Chapter 10 : Beyond the Boundaries – Abyssal
Ohayou/Konnichiwa/Konbanwa, Minna-san! Ohisashiburi ne~~
O genkidesuka, Minna?
Apa kabar nih? Sehat? Sedikit pembicaraan soal judul, seharusnya ini judul udah dari chapter 8 lalu, tapi malah baru ingetnya di chapter 9 dan baru masukin di situ, seharusnya ada 4 part, tapi karena lewat satu di chapter 8, jadi cuma 3 part.
Yang penting enjoy, oke?
AFantasy Fict from me
~Heart and Soul~
Main pair : Kagamine Len & Kagamine Rin, maybe a little bit of slight pair and crack pair content
Disclaimer : Vocaloid © Yamaha, and other companies
Story © Me
UTAUloid © Owner creator
Fanloid © Creator
Special thanks to : Square-Enix and Tecmo
Summary :
"Aku melihat dunia baru, sebuah masa depan yang baru. Aku masuk ke dalam dunia ini hanya untuk satu hal, sebuah kenangan, sebuah kenangan yang pernah aku buang, aku akan mengembalikannya walau aku akan menjadi abu sekalipun."
Warning : OOC (maybe), typo(s), gaje, pendeskripsian kurang, kesalahan eja 'EYD' dan teman-temannya.
'Abc' (italic) : Flashback, kata asing, atau percakapan secara tidak langsung (telepon, email, sms, dll)
"Abc" : Percakapan normal
'Abc' (kutipsatu) : Hayalan, angan, atau (monolog) pikiran karakter.
'Abc'/ 'ABC' (bold atau kapital) : Kata atau kalimat yang diberi penekanan, kata atau kalimat penting.
HAPPY READING & RELEASE YOUR MIND!
Chapter 10 : Beyond the Boundaries – Abyssal
XOXOX
"Akhirnya kita bertemu juga, aku tidak akan segan-segan mencabikmu hingga menjadi onggokan daging, dasar sampah..."
"Jangan anggap enteng lawanmu, Mikuo."
Len dan Mikuo sudah berdiri di final, untuk sebuah alasan, Kanon yang menjadi lawan sebelumnya, melawan pasangan Len dan Mikuo dengan setengah-setengah, Kanon dan pasangannya sengaja kalah, mungkin ini permintaan Anon sebagai adik kepada Kanon, pasangan Kanon sendiri juga tidak keberatan.
Len sebenarnya bisa menang pada pertarungan awal, kelas Len sendiri memang lemah dalam segala segi dari kebanyakan kelas lain, satu-satunya andalan kelas Len adalah skill-skill pasifnya. Oleh karena itu, Len menantang Bahamut dan mencari pedang Abelisk. Kekuatan pedang Abelisk adalah bisa menyerap energi sihir penggunanya untuk mempelajari serangan lawan dan menggunakannya, tapi hanya bisa satu kali. Itu adalah tujuan Len dari awal, Len memakai ras yang memiliki banyak energi sihir seperti Diakon, tapi kenapa dia tidak mengambil kelas yang menggunakan banyak energi sihir seperti Mage ataupun Priest? Alasannya adalah agar sihirnya bisa dia fokuskan pada pedangnya untuk mempelajari kemampuan musuh, memang Len bisa dikatakan rugi di awal, yang dimaksud di awal adalah saat dia belum mendapat pedang Abelisk, tapi karena pedangnya juga, dia menjadi pemain yang ditakuti. Selain julukan Exorcist, Len juga disebut sebagai Mimic King.
"Aku akan menggunakan semua kemampuanku, bersiaplah." Ucap Len.
"Kau bisa apa? Bahkan kecepatanmu tidak bisa menyamaiku, seranganmu banyak yang lemah, sihirmu hanya mencapai tingkat 3 paling tinggi dan sangat mudah dihindari kelas sepertiku, kau bisa apa?" Ejek Mikuo.
Len memandangi sekitarnya, mereka mulai di teleport menuju tempat pertarungan mereka, dan tragisnya, mereka sampai di sebuah padang pasir daerah Gnoma. Padang pasir luas tempat pertarungan mereka untuk yang kesekian kalinya juga yang kesekian kalinya mereka bertarung di tempat ini pula.
"Aku tidak mau basa-basi Mikuo, akan ku buka matamu yang sudah lama tertutup itu! Angel Song!"
Len mengeluarkan kemampuan dari monster yang pernah ia lawan, sekilas kemampuan ini memang seperti kemampuan kelas Bard, dimana pengguna akan mendapatkan buff yang luar biasa banyak, tapi tidak seperti kemampuan asli dari bard, yang Len pelajari hanyalah menambahkan beberapa.
"Sihir pendukung tidak ada gunanya di hadapanku!"
Mikuo berlari ke arah Len dengan kecepatan penuh, Mikuo melempar ketujuh belati lainnya yang ia punya ke sekeliling Len, dan hanya memegang satu belati.
"Omnistrike!"
Mikuo menyerang Len dari satu arah bergantian secara cepat dan setiap dia melewati Len, Mikuo menambah jumlah belati yang ia pegang sehingga bisa menciptakan 36 kerusakan langsung dalam 8 kali serangan.
Mikuo melompat ke belakang, melemparkan semua belatinya secara langsung ke arah Len yang setiap belatinya sudah diberi sihir peledak, Len yang belum bergerak meledak di tempat, asap yang sangat tinggi mengepul dari tempat Len berdiri.
Sesaat Mikuo sudah seperti di atas angin, tapi tiba-tiba awan menghitam, angin kencang menerpa mereka, asap yang ada di sekeliling Len menghilang, memperlihatkan Len yang tidak terluka sedikitpun.
"Aku masih sempat, beberapa kemampuan musuh memang banyak yang berguna, bukan begitu? Mikuo?"
Mikuo merasa di ejek oleh Len, bagaimana bisa Len yang hanya memiliki kelas seperti Necromancer menghentikan kecepatan kelas Shikki?!
"Dasar kau Cheater! Aku tahu kau berbuat curang!"
Saat Mikuo berteriak demikian, orang-orang yang ada di arena melihat dan mendengar reaksi Mikuo dari layar besar di arena langsung berbisik-bisik tidak enak. Banyak yang mengatakan Len sudah melanggar peraturan, bahkan sampai ada yang berkata 'mati saja' kepada Len.
Rin mendengar semuanya dari jauh, Rin berdiri dengan kasar, meremas bajunya sambil menunduk, tapi mau bagaimana lagi? Oliver dan yang lainnya menggelengkan kepala saat Rin menghadap ke arah mereka, tidak ada yang bisa mereka lakukan.
Kembali pada sisi Len dan Mikuo, pertarugan mereka terus berlanjut, Len mengeluarkan banyak kemampuan musuh yang ia pelajari walau sayangnya hanya bisa sekali pakai untuk setiap kemampuan, sedangkan Mikuo yang tidak terima, terus bermain kecepatan walau Mikuo sendiri tahu, MP nya terlalu lambat mengisi dan tidak diperbolehkan membawa item penyembuh di pertarungan. Mikuo tetap keras kepala meski tahu ia kalah daya tahan.
"Shock-Scourge!"
Len mengeluarkan lagi kemampuan yang tidak biasa, dimana dia bisa melapisi senjatanya dengan sihir dan parahnya setiap benda yang disentuh senjatanya akan meledak hebat sampai hancur.
Mikuo terus menangkis serangan Len, belati Mikuo mulai berkarat setiap terkena ledakan dari Len, dan sudah ada dua belati yang pecah karena terkena ledakan terus menerus.
MP Len masih sangat banyak, sedangkan punya Mikuo tinggal sedikit, Len diunggulkan karena senjatanya, bukan karena kemampuan murninya. Mikuo berlari dengan cepat, supaya punya kesempatan untuk bisa meregenerasi MP, tapi anehnya Len bisa menyaingi kecepatannya.
"Kecurangan apa yang sebenarnya kau lakukan?!"
Mikuo menangkis serangan tiba-tiba Len dan terjadi ledakan besar yang berasap. Keduanya keluar dari asap itu pada hitungan detik, Len berdiri dengan tenang sambil berjalan santai.
"Mikuo, jangan bohongi dirimu sendiri, kau tahu, ini adalah kekuatan dari senjata legendaris yang di berikan pada elder. Aku sudah berkali-kali bilang, jangan pernah remehkan musuhmu, dan kau yang tidak pernah mendengar perkataan orang akhirnya membuat alibimu sendiri seakan aku bermain curang."
Len mendekati Mikuo yang berlutut di tanah dengan pupil mengecil karena di depannya ada pedang Len yang siap menembus kepalanya kapan saja.
"Ini adalah akhir... Semua akan selesai, Mikuo..."
Len menarik pedangnya sejauh mungkin agar tusukannya bisa menembus kepala Mikuo dan langsung membuatnya KO, tepat saat pedangnya sudah tinggal beberapa senti lagi sampai di kening Mikuo, Mikuo berdoa dalam hatinya.
'Kakak, tolong aku...'
DUAAAR!
XOXOX
"Suara ledakan apa itu?!" Arena tiba-tiba panik, layar besar yang ada di arena menunjukan gambar yang sangat buram, tidak ada pertarungan yang terlihat. Rin dan yang lain tidak merasakan apapun sebelumnya, itu semua berlalu begitu cepat.
"Ada apa ini, Kain?" Meiko bertanya pada Oliver tentang apa yang terjadi, sayangnya hanya di jawab gelengan kepala.
"Entahlah, aku tidak sempat melihat apapun."
"Berapa sisa waktu pertandingannya?! Mereka akan langsung dikembalikan ketika waktu pertandingannya selesai kan?!" Rin berteriak panik, tapi dia ada benarnya.
Yukari langsung berlari ke arah pembawa pertandingan, tapi anehnya, waktu pertandingan terhenti dan tidak bergerak. Yukari kembali dengan wajah suram ke tempat Rin dan yang lain, hingga akhirnya Anon dan Kanon berkata sesuatu.
"Kita tidak bisa menunggu saja, kita harus bertindak!" Teriak Anon.
"Lebih baik kita ke tempat mereka bertarung secara langsung, kita masih bisa menghampiri mereka asalkan kita tahu mereka di teleport kemana." Ucap Kanon.
"Kau gila?! Di padang pasir seluas itu! Apa otakmu sudah terbakar matahari?!" Meiko marah-marah karena ucapan tidak masuk akal Kanon, tapi secara tidak di duga, Oliver yang biasanya bisa mengambil keputusan yang tepat malah mengikuti rencana Kanon.
"Apa yang dikatakan Kanon benar, lebih baik kita langsung pergi, tidak ada gunanya menangis meminta pertolongan dari sini."
.
.
.
"Apa itu?" Len membuka kelopak matanya, di depan matanya ada Gilgamesh dengan Babylon's Gate yang terbuka di belakangnya, matanya memerah, menandakan dia bukan dalam keadaan bisa di ajak bicara.
"Apa ada event dari developer game? Dan itu menggunakan Gilgamesh?! Tapi kenapa di tengah Battle Royal?! Seharusnya Battle Royal tidak bisa diganggu!" Len menganalisis apa yang sedang terjadi di depannya, ia menghadap ke arah Mikuo yang sedang memandangi sesuatu dengan wajah mengerikan, pupilnya mengecil, keringat dingin bercucuran dari pelipisnya, bahkan tubuhnya bergetar hebat.
"Ada apa, Mikuo?"
"Ka-kakak?"
Len menoleh ke arah Mikuo menunjuk, di sana ada seseorang, memakai baju penyihir dan membawa bola kristal yang mengambang di samping bahu kirinya. Rambutnya panjang berwarna teal diikat twintail, wajahnya menunjukan rasa bosan, di belakang wanita itu, ada sebuah menara tinggi yang tidak terlihat ujungya.
"Itu... Izumo Tower? Apakah kau..."
"Iya Len, ini aku... Miku... Miku yang sangat ingin kau temukan."
Len menjatuhkan pedangnya, keadaan Len langsung berubahn tidak ada bedanya dengan Mikuo.
"Bukannya kau mencariku selama ini? Kenapa kau menjauhiku saat aku sudah datang ke hadapanmu?" Tanya Miku.
"Ka-kau sudah mati! Kau sudah mati! Mati!" Len menggeleng ketakutan, tidak percaya fakta di depannya, ia merangkak mundur setiap Miku menghampirinya.
"Kau yang berkata aku belum mati, sekarang kau yang berkata aku sudah mati. Ah maaf, aku mengerti, kau hanyalah takut, kau tidak perlu takut, aku ada di sini, untukmu." Miku memegang dagu Len dan mengelus pipi Len dengan lembut, Len yang sudah sangat takut akhirnya menepis tangan Miku dan menamparnya.
PLAK!
Miku memalingkan wajahnya karena tamparan Len, Len langsung mengambil pedangnya dan menghunuskannya ke arah Miku.
"Ka-kau... Bukan Miku!"
Miku menangis ketika memalingkan wajahnya, tapi yang keluar dari matanya bukan air mata, melainkan sesuatu yang kental berwarna merah... Seperti... Darah.
"Beraninya kau meninggalkan kasih sayang yang aku berikan! Beraninya kau! Kau meninggalkan ku waktu itu! Bersama Mikuo sendiri, di tengah bencana! Kau kabur terlontang-lanting sambil menangis, sedangkan aku harus mengatasi semua monster yang ada saat Network Crisis! Aku mengorbankan nyawaku! Dan kau tahu, aku terperangkap selamanya di sana! Di tempat yang menjadi malapetaka bagiku!" Miku menunjuk menara tinggi di belakangnya, Izumo.
"Gilgamesh! Bunuh dia..."
Wajah Miku mengeluarkan senyuman manis, dengan darah di sepanjang pipinya.
Gilgamesh membungkuk kepada Miku dan memperluas gerbang Babylon miliknya, semua senjata yang ia punya keluar dari sana, puluhan, ratusan, hingga ribuan jumlahnya.
"Waktunya bermain."
Gilgamesh berkata-kata dengan suara yang sangat berat, Len menenangkan dirinya, ia melihat Gilgamesh di depannya dan menghunuskan pedangnya lagi.
"Aku tidak akan kalah darimu!"
.
.
.
Mikuo meringkuk melihat Len yang penuh dengan darah, walau ini dunia virtual, tapi darah masih terealisasikan, dan jika lukanya parah dan dibawa hingga keluar game sebelum disembuhkan dalam game, rasa sakitnya akan menular ke dunia nyata karena respon syaraf terhadap setiap getaran dari Braindrive.
"Kau kuat... Gilgamesh, seingatku, program AI tidak bisa sekuat ini..." Len berdiri dengan tumpuan pedangnya, poninya basah terkena darah dari kepalanya.
"Kau kuat nak, tapi majikanku tidak bisa menunggu lagi."
Gilgamesh mengeluarkan pedangnya sekali lagi dari gerbang Babylon, kali ini pedang yang bilang pedangnya bisa berputar, Len sudah menengguk ludah melihat pedang Gilgamesh.
Dalam satu hentakan, pedang Gilgamesh menghancurkan Abelisk milik Len dan menembus tubuh Len, Len terkoyak dari dalam hingga hancur, dalam hitungan detik semua HP nya habis, ia kehilangan cahayanya dan kemudian mati.
"Ukh... Aku sudah... Sudah lama tidak merasakan kematian... Dalam game ini."
Tubuh Len tergeletak lemas, dan perlahan menghilang.
"Selamat tinggal Len... Sampai bertemu lagi selanjutnya." Miku melihat tubuh Len yang perlahan menghilang, air mata darah Miku berubah menjadi air mata murni... Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya dirasakan Miku.
Tepat saat Miku dan Gilgamesh akan meninggalkan tempat mereka, Mikuo memanggil.
"Kak! Kakak! Kau datang karena aku memanggilmu kan?! Iya kan?!"
Miku menoleh ke arah Mikuo dengan tatapan datar.
"Aku hampir lupa ada kau... Gilgamesh, kau boleh membunuhnya juga, aku tidak tahan dengan adik yang terus menangisi kehidupannya bersama kakaknya di masa lalu. Dengar Mikuo, aku sudah tidak bisa kembali, kau mengerti itu. Anggap aku ini ilusi walaupun yang ada di sini adalah aku yang asli. Setelah kau dibunuh Gilgamesh, kau bisa melupakanku, lakukan yang terbaik, dan jangan dendam lagi kepada Len..."
Mikuo mengeluarkan air mata, setelah sekian lama hatinya tertutp dendam.
"Apa maksudmu kak?! Jika kau ingin aku berbaikan dengan Len! Akan ku lakukan! Tapi kumohon, kembalilah! Kembalilah ke sisi kami berdua."
Miku tetap menatap Mikuo, tapi kemudian dia berdecih...
"Orang yang membuatku seperti ini, tidak akan mengizinkan semua itu."
Miku berjalan meninggalkan Mikuo, Gilgamesh mulai mendekati Mikuo dengan pedang berputarnya, Mikuo hanya bisa menutup mata.
XOXOX
'Dimana aku?'
'Inikah hukumanku?'
'Aku dikalahkan Gilgamesh, tapi kenapa aku tidak kembali ke katedral?.'
'Mungkin kesendirian seperti ini adalah karma Tuhan, untuk orang sepertiku.'
Len yang sudah dibunuh Gilgamesh masih memiliki kesadarannya, tubuhnya belum kembali ke Katedral, Len teringat akan kalimat yang pernah ia dengar saat di Tokyo Dome, tentang fourth class.
'Di sebuah ruangan yang gelap, dimana tidak ada kehangatan, dengan tangan dingin yang menjulur, kau harus berlari tanpa berhenti, tanpa peringatan. Sebuah pistol berpeluru penuh menunggumu di ujung, di tempat dirimu bergetar ketakutan'
Len tertawa dalam gelap setelahnya, dia tertawa keras.
'Jadi begitu?! Ini terlalu mudah! Yang dia maksud adalah kematian!'
'Aku tidak menyangka, ini yang dimaksud orang tua itu waktu itu!'
'Aku paham.'
Len merentangkan tangannya dalam kegelapan, ia membayangkan keadaan dirinya dalam keadaan terkuat.
"Tracing!"
.
.
.
PRANG!
Gilgamesh terpental mundur, tusukan pedangnya di tahan oleh seseorang. Dia memiliki surai emas dengan mata azure, pakaiannya bukan lagi zirah, lebih simpel dan fleksibel, di tangannya ia memegang sebuah pedang, tapi itu bukan pedangnya yang sudah hancur.
"Aku kembali? Aku kembali hidup tanpa sihir revive! Ini hebat! INI HEBAT!" Orang itu, Len berteriak dengan kencang hingga membuat Miku yang sudah hampir masuk ke dalam menara memalingkan pandangannya lagi ke belakang.
"Aku kembali! Persilahkan aku memperkenalkan diriku sekali lagi, Exo, kelas ku Necrofiend, julukanku The Death Seraph." Len membungkukkan tubuhnya 45 derajat ke arah Miku, membuat Miku tidak percaya setengah mati.
Ketika Len sudah menegakkan dirinya lagi, dia melihat ke belakangnya, Mikuo berdiri dengan penampilan yang berbeda.
"Entah kenapa, aku sadar, yang harus kulakukan hanyalah mengubah semua ketakutan dan rasa bersalahku, aku yakin, cahaya dari dewi bumi, Gaia pasti akan menyinariku."
Len masih tidak percaya dengan Mikuo yang ia lihat, di sana ada seseorang dengan perban di sekujur tangannya, scarf menutupi mulutnya dengan dua belati di tangannya, senjata yang menyimbolkan yin dan yang, sepasang belati yang bernama Kanshou dan Bakuya.
"Ark, seorang Yagyuu, julukanku adalah Darkness Etro."
Miku yang melihat Len dan Mikuo, menggigit bibirnya, dia langsung memerintahkan Gilgamesh dengan kasar.
"Gilgamesh! Bunuh mereka berdua! Gunakan gerbang Babylon hingga batas maksimalnya!"
Gilgamesh mengangguk, gerbang Babylon menutupi sekitarnya, hingga menutupi kegelapan langit dengan cahaya emas.
Len tidak peduli dengan Mikuo sekarang, Mikuo juga sama, yang ada di pikiran mereka berdua sekarang hanyalah cara mengalahkan Gilgamesh yang belum pernah terkalahkan.
XOXOX
Chapter 20 selesai~~~
Untuk Etimologi saya skip untuk chapter kali ini, chapter depan saya bakal jelasin sisa dua eldernya plus Gilgamesh, maaf kalo saya skip Etimologi lagi, ada tugas akhir Bahasa Indonesia, dan deadlinnya H-7 sebelum UAS tanggal 2 juni, memang masih lama, tapi mending saya antisipasi dari sekarang sebelum terlambat ^^
Untuk anonym review :
-To reviewer named Guest :
Makasih ya udah review ^^ Ini udah lanjut~~
Akhir kata, maaf jika ada kata yang kurang berkenan, saya mau tahu komentar kalian soal chapter kali ini, apapun itu, karena bentuk apresiasi dari kalian adalah kebahagiaan untuk saya.
Jaa~~ Matta ne~~ ^^
Best Regards,
Aprian
