Magnolia

Chapter 10

Language: Indonesian

Rating: T

Genre: Supernatural/Drama, slight Romance

Disclaimer: I don't own Naruto. Masashi Kishimoto owns it.

Summary: AU/"Kurasa aku tahu seseorang yang mungkin mengetahuinya," ujar Neji. Ketiga remaja itu memberikan pandangan penuh tanya. "Tenten."/

"Blabla" normal talking

'Blabla' thinking

"Blabla" suara dari karakter yang tidak terlihat


Saat itu, langit telah ditutupi oleh kegelapan sempurna. Hujan yang mengguyur kota pinggiran itu sejak tadi sore, tidak kunjung berakhir. Suara petir yang saling menyambar, menemani para penduduk menikmati istirahat malam mereka.

Binatang-binatang malam yang biasanya menghuni jalanan saat langit gelap, kini tak terlihat satupun. Mereka terlalu ciut untuk menghadapi derasnya hujan malam itu. Namun, justru binatang-binatang macam siput dan kataklah, yang setia menunggu sampai hujan berhenti. Di ranting pohon, maupun di atas tanah basah.

Bagi sebagian orang, tentu saja keadaan rumah di malam hari selalu ramai dengan canda tawa antar anggota keluarga. Biasanya, mereka akan berkumpul di ruang keluarga untuk berbagi cerita mengenai apa yang mereka lakukan siang tadi.

Tetapi, semua kebiasaan itu tidak berlaku pada seorang pemuda bermata lavender yang saat ini tengah terengah-engah memegangi dadanya. Punggungnya terasa kaku, dengan nyeri luar biasa. Sementara itu, di bagian belakang tubuhnya, ia bisa merasakan serpihan-serpihan kaca mulai menusuk-nusuk lebih dalam.

Setetes cairan merah keluar dari ujung bibirnya. Pandangannya sedikit kabur, akibat tubrukan langsung kepala bagian belakangnya dengan lemari antik dari bahan kayu jati. Bagaimanapun juga, kayu macam jati, adalah satu yang kuat. Dapat dirasakan sakitnya, bagaimana kalau tubuh manusia menubruknya hingga mengakibatkan kerusakan cukup parah.

'Sial! Sepertinya pengasuh itu sudah tak bernyawa lagi!' rutuk pemuda itu dalam hatinya.

Ia memegangi dada kanannya yang terasa makin sakit, sebelum mengikuti arah langkah sosok bertudung hitam yang lima menit lalu telah membantainya habis-habisan. Ruang tengah keluarga Haruno itu tak lebih dari pemandangan mirip kapal pecah.

Potongan, bahkan serpihan kayu dimana-mana, juga pecahan-pecahan kaca yang tak beraturan. Jika berjalan lebih dekat, maka akan terlihat sungai-sungai darah bercabang, yang berasal dari tubuh seorang wanita berambut hitam.

Neji―nama pemuda itu―berusaha keras untuk mengetahui keadaan wanita tadi, dengan menyipit-nyipitkan matanya. Agak sulit melihat dengan aliran kecil darah dari dahi bagian kanannya.

"Hen-hentikan…" ujarnya susah payah. Bahkan, untuk berbicara sepatah kata saja, terasa menyakitkan.

Sosok yang tengah berjalan menuju dimana mayat wanita tadi terbaring, kini seakan mendelik padanya. Neji terpaksa merutuki dirinya yang tidak terlalu waspada, sehingga kini menjadi bulan-bulanan sosok itu.

Ia membulatkan matanya perlahan, saat menyadari bahwa sosok itu kini berjalan kearahnya. Seakan telah menjadi seorang pemenang dalam sebuah pertandingan, sosok itu mengangkat kedua tangannya.

Neji tidak dapat berlaku banyak, kecuali memejamkan matanya. Mungkin, dia akan habis malam ini. Ya… selamat tinggal dunia.

Namun, suara keras seperti kaca pecah, sekaligus dengan sepotong kayu yang beradu dengan benda berat, mengisi indera pendengarannya. Suara keras dan mengagetkan itu tentu saja langsung menarik perhatiannya.

Dahinya mengerut dengan pemandangan yang ia lihat di depannya.

"Sa… Sasuke?" tanya Neji dengan suara lirih.

Imej pemuda berambut hitam mencuat itu kini berdiri di sampingnya, dengan wajahnya yang biasa. Ia memperhatikan bagaimana sosok itu terbang bagai terlempar, dan menubruk meja di ruang tamu tersebut, dengan kecepatan lumayan.

Sasuke tidak merespon kata-kata Neji, namun kembali berkonsentrasi untuk mengantisipasi serangan yang mungkin tiba-tiba muncul. Ia masih diam, sembari memberi tanda pada Neji untuk segera mencari perlindungan.

Sepasang bola mata onyx itu terbelalak, saat dilihatnya tubuh Kin yang sudah tak bernyawa lagi. Ia sedikit menyesalkan, kenapa dirinya tidak datang lebih awal. Entah apa yang akan dikatakannya pada Sakura jika nanti gadis itu terlalu terpukul dengan kepergian pengasuh setianya.

Sosok itu mencoba untuk bangkit, dengan keadaan tubuhnya yang sudah sedikit melemah. Terdengar bahwa sosok itu mendecih kesal, dan kembali mengangkat kedua tangannya tinggi ke udara.

Kini, dampak atas gerakan itu adalah melayangnya benda-benda berujung tajam, seperti potongan kayu dan serpihan keca, kearah dimana Sasuke berdiri. Pemuda itu masih memasang tampang tanpa ekspresinya. Dua detik sebelum ujungnya bertubrukan dengan tubuhnya, sebuah kilatan hitam lewat melintang di atas pupil onyxnya.

Dengan reaksi itu, benda-benda melayang tadi jatuh terjerembab ke lantai. Tidak sampai disitu, saat berada di atas tanah, benda-benda itu berputar sehingga kini bagian tajamnya mengarah kepada sosok tadi.

Sasuke menyeringai, dengan perasaan sadis tersirat di hatinya. Bagian tajam itu melesat, menyerang bagian bawah sosok itu. Jika saja ia lambat bereaksi, maka kemungkinan besar ia akan mati konyol dengan ribuan ujung tajam terbenam pada kakinya sebatas paha.

Suara derap langkah dari kejauhan, membuyarkan konsentrasi pemuda berambut hitam itu. Berulang kali ia menoleh kearah datangnya suara, mayat Kin, dan sosok berjubah hitam. Pada saat sosok itu masih lumpuh, masih bisa diatasi dengan sedikit sentuhan lagi. Namun, ia tak dapat membayangkan bagaimana histerisnya Sakura nanti, saat melihat mayat Kin yang tergeletak di tengah ruangan.

Kelengahan Sasuke yang masih bingung, rupanya dimanfaatkan oleh sosok itu. Ia kurang peka, ketika sebuah pecahan kaca melayang lurus tepat kearahnya. Sasuke belum merasakan apa-apa, sebelum menyadari kalau kini kausnya basah oleh cairan hangat yang mengalir.

"S-sialan…" rutuknya.

Sosok itu kini bangkit dengan gagah, dan tertatih-tatih berjalan menuju dimana mayat Kin tergeletak. Saat itu, bagian leher sang pengasuh telah mengeluarkan banyak darah. Dengan sedikit sentuhan dari sosok tadi, bagian perut Kin terlihat mengoyak sendiri, dan tanpa setetes darah pun keluar dari sana.

Neji yang sudah tak sanggup menahan sakitnya, hanya memejamkan mata, dan membiarkan rasa kantuk mengambilnya. Sementara Sasuke, masih bersimpuh dengan telapak tangan kanannya mencoba menutupi luka dimana kaca tadi menancap.

Dengan satu kedipan mata, sosok itu menghilang bagai ditiup angin. Sama dengan caranya menghilangkan dirinya sore tadi.


Bulatan-bulatan cahaya serasa menusuk-nusuk matanya, memaksanya untuk segera terbangun. Ia tidak dapat membuat pertahanan untuk tetap menutup matanya, lantaran bulatan cahaya itu terasa semakin banyak.

Akhirnya, ia menyerah dan mulai membiarkan kelopak matanya terbuka sempurna. Namun, ia masih mengerjap-ngerjapkan matanya, seraya sinar matahari yang terlalu tajam bersinar kearahnya. Yah tentu saja, karena tempat tidurnya menghadap arah timur, dimana matahari pagi terbit.

Hal pertama yang ia rasakan saat mengangkat tubuh bagian atasnya adalah, sakit yang luar biasa pada dada kanannya. Ia menggigit bibir bawahnya untuk mencegah teriakan kesakitan yang mungkin meluncur. Untunglah, hanya decihan kesal yang keluar.

Pemuda berambut hitam itu menyenderkan kepalanya pada papan tempat tidur, dan mencoba mengingat kejadian tadi malam yang sedikit kabur dari ingatannya. Ia hanya menemukan dirinya, berkaus lain dengan semalam, dan bekas luka yang telah diperban.

Namun, setelah melihat senampan sarapan lengkap di meja samping tempat tidurnya, sebuah ingatan penting menyentil kepalanya.

'Ya Tuhan. Sakura!'

Dengan ingatan itu, ia segera bangkit dari tempat tidurnya dan membuka pintu kamar itu tergesa-gesa. Rasa sakit yang kian menusuk pada bekas lukanya, sama sekali tidak ia hiraukan. Saat ini, ia harus bertemu dengan gadis berambut merah muda itu, dan menjelaskan segalanya.

Beberapa langkah dari kamarnya, ia bertemu tangga menuju lantai bawah. Dengan satu decihan kesal, ia mencoba berlari menuruni tangga itu, dan menuju ruang tamu, tempat dimana kejadian semalam terjadi.

Ia tak heran, ketika menemukan keadaan ruang tamu kembali seperti sedia kala, maupun lemari yang malahan tampak seperti baru. Namun, sesosok pemuda berambut kuning jabrik yang tengah duduk di sofa dan menyendiri, menangkap perhatiannya.

"Naruto," panggilnya, sembari berjalan mendekat. "Kemana Sakura?"

Pemuda itu menghela nafas, tanpa mengalihkan perhatiannya pada buku tebal di depannya. "Ia di kamarnya, Sasuke. Hanya keluar untuk membuatkan sarapan untukmu dan Neji. Dia… sangat terpukul," jawabnya.

Sasuke mengerutkan dahi. "Dimana mayat Kin?" tanyanya lagi.

Kini, Naruto mengangkat kepalanya, dan menunjuk kearah bagian lantai yang tampak bekas hangus. "Dia… terbakar sendiri," ujarnya. "Waktu aku ingin mengamankan, tiba-tiba, kobaran api muncul dari lantai bagian bawahnya…"

"…menurutku, ini ancaman dari turunan kelima untuk… yah, mungkin bekerja sama dengannya."

Sasuke menatap bekas hangus itu dengan tatapan nanar. Apa yang dikatakan Naruto tadi cukup masuk akal, lantaran selama ini orang kelima dari mereka tak pernah menunjukkan tanda-tanda ingin menghapus dunia sihir. Menunjukkan diri pun tidak.

Ia masih terdiam di tempatnya berdiri. Otak cemerlang yang sering dipuji para guru, saat itu serasa buntu dan tak kuat untuk berfikir. Semua rentetan kejadian ini benar-benar membuatnya seperti gila.

"Hibur dia, Teme," ucap Naruto tiba-tiba.

"Hn?"

"Sakura benar-benar syok, dan tidak sanggup berkata saat melihat mayat Kin, dan tubuhmu serta Neji yang tak karuan semalam. Menangis pun tidak," jelas Naruto. "Setidaknya… biarkan ia menangis, dan setelah itu kita akan mulai mencari petunjuk lagi."

Pemuda bermata onyx itu mengangguk pelan. "Baiklah. Aku akan… menemaninya sekarang."

Sasuke membalikkan tubuhnya, dan bermaksud untuk mendatangi kamar Sakura yang terletak di lantai dua. Namun, saat mendengar suaranya dipanggil Naruto, ia berhenti di tempat.

"Tebak. Pasti Nona Shizune yang datang kesini semalam," ujar Naruto sambil sedikit terkekeh.

"Maksudmu?"

"Ada potongan hak dari sepatu hak tinggi berwarna hitam. Itu sepatu yang dia gunakan, kan?" tanya Naruto balik. "Lihat saja, di sekolah nanti, pasti dia sulit berjalan."


Sepasang bola mata emerald itu menatap kosong, kearah langit berwarna biru cerah dengan titik-titik hitam, yang dapat ditafsirkan sebagai burung-burung beterbangan. Sudah dua kali dirinya mengalami kekosongan pikiran seperti ini.

Pertama kali, ketika di asrama setelah malam kematian seorang murid bernama Rock Lee. Dimana malamnya ia masih melihat jelas bagaimana Lee dibentak habis-habisan oleh Nona Tsunade. Empat jam kemudian, nyawa Lee hilang di kamar mandi laki-laki. Sungguh ia tak dapat membayangkan bagaimana 'psikopat' gila itu membunuh penghuni sekolah satu-persatu.

Sekarang, pikirannya kembali berkecamuk. Baru semalam, dengan mata kepalanya sendiri, dilihatnya seonggok tubuh tak bernyawa milik pengasuh setianya. Bukan hanya itu yang membuat sakit, namun ekspresi wajah Kin, yang benar-benar menyiratkan ekspresi yang tersiksa habis-habisan.

Gadis berambut merah muda itu memejamkan matanya rapat-rapat, berharap ada setetes air mata yang keluar untuk menenangkan hatinya. Namun, ribuan kali ia mencoba, matanya selalu kering, dan entah kenapa sakit di hatinya makin bertambah perih.

Tok. Tok.

Suara ketukan halus di pintu sedikit membuyarkan pikirannya. Ia menolehkan kepalanya yang tadi memandang langit pagi, kini mengarah ke pintu.

Sebelumnya, matanya mengedip dua kali. "Ya… masuk," ucapnya dengan suara parau.

Sakura mengangkat tubuhnya, dan membuat langkah kecil-kecil menuju pintu. Bayangan Kin yang akan tersenyum dengan senampan sarapan pagi di tangannya, membuat gadis itu hampir terjatuh lemas untuk kedua kalinya.

Yah. Pikiran dan memori lama tentang sang pengasuh masih belum menghilang secara permanen dari ingatannya. Semuanya berjalan terlalu cepat. Bagaimana ia memikirkan perubahan mendadak dari Kin, bagaimana Kin memberikan kunci itu dengan mudahnya, bagaiman―

"Kau baik-baik saja?" tanya sang pengetuk pintu dengan wajah muram.

Sepasang emerald bening itu sedikit membulat, sedetik setelah pertanyaan itu dilontarkan. Tidak. Tepatnya sedetik setelah sang pengetuk pintu itu memandang kearahnya dengan tatapan onyx yang lesu.

"Sasuke?" tanya Sakura sedikit tak percaya. "Jangan keluar dulu dari kamarmu. Lukamu belum sembuh semua. Bodoh. Harusnya aku dan Naruto merawat kalian sampai sem―"

"Harusnya aku yang mengkhawatirkanmu, Sakura," ujar Sasuke, memotong kata-kata gadis itu. "Tidak tahukah kau saat ini dirimu sedang rapuh?"

"Apa maksudmu?"

Nada menentang terdengar jelas dari bibir gadis berambut merah muda itu. Namun, di telinga Sasuke, nada itu terdengar layaknya nada seseorang yang putus asa, dan bingung.

Terlihat kuat seberapapun Sakura sekarang, pemuda itu tahu bahwa di dalamnya ia sangat rapuh. Memang, wajah dan kedua pipinya tidak menunjukkan adanya bekas airmata yang mengering, namun justru hal itulah yang membuat sakit.

Yang dibutuhkan gadis itu sekarang hanyalah menangis, dan mengeluarkan seluruh perasaannya.

"Menangislah," ucap Sasuke pendek.

Sakura terkesiap. Sebegitu jeniuskah seorang Uchiha Sasuke, sampai-sampai ia bisa membaca apa yang ada di pikirannya sekarang? Sudah berjam-jam gadis itu berusaha mengeluarkan airmatanya, namun hasilnya nihil. Perasaan sedih dan sakitnya belum berkurang.

Dan sekarang, Sasuke yang berdiri tepat di depan wajahnya dengan mudah mengatakan hal yang sangat dibutuhkannya. Inginnya menangis, namun… gadis itu terlalu takut untuk tidak menemukan penopangnya di masa-masa seperti ini.

Rahang gadis itu mengeras. "Mudahnya kau mengatakan itu, Sasuke. Kau tidak tahu sulitnya untuk melakukan hal itu," ujarnya dengan nada sedikit tinggi. "Aku… bingung."

Hati sang pemuda melunak dengan bisikan terakhir Sakura. Ia tak pernah merasakan hidup sebagai seorang perempuan, yang relatif menggunakan perasaan untuk mengatasi sesuatu. Yang ia tahu hanyalah semua hal akan selesai menggunakan pikiran logis.

Tapi kali ini dirinya mulai mengerti. Mungkin… Sakura membutuhkan tempat bersandar sebagai penguatnya saat ini.

Dengan pikiran itu, Sasuke tersenyum kecil.

"Aku tahu. Yang kau butuhkan hanyalah tempat bersandar, kan?" tanyanya simpel.

Sepasang alis berwarna merah muda itu bertaut, bingung. "Kenapa…?"

Sasuke menghela nafasnya. "Aku serius, Sakura. Sedikit tangisan pun tidak apa-apa. Aku tidak akan memberitahu yang lain," ujarnya dengan nada sedikit bercanda.

Gadis itu tersenyum. "Terima kasih."


"Sudah baikan, Neji?" tanya seorang gadis berambut merah muda. "Maaf… aku masih belum mahir dalam mengobati luka, makanya kalian berdua hanya kuobati dengan cara manual."

Pemuda bermata lavender yang baru saja mencapai ruang makan siang itu, hanya tersenyum kecil. "Tidak apa-apa, Sakura. Perawatan begini juga sudah cukup," ujarnya. "Toh, lukaku tidak terlalu berat. Hanya rasa pusing di bagian belakang kepalaku saja yang belum menghilang."

Naruto terkekeh. "Mau lukamu sebanyak apapun, tetap saja semalam badanmu dan Teme hampir tak berbentuk. Bagaimana rasanya ketika terbentur lemari di ruang tamu itu, Neji?" tanyanya bercanda.

Neji mendengus. "Bayangkan saja kau berada satu ruangan dengan Nona Tsunade yang sedang marah. Kira-kira begitu rasanya."

Sakura terkekeh kecil mendengar penjelasan Neji. Yah, memang bisa dibayangkan bagaimana seramnya berada satu ruangan dengan Nona Tsunade yang sedang naik darah. Bisa-bisa dia akan memakai orang yang ada di dekatnya untuk menjadi kantung samsak.

Siang itu, suasana di rumah keluarga Haruno sudah tidak semuram pagi tadi. Neji, yang keluar paling akhir dari kamarnya, kini bisa sesedikit menggerakkan kepalanya, dimana benturan keras terjadi semalam. Ia masih pantang untuk menyentuh kepala bagian belakangnya, dan Naruto juga tidak bohong waktu mengatakan kalau bagian itu mengeluarkan banyak darah semalam.

Sementara itu, Sakura mulai sedikit menunjukkan senyumnya yang biasa. Setelah hampir setengah jam ia menangis di bahu Sasuke, dengan sebuah tarikan nafas dalam, semangat kembali muncul dalam dirinya. Namun tentu saja ia belum bisa sepenuhnya menerima kenyataan bahwa Kin sudah tidak ada di dunia ini.

Saat memasak di dapur, dengan ditemani oleh Naruto, gadis itu tanpa sadar termakan pikirannya sendiri. Sehingga, berkali-kali, kesalahan seperti lauk yang digoreng terlalu gosong, atau kelebihan garam selalu menemani kedua remaja itu.

Sekarangpun, Naruto selalu mengerjap-ngerjapkan matanya saat sesendok sup ayam itu memasuki mulutnya. Area lidahnya di sekitar ujung terasa ngilu, dengan kadar rasa asin yang agak banyak.

"Aku ingin tahu. Sebenarnya… apakah Nona Shizune benar-benar orang yang kita cari?" tanya Naruto, berusaha menghiraukan rasa yang sedari tadi menendang-nendang dalam mulutnya.

Neji yang tengah menyuapkan sesendok nasi dengan sepotong kecil ayam goreng mengangkat bahunya. "Bukti Nona Shizune datang kesini hanya potongan hak itu. Siapa tahu, itu sepatu milik orang lain," ujarnya. "Menurutku, kita harus secepatnya sampai di sekolah, dan menyelidiki. Apakah Nona Shizune berganti sepatu, atau apakah dia mengalami kesulitan berjalan."

"Maksudmu sulit berjalan?" tanya Sakura.

"Pukulan balik yang diberi Sasuke semalam cukup membuatnya terjungkal ke belakang. Hak sepatunya saja sampai patah. Aku berani bertaruh, pasti tulang kakinya ada yang retak, atau minimal sedikit keseleo," jawab Neji.

Sakura mengangguk mengerti. "Tapi… kalau benar Nona Shizune orangnya, berarti akan ada sebuah kemungkinan buruk yang akan terjadi," ujarnya tiba-tiba dengan nada sedikit dipelankan.

Pemuda bermata onyx yang sedari tadi hanya diam mendengar pembicaraan mereka, mengangkat sebelah alisnya. "Kemungkinan buruk macam apa yang kau maksudkan?" tanyanya.

Gadis berambut merah muda itu menghela nafasnya ringan. "Pikirkanlah. Selama ini, siapa orang yang sering kita lihat selalu bersama, bahkan mengobrol akrab dengan Nona Shizune? Maksudku, selain Nona Tsunade."

Naruto mengangkat wajahnya. "Hm… Tuan Kakashi. Memang… kenapa dengan Tuan Kakashi?"

"Hanya mengira kalau… mungkin Tuan Kakashi dalam bahaya," jelas Sakura pendek, tanpa ada penekanan dalam kata-katanya. "Kalau dalam hal ini orang yang dekat dengannya adalah Nona Tsunade, maka dia sendiripun mungkin tidak berani."

"Tapi kau melupakan satu hal, Sakura," ucap Sasuke pelan.

Gadis itu menoleh dengan dahi yang berkerut. "Hal… apa maksudmu?" tanyanya.

"Sejauh ini, salah satu dari kita belum tahu pasti. Apakah Nona Shizune benar-benar keturunan kelima itu, atau… hanya pengikut?"


"Sayangnya… aku tidak pernah melihat tanda macam ini," ujar seorang pemuda berambut kuning jabrik, yang langsung disetujui oleh dua temannya. "Dia kan selalu memakai blus lengan panjang."

Sasuke menutup kedua matanya, berkonsentrasi. "Guru-guru lain yang memakai kemeja tangan pendek, juga tidak ada yang punya. Kemungkinannya kecil kalau pengikut atau keturunan aslinya adalah dari para siswa," ujarnya pelan.

Neji mengangguk setuju. "Tiga tahun berlalu, aku tidak merasakan ada yang aneh dengan murid-murid lain. Sulit juga mencari pemilik tandanya. Semua murid diharuskan memakai jas sekolah. Kalau tidak, ya… kalian tahu."

Gadis berambut merah muda yang duduk di atas sofa berwarna merah marun itu menghela nafasnya berat. Ia menyandarkan punggungnya sehingga dapat merasakan senderan sofa yang empuk dan halus itu. Pikirannya sering diuji akhr-akhir ini. Hanya ketenangan semata yang ia perlukan saat itu.

Di sampingnya, Sasuke tengah memelototi halaman sebuah buku tua yang sudah ia baca kemarin. Buku yang sama, berisi sebuah tanda milik seorang pengikut penyihir, yang digambar dengan tinta berwarna hitam dan menyerupai api yang berkobar.

Sakura mencuri baca buku yang dipegang Sasuke lewat sudut matanya. Walaupun matanya sibuk membaca keterangan yang tertera disana, namun lagi-lagi pikirannya melayang memikirkan sosok Kin. Ini bukan kali pertama dalam sehari, pikiraannya melayang lagi.

Kematian sang pengasuh yang tiba-tiba, membuat dirinya teringat akan satu hal yang pernah ia bicarakan dengan Sasuke di bis, saat perjalanan menuju rumah.

"Kau punya surat perjanjian lima keluarga itu, Sasuke?" tanya Sakura, hampir tanpa suara.

Pemuda yang ditanya itu, dengan reflek menghentikan gerakan matanya hanya untuk berpindah objek. "Y-ya. Surat itu ada pada Neji," ujarnya sambil mengamati wajah Sakura. "Kau mau melihat?"

Gadis itu menggigit bibir bawahnya, sedikit ragu. "Hm… ya. Aku ingin melihatnya. Kata ayah, disana ditulis cara untuk memusnahkan dunia sihir ini selama-lamanya, sekaligus cara untuk menghidupkan kembali dunia itu."

"Kau tentu memilih untuk menghancurkan dunia itu, kan?" tanya Sasuke, menutup buku yang tadi sibuk dibacanya.

Sakura mengangguk. "Pasti. Aku hanya tidak ingin… dunia itu mempengaruhi para keturunan keluarga Magnolia ini lagi, untuk menjatuhkan banyak korban."


Cerahnya sinar matahari siang itu, dengan cepat mengeringkan lantai-lantai jalanan yang semalam basah oleh siraman air hujan di awal musim gugur. Sebagian sinar teriknya memantul, setelah melewati kaca jendela berteralis milik sebuah sekolah asrama, setelah sebagiannya lagi membias masuk.

Dari beberapa jendela yang sama juga, terlihat pantulan suasana jalanan di depannya yang hari itu tidak ramai dengan para pejalan kaki, di luar gerbang sekolah. Jika kau melihat sedikit lebih dekat, maka akan terlihat pantulan sosok wanita berambut hitam pendek di permukaan kacanya.

Wanita yang berbusana keseluruhan hitam itu tertatih-tatih menapaki tangga pualam, yang sebentar lagi akan membawanya menuju lobi utama sekolah. Setiap kali ia menginjak batu kerikil kecil yang sedikit tajam dengan kakinya yang bertelanjang itu, maka sebuah decih kesakitan akan keluar dari bibirnya yang sedikit kering.

Tudung hitam yang semalaman melindungi kepalanya dari hujan, kini tidak tampak pada tempatnya. Begitu juga dengan mantel hitam yang menghangatkannya.

Begitu sampai di dekat kolam ikan, yang terletak di muka bangunan, dengan lega dan hati-hati ia mendudukkan dirinya di pinggir kolam. Saat pinggiran dari batu itu menopang tubuhnya, ia menghela nafas lega.

'Setidaknya aku sudah sampai disini. Hanya butuh sedikit waktu untuk memulihkan tubuhku ini,' ujarnya dalam hati, sambil perlahan-lahan tangannya menyentuh sebelah kakinya yang dirasanya patah tulang.

Sekali lagi dia menghela nafas. 'Sudah kukorbankan sepatuku untuk hal ini,' batinnya.

Perlahan, ia memijat bagian kakinya yang terasa ngilu itu, sambil mata hitamnya berkelana memandangi pintu masuk bangunan sekolah yang tertutup. Yah, itu adalah hari kedua sejak sekolah asramanya diliburkan. Tidak heran saat itu halaman sekolah terlihat sepi.

Ia masih terus memandangi pintu itu dalam diam. Sedikitpun ia tidak berharap kalau pintunya akan terbuka, dan nanti si pembuka pintu itu akan melihat dirinya dan membantunya. Namun, di sisi lain, toh harapan semunya itu terkabul.

Didengarnya decit pintu kayu yang terbuka dari kejauhan. Ia menghela nafas ketika melihat seorang pria berambut perak tengah menatap penuh tanya kearahnya.

Jika si pembuka pintu bukan pria itu, melainkan seseorang yang benar-benar menunggunya, sekarang ia tengah bersimpuh di tanah dengan rasa hormat. Walaupun dengan sakit yang menggigit di bagian kakinya. Dengan begitu, ia dapat menghembuskan nafas lega sekarang.

"Er… selamat siang… Kakashi," sapanya, sedikit kikuk. Sedikit janggal bertemu dengan pria itu dengan keadaan seperti ini.

Mata onyx yang tidak tertutup masker itu sedikit membulat. "Ya Tuhan! Apa yang kau lakukan pada kakimu? Dan kenapa penampilanmu lusuh begini?" tanyanya cemas, sambil sedikit berlari menuju kolam ikan.

Wanita yang masih sibuk memijati kakinya hanya tersenyum kecil. "Hanya… sedikit kecelakaan. Yah, hanya luka kecil saja," jawabnya, berusaha untuk santai. "Hanya butuh balutan kecil, dan menurutku aku bisa kembali berjalan seperti biasa lagi."

Kakashi memutar sebelah bola matanya. "Kau akan pincang selama beberapa hari menurutku," ujarnya. "Lihat, kau saja sampai melepas sepatumu. Pasti ini bukan keseleo, atau semacamnya. Bisa saja tulangmu patah."

Dengan sigap, Kakashi berjongkok di hadapan wanita itu dan memeriksa keadaan kakinya. Dari ekspresi mata Kakashi, wanita itu sudah dapat menebak, kalau mungkin kondisi kakinya itu memang parah. Namun, ia sama sekali tidak boleh menunjukkannya.

Saat pria berambut perak itu kembali bangkit, wanita itu memasang tampang super tenang. Ia tidak ingin pria itu mengetahui dirinya lebih dalam, dan di lain sisi ia tidak ingin menyusahkan dan membuatnya cemas. Dengan begitu, di kepalanya muncul seribu satu alasan, untuk menangkal apapun pengajuan bantuan dari Kakashi nanti.

"Ayo, kuobati kau di ruanganku," ujar pria berambut perak itu tenang.

Wanita itu membelalakkan matanya. "Er… tidak usah repot-repot, Kakashi. Aku… bisa mengobatinya sendiri," tolaknya halus. "Sudah kubilang kan, ini hanya luka kecil biasa."

Tuan Kakashi menggelengkan kepalanya, tanda ia tidak setuju dengan penolakan wanita itu. "Ayolah Shizune… anggap saja ini sebagai ucapan terima kasihku, karena kau tidak melarikan diri waktu aku diserang oleh sosok hitam itu," tandasnya.

"Tapi… aku takut merepotkanmu," ujar wanita itu, namun dalam hati, ia terus-menerus mengingatkan dirinya bahwa bukan itulah alasan utamanya.

Pria itu menghela nafas. "Shizune… ini permintaan terakhirku. Kalau kau tetap tidak mau, terpaksa harus kugunakan cara yang memaksa," ujarnya, sambil menyembunyikan cengiran usilnya di balik masker biru tuanya.


Keempat remaja dengan kekuatan supranatural itu tengah duduk melingkar, di atas karpet berwarna dasar merah dan motif bulat-bulat hitam. Mereka duduk di tengah-tengah rak buku besar berwarna coklat kehitam-hitaman, dimana disana terdapat banyak pedoman tentang dunia sihir untuk menggandeng keempatnya.

Sepertinya, keadaan malam itu lain dari malam-malam sebelumnya. Saat itu, ketiganya duduk dalam suasana hening, dengan ditemani nyanyian jangkrik, serta suara-suara dari binatang malam di kejauhan. Tidak ada amukan petir, siraman air hujan, ataupun teriakan kesakitan layaknya malam sebelumnya.

Setelah meyakini Neji, bahwa Sakura sudah dapat melihat surat peninggalan nenek moyang mereka, Naruto langsung mengajak tiga temannya untuk menentukan tempat. Kecemasan Neji atas batin Sakura yang belum kuat, akhirnya luluh dengan pernyataan gadis berambut merah muda itu sendiri.

"Aku hanya tidak ingin menambah sakit batinmu lagi," sergah Neji, saat Naruto dan Sasuke menyampaikan maksud untuk melihat surat itu bersama-sama.

Akhirnya, setelah perbedaan pendapat antara mereka setelah tiga jam lebih, dengan kekalahan, Neji mengambil surat lusuh itu dari tempatnya yang teraman. Sesuai permintaan Naruto, maka keempat remaja itu memilih ruang perpustakaan rahasia ini sebagai tempat yang pas.

Sakura duduk tepat di depan meja kayu, sehingga kini ia menyenderkan punggungnya disana. Di sisi kanan dan kirinya duduklah Sasuke dan Naruto, yang keduanya sama-sama menahan kantuk saat itu. Sementara, Neji masih memegang gulungan kertas itu, dengan pikiran yang menimbang-nimbang.

"Neji, ini kata-kata terakhirku," ujar Sakura pelan. "Bukalah. Aku berjanji, aku sudah siap."

Neji menatap lesu gadis itu. "Berjanjilah, jangan kembali biarkan pikiranmu melayang memikirkan Kin. Bagaimanapun juga, ia sudah tewas ditangan yang salah," ucapnya.

Gadis itu tersenyum dan mengangguk pelan. "Kau bisa pegang kata-kataku, Neji."

Dengan helaan nafas panjang, pemuda bermata lavender itu perlahan membuka gulungan kertas yang ada dalam genggamannya. Setelah mendengar gesekan antara kertas, entah mengapa kantuk yang tengah menyerang Naruto dan Sasuke serasa menghilang begitu saja.

Pemuda berambut kuning jabrik itu, diam-diam mencibir dalam hatinya. 'Surat sialan. Lihat saja, begitu duniamu hilang, aku tidak akan pernah lepas dari kantukku saat kau dibuka atau dibakar sekalipun!'

Sakura memperhatikan gerakan Neji itu dengan nafas tertahan. Bagaimanapun juga, kini ia tengah berhadapan dengan surat asli keturunan dari keluarga Magnolia yang sering diceritakan oleh Kin kepadanya. Ia juga ingat, bagaimana wanita itu menyemangatinya untuk masuk ke sekolah asrama dengan nama yang sama itu. bahkan, Kin selalu―

'Tidak! Aku harus mengeluarkan imej dirinya dari kepalaku! Ayolah, Sakura! Ini demi semuanya!' batinnya dalam hati.

Sebulir tetesan keringat mengalir dari dahinya, melewati pipinya, hingga sampai ke ujung dagunya. Setengah dari surat itu sudah terlihat, dan dengan refleks, Sakura mencengkram bagian ujung kaus putih yang dipakainya.

"Kau yakin, Sakura?" tanya Neji dengan suara pelan.

Gadis itu mengangguk, berbarengan dengan usaha dirinya demi melupakan sosok Kin. Karena, sesuai dengan perkataan Neji, kalau kau tidak serius membaca surat peninggalan ini, maka akibatnya akan berdampak buruk dan fatal pada dirimu.

Kini, saat surat itu sudah terbuka sepenuhnya, Sakura dapat bersyukur telah melewati masa-masa sulitnya untuk berkonsentrasi.

"Huh, hampir saja aku mendapat belalai gajah seperti waktu itu," keluh Naruto sambil menundukkan kepalanya.

Sasuke mendengus. "Itu gara-gara kau membaca surat ini sambil menonton video pemberian kakek mesum itu, Dobe."

"Tch, Teme. Jangan buka aibku disini."

"Hhh… sudahlah. Sekarang, biarkan Sakura membaca suratnya," ujar Sasuke mengalihkan pandangannya kearah gadis itu. "Kau… kuat kan?"

Gadis itu mengangguk, dan membiarkan sepasang mata emeraldnya menelusuri setiap sudut surat peninggalan itu.

'Berperanglah, dan korbankan empat di antara kalian. Barang siapa yang bertahan, maka akan mendapat kekuatan abadi, dan dunia sihir akan bangun kembali, setelah kalian meminum dan mandi darah mereka… atau, bekerjasamalah untuk membakar surat ini. Bakar bersama setetes darah paling suci dari kalian…'

"Tidak ada cara lain, kita harus segera mencari orang kelimanya," ujar Sakura, sambil melepaskan pandangannya dari surat itu.

Naruto mengangguk. "Tapi aku belum mengerti kenapa kemarin rumah ini diserang oleh sosok psikopat sialan itu," tandasnya.

"Mungkin itu hanya peringatan dari orang kelima. Siapa tahu, dia menantang kita berperang untuk membangunkan kembali dunia itu," balas Sasuke.

"Ya. Tidak akan begini caranya jika orang kelima itu mempunyai maksud dan tujuan yang sama dengan kita," ujar Sakura membenarkan. "Pasti dia mengincar kekuatan abadi ini."

"Apalagi, kita belum tahu status Nona Shizune itu sebagai apa? Keturunan murni, atau hanya pengikut," tambah Naruto. "Sialan. Apa aku perlu memata-matainya, hanya untuk mengetahui apa dia memiliki tanda yang seperti Teme bilang atau tidak."

Pemuda bermata onyx itu menghela nafasnya. "Pokoknya prioritas utama, adalah mengetahui keturunan murninya dulu."

"Kurasa… aku tahu seseorang yang mungkin mengetahuinya," ujar Neji tiba-tiba. "Seseorang yang pernah dikutuk, oleh siapapun itu."

"Siapa?" tanya Sakura.

"Tenten."

To be Continued

A/N: Yey, ini chapter 10. Di chapter depan, akan sedikit diungkap siapa turunan kelima itu *pikir-pikir diungkapnya sedikit melulu* Hehe, oke deh, di chapter depan akan ada beberapa pertanyaan dibawah. Kalo readers pengen tau duluan, boleh dijawab sendiri-sendiri kok. Tapi kalo pengennya ngikutin cerita, dan mau taunya di chapter 12 aja, juga gapapa XD.

Sebenernya ini mau di publish kemaren pagi, tapi ketiduran gara-gara malemnya nemenin adik saya nonton bola. Nemenin doang, bahkan saya lupa tim mana yang tanding *pikun merajalela.

Oke ini balesan buat yang ga review...

Uchiha Evans: Dukung tim negara mana nih ngomong2? Heheh. Iya yang make kalung itu kan hanya Tenten seorang selama di cerita ini. Oke deh ini update-annya. Makasih atas doanya, mudah2an hasilnya bagus. Amin! dan makasi yaa reviewnya.

Rio Murasaki: Yup itu kalungnya Tenten. Ini udah diupdate. Makasi reviewnya.

naoriN: Hehe maaf. Kelamaan ya? Tapi ini udah di update kok. Makasih yaa reviewnya..

Naru-mania: Hehe saya juga minta maap, abis updatenya kelewat lama banget. Iya pengasuh sakura itu kin. Oke ini udah di update.

sign,

pick-a-doo