"Tsuna—kau tidak apa-apa?"

Dino—yang tadi sedang berbincang dengan Tsuna tampak menatap Tsuna yang menggelengkan kepala cepat sambil mencoba untuk tersenyum. Ia tidak suka perasaan ini—sesuatu pasti terjadi di mansion, dan intuisinya tepat mengatakan bahwa sesuatu itu terjadi pada Kyoya dan juga pamannya Alaude.

"Aku ingin jalan-jalan—Dino-nii ingin ikut?"

"Tentu—lagipula tidak aman kalau sendirian saja," Dino tersenyum dan melingkarkan tangannya di leher Tsuna. Tsuna hanya tersenyum dan pada akhirnya berjalan bersama dengan Dino keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang tidak enak darinya.

BANG!

Satu suara yang tampak tidak asing di telinga semuanya, Giotto, Tsuna, dan juga semua yang ada di pesta tampak menghentikan aktifitasnya dan mencoba untuk mencari sumber suara dari tembakan itu. Giotto sendiri merasakan instingnya yang mengatakan ada yang tidak beres dengan Alaude. Ia hanya berharap, untuk sekali ini saja intuisinya salah—

Oh—betapa salahnya ia mengatakan hal itu…

Title :Our True Fate

Rated :T

Genre :Friendship / Family

Disclaimed :

Our True Fate © Ciocarlie

KHR © Katekyo Hitman Reborn

Chapter 10, The Truth

Pandangannya semakin kabur, tetapi ia tidak mungkin membiarkan Kyouya dalam keadaan seperti ini. Ia tidak tahu apa yang terjadi—tetapi yang ia tahu adalah anak itu tidak melakukan apa yang ia inginkan, termasuk menembaknya sebanyak 3 kali.

Tidak mengenai bagian vital yang membuatnya masih tetap sadar—tetapi darah yang terus mengalir juga bisa membuatnya tewas karena kehabisan darah.

"Alaude!" suara itu tampaknya—untuk sekali ini ia harus mengandalkan siapapun yang ada di tempat itu. Ia tidak bisa mempertahankankan kesadarannya lebih lama lagi. Walaupun harga dirinya mengatakan untuk tidak meminta bantuan terutama pada orang yang berlari kearahnya saat ini—Daemon Spade.

"Oi, kau tidak apa-apa?"

"Oya, kau kenapa Kyoya?" Mukuro yang tampak menghampiri Kyoya yang masih tertunduk tampak bingung dengan kelakuan sang skylark itu. Menatap pistol yang ada di depan Kyouya, dan ia menoleh untuk menemukan Alaude yang mendapatkan luka tembak ditambah dengan suara tembakan tadi.

"Kau—"

"…vore…" suara Kyouya tampak berbisik sambil memegang lengan Mukuro dengan kuat, "bawa aku—ke ruanganku, sekarang herbivore…"

"Hm? Apa yang sebenarnya terjadi—" Mukuro menatap Hibari yang menatapnya tajam. Pada akhirnya ia hanya menghela nafas dan mengangguk, "—baiklah, lagipula aku tidak ingin berurusan dengan Daemon Spade lebih lama…"

Mengeluarkan flame mistnya dan memunculkan kabut yang menyelimuti mereka berdua. Dan saat kedua orang guardian primo itu menoleh, yang mereka temukan hanyalah jalanan yang kosong tanpa ada kedua sosok anak laki-laki itu.

"Hei, jangan katakan Kyouya yang—"

"Tidak—" menyerengit sakit sambil memegangi perutnya, mencoba untuk tetap sadar walaupun ia tahu ia tidak akan mungkin bisa memempertahankan kesadarannya lebih lama lagi, "—bukan dia yang menembakku. Pasti—bukan dia…"

"Alaude!" suara Giotto dan juga yang lainnya tampak terdegar, tetapi darah yang mengalir keluar sudah cukup membuat tubuh sang Cloud Guardian melemah dan pada akhirnya kesadarannya semakin menipis sebelum kegelapan yang menelimutinya.

"Baiklah, ini sudah cukup aneh Kyouya—" Mukuro yang sudah mengantarkan Kyouya ke kamarnya tampak menatap Kyouya yang saat itu hanya menundukkan kepalanya dan duduk di sisi tempat tidurnya. Tidak mengatakan apa yang terjadi saat itu—ia hanya bisa diam, bahkan tidak menyerang Mukuro seperti yang biasa ia lakukan, "—apa yang kau lakukan dengannya tadi?"

"Aku—berusaha membunuhnya," suara Kyouya tampak berbisik, sangat pelan walaupun keheningan membuat Mukuro bisa mendengar suaranya walaupun hanya samar terdengar saat itu, "—aku berusaha membunuh ayahku…"

"Kyouya—" Mukuro menatapnya dengan tatapan dingin dan juga datar, tidak ada sandiwara dan juga tidak ada pertengkaran yang biasa terjadi diantara mereka berdua. Ia sedang tidak memiliki mood untuk bertarung dengan Kyouya dalam keadaan seperti ini, "—kau tahu apa yang sebenarnya terjadi bukan? Kenapa kita berada di masa ini—dan, tentang keadaan Tsunayoshi…"

"Ceritakan padaku—"

"…pa yang sebenarnya terjadi…"

"Entahlah, tetapi sepertinya Kyoya melukai Alaude…"

"Apakah kalian melihatnya sendiri?"

"Tidak tetapi—"

Suara-suara itu tampak mengganggunya yang tampaknya pingsan setelah merasakan lemas karena darah yang dikeluarkan cukup banyak untuk membunuh seseorang. Matanya terbuka perlahan—menatap seluruh guardian yang sedang berada di kamarnya dan tampak membicarakan sesuatu.

Orang yang pertama kali melihat kalau Alaude sudah sadar adalah Ugetsu. Dengan segera mencoba untuk mengecek keadaan sang Cloud Guardian sekaligus menanyakan apa yang terjadi saat itu bersama dengan Kyouya.

"Alaude-dono, apa kau tidak apa-apa?"

"Apa yang kau lakukan di ruanganku herbivore—" Alaude tampak mencoba untuk bangkit dan segera dibantu oleh Ugetsu, "aku bisa melakukannya sendiri…"

"Kau sudah membuat kami khawatir Alaude, tidak biasanya kau tertembak dengan mudah—bahkan sampai dua kali…" Giotto tampak menghela nafas panjang melihat sikap Alaude yang tetap dingin, sementara Alaude hanya memalingkan wajahnya saja. Melihat perban yang ada di bahu dan juga perutnya, membuatnya teringat akan apa yang terjadi sebelum kesadarannya hilang.

Dan tentu dengan segera ia berdiri—walaupun rasa sakit menyelimutinya dengan segera karena gerakan yang tiba-tiba itu.

"Kau mau kemana?"

"Bukan urusanmu," berjalan sedikit tertatih, masih hanya memakai kemeja putihnya yang bahkan tampak sedikit berantakan, ia tidak perduli—ia harus menemui Kyouya dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.

"Jangan—" Mukuro menatap Kyouya yang tampak masih duduk di atas tempat tidurnya, "—hentikan untuk menanyakan itu padaku! Kalian tidak akan pernah mengerti apa yang terjadi!"

Baru sekali itu, Mukuro melihat raut wajah yang ditampakkan oleh Kyouya saat ini—tampak takut dengan wajah yang pucat dan juga tubuh yang bergetar. Hibari Kyouya yang ia anggap sebagai rivalnya, yang tidak pernah mengenal apa yang disebut sebagai ketakutan.

"Tinggalkan aku sendiri Herbivore…"

"Kufufufu—kau tidak pantas memanggilku herbivore saat keadaanmu seperti ini Kyouya~" Mukuro tampak mencoba untuk menjadi dirinya sendiri. Meskipun ia tidak ingin tertawa saat ini, dan suasana saat itu tidak mendukung untuk bercanda, "keadaanmu bahkan lebih parah daripada orang-orang yang kau sebut herbivore…"

TRANG!

Dalam beberapa detik, sepasang tonfa sudah beradu dengan sebuah trident. Tatapan takut yang ditunjukkan oleh Hibari tadi menghilang dan berganti tatapannya yang biasa—walaupun masih tampak sedikit keampaan di wajahnya.

"Kufufufu~ masih belum Kyouya~" Kyouya tampak menatap Mukuro dengan tatapan membunuh, dan beberapa saat kemudian—lagi-lagi pertarungan antara Mist dan Cloud Guardian yang biasa terjadi itu kembali terjadi.

"Sudah kukatakan aku baik-baik saja!"

Alaude tampak berjalan cepat di lorong menuju ke kamar Kyouya, sementara yang lainnya mencoba untuk menghentikan sang pendiri CEDEF dan Cloud Guardian Vongola itu. Sekuat apapun Alaude, tidak akan mungkin ia sembuh dari dua tembakan itu dalam waktu hanya beberapa jam.

"Kau ingin kemana Alaude!"

Giotto tampak mencoba untuk menghentikan—memegang erat bahu Alaude membuat yang bersangkutan tampak berbalik dengan terpaksa dan menatap warna mata dari bossnya itu.

"Kamar Kyouya—" menepis tangannya dan dengan segera berjalan kembali menjauhi Giotto, Knuckle, Ugetsu, dan juga Spade yang tampak masih mengikutinya.

"Apakah benar Kyouya yang menembakmu Alaude?" kali ini Knuckle yang mencoba untuk menanyakan sesuatu pada Alaude. Walaupun Alaude tidak menghentikan langkahnya, terlihat ia sedikit tersentak dan mencoba untuk menyembunyikannya.

"Bukan urusanmu—"

"Hei—" Knuckle baru saja akan mencegahnya lagi saat mendengar suara benturan yang cukup keras dan beberapa ledakan dan suara benda yang hancur. Dengan segera mempercepat langkahnya dan membuka pintu kamar Kyouya untuk melihat kamar itu sudah seperti reruntuhan, dengan dua orang yang masih memegang senjata masing-masing.

"Apakah hanya perasaanku atau memang aku seperti melihat hasil pertarungan yang biasa dilihat setelah Alaude-dono dan juga Spade-dono bertengkar?" Ugetsu mencoba untuk berbisik kepada Giotto yang segera ditanggapi dengan tawa ringan yang sedikit dipaksakan.

"Apa yang terjadi disini—" Spade mencoba untuk berjalan lebih dekat. Mukuro yang baru menyadari hal itu tampak sedikit berdecak sebelum menghilangkan senjatanya dengan mist flame.

"Kufufu, kau masih lemah Kyouya—tetapi sepertinya aku harus pergi sekarang," dan dengan itulah Mukuro menghilang dari ruangan itu seperti kabut. Suasana tampak hening setelah kepergian dari Mukuro, Kyouya menurunkan tonfanya dan hanya menundukkan kepalanya saja.

Alaude tampak tidak bergerak dari depan pintu, tetapi pandangannya juga hanya tertuju pada Kyouya.

"Apa yang kalian tunggu—" Giotto, Knuckle, dan juga Ugetsu tampak menatap Kyouya dengan tatapan bingung, "—bukankah kalian ingin menangkapku? Aku yang menembaknya—yang mencoba untuk membunuhnya…"

Giotto dan yang lainnya menatap kearah Kyouya dengan tatapan terkejut sebelum akhirnya menoleh kearah Alaude yang masih belum merubah posisi dan juga raut wajahnya.

"Bukan kau yang menentukan apakah pantas atau tidak kami menangkapmu—" Alaude sepertinya mendapatkan perhatian dari Kyouya yang segera menatap ayahnya itu. Alaude yang terdiam dan menatap Kyouya dengan segera menendang keluar semua orang untuk meninggalkannya bersama dengan Kyouya.

"Kenapa?"

Alaude berjalan kearah Kyouya, berjongkok dan mendekat tubuh kecil itu perlahan dan menutup matanya serta meletakkan dagunya diatas bahu Kyouya.

"Aku tahu semuanya Kyouya—tentang siapa kau, dan apa yang terjadi setelah peristiwa itu," matanya melebar saat mendengar suara ayahnya yang tampak sedikit berbisik itu. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan lagi. Ia mencoba untuk menyembunyikan semuanya dari siapapun.

"Padahal—aku sudah menembakmu," Kyouya menundukkan kepalanya, mencoba untuk tidak menunjukkan wajahnya saat ini, "kenapa kau tidak menyalahkanku…"

Alaude hanya diam dan menatap Kyouya, membiarkannya untuk tenang terlebih dahulu.

"Ada yang aneh denganmu setelah menembakku—mana mungkin aku menyalahkanmu," menghela nafas dan hanya berfikir 'kenapa aku jadi seperti herbivore…' dan menepuk kepalanya pelan, "lagipula kalau hanya seperti itu aku sudah tewas—itu artinya sama saja dengan para herbivore itu…"

"Dan kau sukses membuatku seperti herbivore—ayah…"

Senyuman samar terlihat di wajah Alaude, menepuk kepala Kyouya perlahan dan melepaskan pelukannya itu, menemukan Kyouya yang tampak masih menundukkan kepalanya.

"Oke, ceritakan semuanya dari awal—aku akan mendengarkannya…"

"Aku tidak pernah mengerti jalan fikiran dari Alaude—" Giotto menghela nafas, saat Alaude menutup pintunya—mereka tahu kalau mereka harus meninggalkan keduanya sendirian untuk sementara. Ugetsu tampak tertawa dan berjalan di samping Giotto seperti biasa, "—beruntung G tidak ikut, atau mereka akan berakhir dengan bertengkar…"

"Maa—tetapi anda tahu sendiri kalau G-dono tidak suka anda membuatnya tidak ikut campur masalah anda bukan—mungkin mengurung anda dengan tumpukan laporan selama 1 hari adalah hukuman paling ringan yang akan anda dapatkan," Ugetsu tampak tertawa dan Giotto tampak hanya bisa tertunduk karena mengingat hal itu.

"Mau bagaimana lagi—hanya itu yang bisa kulakukan agar Alaude dan juga G tidak berakhir dengan pertengkaran dan menghancurkan beberapa bagian mansion," menghela nafas dan mereka masih mengelilingi mansion hingga terdengar suara seseorang yang menebaskan sesuatu di dalam dojo milik Ugetsu.

"Hm? Siapa yang berlatih malam-malam seperti ini?"

"Mungkin Takeshi—" Ugetsu tampak tersenyum dan berhenti untuk membuka sedikit pintu dojo yang tampak tertutup itu, "—ia memiliki talenta alami untuk menggunakan pedang, aku sedikit mengajarinya tentang cara menggunakan pedang. Tentu saja memakai pedang kayu…"

"Benar bukan senpai—aku juga tidak bisa menggunakannya," suara Takeshi terdengar oleh Giotto dan juga Ugetsu saat itu. Tampak di dalam dojo itu Takeshi bersama dengan Ryouhei yang sedang mendiskusikan sesuatu sambil Takeshi memegang sebuah pedang kayu.

"Ini membingungkan to the EXTREME! Kenapa Vongola Gear kita tetap ada tetapi kita hanya bisa menggunakan Cambrio Forma dari bentuk sebelum ini?" Ryouhei tampak menatap Takeshi dengan tatapan serius tetapi juga bingung.

"Vongola?" Giotto sedikit berbisik dan menatap kearah Ugetsu yang juga tidak kalah bingung dan juga menatap kearah mereka.

"Ahaha, sudahlah—mungkin sebaiknya kita tanyakan saja pada Kyouya, Tsuna, ataupun Hayato setelah ini," menggaruk kepalanya pelan dan maju menjauhi Ryouhei, "kita mulai senpai?"

"TENTU SAJA TAKESHI!" keduanya menatap kearah masing-masing dan tersenyum penuh arti.

"Cambrio Forma!" keduanya meneriakkan kata-kata itu bersamaan dengan Vongola Gear mereka yang bercahaya. Tetapi bukan menjadi bentuk baru yang akan muncul saat mereka menggunakan Vongola Gear—malah senjata mereka berubah menjadi bentuk saat berada di Future Arc—yep, senjata mereka menjadi bentuk yang mirip dengan milik Vongola Primo Generation.

"Sudah sepuluh tahun tidak menggunakannya—kuharap aku masih bisa menggunakannya dengan baik," tersenyum lebar seperti biasa, dan Ryouhei hanya mengangguk dan bersiap dengan sarung tinju miliknya.

Sebenarnya apa yang mereka lakukan—tentu saja berlatih, walaupun sebenarnya tidak sepadan pertarungan antara pedang dan juga tangan kosong. Tetapi menurut Ryouhei, itu adalah latihan yang menyenangkan.

Sementara bagi kedua guardian Vongola Primo, semua yang mereka lihat adalah hal yang paling tidak bisa mereka percaya—terutama Ugetsu yang melihat Takeshi memegang sebuah pedang panjang dan juga tiga buah pisau yang mirip dengannya—beserta flame berwarna biru yang menghiasinya.

"Apa yang sebenarnya kalian lakukan disini—" suara Knuckle membuat Giotto tidak sengaja melepaskan tangannya dan membuat pintu itu bergeser dan menampakkan Giotto dan juga Ugetsu yang sedang mengintip itu pada Ryouhei dan juga Takeshi—yang tentu saja membatalkan gerakan mereka dan menatap Ugetsu, Giotto, serta Knuckle.

"Apa yang kalian maksud dengan Vongola Gear—dan apa-apaan senjata kalian—"

"A—ahaha, ini gawat—"

"to the extreme…"

"Setiap diadakan pesta selalu saja berakhir seperti ini—lain kali sebaiknya fikirkan lagi kalau ingin membuat pesta," G menghela nafas dan menggaruk kepala belakangnya. Berjalan sendirian di lorong mansion yang sepi saat itu, semua orang memiliki kesibukan masing-masing meskipun G tidak tahu apa itu. Tentu ia mendengar tentang tertembaknya Alaude, tetapi Giotto mengatakan untuknya tidak ikut karena hanya akan membuat semuanya semakin kacau.

'Semenjak mereka muncul, selalu ada hal yang tidak terduga—' menatap kearah pintu kamar Hayato yang berada di samping kamarnya, '—ditambah lagi dengan kemungkinan kalau Hayato itu—'

"Ternyata benar—" suara Hayato tampak terdengar oleh G dan membuatnya berhenti di salah satu pintu yang menghubungkan koridor dengan ruangan latihan yang ada di mansion saat itu. G mencoba membuka pintu, menemukan Hayato yang memegang beberapa dinamit di tangannya, "—Mukuro yang pertama kali menyadari hal ini…"

"Cambrio Forma…" mengatakan dua kata itu sedikit berbisik, saat belt Vongola Gearnya bersinar dan seperti Takeshi maupun Ryouhei, yang muncul bukanlah form saat ia berada di dalam Vongola Gear yang biasa—namun kembali pada form semula, yakni G's Archer.

"Kalau seperti ini—kakek tua itu akan semakin curi—"

Perkataannya tidak pernah selesai saat tangannya dengan segera dipegang erat dan membuatnya menoleh untuk menemukan G yang tampak terkejut begitu juga dengannya.

"Ap—"

"Kenapa kau—memilikinya?"

"Kau tidak apa-apa Tsuna?" Dino tampak menatap Tsuna yang hanya mengangguk. Setelah kejadian itu, Dino serta ayahnya Enzo memutuskan untuk menjaga Tsuna terlebih dahulu saat semua guardiannya tampak tidak berada di sekelilingnya.

"Semakin lama mereka tampak menjauhiku—" tampak murung dan menundukkan kepalanya, Dino hanya bisa menggaruk dagunya mencoba untuk mencairkan suasana saat itu. Mencari sebuah pembicaraan yang bisa membuat suasana menghangat.

"T—Tsuna, aku bisa melihat lagi cincin yang saat itu kau gunakan?"

"Cincin?" Tsuna menoleh kearah Dino dengan tatapan bingung, dan Dino hanya bisa mengangguk dan mengangkat alisnya sebelah, "cincin apa?"

"Uhm—bukankah saat penyerangan pertama kau menggunakan sebuah cincin? Memiliki lambang Vongola dan tampak sangat unik," Dino yang tentu saja ingat dengan apa yang terjadi saat penyerangan pertama dimana Tsuna tertembak oleh orang misterius itu, "kau—tidak ingat?"

"Tidak—"

Dino tampak hanya bingung, menatap sebuah kantung kain yang diikatkan dengan tali menjadi seperti liontin yang saat ini tertutupi oleh jas hitam milik Tsuna.

"Ah, kau menyimpannya di tempat ini—" Dino, perlahan mencoba untuk mengambil kantung itu. Tsuna atau dalam hal ini adalah Sora hanya bisa diam dan perlahan membuka kantung itu untuk menemukan cincin Vongola Gear yang ia miliki, "—benar bukan?"

Tsuna tampak mengamati dengan baik apa yang ada di tangannya saat ini. Ia tidak memiliki ingatan apapun tentang cincin ini—karena ingatan tentang dirinya sebagai Sawada Tsunayoshi juga menghilang.

"Kau memakai cincin itu dan mengeluarkan api yang sama seperti saat Giotto-san bertarung—"

"Sama seperti papa?" Tsuna tampak sangat penasaran dengan perkataan Dino yang langsung mengangguk. Menggerakkan tangannya dan memakai cincin itu—tetapi tidak terjadi apapun saat itu.

"Mungkin—karena matamu tidak berubah?" Dino menatap Tsuna yang semakin bingung dengan apa yang dikatakan oleh Dino, "saat kau memakainya dan api itu keluar dari tangan dan dahimu, matamu berubah menjadi warna orange seperti api milikmu…"

"Darimana kau mendapatkan cincin itu Tsunayoshi—" suara Giotto mengejutkan Dino maupun Tsuna yang langsung menoleh dan menemukan Giotto yang tampak menatap dingin kedua anak itu. Baik Dino maupun Tsuna tampak gemetar karena melihat tatapan itu.

"Tunggu Giotto, ini terlalu—" Enzo mencoba untuk menghentikan Giotto yang akan menghampiri Tsuna. Tetapi Giotto sudah berada di depan Tsuna dan memegang tangannya untuk melihat cincin Vongola Gear itu.

'Ternyata benar—sama seperti milik kelima lainnya, dan mungkin Mukuro juga memilikinya…'

"Pa—pa?" Tsuna tampak bingung dan masih ketakutan melihat tatapan khas boss yang tidak pernah ditunjukkan oleh Giotto didepannya sebagai Tsuna maupun saat menjadi Sora.

"Kenapa kau memiliki benda ini Tsunayoshi?"

"A—aku tidak tahu," Tsuna tampak sedikit mundur saat mendengar nada dingin dan juga tatapan yang seakan menusuk tajam keseluruh tubuhnya, "aku tidak tahu tentang cincin itu…"

Giotto—menggunakan intuisinya bisa mengatakan kalau Tsuna jujur—tetapi, entah kenapa ia merasakan kalau cincin itu memang milik Tsuna dan tidak mungkin ada lambang seperti ini—selain jika memang ia berasal dari keluarga Vongola.

Masih diam, Tsuna tampak tertunduk dan tidak menatap Giotto saat itu—lebih tepatnya tidak ingin melihat ayahnya itu. Dino yang tampak masih ketakutan mencoba untuk mendekat dan menemukan sesuatu yang menarik saat melihat mata Tsuna.

"Akan kuberitahu—" baik Giotto, Enzo, maupun Dino tampak terdiam mendengar suara Tsuna yang lebih rendah dan tampak dingin itu. Tanpa peringatan apapun, dari tangan dan dahi Tsuna tampak flame sky yang berkobar dan membuat Giotto melepaskan cengkraman tangannya saat itu.

"Biarkan aku berbicara denganmu, begitu juga dengan guardianmu—ayah…"

"Juudaime!" Hayato yang tampak dibawa oleh G yang masih memegang tangannya tampak terkejut saat melihat Tsuna dalam keadaan HDWD menunggunya bersama dengan Giotto di ruangan aula besar Vongola. Duduk dan bersikap sangat tenang seperti biasa, "kau—juga tidak bisa menggunakan Vongola Gear bukan?"

"Begitulah—aku mencoba untuk mengalirkan flame lebih banyak dan tetap saja," Tsuna tampak berbicara dengan nada yang tenang tanpa ada kepanikan. G yang melihat itu tampak mengerutkan alisnya dan berjalan mendekati Giotto.

"Ada apa dengan Tsuna?"

Giotto hanya diam dan menatap Tsuna yang mengenakan cincin Vongola itu, dan G yang menyadari itu tampak terkejut dan menatap kembali Giotto. Saat akan mengatakannya, tampak pintu aula terbuka lagi dan menunjukkan semua guardian selain Mukuro.

"Tsuna/Sawada!" Ryouhei dan Takeshi dengan segera melepaskan tangan Knuckle dan juga Ugetsu dan segera berlari menghampiri sang langit saat mereka sadar kalau Tsuna berada di dalam mode HDWD. Kyouya sendiri tampak menatap ayahnya dalam diam sebelum berjalan menghampiri Tsuna.

"Kau ingin memberitahukan pada mereka bukan—" Kyouya menatap dingin Tsuna yang menatapnya balik dan mengangguk.

"Kita tidak bisa menyembunyikannya lagi Kyouya, walaupun mereka mungkin tidak akan percaya—" Tsuna menatap Giotto dan juga yang lainnya yang sedang berargumen. Menutup matanya dan mencoba untuk menghela nafasnya teratur, "—Mukuro, keluarlah…"

"Kufufufu~ sepertinya ingatanmu kembali Tsunayoshi, sudah kutunggu saat kau ingin mengatakan hal yang sebenarnya pada mereka," Mukuro tampak senang dengan apa yang akan dilakukan oleh Tsuna dan ia hanya menghela nafas berat.

"Baiklah Tsuna, kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan—" Giotto menatap serius kearah Tsuna. Bukan tatapan lembut, tetapi tatapan yang ia berikan saat menginterogasi seseorang yang tentu saja bukan anak kecil seperti sekarang. Tetapi ia tidak mungkin memperlakukan Tsuna seperti anak kecil saat melihat sifatnya yang seperti sekarang.

"Baiklah—" Tsuna membenahi cara duduknya, mirip dengan Giotto dan juga mirip saat Tsuna masih berada di masa mereka—saat ia berada di dalam mode bossnya, "—ayah dan yang lain pasti bertanya, kenapa kami memiliki senjata yang sama seperti kalian. Dan memilik benda yang berukirkan lambang Vongola…"

Alaude menatap Kyouya yang mengeluarkan brackletnya yang memiliki lambang Vongola disana. Menatap kearah Hayato dan juga yang lainnya—Tsuna menyuruh mereka mengeluarkan Vongola Gear mereka.

"Bukan hanya itu—kenapa Takeshi mengatakan ia tidak memakai senjata itu, sampai 10 tahun lamanya? Bahkan usia kalian belum sampai 10 tahun—" Ugetsu menatap Tsuna dan juga semua Vongola Gear yang ada disana.

"Sebelum itu, sebaiknya kami memperkenalkan diri kami secara lengkap sekarang?" Tsuna tersenyum datar dan menatap Giotto yang hanya diam dan mencerna semua benda yang ada di depannya saat ini. Lambang Vongola dengan huruf X disana.

"Gokudera Hayato—Storm Guardian…" Hayato tampak berdecak kesal dan memalingkan wajahnya.

"Yamamoto Takeshi—Rain Guardian…"

"SASAGAWA RYOUHEI—SUN GUARDIAN TO THE EXTREME!"

"Hibari Kyouya—Cloud Guardian," Hibari menutup matanya dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"Kufufu~ Mukuro Rokudo—Mist Guardian…"

Semua Primo Guardian Vongola termasuk Giotto tampak hanya diam dan menatap bingung. Mereka mengerti, arti dari kata-kata yang keluar dari mulut keenam anak itu—tetapi apa maksudnya adalah mereka dari keluarga mafia, dalam usia sekecil ini?

"Dan namaku adalah Tsunayoshi Sawada—Sky Guardian sekaligus Vongola Decimo," mengaktifkan cincin Vongola miliknya untuk menunjukkan glove yang mirip dengan milik Giotto hanya saja huruf yang ada di dalamnya adalah X atau dalam bahasa Romawi adalah 10, "kami berasal dari masa depan…"

Mengejapkan mata beberapa kali—semua guardian selain Alaude tampak mencerna setiap kata-kata yang keluar dari Tsuna. Sebelum mengatakan secara bersamaan—

"Huh?"

…To Be Continue…

Meh XD akhir-akhirnya diberitahu juga sama Tsuna dkk kalau mereka Vongola Decimo XD tapi tentu saja mereka—selain Kyouya belum bilang kalau mereka itu juga anak-anak dari semua primo, karena—selain Kyouya—mereka masih ragu apa bener yang dijelasin sama Kyouya kalau mereka itu benar-benar dari masa lalu.

Masalah Vongola Ring, bentuk luarnya itu Vongola Gear—tapi pas diaktifin yang keluar itu senjata yang mirip sama senjata para primo, dan penjelasannya akan dijelaskan di chapter selanjutnya XD

Mungkin Cuma itu ya ' ' oke, balas review ^^

Feressaloveyaoi : I… don't know Enma will appeared or not, maybe… yes ^^;

Mamitsu27 : Karena belum dikenalin musuhnya XD dan Alaude ga bakal mati semudah itu, tenang aja

Hisawa Kana : sudah ;3

Widi orihara : iya, masa depan bakal berubah, tapi ga ada pelanggaran pengiriman waktu antara masa lalu sama masa depan ^^; karena itu yang jadi masalah Vendice kenapa mereka ngirim Tsuna dkk.

Aihara-04 : keduanya sebenernya… ah, nanti akan tahu XD

Mutsumi Ayano : saat HDWD, ingatan Tsuna akan kembali ;) dan silahkan tebak apakah saat HDWDnya selesai Tsuna bakal tetep inget atau tetep dengan ingatan Sora~

Zhao Gui Xian : Dino hilang ingatan ntar ada penjelasannya (_ _) masalah Reborn… entahlah, kalau jadi bocah 10 tahun ga ada alasannya kenapa

Shizuo miyuki : sekali lagi untuk yang kesekian kalinya :'D author galau mau balikin mereka atau ga :'D

Bluelup28 : Makasih atas reviewnya ^^