SWEET NOTHING
DONGHAE X HYUKJAE
Fanfic ini diremake dari sebuah novel yang juga berjudul SWEET NOTHING karya Sefryana Khairil dari penerbit Gagas Media. Dijadikan dalam bentuk versi Boys Love dengan sedikit perombakan, pengurangan dan penambahan disana-sini disesuaikan dengan kebutuhan alur cerita. Dan. Didalam Fanfic ini anggap saja seorang lelaki bisa melahirkan, dan membesarkan seorang anak.
Bagi yang kurang berkenan dengan sesuatu yang berhubungan dengan Remake dan Boys Love/Yaoi/MPREG harap segera menyingkir demi kenyamanan bersama.
.
.
Thank You
.
.
Happy Reading
.
.
BAB 9
It's in your eyes, I can see it
The look of a woman in love
"Only a Woman Like you, Michael Bolton"
.
.
.
Pelan-pelan aku menyadari, aku takut ketika tidak mendapatimu di sisi.
Hyukjae menarik napas dalam-dalam sambil men-spuitkan butter cream merah muda di atas flower nail sambil memutar, membuat kelopak bunga mawar di sekeliling putik yang telah jadi dan meletakkannya di atas cake yang telah di lapisi butter cream putih. Dari tempatnya berdiri, ia dapat melihat seluruh kesibukan dapur. Biasanya, memandangi dapur Sweet Sugar bisa mengurangi kegelisahannya, tapi sejak percakapannya dengan Donghae beberapa hhari lalu, ia selalu merasa gelisah.
Saat matanya melihat ke arah seorang laki-laki yang tengah meletakkan gula karamel berbentuk sarang burung dengan sangat hati-hati di atas cake dobos torte, Hyukjae berusaha tenang. Ia benar-benar tidak mengerti, mengapa memperhatikan Donghae saja bisa membuatnya resah setengah mati. Seharusnya ia tidak mengingat bagaimana laki-laki itu menciumnya. Karena ia yakin tidak memiliki perasaan apa-apa kepada Donghae.
Hyukjae menghirup udara sebanyak-banyaknya, menahannya selama beberapa detik, lalu menghembuskannya. Ia menspuitkan butter cream hijau di antara bunga-bunga yang telah dibuatnya. Sambil membuat sulur-sulur daun hingga ke tepi cake, diam-diam perhatian Hyukjae kembali pada Donghae yang masih sibuk menghias dobos torte. Wajah laki-laki itu tampak begitu serius. Dalam balutan jubah koki, badan Donghae yang atletis, begitu maskulin dan mempesona. Garis-garis serius wajahnya, membuat lelaki itu semakin tampan. Begitu tampannya hingga dada Hyukjae berdesir.
Ketika Donghae menegakkan tubuhnya, mata mereka bertemu. Ada jeda panjang. Wajah Hyukjae terasa menghangat. Jantungnya berdegup cepat. Ia segera menunduk pada cake yang sedang di hiasnya, salah tingkah. Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya?
"Kenapa kau melihatku terus dari tadi" tanya Donghae dengan senyum menggoda.
"Siapa yang melihatmu? Percaya diri sekali!" Hyukjae balik bertanya tanpa mengangkat wajahnya, berusaha menyembunyikan jantungnya yang berdentum-dentum. Suaranya terdengar ketus.
Donghae meninggalkan dobos torte-nya dan menghampiri Hyukjae. Ia melipat tangan di depan dada. "Kenapa, kau tidak mengaku saja tentang perasaanmu, Hyuk?" ujarnya pelan.
Kening Hyukjae mengernyit. Ia berusaha menjaga sikapnya. "Perasaan apa? Aku tidak mengerti maksudmu!"
Sudut bibir Donghae terangkat membentuk senyum geli. "Lalu kenapa melihatku terus dari tadi?"
"Aku tidak melihatmu!" dustanya. Hyukjae gemas sendiri.
Mendengar nada suara Hyukjae meninggi dan mata di seluruh dapur melihat mereka, Donghae tidak membantah. Lelaki manis itu sedang uring-uringan, sehinga melampiaskannya dengan emosi yang tidak bisa di kendalikan. Donghae kembali ke tempatnya dengan mata sesekali mengamati Hyukjae. Ia bisa membaca dalam sorot matanya, lelaki manis itu memiliki perasaan yang sama dengannya, namun sekuat tenaga menyangkalnya.
Saat telepon di dapur berdering. Donghae dan Hyukjae dengan sigap meraihnya. Namun, laki-laki itu memberikan keleluasaan atasannya untuk menjawab. Hyukjae meliriknya seraya mendengarkan pesanan dari pelayan. Tubuh Donghae yang begitu dekat dengannya, membuat keresahannya menjadi-jadi. Harum mint yang terhirup hidungnya langsung membuat syaraf-syarafnya gelisah. Ia tidak mendengar jelas pesanan kue yang terakhir. "Apa, Joy? Opera? Oh, tiramisu gulung. Oke" batinnya merutuk karena tidak fokus. Tentu saja opera dan tiramisu sangat jauh!
"Jadi dua lusin Delimanjoo untuk hari ini dan satu tiramisu gulung untuk besok?" tanya Donghae tanpa perlu melihat catatan di tangan Hyukjae.
"Ya." Hyukjae menyahut dengan wajah cemberut. Kesal. Bagaimana bisa laki-laki itu hafal sedangkan dirinya yang mencatat tidak ingat satu pun!
Donghae menginstruksikan seorang asistennya untuk membuat Delimanjoo, lalu mengembalikan perhatian pada dobos torte. Saat menoleh, ia mendapati Hyukjae menghias kue dengan ekspresi kesal. Senyumnya mengembang. Ia selalu suka Hyukjae yang penuh gejolak seperti itu. Cantik dan membuatnya semakin menarik.
"Chef, apple filling-nya sudah cukup layu?" Wendy menunjukkan apple filling yang baru matang dengan sendok ke hadapan sang koki.
Donghae melangkah ke panci, melihat campuran apel, kismis, gula pasir, dan sedikit madu seperti endapan karena air habis terserap, menyisakan air yang keluar dari sari apel. Ia meraih sendok dari tangan Wendy dan mencicipinya. "Tambah sedikit air. Masih kurang layu."
"Ne, Chef." Wendy tersenyum.
"Kau siapkan saja cup dari sekarang, jadi tidak perlu tunggu filling dingin, nanti langsung lapisi dengan adonan sponge cake-nya." Donghae memegang cup yang sudah dilapisi alumunium foil dan memeragakan di depan salah satu asistennya itu.
Hyukjae memperhatikan kedua orang itu tanpa berkata-kata. Donghae memperlakukan Wendy dengan manis. Begitu gentleman. Begitu menarik untuk di sukai sebagai laki-laki. Tangannya mengepal. Rahangnya mengeras. Ia tidak mengerti apa yang sedang melanda hatinya. Kenapa ia harus merasa resah melihat kedekatan Donghae dan Wendy yang tengah mendiskusikan hiasan sponge apple? Ia tidak mengerti. Dan semua semakin tidak terkendali.
.
.
.
Sejak datang ke Sweet Sugar pagi tadi, Hyukjae merasa kesehatannya tidak begitu baik. Kepalanya berat dan setiap langkahnya terasa melayang. Tubuhnya lemas. Mungkin karena beberapa minggu ini jadwalnya padat, jadwal makannya juga tidak teratur. Tapi, ia tidak mungkin istirahat dan meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Ada meeting dengan seorang klien katering setelah makan siang, dan kini ia harus menemui sepasang ibu dan anak yang ingin memesan kue ulang tahun spesial untuk pesta sweet seventeen.
Sambil terus berusaha tetap tenang menahan kepalanya yang pening. Hyukjae mendengarkan seorang gadis remaja di hadapannya sedang menjelaskan desain kue ulang tahun yang diinginkannya, sementara tangannya mencatat detail kuenya.
Di tengah percakapan mereka, pintu berayun dapur terbuka. Donghae keluar dari sana untuk meletakkan kue di lemari pendingin. Kehadiran laki-laki itu tampaknya menjadi perhatian si gadis remaja dan ibunya. Kedua perempuan beda generasi itu mengarahkan tatapannya pada Donghae.
"Itu koki disini, Tuan Lee?" tanya si Ibu.
Hyukjae melihat ke arah Donghae sekilas. Ia tersenyum pada kedua perempuan di hadapannya. "Ne. Itu Chef Donghae, pastry chef disini."
Mendengar namanya disebut-sebut, Donghae mendekati ketiga orang yang duduk di sofa disudut ruang display. Ia sedikit menunduk dan tersenyum ramah. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Hai, Chef," sapa Hyukjae, berusaha bersikap biasa-biasa saja. Ia menatap laki-laki itu dan kedua perempuan di hadapannya secara bergantian. "Kenalkan ini Lami dan ini Ibunya. Minggu depan Lami ulang tahun ke tujuh belas, jadi ingin pesan kue spesial untuk sweet seventeen-nya."
Donghae duduk di sofa sebelah Hyukjae yang kosong. "Sweet Seventeen? Wah, pastinya harus spesial. Konsep pestanya ingin seperti apa, Lami-ya?"
Kewaspadaan Hyukjae langsung muncul setiap kali Donghae berbicara atau berdekatan dengan perempuan. Matanya mengawasi Lami dengan seksama. Dan, ia tidak menyukai apa yang dilihatnya. Meskipun Lami masih remaja, sorot matanya menunjukkan kalau ia tertarik pada Donghae. Satu detik saja sepertinya Lami tidak mau mengalihkan matanya dari laki-laki tampan itu. Heran, satu orang saja bisa seperti magnet di mana-mana.
Sayangnya, Lami ataupun ibunya tidak menangkap ekspresi tidak suka Hyukjae. Atau mungkin tidak peduli, Lami tampak antusias sekali berdiskusi tentang detail pestanya dengan Donghae.
"Iya, ya Chef. Kenapa tidak terpikirkan untuk membuat pesta di tempat terbuka? Jadi, nantinya lampu-lampunya terlihat lebih oke." Lami tersenyum dengan wajah penuh rona dan mata berbinar.
"He'em. Kalau memakai konsep yang Lami punya, diruang terbuka jadi sangat cocok." Ujar Donghae.
Hyukjae melirik Donghae. Nada suaranya selalu bisa membuat setiap perempuan terpesona. Semakin merasa kesal membuat kepalanya semakin pening. Ia memutuskan untuk kembali ke ruangannya. Diserahkannya urusan kue ulang tahun Lami paada Donghae. Lagi pula, ia harus mempersiapkan materi untuk meeting selanjutnya.
Begitu berada di ruangannya, Hyukjae langsung menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya. Diurut pelipisnya, berharap bisa mengurangin peningnya. Ia tidak mengerti mengapa ia merasa jengkel. Begitu jengkelnya hingga rasanya kepalanya ingin meledak. Hyukjae menghela napas panjang. Apa benar dirinya jatuh cinta pada Donghae? Dan kini ia cemburu? Mustahil, ia mendengus pelan. Ia tidak cemburu pada Donghae. Sama sekali tidak. Ia hanya... tidak suka.
.
.
.
Seharusnya kau mengerti, mencintaimu membuatku tidak peduli apa pun lagi.
Benak Hyukjae tidak dapat berhenti mempertanyakan apakah benar dirinya jatuh cinta? Kalau tidak, apa yang terjadi dengan ia sebenarnya?
Pukul sembilan malam dan Hyukjae masih berada di Sweet Sugar untuk menyelesaikan dekorasi kue yang akan diambil besok. Ia menahan pening kepalanya dan melanjutkan membuat sepatu bayi dari gum paste, sementara otaknya tidak dapat berhenti berpikir.
Tidak tahu sejak kapan, ia selalu merasa terganggu melihat sikap perempuan-perempuan yang menunjukkan rasa tertariknya pada Donghae. Mungkinkah benar dirinya cemburu? Hyukjae langsung tertawa memikirkan itu. Donghae lebih muda darinya, tidak mungkin ia jatuh cinta pada laki-laki itu—meskipun ia tidak menyangkal ada rasa tertarik. Tentunya tertarik dan jatuh cinta hal yang berbeda, bukan?
Mengingat bagaimana ia bisa tertawa begitu lepas, bisa bicara apa saja dengan Donghae, bisa mengekspresikan apa pun hingga merasa lega, sejenak Hyukjae tertegun. Mungkin, ia memang lebih dari sekedar tertarik. Tidak tahu sebesar apa, ia merasa lebih baik ketika Donghae ada di sisinya.
"Kau belum pulang?"
Mendengar suara Donghae, Hyukjae mengangkat wajahnya. Saat matanya bertemu dengan mata Donghae, debar resah muncul tiba-tiba di dadanya. Ia merasa begitu hidup setelah mati suri sekian lama. Hyukjae menarik napas dalam-dalam. Mungkin reaksi ini muncul karena Donghae datang tanpa pemberitahuan sebelumnya.
"Aku harus menyelesaikan ini." Hyukjae meundukkan kepalanya, berkutat pada cake yang telah dilapisi icing biru muda.
Donghae mendekati lelaki manis itu. Ia mengamati wajah Hyukjae. "Kau sedang tidak enak badan? Wajahmu pucat."
Hyukjae mengangkat pandangannya singkat, lantas menggeleng. "Aku tidak apa-apa."
"Kau sudah makan?" raut wajah Donghae berubah cemas.
Susah payah Hyukjae menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya. Ia makan makanan kecil tadi saat meeting, seingatnya. "Sudah." Jawabnya seraya meletakkan sepatu bayi yang baru selesai dibuatnya di atas cake. Denyutan keras kembali menyerang kepalanya. Ia tidak berani mengangkat wajahnya.
Donghae mengamatinya semakin lekat. "Kapan?"
"Hmm... ya, pokoknya aku sudah makan." Hyukjae menguatkan diri menahan sakit kepalanya dan mengangkat wajahnya, menatap Donghae. "Kau mau pulang kan? Duluan saja. Sebentar lagi aku juga pulang."
Donghae menatap ke dalam bola mata Hyukjae untuk meyakinkan dirinya. Kemudian ia menghela napas pelan. "Oke." Ia melanjutkan langkahnya.
Ketika Donghae menutup pintu dapur, semua kembali hening. Ia menarik napas dalam dan mengembuskannya. Tapi, denyutan di kepalanya tidak juga berkurang. Mungkin segelas teh manis bisa membuatnya lebih baik. Hyukjae bangkit dari kursinya dan pandangannya berputar. Ia berusaha mengautkan diri ke pantry.
Beberapa langkah menuju pintu yang menghubungkan dapur dengan pantry, denyutan lebih keras menyerang kepalanya. Hyukjae mencari-cari pegangan. Tubuhnya terasa lebih lemas dari sebelumnya. Kepalanya begitu pening. Pandangannya berputar-putar hebat dan mendadak semua berubah menjadi gelap.
.
.
.
Donghae baru saja menjalankan mobilnya hingga pintu gerbang Sweet Sugar ketika perasaan khawatir semakin mencekam dadanya. Apa benar Hyukjae tidak apa-apa? Tidak apa-apa kalau ia meninggalkannya? Jantung Donghae berdegup lebih cepat karena gelisah. Wajah lelaki manis itu pucat. Tubuhnya juga terlihat lemas.
Mungkin sebaiknya ia melihat lagi keadaan Hyukjae, memastikan lelaki manis itu tidak apa-apa. Donghae memundurkan mobilnya, kembali memarkirnya. Dengan agak tergesa, ia keluar dari mobil dan masuk ke Sweet Sugar.
Dapur begitu sepi ketika ia memasukinya. Hyukjae sudah tidak ada di meja dan kue yang tengah di hiasinya dibiarkannya saja. Apa lelaki manis itu sudah bersiap pulang? Donghae melangkah labih jauh ke arah pantry. Matanya terbelalak melihat tubuh Hyukjae tergeletak di lantai. Donghae merasa jiwanya seakan hilang dari tubuhnya. Detak jantungnya berhenti. Dan seluruh darahnya terserap keluar.
"Hyuk!" rasa panik menyerang Donghae. Ia berlutut, meraih tubuh Hyukjae. Ia menepuk-nepuk pipinya. "Hyuk! Hyukjae!" melihat tidak ada reaksi, rasa paniknya menjadi-jadi. Donghae meraih tangan Hyukjae, mengecek denyut nadinya. Masih ada! Dengan segera Donghae mengangkat tubuh Hyukjae, membopongnya ke mobil.
Donghae meletakkan tubuh Hyukjae dengan hati-hati di jok belakang mobilnya, lalu ia masuk ke kursi kemudi dan melesatkan kendaraan itu. Gelombang panik dan takut memenuhinya. Waktu terasa lambat. Terasa menyiksa. Ia tidak ingin terjadi apa-apa pada Hyukjae.
Saat sampai di depan pintu UGD rumah sakit, Donghae masuk ke dalam, mencari-cari perawat untuk membantunya. Dua perawat keluar membawa brankar. Mereka menggotong tubuh Hyukjae dan membaringkannya.
Donghae mengikuti langkah para perawat membawa Hyukjae. Ia menatap wajah lelaki manis itu. Begitu pucat. Hatinya ngilu. Tidak bisa dilihatnya Hyukjae seperti itu. Ketakutan menderanya. Jika terjadi apa-apa pada lelaki manis itu, ia pasti akan sulit memaafkan dirinya sendiri karena meninggalkan Hyukjae di Sweet Sugar meski sudah merasa ia tidak baik-baik saja. Dalam hati, Donghae berdoa agar Tuhan menjaga Hyukjae. Hanya dia yang bisa melindungi lelaki manis itu dengan segala keterbatasan dan kemampuannya.
"Tuan silakan tunggu. Dokter akan segera memeriksanya." Ujar seorang perawat perempuan sebelum menutup pintu ruang UGD.
Donghae memaku. Membeku. Berharap pada sang waktu agar semua hal buruk segera berlalu.
.
.
.
TBC
.
.
.
Di bab kemarin ada yang nanya tentang lagu disetiap bab-nya, btw itu potongan lagu sesuai di novel aslinya ya~ setaunya aku, dari beberapa novel Sefryana Khairil yang sudah aku baca pasti ada potongan lagu, mungkin itu salah satu ciri khas dari novelnya dia.
Maaf untuk typo yang masih bertebaran, dan maaf jika ada yang kurang nyaman dalam pergantian cast dan perubahan cast menjadi Boys Love, apalagi dengan tema MPREG yang ada di FF Remake ini. Ini hanya sekedar untuk meramaikan Fanfic HaeHyuk yang semakin jarang dijumpai di FFn. Dan, segala Review positif yang kalian berikan, sepenuhnya aku persembahkan untuk Sefryana Khairil ^^
TERIMA KASIH yang sudah menyempatkan untuk Review^^
.
.
.
Big Love
Cutie Monkey
