Kisah ini tentang mereka,
Park Jimin, seorang gadis yang mengira kebahagiaan tak ada dalam hidupnya. Gadis yang selalu merasa bahwa takdir selalu menghukumnya,
Min Yoongi, hanyalah seorang lelaki yang selalu menuruti keinginan kedua orangtuanya. Ia selalu melalui di jalan yang dipilihkan orangtuanya,
Jeon Jungkook, ia adalah gadis yang tidak tahu rasanya dicintai oleh seorang pria. Semua keinginannya harus selalu terpenuhi,
Dan Kim Taehyung, lelaki yang pernah kehilangan keluarganya, kehilangan semua orang yang ia cintai. Lelaki yang tidak pernah mau kesepian dan selalu menginginkan seseorang di sampingnya.
Sebentar lagi takdir akan memberi jawaban dan jalan bagi mereka.
Warning: sinetron abis, bagi yang ga suka genre kaya gini mending pergi ya daripada muntah-muntah.
Disclaimer: BTS' members belong to BigHit Ent, family, and fans.
Don't like this pairing? Close this page, write your own story and pairing. Thanks!
Yoongi tahu bahwa apa yang ia katakan tadi adalah suatu kebohongan besar. Mengingat hanya itu satu-satunya cara agar ia tahu di mana posisi Jimin sekarang, akhirnya kata tersebut terucap. Hasilnya jelas, kebohongan itu membuatnya duduk di ruang tamu dengan sofa hijau yang sudah luntur warnanya.
Setidaknya, Yoongi hanya ingin membuat perjumpaan terakhir mereka baik. Tidak seperti hari lalu yang berakhir memaki dan tamparan di pipi—
—Setidaknya sebelum pria itu menikah dengan Jungkook, ia harus bertemu dengan Jimin.
Pria blonde itu sempat mengedarkan pandangan ke seluruh sudut rumah yang telah membesarkan Jimin.
"Chim tidak pernah bercerita bahwa ia memunyai seorang kekasih,"
Yoongi yang tengah melamun tersadar. Dengan deheman pelan ia menjawab, "ya, kami sedang bertengkar, mungkin karena itu ia tidak cerita,"
Sang wanita paruh baya hanya tersenyum. Yoongi masih gugup. Dengan gerakkan kaku ia mengambil minuman yang disediakan. Entah mengapa tangannya bergetar menyebabkan minuman itu tumpah ke kemeja yang Yoongi kenakan.
"Astaga!" sang eomma menjerit kaget dan segera menolehkan kepalanya guna mencari anaknya yang berada di sekitar ruang tamu, "Wooshin-ah, tolong ambilkan kain lap!"
"Ah, tidak apa-apa, Eommonim. Saya jadi merepotkan,"
"Nanti kemejamu terdapat noda kopi dan tidak bisa dicuci, ah, terima kasih, Wooshin-ah,"
Anak lelaki yang bernama Wooshin itu tersenyum lucu. Maniknya memandang Yoongi dengan wajah polos khas anak kecil. Wooshin mencondongkan badannya guna berbicara tepat di kuping sang eomma.
"Eomma, pria ini siapa?"
Sang wanita paruh baya tersenyum setelah memberikan lap kepada Yoongi, "Hyung ini kekasihnya Jimin-noona, Wooshin-ah,"
Yoongi yang tadi sempat mengusap kemejanya dengan lap terdiam kala mendengar jawaban wanita di depannya. Maniknya dan manik sang anak lelaki bertemu. Wajah sang anak terlihat begitu ceria.
"Hyung tampan sekali! Kalau sudah besar, aku mau seperti Hyung!"
Setelah mengatakan hal tadi, anak lelaki itu pergi untuk bermain lagi bersama anak lainnya. Yoongi hanya terdiam dengan senyum di bibirnya.
"Siapa tadi namanya, Eommonim?"
"Wooshin. Ia dan Jimin sangat dekat,"
"Park Wooshin, nama yang bagus,"
Sang wanita paruh baya tersenyum kemudian berkata, "ah tidak, namanya hanya Wooshin, tidak ada marga,"
Yoongi terdiam mendengar kalimat tersebut. Alisnya berkerut bingung. Pria blonde tersebut berpikir bahwa sang eomma memunyai marga Park sehingga menamai semua anak di sini dengan marganya.
"Maaf, Eommonim, bukankah nama eommonim Park sehingga nama Jimin juga Park?"
Ada keheningan yang tercipta sebelum kalimat sang wanita paruh baya membelah udara.
"Sebenarnya, Jimin sedikit spesial,"
Alis pria blonde itu masih berkerut.
"Sewaktu aku menemukannya di depan panti, keadaannya tidak begitu mengenaskan. Jimin masih berada dalam balutan hangat selimut pink. Jimin diletakkan di depan pintu rumah dengan keranjang, bukan kardus. Di dalam keranjang itu, ada memo kecil. Jimin sangat mungil dan lucu saat itu. Mengapa ada yang tega membuang bayi menggemaskan seperti Jimin?"
"Tunggu, 'memo'?"
Sang wanita paruh baya tersenyum lirih, "ya, di dalam memo itu tertulis, 'tolong beri nama anak ini Park Jimin'. "
Yoongi kembali terdiam. Nama Park Jimin adalah nama yang diberikan langsung—yang kemungkinan—oleh Ibu kandung Jimin.
"Di sini memang ada beberapa anak yang spesial, Yoongi-ah. Beberapa dari anak-anakku mendapat nama yang diberikan langsung oleh orangtuanya seperti Jimin. Tidak sedikit dari anak-anakku yang datang bersama dengan surat seperti tadi,"
Sang pria blonde mengangguk mengerti.
"Apa kalian bertengkar begitu hebat sehingga Jimin tidak memberitahumu?"
"Jimin tahu soal ini?"
"Bukan, maksudku—
—memberitahu bahwa Ibu kandung Jimin datang beberapa hari lalu,"
Suara derit pintu terdengar dan menampakkan sesosok gadis dengan surai oranye. Beberapa pasang mata yang berada di ruang tv menoleh dan memekik kaget.
"Eonni?!"
"Noona?!"
"Jiminie?"
Sang gadis yang dipanggil hanya memberikan raut wajah terluka dengan air mata mengalir dari pelupuknya, "eomma," lirihnya.
Dan gadis itu menerjang sang eomma dengan pelukan hangat.
.
.
Sudah tiga hari sejak Jimin kembali ke panti dan suasana panti yang hangat semakin menghangat. Tidak ada yang bertanya mengapa gadis itu kembali, toh, mereka semua tak peduli. Kehadiran sang kakak yang paling disayang membuat mereka tak mengusik perihal privasi Jimin. Begitu pula dengan sang eomma.
"Eoh? Eomma, mana Moonbyulie?"
Sang eomma yang tengah memasak makan siang terhenti dan tersenyum, "beberapa minggu lalu ia diadopsi,"
Jimin tersenyum. Senang mendengar adiknya telah mendapat keluarga baru. Namun, maniknya tersirat akan keirian.
"Keluarga, ya. Senangnya," gumam Jimin tanpa sadar.
Sang eomma yang mendengar hanya terdiam. kemudian mereka berdua melanjutkan membuat makan siang dalam keheningan. Jimin yang menyadari keheningan disebabkan oleh perkataannya barusan kemudian berkata,
"Eomma, aku membeli minuman dulu, ya," sang eomma hanya mengangguk samar lalu Jimin pun pergi keluar.
Baru beberapa langkah dari pintu, alisnya berkerut bingung. Seorang wanita paruh baya tengah berdiri di depan pagar panti. Wanita itu terlihat bingung, tetapi terkejut kala melihat Jimin.
"Maaf, ada perlu apa?" ujar Jimin saat membuka pagar.
"..apa di panti ini, ada yang bernama Park Jimin?"
Jimin pun mengangguk bingung, "ne, ahjumma. Aku Park Jimin. Ada apa?"
Sang wanita paruh baya kemudian terdiam. Tak lama cairan bening mengalir dari pelupuknya, "Park Jimin—"
Dan kalimat yang keluar dari sang wanita paruh baya membuat jantung Jimin berhenti seketika,
"—anakku,"
.
.
Suasana ruang ramu yang biasanya hangat kini berselimut keheningan yang cukup mencekam. Kini, ada tiga wanita di sana. Wanita yang paling muda hanya diam dengan manik kosong.
"Saya—saya ingin membawa Jiminie pulang,"
Kalimat barusan membuat sang eomma terhenyak dan sang gadis oranye seakan mendapat kembali kesadarannya.
"Saya tahu bahwa saya lancang. Saya tahu bahwa sangat tak tahu diri membawa Jimin pulang ketika ia sudah sebesar ini. Saya tahu itu. Tapi saya tetaplah seorang Ibu yang menginginkan keberadaan anak di samping saya," air mata kembali mengalir dari pelupuk sang wanita paruh baya.
"Jiminie, maafkan Eomma karena sudah menelantarkanmu selama dua puluh dua tahun. Maafkan Eomma—maaf—"
Jimin hanya terdiam. Tangannya yang berada di atas paha menggenggam erat.
"Eomma paham jika kau membenci Eomma sekarang.. Eomma janji tidak akan meninggalkanmu kali ini, Jiminie,"
Dan pikiran Jimin melayang, seperti déjà vu.
"Biarkan aku mencoba. Kali ini aku bersumpah tak akan meninggalkanmu lagi,"
Jimin mungkin kecewa sekarang, tetapi hatinya berdebar karena mengetahui bahwa ia punya keluarga. Ia punya seorang Ibu yang nantinya akan memasakan ia sarapan. Yang nantinya akan membantunya memilihkan baju agar ia terlihat cantik. Yang nantinya akan tertawa saat menonton tv bersama. Yang nantinya akan tidur bersamanya kala ia tak bisa tidur—
—ia punya seorang Ibu.
Dan air mata mengalir kala mendengar pertanyaan dari sang Eomma,
"Maukah kau pulang bersama Eomma, Putriku?"
.
.
Jantung Jimin tak berhenti berdebar sejak ia keluar dari panti. Setelah perpisahan yang penuh air mata dengan saudara—terutama sang eomma yang telah merawatanya dua puluh dua tahun ini, akhirnya Jimin pulang bersama sang eomma—kandung.
Eomma-nya memunyai mobil, tetapi bukan mobil mewah seperti milik Min Yoongi.
Jantung Jimin semakin berdebar kencang kala mengingat sang pria bersurai blonde.
Apa ia makan dengan benar? apa insomnianya kambuh?
Pikiran itu tak berhenti menghantuinya. Lamunannya buyar saat usapan penuh cinta ia dapatkan. Jimin merona karena melihat senyum yang begitu cantik dari sang eomma.
"Kita sampai, Nak. Ini rumah kita,"
Gadis itu keluar dari mobil dan semua atensinya berpusat pada rumah sederhana dengan cat baby blue di depannya. Bahkan ada taman kecil dengan banyak tanaman berada di samping rumahnya. Sungguh, ini adalah rumah impian yang sering Jimin impikan waktu kecil.
"Maaf, Jim. Eomma hanya bisa membeli rumah ini. Eomma tidaklah kaya, tetapi ini akan nyaman jika Eomma dan kau yang menempatinya,"
"Gwaenchanha, Eomma. Begini saja sudah cukup—
—hanya aku dan Eomma,"
.
.
Mimpi Jimin terwujud. Akhirnya gadis oranye itu tahu bagaimana rasanya dibuatkan sarapan oleh Ibu, bagaimana rasanya dipilihkan baju untuk dikenakan hari ini, bagaimana rasanya diselimuti saat tidur di malam hari. Semua begitu sempurna.
Hari-hari berjalan dengan sangat membahagiakan. Ibu dan Anak kini duduk di ruang tv. Menonton acara kartun bersama dengan cemilan kesukaan Jimin. Sehari setelah Jimin tinggal di sini, sang eomma langsung bertanya apa makanan dan cemilan kesukaan Jimin. Bahkan sang eomma bertanya dari hal yang benar-benar penting sampai hal kecil yang sepele.
Jimin ingin sekali bertanya perihal tentang Ayahnya. Apakah Ayahnya masih hidup? Jika iya, apa pekerjaannya? Bagaimana wajahnya? Apa ia lebih mirip sang Ayah? Namun, pertanyaan itu enggan terlontar.
Nyonya Park sibuk mengusap surai sang anak. Kalimat pertama terlontar sejak beberapa jam dalam keheningan, "kenapa mencat rambutmu, Jim?"
Jimin yang tengah mengunyah keripik sambil bersandar pada dada sang eomma menjawab, "aneh ya, Eomma?"
"Aniyo, tapi, ah tidak apa-apa. Jimin cantik dengan warna rambut apa saja,"
Sang gadis oranye sadar bahwa sang eomma kurang nyaman—atau mungkin menginginkan ia mengubah warna rambutnya? Akhirnya Jimin membenarkan posisi duduknya dan tersenyum.
"Kalau eomma mau aku ganti warna rambut, tidak apa-apa. Kaja, kita ke salon,"
Dan warna abu adalah warna yang dipilihkan sang eomma untuknya.
.
.
Jimin terdiam kala membuka lemari pakaian. Bibir bawah ia gigit karena berpikir. Lemarinya terasa kosong karena hanya terdapat beberapa potong baju. Semua pakaiannya ada di apartemen Min Yoongi. Sang eomma sudah mengatakan bahwa akan membeli pakaian baru di toko, tetapi Jimin menolak. Ia tahu bahwa keuangan sang eomma tidak begitu banyak. Jimin sadar bahwa keluarganya saat ini sederhana. Maka itu Jimin putuskan untuk pergi ke Seoul—Jimin dan eomma-nya tinggal di Busan sekarang— dan kembali ke apartemen sang pria blonde untuk mengambil pakaiannya.
.
.
Jimin menangis dengan keras saat kembali ke rumah. Nyonya Park terkejut karena mendapati sang anak menangis setelah meminta izin untuk pergi keluar.
"Wae, Jiminie? Apa kau terluka?"
Ya, hatiku terluka, Eomma.
Isakan semakin keras yang menjawab pertanyaan Nyonya Park. Sang eomma yang tidak mengerti memilih untuk diam dan mengelus surai abu-abu Jimin dengan sayang sembari mencium pelipis sang anak. Jimin semakin mengeratkan pelukannya pada sang eomma.
"Gwaenchanha, Jiminie. Sekarang ada Eomma di sini. Ara?"
"Kau pucat, Jungkook-ah,"
Kalimat itu membuyarkan lamunan sang gadis bersurai hitam yang tengah berdiri di depan manekin dengan gaun pengantin.
"Eoh, benarkah?"
Anggukan sebagai jawaban membuat Jungkook memegang kedua pipinya dengan tangan. Sudah dua minggu ia pusing dan mual. Bahkan beberapa hari lalu ia muntah di pagi hari. Hari ini pun gadis itu mengeluarkan isi perutnya, mungkin itu yang membuat wajahnya pucat seperti sekarang.
"Kau sakit? Apa kita harus mengundurkan lagi pernikahan—"
"ANDWAE!"
Yoongi hanya terdiam karena kalimatnya langsung dibantah. Pria itu menghela napas pelan. Surainya berwarna hitam sekarang—permintaan Jungkook, karena ia tidak suka sang calon mempelai memiliki warna rambut mencolok.
"Jangan undur lagi, Oppa, jebal,"
"Hei, tenanglah. Kita hanya memundurkan tanggal, bukan membatalkannya. Kau sakit, Baby Bun. Bukankah ini akan menjadi buruk jika kita memaksakan keadaanmu? Kau ingin di hari pernikahan kita kau pingsan?"
Penjelasan panjang lebar itu tetap dijawab gelengan oleh Jungkook, "andwae, andwae! Sirheo!"
"Astaga, Jungkook, lihat wajahmu sangat pucat. Lebih baik kita pulang dan—"
BRUK
"—JUNGKOOK!"
Dan gadis itu benar-benar pingsan sebelum kalimat Yoongi selesai.
"Mwo? Hamil?"
Dokter Lee yang menangani Jungkook mengangguk, "selamat Tuan Min. Kehamilannya baru dua minggu. Jungkook sangat muda, jadi ia tidak boleh stress—"
"Tunggu. Jungkook hamil?"
Yoongi mengernyitkan dahinya. Maniknya membulat karena tak habis pikir dengan ucapan sang dokter. Pria bersurai hitam itu memilih memijat pangkal hidungnya karena kini kepalanya berdenyut sakit.
"Ya. Jungkook sepertinya juga tidak tahu bahwa ia hamil—"
"Izinkan aku masuk. Aku harus berbicara dengannya,"
"..tidak boleh, Tuan Min. Jungkook harus istirahat—" dan detik berikutnya Yoongi membuka pintu kamar di mana Jungkook diperiksa tanpa menunggu persetujuan dari sang dokter.
Aura di dalam kamar itu mencekam. Sang gadis yang masih pucat itu kini memandang ke depan dengan pandangan kosong tanpa mengetahui ada seseorang yang masuk.
"Bagaimana bisa?"
Jungkook tersadar. Maniknya tak mampu menatap sang pria yang mengajaknya bicara, "..molla,"
"'Molla'? Kau bilang 'molla'?"
Tangan gadis itu mencengkram sprei dengan kuat. Pelupuknya sudah siap menumpahkan cairan bening.
"Jeon Jungkook. Jawab aku,"
Tangis gadis itu pecah saat mendengar Yoongi mengatakan kalimat itu dengan nada super dingin dan sarat meminta jawaban. Isakan terdengar beberapa saat kemudian.
"Aku mabuk—hotel—baju berserakan—sprei dengan bercak merah.. aku tidak tahu apa-apa—aku tidak tahu!" ucap Jungkook disela isakannya. Tangisan pilu itu membuat emosi Yoongi sedikit padam. Namun, emosi tetap ada kala mengetahui bahwa Jungkook mabuk.
"Kau mabuk? Sudah yang keberapa kalinya, eoh?"
Gadis itu tidak menjawab. Sibuk meredakan isakannya. Kedua tangannya menutupi wajah. Bahu sempitnya bergetar hebat.
"Pikirkan kesalahanmu, Jungkook," sesudah mengatakan itu sang pria bersurai gelap meninggalkan Jungkook yang masih terisak.
.
.
GREK
"Permisi, Nona. Ini yang Anda minta tadi siang,"
Jungkook terdiam. Masih sibuk duduk di atas tempat tidur kamar rawat dan atensi penuh ke dinding putih di depannya. Jemarinya mengangkat di udara, meminta barang yang ia minta tanpa menoleh ke arah sang pesuruh.
Benda berpindah tangan. Sebuah foto—
—foto seorang pria dengan surai cokelat yang amat Jungkook kenal keluar dari kamar hotel.
Jungkook yang melihat langsung berteriak sekencang mungkin.
"BRENGSEK! BRENGSEK!"
Dan kembali ruangan itu ramai dengan isak tangis dan raungan memaki.
Suara bel berbunyi membuat Taehyung yang akan berganti baju—ia baru pulang dari kantor—terhenti. Secepat kilat ia berganti baju dan berlari terpogoh ke arah pintu. Berharap bahwa sosok yang menekan bel adalah mantan kekasihnya.
Pintu apartemennya dibuka dan muncullah sosok yang mampu membuat manik pria itu membulat.
"Kim Taehyung-ssi, bisa kita bicara sebentar?"
Ucapan Jungkook membuat jantung sang pria berdetak dengan kencang. Sesungguhnya, Taehyung tahu apa yang ingin dibicarakan. Tahu. Sangat tahu.
"Ada apa?"
Jungkook mendengus kasar, "kau tidak mempersilakan aku masuk?"
Taehyung meruntuki sikapnya yang tak sopan. Dengan segera pria itu menggeser badannya agar sang gadis bisa masuk. Jungkook langsung masuk tanpa mengucapkan kata apa pun.
Mereka kini duduk di sofa berhadapan di ruang tamu. Taehyung tidak menyiapkan minuman apa pun untuk sang tamu—tidak perlu, pikirnya.
"Aku hamil,"
Adalah perkataan Jungkook tiba-tiba. Manik caramel Taehyung membulat, "..apa?"
Gadis bersurai hitam itu mendengus lagi. Kali ini sarat akan sindiran, "tidak usah berpura-pura terkejut, Brengsek. Bukankah ini rencanamu?"
Jantung Taehyung kembali berdetak kencang karena ucapan kasar yang dilontarkan gadis di depannya.
"Kau tahu bahwa Park-Sialan-Jimin tidak bisa menghancurkanku, sehingga kau turun tangan dan memilih memperkosaku saat aku mabuk? Bahkan membuatku hamil?" gadis itu tertawa dengan suara lirih, "selamat, Brengsek. Kau sekarang benar-benar menghancurkanku. Kau menang,"
Taehyung terdiam. Lidahnya kelu kala mendengar ucapan Jungkook yang terlampau benar. Taehyung memang berniat ingin menghancurkan Jungkook lewat kesempatan saat gadis itu mabuk, tetapi membuat Jungkook hamil? Benar-benar bukan maksudnya.
"Aku tidak akan menyerah walau di saat kondisiku yang kritis seperti ini, Kim Taehyung-ssi. Kau tahu, dengan kehamilan ini, bukan aku saja yang hancur. Kau juga akan hancur,"
Kerutan di dahi pria bersurai cokelat itu berikan membuat Jungkook kembali berbicara.
"Kau mungkin sadar bahwa Yoongi-Oppa belakangan ini masih terus mencari Park-Sialan-Jimin. memang ia melakukannya tanpa sepengetahuanku, tetapi apakah aku bodoh? Tidak, aku langsung tahu bahwa Yoongi-Oppa masih mencari Gadis Brengsek itu,"
Buku-buku jemari Taehyung memutih kala mendengar ucapan Jungkook.
"Aku memutuskan pernikahanku dengan Yoongi-Oppa dan kau tahu apa yang terjadi selanjutnya?"
Pria bersurai cokelat itu menahan napas.
"Yoongi-Oppa langsung mencari Park-Sialan-Jimin secara terang-terangan, dan itu berarti—"
"—kesempatanmu untuk bersama dengan Park-Sialan-Jimin tidak ada lagi, Kim Taehyung-ssi,"
Jungkook menyeringai, "game over untukmu juga, Kim Bajingan,"
Pria dengan surai hitam itu langsung pergi ke tempat di mana Namjoon memberitahunya. Selama ini ia meminta sahabat sekaligus orang kepercayaannya, Namjoon, untuk mencari di mana keberadaan Jimin. Hari ini, Namjoon berhasil mendapatkan alamat di mana Jimin tinggal.
Busan,
Bersama Ibu kandungnya.
Yoongi tidak tahu bagaimana takdir bisa membawanya sampai ke sini. Ia tidak paham bagaimana takdir membuat pernikahannya dengan Jungkook batal. Kehamilan Jungkook sebenarnya tidak akan membuatnya membatalkan pernikahannya ini. Namun, Jungkook yang dengan sendirinya membatalkan pernikahan adalah kesempatan yang tidak akan Yoongi abaikan.
Yoongi hanya tak mau membuat keputusan yang salah untuk kedua kalinya.
.
.
Atensinya berpusat pada sesosok gadis yang sedaritadi sibuk memilah sayur. Surainya yang kini berwarna abu menjadikan gadis itu terlihat semakin cantik.
Yoongi terdiam di tempatnya. Sibuk memandangi Jimin dari jauh. Jantungnya bedebar entah kenapa. Rasanya seperti ada yang mengaduk perut sang pria.
Gadis bersurai abu itu tersenyum kemudian mengangguk kecil lalu berjalan. Yoongi mengikuti langkah sang gadis dari jauh. Hatinya berteriak untuk segera lari dan memeluk Jimin, tetapi pikirannya melarang.
Tak lama, langkah membawanya ke rumah sederhana. Ini adalah rumah Jimin.
Beberapa menit setelah Jimin masuk membuat Yoongi mengambil langkah berani. Dengan kemantapan hati pria itu mengetuk pintu kayu tersebut. Langkah kaki yang terdengar dari dalam membuat jantung sang pria berdetak gila. Ia tahu bahwa langkah itu adalah langkah Jimin.
CKLEK
"Ya, siapa—"
Jimin terdiam dengan manik membulat. Tak meyangka sama sekali bahwa pria yang tiap malam hadir dalam pikiran serta mimpinya berada tepat di depan matanya. Pun dengan Yoongi.
"Yoo-Yoongi,"
Dan satu pelukan pria bersurai hitam itu berikan.
Jimin hanya bisa mematung tak percaya dengan apa yang ia dengar. Sesungguhnya ia bingung dan masih ragu untuk percaya.
Jungkook yang hamil karena Taehyung dan juga pernikahan Yoongi yang batal.
Roda takdir benar-benar berputar begitu cepat. Atau memang gadis itu saja yang tak menyadari bahwa roda pasti akan berputar—entah lambat atau cepat.
"Lalu bagaimana dengan Jungkook?" adalah kalimat pertama dari Jimin sejak mereka berdua berbicara di taman rumah gadis itu.
Sang pria tidak menjawab. Manik mereka bertatapan dalam keheningan. Jimin yang pertama kali memutuskan kontak mata dengan melihat ke depan.
"Jim,"
Satu kata dengan nada lirih itu membuat sang gadis menoleh kembali.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Selama kau pergi aku tidak bisa melakukan apa pun dengan benar. Di kepalaku hanya ada dirimu. Melakukan apa saja untuk menemukanmu—"
Dan kalimat berikutnya membuat jantung Jimin berdetak tak karuan,
"—apa aku mencintaimu, Jim?"
Pria bersurai cokelat itu berpakaian super rapi hari ini. Dengan kegugupan yang luar biasa akhirnya ia berhasil menekan bel pintu.
Tak lama pelayan membuka pintu dan mempersilakan ia masuk setelah ia mengatakan bahwa ia ada perlu dengan Jeon Jungkook.
Jungkook yang tengah duduk di ruang tengah menonton tv hanya mendengus kala melihat sesosok pria yang tidak ingin ia temui.
"Mau apa datang kemari?" ucap Jungkook tanpa menoleh sama sekali. Atensinya masih sibuk menatap layar tv di depannya. Taehyung yang merasa diabaikan kemudian mengambil remote tv dan mematikan tv yang tengah diliat Jungkook.
"HEI! APA YANG KAULAKUKAN?!"
Gadis bersurai hitam itu kemudian berdiri dan menatap nyalang pria di depannya. Alisnya mengernyit kala mendapati pria di depannya sangat rapi.
"Kita akan menikah."
Pernyataan itu membuat Jungkook menganga. Sedetik kemudian ia tertawa, "sirheo,"
Taehyung tahu bahwa ia akan ditolak, "geumanhae. Itu anakku dan aku akan bertanggung jawab,"
Dan tamparan yang menjawab kalimat Taehyung.
"Apa kau pikir aku mau menikah dengan seseorang yang sudah merusak hidupku?!"
Mata gadis di depannya sudah memerah. Emosi dan menahan tangis. Sang pria bersurai cokelat hanya terdiam. Menerima semua tindak kekerasan yang akan Jungkook layangkan padanya.
"..maaf. Aku akan membesarkan anak ini sendiri," ucap Jungkook setelah beberapa saat.
Taehyung siap jika perbuatannya kali ini akan mendapat tamparan yang lebih menyakitkan. Namun, ia tahu bahwa gadis di depannya hanya perlu diyakinkan. Dengan lembut jemari besarnya mengenggam jemari kurus milik Jungkook. Jungkook awalnya menepis jemari yang mencoba meraihnya, tetapi pertahanan gadis itu melemah kala melihat adanya ketulusan yang terpancar dari manik caramel tersebut.
"Aku hanya tidak ingin kehilangan keluarga lagi, Jungkook-ssi. Apa kau mau nanti anak kita tidak mendapat kasih sayang dariku—Ayahnya?"
DEG
Jantung milik Jungkook berdetak kencang mendengar perkataan Taehyung.
Jungkook tahu bagaimana rasanya tumbuh tanpa kasih sayang sang Ayah dan tahu bagaimana sakitnya hidup tanpa sosok sang Ayah. Jungkook tak mau anak yang tengah ia kandung mengalami hal yang sama sepertinya. Tidak, tidak boleh.
Maka itu Jungkook mengangguk dengan air mata yang mengalir—
—Merelakan cintanya untuk Min Yoongi pergi demi kehidupan sang anak yang ia kandung kelak.
Jimin masih merona. Setelah pernyataan cinta dari sang pria—yang secara tidak langsung—membuat ia bahagia sekaligus malu.
Jimin bahagia karena kini ia mendapat cinta yang selama ini ia damba. Juga malu karena baru sadar alasan Min Yoongi hadir di setiap mimpinya karena gadis itu juga mencintainya.
"Apa eomma-mu di dalam?"
"Ne, wae?"
Yoongi menyelipkan beberapa helai rambut ke belakang telinga kiri Jimin guna melihat wajah merona sang gadis lebih jelas, "meminta restu. Apa lagi?"
Dan pukulan main-main di bahu Jimin berikan dengan rona kemerahan yang semakin jelas membuat Yoongi tertawa kecil.
"Eottae?"
Jimin terdiam kala onyx-nya ditatap begitu intens oleh sang pria, "besok saja. Aku belum bercerita apa pun tentangmu pada eomma. Aku takut eomma akan terkejut nantinya jika kau meminta restu pada eomma hari ini,"
Yoongi menghela napas pendek. Ia tak boleh egois kali ini. Maka itu, ia mengangguk, "ara. Aku kembali besok,"
"Kau akan kembali ke Seoul?"
"Ani, aku akan mencari tempat penginapan di dekat sini. Wae? Mau menawariku tempat tidurmu?"
Godaan dari Yoongi mendapat hadiah pukulan—kali ini tak main-main—di bahunya. Sang pria hanya tertawa senang mendapati reaksi menggemaskan Jimin.
"Ara, sampai jumpa besok, Jim,"
Dan kecupan yang diberikan Yoongi sebelum benar-benar menghilang dari pandangan Jimin membuat jantungnya berdetak amat kencang.
Gadis bersurai abu itu pikir bahwa Yoongi tidak akan menepati janjinya. Ia berpikir mungkin pria itu lebih mementingkan pekerjaannya dan tidak akan menemuinya lagi hari ini. Namun, suara ketukan di pintu menghilangkan keraguannya. Ditambah senyum manis hingga memunculkan gusi sang pria membuat rasa ragu itu lenyap seketika.
"Pagi, Jim. Apa eomma-mu ada?"
Jimin hanya bisa mengangguk sebagai jawaban. Pipinya merona kala mengingat setelah kepulangan Yoongi, Jimin langsung menceritakan Yoongi kepada sang eomma—tentu tentang bagaimana mereka bertemu tidak ia ceritakan dengan jelas, bisa-bisa sang eomma kena serangan jantung.
Reaksi sang eomma tentu senang dan tak keberatan jika Yoongi datang besok—hari ini.
"Eomma sedang membuat sarapan. Duduklah, Oppa,"
Yoongi yang awalnya ingin menarik bangku meja makan untuk duduk terdiam ketika mendengar kata terakhir dalam kalimat sang gadis.
"'Oppa'?"
Jimin menoleh lalu menaikkan bahunya, "kau lebih tua jadi kupikir mulai sekarang aku harus memanggilmu 'oppa',"
Sang pria hanya tersenyum lalu duduk tepat di samping Jimin, "joha,"
"Sarapan sudah siap, Jim. Oh, kau sudah datang?" nyonya Park masuk ke ruang makan dekat dapur sambil membawa dua piring berisi nasi goreng kimchi hangat.
Yoongi lantas langsung berdiri dan menunduk, "ne, eommonim. Aku Yoongi—"
"—kekasih Jimin,"
Jimin merona.
Nyonya Park terdiam kala menatap wajah di depannya. Yoongi yang merasa diperhatikan oleh eomma Jimin seketika gugup.
"Wae eomma? Aku sudah lapar~"
"Ah, kau benar. Kita makan dulu,"
Kemudian mereka bertiga makan dalam keheningan.
Saat ini Yoongi dan nyonya Park duduk berhadapan di meja makan. Jimin disuruh ke dapur untuk mengambil pencuci mulut. Yoongi langsung mati kutu saat ditinggal sang kekasih.
"Siapa namamu, Nak?"
"..Min Yoongi, Eommonim,"
Nyonya Park terdiam kemudian membuat sang pria bersurai hitam bingung dan tambah gugup.
Apa aku salah bicara? Atau aku tidak sopan? Haruskah kugunakan bahasa formal?
"Apa kau kenal dengan.. Min Youngki?"
"..itu nama Ayahku. Eommonim kenal Abeoji?"
Yoongi sadar bahwa raut wajah nyonya Park berubah ketika ia mengatakan bahwa itu adalah Ayahnya. Rasa keterkejutan muncul di manik wanita paruh baya di depannya.
Jimin yang baru datang sembari membawa dua piring berisi pudding cokelat langsung merasakan hawa tak bersahabat di ruang makan.
"..ada apa?" tanya Jimin bingung.
"Jim,"
Yang dipanggil menoleh ke arah sang eomma sambil meletakkan piring tersebut di depan kekasihnya dan sang eomma, "ne?"
"..eomma tidak merestui hubungan kalian,"
Yoongi dan Jimin terdiam kaku di tempat masing-masing. Nyonya Park kemudian berdiri dari tempat duduknya dan tersenyum kepada sang pria, "senang mengenalmu, Yoongi-ssi,"
Tak lama sang eomma pergi meninggalkan pasangan itu saling menatap dengan pandangan kecewa.
"Apa yang terjadi? Kenapa eomma tidak merestui?"
Sang pria langsung mengusak surainya dengan kasar, "entah. Eomma-mu hanya bertanya siapa namaku dan bertanya tentang Ayahku,"
"Tuan Min? Eomma kenal Ayahmu?"
Yoongi hanya menggeleng lemah tanda tak tahu.
"..apa boleh buat,"
Yoongi mengernyitkan alisnya begitu mendengar ucapan sang kekasih, "'apa boleh buat'? apa maksudmu, Jim? Kau menyerah begitu saja?"
"Eomma bilang begitu. Kita bisa apa?"
"Astaga, Jim. Kita bisa berusaha meyakinkan eomma-mu,"
Jimin tahu pria di sampingnya begitu emosi karena ucapannya. Jimin kemudian menghela napas pendek, "Oppa, mian,"
Manik mereka bertatapan. Jimin melanjutkan kalimatnya, "aku.. akhirnya memunyai keluarga.. akhirnya aku punya Ibu.. kau tahu bagaimana rasanya?"
Yoongi terdiam begitu melihat senyuman Jimin merekah, "rasanya begitu membahagiakan, Oppa,"
"..mungkin aku egois. Entah, mungkin aku naïf. Tapi, jika disuruh memilih antara Eomma atau Oppa—
—aku akan memilih Eomma,"
Yoongi merasa oksigen di sekelilingnya hilang.
"Mianhae, Oppa. Jika eomma tidak merestui kita.. aku akan mengikuti keputusan eomma,"
Jimin pikir saat ia mengatakan hal tersebut, Yoongi akan langsung marah dan pergi dari rumahnya. Jimin siap jika mungkin Yoongi akan memberinya tamparan atau cacian. Namun, perkiraannya salah. Yang ia dapatkan malahan usapan penuh cinta di jemari mungilnya.
"Geurae. Aku mengerti. Kau pasti sangat bahagia sekarang dengan eomma-mu,"
Dan Yoongi melanjutkan kalimatnya, "maafkan aku juga, Jim. Aku tetap akan memertahankan hubungan kita. Aku akan menyakinkan eomma-mu sampai ia merestui kita. Kuharap kau mengerti,"
"Oppa,"
"Saranghae, Jimin-ah,"
Esoknya Yoongi kembali datang. Kali ini ia membawa sebuket bunga di tangannya. Jimin yang melihat langsung merona malu, "aigoo, Oppa. Tidak usah sampai seperti ini—"
Yoongi mengernyitkan dahinya, "apa? Ini untuk Eomma-mu. Apa eommonim ada?"
Sang gadis bersurai abu berdehem guna menutupi rasa malunya, "aku tahu itu buat eomma! Eomma pergi kerja mulai hari ini. Cutinya habis,"
"..jadi, hanya ada kita berdua di rumah?" goda Yoongi dengan seringainya.
Dan langsung dihadiahi Jimin pukulan telak di wajah dengan buket bunga, "byuntae,"
.
.
Mereka berdua tengah menonton tv sambil memakan camilan yang ada. Punggung Jimin bersandar pada dada bidang sang kekasih. Aktifitas mereka belum lama karena sebelum itu mereka mengobrol—tentang apa pun. Sebenarnya hanya Jimin yang menonton karena Yoongi sibuk menyesap aroma manis yang menguar dari surai abu kekasihnya.
"Jagi,"
Sang gadis merona hebat kala mendengar panggilan sayang dari kekasihnya, "hm?"
"Boleh aku bertanya sesuatu?"
Anggukan kecil diberikan sebagai jawaban.
"..janji jangan marah apalagi sedih?"
Sang gadis bersurai abu menegakkan duduknya dan menatap sang kekasih, "wae, Oppa?"
"Apa kau tahu tentang Ayahmu? Mungkin Nyonya Park bercerita atau semacamnya?"
Terdiamnya Jimin membuat Yoongi merasa bersalah, "ah, maafkan aku, Jagi,"
"Aniyo, gwaenchanha," kemudian sang gadis mengeluarkan ponsel dari sakunya, "aku sempat bertanya pada eomma tentang appa. Dan yah, appa telah meninggal. Tapi setidaknya aku tahu bagaimana rupa appa. Lihat,"
Alis sang pria bersurai hitam mengernyit kala melihat foto dari layar ponsel sang kekasih. Ingatannya berputar kini karena merasa mengenali foto tersebut, "..Jagi, siapa nama Ayahmu?"
"Hm? Kalau tidak salah.. Jungwoon?"
Manik kelam Yoongi membulat, "..Jeon Jungwoon?"
Jimin menaikkan bahunya, "molla. Eomma tidak memberitahuku marga Appa. Wae?"
"Aniyo. Aku hanya ingin tahu tentang keluargamu,"
"Geurae,"
Dan alis Yoongi masih mengerut. Rasa penasaran tiba-tiba meluap ke dasar permukaan.
Taehyung mendesis kesal.
"Ayolah, Kim Tae. Jangan cemburu begitu,"
"Panggil aku 'Oppa' dan aku tidak cemburu! Bisakah ia tidak menganggu kehidupan kita lagi, eoh?"
Jungkook hanya tertawa pelan, "aigoo, menganggu apanya? Ia hanya ingin bertemu denganku. Dan panggilan 'Kim Tae' itu lucu~"
"Terserah, dasar Bocah Kurang Ajar,"
"Aku bukan 'bocah'!"
Taehyung memutar maniknya malas dan Jungkook mengembungkan pipinya kesal. Siapa yang menyangka kedua orang ini akan segera menikah tak lama lagi? Mungkin jika orang awam yang melihat tingkah mereka akan dikira sebagai kakak dan adik.
"Ah, Yoongi-Oppa!" pekikan gembira Jungkook membuat beberapa pelanggan di kafe itu menoleh ke arah mereka. Taehyung hanya bisa menahan marah dan malu sedangkan Yoongi hanya bisa tersenyum maklum.
"Hai, sudah lama menunggu?"
Jungkook menggeleng hingga surainya bermain bersama udara, "aniyo. Oppa mau pesan apa?"
"Aku tidak—"
"Cepatlah karena kami ingin pergi mengecek cincin pernikahan,"
Ucapan dingin Taehyung menyadarkan Yoongi bahwa lelaki itu ada di antara mereka, "oh, Kim Taehyung-ssi. Apa kabar?"
"Baik,"
Dan kemudian hening.
"Ada apa, Oppa? Aku kaget begitu Oppa bilang mau bertemu denganku,"
Jungkook yang sadar bahwa aura tidak bersahabat telah menguar ke permukaan ingin segera menyelesaikan urusannya dengan sang Oppa.
"Ah, aku hanya ingin bertanya sesuatu,"
"Ne? Tentang apa?"
"..tentang Ayahmu.. Jeon Jungwoon,"
Taehyung terdiam mendengarnya. Sebenarnya ia ingin bertanya hal yang serupa ketika ia meminta restu pada keluarga Jeon—karena saat itu hanya ada Nyonya Jeon. Taehyung bingung ke mana Tuan Jeon karena sampai saat ini Jungkook belum pernah membahas Sang Ayah.
Yoongi kira Jungkook akan sedih karena ia membahas seputar Ayahnya. Namun, respon yang didapat sangat berbeda. Jungkook mengangguk-angguk lalu berkata, "apa yang ingin Oppa tanya?"
"Tuan Jeon.. apa ia benar sudah meninggal, Jungkook-ah?"
Jungkook dan Taehyung terdiam. Yoongi tahu bahwa mungkin ia tak pantas membahas keluarga orang—terlebih jika benar Tuan Jeon sudah meninggal, tetapi ia harus mengetahui segala kebenarannya karena ini menyangkut tentang kekasihnya, Jimin.
"Hmm, ne. Appa memang sudah meninggal,"
"Apa kau kenal dengan Park Jiyo? Teman bisnis Ayah atau Ibumu, mungkin?"
Manik bulat Jungkook bergetar kala mendengar nama itu, "..arayo. Park Jiyo adalah—"
Jantung Yoongi seakan mencelos kala mendengar kalimat selanjutnya dari Jungkook.
"—kekasih Appa,"
Taehyung mengernyit bingung, "maksudmu?"
Jungkook tertawa pahit, "aku bukanlah anak kecil yang akan terus bisa dibohongi dengan kata-kata 'Appa sudah pergi meninggalkan kita, Jungkook-ah'. Aku perlu tahu ke mana dan mengapa Appa pergi. Maka itu aku pernah menyewa mata-mata untuk menyelidiki Appa. Well, aku punya uang lagipula,"
Kedua pria di sana terdiam menunggu kalimat selanjutnya dari sang gadis, "yah, jadi aku melakukannya dan mengetahui bahwa ternyata pernikahan eomma dan appa dulu adalah sebuah paksaan karena eomma telah mengandung aku,"
"..lalu Appa-mu pergi?" tanya Taehyung.
Jungkook mengangguk, "ya. Appa mencoba mencari kebahagiaannya setelah kewajibannya menikahi Eomma terlaksana. Mungkin saat itu Appa pergi mencari kekasihnya, Park Jiyo. Namun, sayang, kata mata-mata yang kusewa Appa meninggal karena kecelakaan saat aku berumur dua tahun,"
"Eomma sangat mencintai Appa, makanya ia merebut Appa dari Park Jiyo. Jahat ya," sambung Jungkook dengan tawa lirih.
"Lalu bagaimana dengan Park Jiyo, Jungkook-ah?" tanya Yoongi dengan jantung berdebar.
Jungkook terdiam kemudian menggeleng, "aku tidak tahu,"
"Jungkook-ah, apa kau tahu siapa Park Jiyo?"
Jungkook mengernyitkan dahinya, "hm? Molla, Oppa. Aku tidak terlalu peduli padanya,"
"Jungkook, dia adalah—
—Ibu Jimin,"
Keheningan bercampur keterkejutan melanda dua orang di sana. Sang gadis yang rupanya lebih dulu dapat menguasai keadaan, "apa yang kaukatakan, Oppa? Aku dan Jimin-eonni... bersaudara?"
Anggukan dari pria bersurai hitam menyadarkan Taehyung dari keterkagetannya.
"Tapi-tapi bagaimana bisa? Mata-mataku waktu itu tidak mengatakan apa pun soal keberadaan Jimin-eonni.."
"Karena nyonya Park menempatkan Jimin di panti waktu ia lahir. Mungkin ini alasan mengapa Jimin dibuang. Nyonya Park tidak mau hal buruk terjadi pada Jimin jika orang tahu bahwa ia ada,"
"Apa Jimin tahu soal ini?" tanya Taehyung.
"Tidak. Jimin tidak—belum tahu. Aku bermaksud mengatakan padanya jika ada waktu yang tepat. Nyonya Park tidak merestui kami karena masalah ini," ucap Yoongi sambil mengusak surainya kasar. Jungkook mengernyitkan dahi tanda tak mengerti, "wae?"
"Entah. Sepertinya Nyonya Park tahu tentang Abeoji, tetapi apa hubungannya? Mungkinkah ia takut bahwa Abeoji akan memandang Jimin sebelah mata?"
"Lebih baik Oppa tanyakan langsung pada ahjumma atau Min-ahjussi,"
Yoongi menghela napas lelah, "kau benar,"
Sang pria berdiri dan tersenyum samar, "terima kasih atas waktumu, Jungkook-ah. Aku doakan kalian berdua bahagia,"
"Ne, Oppa. Kau juga,"
Suasana meja makan diisi dengan keheningan. Hanya ada suara denting peralatan makan beradu. Keluarga Min memang selalu menjunjung tinggi nilai kesopanan. Diam saat makan adalah hal yang harus diutamakan.
Manik kelam milik pria bersurai hitam bergulir menatap sang ayah. Tak lama bergulir pada sang ibu. Dahinya lantas mengernyit bingung.
Apa Abeoji dan Eomma kenal dekat dengan eommonim?
Makan malam pun selesai dan langsung dipergunakan Yoongi untuk berbicara pada sang ayah.
"Abeoji," panggil Yoongi dan sang ayah yang dipanggil menoleh, "ada yang ingin kutanyakan," lanjutnya.
Sang ayah lantas berjalan menuju ruang kerja. Berpikir bahwa sang anak akan bertanya seputar perusahaan. Yoongi mengikuti langkah sang ayah dalam diam dengan hati berdebar.
"Ada apa?" tanya Tuan Min setelah duduk di meja kerjanya.
Yoongi berdiri tak jauh dari sang ayah, "apa.. Abeoji kenal dengan.. Park Jiyo?"
Ada jeda cukup lama sebelum Tuan Min menjawab, "wae?"
Sang pria bersurai hitam menelan ludah gugup sebelum berucap, "aku—berpacaran dengan anak dari Park Jiyo, Abeoji,"
Kedua manik dengan warna sama persis itu bertatapan. Sang ayah yang lebih dulu memutuskan pandangan kemudian menghela napas, "apa kau meminta restu pada Abeoji?"
Yoongi mengangguk tanpa ada keraguan sedikit pun, "jika Abeoji tidak merestui pun, aku tidak peduli,"
"Apa maksud perkataanmu, Min Yoongi?"
"Aku selama ini selalu mengikuti kemauan Abeoji dan Eomma. Aku tak pernah membantah. Bahkan saat Abeoji menjodohkanku dengan Jungkook, aku diam. Maaf, Abeoji. Kali ini aku ingin mengejar apa yang membuatku bahagia. Aku akan mengikuti jalanku sendiri,"
Keheningan melanda ruang kerja milik Tuan Min sebelum kalimat dari pria paruh baya mengudara, "bagaimana tanggapan Jiyo? Apa dia merestui kalian?"
Gelengan Yoongi berikan. Tuan Min menghela napas kecil, "sudah kuduga,"
"Wae, Abeoji? Apa hubungan kita dengan keluarga Park? Bukankah keluarga Park hanya ada masalah dengan keluarga Jeon?"
Manik kelam milik Tuan Min membulat, "kau tahu soal ini?"
"Ya, Abeoji. Jungkook pun sudah tahu hal ini,"
Jeda beberapa saat sebelum sang pria paruh baya berucap, "Abeoji, Ibu Jungkook, dan Jeon-ahjussi adalah teman saat kuliah. Ibu Jungkook sangat mencintai Jeon-ahjussi dan meminta bantuan Abeoji untuk menyatukan mereka tapi pada saat itu Jeon-ahjussi memunyai kekasih, yaitu Jiyo. Dan kau pasti tahu kelanjutan ceritanya. Mungkin Jiyo tidak mau memiliki hubungan apa pun lagi dengan Abeoji karena Abeoji salah satu faktor yang merusak hubungan Jiyo dengan Jeon-ahjussi. Dan itu mungkin yang membuat ia tidak memberikan restu pada hubunganmu, Yoongi-ah,"
"Geurae,"
"Abeoji tidak akan menghalangi kalian. Sudah cukup sekali Abeoji merusak kebahagiaan keluarga Park. Kau harus berjuang, Yoongi,"
"Ne, Abeoji, aku pasti akan mengejar kebahagiaanku,"
"Mianhae, Jagi. Ada urusan yang harus aku urus,"
Pria bersurai hitam itu meringis kala mendengar jawaban di seberang sana. Kekasihnya tengah menunjukan aksi ngambek saat ini. Jimin memang tidak meminta Yoongi secara langsung untuk menemaninya di rumah—Nyonya Park sudah kembali bekerja yang berarti Jimin selalu sendirian di rumah. Namun, hari ini Yoongi memunyai urusan yang amat penting. Jimin memang penting, tetapi ini 0,9% lebih penting.
"Aku janji nanti aku akan datang. Sore, mungkin? Dengan secup es krim vanilla?" dulu Jimin sangat mudah dibujuk. Hanya dengan es krim atau kue maka gadis itu tidak akan marah lagi tapi memang mungkin hari ini bujuk rayu itu tidak mempan. Jimin malah mengoceh dengan suaranya yang cempreng membuat Yoongi menahan tawa sekarang.
Manik kelamnya memandang dari balik kaca mobil. Ia kini tengah berada di depan toko bunga yang menjadi tempat Nyonya Park bekerja, "aku akan datang nanti. Aku tutup dulu, Jim. Saranghae,"
Sebelum telinga sang pria berdengung kembali mendengar ocehan Jimin, ia sudah lebih dulu menutup panggilannya. Hari ini sang pria bersurai hitam tampaknya tidak takut sang kekasih akan tambah marah padanya. Dengan tekad yang ia telah kumpulkan langkah kakinya memasuki toko bunga tersebut.
"Selamat datang—" salam yang diucapkan Nyonya Park berhenti kala melihat tamu yang datang. Wajahnya yang semua penuh senyum dengan eye smile—sekarang Yoongi tahu dari mana Jimin mendapat eye smile—lenyap tergantikan dengan wajah datar.
"Eommonim, bisa kita bicara?"
Sang wanita paruh baya terdiam sebelum menjawab, "tidak ada yang perlu kita bicarakan. Aku tidak akan merestui hubunganmu dengan putriku, Min Yoongi-ssi,"
Sang pria tahu bahwa jawaban itu yang akan terlontar, "..saya tahu semuanya, eommonim,"
Sang wanita paruh baya yang tadinya sempat mau mengabaikan kekasih dari putrinya kembali memusatkan atensinya. Dahinya berkerut samar, "apa maksudmu?"
"Soal mengapa Jimin dititipkan di panti, hubungan eommonim dengan abeoji.. hubungan eommonim dengan Tuan Jeon—"
Dan perkataan terakhir dari Yoongi membuat Nyonya Park terkesiap.
"Ceritakan padaku apa yang kautahu, Min Yoongi-ssi,"
"Begitu. Apa Jimin tahu soal ini?"
Yoongi kembali memusatkan atensinya pada wanita paruh baya di hadapannya, sedetik kemudian ia menggeleng, "tapi aku akan mengatakannya pada Jimin nanti,"
"..wae? Tidakkah kau berpikir mungkin nanti Jimin membenci keluargamu? Karena secara tidak langsung keluargamu, ah, Ayahmu yang menjadikan Jimin tidak memunyai Ayah?" sarkas Nyonya Park dengan desisan kecil.
"..mungkin itu akan terjadi.. tetapi saya lebih tidak ingin Jimin mengetahui ini dari orang lain. Akan lebih menyakitkan dan Jimin akan sangat marah jika mengetahui ini jika bukan dari saya," ucapan yang Yoongi ucapkan kelewat formal karena itu adalah cirinya saat ia gugup. Bohong jika ia berkata jika ia tidak gugup.
Nyonya Park kemudian menghela napas kecil kemudian menyandarkan punggungnya yang lelah di sandaran kursi. Sebagai Ibu, ia hanya tidak ingin putrinya mendapat perlakuan tak adil oleh keluarga Min lagi—seperti dirinya dulu. Maka itu ia tidak merestui hubungan putrinya. Ditambah persahabatan Tuan Min dan Nyonya Jeon masih dekat sampai sekarang yang membuat ia semakin takut nanti putrinya akan dijahati oleh keluarga Nyonya Jeon. Namun, ia merasa tak pantas melarang bahkan tidak memberi restu pada putrinya. Jika berbicara secara logika, ia tidak pantas disebut Ibu karena tidak pernah ada di samping Jimin selama dua puluh dua tahun. Ia merasa dirinya tak pantas membatasi Jimin sebagai seorang Ibu.
Ingatan tentang keceriaan Jimin ketika menceritakan tentang Yoongi berputar di kepala wang wanita paruh baya. Tawa itu, senyum itu, rona itu. semua karena Yoongi. Yang dapat membuat putrinya bahagia hanya Yoongi.
"Bagaimana dengan keluargamu sendiri, Min Yoongi-ssi?"
"Semua merestui hubungan kami, eommonim,"
"..lalu bagaimana dengan keluarga Nyonya Jeon? Eommonim takut nanti Jimin akan.. oh, tidak. Jangan putriku.."
Jemari pucat Yoongi meraih dan menggenggam lembut tangan milik wanita paruh baya di depannya, "aku sudah memberitahu semuanya tentang Jimin pada Jungkook. Aku harap Jungkook bisa membuat Ibunya mengerti. Tidak ada yang perlu eommonim khawatirkan jika masalah Jimin. Aku yang akan melindunginya. Aku janji,"
Melihat keraguan yang hanya sedikit dari manik di depannya membuat Yoongi mencoba menghilangkan keraguan itu. Dengan usaha sedikit lagi saja, Yoongi yakin ia bisa meyakini Ibu dari kekasihnya ini.
"Jadi namanya Jungkook? Bagaimana rupanya? Apa ia mirip dengan Ayahnya?"
Sang pria bersurai hitam tertegun mendapati pertanyaan dari Ibu Jimin, "Jungkook gadis yang manis. Maniknya kelam, hampir sama seperti milik Jimin,"
"Ah, Jungkook juga mendapat mata Ayahnya,"
Kemudian hening beberapa saat. Detak jantung milik Yoongi berdetak semakin kencang. Ia tidak tahu bahwa meminta restu harus semendebarkan ini. Sama seperti ketika ia mempresentasikan hasil kerjanya untuk mendapatkan kerja sama perusahaan lain.
"Yoongi-ssi,"
"..ne,eommonim?"
Jantung miliknya nyaris berhenti kala mendengar ucapan selanjutnya dari Nyonya Park,
"—tolong bahagiakan Jimin,"
Ketukan di pintu membuat aktivitas sang gadis bersurai abu terhenti. Senyum langsung merekah dari bibirnya. Dengan langkah terburu—nyaris berlari—menuju pintu. Jimin berdehem guna menutupi senyumnya. Ingat, ia tengah ngambek.
Pintu ia buka dan berdirilah kekasih tampan—yang sayangnya amat menyebalkan itu. Lengkap dengan satu ember es krim vanilla dari toko es kesukaan Jimin. Pada akhirnya senyum itu kembali merekah. Bukannya menyuruh kekasihnya masuk, hal pertama yang Jimin lakukan adalah mengambil es krim dari tangan kekasihnya kemudian masuk ke dalam rumah.
"Ck, aku tidak dibolehkan masuk? Kau lebih memilih es krim dari pada aku?" teriak Yoongi dramatis. Hanya dibalas Jimin dengan memeletkan lidah.
Yoongi mendengus kecil lalu melepas sepatu olahraga couple miliknya—yang dibeli beberapa bulan lalu oleh Jimin. Kemudian masuk ke dalam rumah dan duduk di depan kekasihnya yang saat ini tengah sibuk memakan es krim dengan riangnya.
"Pokoknya Oppa tidak boleh minta!"
Yoongi hanya memutar maniknya. Jimin akan sangat pelit jika berhubungan dengan es krim. Yah, sebenarnya es krim vanilla itu memang khusus untuk Jimin.
Sang gadis mengerutkan keningnya dengan pipi mengembung. Lidahnya menemukan benda padat di dalam es krim yang berada di mulutnya. Dengan jemari mungil miliknya, ia mengeluarkan benda padat yang nyaris ia telan.
Onyx Jimin membulat kala melihat benda itu—
Sebuah cincin dengan berlian kecil.
Sebelah tangannya yang tadi ia gunakan untuk menggenggam sendok digenggam oleh Yoongi. Dengan pandangan penuh cinta pria itu mencium punggung tangan kekasihnya.
"Aku mungkin bukan pria romantis. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk melamar kekasihku sendiri. Tadi aku menemui eommonim untuk memberi kita restu, Jim. Dan aku mendapatkannya. Aku tidak peduli jika aku bukan cinta pertamamu. Yang jelas, aku hanya ingin kau bahagia, Jimin. Aku hanya ingin kau yang menjadi Ibu dari anak-anakku kelak, aku hanya mau kau yang kulihat setiap pagi ketika aku bangun, aku hanya mau kau yang menemani sisa hidupku—
Park Jimin, menikahlah denganku,"
Jimin tak bisa berkata-kata dan hanya bisa menangis. Isakan keluar dari bibirnya yang membuat Yoongi tertawa. Pria itu tidak khawatir sama sekali ketika mengetahui kekasihnya menangis. Pukulan lemah Yoongi dapatkan dari kepalan tangan mungil Jimin di dadanya.
"Ba—babo! Ka—kalau cincinnya tertelan bagaimana—hah?!" ucap Jimin diiringi dengan isak tangisnya. Yoongi semakin terkekeh geli. Pasalnya sang kekasih mengatakan tersebut dengan wajah merah dan air mata yang mengalir dengan deras.
"Kita bisa beli yang baru. Atau kau tinggal mengeluarkan cincinnya lewat—ah, ya! Sakit!"
Jimin menjambak surai hitam kekasihnya dengan bringas.
"Kenapa kau sangat tidak romantis, Min-Babo-Yoongi?! Tidakkah kau tahu bahwa aku ingin lamaranku seperti di drama-drama dengan pemandangan laut atau taburan bintang?! Bukannya cincin yang nyaris kutelan! Aku bahkan nyaris mengunyahnya!"
Yoongi terbahak mendengar penuturan terakhir dari Jimin, "ya, kita bisa mengulanginya lain kali. Jadi, bisa kau melepaskan jambakanmu? Kurasa rambutku mulai rontok,"
Jimin melepaskan cengkraman mautnya kemudian mengerucutkan bibirnya lucu, "aku tidak mau menikah dengan Oppa! Pokoknya sampai lamaran seperti di drama baru aku terima!"
"Hm, tidak apa kau menolak lamaranku sekarang, Jim—"
"tapi kupastikan kau tidak akan bisa berjalan selama seminggu,"
Bulu kuduk milik Jimin meremang kala melihat senyuman penuh arti kekasihnya. Dengan kaku akhirnya Jimin mengangguk, "ne—ne! Oppa aku mau!"
"Gomawo, Jagi. Kita akan menikah dua minggu lagi. Persiapkan dirimu—"
Kalimat selanjutnya yang dilontarkan Yoongi membuat wajah Jimin pucat pasi.
"—karena aku tidak akan membiarkanmu keluar dari kamar selama sebulan penuh,"
Ya, semoga Jimin masih bisa berjalan dengan normal.
Kisah mereka memang tidak memiliki awal sempurna,
Namun, takdir membawa mererka pada jalan yang seharusnya,
Kini, mereka memunyai kisah yang belum selesai dan mereka diharuskan untuk membuat kisah mereka bahagia—dengan cara mereka sendiri.
Selamat menuai kisah yang bahagia, bagi mereka yang masih bertahan pada kisah hidupnya tanpa menyerah.
Kisah mereka selesai kini,
Namun, kisah selanjutnya masih terus berlanjut.
THE END
A/N: HAPPY BELATED BIRTHDAY BIAS PERTAMAKUUUU #udahlewatwoy
Siapa yang nunggu final chap ff ini? Terima kasih ya :') 6k buat kalian! lavlav! sorry not sorry dengan adegan akhirnya. Aku mau buat kaya drakor gitu deh, biasanya kan drakor di last episode banyak yang masih gantung atau bahkan ga klimaks wkwk ya namanya ff ini juga drama :')
Daaaaan, aku akan membuat chap tambahan tentang married life VKook sama YoonMin!
FF ini udah tamat memang, tetapi aku mau buat spesial chap :3 next chap khusus VKook hehe
sampai jumpa di chap spesial :3
Terima kasih untuk review, fav, dan follow-nya TT^TT
