DISCLAIMER :
Togashi-Sensei
Runandra
SUMMARY :
Sekuel 1001 Nights. Lima tahun sudah berlalu sejak Kuroro dan Kurapika berpisah di Desa Kuruta, namun sosok baru pun muncul mengacaukan kedamaian sementara dan keseimbangan rapuh yang terbentuk di antara mereka.
WARNING :
FemPika. Typo.
CHAPTER 9: HIGANBANA
Malam itu begitu damai dan tenang. Begitu tenang hingga Kurapika mulai bertanya-tanya apakah dia telah memasuki dunia roh dengan tanpa izin atau tidak. Dia sadar betul bahwa di negeri itu, batas di antara dunia roh dan dunia manusia sangatlah tipis. Siapapun juga bisa saja tersandung masuk ke dalam dunia roh karena keberuntungan semata—atau malah karena tidak memiliki keberuntungan sama sekali. Dan lagi…
Kurapika ingat bahwa dirinya terbangun di tengah malam. Dia ingat dirinya mendengarkan suara napas penghuni lain kamar itu sambil menatap partisi yang memisahkan pria tersebut dengannya. Napasnya teratur dan tenang, menandakan bahwa dia telah tertidur. Dia ingat dirinya menyelinap keluar dari kamar setelah menyampirkan sehelai kimono tebal di luar kimono tidurnya. Dia ingat dirinya berjalan tanpa tujuan di sepanjang rōka; lorong kayu yang ada di sepanjang bangunan itu, menuju ke halaman belakang kuil, seolah dirinya tahu ke mana ia akan pergi, padahal sebenarnya tidak. Pada akhirnya, Kurapika mendapati dirinya berdiri di tengah jembatan kayu, di hadapannya terhampar sebuah taman bunga berwarna merah yang mekar penuh.
Kurapika terpesona dengan bagaimana taman tersebut terlihat bersinar merah di tengah kegelapan malam, ia melangkah menuruni jembatan dan memasuki taman. Tak ada jalan setapak di sana, menandakan bahwa taman itu bukanlah tempat untuk berjalan-jalan. Angin malam yang dingin pun bertiup dan bunga-bunga bergoyang mengikuti ritme angin. Kurapika membungkuk mengamati bunga-bunga itu.
Bunga tersebut berwarna merah sepenuhnya, kecuali tangkainya yang hijau pucat. Tangkainya hanya sedikit terlihat dari bawah lautan bunga merah bertepi lebar itu. Bunganya mirip dengan bunga lili, namun ada sambungan yang tipis, sepertinya itu adalah benang sari bunga tersebut, meliuk dengan anggunnya mengarah ke surga, bagai mangkuk yang memohon berkah dari Para Dewa di atas sana.
Kurapika menyentuh kelopaknya dengan ujung jari, suatu sentuhan yang lembut dan hati-hati. Dia tahu tanaman ini. Yaitu…
"Kurapika."
Dia menoleh ke arah suara itu berasal, merasa terkejut karena sebelumnya dia tidak mendengar atau merasakan ada orang yang menghampirinya. Wanita itu merasa sedikit tenang kala melihat sosok yang ia kenal tengah berdiri di atas jembatan.
"Apa yang kau lakukan di sini, tepat tengah malam begini?" Kuroro bertanya, suaranya dalam dan pelan—seolah berhati-hati agar suaranya tidak mengusik ketenangan malam itu.
Kurapika hanya menatapnya sebelum ia memalingkan wajah, mengabaikan pria berambut hitam itu sepenuhnya. Kuroro tetap diam di tempatnya berdiri, mengamati sang wanita muda yang bermandikan keindahan bunga-bunga merah itu. Pemandangan di depannya bagaikan mimpi tatkala ia pertama melihatnya, dia pikir dirinya tengah berhalusinasi—bermimpi, lebih tepatnya. Kuroro sedikit terbangun setelah Kurapika diam-diam menyelinap keluar dari kamar. Pria itu tak menemui kesulitan saat melacaknya, dengan Nen-nya yang tertinggal dalam diri Kurapika, yang dengan cara tertentu berfungsi sebagai alat pelacak.
Hampir saja Kuroro menyesal telah memanggilnya karena sekarang suasana santai ini sepertinya telah rusak dan tak akan pernah sama lagi. Namun demikian, dia memiliki kesan bahwa Kurapika terlihat seolah dirinya memang sudah seharusnya berada di sana: seorang wanita muda berambut emas di tengah lautan bunga berwarna merah. Sangat cocok dengannya—khususnya saat pria itu membayangkan Kurapika menatapnya dari tempat itu dengan Mata Merah.
Kuroro memutuskan untuk bergabung dengan lamunan Kurapika di antara bunga-bunga merah itu, diam-diam dia menghampirinya. Dia meluncur melintasi taman dan berdiri tepat di sampingnya. Kurapika masih mengabaikannya seolah pria itu tak berada di sana.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Kuroro lembut.
Dia tak langsung menjawab. Dari matanya, terlihat dia masih melamun, sebelum akhirnya dia menjawab dengan suara berbisik.
"…Aku tahu bunga ini."
Kuroro memutuskan untuk tidak menanggapi dengan kata-kata, bukannya melakukan itu, dia menatapnya; memberinya perhatian penuh.
"Bunga ini disebut Lili Laba-laba Merah, atau Lycoris radiate dalam nama Latinnya. Dalam bahasa ibu di negeri ini, bunga-bunga itu punya beberapa nama: higan-bana; yang artinya bunga akhirat, shibito-bana; artinya 'bunga orang mati', sutego-bana; artinya 'anak bunga yang ditinggalkan', yuurei-bana; yang secara harfiah berarti bunga iblis, dan masih banyak lagi nama lainnya…"
Cara Kurapika berbicara seolah dia tengah mengucapkan pidato yang telah dilatih sebelumnya. Kuroro menatapnya sejenak, sebelum akhirnya menatap hamparan luas bunga merah di hadapannya. Setelah mendengar penjelasan Kurapika, sepertinya dia melihat bunga-bunga itu dengan cahaya yang berbeda sepenuhnya.
"Nama-nama yang menyedihkan…" Kuroro bergumam tanpa sadar. Dengan satu tangan, dia menggapai menyentuh kelopak bunga yang ada di dekatnya. "Mengingat bunga-bunga ini sangat indah."
Sama seperti Mata Merah…pikir Kurapika pahit. Mata Merah sangat dipuja karena keindahannya, yang pada akhirnya membawa tragedi bagi kami Suku Kuruta. Karena Mata Merah begitu indah… Keindahan itu menjadi asal muasal penghancuran kami.
Dia mendongak menatap langit malam berbintang di atasnya, tanpa awan sedikit pun menutupi bintang bersinar yang bertebaran di seluruh langit yang gelap. Ada cahaya keemasan di sekeliling bulan yang berwarna perak. Ketika waktu panen telah tiba di musim gugur ekuinoks, bulan pun bulat sempurna dan bunga-bunga higan-bana mekar sepenuhnya. Malam itu adalah malam yang megah—ketika bulan purnama dan bunga-bunga berada di puncak keindahannya yang seolah berasal dari dunia lain.
Tak ada yang namanya kebetulan semata saat mereka berdua terbangun malam itu. Seolah mereka sengaja direncanakan untuk menyaksikan malam aneh tersebut. Namun, itu hanyalah suatu hal yang bersifat sementara di dunia ini.
Apakah hal-hal yang indah… Kurapika merenung, ditakdirkan untuk berumur pendek?
Lamunannya terputus saat sepasang jari—jari jempol dan telunjuk—menyentuh dagunya dan membuatnya sedikit memiringkan kepala. Dia dipaksa untuk berhadapan langsung dengan Kuroro, dan terlihat ekspresi penasaran di wajah pria itu. Dia bahkan tak mau bersusah payah untuk menutupinya. Seolah hal tersebut sama sekali tidak masalah. Ada sedikit kernyitan di antara kedua alis matanya, dan ada kilatan misterius di mata hitamnya yang begitu gelap seolah tanpa dasar.
Pandangan Kurapika bergerak dari matanya yang memikat ke tanda lahir di keningnya. Tanda itu dibiarkan terbuka hingga dunia bisa melihatnya, namun kemudian dunia Kuroro hanya terdiri dari padang bunga higan-bana dan Kurapika saja. Melihat wajah pria itu, kelihatannya seolah dia sendiri bukanlah bagian dari dunia ini. Seolah dia adalah roh gaib dari kehidupan setelah mati—rambut hitam, mata hitam, dan mengenakan kimono sehitam tinta—yang datang mengunjunginya, entah bagaimana.
Di sisi lain, Kuroro merasa bahwa Kurapika hampir terlihat seperti roh perwujudan dari bunga-bunga higan-bana itu. Tanpa Kurapika sadari, matanya berubah menjadi merah dan mata itu, untuk alasan tertentu, bersinar dalam cahaya yang seolah berasal dari dunia lain hingga Kuroro terdorong untuk menggerakkan wajah wanita itu ke arahnya agar dia bisa memandang Kurapika sepenuhnya. Dia tak tahan untuk tidak mengagumi mata itu secara terang-terangan. Dia tahu bahwa Mata Merah Kurapika selalu berbeda, namun kali ini lebih…istimewa.
Yang lebih bagus lagi adalah kenyataan yang menyenangkan bahwa Kurapika tidak menepiskan tangannya dengan kasar seperti yang biasa ia lakukan.
Untuk sesaat, waktu seolah berhenti entah sampai kapan.
Lalu, bagai adegan dalam panggung sandiwara, mereka berdua melihat sosok lain dari balik tubuh mereka masing-masing. Keduanya saling memalingkan wajah untuk mengenali siapa pendatang baru itu. Di belakang Kuroro, Kurapika melihat sebuah sosok yang tampak hampir seperti kembarannya. Di belakang Kurapika, Kuroro melihat sosok feminin yang memiliki penampilan mirip dengannya. Kuroro dan Kurapika sama-sama menahan napas saat mereka menyadari siapa yang tengah mereka lihat.
Di kamar pribadinya, Kuzunoha sedang memainkan koto-nya dengan anggun dan piawai, matanya terpejam. Dia bisa merasakannya, kedatangan fenomena yang jarang sekali terjadi; namun dia tak punya hak untuk menyaksikannya. Sungguh memalukan. Satu-satunya hal yang bisa dia lakukan adalah memainkan koto saat bunga higan-bana memainkan sihirnya.
"Semuanya karena mereka berdiri di padang bunga yang disebut 'bunga akhirat'." Dia berbisik entah pada siapa.
"Kurasa ini waktunya bagi mereka untuk berdamai dengan hantu masa lalunya." Kata Suzaku, yang telah menemani Sang Kepala Pendeta Wanita sejak dia mulai memainkan koto-nya.
Dia berdiri di taman di samping kamar Kuzunoha, matanya yang berwarna keemasan menatap jauh ke arah di mana padang bunga higan-bana berada. Dia tak bisa melihatnya, namun dia punya tebakan bagus mengenai apa yang sedang terjadi di tempat yang membingungkan itu.
Makhluk kardinal lainnya pun hadir. Genbu duduk di ambang jendela shoji Kuzunoha yang terbuka, punggungnya bersandar ke kusen yang terbuat dari bambu, kedua tangannya diselipkan ke dalam lengan kimono. Byakko; yang duduk bersila di salah satu sudut kamar dan menyilangkan tangannya, hanya mengangguk dengan sungguh-sungguh, setuju atas ucapan Suzaku tadi. Seiryuu berbaring tengkurap di atas lantai tatami dengan kedua tangan menyokong wajah pucatnya yang bersemu kebiruan, tatapan mata kobaltnya yang terlihat bosan menatap bulan yang berkilau keperakan dengan muram.
"Aku bertanya-tanya apakah mereka akan menyadari bahwa bunga-bunga itu hanya menunjukkan ilusi saja..." ucapnya lambat dengan hampir terkantuk-kantuk.
"Khayalan. Sederhananya, itulah yang sedang mereka lihat saat ini; sosok orang mati yang keluar dari kenangan mereka sendiri," kata Genbu dengan cerdasnya. "Bunga-bunga itu menunjukkan orang mati seperti bagaimana mereka mengingatnya."
"Manusia dilahirkan untuk mati pada akhirnya. Mereka datang dan pergi dalam hidup ini. Di padang itu, mereka dikonfrontasi khayalan tentang orang-orang mati yang mana mereka belum bisa berdamai dengan kematiannya," Byakko bergumam.
Saikyō; perfektur yang menaungi Kuil Fushimi Inari, bertempat di pusat kota itu—tempat yang disebut sebagai jantung kotanya. Saikyō sama sekali tidak berada di bawah yurisdiksi Empat Dewa Shishin manapun. Di malam itu, di puncak ekuinoks musim gugur saat bunga higan-bana dan bulan berada pada puncaknya, keempat makhluk kardinal akan berkumpul di padang tersebut dan bersenang-senang—di mana hal ini melibatkan sake—bersama-sama. Namun, sepertinya tahun ini mereka harus menunda pesta itu. Lagipula, mereka sudah berpesta ratusan kali.
Aku benar-benar menantikan esok pagi, pikir Sang Phoenix dengan seulas senyum terbentuk di wajahnya yang tampak sempurna.
Kurapika tak bisa mempercayai penglihatannya. Apakah itu benar-benar kakaknya yang berdiri di sana? Sosok itu kini terlihat lebih muda darinya—itu adalah gambaran kakaknya yang ia ingat terakhir kali sebelum kematiannya. Waktu itu, kakaknya baru berumur 17 tahun, dan sekarang Kurapika sudah berumur 24 tahun. Sudah lebih dari 10 tahun berlalu sejak pembantaian sukunya.
Angin bertiup di sekitar mereka, menggoda bunga-bunga merah itu sementara udara pun sepertinya membawa serta aroma kehidupan setelah mati. Kurapika berdiri diam di tempatnya, tak tahu harus bagaimana. Dia tercabik antara bergegas menghampiri penglihatan atas sosok kakaknya atau berdiri teguh di sana. Dia takut jika sekalinya dia mendekati hantu itu, hantu itu akan berubah menjadi bukan apa-apa sama sekali melainkan ilusi semata; fatamorgana. Matanya tertuju pada sosok yang bersinar itu, dan kemudian dia menyadari bahwa wajah kakaknya menampakkan ekspresi yang tenang. Kurapika melihatnya menggerakkan bibir walaupun sangat perlahan. Kurapika tak bisa mendengar suaranya, tapi dia bisa membaca gerakan bibir, membaca pesan yang berusaha disampaikan kakaknya.
Aku... Kurapika membaca pesan itu di dalam hati; jantungnya berdegup sangat kencang hingga dia hampir bisa mendengarnya. Bahagia...untuk...mu...
Mata Kurapika terbelalak tak percaya.
Aku bahagia untukmu.
Mulutnya tak bisa tidak menganga saat otaknya berusaha untuk memproses pesan itu. Apa artinya? Kenapa kakaknya memberitahukan hal itu? Apakah ada yang membuatnya bahagia? Ketika pertanyaan itu berputar di kepalanya, bayangan kakaknya tersenyum padanya. Melihat senyum itu, Kurapika pun teringat kata-kata kakaknya saat terakhir kali rohnya mendatanginya. Waktu dia telah melihat kepala kakaknya yang dipenggal, di mana dia kehilangan banyak darah setelah serangannya yang gila terhadap Kuroro.
Ada kebahagiaan yang melimpah di sekitarmu.
Seiring dengan teringat kembali dirinya akan kalimat itu, wajah-wajah tertentu mulai berkelebat di depan matanya. Sama seperti terakhir kali; dengan tambahan wajah yang dia kenal selama lebih dari beberapa tahun yang lalu. Akhirnya, ada dua wajah yang meninggalkan kesan terdalam : Kuroro Lucifer dan Meta.
Seolah merasakan bahwa Kurapika akhirnya memahami arti pesan yang dia sampaikan, hantu kakaknya mulai berkedip-kedip. Kelihatannya hampir statis, seperti proyeksi hologram yang mengabur.
"Tidak... Tidak, tidak, tidak..." Kurapika berkata berulang kali dalam helaan napasnya, tak mau melihat kakaknya kembali menghilang di depan mata.
Dia baru saja setengah melangkah maju ketika tiba-tiba dia melihat sosok itu menggelengkan kepalanya dengan sungguh-sungguh. Hantu tersebut semakin menipis, dimensinya berserakan di seluruh tempat itu. Wajah Kurapika memucat saat dirinya melihat hal ini, dan dia harus mengumpulkan ketegasan diri yang dia punya untuk tidak bergegas menghampiri sosok kakaknya yang mengabur. Bahkan hingga saat terakhir, kakaknya terus tersenyum dengan lembut.
Tepat saat sosok sang kakak menguap sepenuhnya dan menghilang ke dalam ketiadaan, Kurapika mendengar suaranya seolah suara itu beresonansi di dalam kepalanya.
Tempatmu di sana...
Kata-kata sederhana itu membuat Kurapika terisak. Bahunya gemetar saat dia berusaha mengendalikan air mata yang akan mengalir deras, namun tiba-tiba sepasang tangan merengkuh lengannya.
"Kau melihat kakakmu?" Terdengar suara Kuroro yang teratur dan terlatih.
Mereka yang tak mengenal pria itu pasti akan berpikir bahwa dia adalah orang yang tenang dan kalem, tapi Kurapika bisa merasakan kegelisahan di nada suaranya—dan ada sesuatu yang lebih dari itu. Mendadak Kurapika menyadari bahwa Kuroro mungkin juga telah melihat hantu sama sepertinya, wanita itu berbalik hendak melihat apa yang telah dilihat Kuroro namun tak ada apapun di padang itu.
"Dia menghilang," ucap Kuroro singkat.
Pernyataan itu diucapkan seolah untuk membenarkan tebakan Kurapika bahwa memang Ishtar dari Ryuusei-gai yang telah dilihatnya. Tentu saja. Kurapika seharusnya sudah tahu itu, daripada menduganya. Namun...
Kurapika mengambil satu langkah ke belakang agar dia bisa memeriksa wajah Kuroro. Kurapika sungguh terkejut melihat wajahnya sama sekali tak menunjukkan emosi apapun. Dia kira setidaknya Kuroro akan sedikit terganggu—sejak Kurapika tahu bahwa pria itu telah gagal memenuhi permintaan Ishtar di akhir hidupnya: yaitu untuk memanggilnya 'Ibu'—tapi tidak. Tak ada apapun di wajahnya. Seolah dia sedang memakai topeng beku, bahkan matanya terlihat berubah menjadi muram dan tak berjiwa. Wajahnya begitu kosong dan tanpa emosi, hal itu hampir saja membuat Kurapika takut. Kurapika tahu, kadang Kuroro bisa menjadi orang yang sangat tabah, tapi tidak begini.
"Ayo kembali," Kuroro berkata dengan suara yang terdengar sangat netral dan hampir membuat Kurapika tersentak.
Walaupun suaranya terdengar lembut, rasanya begitu memekakkan di telinga Kurapika. Angin berhenti bertiup untuk sesaat—sejak itu, dia tidak bisa benar-benar mengingatnya. Tempat itu menjadi sangat sepi. Fisiknya masih labil karena konfrontasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan hantu kakaknya, Kurapika hanya bisa patuh saat Kuroro mendorongnya dengan lembut ke arah jembatan dengan memegangi bahunya.
Mereka berjalan dalam diam, bahkan saat mereka berdua memasuki kamar. Kurapika menyeret kakinya menuju futon yang terhampar di lantai, tapi dia tidak menggerakkan badannya untuk masuk ke dalam selimut. Dia hanya menatapnya, seolah benda mati tersebut menunjukkan giginya yang tak terlihat ke arah Kurapika. Di lain pihak, Kuroro tetap berdiri di tempatnya setelah dia menutup pintu shōji di belakangnya. Kurapika melirik pria itu, merasa ragu apa yang harus ia lakukan kemudian. Apakah dia kembali tidur saja, atau...?
"Kuroro?" Kurapika bertanya dengan suara pelan.
Kuroro tidak menanggapi. Saat itu terjadi, yang dia lakukan hanyalah mengangkat kepalanya sedikit sementara punggungnya masih membelakangi Kurapika. Lalu, sesaat kemudian, dia berkata seolah tengah bicara sendiri:
"Memiliki ikatan adalah hal yang merepotkan..."
Sebelum Kurapika bisa mengartikan maksud dari kata-katanya, Kuroro sudah ada tepat di hadapannya. Hal berikutnya yang diketahui wanita itu, dia ditenggelamkan ke dalam gelapnya tidur yang tak bermimpi. Lututnya melemas saat kesadarannya menyelinap pergi, tapi sebelum dia terjatuh ke lantai, Kuroro menangkapnya.
Pria itu duduk di lantai dan memposisikan Kurapika hingga kepalanya bersandar di dadanya. Kuroro telah memukul tengkuknya dengan kecepatan yang luar biasa, bahkan Kurapika pun gagal menyadarinya—dalam kondisi biasa, mungkin Kurapika tahu tapi dia pun terlalu teralihkan dengan begitu banyak hal di sekelilingnya—hanya dengan tenaga yang cukup untuk membuatnya pingsan tanpa mengakibatkan cedera apapun. Bukan hal yang mudah untuk dilakukan, tapi Kuroro berhasil melakukannya tanpa kesulitan sedikit pun. Dia telah sengaja melakukannya demi alasan yang hendak dia lakukan, hal yang mungkin termasuk 'pelanggaran privasi' menurut standar Kurapika. Wanita itu akan memberinya masa yang sulit, oleh karena itu Kuroro memutuskan untuk melakukannya saat Kurapika tak sadarkan diri.
Bukannya dia hendak melakukan sesuatu yang tak bermoral atau apapun itu. Satu-satunya hal yang akan Kuroro lakukan adalah mengambil Nen-nya yang tertinggal di dalam diri Kurapika.
Ketika pria itu tengah berada di padang bunga higan-bana, dan ketika dia dipertemukan dengan ilusi mengenai Ishtar yang dikeluarkan oleh sihir bunga-bunga tersebut—suatu kenyataan yang tak ia sadari—dia ingat seberapa kuat ikatannya dengan wanita yang telah meninggal itu. Dia hanya menyadarinya ketika Ishtar mati karena ia bunuh bertahun-tahun yang lalu. Perasaan kehilangan ketika Ishtar mati membuatnya sangat gelisah hingga dirinya tidak mau lagi punya ikatan dengan apapun.
Dengan Nen-nya berada di dalam diri Kurapika sama saja terus-menerus menghadirkan wanita itu dalam pikirannya. Bahkan saat mereka hidup saling berjauhan lima tahun lamanya, dengan sengaja dia menahan kehadiran itu ke bagian terjauh dalam pikirannya. Dia tak mau mengalami rasa kehilangan yang sama lagi nantinya. Dia hanya ingin menghindari apa yang bisa dihindari.
Kuroro menunduk melihat Kurapika yang tak sadarkan diri dalam pelukannya. Napasnya teratur, terasa dadanya terus bergerak naik turun saat dia bernapas karena tubuhnya bersandar ke tubuh pria itu. Tanpa sadar, Kuroro mengangkat sebelah tangannya dan mulai membelai rambut emas Kurapika. Dia menenggelamkan wajahnya ke rambut emas yang tebal dan kusut itu, menghirup aromanya yang samar. Perlahan, dia perkenankan Nen-nya untuk bangkit dan menyelimuti mereka berdua. Akan lebih mudah dilakukan jika Nen Kurapika sedang aktif, tapi untuk saat ini, Kurapika yang sedang pingsan lebih bisa diajak bekerjasama daripada saat dia terbangun.
Setelah membenamkan Kurapika sepenuhnya ke dalam Nen, kilauan energi itu pun menemukan saluran yang dapat menghubungkannya dengan Nen Kuroro yang ada di dalam diri Kurapika. Mengikuti saluran itu, Kuroro mencoba menggali inti Nen-nya yang ada di sana. Bagai menyelam di lautan cairan padat. Nen Kurapika begitu kuat dan tersembunyi, penuh dengan potensi dan kekuatan. Sebuah kernyitan terbentuk di dahi Kuroro saat dia harus lebih berusaha lagi untuk menemukan Nen-nya; Nen Kurapika menolak serangannya. Ketika Kuroro menemukan Nen-nya di dalam genangan Nen Kurapika, Kuroro Lucifer menghadapi suatu dilema yang besar.
Secara logika, dia ingin mengakhirinya. Pada kenyataannya, entah bagaimana Nen-nya di dalam diri Kurapika masih utuh dan dia akan bisa mengeluarkan Nen-nya dengan mudah dari tempat di mana Nen Kurapika tersimpan, namun dia tak tega melakukannya. Dia merasa, akan sangat disayangkan jika dirinya mempersulit hubungan yang sudah terbangun beberapa tahun yang lalu di antara dirinya dan gadis itu begitu saja.
Jika Kurapika mendengar pemikirannya ini, dia pasti akan mencercanya dengan mencemooh:
Kau, yang telah mengambil banyak nyawa bahkan dengan tanpa berkedip sedikit pun, punya hak apa untuk bicara tentang perasaan?
Kuroro mendengus pelan saat dirinya seolah bisa mendengar suara cercaan Kurapika di dalam pikirannya. Apakah itu tandanya dia bisa 'lebih mengetahui' karena dia mulai bisa mendengar suara wanita itu dalam pikirannya dan membayangkan pilihan kata-kata yang akan ia ucapkan dengan mudah?
"Sejujurnya...," Kuroro berbisik.
Dia menundukkan kepalanya lebih dalam hingga bibirnya berada di atas telinga Kurapika, lalu menyandarkan pipinya ke pelipis Kurapika. Begitu seterusnya, sambil menarik kembali Nen-nya dari Kurapika dengan tenang. Dia benar-benar memutuskan untuk meninggalkan Nen-nya di dalam diri Kurapika, meski dia harus mendapatkan alasan untuk hal itu—sambil dia harus menemukan alasan sebenarnya untuk tindakannya ini. Dia telah berusaha menjauh dari wanita itu secara fisik, hanya untuk bertemu kembali walaupun dengan kondisi yang...sangat unik. Kini saat dirinya punya kesempatan untuk mempersulit hubungan yang disebut hubungan spiritual, dia malah tak bisa melakukannya.
Kuroro memejamkan matanya perlahan, mempererat pelukannya di tubuh Kurapika yang lemah.
"Apa yang harus kulakukan padamu?"
Kuroro Lucifer benar-benar kalah kali ini.
Langit malam begitu terang, sama sekali tak ada awan yang menutupi bulan purnama dan bintang dari pandangan. Meskipun sudah menjadi hantu, Pakunoda masih bisa menikmati indahnya perasaan saat berada di bawah cahaya bulan yang bersinar keperakan. Pakunoda bertanya-tanya apakah Danchou-nya pun tengah melihat bulan yang sama, di suatu tempat lain di muka Bumi ini.
Lalu pikirannya berbelok dari Danchou-nya ke Si Pengguna Rantai. Dia ingat saat dirinya membuntuti Si Pengguna Rantai—mengikuti pemuda itu sepanjang hari, tetap berada di sisinya untuk mengawasi apa yang akan dia lakukan mengenai Genei Ryodan sebelum kematiannya. Sungguh, saat itu tujuannya bukanlah untuk menyiksa Kurapika. Kemudian itu terjadi begitu saja. Kurapika paranoid dan mengira hantunya dan hantu Uvogin ada di sana untuk membuntutinya. Pakunoda hanya ingin tahu apa yang akan terjadi setelah kematiannya. Lalu kenapa dia tidak mengikuti Kuroro?
Dia tak bisa.
Pada akhirnya, dia menyadari bahwa kekhawatirannya bukan tentang kebaikan Kuroro saja. Tapi lebih kepada apa yang akan dilakukan rekan-rekannya setelah mendapatkan rahasia pemuda rantai itu—informasi yang mereka dapat sebagai pertukaran nyawanya. Akankah mereka menyia-nyiakannya atau memanfaatkan rahasia itu untuk menghormatinya? Jauh di dalam hatinya, bahkan di alam kematian, Pakunoda tahu bahwa Kuroro akan baik-baik saja. Dia akan selalu baik-baik saja selama tidak melibatkan Si Pengguna Rantai—atau siapapun dia, yang ia percayai pada saat itu.
"Meong..."
Suara yang lembut itu hampir membuatnya terkejut. Dia berbalik dan disapa oleh sepasang mata licik yang menatap langsung ke arahnya. Dia ingat mata itu. Dia ingat kucing itu. Itu adalah kucing yang ia bawa saat berjalan kembali ke Markas Besar sebelum kematiannya.
Apa kau ingat padaku? Pakunoda bertanya kepada kucing itu dengan suara yang mengerikan. Mendadak, dia merasa konyol dengan tindakannya sendiri. Tentu saja kucing itu tak bisa mendengarnya. Lagipula, dia cuma hantu—sisa tanpa raga dari dirinya di masa lalu.
"Meong..." kata kucing itu sambil menghampiri sosok Pakunoda yang melayang.
Atau dia bisa mendengarnya?
Penasaran, Pakunoda berjongkok dan mengulurkan tangan untuk membelai kucing itu. Kucing tersebut tidak bergerak, dan masih tidak bergerak saat tangan Pakunoda menembus tubuhnya. Bayang kesedihan terlintas di wajah tembus pandang wanita itu. Lalu samar-samar dia bertanya-tanya apakah kucing itu tinggal di sana karena dia telah membawanya ke tempat tersebut lebih dari delapan tahun yang lalu. Jika benar, Pakunoda sungguh merasa tersentuh dengan pemikiran sederhana itu.
Dan lagi, aku pun pernah tinggal di sini... Dia bergumam pada dirinya sendiri.
Lalu kenapa dia memutuskan untuk berlama-lama di tempat itu, melekat pada tempat kematian dan kuburannya sendiri? Mungkin ada keterikatan dari dirinya—ikatan dengan Markas Besar Genei Ryodan yang banyak menaungi pertemuan-pertemuan mereka, dan juga ikatan terhadap 'tempat persemayamannya' di mana dengan mulianya dia mengorbankan hidupnya demi berbagi informasi penting bersama rekan-rekannya; rekan yang lebih seperti keluarga baginya. Dia tak pernah mengira bahwa dia akan mampu melakukan tindakan yang masuk akal itu.
Dan lagi, mungkin keterikatannya terhadap dunia fana sama sekali bukan karena keterikatan yang ia miliki. Dia ingat dirinya terikat dengan dunia fana, tak bisa naik ke 'akhirat' atau apapun orang menyebutnya. Sepertinya, dengan seringnya dia merenungkan hal itu saat ini, bahwa seseorang masih belum bisa melalui kematiannya yang keji.
Tapi siapa? Dia merenung. Siapa yang akan begitu menangisi kematianku hingga hal itu mengikat jiwaku ke dunia manusia?
Dia memikirkan kemungkinannya.
Danchou? Dia akan sungguh merasa terhormat jika memang itulah masalahnya, tapi tidak. Dia tahu dengan baik bahwa Kuroro Lucifer bukanlah pria yang akan terlalu memikirkan kematian seseorang. Pria itu akan segera melaluinya—tapi hanya setelah dia memastikan bahwa 'keadilan' telah ditegakkan. Sama seperti kasus Uvogin. Dalam kasusnya...yah...
Aku bertanya-tanya apa yang Danchou pikirkan tentang kematianku? Tanpa sadar Pakunoda merenung, namun tidak memikirkannya lebih jauh.
Anggota Laba-laba yang lain? Tidak, dia meragukan hal itu. Mereka, termasuk dirinya, tahu betul apa pekerjaan mereka termasuk aksi mematikannya. Bahkan jika salah seorang dalam kelompok mereka mati, mereka akan melupakannya begitu saja dengan kenyataan bahwa orang yang mati itu terlalu lemah untuk mempertahankan diri. Mereka pantas mendapatkannya. Itu saja.
Siapa lagi? Dia tak punya keluarga yang menangisinya, tak ada orang-orang tercinta—tentu 'cinta' tak ada dalam kamus Genei Ryodan—yang bersedih atas kematiannya. Genei Ryodan adalah satu-satunya keluarga bagi Pakunoda, tapi tentu saja bukan keluarga biasa. Meski dia peduli kepada mereka, mereka bukan 'orang-orang tercinta' seperti menurut standar kebanyakan orang. Seolah mereka berkumpul karena kesamaan kondisi dan bukannya hal lain.
Siapa?
Hanya ada satu orang yang terpikir olehnya, mungkin kelihatannya tak bisa dipercaya.
Kurapika Kuruta.
Pembunuhnya.
Pakunoda ingin tertawa atas ironi tersebut saat menyadari bahwa ini adalah alasan yang paling mungkin, menggelikan dan kontradiktif seperti kedengarannya.
Masih merasa bersalah atas kematianku, Kurapika Kuruta? Bagi seorang pembunuh, kau adalah suatu kegagalan, pikirnya sambil menatap langit malam.
Pada saat itu, si kucing sudah meringkuk di samping kaki Pakunoda; terlihat begitu nyaman dan senang.
Cepat dan bangkitlah, dasar kau gadis bodoh.
Jika hantu bisa meneteskan air mata, pasti Pakunoda sudah melakukannya.
"Shalnark?"
"Ya?"
"Laba-laba yang kubunuh...selain Pakunoda..."
"Maksudmu Uvo?"
"Ya, dia. Apa kau dekat dengannya?"
"Hm...begitulah. Kenapa?"
"Yah...kurasa aku diharuskan untuk memberitahukan hal ini padamu..."
Mengikuti percakapan itu, kemudian Kurapika memberitahunya ke mana mencari kuburan Uvo di gurun tempat mereka bertarung sampai mati. Kurapika sudah secara khusus berkata padanya untuk tidak memberitahu Kuroro di mana kuburan itu berada. Saat ditanya, dia hanya menjawab bahwa dirinya sudah berjanji untuk membawanya sendiri ke sana. Ketika Shalnark mendengarnya, pemuda itu tertawa di dalam hati atas ironi tersebut.
"Dia memanggilnya musuh, tapi dia teguh pada janji yang dia buat dengannya. Aneh, ya?"
Malam itu terasa sejuk dan anginnya dingin. Suara debu terusik oleh angin dan terseretnya kotoran di bawah kakinya hanyalah satu-satunya suara yang bisa terdengar di sekitar daerah itu. Bahkan suara berisik dari Kota Yorkshin—kota metropolitan yang tak pernah tidur walau hanya sekali—tenggelam dalam kesunyian gurun. Ketika Shalnark sampai ke suatu gundukan kecil di titik tertentu di gurun itu, terlihat seulas senyum di wajahnya.
"Bagaimana menurutmu," dia bertanya ke gundukan tanah itu, "Uvo?"
Tak ada jawaban yang datang.
Dengan menghela napas, Shalnark duduk di samping gundukan tersebut dan menatapnya seolah dia bisa melihat ke wajah Uvogin yang terbaring di balik tumpukan debu. Andai Meta ada di sana, mungkin saja ada harapan dia bisa berkomunikasi dengan hantu Uvogin...jika memang ada hantunya di sana. Mengetahui seperti apa orang bodoh itu, Shalnark menduga dia akan senang bisa mati oleh tangan Si Pengguna Rantai. Lagi pula, dia tidak mengkhianati Geng Laba-laba hingga akhir hidupnya. Lagipula, dia mati dalam pertarungan yang (seharusnya) adalah pertarungan yang jujur dan itu cocok sekali dengan seleranya. Tak diragukan lagi bahwa roh dan jiwa Uvogin telah melintas ke dunia lain tanpa ada penyesalan yang tertinggal. Dia, dari semuanya adalah orang yang sangat sederhana dan kekanak-kanakkan.
"Jika kau masih hidup, kau akan jadi teman bermain yang cocok untuk Meta," Shalnark kembali bergumam ke kuburan Uvogin. "Aku yakin kau akan menyukainya."
Shalnark menggerakkan badannya ke belakang dan membiarkannya jatuh ke gundukan tanah. Kepalanya beristirahat di atas tanah yang ternyata empuk, dia melanjutkan monolognya.
"Kau tahu... Meskipun dia terlihat sangat mirip dengan Kurapika, kurasa dia lebih mirip Danchou." Dia berhenti sejenak, sebelum menambahkan, "Maksudku, sifatnya."
Keheningan pun terjadi, dan Shalnark menatap bintang-bintang di atas sana dengan tatapan yang menerawang jauh.
"Kau harus lihat bagaimana dia membuat kekacauan bersama Nobu."
Ah, berbicara tentang Nobunaga, Shalnark sudah berpikir untuk memberitahu Nobunaga tentang lokasi kuburan Uvogin. Pada akhirnya, dia menentang pemikiran itu. Pasti Nobunaga akan mengumumkannya ke seluruh anggota kelompok bahkan sebelum Shalnark sempat memberitahunya untuk tidak memberitahu seorang pun tentang itu. Jika hal itu terjadi, pasti akan sampai ke Danchou, dan yang akan terjadi kemudian adalah hukuman yang diberikan oleh seorang Kuruta yang murka... Tanpa sadar Shalnark pun gemetar memikirkan kemungkinan tersebut dan memutuskan untuk tidak memikirkannya lebih jauh, jangan sampai dia mulai beruban nantinya.
"Lelaki yang malang... Dia bahkan menyebutnya sebagai anak nakal yang berasal langsung dari Neraka!" Shalnark pun berbicara tentang Nobunaga yang tak tahu harus berbuat apa kepada anak itu. Dia terus bicara, hingga akhirnya terhenti saat menyadari sesuatu.
Kenapa aku bicara sendiri? Dia bertanya-tanya, sebelum akhirnya terkekeh sendiri. Kurasa kebiasaan Meta menular padaku.
Dirinya terdiam saat merenungkan semua yang suda terjadi dalam jangka waktu lima tahun ini. Dia punya satu kesimpulan:
"Danchou telah berubah," Shalnark bergumam sambil menutup matanya. "Kau setuju 'kan, Uvo?"
Angin pun berputar, seolah menanggapi ucapan Shalnark.
Dia tengah melihat awan yang bergemuruh, atau mungkin angin topan yang bergemuruh. Bagaimanapun juga, dia tahu dirinya akan bisa menyingkirkan badai yang sepertinya tengah menuju ke tempat itu. Angin topan itu bergerak menuju ke arahKuroro Lucifer; yang bersikap seolah semuanya baik-baik saja.
"Menurutmu, apa yang terjadi semalam?" Seiryuu berbisik dengan suara yang sangat pelan kepada Suzaku, dengan pandangannya yang melirik dua manusia itu secara bergantian.
"Kuharap aku mengetahuinya," Suzaku balik berbisik.
"Ohohoho...keindahan masa muda," Genbu berkata sambil membelai kumisnya yang seputih salju.
"Sudah pasti bukan itu, dasar kau orang tua," gumam Seiryuu bosan sambil menatap Genbu dengan tatapan yang berarti 'beri aku istirahat'.
"Hormati tetuamu!" Bentak si pria tua sambil memukul Shishin yang lebih muda darinya itu dengan tongkat kayu (menimbulkan suara menghantam yang terdengar indah).
Sepanjang waktu, Byakko hanya duduk sejauh mungkin dari pasangan yang sedang ribut itu—dia memilih untuk tidak terpengaruh virus 'aneh' mereka. Jelmaan harimau itu memilih untuk mengabaikan timbulnya keributan yang disulut oleh Seiryuu, dia menatap kedua manusia itu dengan tatapan penasaran yang tajam. Dia tak tahu apa yang telah terjadi semalam, namun dia punya pemikiran secara garis besar bahwa si pria mengalami pagi hari yang berat—karena suara memekakkan telinga dari si wanita.
Hal pertama yang dilakukan Kurapika ketika dia terbangun adalah berteriak kepada Kuroro seolah dia bermaksud untuk membunuhnya hanya dengan kekuatan suaranya saja. Untunglah pintu dan jendela di kamar itu terbuat dari bahan kertas, jadi tak ada kaca yang pecah berserakan ke mana-mana. Meskipun sebuah vas yang ada di sana sedikit retak.
"APA YANG KAULAKUKAN?" adalah kalimat yang ia teriakkan padanya.
Untungnya bagi Kuroro, dia sudah bangun saat itu; bahkan dia duduk di atas futon-nya. Sejujurnya, dia tak melakukan apapun kecuali membuat Kurapika pingsan. Dia bahkan membaringkan wanita itu ke tempat tidur dan setelah itu langsung menuju ke tempat tidurnya sendiri.
Kurapika lebih dari sekedar marah, dia merasa terhina. Ketika dirinya terbangun di pagi hari, dia sulit mengingat segala yang terjadi setelah padang bunga higan-bana kecuali saat Kuroro tiba-tiba berdiri di hadapannya sebelum akhirnya ia pingsan. Dia tahu bahwa pria itu sudah melakukan sesuatu tapi dia terlalu bingung menginterogasi Kuroro secara jelas hingga dia hanya bisa mengucapkan beberapa kata dengan tergagap-gagap seperti "Apa yang—", "Bagaimana bisa—", "Sebaiknya kau tidak—", "Aku bersumpah, aku akan—", dan beberapa kata lainnya yang semacam itu, sambil dia terus memeriksa kimono tidur yang ia kenakan dan hal-hal lainnya.
"Kurapika," Kuroro memanggilnya dengan suara setenang air di permukaan.
Kurapika langsung menghentikan hal-hal apapun yang tengah dilakukannya dengan gugup dan memandang Kuroro. Pria itu menatap langsung ke matanya, dengan isyarat candaan berputar di sepasang mata obsidian itu. Sudut bibir Kurapika berkedut melihatnya: Dia benar-benar merasa terhibur! Teganya dia—
"Tenanglah," kata Kuroro lagi sambil mempertahankan kontak mata dengannya. "Ambil napas dalam-dalam."
Menyadari dirinya memang sedang tidak bernapas, dengan patuh Kurapika mengambil napas yang sangat dalam dan menghembuskannya.
"Kau..." Dia langsung berkata dengan marah. "Apa yang kaulakukan padaku semalam?"
Kuroro menaikkan sebelah alis matanya, tandanya dia merasa aneh, dan jawaban "Tidak ada" terdengar dari mulut Kuroro, sambil mengangkat bahunya dengan cuek. Pembuluh darah Kurapika pun berkedut di pelipisnya.
"Lalu untuk apa kau melakukannya?" Tuntut Kurapika sambil membanting tangannya ke lantai tatami—walaupun tindakannya itu tidak menimbulkan efek suara yang keras seperti yang dia inginkan.
"Apanya?" Tanya Kuroro dengan raut wajah tak berdosa.
"Jangan berpura-pura bodoh, Tuan! Kenapa semalam kau membuatku pingsan jika kau tak bermaksud untuk melakukan sesuatu?"
Sebuah seringai terbentuk di wajah tampan Kuroro.
"Nah, itu dia. Bermaksud adalah kata kuncinya."
Kurapika mengerang putus asa.
"Jawab saja aku, Sialan!"
"Hari ini kau sangat tak sabaran, ya?"
"Demi Tuhan, Kuro—"
"Aku bermaksud mengambil Nen-ku dari dalam dirimu."
Kurapika menghentikan entah sumpah serapah apa yang siap dia katakan sebelumnya di ujung lidah. Yang bisa ia lakukan hanyalah menatap bodoh Kuroro yang sangat tenang. Detik-detik waktu pun berlalu, hingga akhirnya Kurapika berhasil mengeluarkan kata: "Apa?" dengan tatapan tak percaya terlihat di wajahnya.
"Seperti yang kubilang tadi," Kuroro menegakkan posisi tubuhnya di atas futon. "Aku berencana mengeluarkan Nen-ku yang kusimpan di dalam dirimu bertahun-tahun yang lalu," seulas senyum ironis menghiasi wajahnya, "Di sini, di tempat yang sama dengan waktu itu."
Suasana pun hening kembali, namun kali ini kelihatannya Kurapika sedang berkonsentrasi tentang sesuatu saat dia menunduk melihat ke lantai. Sesaat kemudian, dia mengangkat wajahnya kembali dan menatap Kuroro dengan tatapan yang berani.
"Tapi kau tidak melakukannya."
Kuroro memiringkan kepalanya. "Bagaimana kau bisa tahu?"
"Kau bilang bermaksud dan berencana, yang artinya kau tidak benar-benar melaksanakan rencana itu," kata Kurapika perlahan, dan dia berhenti sejenak sebelum menambahkan kalimatnya dengan ragu: "Dan aku masih bisa merasakannya."
"Kau bisa?"
Tak disangkal lagi, ada rasa terkejut terdengar dari nada suara Kuroro, namun yang membuat Kurapika lebih terkejut lagi adalah bayangan lembut yang berkilat di mata gelap yang seolah tanpa dasar itu. Saat dia berkedip dan melihat lagi ke dalam matanya, bayangan itu menghilang. Matanya sudah kembali dalam kondisinya yang dingin seperti biasa. Kurapika menjilat bibirnya; dia tidak menyadari bibirnya kering.
"Lalu kenapa kau tidak melakukannya?" Dia bertanya dengan hati-hati. Entah kenapa, Kurapika merasa seolah dirinya sedang membahas hal yang berbahaya.
Kuroro memalingkan wajahnya dan keluar ke ruang terbuka di bawah jendela. Sesaat kemudian, dia menjawabnya dengan datar, dengan suara yang tak menunjukkan emosi apapun.
"Itu bukan urusanmu."
Sementara kalimat itu hampir seperti tagline khas Kurapika, dia benar-benar kesal dibuatnya. Dalam kondisi biasa, mungkin dia tak akan terlalu menghiraukannya. Mungkin Kuroro tidak mengucapkan hal itu sesering Kurapika, atas apa yang Kurapika ingat saat enam tahun yang lalu ketika mereka melakukan perjalanan bersama, tapi kini pria itu sering mangatakannya. Kurapika mengerti bahwa Kuroro butuh privasi, karena dia pun membutuhkannya. Namun demikian, kali ini dia tahu bahwa dia punya hak untuk tahu apa maksud Kuroro, karena dirinya terlibat langsung di dalamnya. Kuroro membuatnya pingsan, yang benar saja!
"Pertama kau membuatku pingsan tanpa mengatakan apapun," dia melotot padanya, dengan cara yang membuat suaranya terdengar seperti tercekat, dan akhirnya suaranya pun berubah menjadi teriakan "Dan sekarang kau masih berani bilang bahwa itu BUKAN urusanku?"
Itulah bagaimana ceritanya Kurapika berubah menjadi badai yang berjalan.
Kuzunoha memandang Kurapika, dan kemudian memandang Kuroro, lalu kembali ke Kurapika lagi, sebelum akhirnya dia menghela napas seolah menyerah.
"Aku benci melihat kalian pergi di saat kalian berdua sedang bermusuhan, tapi apa yang bisa dilakukan oleh pelayan rendah seperti diriku ini?"
Tak ada satu jawaban pun datang dari kedua manusia itu. Kuzunoha menghela napas dalam lagi.
"Baiklah. Jadi apa yang akan kalian lakukan sekarang? Ke mana kalian akan pergi?" Dia bertanya dengan tulus.
Kurapika menggigit bagian dalam mulutnya. Untungnya mereka telah mendiskusikan hal ini di malam terakhir sebelum mereka tidur, karena Kurapika memutuskan untuk tidak berbicara dengan pria menyebalkan itu hingga dia bicara—atau lebih tepatnya minta maaf—kepadanya.
"Kami akan pergi ke Ryuusei-gai. Bagus jika kami bisa mendapatkan tumpangan yang langsung terbang ke Rhutenia," jawab Kurapika dengan nada suara yang entah mengapa terdengar kaku. "Tapi bahkan kami tidak tahu apakah ada penerbangan langsung ke sana. Lokasinya di belahan lain dunia ini."
Rhutenia adalah negara tempat Ryuusei-gai yang berada di pinggiran kota. Ryuusei-gai dikelilingi oleh gurun pasir Rhutenia yang luas, dan satu-satunya cara untuk mencapai gurun itu dengan aman adalah dengan melintasi 'hutan' lebat—seperti bagaimana dulu Kurapika menyebutnya di perjalanan pertamanya ke tempat itu—yang berada di antara gurun dan negara tetangga Rhutenia; Negara Bagian Haemus.
"Jadi rencana yang paling masuk akal untuk saat ini adalah pergi ke kota yang memiliki bandara dan pelabuhan. Apakah ada kota seperti itu di sini?"
Para Shishin saling bertukar pandang. Pertanyaan yang sama bergema di benak mereka: adakah kota seperti itu? Keheningan pun muncul di antara dua manusia dan lima makhluk yang bukan manusia itu. Kuroro dan Kurapika menunggu dengan waspada, sementara Kuzunoha dan Para Shishin berusaha menggeledah ingatan mereka untuk mencari kota seperti demikian. Sesaat kemudian, saat Kurapika baru saja akan mengajukan alternatif lainnya, mendadak Suzaku menepukkan kedua tangannya dengan keras dan membuat pengumuman.
"Aku ingat! Ada kota seperti itu di Selatan. Namanya Kota Hakata, dan kota itu adalah salah satu kota modern di sana. Hakata memiliki bandara dan pelabuhan," dia berbalik menghadap Kurapika dan berkata dengan wajah yang berseri-seripadanya, "Seperti yang kau harapkan."
"Aku sungguh terkejut, makhluk pelupa sepertimu bisa benar-benar mengingat hal yang detail seperti itu," Byakko bergumam dengan tatapan mata yang menunjukkan keterkejutan yang tulus.
"Tut-tut! Kau melukai perasaanku, Byakko-dono." Suzaku memanyunkan bibirnya dengan sikap merajuk sambil secara dramatis meletakkan tangannya ke dada di mana seharusnya jantungnya berada.
"Yah, walaupun bukan berarti dia yang harus disalahkan," Genbu berkata, dengan tawa riang yang merupakan karakter khas dari seorang pria tua.
"Tepat seperti dugaanku," Seiryuu terkekeh.
"Kenapa kalian—"
"Jadi bagaimana caranya kami pergi ke sana?"
Rutinitas perdebatan akrab Para Shishin langsung terpotong oleh suara Kuroro yang tegas. Pria itu menyelipkan kedua tangannya ke saku celana dan dia memandangi mereka dengan sikap yang sangat tenang, namun ada sesuatu di nada suaranya hingga membuat mereka berhenti. Mungkin itu hanya karena karisma yang dimiliki Kuroro.
"Yah, aku rasa kau cukup tergesa-gesa, ya?" kata Suzaku akhirnya.
Kurapika mengangguk pasti.
"Kalau begitu kurasa rute tercepat untuk pergi ke sana adalah melalui Jalan Hantu."
Saat nama itu keluar dari mulut Suzaku, suara erangan yang terdengar jelas keluar dari mulut Kurapika sementara Kuroro memutar kedua bola matanya, menunjukkan keputusasaan. Melihat reaksi mereka, Suzaku tak tahan untuk membuat mereka jengkel lebih jauh lagi.
"Dan kalian akan naik Oborogurumo—"
"Lagi?" kata Kurapika dan Kuroro bersamaan. Mereka masih ingat kesan buruk yang ditinggalkan alat transportasi aneh itu terakhir kali mereka menaikinya.
"...Lagi." Suzaku mengangguk sambil menyeringai.
"Kau mengerjai mereka atau apa?" Seiryuu mengernyit curiga kepada seniornya, namun sudut bibirnya naik, membentuk sebuah seringai. Dia setuju, mereka senang mengacau, terutama dengan Si Pirang.
"Tolong jangan tempatkan aku di level yang sama denganmu, Seiryuu-dono, kata Suzaku datar, dengan nada suara yang dingin—meskipun tatapan matanya sejak tadi tampak seperti sedang bermain-main.
"Ap—"
"Dia benar sekali. Dia tidak sepertimu yang tanpa rasa malu mempermainkan kedua manusia malang ini," kata Genbu tegas sambil meninju perut Seiryuu dengan ujung tongkat kayunya; membuat Seiryuu mengucapkan hal yang tak pantas, "Oof!"
"Kalau begitu, kusarankan kalian mulai pergi sekarang," kata Kuzunoha, sambil mengabaikan ulangan drama yang kembali dilakukan Seiryuu dan Genbu. "Kuingatkan saja, mereka akan terus begitu."
Lalu Kuzunoha setengah berbalik, memberikan tatapan ini-kuil-suci-Dewa-Inari-jadi-lebih-baik-kalian-tetap-tenang-atau-kalian-akan-menyesal kepada Para Shishin, terutama kepada Seiryuu dan Genbu; merekalah yang paling ribut. Begitu Kuzunoha puas saat mereka berhenti mengoceh, ia kembali berbalik menghadap tamunya dan memberikan senyumnya yang menawan.
"Kurasa aku hanya bisa bisa melihat kalian pergi hingga gerbang kuil ini. Sebagai Kepala Pendeta Wanita, aku tidak diijinkan untuk keluar dari sini kecuali untuk urusan tertentu, dan kalian tidak bisa membuka Jalan Hantu di manapun di dekat kuil ini. Maka ijinkanlah aku untuk menemani kalian sampai gerbang," Kuzunoha berkata dengan lembut sampil memimpin jalan.
"Kenapa kami tak bisa membuka Jalan Hantu di dekat kuil?" Tanya Kurapika.
Kali ini, kemarahannya sepertinya menguap dan dia benar-benar sudah dalam mood yang lebih baik sekarang. Mungkin itu karena pertunjukan pereda stres dari beberapa Shishin, atau mungkin karena akhirnya mereka pindah ke tempat lain dan sudah punya rencana.
"Apa kalian pernah mendengar tentang kimon?" Kuzunoha bertanya tanpa menoleh kepada Kuroro dan Kurapika.
"Pernah," jawab Kurapika, "Meskipun rasanya akan lebih baik jika bisa mendengarkan penjelasan yang lebih detail dari seseorang yang akrab dengan hal itu."
"Bagus. Seperti yang kau tahu, kimon adalah apa yang bisa kau sebut sebagai gerbang yang menghubungkan dunia manusia dengan dunia iblis. Salah satu kimon itu ada di sekitar kuil ini. Tidak, sebenarnya kuil ini dibangun di dekat kimon itu maka Dewa Inari dapat membantu Manusia menghindari iblis yang datang dari gerbang terkutuk itu. Jika kau membuka Jalan Hantu di dekat kimon, itu sama saja dengan memperkuat pengaruh kimon, karena Jalan Hantu membawa udara negatif." Kuzunoha menjelaskan dengan sabar sambil mereka berjalan menuruni gerbang merah torii yang akan membimbing mereka menuju anak tangga utama yang menandai pintu keluar kuil yang juga adalah pintu masuknya.
Saat mereka berjalan menuruni jalan setapak yang sangat merah, dengan suara bahan sutra kimono indah Kuzunoha yang bergesekan dengan jalan berbatu, mau tak mau Kurapika teringat akan malam sebelumnya di padang bunga higan-bana yang sukar untuk dipahami. Dia merenung apakah memang benar kakaknya yang ia lihat pada saat itu, atau dirinya hanya berhalusinasi? Kuroro pun sudah melihat wujud Ishtar, maka terlalu aneh untuk dibilang kebetulan belaka saat dua 'hantu' muncul di tempat dan waktu yang sama. Apakah itu karena kekuatan atau sihir lain yang membuatnya terjadi pada malam itu? Bagaimanapun juga, apapun yang terjadi di padang bunga higan-bana cukup mempengaruhi Kuroro.
Kurapika menunduk melihat cincin yang melingkar di jari manisnya. Di bawah penerangan cahaya tipis mentari pagi yang berhasil menembus kanopi hutan lebat itu, permata hitamnya berkilat muram. Dia gerakkan tangannya sedikit sambil bermain-main dengan bayangan tipis cahaya di cincin tersebut, ekspresi wajahnya bagai sedang merenung dan entah kenapa terlihat suram.
"Kita akan berpisah di sini." Suara lembut Kuzunoha membuyarkan lamunan.
Si Kuruta mendongak dan menyadari bahwa mereka sudah sampai di akhir gerbang torii, dengan anak tangga besar menurun di hadapan mereka, seolah tengah mengancam. Sekali saja tergelincir dari salah satu anak tangga itu, dan manusia biasa bisa mengucapkan selamat tinggal pada tubuh mereka yang utuh. Tak perlu dikatakan lagi, medan yang penuh tipu daya itu membuktikan bahwa hal tersebut bukanlah sesuatu yang perlu dirisaukan untuk manusia seperti Kuroro dan Kurapika.
"Berhati-hatilah, kalian berdua. Semoga berhasil." Kepala Pendeta Wanita itu berkata, jelas terdengar ketulusan yang jelas di nada suara dan kalimatnya.
"Sampai bertemu lagi, Kuzunoha." Ucap Kurapika dengan senyum yang tulus. Ketulusan Kuzunoha yang penuh gairah memang menular.
"Aku sungguh berharap kita akan bertemu lagi." Kata Kuzunoha sambil membungkukkan badannya dengan sopan.
"Sampai nanti." Kuroro berujar sambil sedikit membungkuk.
Kuzunoha tetap berdiri di tempatnya sambil menunggu mereka menghilang dari pandangannya. Baru saja mereka akan menghilang ke balik belokan anak tangga itu, dia memanggil Kuroro dan Kurapika seolah dia lupa memberitahu mereka sesuatu yang penting.
"Dan cepatlah kalian berbaikan, ya?"
Kedua manusia itu tidak menanggapi kalimat tersebut; bukannya Kuzunoha akan tahu apakah mereka menanggapi atau tidak karena sudah berada di bawah garis pandangnya.. sesaat kemudian, Kurapika mengeluarkan suara "hmph." Kuroro melirik dari sudut matanya.
"Hanya jika seseorang memutuskan untuk memberikan penjelasan." Kurapika bergumam, tapi suaranya cukup keras hingga Kuroro bisa mendengarnya.
Kuroro hanya tertawa senang. Seolah baginya itu sama sekali bukanlah masalah besar, hal ini membuat Kurapika semakin kesal.
"Nanti di waktu yang tepat, Kurapika." Katanya dengan halus. "Waktunya akan tiba."
"Yang berarti 'kapanpun aku menginginkannya'." Kurapika menggerutu sambil memutar kedua bola matanya dengan putus asa.
Seulas senyum tipis menghiasi wajah Kuroro yang tetap terkendali saat mendengarnya. Wanita itu mengenalnya dengan baik.
TBC
A/N :
Okay, I am going to say it again... I'M TRYING TO BE BACK!
Terima kasih untuk semua reader yang udah kasih review di chapter sebelumnya dan masih terus menantikan update Angel's Prayer Translated...you really make me want to write and translate stories again.
Sora Hinase, aeon zealot lucifer, Moku-Chan, nou54, HiNa devilujoshi, Sends, Mikyo, lavender sapphires chan, unyu chan, Kaoru Hiiyama, LadyKirika, Aria Lou-Eva, Vera Eikon, Tefu Choi, Hikki komori, Kithara bluebell, Tenza z2, zerkiryuu 60, YuKillu Alluka, Sakuranatsu 90, leahany1, PencuriLumba-Lumba, Hikari, katou, cilla, ino asuka, Hirame mezuki, Raci, Just a Reader Addict
Please give me more reviews.. XOXO
~KuroPika FOREVER~
