Cap 3 : pengakuan hati

YOU'LL BE IN MY HEART

Rating : M

Pairing : Sasuhina

Genre : Drama/angst

Warning : CANON, OOC, typo, abal, gaje, ide pasaran, dan lain-lain

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

Bummmm…!

Blarrrrr…!

"Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!"

Sosok mahkluk yang berada di atas bukit menyeringai, kala mendengar suara jeritan manusia diselingi tangisan dan teriakan kesakitan.

Ia puas dan senang melihat manusia panik seperti itu. seperti cita-citanya sejak ia dilahirkan, ia tidak pernah senang kalau manusia yang menghuni bumi ini. Manusia adalah makhluk lemah dan selalu menyakiti sesamanya, manusia tidak pantas berada di dunia ini. Hanya mahkluk seperti dialah yang layak memenuhi bumi ini, para siluman.

Ia mengepakkan sayapnya yang berwarna hitam dan berbentuk tangan manusia, rambutnya yang panjang berterbangan mengikuti arus angin, ia tertawa penuh kemenangan. Ia uchiwa—siluman gagak hitam—si pengacau.

Ia terbang mencari kembali manusia untuk dihancurkan, namun ia terkejut ketika melewati sebuah danau dengan air berwarna putih bersih. Dengan hati-hati ia turun dan bersembunyi di balik batu besar.

Ada sosok mahkluk cantik yang berada di dalam danau asyik bermain air. Mahkluk cantik itu bukan berasal dari kaum manusia, itu terlihat dari wujud tubuhnya yang seluruhnya berwarna putih, di belakangnya juga tumbuh sayap putih serupa angsa.

Ia memandangnya tidak berkedip, mahkluk cantik itu berhasil mencuri hatinya.

Karena penasaran merebak di hatinya, ia memberanikan diri menemui perempuan itu.

"Hai." Mahkluk putih itu terkejut—kemudian murka. Sang gagak tidak menyangka perempuan itu menyerangnya.

Ia mengelak dari serangan air berbentuk naga, ia tahu elemen apinya tidak sanggup mengimbangi elemen air milik wanita itu.

"Hai kau…! Siluman gagak, pengacau kehidupan manusia. Sampai disini kejahatan yang kau buat. Aku dewi air akan menghentikanmu!"

Sekarang ia sedar, kenapa dari tadi ia tidak mampu menyeimbangkan kecepatan gerakan perempuan itu. Ternyata gadis itu adalah utusan para dewa, untuk menghabisinya. Ia tersenyum.

"Kalau kau bersedia menjadi pendampingku. Aku bersumpah tidak akan melakukannya lagi." Sang dewi yang masih murka, tertegun. Ia tidak menyangka akan menghadapi situasi seperti ini.

"Maksudmu?"

"Aku akan berhenti menghancurkan manusia. Asal kau mau ikut denganku." Sang dewi air yang masih terkaget-kaget perlahan tersenyum, ia melihat rona merah yang menjalar di pipi siluman hitam itu. Semua mahkluk punya sisi baik, biarpun ia seekor siluman.

Saat itu ia yakin. Semua akan terkendali dengan kelembutan. Orang jahat tidak perlu dilawan dengan kekerasan. Dengan penuh keyakinan ia melakukan perjanjian dengan siluman gagak.

"Kenapa, Byakuya? Aku Uchiwa, kekasihmu." Manusia cantik dengan rambut sangat panjang itu melihat mahkluk bersayap yang ada dihadapannya dengan kebingungan.

"Kau siapa?"

"Kenapa kau lupa. Bukankah kau telah berjanji akan selalu bersamaku." Siluman gagak mencengkeram bahu perempuan itu. "Apa kau sengaja melupakanku?"

"Lepaskan dia siluman!" Uchiwa memandang tajam sosok manusia di samping perempuan itu,untuk manusia lelaki itu Nampak tidak lazim.

"Siapa kau?! Kenapa bersama kekasihku." Ia bersiap mengambil ancang-ancang, tahu mereka tidak akan selesai hanya dengan berbicara.

"Jangan bercanda…!" sosok manusia bernama Rikudou itu mencibir, meremehkan. "Ia tidak pantas bersama siluman."

"Kurang ajar!"

Dan perkelahian tidak tidak dihentikan.

.

Rikudou Sannin menambah kecepatan melompatnya, agar dapat mengejar sosok mahkluk di depannya. Bertahun-tahun lamanya waktu ia habiskan untuk mencari mahkluk itu.

"Uchiwa. kembalikan jantung Bayakuya sekarang!"

Ia memusatkan cakra di telapak tangannya kemudian memadatkannya hingga cakra itu berbentuk bola , Ia kemudian melemparkannya. Hampir saja mengenai mahkluk di depannya, untung mahkluk itu—Uchiwa—bisa menghindarinya.

Siluman gagak berhenti sebentar, kemudian ia tidak sanggup lagi menyeimbangkan tubuhnya, ia jatuh tersungkur ke tanah dengan bersimbah darah. Efek pertarungannya dengan Rikudo Sannin. Di dalam gendongan yang selalu dilindunginya matian-matian. Ada bayi kecil yang terus menagis.

Ia tahu ini adalah waktu-waktu terakhirnya. Tapi ia tidak sudi menyerahkan jantung kekasihnya pada orang lain. Ia yang berhak atas jantung itu.

Ia menikam jantungnya sendiri. Rikudou yang sudah berhasil menyusulnya terkejut melihat kondisi Uchiwa. Siluman setengah manusia itu terkekeh.

"Aku dan Byakuya akan selalu bersama. Kau tidak akan pernah bisa memilikinya." Lalu ia melirik bayinya.

"Kau tidak akan membunuhnya…kau tidak akan pernah bisa membunuhnya! Aku tahu kau lemah Rikudo! Ha…ha…ha…"

Kemudian ia menghembuskan nafas terakhirnya. Sang Sannin kemudian membuat segel…dan mengunci seluruh cakra mahkluk itu. Kemudian mengambil bayi yang sudah terlelap tanpa terganggu.

Bayi lelaki itu sangat sehat, ia bayi manusia yang lemah. Ia tahu bayi ini sekarang tidak bisa melakukan apa-apa. Tapi ketika ia besar ia adalah perusak yang hebat dengan kekuatan yang besar, Pencampuran gen siluman gagak dan keturunan Byakuya dari Hyuuga.

Sang Sannin tidak pernah menyangka, kalau siluman itu menyamar dan memperistri salah satu perempuan Hyuuga. Saat mereka menyadarinya semua sudah terlambat, gadis Hyuuga itu melahirkan putera.

Ia tahu ia lemah pada yang seperti ini, ia membenarkan perkataan Uchiwa ia tidak bias membunuhnya. Ia tidak mungkin bisa membunuh makhluk lemah.

Ia membawa bayi itu ke rumahnya dan diberi nama. Indra.

…end …

Hinata gelisah, ia berkali-kali ragu saat menginjak pemakaman itu. Kata Sasuke ada sesuatu yang ingin ia berikan pada wanita itu, ia yakin lelaki itu sudah tidak ada.

Mungkin sekarang ia sedang digiring oleh beberapa Anbu untuk diantar ke Iwa, teman-teman sedang melepaskan kepergiannya. Dan para gadis-gadis sedang menangis sekarang, sedangkan ia masih bingung disini.

Semalam ketika ia dan lelaki itu habis bercinta, Ia bilang pada Sasuke kalau ia tidak bisa mengantar kepergian lelaki itu. Ia tidak mau menangis dan menahannya, Sasuke bilang sambil memeluknya, tidak apa-apa.

Tidak apa-apa.

Akhirnya ia menetap hati, dan melangkah kakinya ke pemakaman keluarga Uchiha.

Di makam ibunya Sasuke, Hinata menemukan sebuah baju berlambang Uchiha dibelakangnya. Dan sebuah pesan yang ditulis di atas kertas dengan rapi.

Aku ingin melihatmu memakai baju ini… ketika aku kembali, dan … jadilah Uchiha Hinata tersenyum bahagia…matanya berkaca-kaca.

…Matanya semakin berlinang, dadanya berdebar dengan keras ketika sebuah kalimat mengakhiri surat tersebut.

Aku cinta padamu (Uchiha Sasuke), air mata langsung mengalir deras di kedua belah pipinya, tanpa bisa ia tahan. Ia meremas kertas itu dan berlari cepat. Ia juga mencintai lelaki itu, ingin mengatakan pada Sasuke. Mengatakan kalau ia akan setia menunggunya disini. Pasti akan setia.

Hinata melompat di antara pepohonan. Ia ingin segera tiba, ingin melihat wajah Sasuke terakhir kali. Tapi semuanya terlambat, ketika ia sampai gerbang sudah sepi, hanya Sakura yang masih berdiri disitu. Wanita itu terkejut melihat Hinata.

"Kau baru sampai Hinata? Sasuke-kun sudah berangkat." Wanita itu pasti habis menangis, pikir Hinata. terlihat matanya yang sembab.

"Maaf baru datang." Sakura menggeleng bilang tidak apa, kemudian ia heran melihat air mata sang gadis Hyuuga. "Kau menangis?" wanita berambut merah jambu itu mendekat, ia bertanya-tanya apa yang di tangisi oleh wanita Hyuuga itu sampai terisak. Tidak mungkin ini karena Sasuke. Wanita itu dan Sasuke tidak akrab.

Hinata menyapu air matanya dan menggeleng dengan kuat. Berusaha mengatakan pada wanita itu ia tidak apa-apa.

"Tidak apa? Bagaimana dengan dirimu sendiri, Sakura?" dalam hatinya, ia tidak menyukai tangisan perempuan itu untuk kekasihnya. Ia selalu yakin kalau perempuan berambut merah itu cocok dengan Naruto, bukan yang lain.

"Aku hanya sedih saja." Entah karena apa atau karena suasana, ia memeluk perempuan Hyuuga itu. Ia sendiri juga kurang mengenalnya, kecuali ia tahu kalau gadis ini menyukai Naruto.

"Apa kau sedih karena Naruto. Hinata?" Gadis Hyuuga diam, tidak membalas memeluk Sakura.

"Kalau dia pergi…apa kau akan menderita?" Hinata mencengkeram lengan wanita berambut pink itu.

"Tidak ada yang cocok dengan Naruto…selain kau. Sakura." Perempuan berambut pendek itu kaget, dan melepaskan diri.

"Kau salah paham, Hinata. Aku…"

"Akan sangat egois, kalau kau mengingkari keberadaannya dalam hidupmu Sakura. Atau kau sengaja menutup matamu pada perjuangan dan pengorbanan Naruto-kun padamu?" Hinata pesimis…ia sendiri juga egois…ia berharap Sakura tidak memikirkan Sasuke lagi.

"Hinata, bukankah kau mencintainya?" Hinata tersenyum…kalau soal cinta, ialah wanita yang paling mencintai Naruto, mencintai mimpinya, mencintai perjuangannya, dan mencintai semua sikap pahlawannya.

"Ya. Tapi ia mencintaimu." Hinata menjawab tanpa beban. Tentu saja, ia mencintai Naruto tanpa menuntut apapun. Berbeda dengan cintanya kini dengan Sasuke yang penuh harapan dan tuntutan. Ia mencintai sang Uchiha itu dan ingin memilikinya…sangat ingin.

Hinata menyapu air matanya dan tersenyum, kemudian berlalu meninggalkan Sakura. Gadis itu masih berdiri diam di depan gerbang, memandang kepergian Hinata penuh Tanya.

Gadis Hyuuga itu terus melangkah kakinya, air matanya terus mengalir bila mengingat lelaki yang baru meninggalkannya. Ia ingin sekali melihat wajah pria itu Hinata menyesal tidak ikut mengantarnya, menyesal tidak banyak memberi waktu berdua lebih lama.

Tapi walaupun ia sedih ia tetap gembira, pada saatnya Sasuke akan pulang juga. Ia tidak akan pernah melupakannya dan akan tetap menunggu lelaki itu.

Sampai kapanpun.

"Hinata!" wanita itu terkejut mendengar panggilan keras itu, ia melihat sekelilingnya tidak sedar kakinya malah melangkah ke tempat pelatihan tim tujuh. Mukanya memerah, dengan tiba-tiba ia bersembunyi di balik batang kayu yang segaja di tancap disitu, untuk area pelatihan atau lebih tepat area penghukuman.

Ia menengok pada si pemanggil. Yang ia lihat cengiran lebar dari si pemilik rambut pirang yang menawan. Malunya semakin bertambah, padahal dulu sudah mengusai dirinya bila dekat dengan orang yang dikaguminya di dunia ini. Tapi kalau bertemu dengannya secara langsung tanpa orang lain, deg-deg juga.

"Kenapa ada di sini…?"

"Na…na…na…ruto!" ah…dia gagap lagi. Naruto akhirnya tertawa lepas, wanita itu tercengan sekaligus heran…kalau di perhatikan Naruto memang pria yang menawan.

Hinata terkekeh…Naruto memang pria yang mengagumkan…bagi Hinata, Naruto adalah lelaki yang ia cintai dan dicintai oleh seluruh orang di desa Konoha…ia tidak ingin memiliki pria itu seorang diri karena lelaki itu adalah milik semua orang.

Gadis itu tersenyum lega. Dulu ia selalu merasa ada yang perasaan menganjal, bila ia bilang mencintai pria itu sepenuh hati. Tapi sekarang ia tahu seperti apa cintanya pada Naruto…seperti seorang yang menjaga barang berharga, akan melindungi barang itu walaupun taruhan nyawa.

Lalu ia teringat lagi dengan Sasuke…ia mencintai pria itu dan ingin memilikinya seorang diri, mungkin terlihat egois tapi seperti inilah perasaannya, ketika melihat gadis lain berhasrat sama dengannya. Ia cemburu pada Sakura yang menangisi kepergian kekasihnya.

"Hinata?" gadis itu sadar dari lamunannya, ia melihat wajah Naruto yang lesu. Ada apa dengan lelaki itu?

"Na…naruto ada apa?" rasanya ia tidak sopan bertanya begini pada lelaki itu. Naruto terdiam sesaat kemudian memandang dalam-dalam kearah Hinata. Membuat gadis itu kembali resah karena malu.

"Kau pernah bilang, kalau aku orang yang benar-benar kuatkan?" Hinata terkejut pria itu masih ingat perkataannya, padahal itu sudah lama sekali. Apa ia juga ingat peryataan cintanya saat invasi Pain tidak, ya? Ia malu sekali.

"Apa kau masih merasa begitu?" Hinata tersenyum, ia tahu pria itu sedang dalam keraguan entah karena apa. Ia tersenyum walaupun tidak keluar dari tempat persembunyiannya.

"Tentu saja. Naruto-kun sangat kuat melebihi siapapun. Naruto yang sudah menolong kita semua. Naruto yang telah menciptakan perdamaian." Pria itu tertawa, merasa tersanjung.

"Taukah sesuatu Naruto-kun, bila impianmu tercapai, kau telah membuat impian kami juga tercapai. Keinginan Neji-Nii, keinginan Sasuke dan orang-orang yang tidak beruntung di dunia ini."

"Naruto-kun sudah menunjukkan pada dunia, kalau siapapun pasti bisa meraih impiannya. Dengan usaha keras , menjaga sesuatu yang penting dalam hidup kita."

"Bagiku, tidak ada pria di dunia ini yang paling keren dan menawan selain dirimu. Naruto-kun." Pria pirang itu sukses tertawa dengan keras.

"Begitukah…apa menurutmu aku akan bisa menjadi Hokage yang hebat." Hinata mengangguk pasti.

"Naruto adalah Hokage yang hebat melampau Hokage-Hokage sebelumnya." Naruto masih tertawa senang, perasaanya sedikit lega…akhir-akhir ini ia tertekan dengan latihan dan pendidikan yang ia harus jalani sebagai calon Hokage.

"Thank Hinata. Selama ini aku tertekan sekali. Tapi aku kembali semangat karena kamu." Pria itu menggaruk pipinya, sedikit canggung.

"Rasanya kita juga pernah terlibat pembicaraan seperti ini, ya." Hinata tersenyum.

"Hinata... waktu kita bertarung dengan pain…" Hinata kaget, ia tahu kemana arah pembicaraan ini… namun ia segera memotongnya.

"Tidak ada wanita yang lebih cocok dengan Naruto, selain Sakura."

"Heh?" lalu gadis itu segera berlari namun Naruto memangilnya, ia berhenti.

"Seperti yang pernah aku bilang sebelumnya…kalau Hinata…aku lumayan suka." Gadis Hyuuga itu tersenyum senang.

"Oke, aku pasti akan meraih impianku menjadi Hokage! Pastikan kau melihatnya, ya! HE…HE…"

Sasuke apa kabar?

Disini sudah musim gugur, apa disana sudah mulai dingin….sudah hampir satu tahun berlalu sejak penghukumanmu…seperti mimpi saja.

Kemarin Naruto-kun membuat kehebohan lagi, untung ada Sakura yang bisa mengatasinya…aku juga latihan seperti biasa, walaupun tim delapan sudah tidak ada.

Aku kangen kamu, Sasuke-kun.

.

Hinata menutup buku catatannya, padahal ia seharusnya menulis laporan misi yang baru ia selesaikan. Namun ia malah curhat.

Ia tersenyum sendiri ketika melihat kelender di dinding kamarnya, ada palang-palang merah menghiasi setiap tanggal disana. Dan Sasuke akan segera kembali…ia berdebar, nanti harus dengan apa ia menyambut lelaki itu.

Lalu ia ingat pemberian lelaki bermarga Uchiha itu terakhir kali…ia beranjak dari kursinya dan menuju lemari pakaian.

Ia menganti kimononya dengan kimono pemberian Sasuke, ia menarik kimono itu, agak terasa ketat di bagian dada.

Ah ternyata tubuh ibu Sasuke lebih kecil dari tubuhnya, atau ia terlalu gemuk…aihs… ia harus mengurangi berat badan mulai hari ini.

Ketika selesai ia menatap dirinya di cermin, rambutnya yang terurai kemudian ia ikat sanggul dan beberapa helai rambut ia biarkan jatuh di samping telinganya. Ia sekarang mirip nyonya Uchiha.

Hinata terkekeh sendiri saat pikiran itu masuk dalam kepalanya, ia masih sibuk membolak-balik tubuhnya sendiri di depan cermin.

"Astaga…Hinata-sama apa yang anda lakukan!" Hinata menoleh dan tersenyum pada pelayan setia di rumahnya, pelayan itu terkejut bukan main apalagi lambang kipas di belakang kimono itu membuat ia gugup.

"Cici-san menurut anda, bagaimana aku mengenakan kimono ini?" pelayan yang bertugas sebagai kepala dapurnya melihatnya tidak percaya, nampan makanan yang ia bawa ditaruh atas meja.

"Anda tidak pantas memakai kimono itu, Hinata-sama." Perempuan dengan mata putih itu mendesah kecewa.

"Jelek…ya? Tubuhku memang tidak bagus memakai kimono cantik." Ia murung…sepertinya berat badannya memang meningkat tajam.

"Bukan itu maksud saya, anda cantik memakai kimono apapun Hinata-sama." Wajah Hinata kembali berseri. "hm…" dia tersenyum, kalau Cici-san saja bilang ia cantik berarti Sasuke juga akan merasa seperti itu.

Pelayan itu gelisah melihat nonanya tidak juga menanggalkan kimono itu, entah apa yang nonanya pikirkan dengan mengenakan kimono itu. Lagian darimana ia mendapatkan kimono tersebut? kemudian ia tersentak menyadari sesuatu.

"Hinata-sama buka kimono itu...kalau ketua-sama tahu anda dalam masalah." Hinata masih dalam keadaan bahagia.

"Sebentar lagi, Cici-san." Pelayan itu makin gelisah, kemudian ia sadar ia tidak menutup pintu kamar nonanya. Dengan terburu-buru ia melangkah, namun kakinya terasa berat ketika Neji sudah ada di depan pintu. Memandang jelas pada Hinata yang ada di depan cermin.

"Hinata-sama apa yang anda lakukan?" sontak Hinata terkejut, ia panik.

"Neji-nii…ini…" Neji mengeram, Hinata tahu ini tidak baik.

"Anda tahu apa yang ada lakukan? Memakai sesuatu dengan lambang klan lain, apa yang ada pikirkan?" Neji berbalik, membuat Hinata semakin panik ia takut Neji melapor pada ayahnya, dengan tergesa ia mengejar lelaki itu.

"Neji-nii tunggu!"

"Hinata-sama…kimononya!" pelayan itu ikut panik dan mengejar Hinata. Mereka berlarian di sepanjang koridor. Namun langkah Hinata berhenti ketika ia melihat tetua dan ayahnya berdiri dihadapannya. Gadis itu menciut ketika menyadari kimono yang dipakainya belum ia ganti, sesuatu yang gawat pasti akan terjadi.

Tetua itu mendekat, Hinata mundur sedangkan Neji memandang cemas, ia tahu ini tidak baik. Seharusnya ia tidak pergi dan menahan Hinata di kamar dan mengambil kimono itu, kalau perlu ia bakar sekalian kimono pembawa masalah itu.

"Apa yang kau pakai? Hah." Hinata panik ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, seakan-akan kalau berbuat begini ia akan terhindar dari masalah. Ketika ia ingin menghilang, ayahnya lebih sigap. Dengan cepat berdiri di belakang putrinya dan membalikkan tubuh Hinata.

Bertapa ia terkejut melihat lambang di belakang kimono itu. Seluruh penghuni klan mendadak gelisah. Tetua Hyugga menggeram marah dan tanpa aba-aba ia menyerang.

KABOMMMM!

Hinata hanya bisa menutup mata, namun tidak sesuatupun terjadi padanya. Ketika ia membuka matanya, ia terkejut melihat keadaan ayahnya. Yang terluka dan terlempar beberapa meter dari tempat ia berada tadi.

"Outo-san?!" ia berlari kearah ayahnya, namun tetua lebih cepat langsung menyerang laki-laki itu bertubi-tubi. Ayahnya tidak melawan sama sekali.

"BUKANKAH SUDAH KU BILANG JAGA PUTRIMU! HAH." Ia melayangkan kembali jutsunya, namun Hinata menahan dengan berdiri di antara ayah dan tetua klannya.

"Ini salahku tetua-sama…hik…jangan hukum ayahku." Ia tidak bisa menahan isak tangisnya. Ayahnya mendorong tubuh Hinata ke samping, sehingga ia kembali terkena jutsu dan terlempar beberapa meter. Para penghuni klan lain hanya bisa berteriak.

"MENGURUS SATU UCHIHA SAJA. KAU TIDAK MAMPU!" lelaki tua itu terengah-engah. Hinata hanya mampu menangis.

"Seleksi seluruh pria klan souke!" Hinata yang masih menangis tidak tahu maksud tetua.

"Segera nikahkah Hinata!"

Ia berubah syok.

Tbc

kalau ada typo bilang saja langsung di mana. jadi saya tinggal edit. sekali lagi saya emang pemalas.

Terimakasih kepada : Sasu'ai'hina. Begitu ya. apa menurutmu aku termasuk author yang seperti itu? kirei- neko. Pertanyaanmu aku simpan dulu, ya. Rhe Muliya Young. Iya, J. Vicko vie. Tidak hamil. Renita Nee-Chan, tenang. Mereka akan bersatu dengan cara saya. hana37. Makasih, Orzz. Mungkin 2 atau 3 chap lagi akan sampai klimaks. Luluk Minam Cullen. Itu sebenarnya rangsangan, tetapi nggak jadi. Rini Andriani Uchiga. Lihat saja nanti, ya. Dewi Natalia. Tentu, mereka pasti bahagia. Dwen. Ia ^^. tsubaki5. Iya, terimakasih atas nasehatnya. Sudah saya ubah. Itulah saya, sering nulis seenak jidat, kemudian malas ngeeditnya. Tidak akan saya anggap flame kok. Malah saya harus terimakasih, kalau tidak tampar seperti ini, pasti saya malas ngerubahnya. Factor utama karena saya pemalas. Author tanpa nama. Iya. Ore, nanti pasti akan terlihat. seo haeri fishYeobos. Terimakasih banyak buat riviewmu. Aku tambah semangat. dwi2. Aku simpan dulu pertanyaanmu, ya.^^. hinatauchiha69. Iya. Re. tidak apa-apa, kok. Aku suka baca review panjang-panjang, di cerita ini zetsu memang hebat. Kakek yang bersih-bersih itu memang tetua hyuuga. CloverLeaf as Ifanaru. Iya aku memang parah soal itu, maaf bila kau jadi susah. ^^. kecoaidup2. Makasih.celty fuyumi, iya. Uchiha Hyuuga, makasih. Hyu. yukiko miyuki, iya. AyuClouds69, tidak akan lama lagi. ^^.Xshuchi, iya. Rini desu,Iya aku memang parah soal itu, maaf bila kau jadi susah. ^^. Hyuugahime, sedikitnya aku memang terispirasi dari sana. Maaf apdetnya terlalu lama. UchiHa Hinata, chipana. Yuuna Emiko, . nabiladzul qaa, Xexeed, Soul Spirite,dewijombloslalu99 . maaf lama banget, tapi terimasih udah ngetuk pintu dengan kalimat ayo apdet. ^^.