Disclaimer: Not mine!

Sting! Help Me!

-Lucy's POV

Aku terus berlari menuju suatu ruangan. Satu-satunya ruangan yang tidak boleh dimasuki adalah Ruang Pertemuan! Sangat mencurigakan…

Aku langsung membuka pintunya dan melihat seseorang terbaring di lantai. Bajunya persis seperti yang Natsu kenakan tadi malam. Tapi, rambutnya tertutup topinya, membuatku sedikit ragu.

Ah, sudahlah. Tanpa berpikir dua kali, aku langsung berlari menujunya.

"Natsu!" panggilku. "Kamu nggak apa-apa?"

Orang itu kemudian bangun. Ia membuka topinya dan menampilkan rambutnya yang berwarna… coklat?!

"Lama nggak jumpa Lucy!" katanya sambil tersenyum.

"K-kamu…! Hi… Hijiki…?"

"NAMAKU HIBIKI!"

"Ah, Hijiki dan Hibiki sama saja! Sedang apa disini?!"

"Fuh… Karena aku yang membawa Natsu ke sini. Yah, yang membawa mobilnya adalah para nona dari sekolah ini, sih. Aku cuma muncul ketika dibutuhkan tenaga cowok atau ketika sedang dalam keadaan gawat. Nggak buruk 'kan? Daripada kerja sambilan yang biasa…"

Tuhan, terima kasih banyak karena orang ini sangat bodoh!

"Lalu? Sekarang Natsu di mana?" tanyaku.

"Ah, kalau Natsu disekap di kediaman ketua—KAMU MAU MENIPUKU YA?!"

Ia langsung mendorongku ke lantai dan memberikan tanda 'peace' kepada sebuah video camera di pojok ruangan.

"Siapa ketua ketertiban?!"

"Nggak akan kuberi tahu. Aku nggak mau dihukum seperti orang itu."

"Eh? Orang itu? Apa maksudmu?"

"Maksudnya, Natsu, Erza dan aku adalah partner."

DEG!

P-partner? Natsu? Dia pasti bercanda 'kan?

Hijiki mulai tersenyum.

"Kasihan sekali, kamu nggak tahu apa pun. Mau kubantu untuk menghajar orang itu? Haaahh… Kurasa aku akan melanjutkan apa yang Natsu tinggalkan saja…" katanya. Lalu tangannya membuka pita di kerahku dan mulai membuka kancing bajuku.

"T-tunggu! Jangan sentuh aku!"

Tangannya menampar pipiku.

"Aku juga nggak mau melakukannya. Tapi ini adalah hukuman bagimu karena telah menjadi cewek yang menyebalkan…" Tiba-tiba ia menutup mulutku dan menjilati leherku. Aku meronta untuk lepas, tapi tidak bisa.

Seseorang… tolong aku!

Tiba-tiba aku mendengar suara pintu yang dibuka. Kemudian, Hijiki ditarik ke belakang oleh seseorang. Orang itu… Sting?!

Lalu ia mulai menghajar Hijiki. "Kamu pasti Natsu! Akhirnya ketemu juga! Namaku Sting! Salam kenal!"

Aku hanya bisa sweat-drop.

"Sting… dia bukan Natsu…" akhirnya aku bicara. Ia melihatku dengan tatapan 'kau-tidak-berbohong-kan'.

"Lalu… ini siapa?"

"Hijiki…"

Awkward silence

"Huh, cowok selain Natsu berada di atas Lucy…" gumamnya. Aku hanya memegang pipiku yang tadi ditampar Hijiki. Lalu entah karena apa tiba-tiba Sting ingin melempar Hijiki ke luar jendela.

"MATI KAAAAUUU!" geramnya.

"TUNGGU! Aku mau tanya sesuatu dulu!" teriakku.

Sting tiba-tiba memasukkan tubuh Hijiki kembali ke dalam. "Gawat! Ada yang datang! Melakukan kekerasan di sekolah putri adalah hal yang buruk…" bisik Sting.

Aku menghampiri Hijiki. Tapi sepertinya dia tidak sadar. Aku meraih kerahnya dan menggoyang-goyangkan tubuhnya. "Oi! Jangan pingsan! Beritahu di mana kediaman tempat Natsu disekap!" perintahku dengan panik. Tapi ia tidak bergeming.

Sting memegang pundakku. "Lucy, ini percuma. Dia tidak akan bangun untuk sementara." Lalu ia mengambil video camera yang ada di ruangan.

"Tapi…!"

"Ayo pergi. Ada yang datang. Bisa lari 'kan?"

"I-iya…"

Pada akhirnya… aku tidak tahu di mana Natsu…

-oOo-

-Normal POV

"Lucy pasti sedang tidak berdaya saat ini!" kata Minerva pada 4 orang yang bersamanya. "Benar!" jawab yang berambut ungu dan memiliki alis mata yang aneh.

"Berkat si Blondie itu, kita harus berhadapan dengan masalah…" keluh Flare, masih teringat dengan kejadian 'tadi'.

"Fufufu… Flare jangan dimasukki ke hati ya," jawab seorang cewek berambut putih yang sepertinya ketua mereka.

"Kalau bisa melihat wajah Blondie yang sengsara, hatiku akan terasa lega," kata Flare.

"Pasti lebih asik lihat sendiri daripada nonton video," susul Minerva sambil membuka pintu.

"KYAAAAAAAAAAAAAAHHHHHH!" Mereka berlima langsung berteriak bersamaan ketika melihat pemandangan yang ada di dalam ruangan tersebut.

Hibiki telah babak belur dan celananya dipeloroti oleh seseorang lalu dibuat dalam posisi menungging.

"Jangan-jangan… anak itu yang melakukannya seorang diri...!" kata Minerva, masih menutup matanya. "MANA MUNGKIN!" sangkal Flare.

Si ketua berambut putih hanya bisa memandangi Hibiki dengan kasihan. "Anak yang menakutkan… Lucy Heartfilia…"

-oOo-

Sementara itu, di kediaman 'ketua', Natsu sedang berusaha keras untuk melepaskan ikatan dari tangannya yang kemudian tersambung ke pilar.

'Sial…' ia mengutuk dalam hatinya.

"Jangan. Bukankah kamu sudah berkali-kali disekap di tempat ini? Jadi harusnya sudah mengerti 'kan?" kata Erza dari luar ruangan. Pintunya sengaja ia buka agar ia bisa melihat gerak-gerik Natsu. "Menyerah saja?"

"Lucy bagaimana?!" tanya Natsu.

"Dengar, aku hanya menuruti perintah untuk menjagamu. Sepertinya juga agar aku nggak kemana-mana. Dan Lucy juga akan mengalami masalah yang cukup gawat karena Hibiki mengenakan pakaianmu. Apakah pernah terpikirkan olehmu dampaknya akan seperti ini?!"

Natsu terdiam untuk sementara. Tapi kemudian ia meronta dari ikatannya lagi.

'Huh, percuma saja,' batin Erza. Lalu ia menatap Natsu yang sedang berusaha keras untuk melepaskan ikatan dari tangannya. Erza dapat melihat bahwa pergelangan tangannya sudah merah dan sedikit terluka akibat gesekkan dari tali.

Erza menghela nafas. 'Jangan... Posisi berdiriku buruk nih! Tapi…'

Natsu tiba-tiba mendengar sesuatu seperti benda kecil yang jatuh di dekat kakinya. Saat ia melihat ke bawah, ia melihat sebuah cutter. Dengan kakinya, ia meraih cutter itu.

Natsu tersenyum ke arah Erza sambil mengeluarkan silet dari cutter itu. "Terima kasih, Er—maksudku, Tuhan."

Erza yang sedang dalam posisi duduk pun tersenyum. 'Agar Lucy bisa merubah sekolah ini, dia butuh dirimu…'

-oOo-

-Lucy's POV

"Tadinya aku buru-buru kemari karena kepikiran dengan 'putus-hubungan', tapi sepertinya kau malah sibuk dengan urusan lain," kata Sting setelah kami berhenti berlari. Aku masih mencoba untuk menangkap nafasku. Entah karena apa tiba-tiba ia memakaikan jaketnya padaku. Ah, ternyata kancing bajuku lepas karena kejadian tadi.

"Bukankah katanya damai? Kenapa kamu malah mengalami hal seperti ini?" tanya Sting. Aku diam saja, lalu tanganku menangkap sesuatu di kantung jaketnya. Ini… video camera yang tadi. "Buang saja barang yang ada di dalam jaketku."

"Terima kasih… Kalau Sting nggak datang, aku—"

"Penyebabnya Natsu 'kan?"

"Bu-bukan! Ini bukan salah Natsu! Ada sekelompok orang di sekolah ini yang mengincarku. Mereka menculik Natsu…"

"HAH?! Bagaimana bisa?!"

"Kata adiknya…"

"Orang tuanya tahu?! Kapan kamu sadar dia diculik?!"

"Ia tinggal berdua dengan adiknya saja…"

Lalu, aku melihat SMA Jyoyama. "Di sinilah pertama aku bertemu Natsu. Awalnya kukira ia cowok hidung belang. Biarpun sudah kutolak, dia tetap nggak menyerah. Ketika sedang kesepian, ia selalu di sisiku."

"Jadi siapa saja boleh menemanimu saat kesepian!"

"Bukan begitu! Sulit untuk menjelaskannya, tapi… kalau bukan Natsu, nggak bisa…"

Sting menghela nafas.

"Kamu serius ya... Apa boleh buat, aku mengerti. Biarpun kamu..." Ia tiba-tiba mencubit pipiku. "Menjadi orang bodoh tanpa jiwa atau menjadi cewek yang seenaknya diajak pacaran oleh cowok...! Persahabatan kita nggak akan pernah berakhir, Lucy."

Sting...

"Lucy, sebelumnya aku meninggalkanmu tanpa mendengar penjelasan apa pun. Maaf telah membuatmu menangis. Lain kali aku pasti akan mendengarkan sampai selesai..."

Air mata mulai mengalir di pipiku.

Sting... Harusnya aku yang minta maaf... Sejak di sini, yang kupikirkan hanya diri sendiri... Hanya ketika merasa butuh,aku manja padamu... dan aku selalu saja menyembunyikan hal penting darimu... Gomennasai...

"Luce!"

Aku menoleh ke sumber suara itu.

"Natsu...?!"

-oOo-

-Normal POV

"Tiba-tiba aku dipukul dari belakang. Nggak kelihatan jelas, tapi sepertinya yang memukulku seorang cowok setinggi 2 meter..." lapor Hibiki kepada 5 pemimpin utama setelah ia siuman.

"Ternyata Blondie punya teman seperti itu!" teriak Flare dengan panik. "Pasti dia akan balas dendam pada kita!" susul Minerva.

Si Ketua menghela nafas. "Dasar... kalian bahkan tidak bisa menangkap Geng Levy!"

Kemudian seorang bawahan mereka datang. "Ketua, ada telepon dari tempat kediaman. Natsu dan Erza telah melarikan diri," katanya.

Ketua berambut putih itu terdiam. Kemudian ia tertawa dengan menyeramkan. "Fufufufu~ Ternyata komite ketertiban dianggap remeh~! Fufufufufufu~"

Semua yang ada di ruangan mulai menjadi tegang.

"TIDAK AKAN KUMAAFKAN KAMU, LUCY HEARTFILIA!"

Shocked moment.

"Ke-ketua, rencana selanjutnya..."

"Kami akan lakukan apa saja!"

Sang ketua menyeringai dengan jahat. "Tidak perlu tergesa-gesa. Aku masih punya kartu istimewa yang tersimpan rapat. Lebih baik kita bereskan semua barang yang mengganggu sekaligus... Fufufufufufufu~!"


A/N: Gomen, aku updatenya lama. Lagi sibuk dan agak males ngetik...

Mungkin di chapter selanjutnya, identitas sang Ketua akan terbongkar! Ada yang sudah punya tebakan kira-kira Ketua itu siapa...?

Lots of love,

XxJigoku-no-HanaxX