Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre: Hurt / Comfort / Angst
Rated: M
Pairing: SasuSaku, Onesided NaruSaku, and Other Pairing
Warning: LIME, AU, OOC, Angsty, Fluff, Mary sue, dan berbagai hal lain.
Terinspirasi dari manga yang berjudul Kimi No Sei
Inspired by manga Kimi No Sei
Naruto © Masashi Kishimoto
Kimi No Sei
Story by: Akina Takahashi
Chapter 10: True Love
"Bercintalah denganku— sekarang... Sasuke-kun—"
Seketika mata onyx Sasuke membulat.
Ini tidak boleh!
Ini tidak benar!
"Kumohon..."
Kami-sama! Apa yang harus kulakukan?
Sasuke berbisik di telinga Sakura. "Aku tidak ingin kau menyesal, Sakura."
"Kau menolakku Sasuke-kun? Kau tidak menginginkanku? Kau membenci—"
Sasuke segera mengangkat dagu Sakura dengan jempol dan jari telunjuk tangannya. Mata onyxnya terlihat sedih. "Apa aku terlihat membencimu? Setelah semua yang kulakukan saat ini?"
"Kalau begitu kenapa?" Suara Sakura bergetar.
Sasuke mendorong tubuh Sakura hingga gadis itu jatuh terbaring diatas ranjang. Pemuda itu menindih tubuh Sakura. "Kau yang meminta." Mata obsidiannya memandangi wajah gadis dibawahnya. Sasuke mengecup pelan pipi kiri Sakura sebelum akhirnya bergerak menuju daun telinganya. Ia berbisik di telinga Sakura. "Kau tidak tahu betapa ini menyiksaku..." Pemuda itu menggigit pelan telinga gadis itu. Sementara tangannya perlahan membuka kemeja putih yang dikenakan Sakura.
Setelah kemeja itu terlepas, Sasuke melemparnya ke sembarang arah dan kembali mengecup leher dan bahu gadis itu. Menghisap dan menjilatnya hingga tercipta ruam-ruam berwarna kemerahan disana. Baru saja tangannya hendak bergerak menuju kewanitaan Sakura, ia mendengar isakan kecil keluar dari bibir cantik gadis itu. Sasuke segera menarik tangannya dan menggigit bibir bawahnya keras untuk menghentikan hawa nafsu yang sempat menguasainya tadi.
Ia mengangkat kepalanya dan menatap Sakura yang kini telah telanjang bulat di bawahnya. Sakura menangis. Air mata keluar dari mata hijau cemerlang itu.
"Shit!"
Sasuke mengumpat. Ia segera menarik selimut menutupi tubuh Sakura hingga ke leher. Sementara dirinya dengan panik segera berjalan menjauhi gadis itu. Ia mencuci wajahnya berkali-kali di wastafel yang terletak dikamar mandi.
"Baka! Idiot!"
"Apa yang kau pikirkan Uchiha Sasuke?"
"Itu bukan keinginannya. Sakura tidak menginginkannya."
Untuk pertama kalinya Uchiha Sasuke merasa dirinya sangat brengsek. Walaupun Sakura yang memintanya namun perkataan itu tidaklah keluar dari hati gadis itu.
Dan ia tahu itu.
Tapi—
—di sisi lain ada sosok dirinya yang menginginkan gadis itu sepenuhnya. Ingin memilikinya, menyentuhnya. Walaupun gadis itu tidak mempunyai perasaan yang sama dengannya. Sosok Uchiha Sasuke yang sangat ia benci.
Uchiha Sasuke si pemuda brengsek. Playboy Shibuya yang seringkali berganti pasangan. Sosok yang sebenarnya ingin ia hilangkan. Sosok yang merupakan cerminan ayahnya ketika mengkhianati ibunya dulu.
Cih.
Tidak terbayangkan betapa bencinya Sasuke terhadap dirinya sendiri saat ini. Apalagi setelah membayangkan ia hampir saja menyakiti gadis yang amat dicintainya untuk yang kedua kalinya.
Dengan langkah gemetaran Sasuke berjalan keluar dari kamar mandi untuk menemui Sakura yang masih terbaring di ranjangnya.
"Gomen—" Sasuke bergumam pelan ketika ia melihat gadis itu masih saja terisak. Sakura membenamkan seluruh tubuhnya kecuali kepalanya di dalam selimut tebal berwarna putih. Ia meringkuk dan menangis tanpa suara disana. Tak ada respon sedikitpun bagi keberadaan Uchiha Sasuke yang ada di pintu kamarnya.
Entah kenapa Sasuke tidak memiliki keberanian untuk mendekati gadis itu. Ia masih takut jika dirinya akan kembali dikuasai nafsu seperti sebelumnya. Setelah berusaha menenangkan dirinya sendiri sang Uchiha akhirnya membuka mulutnya "Aku akan keluar sebentar. Tunggu aku. Jangan pergi kemana-mana." Perintahnya sebelum akhirnya menutup pintu.
.
.
.
"Kau bodoh Sasuke-kun."
"Kenapa kau malah membuatnya semakin sulit?"
"Bukankah akan lebih baik jika kau tetap membuatku membencimu seperti dulu?"
"Kau tidak memberi alasan bagiku untuk kembali membencimu."
"Kenapa?"
"Bukankah akan lebih baik jika kita berpisah? Bukankah akan lebih baik jika kita melanjutkan hidup kita masing-masing seperti sebelumnya?"
Setelah menyelesaikan bisikannya yang nyaris tak terdengar itu, Sakura kembali menutup mata hijau dan membukanya kembali. "Kita tak bisa seperti ini terus." Ujarnya entah pada siapa. Matanya menatap kosong langit-langit yang ada di hadapannya.
"Jika kau tidak bisa pergi dariku maka aku yang akan pergi darimu Sasuke-kun... dan kau takkan pernah bisa lagi bertemu denganku. Selamanya."
"Sayounara..."
.
.
.
Kimi No Sei © Akina Takahashi
Published on fanfictiondotnet
Do not copy or publish it on another site without permission
.
.
.
"TING TONG"
"Cih. Siapa yang datang pagi-pagi begini? Naruto berjalan menuju pintu depan apartemennya dengan malas. Siapa orang brengsek yang datang pagi-pagi di hari Minggu seperti ini? Tidak bisakah dia menjalani pagi yang damai tanpa diganggu? Mumpung saat ini Hinata dan ibunya sedang berbelanja jadi dia seharusnya bisa bermalas-malasan pagi ini. "Tunggu sebentar."
"TING TONG" Bel kembali berbunyi. Menyebabkan Naruto semakin kesal.
"Sudah kubilang tunggu seben— tar. Eh?!" Mata birunya melebar ketika melihat siapa orang yang mendatanginya. Uchiha Sasuke berdiri dengan ekspresi datar di depannya. Pemuda berambut hitam itu mengenakan kemeja kasual berwarna biru tua dan celana jins hitam.
"Kau Uchiha Sasuke, pacarnya Sakura kan?" Naruto terlihat bingung. "Ada perlu apa? Darimana kau bisa tahu alamat rumahku?" rentetan pertanyaan muncul dari mulut pemuda pirang itu.
"Ada hal yang ingin kutanyakan padamu." Wajah pemuda berambut raven itu terlihat serius.
"Ah— silakan duduk." Naruto mempersilakan Sasuke untuk duduk di kursi tamu. "Mau kubuatkan teh?"
"Tidak perlu. Aku tidak akan lama-lama."
"Oke. Baiklah. Apa yang bisa kubantu?"
Sasuke mengangkat wajahnya menatap mata biru Naruto. "Soal Sakura—"
"Eh?" Naruto terlihat kaget. "Apa yang terjadi dengannya? Kudengar dia menginap di rumah Ino sejak kemarin."
"Tidak. Ia berbohong. Dia menginap di apartemenku."
"HEE?!" Naruto sedikit shock ketika mengetahui hal itu. Bagaimanapun juga Sakura bukanlah gadis yang dengan mudah akan menginap di rumah seorang laki-laki, bahkan pacarnya sekalipun.
"Tenang saja. Kami tidak melakukan apa-apa." Jelas Sasuke. Dia melihat ada sedikit kelegaan terpancar dari wajah Naruto. "Tapi terjadi kecelakaan kecil kemarin."
"Apa yang terjadi."
"Sakura nyaris tenggelam di sungai."
"HE?!" Naruto terlihat panik. "Lalu apa yang terjadi? Bagaimana keadaannya?"
"Dia baik-baik saja." Jawab Sasuke. "Tapi ada hal lain yang ingin kutanyakan padamu."
"Apa yang terjadi padanya sepuluh tahun yang lalu?" Sasuke menghela napas sebentar sebelum melanjutkan perkataannya kembali. "Sejujurnya aku mengenalnya sejak dulu. Kami teman sekelas saat SMP dulu. Aku tahu ada kejadian-kejadian tidak mengenakkan yang terjadi saat itu. Tapi aku ingin tahu apa yang terjadi dengannya setelah ia menghilang dari kehidupanku sepuluh tahun yang lalu."
Naruto terlihat kaget. Ia tak menyangka bahwa Sakura akan bertemu dengan orang dari masa lalunya. Gadis itu selalu bilang jika ia sangat membenci kehidupannya yang dulu dan ingin menghilangkannya dari ingatannya. Siapa sangka jika pacar Sakura saat ini adalah orang dari masa lalu yang sangat dibencinya itu.
"Hhh—" Naruto menghela napas. Ia sempat berpikir sebentar. Apakah tidak apa-apa menceritakan hal ini pada Sasuke?
"Onegaishimasu." Sasuke menundukkan kepalanya memohon kepada Naruto. Sepertinya cintanya pada Sakura melebihi pridenya sebagai Uchiha sehingga ia mau merendahkan diri di hadapan orang lain demi gadis itu.
"Angkat kepalamu Sasuke." Naruto terlihat sungkan. "Baiklah aku akan menceritakannya padamu."
.
.
.
Naruto POV
Konoha, Jepang. Sepuluh tahun yang lalu.
Hari ini keluarga kami berniat untuk pindah dari Konoha. Ayahku, Uzumaki Minato –err Namikaze sebenarnya, tapi entah mengapa ia malah mengubah marganya menjadi Uzumaki sama seperti ibuku— yah pokoknya ayahku dipindahtugaskan ke kantor pusat yang berada di Tokyo.
Sebenarnya aku agak tidak setuju dengan kepindahan yang terkesan mendadak ini. Yah, maksudnya tidak bisakah kepindahannya ditunda hingga musim semi nanti? Selain berbahaya menyetir di tengah salju, aku juga kan jadi terpaksa pindah sekolah di tengah-tengah semester seperti ini. Hei— aku kan sudah kelas 3 SMA? Apa jadinya kalau aku tiba-tiba pindah? Padahal ujian masuk universitas kan sebentar lagi.
Sigh.
Menyebalkan.
Aku memandangi jendela mobil dengan tatapan bosan. Ada sungai kecil di sisi jalan yang kami lalui. Aku sedikit bergidik ketika melihat sungai yang nyaris membeku itu. Hii— pasti dinginnya minta ampun. Bisa mati kedinginan kalau tenggelam disitu.
Tiba-tiba aku merasa ingin buang air kecil. "Otou-san, berhenti sebentar. Aku ingin buang air."
"Astaga, Naruto!" Ibuku tiba-tiba saja menyahut. "Tidak bisakah kau menunggu sampai kita menemukan tempat beristirahat?"
"Mou— aku sudah tidak tahan lagi Okaa-san. Bagaimana kalau aku mengompol disini?"
"Argh Narutoo—"
"Sudah, sudah." Ayahku menepikan mobil yang kami tumpangi. "Biarkan saja dia Kushina."
"Tapi— nanti kita bisa terlambat."
"Tidak apa-apa terlambat sedikit."
"Arigatou Otou-san!" Aku membuka pintu mobil dengan semangat. Yokatta. Aku sudah tidak tahan lagi.
Aku segera berjalan mendekati sungai. Namun baru saja hendak membuka ritsleting celanaku, aku melihat sesosok gadis berambut merah muda yang hanyut di sungai. Aku tak dapat melihat wajahnya karena posisinya yang telungkup.
Apakah dia masih hidup?
Atau sudah mati?
Jangan-jangan dia korban pembunuhan.
Arrghh—
Astaga demi Tuhan. Mimpi apa aku sampai menemukan hal seperti ini?
Hilang sudah hasratku untuk buang air kecil. Oh astaga, aku benar-benar sial hari ini.
Tanpa pikir panjang, aku segera memanggil kedua orang tuaku. Bagaimanapun juga aku tidak bisa membiarkan gadis itu hanyut begitu saja. "Tou-san! Kaa-san!"
"Ada apa Naruto?" Otou-san tiba-tiba saja muncul setelah mendengar suara panggilanku yang terdengar panik.
"Tou-san! Ada orang yang hanyut disana!" Aku mulai membuka sepatuku. Sepertinya satu-satunya cara untuk menolong gadis itu adalah dengan terjun ke sungai dan menariknya ke pinggir.
"Astaga!" Ayahku terlihat panik. "Jangan gegabah Naruto! Kau bisa kena hypothermia jika langsung terjun seperti itu!"
"Tapi tidak ada cara lain ayah!" Aku berusaha meyakinkan ayahku. "Ayah tahu kan kalau aku pernah berhasil melewati ujian fisik yang diadakan oleh Jiraiya-sensei?"
"Tapi Naruto—"
"Tou-san, apa yang terjadi? Kenapa lama sekali—" Mata ibuku langsung membelalak ketika melihat diriku yang bersiap untuk terjun. "Naruto! Apa yang kau pikirkan? Cepat kembali kesini!"
Gawat. Ibuku benar-benar terlihat sangat marah.
"Okaa-san, Bagaimanapun aku harus menolongnya!" Aku tersenyum berusaha menenangkan ibuku. "Tenang saja. Aku bahkan pernah bermeditasi di bawah air terjun yang dinginnya luar biasa itu saat berlatih karate bersama Jiraiya-sensei."
"Tapi—"
"BYURR" Dengan segera aku menceburkan diri dan berenang menuju gadis itu. Untung saja dia tidak hanyut lebih jauh karena bajunya tersangkut di ranting pohon yang terletak di pinggir sungai. Gadis itu memakai mantel berwarna hitam dan baju seragam SMP dibaliknya.
Umurnya mungkin sekitar 12 tahun. Tipikal gadis yang baru menginjak usia remaja.
Gila. Air ini dinginnya luar biasa. Aku merasakan dingin yang menusuk tulang dan membuatku kaku. Gawat. Tapi aku harus bertahan. Dengan sekuat tenaga aku berusaha menarik gadis itu menuju ke pinggir sungai.
Setibanya di pinggir sungai, Ayah dan ibuku segera menariknya keatas. Sementara aku berusaha untuk segera mengangkat tubuhku dari air sungai yang dinginnya luar biasa itu. Sepertinya aku bisa mati jika aku berada di dalam air lebih lama dari ini.
Dengan sigap ibuku segera memberikan CPR pada gadis itu hingga terlihat tanda-tanda kehidupan. Air berhasil keluar dari mulut gadis itu.
"Yokatta, Naruto! Jantungnya masih berdetak!" Ibuku terlihat sangat lega.
"Ayo cepat kita bawa dia ke rumah sakit!" Ayah dengan segera mengangkat gadis itu dan memasukkannya ke dalam mobil.
"HUATCHII" Aku menggosok hidungku. Tubuhku gemetaran karena kedinginan. "Tou-san, sepertinya yang butuh ke rumah sakit bukan hanya dia saja."
"Ara!" Okaa-san dengan segera menghampiriku dengan baju ganti dan handuk di tangannya. "Keringkan tubuhmu dan segera ganti bajumu Naruto!"
"Baik, kaa-san!" dengan segera aku mengambil handuk dan baju ganti yang ibuku berikan. Kemudian mencari tempat tersembunyi di dekatku untuk segera berganti baju.
"Naruto! Cepat kita ke rumah sakit sebelum terlambat!"
"Chotto matte!"
.
.
.
"Seandainya gadis ini tidak ditemukan lebih cepat, pasti ia sudah meninggal." Ujar dokter yang tidak kuketahui namanya. "Apa Anda kenalan gadis ini, Tuan?" tanyanya pada ayahku.
"Sejujurnya kami menemukannya tanpa sengaja ketika kami sedang dalam perjalanan keluar kota." Jelas ayah.
"Kalau begitu sebaiknya Anda menunggu hingga gadis ini sadar terlebih dahulu, baru setelahnya kami dapat menentukan langkah apa yang harus kami ambil."
"Baik."
"Kalau begitu kami permisi." Dengan segera sang dokter beserta dua orang perawat yang menemaninya segera berjalan menjauhi kami.
"Hhh—" Aku menghela napas. Sepertinya ini akan menjadi malam yang panjang.
"Naruto, kami harus mengurus kepindahan kita." Ayah dan ibu mendekatiku yang kini sedang duduk di kursi yang ada di samping ranjang. "Otou-san juga harus segera melapor pada atasan dan harus mulai bekerja besok pagi."
"Baik. Baik. Aku mengerti."
"Kami akan datang besok sore. Jaga dirimu baik-baik ya." Ibuku yang khawatiran itu segera mengelus kepalaku. "Makan yang teratur, jangan lupa mandi, jangan jajan sembarangan, dan jangan bertindak macam-macam ya."
"Kaa-san, Aku kan bukan anak SD lagi." Cih. Aku benci jika dianggap anak kecil oleh ibuku. "Lagipula kami hanya akan berpisah satu hari kan? Toh besok juga mereka akan kesini lagi.
"Semua keperluanmu ada di tas koper yang ada di atas meja. Jika kau memerlukan uang, Kaa-san sudah menyimpannya di dompetmu." Kaa-san menambahkan. "Ah, kalau gadis ini sudah sadar bilang padanya kalau ia tidak perlu mengkhawatirkan lagi biaya Rumah Sakitnya karena ayahmu yang akan membayarnya."
Sial. Ayah dan Ibuku memang memiliki hati sebaik malaikat. Bahkan mereka rela membayar biaya Rumah Sakit yang pastinya tidak sedikit ini.
Gadis ini sangat beruntung.
"Kami cinta padamu Naruto." Ayah dan ibu bergantian mencium pipiku. Oh astaga sampai kapan mereka memperlakukanku seperti anak SD?
"Sampai jumpa besok."
"Jaa ne!"
.
.
.
Aku baru saja keluar dari kamar mandi ketika aku melihat gadis itu telah sadar. Matanya berwarna hijau emerald. Ini pertama kalinya aku melihat mata seindah itu. Tapi ada yang aneh dengan mata itu. Mata itu seolah tidak memiliki jiwa.
Hampa.
Kosong.
Itu bukan mata seorang gadis remaja yang seharusnya dipenuhi cahaya dan semangat.
"Kau sudah sadar?" Aku dengan cepat mendekati gadis itu dan mendudukkan diri diatas ranjang gadis itu."Yokatta! Aku kira kau tidak akan bangun lagi."
Seketika rasa penasaran menyerangku. Aku ingin tahu semua tentang gadis ini. Kejadian apa yang menimpanya hingga ia seperti ini?
"Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa hanyut di sungai?" Tanpa sadar aku mencecarnya dengan berbagai pertanyaan. "Namamu siapa? Apakah kau berasal dari Konoha?"
Namun gadis itu hanya diam tanpa reaksi.
"Ah aku lupa memperkenalkan diri, namaku Uzumaki Naruto. Dan kau?" Aku mengulurkan tanganku untu berjabat tangan dengannya namun ia tidak menyambut ulurkan tanganku. Sumpah demi Kami-sama, itu membuatku merasa super awkward. "Oke. Tak apa kalau tidak ingin berjabat tangan. Mungkin kau masih shock dengan kejadian yang menimpamu." Aku tersenyum lebar.
"...ti." gadis itu mengucapkan kata yang sangat sulit untuk didengar
"Hah? Apa yang kau katakan?"
"Ma— ...ti"
"Apa? Siapa yang mati?"
.
"Sebaiknya kau mati saja Haruno."
.
"HAH HAH HAH" Gadis itu tiba-tiba saja mencengkram kepalanya. Tubuhnya bergetar hebat dan napasnya tersengal-sengal.
"MATI! MATI!" Gadis itu mulai berteriak seperti orang gila. "MATI! MATI! MATI!" tangannya dengan kasar mencabut jarum infus di lengan kirinya. Darah mengalir akibat jarum yang dicabut dengan paksa itu. Melihat keadaan yang akan memburuk aku menekan tombol pemanggil dokter berkali-kali namun karena belum juga ada dokter yang datang, membuatku panik hingga akhirnya aku segera berlari keluar pintu dan berusaha memanggil siapapun yang ada di luar.
"DOKTER! Tolong aku!"
"MATI! MATI! MATI! MATI!" Gadis itu berteriak histeris dan mulai membanting barang-barang yang ada di dekatnya. "PRANG!" Ia melempar vas bunga yang terletak di samping ranjangnya. Mataku melebar ketika melihat darah mengalir dari telapak kaki telanjangnya yang menginjak pecahan beling.
"TOLONG!" Aku masih berusaha memanggil dokter. Sebelum akhirnya aku berlari mendekap gadis itu. Ia masih saja meronta hebat sehingga aku terlempar kearah pintu.
"Ada apa ini?" Astaga. Akhirnya datang juga. Para perawat itu segera mencengkram tangan gadis itu. Namun gadis itu masih saja memberontak hingga akhirnya salah satu dari perawat itu menyuntikkan cairan penenang di tangan gadis itu. Tak lama kemudian gadis itu segera kehilangan kesadarannya kembali.
"Ano..." Aku masih shock akibat kejadian ini. "Apa yang terjadi sebenarnya?"
"Maaf, Tuan." Jelas si perawat yang berambut coklat. "Sepertinya nona ini harus dipindahkan ke bagian rehabilitasi."
"Ah, aku masih tidak mengerti suster." Aku masih bingung dengan semua yang terjadi. "Ada apa dengan gadis ini?"
"Melihat reaksinya yang sangat berlebihan, sepertinya gadis ini mengalami trauma hebat sehingga kejiwaannya terganggu."
"Ah— baiklah."
Oh astaga sepertinya masalahku akan bertambah lagi
.
.
.
Sudah seminggu berlalu semenjak gadis ini dipindahkan ke ruang rehabilitasi kejiwaan. Ia masih belum mau bicara sepatah kata pun. Bahkan sudah beberapa kali ia berusaha membunuh dirinya sendiri. Mulai dari membenturkan kepalanya ke tembok, menyayat pergelangan tangannya dengan menggunakan gelas kaca yang dipecahkannya, hingga berusaha lompat dari balkon kamar yang berada di tingkat tiga ini. Aku hampir gila karena aku pun beberapa kali hampir celaka saat berusaha menghentikan dia.
Ayah dan ibu pun sudah hampir putus asa karena sampai saat ini mereka masih belum menemukan siapa keluarga gadis ini. Aku pun sudah hampir menyerah. Lagipula aku juga harus mulai melanjutkan sekolahku di Tokyo mengingat sebentar lagi aku akan menjadi jyuukensei. Ujian masuk universitas di Jepang kan sangat sulit. Aku tidak mau menghancurkan masa depanku hanya untuk gadis yang bahkan asal-usulnya tidak jelas.
Namun tepat disaat aku hendak membuka pintu untuk menyusul ayah dan ibuku keluar, tiba-tiba saja aku mendengar suara gadis itu yang entah kenapa terdengar merdu di telingaku.
"Sakura."
Aku segera berbalik untuk memastikan pendengaranku tidak salah. Aku melihat bibir pucatnya kembali bergerak. "Namaku Haruno Sakura."
Astaga! Akhirnya aku mendengar suaranya yang terdengar sangat normal. "Haruno Sakura-chan?"
"Maaf."
Aku mengernyitkan keningku. Merasa heran karena tiba-tiba saja ia meminta maaf padaku.
"Terima-kasih... Naruto-nii..."
Entah kenapa aku merasa sangat bahagia karena akhirnya ia mau berbicara denganku. "Yokatta! Sakura-chan yokatta!" Aku segera berlari dan mendekapnya erat. Tanpa sadar aku menangis. Membasahi rambut merah jambunya dengan air mataku. Aku bersyukur. Sungguh.
Walaupun aku sempat nyaris putus asa, tapi tetap saja aku merasakan perasaan yang sangat spesial pada gadis itu. Aku menyayanginya seperti adikku sendiri. "Mulai hari ini aku akan selalu melindungimu Sakura-chan. Kau adalah bagian dari keluarga Uzumaki. Kau adalah adikku yang berharga. Jangan menyakiti dirimu lagi."
Aku menatap mata hijaunnya yang entah kenapa terlihat sangat indah hari ini. Aku bisa melihat adanya kehidupan disana. Mata itu bukanlah mata dengan tatapan hampa seperti sebelum-sebelumnya. Tapi itu adalah mata yang sangat hidup.
"Selamat datang." Aku tersenyum lebar. "Uzumaki Sakura."
"Arigatou. Naruto-niisama..."
.
.
.
Naruto POV END
.
.
"Semenjak saat itu, Sakura tinggal bersama keluarga kami di Tokyo. Sakura menjalani therapy nya selama hampir dua tahun sebelum akhirnya kembali melanjutkan studinya." Jelas Naruto. "Kau harus tahu betapa senangnya ia saat ia diterima di Todai."
Sasuke yang merasa terpukul ketika mendengarkan cerita Naruto, masih saja terdiam.
"Sasuke... Uchiha Sasuke—" Sasuke tersentak kaget ketika Naruto memanggil namanya.
"Hn."
"Apalagi yang ingin kau ketahui?"
"Hn. Untuk saat ini tidak ada."
"Ah, dan satu lagi." Naruto mengingatkan. "Jika kau merasa Sakura sedang memiliki masalah, jangan membiarkan Sakura sendirian terlalu lama."
"DEG"
"Itu tidak baik baginya. Lagipula walaupun dokter sudah mengatakan dia sudah sembuh dari penyakitnya tetap saja lebih baik kita mencegah terjadinya hal-hal yang buruk bukan?"
Dan kali ini Sasuke merasa dirinya seolah terhantam sesuatu yang tidak terlihat. Saat ini Sakura sedang menderita karena patah hati dan gadis itu hampir saja diperkosa oleh dirinya.
Bodoh!
Uchiha Sasuke kau bodoh!
"Apa yang terjadi hingga Sakura nyaris tenggelam di sungai kemarin?"
"Ah, itu hanya kecelakaan kecil. Ia terpeleset dan kemudian terjatuh ke sungai." Sasuke berusaha menutupi kenyataan yang sebenarnya dari Naruto.
"Syukurlah kalau begitu."
"Terima kasih." Sasuke bangkit dari duduknya. "Aku harus segera kembali."
"Sampai jumpa Sasuke! Jaga Sakura-chan baik-baik ya!"
"BLAM" Sasuke menutup pintu apartemen Naruto dan segera berlari menuju ke apartemennya.
"Sakura, sebaiknya kau tidak melakukan hal bodoh lagi!"
.
.
.
Kimi No Sei © Akina Takahashi
Published on fanfictiondotnet
Do not copy or publish it on another site without permission
.
.
.
Sasuke mengemudikan mobilnya secepat yang ia bisa. Bahkan ia beberapa kali nyari tertabrak karena melanggar lampu lalu-lintas. Ia tak peduli. Yang penting ia harus segera memastikan keadaan Sakuranya baik-baik saja.
Dengan gusar ia meraih ponselnya dan mencoba menghubungi gadis itu.
"TUUT"
"TUUT"
"Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi. Silakan coba beberapa saat la—"
"PIP"
Ia mematikan sambungan teleponnya dan kembali menerabas mobil-mobil yang ada di hadapannya. Menyetir seperti orang gila sepertinya akan menjadi keahliannya setelah hari ini. Setelah memarkirkan mobilnya di basement Sasuke segera berlari menuju lift dan menekan tombol lift itu menuju ke lantai tempat unit apartemennya berada.
"Kumohon. Kumohon."
"BRAKK"
Sasuke membuka pintu kamarnya dengan kasar. "Sakura!" Ia mengedarkan pandangannya berusaha mencari sosok gadis merah jambu yang sebenarnya telah menjadi cinta pertamanya dulu.
Namun Sasuke tidak menemukan gadis itu dimanapun. Hingga akhirnya ia mendengar gemericik air di kamar mandi. Sedikit merasa tenang karena Sakura mungkin saja kini sedang mandi. Sasuke mengetuk pintu kamar mandi berusaha memastikan keadaan gadis itu.
"TOK TOK"
"Sakura, kau di dalam?"
Hening tak ada jawaban.
"TOK TOK TOK TOK"
"Sakura jawab aku!" Pemuda berambut hitam itu mulai terlihat panik. "Buka pintunya!" tangannya berusaha membuka pintu yang terkunci dari dalam itu.
"BUKA PINTUNYA!"
Masih tak ada jawaban.
Merasa ada yang tak beres, Sasuke segera mendobrak pintu kamar mandinya. Ia membenturkan bahunya dengan sekuat tenaga hingga akhirnya pintu itu terbuka.
Betapa kagetnya ia ketika ia melihat Sakura tak sadarkan diri di Bathtub dengan air berwarna merah menggenangi seluruh tubuh telanjang gadis itu. Mata gadis itu tertutup. Bibirnya berwarna kebiruan. Darah mengalir hebat dari urat nadinya yang terpotong. Sementara di lantai kamar mandi tergeletak pisau buah yang sepertinya digunakan Sakura untuk menyayat nadinya sendiri.
"Tidak. Tidak. TIDAK!" Sasuke dengan panik segera mengangkat tubuh Sakura dan melilitnya dengan jubah mandi yang tergantung di kamar mandi. "SAKURA!" Sasuke menyentuh wajah Sakura yang mulai mendingin. Wajahnya pucat dan parahnya gadis itu tidak bernapas.
"SAKURA!"
-TSUZUKU-
Haii semuaa~! akhirnya saya bisa mengupdate cerita drama ini setelah sekian kasih atas kesetiaan para readers yang sudah mau menunggu kelanjutan Kimi No Sei. Maaf kalau ada kesalahan dalam penulisan terutama hal yang berkaitan dengan istilah kedokteran atau apapun karena itu memang bukan bidang saya dan saya ga sempat baca-baca soal itu walaupun ada kaitannya dengan fanfiksi saya. Gomeeenn~~
Sekali lagi terima kasih buat yang sudah mau membaca. Berdasarkan perkiraan saya, mungkin Kimi No Sei akan tamat dalam dua chapter lagi. Jadi, sampai jumpa di chapter depan!
Q/A Section
metta. : Pernah jadi self harmer? Whoa, seram. Saya ga tahu apa yang pernah terjadi sama kamu tapi sebaiknya kamu ga melihat hidup dari satu sisi saja. Pasti ada sisi positif yang bisa kamu ambil di setiap kejadian yang ada. Tetap semangat dan bahagia selalu ya!
Luca Marvell : Sakura ga kepikiran buat hypnotherapy karena yang ada di pikirannya saat ini cuma pernikahannya Naruto dan kemunculan Sasuke kembali.
Yoshi Funf-kun : Sasuke agak OOC karena saya ingin menggambarkan sosok dia yang lain. Sosok yang sayang dan care banget sama Sakura, selain karena dia juga ngerasa bersalah sama Sakura.
Arisha Kyou : Happy atau sad ending ya? Silakan lihat kelanjutannya dua chapter ke depan. Sedikit spoiler, saya ingin menyelesaikan fic ini dengan ending yang pas. Tidak terlalu happy juga tidak sad. Hehehe.
Semoga rasa penasaran kalian semua terjawab di chapter ini :D
With Love,
Akina Takahashi
