikoto mengingatkannya kepada almarhum sang ibu yang begitu ia rindukan, iapun membalas pelukan Mikoto.

"Senang bertemu dengan tante!" sahut Naruto dalam pelukannya. Sasuke hanya tersenyum melihatnya.

"Ehm.. Panggil saja aku Papa, dan Mikoto, Mama," Fugaku berbicara lagi, namun kali ini dengan gaya khasnya meskipun tetap saja terasa aneh. Naruto terpaku mendengarnya, sebelum gadis itu mengangguk kecil saat melihat mata Mikoto yang memancarkan harapan.

"Ba-baik.. P-Papa, Mama.."

Dan Mikoto beserta Fugakupun bersorak dalam hati. "Nah.. Begitu sayang!" seru Mikoto kembali memeluk gadis yang saat itu juga sudah dianggap anaknya tersenyum senang.

'Syukurlah..' Sasuke bersyukur dalam hati, karena kekasihnya disambut suka cita oleh kedua orang tuanya, terlebih ayahnya sendiri.

Ah.. Sepertinya kita melupakan seseorang. Minato yang sedari tadi diam, mendecih sebal karena merasa kehadirannya tak dianggap oleh orang-orang. "Well, kalian berdua memang tak berubah. Fugaku, Mikoto.."

Semua orang terkejut (tidak termasuk para tamu). Naruto dan Sasuke sendiri tak kalah tercengang, lalu mereka saling pandang mengirimkan sinyal :"Mereka- Saling- kenal?" lewat artian tatapan dua sejoli itu.

Lalu?

"Minato/ Minato-kun?!" Seru Fugaku dan Mikoto bersamaan.

Minatopun hanya memutar bola matanya bosan, ketika kedua sahabat lamanya itu baru menyadari keberadaannya. "Lama tak jumpa kawan!" Cengirmya kemudian merangkul Fugaku erat. "Hahaha.. Hentikan ekspresi jelek kalian! Tak ku sangka kita akan bertemu disini..!" Lanjutnya tertawa.

"Ya Tuhan! Kemana saja kau selama ini,Mina-kun?" Mikoto berseru kemudian memeluk sahabatnya itu. "Naru-chan itu putrimu?" sambungnya bertanya sumringah, menuai anggukan Minato. "Oh Tuhaan! Takdir memang indah..!" serunya kemudian.

"Hn!" Gumam Fugaku tersenyum samar, "bagaimana kabarmu, Minato?"

Reuni antar sahabat lama itupun terus berlanjut. Itachi dan Deidara ternyata sedari tadi sudah meninggalkan mereka. Tersisa Sasuke dan Naruto yang melihat keakraban orang tuannya. Tak menyangka kalau sebenarnya kedua orangtua mereka sudah saling kenal, dan terlihat akrab sekali. Sasuke kemudian mengalihkan pandangannya kearah sang kekasih. "Mau berdansa denganku. Tuan puteri?" ajaknya membuat wajah Naruto kontan memerah.

"Aku tidak bisa berdansa," lirih Naruto menyesal. Sasuke menyeringai, lantas pemuda itupun merangkul pinggang kekasihnya, menggiring Naruto kelantai dansa. "Biar aku yang ajarkan, Love," bisik Sasuke mesra ditelinga Naruto.

"Teme!" seru gadis itu pura-pura kesal karena Sasuke mencuri sebuah kecupan dipipinya. Sasuke sendiri malah terkekeh. Pemuda itu sangat bahagia malam ini, semuanya berjalan sempurna. Lalu, pemuda itupun memeluk pinggang Naruto tanpa ragu-ragu, dan membawa tangan kekasihnya kepinggangnya. Lantas, mereka berdua menari mengikuti irama musik klasik yang mengalun merdu itu sejalan dengan ketukan kaki mereka. Sepasang sejoli itu nampak terhanyut dalam dunianya. Onyx dan shapphire itu saling mengalirkan tatapan penuh cinta. Mengirimkan sinyal kasih diatara mereka berdua, tak ingin terpisahkan.

"Aishiteru.." Bisik Sasuke, mengecup dahi kekasihnya lembut.

"Aishiteru yo, Suke..," lirih Naruto tersenyum sangat cantik. Ia kembali menyandarkan kepalanya pada dada bidang kekasihnya. Lekuk padat dada Sasuke seolah pas dengan pipi Naruto. Dan Sasuke semakin mengeratkan rengkuhannya.

Sementara itu, Fugaku, Mikoto dan Minato nampak memperhatikan pasangan muda yang tengah berdansa ditengah-tengah pesta dengan senyuman lembut mereka.

"Mereka tampak sangat serasi," ucap Mikoto memeluk lengan suaminya.

"Ya.. Aku tidak menyangka pemuda itu adalah keturunan darimu, Fugaku!" kini Minato yang menimpali, membuat sang kepala Uchiha itu mendengus atas pernyataannya.

"Hn, malam ini mereka akan bertunangan!"

"Ya.."

Hening..

EEEEEEHHHH?!

Minato dan Mikoto melemparkan pandangan terkejut kearah Fugaku. "APA?!" Seru mereka bersamaan. Mikoto nampak berseru senang, sebaliknya Minato berseru horor. "Kau bercanda Fugaku? Demi Tuhan! Mereka masih SMA!" pekik Minato lagi.

Fugaku menyeringai kemudian menggeleng membalas tatapan melotot sahabatnya. "Bagaimana istriku?" Fugaku malah bertanya kepada istrinya. Dan Mikoto mengangguk antusias. "Tentu saja aku setuju!" serunya senang. Selanjutnya, Mikoto menatap Minato dengan tatapan puppy eyesnya. "Iya kan Mina-kun~?"

Haah.. Minato mendesah pasrah. "Memangnya aku bisa menolak..?"

.

.


END

Horeeeee! Sujud syukur Fic ini akhirnya tamat juga... Fyuuuuh! Oke memang endingnya garing.. #Mewek. Tapi.. Beneran Kira udah ngusahain banget biar Fic ini endingnya benar-benar ga gaje. Tapi kalau tetap gaje hasilnya, apa boleh buat? Hiks.. ternyata bikin ending itu susahnya minta ampun. T.T

Kira disini mau Ucapin beribu terimakasih bagi Reader dan Reviewers yang udah dukung Kira dari awal Fic ini hingga selesai. Maaf Kira ga bisa sebutin satu-satu, atau balas satu-satu. Soalnya kebayang bejibunnya minta ampun. Bisa-bisa menuhin notif lagi.. #Alesan.

Disini Kira sangat berharap Review dan kesan terakhir mengenai Fic ini dari Minna-san.. ^^, Mohon banget.. Soalnya itu sendri buat spirit dan perbaikan di next2 Fic kira.. ^^,.. Kira pengen tahu apa pendapat Minna-san mengenai Fic gaje ini.. heheh..

Maaf apabila banyak kesalahan atau ada hal-hal yang mungkin tak berkenan dibenak Minna-san.. Mohon maklumnya, sungguh Kira ga bermaksud, jikapun ada.. ^^,

Akhir kata... SANKYUUUUUUUU!

.

.


OMAKE


Hari ini sangat cerah, seperti suasana hatiku saat ini. Aku sangat bahagia ketika aku datang kesekolah aku disambut senyuman oleh semua orang. Awalnya aku takut mereka bersikap seperti waktu itu, tapi syukurlah semuanya kembali normal. J

Hari ini aku berangkat bersama temeku.. Ehm.. Tunanganku. Kami-sama.. Pasti kalian kagetkan kenapa si teme itu satusnya berubah menjadi tunanganku? Semua ini gara-gara Papa Fugaku, dan oh.. Jangan lupa Tou-sanku juga ikut andil dalam skenario malam pesta kemarin! Selepas aku berdansa dengan si Teme, tiba-tiba Mama Mikoto naik keatas podium dan mengumumkan bahwa kami malam itu akan bertunangan, dengan dalih kado dari si Teme-baka.

Oh Tuhan! Waktu itu aku panik, dan sialnya si Teme malah menyeringai senang. Aku hampir saja lolos kabur, kalau-kalau Tou-san tidak menangkapku dan menyeretku keatas podium. Demi Ramen yang ada diseluruh dunia ini! Aku hampir mati gila malam itu, yeah umurku masih 16 tahun dan aku harus bertunangan? Mendadak pula. aaarrrgh.. Semuanya menyebalkan! Aku tidak bisa berkutik malam itu.

Haah.. Akhirnya, malam pesta perayaan ulang tahun bibi Mikoto menjadi malam pesta pertunangan kami berdua. Dan yang tidak aku habis pikir adalah papa Fugaku yang entah sejak kapan sudah menyiapkan cincin pertunangan kami. Seolah dari awal dia sudah merencanakan semua ini. Hmm.. Aku memang sudah curiga sejak awal! Dasar, papa dan anak sama saja!

Hmmm.. Tapi, aku bahagia kok. ^^ yah walaupun ada beberapa hal yang membuatku jengkel sih. Well, semuanya sudah terjadi. Apa boleh buat? Lagian Naru kan sayang Suke. Heheh...

Oia, disekolah.. Aku disambut haru sama sahabatku ,Hinata. Dia menangis, mengira selama ini aku tidak sekolah karena mau meninggalkannya. Dasar.. Hinata memang lucu. Hihi.. Dan aku juga tadi sempat bertemu dengan Yukata-nee.. Syukurlah akhirnya perjuangan cintanya tidak berakhir sia-sia.. Cintanya diterima oleh Gaara-senpai. Yeiy! Akhirnya Gaara-senpai menerima perjodohan itu. dan tadi aku melihat Yukata-nee menangis terharu saat menceritakannya. Syukurlah semuanya berjalan sesuai harapan. Aku juga tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Yukata-nee karena telah membantu masalahku dengan si Teme. Heheh..

Aku juga mendapatkan kabar yang menyedihkan dari Ino-senpai.. Katanya, karena malu akhirnya Sakura-senpai pindah sekolah ke Sunagakure. Huft.. Kasihan sekali dia. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi selama aku tidak ada. Tapi.. Aku juga terkejut, ternyata yang meneror dan menyebabkan semua masalah selama ini adalah Sakura-senpai. Aku tidak menyangkanya. Yah.. Mungkin itu adalah ganjaran baginya, tapi aku sudah memaafkannya ko. Suatu hari nanti aku ingin sekali bertemu dengannya. Entah kenapa aku ingin sekali minta maaf padanya. Sedikitnya aku mengerti bagaimana perasaannya. Yah.. Dia begitu karena ehm.. mencintai si Teme. L

Tapi..

Aku berharap semua ini akan baik-baik saja. Semoga aku selalu mendapatkan kebahagian bersama temeku selamanya...

Dan semuanya berjalan Happy ending.. :D

I love u Teme..


Naruto tersenyum manis ketika selesai menulis diarynya, ia tak terkejut ketika sepasang tangan meligkar dipinggangnya erat.

"Menunggu lama Dobe?"

"Hmm.. Cukup lama sampai aku selesai menulis diaryku!" Sahut Naruto menggembungkan pipinya– merajuk.

"Hn," gumam Sasuke seraya mendengus geli melihat betapa imutnya sang kekasih ketika merajuk. Lantas ia ia membawa jemarinya pada jemari sang kekasih, membawa tangan mungil itu kedalam kecupan lembutnya. Ia menatap jari manis Naruto yang telah dilingkari sebuah cincin. Cincin pertunangannya, Sasukepun tersenyum karenanya. Dalam hati pemuda itu berjanji akan menjaga ikatan mereka sampai mati.

"Dobe?" panggil Sasuke kepada Narito. Gadis itu segera menoleh kearah sang kekasih.

Lalu?

"Hmmmpph"

Siang itu, bibir mungil Naruto ditawan oleh kecupan lembut Sasuke, mengalirkan rasa hangat pada hati keduanya saat rasa manis dari bibir masing-masing terasa pada indera pengecap mereka.

"Aku mencintaimu," ungkap Sasuke disela-sela ciumannya sebelum ia kembali mengecup bibir manis kekasihnya itu lagi dan lagi.

.

.

OWARI

THE END...

C u in next Fic minnaaa...! :D

Jaa ne!