Pinky Bluie
Cast: SEVENTEEN, mungkin akan ada grup lain dan banyak figuran.
Rating: T
Genre: Friendship/Romance
Warning: GS tanpa merubah nama, alur yang mungkin lambat-lambat-lambat sekali, fic tidak jelas –sekali lagi aku bilang ini akan jadi sangat tidak jelas –aku serius.
Member yang ku-switch di fic ini: Jeonghan, Wonwoo, Jihoon, Minghao, Seungkwan. Selain itu tetap.
Mungkin aku harus bilang lagi;
Judul terinspirasi Pinky Zhou dan warna rambut SoonHoon era lalu. Cerita diambil dari hubunganku dengan seseorang di dunia nyata, bisa dibilang 62% kisah nyata, 38% penyesuaian dengan tokoh dan gabungan dua hal atau lebih.
(dan akhirnya malah bukan SoonHoon makanya aku bingung bagaimana harus mengerjakan Pinky Bluie)
XXX
Waktu ketiga gadis itu menjelajah instagram Wonwoo, tiba tiba handphone Jihoon berbunyi.
Telepon dari Hoshi.
Langsung saja,
"Eonnie, mukamu merah!" seru Minghao.
"Angkat, Ji!" kata Wonwoo.
Jihoon merasa tangannya gemetaran. Berdebar, takut membuat salah dan membuat kesan yang buruk pada Hoshi, kepala dipenuhi dengan pertanyaan tentang apa saja yang Hoshi sukai, dan keinginan untuk melihatnya lagi.
Jihoon mengatur napasnya dulu.
Tapi Hoshi sudah keburu membatalkan panggilan.
"Argh!" Jihoon berdiri, membanting handphone-nya ke sofa dan menjatuhkan diri ke pangkuan Wonwoo.
"Jihoon, kebiasaan, ah. Kenapa lagi ini?" Wonwoo mendorong Jihoon.
Jihoon mengambil handphone-nya dan duduk di tempat semula, "Cuma misscall."
Lalu Hoshi telepon lagi, Jihoon menunggu agak lama siapa tahu Hoshi cuma mau miss call lagi. Dan Hoshi kali ini bukan cuma miss call.
Jihoon mengangkatnya, "Halo."
"Halo, Jihoon?" balas Hoshi.
"Iya."
"Sudah ada yang datang?"
"Iya."
"Aku di depan rumahmu, Jihoon."
"Oh, iya?"
"Iya, sudah ya."
Dan Hoshi memutus teleponnya.
Tangan Jihoon dingin, wajahnya panas, dan dia bisa merasakan jantungnya berdebar bukan di dalam rongga dadanya tapi di gendang telinganya.
"Hoshi sudah sampai mana?" tanya Wonwoo.
"Di depan." Jawab Jihoon.
Minghao menggenggam tangan Jihoon, "Tangannya dingin."
Jihoon menarik tangannya, "Sudahlah, aku malu."
Minghao tertawa kecil, "Eonnie, kau tidak menyuruhnya masuk?"
Jihoon menarik napas, lalu menghembuskannya. Sekarang jam sepuluh lewat, menurut Jihoon itu belum terlambat karena Cheollie's Angel kalau kumpul suka lebih ngaret lagi –bisa dibilang janji jam sepuluh, kumpul jam satu. Hoshi diam di depan gerbang waktu Jihoon keluar dari pintu depan.
"Hai." Sapa Hoshi.
"Hai." Balas Jihoon.
Jihoon ingin pingsan. Jantungnya berdebar heboh sampai dia panas dingin dan pasti pipinya memerah. Dia ingin bersembunyi, tapi dia juga ingin bertemu Hoshi lagi.
Hoshi tersenyum, matanya sipit dan rambutnya biru. Jihoon ingin melihat senyum itu terus. Sepertinya sekarang Jihoon tahu kenapa Jeonghan bosan dengan cowok cowok ganteng, karena cowok yang manis itu lebih berkesan –juga kadang cowok ganteng itu sombong karena mereka tampan.
Helm-nya sudah di lepas dari tadi dan dia pakai jaket yang waktu itu, "Ada siapa saja di dalam?"
Jihoon langsung membuka pagar karena Hoshi pasti ingin memarkir motornya. Sebenarnya Jihoon tidak biasa buka pagar karena Wonwoo tidak bawa kendaraan, dan kalaupun Jeonghan dan Mingyu bawa mobil pasti buka pagar sendiri, tapi mana mungkin dia bilang begitu pada Hoshi.
"Ada Wonwoo dan Minghao." Jawab Jihoon, sementara Hoshi memarkir motor.
Mereka akhirnya masuk rumah dan Hoshi mengambil tempat di samping Wonwoo. Jihoon belum duduk dan dia sadar sekali Wonwoo bergeser ke ujung sofa yang lain. Sementara Minghao duduk di sofa tunggal.
Sengaja.
Padahal Jihoon rasa dia bisa serangan jantung mendadak kalau dekat dekat Hoshi. Tapi akhirnya dia juga duduk di sebelah Hoshi.
"Hao, Junhui tidak ikut?" tanya Hoshi. Dia membuka jaketnya, dia pakai kaus hitam dan jeans panjang yang warnanya seperti warna jeans Jihoon.
Minghao masih asyik main handphone, "Fengjun sedang di Korea jadi tadi dia cuma drop aku kesini." Jelas Hao.
Jihoon diam saja, dia tidak tahu apa apa kalau mereka membahas Junhui, yang dia tahu cuma Junhui itu tampan.
"Kok tadi aku tidak lihat?" tanya Wonwoo.
"Sudah aku suruh pulang duluan. Katanya nanti siang mau jemput." Kata Minghao.
"Oh iya!" kemudian dia berseru seperti baru ingat sesuatu, "Nanti aku pulang duluan, ya."
Jihoon dan Wonwoo malah saling pandang sebelum melihat Minghao, "Santai saja." kata Wonwoo, "Iya, kan, Ji."
"Iya." Kata Jihoon.
"Kalau CA bisa langsung bubar." Kata Wonwoo, pelan dan tidak jelas, Minghao dan Hoshi pasti tidak bisa mendengar jelas Wonwoo bilang apa. Dan Jihoon cuma tersenyum.
"Eh, aku punya Jenga loh." Kata Wonwoo.
"Jenga?" tanya Minghao.
Wonwoo mengangguk, dia mengeluarkan mainannya dari tas –tas Mingyu, Jihoon baru sadar Wonwoo bawa tas dan itu tas Mingyu.
"Kita mau main di lantai?" tanya Minghao.
"Ya, tidak lah." Kata Wonwoo,
Lalu Jihoon dan Wonwoo bertatapan.
Wonwoo tersenyum, "Ji, ada meja kan?"
"Ada, tapi di dalam." Jawab Jihoon.
Lalu Wonwoo cuma memandangi Jihoon. puppy eyes. Jihoon benci –tapi bohong. Anak semacam Wonwoo itu membingungkan, bicara dengan kode, terus labil, suka random, untung dia pemalu jadi tidak memalukan, cuma tetap saja. Jihoon heran bagaimana Mingyu bisa tahan pacaran dengannya.
"Ok, aku ambil. Ayo, Wonu."
Minghao langsung menyela, "Kok? Kenapa tidak dengan laki laki? Hoshi Oppa?"
"Kenapa aku?" tanya Hoshi.
"Karena kau laki laki." Jawab Minghao, "Tega sekali membiarkan perempuan angkat angkat meja."
"Mejanya ringan kok." Jawab Jihoon.
"Ya, sudah sana, Hoshi." Akhirnya Wonwoo mengusir mereka.
Jihoon bergumam, "Main dengan Jeonghan Eonnie benar benar tidak bagus untukmu, Wonu."
Wonwoo tertawa.
Dari ruang tamu yang mereka pakai kumpul ada sebuah lorong ke ruang TV, biasanya Seungcheol numpang menonton disana sambil tidur di sofa-bed yang jarang digunakan orang tua Jihoon. meja yang biasanya ada di ruang tamu sekarang dipindah kesana.
"Jihoon, itu oppamu?" bisik Hoshi waktu pertama kali dia lihat Seungcheol.
Dibilang kakak juga bukan, tapi kalau dibilang teman mereka jadi kayak HTS. Jihoon jadi merasa serba salah.
"Iya, semacam oppa." Jawab Jihoon.
Kemudian Jihoon yang duluan mendekati Seungcheol yang sedang nonton TV, "Oppa."
Seungcheol langsung menoleh, "Hm?"
"Oppa, ini Kwon Soonyoung." Kata Jihoon.
Ada jeda tidak enak disitu. Entah itu cuma perasaan Jihoon saja atau memang ada yang tidak enak disitu. Jihoon itu kelewat sensitif –dalam arti diam diam dia memikirkan banyak hal terlalu keras- dan cara Seungcheol tersenyum membuatnya merasa tidak enak. Senyum itu lain dengan senyum konyolnya yang biasa.
"Aku Soonyoung, salam kenal."
"Seungcheol. Panggil saja hyung."
"Iya, Hyung."
Seungcheol tersenyum. Disini Hoshi yang dinilai –pasti, itu pasti, Seungcheol sudah bilang itu berkali kali- tapi Jihoon yang takut.
"Kita mau ambil meja." Kata Jihoon.
Akhirnya malah Seungcheol dan Hoshi yang mengangkat meja.
Wonwoo buru buru menata jenga di meja, "Oppa ikut main?" tanyanya pada Seungcheol.
Seungcheol dengan cepat menjawab, "Tidak, kalian saja."
Jihoon sendiri tidak terlalu niat ikut main, tapi dia tetap ikut main. Dan Minghao kalah.
"Yang kalah kita coret pakai cat," Wonwoo merogoh tasnya, mengeluarkan botol cat dan kuas yang pasti punya Mingyu, "Cat apa ini? Entahlah."
Minghao langsung protes, "Kok!? Tadi kan tidak ada peraturan itu!"
"Biar surprise." Jawab Wonwoo.
"Wonu kelamaan main sama Jeonghan Eonnie, kau mulai sama evil-nya." Komentar Jihoon.
"Kau juga evil kalau lagi kumat, Uji Sayang."
"Tunggu! Boleh pakai makeup saja tidak!?" Minghao masih protes.
"Oh iya, aku punya lip tint yang benar benar merah-"
"Iya! Itu saja!" kata Minghao.
"Nanti dimarahi Mingyu kalau pakai cat-nya." Kata Jihoon.
"Oke." Jawab Wonwoo.
Jihoon naik ke kamarnya di lantai atas dan mengambil lip tint-nya, lip tint itu sudah mau habis jadi Jihoon pikir tidak masalah kalau sekalian dihabiskan untuk hukuman. Begitu dia balik lagi ke bawah, jenga-nya sudah tersusun rapi lagi dan Minghao siap di hukum.
Wonwoo mengambil lip tint yang Jihoon sodorkan.
"Ya ampun, Wonwoo. Kau benar benar ingin menghukum Minghao, ya?" tanya Hoshi.
Jihoon cuma tertawa kecil di sebelahnya dan mereka berpandangan.
Lalu diam.
Jihoon tidak tahu harus mulai pembicaraan dengan kata apa.
Wonwoo mengusapkan lip tint itu ke bagian dalam bibir bawah Minghao, membuatnya jadi seperti gradasi.
"Sekarang Jihoon." kata Wonwoo.
Jihoon menerima lip tint-nya, "Coba senyum." Kata Jihoon.
"Untuk apa?" tanya Minghao dan Jihoon langsung mengusapkan lip tint itu ke pipi Minghao.
"Anggap saja cream blush." Kata Jihoon.
"Ah! Eonnie!"
Wonwoo tertawa, "Benar kan, kau juga evil, Uji."
Jihoon cuma tersenyum tipis saja.
"Hoshi?" dan Jihoon menyodorkan lip tint-nya pada Hoshi.
"Wah, aku tidak bisa menghukum perempuan." Katanya.
Wonwoo bergumam sesuatu seperti, "Iya lah, nanti bisa dihajar Jun." Tapi kemudian Wonwoo bilang, "Wakilkan, Ji."
Jihoon tersenyum dan mengusapkan lip tint-nya di pipi Minghao yang satu lagi, "Jangan di-blend." Katanya.
"Ah, Eonnie!"
Waktu mereka mau main lagi, tiba tiba ada surat dari pos, Jihoon jadi tidak ikut main.
Setelah itu, ada telepon dari ibu Jihoon, dan Jihoon tidak ikut main lagi.
Dan yang terakhir, Junhui telepon.
"Halo?" Minghao mengangkat teleponnya.
"..."
"Sekarang!?"
"..."
"Di depan!?"
"..."
"Tidak. Ok, aku ke sana."
Jihoon mengintip ke luar, ada mobil yang tidak dia kenal. Mobil hitam.
"Teman teman, aku pamit ya." Kata Minghao.
Wonwoo langsung mengingatkan, "Lip tint-nya."
"Gampang, nanti saja di mobil. Jihoon Eonnie terima kasih, ya."
"Iya."
Dan Minghao pergi.
Tidak lama dari itu mobil hitam yang sama berhenti di depan rumah Jihoon.
"Oh? Junhui balik lagi?" tanya Jihoon.
"Masa?" tanya Wonwoo.
Tapi ternyata yang turun dari mobil itu adalah Mingyu. Apa mungkin mobil itu mobil barunya Mingyu?
"Hah! Jihoon! bagaimana ini!?"
"Ya, ini kan salahmu!"
"Tapi kan cat-nya tidak kita pakai!"
Dan Mingyu membuka pintu rumah Jihoon.
"Noona, mana catku!? Ya ampun! Jangan sampai kena kulit, itu sudah aku campur paint thinner, kau bisa iritasi!"
XXX
Note: Aku nggak percaya aku masih lanjut fic ini (Aku males kalau inget inget Han)
Note(2): jujur ya, aku lagi WB tapi tetep kupaksain biar WB-nya ilang.
Note(3): Moodku yang beginilah yang mendasari kenapa aku bisa buat Katakan Merah dan I Was Low Key, That's The Old Me. Daripada fiksi yang berdasarkan imajinasi dua fic itu bukan fiksi yang seperti itu (ah...)
Note(4): Dan sekarang aku mengerti kenapa Hosh lumayan jadi center di Chuck. Jihoon itu diem diem, ini kasusnya kayak Boossh dan Sol-ah (= Uji bikin lagu berdasarkan perkataan Hoshi)
Di bawah ini adalah curhat
Jadi, aku suka sekali StS, aku sering bilang ini. Aku membayangkan menulis semuanya dari sudut pandang Shin Jimin (yang kalau di StS juga adalah bagian dari trio Park Jimin(s)) tapi karena itu Jiminseok dan itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan fandom apapun jadi aku agak agak...
Juga kalau aku membayangkan menulis semuanya dari sudut pandang Somi, aku juga berpikir siapa yang bakal suka. Kalau aku buat HopeDaeng juga siapa yang ngeship kecuali aku?
(Note lagi)
Note(5): Sebenarnya aku juga suka pinjam barang Seunghyun, jaket tas baju, macem macem. Beda tinggi kita itu sekitar beberapa belas cm dan itu saja sudah bikin aku tenggelam.
Note(6): menurut pemahamanku HTS itu setara Some (Sseom), antara temenan dan pacaran.
