Sorry for the typos I have ever made. Tapi saya juga berusaha sebaik mungkin supaya fic ini jadi enak dibaca.
HAAAA THIS IS THE WORST UPDATE EVER -_- AND I, SHINEY, FAILED TO BE AN AUTHOR :'(
Masa saya ngecewain readers gara-gara telat update? Berarti harus dicepetin nih updatenya..! tapi semoga bisa!
Rin: GO GO SHINEY! *nari-nari*
Len: well, meskipun kamu sering ngatain aku di fic, tapi okelah. GO SHINEY! *joget*
Author: ka-kalian…. :'D
Miku: SHINEEEEYY! MANA FIC YANG LAIN? BELOM DI UPDATE?
Author: A-ano O.o
Aduh, saya ragu judul chapter ini pas sama isi ceritanya -_-
Stopstop! Mau dimulai gak nih ceritanya? Okayy let's get started~~!
The Yellow Melody
Chapter 10 : I Have a Sissy Friend!
-Len's POV-
"Hei Len-kun, disitu saja sambil menonton TV? Gak ganti baju atau semacamnya?" tanya Rin setelah kita sampai di rumahnya. Karena aku capek, aku tidak menjawab pertanyaannya dan serius nonton TV.
….
Perasaanku kok aneh gini, sih?
….
Sepertinya ada yang ngeliatin aku—
Oh. Aku melihat Rin menatapku—bukan, dia menatap ponytailku. Mungkin dia penasaran? Atau karena aku keren? Atau…
Bah. Tapi kan gak enak juga. Aku langsung menengok kearah Rin dan menatapnya sinis.
"Apa?" kataku.
"Tidak apa-apa" balasnya singkat. Yang bener aja, ngeliatin ponytail-ku dibilang tidak apa-apa? Yang bener ajaaaa.
"Jangan coba-coba menyentuh ponytail-ku, ya!"
"Hah? Kamu bisa membaca pikiranku?" tanyanya. Kok bodoh sih… ya kelihatan lah.
"Tidak… kamu hanya melihat kearah ponytail-ku saja" jawabku enteng. Dari muka Rin, sudah terbaca dia memikirkan 'Dasar prediktor hebat.'
Lalu dia mencoba menggapai ponytail-ku. Dia penasaran? Tapi secara kilat aku menangkap tangannya dan mendekatkan mukaku padanya.
"Jangan coba-coba melepas ponytail ini." kataku dingin, tapi tetap memandang kearah Rin.
"E-eeh.." Rin hanya bisa gelagapan.
Mukanya lucu juga kalau lagi salah tingkah.
Jahilin sedikit boleh juga nih~~
Aku mengunci kedua tangan Rin dengan tanganku di sofa. Dan muka Rin langsung memerah.
"L-Len-kun?" katanya lagi. Haha, dia salah tingkah~?
"Kenapa, Rinny~? Ada masalah?" kataku sedikit dengan nada menggoda.
"Iya… posisi… kita…" katanya pelan. Mukanya terlalu lucu kalau sedang memerah.
Aku mendekatkan mukaku dengan mukanya. Dari mukanya saja, sudah tercium wangi jeruk. Sekarang jarak muka kita sudah kurang lebih 5 senti. Dan Rin memejamkan matanya.
"Rinny, aku mau kamu…"
Aku terus mendekatkan mukaku, sampai…
"….Memasak." bisikku di telinganya. Aku langsung bangun darinya dan berjalan keruang makan. Mungkin dia kaget, atau salah tingkkah atas perbuatanku tadi. Hehehe, ternyata mengerjai orang itu seru juga ya~
"Heh! Bocah Kagamine! Sial kau!" katanya marah-marah. Aku cuman bisa menjulurkan lidahku.
"Sudahlah, aku lapar, cepat buatkan aku makanan atau apalah itu. Lagian, tadi kamu pikir aku mau ngapain kamu?" kataku sambil mengangkat satu alis. Mukanya kembali memerah.
"E-e… errm…" dia kehabisan kata-kata. Ha.
Dia langsung menuju dapur dan mungkin sedang memasak apa tau. Aku hanya sedang duduk di meja makan, terdiam. Sampai…
Hah? Asap? Sejak kapan didalam rumah ada asap? Jangan-jangan kebakaran?
Damn! Aku lupa kalau Rin tidak bisa memasak. Jangan-jangan dapurnya kebakaran!
Aku langsung bergegas menuju kamar mandi dan mengambil seember penuh dengan air dan lari menuju dapur.
"Riin-saaan! Awaaaas!" kataku sambil melemparkan isi ember itu ke sumber asap itu.
CAAASSHHH!
.
.
.
.
"Len-kun… apa yang kau…?" katanya pelan. Rin selamat disana—eh?
Di dapur tidak ada yang gosong, normal seperti biasa. Tapi Rin… dia berdiri disitu, dan basah kuyup. Jangan-jangan…?
"Rin-san, kamu… lagi bakar sate?" tanyaku.
"Iya! NGAPAIN SIH KAMU SIRAM-SIRAM ORANG SEENAKNYA SAJA! Satenya jadi basah, kan! Apinya jadi padam, kan!" omelnya. Aku hanya tertunduk malu. Rupanya dia lagi bakar sate, toh—
Eh?
Sejak kapan ada orang bakar sate didalam rumah dan di dapur tertutup?
"Rin-san, bukannya orang itu kalau bakar sate diluar rumah ya?" kataku keheranan. Dia kaget.
"A-Ah… iya juga ya?" katanya dan menunduk malu.
…
"Sudahlah, biar aku saja yang memasakkanmu sesuatu." Kataku pasrah.
"Eeeh? Bener nih?"
"Iya, sudah sana, pergi ke meja makan!" usirku.
Dia langsung pergi ke meja makan. Bagus. Saatnya memasak. Tapi kompornya jadi basah. Aku takut apinya jadi ganas.
-Time skiipp~~ 15 menit kemudian-
Aku sudah selesai memasak. Aku memegang 2 piring yang berisi sup jagung di kedua tanganku. Aku memasak ini, karena… aku baru saja mengguyur Rin, dan mungkin dia kedinginan.
Sesampainya di meja makan, aku mendapati Rin sudah tertidur di meja makan, walaupun badannya masih basah.
Bodoh, dia tidak takut terkena flu?
Aku meletakkan mangkuk sup di depan Rin dan di mejaku, aku menaiki tangga, dan memasuki kamar Rin. Rencananya mau mengambil handuk kecil. Siapa tahu ada.
Tapi aku mencari-cari di berbagai lemari tidak ada. Sebenarnya ada satu lemari pakaian lagi yang besar. Tapi aku takut kalau di dalam itu ada… ah sudahlah.
Aku menatap bengong lemari pakaian itu. Aku diantara berani dan tidak. Aku melihat keatas lemari itu dan menyadari sesuatu,
Sepertinya ada benda sesuatu diatasnya?
Merasa penasaran, aku melompat dan melompat keatas lemari itu dengan susah payah.
Sial! Lemari ini tinggi sekali!
"Ugh, sial banget! Terlalu tinggi! Apa aku yang pendek…?" kataku. Lalu aku melihat kursi yang ada di sudut kamar Rin. Aku menyeretnya kedepan lemari Rin dan menaikinya, dan akhirnya aku bisa menggapai atas lemari itu!
Aku meraba-raba atap lemari itu, dan merasakan sesuatu. Apakah ini bendanya?
"Kunci?"
Ya, aku mendapatkan sebuah kunci kecil. Aku tidak tahu ini apa. Kusimpan saja di kantongku. Lalu aku berjalan mencari laci-laci meja yang lain.
Aku menemukan satu lagi meja berlaci dan langsung saja aku membuka satu laci meja yang sepertinya sudah rusak. Penasaran lagi, aku berusaha membuka laci ini secara keras, karena lacinya sudah rusak dan susah dibuka.
Tapi dengan usahaku, akhirnya bisa terbuka.
"Oke. Sudah terbuka! Apa ini..?" aku melihat isi laci itu dan langsung duduk bersila di lantai.
Banyak barang-barang anak kecil didalamnya. Dan banyak sekali foto maupun kertas berisi tulisan ataupun gambar. Aku melihat sebuah foto. Disitu ada seorang bocah toska—
Eh? Mikuo? Ini fotonya sewaktu kecil?
Bocah hijau yang memakai kaus putih ini kelihatan seperti tersenyum. Background-nya seperti di padang rumput yang penuh dengan bunga. Ada notes yang menempel di foto ini.
'Mikuo ganteng!'
What the? Masih gantengan juga aku kemana-mana! Aku yakin pasti yang menulis notes ini Rin?
Lalu kulihat lagi foto yang lain. Yang ini, ada seorang gadis honey blonde kecil dengan dress putih dan pita putih besarnya di kepala yang sedang tertawa yang ada di ladang rumput juga. Setelah kulihat baik-baik, ini pasti Rin. Ada notes juga di foto itu. Sepertinya setiap foto ada notes, ya?
'Rin-chan imut!'
Aku setuju sih, disini Rin sangat imut—hah? Apa yang barusan kupikirkan? Oke lupakan saja. Tapi meskipun begitu… pasti ini Mikuo yang menulis. Ck, kurang kerjaan saja dia.
Sepertinya semua yang ada di laci ini semua yang berkaitan dengan masa kecilnya, dan kelihatannya masih berumur 5 tahun. Siapa tahu ada yang lucu disini?
Foto yang selanjutnya, ada Mikuo dan Rin yang berlari, tapi tidak menghadap kamera. Sepertinya yang memfoto mereka itu salah satu dari orangtua mereka. Notes disini terbaca,
'Aku mengalahkan Mikuo lomba lari loh!'
Ha. Mikuo ternyata tidak bisa lari ya. Ckckck.
Foto yang ini, ada Mikuo yang sedang memberikan Rin beberapa kuntum bunga. Entah kenapa rasanya Mikuo disini mengganggu sekali. Notesnya:
'Bunga cantik untuk putri Rin-chan yang cantik!'
Mikuo kok gombal ya….
Setelah meliat beberapa foto, aku melihat sebuah kertas tulisan. Aku memutuskan untuk membacanya.
'Halo Rin-chan, selamat pagi/siang/sore/malam! ( tergantung kamu membaca surat ini pas kapan )
Kamu sehat kan? Pasti dong! Aku sedih kalau kamu sakit. Aku ngapain bertanya seperti ini ya? Padahal kita sering ketemu. Ehehe. Tapi aku khawatir!'
Sangat sangat gombal… menurutku, ini ditulis ketika Mikuo sudah sekitar kelas 4-5 SD. Karena anak 5 tahun tidak bisa menulis serapih ini. Dan kenapa penulisnya Mikuo? Ketahuan lah dari salam pembukanya.
'Rin-chan, aku punya sebuah berita buruk untukmu… tapi, tapi, kamu jangan sedih, oke? Karena kalau Rin-chan sedih, Mikuo ikut sedih!
Aku… aku mau pindah rumah. Tapi, enggak jauh kok Rin-chan! Aku cuman pergi ke Rusia….oke mungkin itu jauh…
Maafin aku ya Rin-chan, tapi ini bukan keinginanku juga. Aku disuruh sama orangtua-ku…
Maaf… dan aku disana selama tiga tahun.'
Di setelah kata 'tahun', ada beberapa bekas tumpahan air yang sudah mengering, tapi masih membekas. Pasti itu air mata Rin yang tumpah.
'Tapi aku bakal balik ke Jepang kok. Tenang saja! Dan aku akan membawakanmu oleh-oleh!
Jadi, jangan pernah lupakan aku ya! Rin-chan adalah sahabat-ku yang paling baik dan tidak akan pernah kulupakan!
Sahabatmu,
Mikuo '
Pasti dia menangis hebat deh waktu itu. Iya pasti, soalnya ditinggal sahabat 3 tahun. Siapa yang tidak sedih?
Lalu aku mencari benda-benda lain lagi. Dan aku menemukan buku bersampul yang bertuliskan 'Rin'.
…ini diary-nya?
Kubuka ah~
'Dear diary,
Hari ini aku sedih sekali. Ini adalah tahun ke-2 setelah kepergian Mikuo. Aku sedih sekali, aku tidak punya sahabat sebaik dia.
Tapi, ayo semangat Rin! tinggal setahun lagi kok!
Ibu pasti akan menghadiahiku jeruk yang banyak di ulang tahunku nanti! '
Beberapa lembar kertas kosong. Aku terus mencari halaman yang ada tulisannya. Hm… oh, ada!
' Diary, diary! Tebak apa!
Minggu depan Mikuo akan pulang ke Jepang, dan aku juga, hari ini aku lulus dari bangku SD!
Aku senang sekali! Mikuo mau membawakanku apa yaaa?
Satu ton jeruk! Atau roadroller asli Rusia?
Gak bisa berhenti senyum. Mikuo, cepat pulang ya! '
Aku tertawa kecil setelah melihat isi halaman ini. Aku membuka lagi halaman-halaman selanjutnya, dan kosong. Tapi ternyata masih ada isinya. Ada lagi halaman yang ada tulisannya.
' Diary. Envy nih.
Aku barusan melewati tempat les. Kalo gak salah, namanya Yuushin ya namanya?
Nah, disitu, aku melihat beberapa orang—eh, bukan. Beberapa couple lagi…. Pacaran? Iya begitu deh.
Pada mesra sih. Terutama yang perempuan berambut toska yang mirip Miku dan laki-laki blonde itu.
Oke, stop nulis deh. Envy beraaaat! '
….
Yuushin? Itukan nama tempat les-ku dulu?
Kayaknya perempuan toska itu beneran Hatsune deh… terus yang blonde itu aku…
Oooh. Aku mengerti.
Maaf ya Rin udah membuatmu envy. Haha.
Setelah halaman ini, sudah tidak ada lagi yang tertulis. Karena aku tidak mau mengutak-atik benda orang lain lagi, jadi aku hentikan.
Aku bangkit dan lututku menabrak laci yang masih terbuka itu.
"Ouch!" kataku kesakitan.
BRAK!
Eh?
"Apaan nih?" kataku kebingungan melihat sebuah kotak kecil yang jatuh. Aku langsung memungutnya dan mencoba membukanya. Tapi tidak bisa. Tapi aku melihat ada lubang kunci ditengah-tengahnya.
Mungkin ada hubungannya dengan kunci yang tadi kuambil di atap lemari?
Langsung kurogoh kantong celanaku dan akhirnya kudapatkan kunci itu. Aku memasukkan kunci itu kedalam lubang itu dan… terbuka!
"Isinya apaan sih?" tanyaku. Setelah kulihat, hanya secarik kertas yang bisa kudapat.
Notes lagi?
Akupun membuka kertas yang dilipat-lipat itu dan membacanya.
' Rin, akhirnya kamu membaca surat ini. Maaf ya aku menyembunyikan ini darimu.
Emm ya, yang menulis ini tentu saja aku, Mikuo. Sekali lagi, aku ingin memberimu sebuah berita. Tapi aku tidak tahu ini baik apa tidak.
Itu '
"Len-kun?" kata seseorang di pintu kamar. Aku terkejut dan dengan cepat-cepat membereskan isi laci meja Rin yang berantakan.
"E-err… ya?" aku langsung menghampiri Rin yang ada di pintu itu. Untung saja kamar Rin lampunya tidak kunyalakan, jadi dia tidak tahu aku sedang apa. Aku langsung menyembunyikan kertas yang tadi kubaca ke kantongku.
"Sedang apa disitu? Dan kok… ada di kamarku?" tanyanya.
"….Mencari handuk?" jawabku.
"Untuk apa?" tanyanya lagi.
"Well, barusan aku mengguyurmu dan kamu tadi tertidur di meja makan. Aku takutnya kamu kena flu atau apalah." jawabku lagi. Dia ber-'ooh' ria.
"Kamu kan yang tadi memasak sup? Ayo makan sama-sama saja." ajaknya. Aku mengangguk. Tapi aku masih penasaran dengan isi surat ini.
Kami makan, tapi terjerumus dalam keheningan. Aku merasa aku perlu memecah suasana ini. Maka akupun mulai berbicara.
"Ng… Rin-san? Ibumu seperti apa?" tanyaku. Dia berhenti menyendok sup-nya dan menatap kosong mangkoknya.
Kayaknya salah pertanyaan.
"Ibuku… mempunyai rambut blonde yang panjang dan indah. Matanya berwarna azure, dan senyumannya dapat membuatku tenang," kata Rin sambil tersenyum sedikit. Aku membalas senyumannya.
Aku jadi semakin penasaran dengan isi surat itu. Mungkin aku harus…
"Engg… mau ke belakang dulu ya, Rin-san?" tanyaku. Dia mengangguk. Lalu aku dengan cepat memasuki kamar mandi terdekat dan mengunci pintunya, kemudian merogoh kantongku, dan mendapatkan secarik kertas yang tadi.
Lanjutannya,
Itu adalah… Impianmu itu adalah untuk selalu menyanyi, kan?
Aku sangat senang setiap kali mendengarmu menyanyi.
Tapi,
'Benda' dari pusat menyanyi-mu akan menghilang suatu saat.
Dan kamu tidak bisa melanjutkan impianmu lagi.
Faktor genetik…
Maaf.. '
Aku terdiam plus bingung di tempat. Untuk apa dia menulis tebak-tebakan dulu? Kan kesannya jadi membuat orang penasaran.
'Benda' dari pusat menyanyi itu… apa sih?
Cakra, ya?
….
IH IH BEGO BANGET SIH BUKAN ITULAAHHH! ERRRR. KENAPA AKU JADI KESEL SAMA DIRIKU SENDIRI SIH?
"LEN-KUN! Kenapa? Kok teriak-teriak? Siapa yang bego?" tanya Rin dari luar pintu. Aku hanya kaget, ternyata aku mengucapkan kata-kata tadi dengan kencang, ya?
"Uhh… AH! SIKAT GIGINYA BEGO, NIH! MASA SIKAT GIGINYA BESAR BANGET, HAHAHA!" kataku mencari alasan yang lain.
"Len-kun, itu sikat WC namanya."
"Oh..."
Aku keluar dari kamar mandi dan mendapati Rin menghentak-hentakkan kakinya sambil melipat tangannya. Dia juga membawa baju.
"Aku tahu kamu mencret sampai kamar mandiku kau gunakan dalam waktu lama, tapi setidaknya ada orang lain yang mau menggunakannya," kata Rin yang langsung masuk kedalam kamar mandi. Aku memiringkan kepalaku.
SIAPA YANG MENCRET?
Beberapa menit setelah Rin berada di kamar mandi, dia berteriak,
"Ih Len-kun keren! Kukira WC-nya bakal bau, eh tahunya masih harum! Mencretnya keren nih!"
SIAPA SIH YANG MENCRET?
Aku langsung saja melompat kearah futonku dan menarik selimutnya. Aku ingin cepat-cepat besok, deh. Entah kenapa. Padahal besok aku bakal pulang kerumahku. Tapi setidaknya aku bisa mempunyai banyak waktu untuk memikirkan 'benda' dari pusat menyanyi itu.
…..
"Suratnya salah terkirim..?"
You, Mighty Morphin Power Rangers~~
Ck, sial, ringtone itu sekarang menjadi alarm-ku, hah?
Aku mengucek-ucek mataku, lalu mengambil handphone-ku dan mengangkat panggilan dari handphone itu.
"Moshi-moshi…" jawabku lemas.
"OI, LEN! LEMES AMAT? AKU DENGERNYA KAMU NGOMONG 'MOCHI-MOCHI' LOH? HAHAHAHAHAH" kata orang yang diseberang sana dengan tawa sarkastiknya. Setelah aku memproses suaranya, ternyata itu adalah suara Akaito.
"BAkaito, aku baru bangun tidur," kataku yang mencoba sabar.
"HAH? SITU KEBO AMAT, SIH? HAHAHAHAHAH" Akaito kembali tertawa dengan tawa sarkastiknya itu.
"Tebak deh, masa tadi malem, tiba-tiba Rin-san bilang ada yang mencret. Siapa yang mencret?"
"HAAAAH? SOPO KUI? KAMU YA? HAHAHAHAHAH"
"Emang iya..?"
"MY GOD, SITU BARU NYADAR? HAHAHAHAH—EH, APA? TADI MALEM? MENCRET? RIN?"
"Oh ya, aku lagi di rumah Rin-san sekarang,"
"…Dude, kamu masih terlalu muda untuk melakukan hal 'itu'."
"AKU TIDAK MELAKUKAN HAL 'ITU', BAKAITO."
"Wahhh alibi nih yee—"
Kesal, aku memutuskan panggilan itu. Aku menghela nafas dan berdiri, berjalan menuju kamar Rin. Baru saja aku mau mengeluarkan kata-kata 'Selamat pagi', aku terdiam melihat kasur Rin yang sudah kosong dan tertata rapi.
Bukannya kemarin aku bangun lebih dulu daripada dia? Atau memang dia sedang merencanakan sesuatu?
Aku langsung mengemas barang-barangku dan bermaksud untuk pulang. Tapi teka-teki yang baru kudapatkan kemarin sukses membuatku penasaran sampai sekarang. Aku benar-benar penasaran. Nanti minta bantuan Akaito saja deh.
Melewati meja makan, aku melihat lipatan kertas diatas meja mengambilnya dan membukanya.
'Aku pergi untuk latihan vokal~
Tempatnya, kalo aku masih inget sih, di Pelatihan Vokal Yowane.
Ada mie di kulkas.
Cao~
-Rin'
Les vokal. Ya, mungkin berhubung tentang kegiatan klub musik. Mungkin perebutan untuk masuk ke klubnya ketat, jadi dia mau berlatih? Terlalu rajin.
Tunggu dulu.
Mie? Di kulkas?
Aku buru-buru berlari menuju kulkas dan membuka pintu kulkasnya. Dan ternyata…
"Rin-san salah membedakan antara tali sepatu dan mie."
"Opo toh Len? Tadi ekhe call kamu, kok ora dijawab?"
"Akaito, itu tadi aku tidak tahu kalau kamu bakal telpon lagi. Dan tolong jangan berbicara seperti banci lagi. Aku mau serius."
Sekarang, aku, sudah berada dirumahku dan kamarku sendiri dan sedang menelpon Akaito Shion, calon peserta Be A Man periode selanjutnya kalau acaranya mau dilanjutin lagi. Aku tidak perlu mendapatkan ijin dari orang tua ataupun ceramah dari mereka selama aku pergi dari rumah. Toh mereka sudah tidak memperdulikanku lagi.
"Oke oke… mau ngomong apa?" tanyanya.
"Ahem. Akaito, kan kamu suka banget yang namanya mecahin teka-teki. Sekarang tolong aku buat menyelesaikan teka-teki ini, ya!" kataku.
"Yea yea, logat ngomongnya jangan kayak Dora gitu napa? Sini merasa jijik, nih."
HEH, ADANYA AKU YANG LEBIH MERASA JIJIK, TAHU.
"Itu, 'benda' dari pusat menyanyi apa sih?" tanyaku langsung to-the-point.
"Inul Vizta."
"Akaito, itu nama tempat karaoke."
"Jangan menghina tempat itu dong, kan aku langganan setiap minggu dateng ke situ—ups."
AHA. GUE SEBARIN DI TWITTER, MATI LO.
"Terserah dengan kau dan aibmu itu, tapi bisa sedikit serius?" kataku sambil mengangkat alis. Terjadi jeda di pembicaraan kami. Itu menandakan bahwa Akaito sedang berpikir, dan aku memberinya waktu untuknya berpikir.
"Pusat itu kan, sumber dari segalanya. Kalau pusatnya kenapa-kenapa, yang ada segalanya jadi ikut kenapa-kenapa. Pusat dari menyanyi. Benda yang merupakan pusat dari menyanyi. Kalau benda itu kenapa-kenapa, proses menyanyinya juga jadi kenapa-kenapa…" jelasnya. Aku hanya manggut-manggut, padahal sebenarnya tidak tahu maksud dia apa.
"Ah, aku tetap tidak mengerti, tapi setidaknya penjelasannya sudah kamu berikan. Tapi… Aku. Tidak. Mengerti." kataku pasrah. Bisa kurasakan kalau Akaito sedang menggeleng pasrah di seberang sana.
"Dude, maaf tidak bisa memberitahukanmu lebih lanjut. Aku aja kebingungan—GYAAAAAAAAA!" tiba-tiba saja Akaito berteriak dengna kencang ditengah pembicaraan, yang membuatku membanting handphoneku akibat kaget dari teriakannya itu.
HANDPHONE-KU…!
"AKAITO WHAT THE HELL? HANDPHONE-KUU! SUARAMU ITU TERLALU BERAT TAHU!" kataku marah-marah.
"Yeah! Maaf! Ada kecoa sih, eheheee~ eh udahan ya Len, pulsaku entar abis. Bye!"
"Bye," kataku sambil memutuskan sambungan telepon.
Petunjuk pertama sudah diberikan oleh Akaito. Sisanya, mungkin aku yang cari saja. Mungkin bermain Gren Teft Awuto bakal ngeredain rasa stress-ku.
-Time Skiiipp~-
Udah berapa jam ya aku main game ini? Kayaknya sih 2 jam… bosen nih game-nya Gren Teft Awuto melulu. Ganti jadi game Harfes Mun saja deh.
Baru saja aku mau memasukkan kaset game itu kedalam game konsol-ku yang biasa orang panggil Pe Es 2, handphone-ku berbunyi. Sms masuk..
From: Rin
To: Len
Len-kun! Tolong aku dong!
Hujan lebat diluar; aku tidak ada kendaraan, kalau aku pergi sendiri, nanti aku jadi kelihatan habis mandi massal bareng satu kampung.
A.S.A.P. ya pertolongannya!
Hujan lebat? Aneh… mungkin aku tidak menyadarinya karena volume yang dihasilkan sound systemku terlalu kencang dan gorden jendelanya kututup. Tapi, saatnya menjemput Rin.
Memakai jaketku, aku langsung keluar dari rumah sambil membawa payung, dan berlari menuju tempat yang bernama, kalau tidak salah, Pelatihan Vokal Yowane. Yah, ternyata lebat sekali hujannya. Tidak salah kalau Rin meminta bantuanku.
Sesampainya di lokasi yang kutuju, aku melihat sosok perempuan berambut honey blonde. Pasti itu Rin. Aku lambaikan saja tanganku.
"Hei! Rin-san!" teriakku. Dia entah kenapa langsung berlari kearahku dan ikut berteduh dibawah payungku.
"Eh, kenapa jadi kamu yang berlari kearahku? Bukannya seharusnya aku yang berlari kearahmu?" kataku yang sambil menatapnya.
"….af …ku… uru.. uru," katanya, tapi suaranya beberapa tidak kedengaran. Hanya beberapa yang bisa kudengar, padahal gaya bicaranya tampak seperti orang biasa sedang berbicara.
"…Eh?" aku memiringkan kepalaku, kebingungan. Aku tidak bisa merangkai kata-katanya. Dia menggaruk kepalanya, meskipun aku tahu kepalanya sama sekali tidak gatal. Dia langsung menarik lengan jaketku, seolah-olah dia menyuruhku untuk mulai berjalan.
Mungkin gara-gara hujannya lebat, jadi aku tidak bisa mendegarnya dengan jelas.
Akhirnya aku mengantar Rin pulang. Ternyata sesampainya aku berada di rumahnya, hujan sudah mulai mereda, sekarang sih masih gerimis.
"Baiklah Rin-san, kurasa tugasku sekarang sudah selesai, jadi… aku pamit dulu ya?" aku langsung berbalik badan dan melangkah. Tapi di langkah kedua, aku mendengar dia bergumam,
"Kenapa aku harus dipanggil dengan '-san'…?"
Aku tersenyum.
Aku juga selalu ingin memanggilmu tanpa embel-embel itu, Rin.
"Bye, Rin!" kataku, lalu berlari menjauh dari rumahnya.
Sebenarnya, aku ingin melihat reaksinya saat kupanggil namanya tanpa embel-embel itu.
Tapi, demi jaga cool…
"Cih, baru ditinggal sehari, hubungan mereka semakin dekat ya?"
"Jadi? Kau mau memisahkan mereka berdua, begitu kan?" gadis yang barusan berbicara tadi, hanya bisa cemberut melihat orang yang berada disebelahnya.
Orang yang berada di sebelahnya hanya terkekeh.
"Sebentar lagi juga mereka akan terpisah dengan sendirinya."
TOOO BEEE CONTINUEEDD
OH TIDAK, INDOMIE SAYA LEMBEK BANGET. KELAMAAN REBUS NIH. INI CERITAKU, APA CERITAMU?
A/N: AWWW YEAAAHHH FINISHED! AH TAPI CUMAN 3000 WORDS, GASERU YA SAYA? -,-
Sepertinya saya sudah kehabisan kata-kata untuk ditulis di A/N ._.
Mungkin ada!
Yaituuu…
REVIEW YAAA~~ NANTI SAYA BERI CIPOK KEBERUNTUNGAN^^
*mari kita bakar Shiney secara missal! ^^*
