Senin. Dengan kata lain, ini adalah hari pertamaku datang ke sekolah setelah insiden yang terjadi dua hari yang lalu—kunjungan calon perdana menteri untuk menemui anaknya.

Selama ini aku terus mengabaikannya, berpura-pura tak sadar karena menghabiskan waktu menyenangkan bersama Miku dan yang lainnya sepanjang hari kemarin.

Ada satu konsekuensi yang sudah sewajarnya akan kualami, dan kali ini, jauh lebih parah dari sebelumnya. Lebih parah dari akibat perbuatanku kepada seorang Zatsune Mika.

Kali ini, aku tak melakukan apapun. Aku yang seharusnya berada dalam posisi korban, justru mengalami pengucilan. Berkat pria itu, sekali lagi, aku harus kembali merasakan siksaan sosial seperti masa SMP.

Namun kali ini beda.

Aku tidak sendirian kali ini.

Seluruh orang menghindari pandangan mata denganku, berusaha untuk menghasilkan kontak sesedikit mungkin dengan keberadaan yang disebut Kagamine Len. Kecuali mereka.

"Kalau kau tidak tahan lagi kau bisa melompat ke pelukanku kapan saja."

"Untuk apa? Jika aku melompat ke sana, aku bahkan tak akan merasakan sedikitpun kelembut—GAH!"

Sindiran yang kulontarkan sambil menoleh ke gadis yang duduk di belakang itu terhenti, bersamaan dengan melayangnya buku pelajaran ilmu sihir (baca: kimia) ke batang hidungku.

"Aku serius, tahu."

"... beneran?"

"Jangan mimpi," ujarnya sambil mengeluarkan seringai puas, seolah berhasil menginjak harapan seseorang.

Sayangnya, aku sama sekali tak berharap. Setelah dua minggu mengenalmu, kau pikir aku tidak akan terbiasa dengan lelucon angkat-lempar-harapanmu itu?

...

Pandangan mata mereka menyakitkan. Seluruh penghuni kelas memandangku dengan mata takut dan segan. Bahkan di kelas ini sendiri, hanya tiga orang yang mau berbicara padaku seperti biasa, yang sudah bisa kau duga siapa.

Aku tidak apa-apa, aku meyakinkan diri sendiri.

"... jangan khawatir, masalah seperti ini akan selesai dalam dua minggu," ujar Miku, berbicara dari belakang, mencoba untuk meredakan kekhawatiran.

Tidak, ini tidak akan selesai dalam dua minggu. Skala masalahnya terlalu besar. Apa yang dilakukan oleh iblis itu akan terus terkenang di sekolah ini, setidaknya sampai aku lulus dari sini.

Setidaknya pengalaman semasa SMP berkata demikian.

Meskipun begitu, aku tetap bersyukur untuk apa yang Miku lakukan.

"... Terima kasih," aku berbicara tanpa menoleh, "Kau... kakak yang baik."

Mendengar gumaman kecil dari belakang, aku menarik nafas. Menghirup oksigen, menghembuskan karbon dioksida. Mencoba menenangkan detak jantungku yang sudah berantakan sejak tadi pagi.

Tidak apa, diriku. Tenanglah.

"Len."

Mendengar suara lembut yang memanggilku dari belakang, aku menjawab dengan singkat, "Apa?"

"Hari ini aku mau ke toko."

Untuk menemaniku, aku menyambung dalam hati. Kekhawatirannya berlebihan. Apa ia pikir aku bahkan akan takut untuk keluar dari wilayah sekolah? Mustahil ada anak yang mencoba mencari gara-gara dengan putra calon perdana menteri, tahu.

Tapi aku tak bisa menolaknya. Aku mengangguk, memberinya persetujuan.

Aku harus bekerja keras hari ini.

— [x] —

Vocaloid © Yamaha, Crypton.

Kisah sang pemilik toko komik, Hiyama Kiyoteru, dimulai di chapter ini, dan sepertinya lebih panjang daripada Neru dan Gumi. Yah, selamat menikmati.

Something Called Dream —
— Bagian #10:
Keluarga Kiyoteru (I) —

— [x] —

Klub Penyandang Cacat sama sekali belum memiliki kegiatan yang berarti. Bahkan setelah kami menempelkan selebaran klub guna promosi di mading sekolah, nyatanya belum ada satupun peminat yang menghubungi aku atau Miku; apalagi langsung datang ke sini.

Hari ini, seperti kemarin, kami menghabiskan waktu bersama dengan melakukan hal yang sia-sia. Sadar bahwa menantang Neru dalam catur adalah kebodohan, aku mengajak seluruh anggota untuk bermain monopoli.

"Afrika, dua rumah."

"... Gue baru kepikiran," aku berbicara, mencoba memecahkan konsentrasi pemain lain, "Harga rumah Afrika yang super mahal di monopoli itu enggak masuk akal. Maksud gue, siapa juga yang mau tinggal disana?"

Aku melempar dadu. Bidakku masuk ke petak Afrika. Sepertinya Tuhan membenciku.

"Entah," jawab pemilik rumah di Afrika, Miku. "Mungkin pria bodoh yang sedang sial dan harus menginap di wilayah gersang milikku selama satu giliran? Sekarang bayar."

"... duit gue habis," aku berbicara dengan suara kecil, sembari menyerahkan lembar uang mainan ke tangan Miku. "... Neru, pinjem dong. Ntar gue ganti, deh."

"Elu sudah minjam di bank tiga kali. Hutang elu bahkan udah tembus lima ratus ribu. Serius mau minjem lagi?" pemain yang berperan sekaligus sebagai bank, Neru, bertanya sambil menyindir.

"... Kali ini gue pasti bayar, deh."

"Nih, sepuluh ribu," Neru dengan senang hati menerima permintaan yang seharusnya melanggar peraturan itu, "Paling elu bakal nginjak London dan habis dalam sekejap."

Aku mengambil dadu sekali lagi, "Enggak mungkinlah—"

Trek. Angka-angka di mata dadu menunjukkan bahwa bidak yang berada di bawah kekuasaanku harus menginjak wilayah London—wilayahnya Gumi.

... Apa aku benar-benar dibenci Tuhan?

"... kamu enggak perlu membayar kalau enggak mau," ujar Gumi dengan suara selembut malaikat.

"Kau terlalu memanjakan Len, Gumi," cibir gadis yang mendirikan klub ini, "Seharusnya kau menyuruhnya sujud dan menjilat sepatu dulu sebelum meloloskannya."

"Jangan coba pengaruhi hati suci Gumi dengan rayuan iblismu," aku membalas cibiran Miku dengan sindiran halus (setidaknya menurut standar kami).

"Tidak apa," Gumi berkata sambil tersenyum, "Uang Len kurang, jadi aku tidak memerlukannya. Aku ambil hotel Len di New York saja."

"... Gumi, apa kau sadar bahwa itu artinya kau mengambil properti terakhir yang kumiliki?"

"Tentu," jawab Gumi sambil mengeluarkan senyum yang lebih lembut lagi, "Aku juga sadar sepenuhnya bahwa Len sekarang enggak punya sumber uang lagi."

Iblis. Jika Neru adalah iblis dalam permainan catur, maka Gumi adalah iblis di monopoli. Miku adalah iblis dalam segala hal kecuali dua hal tersebut, ngomong-ngomong.

Hasil akhir dari permainan itu, aku keluar pertama dengan hutang hampir satu juta dolar, Neru keluar kedua karena bosan dan memutuskan untuk menjadi bank sepenuhnya. Setelah lima belas menit pertarungan final antara keduanya, Gumi menang mutlak dengan merebut semua uang dan properti Miku.

... karena ini aku memanggilnya iblis.

"Kau sungguh berbakat dalam pemutusan modal dan saham, Gumi," puji Miku (yang entah kenapa tak terdengar seperti pujian), "Mulai hari ini, kau menjabat jadi bendahara klub."

Bendahara klub yang dipilih karena mampu merebut semua uang dan properti di monopoli. Meskipun terdengar sepele, kau tak akan mengerti kengeriannya kecuali mengalami sendiri pertarungan itu.

Memastikan bahwa sekarang sudah hampir pukul tiga sore, aku berdiri dari bangku meja rapat yang berada di tengah ruangan. Sudah waktunya kerja.

Aku sudah meminta izin melalui telepon untuk merubah jam kerjaku yang sebelumnya dimulai lima belas menit sepulang sekolah menjadi pukul tiga, mengingat sekarang aku memiliki kegiatan klub (tak berguna) yang harus kuikuti sepulang sekolah.

"Gue kerja dulu," aku berkata, melirik ke arah Miku, "Jadi ikut?"

Mendapatkan anggukan dari gadis toska tersebut, aku berjalan ke belakangnya, bersiap untuk mendorongnya keluar dari dalam ruang klub.

"Ah, biar gue yang ngurus kalau ada klien yang datang. Kalau ada," kata Neru dengan penekanan di ujung kalimat. Tidak perlu kau tekankan juga aku sudah tahu. "Gumi, kalau mau ikut mereka juga enggak apa-apa, kok."

"Aku disini saja," ucap Gumi, "Aku ingin membuat buku kas klub."

Mendengar niat Gumi, gadis yang berada di kursi roda yang sedang kudorong langsung menjawab dengan sumringah, "Begitulah seharusnya anggota organisasi. Aku bersyukur dari dalam hati kau tidak seperti dua anggota tak berguna lainnya, Gumi."

"... Oi, elu lupa kalo gue yang ngebeli mainan-mainan itu?" Neru yang terpancing malah membanggakan barang-barang penghabis waktu di dalam lemari. "Len juga ngomong sesuatu, dong. Masa' mau dipanggil enggak berguna?"

Aku memijat dahi.

Sungguh meherankan. Bahkan aku yang menghabiskan waktu dengan Miku sepanjang hari di sekolah saja tahu bahwa satu-satunya cara untuk tidak kalah debat darinya adalah dengan tidak berdebat dengannya, kenapa Neru yang notabene tidur sekamar masih terpancing?

"Aku malas berbicara dengan orang bodoh," Miku berbicara, mengabaikan pernyataan Neru, "Ayo, Len."

Aku segera membawa Miku keluar dari ruangan klub, mengabaikan teriakan-teriakan serapah yang keluar dari gadis di belakang kami.

... Haruskah aku mengajarinya cara menghadapi Miku yang baik dan benar?

— [x] —

Jam tiga sore. Satu jam setelah usainya pelajaran terakhir di sekolah. Dengan pengecualian yang ikut dalam kegiatan klub, anak kelas dua dan tiga sudah dapat dipastikan pulang ke rumah, sedangkan anak kelas satu menghabiskan waktu di dalam asrama.

Kondisi lingkungan sekolah yang sepi, diiringi cuaca berawan dengan hembusan angin sejuk benar-benar membuat jiwaku tenang. Untuk sementara, aku sempat lupa dengan beban berat yang harus kupikul mulai dari sekarang.

Kakiku melangkah, bersamaan dengan berputarnya dua roda raksasa yang menopang singgasana gadis di hadapanku ini. Tangan kananku menggenggam gagang kursi gadis itu, mendorongnya sesuai ritme derap kaki.

Meninggalkan wilayah sekolah setelah meminta izin dengan petugas keamanan di pos dekat pintu, kami menyusuri jalan setapak. Bentuk tanah yang agak tidak rata terkadang membuat pergerakan kursi roda menjadi tak rata, namun sepertinya ia sudah terbiasa.

Kami tidak berbicara. Entah karena canggung atau memang sedang tak ingin, atau hanya sekedar tak memiliki satupun topik yang patut diperbincangkan. Aku terus mendorong, dan Miku terus duduk, mengamati alam perkotaan di sekitar.

SMA Vokazuri berada di pusat kota, karena itu, bukanlah hal yang sulit untuk menemukan pertokoan di sekitarnya. Bukan sekali dua kali juga aku menemukan gelandangan yang tidur atau 'bekerja' di sekitar sini.

Di gang antara pertokoan itu, aku menemukannya. Di dekat tumpukan sampah, tertutupi oleh kardus yang seolah ia jadikan selimut. Seorang gadis kecil yang meringkuk kedinginan.

"... Apa kau akan mengabaikannya?"

Gadis kecil itu tertidur tak berdaya di balik tumpukan kardus coklat muda yang terbongkar. Pakaiannya sama sekali bukan seperti pakaian yang akan dikenakan oleh gelandangan, melainkan pakaian umum yang memang biasa digunakan anak usia sekitarnya.

Miku pasti sudah sadar akan fakta itu. Ia tak mungkin menanyakan keyakinanku untuk mengabaikan anak ini jika gadis kecil tersebut memang tinggal disana.

"Enggak," aku berujar, "Aku akan memberitahu polisi setempat. Mungkin dia anak hilang atau semacamnya."

"Benar juga," gadis di depanku itu berkata, "Kemungkinan bahwa polisi akan menyakitinya sama sekali tak terlintas di benakmu, ya."

"Tentu saja. Mereka polisi, bukan penjahat. Kalau ada polisi yang menyakiti anak-anak, negeri ini sudah lama hancur, tahu."

Tanpa peduli dengan testimoni yang kuberikan, Miku memutar sendiri kursi rodanya, meninggalkanku untuk bergerak ke lokasi gadis kecil tersebut berbaring. Aku menarik nafas, dan akhirnya menyerah dan mengikuti langkahnya.

Ia mencoba meraih tubuh anak di hadapannya. Tangannya mampu meraih pundak anak itu, namun dari posisinya yang terduduk, terlihat sangat kesulitan melakukannya.

"Hei, kau bisa sakit jika tidur disini."

Gadis mungil itu tak terbangun. Arah mata Miku menuju ke arahku, seolah memaksa untuk ikut membantunya.

"Sudah kubilang, lebih baik kita panggil polisi."

"Apa kau mau gadis kecil ini tambah ketakutan karena berada di tangan segerombolan pria berseragam yang tak ia kenal?"

"Aku juga tidak yakin ia mau berada di tangan gadis SMA yang tidak ia kenal," ucapku, membalikkan kalimatnya ke pengucapnya sendiri.

Wajah Miku terlihat jengkel. Menyerah, akhirnya aku menunduk, mengikuti kehendaknya. Dengan satu-satunya tanganku yang mampu bergerak, aku menggoyang-goyangkan tubuh lemah yang terbaring itu.

"..."

Bibirnya mengeluarkan suara kecil. Matanya secara perlahan terbuka, mengedip beberapa kali, sebelum akhirnya ia sadar akan apa yang terjadi.

"S-siapa...?"

Tanpa berdiri, ia berusaha bergerak mundur dariku. Sayangnya, yang ada di balik punggungnya adalah dinding kokoh yang menjepit gang ini. Matanya bergetar, wajahnya mengeluarkan ekspresi ketakutan.

"Kakak cuma orang baik hati yang tidak tega melihat adik kecil sepertimu tidur di tempat dingin seperti ini," Miku berkata dengan lembut. "Nama kakak Hatsune Miku. Namamu?"

Mengabaikanku yang membangunkan gadis itu, Miku segera mengambil alih kendali, berusaha berbicara kepada gadis kecil yang terlihat sangat rapuh itu.

"... Nama...," matanya memejam untuk sekejap, seolah sedang mengingat hal yang sulit, "... Yuki..."

"Dimana Ibu-mu?" aku bertanya, langsung ke inti.

Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya, "Aku... tidak tahu..."

"Apa kau tersesat?" Miku bertanya dengan suara lembut. Tidak peduli seberapa dinginnya mulut Miku, tak ada gadis yang tak melemah di hadapan anak-anak.

Yuki memegang kepala bersurai hitamnya. Tubuhnya bergetar. Matanya membesar, dengan bahu yang seolah-olah akan runtuh kapan saja. Aku bisa mendengar suara dari mulutnya yang kecil,

"... Aku tidak ingat... apapun..."

Tak ada luka ataupun bekas benturan di kepalanya. Aku masih belum tahu, namun kemungkinan ia mengalami amnesia akibat benturan di kepala langsung tereliminasi.

"Namamu... Yuki, 'kan? Apa kau ingat nama belakangmu?"

Kepalanya menggeleng. Dua ikatan kecil yang menggantung di bagian bawah kiri serta kanan rambutnya itu bergoyang, bersamaan dengan gerakan kepalanya.

Ia ingat depannya, namun tak ingat yang lain. Alamat, nama belakang, nama orangtua, dan bahkan kota tempat asalnya sendiri. Jika ia mengalami amnesia, maka ini sudah termasuk pada tingkat yang sangat parah.

Aku memutar otak, mencari solusi yang paling tepat untuk menangani kondisi gadis kecil ini. Jika sudah sejauh ini, tak mungkin aku bisa mengabaikannya begitu saja.

"... membawanya ke polisi, lalu memeriksa daftar orang hilang yang cocok dengan anak ini," Miku berbicara, seolah membaca apa yang ada di dalam kepalaku, "... itu yang kau pikirkan?"

"... Apa ada cara lain?"

Miku diam, tak menanggapi pertanyaan balik yang kuajukan. Aku menatap mata Yuki sekali lagi, kali ini sambil mengelus rambutnya dan memasang wajah lembut yang (sangat) jarang kupakai,

"... Kakak akan membawamu ke kantor polisi. Mereka mungkin tahu orangtuamu dimana."

"Jangan!" teriakannya yang mendadak membuatku terkejut, "... Polisi... musuh... itu yang kuingat..."

Jadi, anak yang tak ingat apapun selain nama depannya, tiba-tiba mengingat bahwa polisi adalah musuh? Bahkan jika aku memaksa setiap sel abu-abu di otak kecil ini untuk bekerja, tak ada jawaban positif yang dapat terlintas.

"..."

Aku menatap Miku. Dari balasan pandangnya, ia juga sepertinya menyadari hal yang sama, dan memutuskan untuk tidak menyuarakannya seperti tadi. Jawaban yang terpikir sama sekali bukan jawaban yang menyenangkan.

"Polisi bukanlah musuh, Yuki," Miku mencoba meyakinkan, "Kami akan membantumu kalau bisa, tapi kalau kau tidak ingat apapun, pergi ke polisi adalah pilihan terbaik."

"Mereka jahat... aku enggak mau ke sana...," tangan mungil gadis itu menggenggam rambutnya sendiri, seolah mengingat apa yang tak ingin ia ingat, "Kalau aku kesana... mereka... aku takut, Kak."

"..."

Haruskah kupaksa? Tidak, kami baru saja berkenalan beberapa saat yang lalu, memaksanya ikut dengan kami ke pos polisi terdekat justru akan membuatnya kabur dari kami.

Itu jelas hal yang buruk. Entah apa yang akan terjadi jika ia menjadi korban pedofil yang kini makin marak terjadi.

Entah apa yang sudah ia alami, yang jelas, itu bukanlah sesuatu yang bisa diceritakan begitu saja kepada dua orang asing yang baru ditemuinya beberapa menit.

"... aku... ingin ikut dengan kakak... kemana saja... asal bukan ke tempat mereka..."

Ketika aku mulai berdiri dari posisi jongkok, jemari mungilnya menangkap ujung celana dasar hitam yang kukenakan.

"Kakak tinggal di asrama," aku berkata, mencoba membuatnya mengerti, "Kalau kakak kenal orang dewasa yang bisa dipercaya mungkin kakak bisa—"

Tunggu. Aku kenal satu.

Kami bahkan sedang dalam perjalanan untuk menuju ke kediaman sekaligus tempat usaha orang dewasa yang (mungkin) dapat dipercaya itu.

"Tidak ada pilihan lain," Miku angkat suara, "Untuk sementara kita bawa dia ke tempat Om Hiyama dulu. Mari berdoa ia mampu menahan jiwa lolikonnya."

"..."

Aku menghela nafas.

Berjongkok sekali lagi, aku menjelaskan situasinya kepada Yuki, "Kakak akan membawamu ke tempat kenalan Kakak. Orangnya baik, jadi mungkin bisa merawat Yuki untuk beberapa saat. Tidak apa-apa?"

"Iya," wajahnya sama sekali tak tersenyum. Di mataku, ia terlihat seperti orang yang siap menerima setiap pilihan yang diberikan.

Yuki berpegangan pada tangan kananku, sementara Miku mendorong kursi rodanya dengan kedua tangannya sendiri. Bersama-sama, kami menyusuri setapak sekali lagi, kali ini dengan tambahan anggota.

... entah kenapa aku merasa seperti sedang memberikan persembahan kepada sang beruang.

— [x] —

"Selamat datang di toko komik Hiyama—Ah."

Kau tahu reaksi terdiam yang keluar saat sedang memperhatikan kedetailan sebuah lukisan mahakarya di museum terkenal? Mata terbuka, mulut ternganga, melamun seperti orang bodoh?

Saat ini, pria paruh baya di hadapan kami bertiga sedang memasang ekspresi yang sama.

Dengan pengecualian, ekspresi wajah itu ditambah dengan dengusan hidung berasap komikal (yang entah datang bagaimana) ala om-om mesum dari komik yang sering kubaca.

"Aku tak lagi peduli dengan apa itu One Piece atau kapan Conan akan mengalahkan Organisasi Hitam...," Om Kiyoteru mengabaikan rasa malunya dan meluncur dengan lutut ke hadapan Yuki,

"—ENGKAULAH MAHAKARYA SESUNGGUHNYA!"

"..."

"Pipi itu, hidung itu, telinga itu, bentuk tubuh yang sedang berkembang itu, mata coklat yang menatapmu hingga lapisan hati yang terdalam—jika kesempurnaan memiliki sosok, itu pastilah dirimu."

"..."

"Tenang saja, Om adalah lolikon elit. Om sepenuhnya sadar bahwa loli itu ada untuk dilindungi, bukan dinikmati. Jadi kau tenang saja, dan tandatangani surat pengangkatan anak ini—"

"—Aku tak akan menyerahkan anak kami pada pria tak berguna sepertimu."

"BUGEGEEHH! Dia anak kalian?! Mahakarya Tuhan yang seolah malaikat utama surga ini adalah anak dari dua orang tak berguna semacam kalian?!"

"Bukan, bukan," aku menghentikan situasi konyol ini sebelum bertambah parah, "Om Kiyoteru, tolong tahan nafsu anda sebentar. Dan Miku, tolong jangan mengatakan sesuatu yang aneh lagi."

"Kalau bukan anak kalian berarti boleh kuambil, 'kan?"

"—MAKANYA MASALAHNYA BUKAN ITU WOOI!" aku menghela nafas dalam-dalam melupakan fakta bahwa aku meneriaki atasanku, "Jadi anda mau ngeadopsi anak orang dengan sekali lihat doang? Ah, dan maaf sudah berteriak tadi."

"Bercanda, bercanda," Om Kiyoteru menyengir kuda, "Itu cuma ucapan selamat datang untuk meringankan suasana. Dan tenang saja, Kagamine, kau kumaafkan dengan bekerja satu jam tanpa bayaran."

Menarik nafas sekali lagi, aku menjelaskan situasinya.

Tentang Yuki, tentang bagaimana ia bersikeras tak ingin ke kantor polisi, tentang kesempatan ia mampu mengadopsi Yuki jika situasi memaksa... ngomong-ngomong, topik terakhir memakan 70% waktu diskusi.

Kami masuk ke bagian atas toko, tempat tinggal Om Kiyoteru. Sejak awal tempat ini adalah ruko dua lantai, jadi bukan hal aneh ia tinggal tepat di atasnya. Aku saja yang tak pernah masuk ke sini sebelumnya.

Kami duduk di ruang tamu, memanjakan diri di atas sofa sederhana. Miku tak ingin repot naik tangga, jadi ia memutuskan untuk tetap tinggal di bawah, membaca komik sambil menjaga toko untuk sementara.

Aku dan Yuki duduk bersebelahan, sedangkan Om Kiyoteru berada di dapur, menyiapkan sirup jeruk dengan es batu yang ia bawakan ke atas meja tamu.

"Silahkan diminum."

Yuki awalnya agak ragu-ragu, namun begitu ujung gelas itu sudah menyentuh bibirnya, isi gelas tersebut langsung lenyap dalam sekali teguk.

"... Masih mau?" aku menawarkan sirup di gelasku yang sama sekali belum tersentuh. Tanpa malu-malu, ia mengambilnya, dan langsung membuatnya bernasib sama dengan gelas sebelumnya.

"Kamu benar-benar tidak ingat apapun?"

Om Kiyoteru bertanya, memastikan kebenaran dari informasi yang kubeberkan sebelumnya. Melihat kepala mungil Yuki yang bergerak naik-turun secara perlahan, Om Kiyoteru menarik nafas.

Untuk pertama kalinya sejak aku berkenalan dengan pria ini dua minggu yang lalu, aku melihatnya mengeluarkan ekspresi lembut yang tak pernah kulihat sebelumnya,

"Kalau Yuki mau, Yuki bisa tinggal dengan paman untuk sementara."

Wajah yang dipasang oleh Om Kiyoteru saat ini bukanlah ekspresi seorang lolikon—meskipun aku tak tahu ekspresi macam apa itu. Apakah itu ekspresi seorang ayah? Pandangan penuh kasih sayang untuk seorang anak?

Aku tak tahu. Satu-satunya ekspresi yang diberikan oleh Ayahku utukku kalau bukan senyum jahat ataupun wajah marah, hanyalah sekedar tatapan tak peduli.

Mungkin benar. Itu adalah wajah yang seharusnya dimiliki oleh seorang ayah.

Bahkan Yuki, yang sebelumnya hampir tak mengeluarkan ekspresi apapun saat berbicara denganku dan Miku, mengeluarkan senyum kecil sambil mengangguk,

"Iya, aku mau... terima kasih, Paman."

Aah, sungguh. Entah untuk alasan apa, rasanya aku ingin menangis.

Dibandingkan dengan hubunganku dan ayah kandungku, hubungan antara dua manusia lain yang seruangan denganku ini terlihat sangat menyilaukan.

Mungkin... aku merasa iri.

Jika dulu aku kabur dari rumah, apakah aku akan mengalami nasib yang sama dengan Yuki? Ditemukan dan dirawat oleh orang yang baik hati?

Aku berdiri dari sofa tamu, memutuskan untuk turun ke lantai bawah. Aku tak ingin mereka melihat ekspresi wajahku saat mengingat dan menyesali hal-hal mengerikan yang terdapat pada memoriku.

Dari balik punggungku, aku dapat mendengarkannya.

"Jadi, sekarang Yuki sudah kelas berapa?"

"Aku tidak ingat... tapi aku hapal perkalian hingga perkalian empat."

Dua suara berbeda tipe yang saling membalas satu sama lain. Suara lembut seorang gadis kecil, ditemani suara berat namun menenangkan. Siapapun tak akan menduga bahwa mereka baru berkenalan sesaat yang lalu.

"Ah, Paman punya baju bekas anak perempuan Paman dulu... mungkin pas denganmu."

Menuruni tangga, aku memasuki lantai bawah yang berupa toko komik. Untuk alasan tertentu, aku tak mampu mendengarnya lebih jauh.

Percakapan bahagia antara ayah dan anak... adalah sesuatu yang tak pernah kumiliki. Sesuatu yang tak pernah kugapai. Sesuatu yang kuinginkan sejak kulahirkan, namun takkan pernah kudapatkan.

Mendengarkan percakapan mereka, rasa iri seolah terus menggerogoti hatiku.

Meskipun begitu, aku merasa sangat hangat. Sangat nyaman.

"Len," suara seorang gadis memanggil bersamaan dengan usainya aku menapaki tangga.

Aku menoleh, mengangkat kepala. Menatap lurus ke arah kakak perempuan yang sudah merubah hidupku itu. Ia memberikan tatapan matanya aneh, namun aku mengerti kenapa.

"Kalau kau mau menangis, menangis saja. Jangan menangis sambil tersenyum. Aneh, tahu."

Aah, memalukan.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku menangis di hadapan kakak perempuanku.

— [x] —

Sore hari. Pukul enam sore, langit mulai menggelap, pertanda bahwa jam kerjaku sudah selesai. Om Kiyoteru sama sekali tidak turun dari lantai atas sejak tadi siang.

Yah, bukan hal yang aneh, mengingat bahwa saat ini penghuni rumahnya bertambah seorang.

Baru ketika aku bersiap untuk pulang bersama Miku, dan merelakan bayaranku ditunda untuk kesekian kalinya, Om Kiyoteru turun, menampakkan dirinya di hadapan kami.

"Bagaimana keadaan Yuki?"

Pertanyaan Miku dijawab dengan tarikan nafas pelan dari pria berkacamata tipis itu, "Aah, anak itu tidak mau berhenti untuk memaksaku mengajarkannya hal-hal baru. Ia baru tertidur barusan."

Miku tersenyum tipis. Mungkin ia merasa lega, telah berhasil menolong seorang anak yang terlantar.

"Sungguh? Syukurlah."

"Kalian mau pulang?" pemilik suara dalam itu bertanya, "Maaf, Kagamine. Bayaranmu harus tertunda lagi."

"Ah, saya sudah terbiasa, kok," aku menjawab, setengah sarkasme.

"Kami permisi dulu," Miku berjalan terlebih dahulu, mendorong kursi rodanya untuk keluar dari toko. Setelah mengangguk untuk memberi salam, aku mulai berjalan untuk mengikuti Miku.

"Ah, ngomong-ngomong..."

Mendengar suara Om Kiyoteru yang terdengar sekali lagi, aku menolehkan kepala.

"Apa kau bisa meminta izin untuk makan malam di luar? Yuki bilang ia ingin kau ikut makan malam dengan kami."

"Denganku? Bukan dengan Miku?"

"Iya, denganmu," tegas pria paruh baya itu, "Ia bilang ia tak ingin merepotkan 'kakak dengan kursi roda'."

"Untuk ukuran anak SD toleransinya tinggi, ya. Meskipun aku Miku tak akan senang jika mendengar itu," aku menganggukkan kepala. "Baiklah. Kalau Nona Meiko memberi izin."

"Pastikan kau datang, Kagamine."

Aku menganggukkan kepala sekali lagi. Om Kiyoteru kembali mengangkat suara,

"—aku sudah berjanji untuk menceritakan segalanya padamu pada saat kita makan bersama selanjutnya, 'kan?"

"... iya."

Tersenyum tipis, aku membuka pintu toko. Sebelum melangkahkan kaki untuk keluar, aku menoleh untuk terakhir kalinya,

"Anu... mungkin saya sudah sering mengatakan ini...," aku menggaruk rambut, mencoba menyingkirkan rasa malu untuk sesaat, "Terima kasih... sudah membiarkan saya kerja disini."

"Jangan dipikirkan, bocah."

Ah, setelah dipikir-pikir, saat pertama kali kami berjumpa, Om Kiyoteru selalu memanggilku 'bocah' di setiap kesempatan. Namun entah sejak kapan, ia mulai menggunakan nama keluarga.

Apakah itu artinya ia menerimaku, mulai memandangku sebagai orang yang berharga untuknya?

Entah, aku tak tahu. Jika ada sesuatu yang harus aku tahu,

—Itu adalah kenyataan bahwa aku harus mengenakan pakaian terbaikku malam ini.

— • —
Bersambung —
— • —

Catatan Penulis:

Iyeey. Elpiji disini.

Kiyoteru itu seharusnya jadi karakter lawak sejenis Gakupo. Tapi, yah, kalian tahu sendiri, komposisi komedi di fanfik ini minimum sekali. Apalagi ceritanya jarang berlatar di toko komik, jadi Om Kiyoteru jarang tampil.

Apa hadiah terindah untuk om-om lolikon? Ya, coretseekorcoret seorang loli. Enggak, canda. Om Kiyoteru enggak sehina itu. Loli ada untuk dilindungi, bukan dinikmati. Dan... saya sendiri juga tahu kalo Om Kiyoteru dan Yuki pernah duet lagu Magnet.

Lalu, apa fungsi dari Yuki di cerita ini? Jelas, untuk nyakitin karakter protagonis tercinta kita; Len dengan rasa dengki. AHAHAHAH. /dibejek

Mungkin telat ngomongin ini, tapi... Klub Penyandang Cacat itu bukanlah karater utama. Itu cuma bagian dari setting. Gumi dan Neru juga cuma sekedar karakter sampingan (setingkat Nero), makanya nama mereka gak ada di summary.

Terus, Rei... entah kapan nongolnya. Mungkin dua-tiga chapter lagi. Saya emang bejat, padahal udah diforeshadowin separah kemaren.

Sekian untuk sekarang. Kek biasa, jangan lupa untuk review karena itu akan menambah cepat apdet saya (dan kek biasa, saya ngibul).
Akhir kata, terima kasih sudah membaca dan sampai jumpa di chapter selanjutnya.