Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi sensei, saya hanya pinjam saja.

.

.

.

Stop it!

(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)

Stop it! by Authors03

Romance\Drama

Please.. Dont like dont read.. Thanks.

Chapter 10

.

.

.

Di sinilah mereka, duduk bersebelahan di dalam mobil setelah Naruto menuntunnya.

"Apa yang ingin kau bicarakan?" Sakura bertanya karena Naruto tak kunjung bersuara, dia melamun? Perasaan Sakura tak enak, sungguh.

"Aku..." Naruto menatap Sakura penuh keraguan. Mengapa kini rasanya berbeda?

Di mana mata yang selalu menatap penuh harapan Sakura? Mata yang selalu menunjukkan bahwa ia ingin memiliki Sakura? Di mana hati deg-degan kala menatap mata hijau itu? Dimana?mengapa tak ada lagi rasa bahagia melainkan binggung?

"Mungkinkah ada sesuatu tentangmu yang masih belum kuketahui? Mungkin ada suatu hal yang belum kau ceritakan padaku?" akhirnya pertanyaan terucap dari bibir Naruto.

...

Cukup lama Sakura menatapnya sebelum memamerkan senyum manisnya. "Kau tahu semuanya tentangku." jawab Sakura. "Aku selalu memberitahumu segalanya." tambahnya lagi tapi Naruto merasa ada yang janggal.

"Oh..." ia berOria sebelum melanjutkan. "Oh iya, tapi aku penasaran, padahal kau dan Hinata tak saling mengenal, aneh sekali mengapa kalian selalu terlibat masalah. Haha..." Naruto terkekeh kecil. Yang ia tahu Hinata paling tak suka sama hal yang menganggu dan dia suka ketenangan. Kalau Naruto pikirkan lagi, rasanya aneh Hinata membully Sakura dan Karin apalagi tanpa alasan yang jelas.

"Haha, iya aku pun tak tahu padahal aku sama sekali tak mengenalnya." jawab Sakura, diam-diam membuat Naruto menatapnya entah dengan tatapan apa.

"Apa kau tahu? ternyata Sakura dan Hinata itu teman SMP." Karin berucap dengan semangat.

"Sungguhkah?" Naruto tertarik dengan arah pembicaraan ini. Entah karena terdapat nama Sakura atau Hinata.

"Huuh, Sakura sendiri yang mengatakannya. Dia juga bilang kalau..."

Pembicaraan sehari yang lalu bersama Karin singgah sejenak di lamuan Naruto.

"Begitukah...?"

.

.

.

.

Apakah ada hujan coklat?

Langit jatuh?

Atau hal lainnya?

Hinata menatap ke langit. Hm, sangat cerah?

Matahari di atas kepala, memanasi setengah bagian bumi.

Tapi...

"Hyuuga, apa kau dengar aku?" Hinata menatap ke asal suara. Lekaki bersurai kuning bersandar di kap mobil tepat di depan rumahnya. Dia mengenakan celana jeans biru langit dan kaos hitam polos.

"Apakah aku sedang bermimpi, mengkhayal atau sang Uzumaki Naruto benar-benar di depan rumah dan berbicara padaku?" entah tak percaya atau menyindir, tapi seperti biasa, Hinata menampilkan wajah datarnya. Padahal jelas-jelas kemarin manusia ini mengatakan tak mau berurusan dengannya lagi, apa hal yang membuatnya tiba-tiba muncul di sini dengan sebuah ajakan?

Naruto menghela nafas dan mengacak rambutnya. Mengapa ia ke sini? ia bersumpah ia hanya tak bisa mengontrol dirinya.

"Salah alamat atau kau amnesia dan mengingat salah orang?" tanya Hinata. "Apakah mataku terlihat hijau dan rambutku menjadi warna pink?" lanjutnya tapi Naruto tak menanggapi, Naruto masih sibuk berdebat dengan diri sendiri.

"Kau sangat cerewet. Aku hanya minta tolong kau untuk menemaniku. itu saja." Naruto tak memaksa tapi juga tak mau menerima penolakan.

"Satu, aku tak mau di kira penyebab RUSAKNYA HUBUNGAN orang. Dua, kau sudah punya gadis yang katanya tercinta itu, silahkan ajak dia dan tiga." Hinata mengantung. "Apa kau ingat siapa yang pernah berkata 'AKU BAHKAN TAK SUDI MENATAPMU.' Kau ingat? hah, aku penasaran siapa dia, sungguh aku lupa." ejek Hinata, dendam sekaligus bodo amat!

Naruto tak tahu harus menjawab apa. Itu memang benar tapi saat ini entahlah, ia hanya merasa ingin ditemanin dan nama Hinatalah yang muncul di kepalanya.

"Apa kau keberatan menceritakan beberapa hal padaku?" Naruto meminta dengan sangat baik.

"Soal jalang pinkmu itu? Maaf maaf saja tapi waktuku terlalu penting untuk membahas orang yang sama sekali tak penting." jawab Hinata sinis meski ia cukup penasaran apa yang terjadi hingga Naruto mencarinya. Dia terlihat sedikit kebingungan, apakah terjadi sesuatu semalam setelah Hinata pulang?

"Sekali ini saja, aku mohon." AAARRGGG!!! UZUMAKI NARUTO! Apa yang terjadi padamu? Mengapa kau memohon padanya? "Tolong, maukah kau temani aku untuk sebentar saja?" Anggap saja Naruto tak tahu diri, setelah semua yang ia lakukan, ia berani meminta Hinata untuk berbaik hati padanya. Tapi ia sungguh sungguh tak bisa melawan permintaan dirinya ini.

Hinata melirik Naruto lewat ujung matanya. Dimana lelaki yang biasanya dingin itu? Dia menjadi sangat aneh hari ini.

"Sepertinya aku harus pergi ke rumah Kushina-san dan menyapanya." Hinata mendekat dan masuk ke dalam mobil Naruto. Antara niat tak niat menyetui ajakkan tapi ya beginilah, ia memilih ikut.

Naruto tersenyum. Yaampun, ia pasti sudah gila, mengapa ia jadi tak tahu malu begini?

.

.

.

.

"Karin! Ini semuanya salahmu! Mengapa kau mengatakan pada Naru kalau aku mengenalnya dan soal ibunya?!" Sakura mendorong Karin. Ia sedih sekaligus marah, hanya gegara masalah kecil-menurutnya- ini, Naruto menganggapnya pembohong. Sedangkan Karin hanya bisa bertanya-tanya.

"Apa salahnya? Ku kira itu bukan rahasia?" tanya Karin tak mengerti, ia tak tahu kalau hal itu bisa menyebabkan pertengkaran diantara Sakura dan Naruto.

.

.

.

.

13.21

Rumah Uzumaki. Di sinilah Hinata dan Naruto berada.

"Dengarkan dulu aku sampai selesai biacara, Uzumaki Naruto." Hinata menyela kesal saat Naruto terus-terusan menyela/membantah ucapannya.

"Yang aku maksud begini. Masalah kecil saja yang bahkan sama sekali tak penting hingga ketulang , dia sudah berbohong apalagi soal hal lainnya? Harusnya kau berpikir seperti itu." jelas Hinata.

"Ini bukan soal masalah kecil atau besar hal yang dia sembunyikan tapi ini soal kebohongan itu. Intinya dia berbohong dan kau harus dengan sangat percaya di saat aku bilang kebohongannya lebih dari itu." Naruto masih diam dan mendengarkan, tangannya mengengam segelas air putih, ia bersandar di lemari dapur dengan Hinata bersandar di sebelahnya.

"Dia sendiri telah mengaku kami adalah teman SMP dan setiap kami berurusan, dia akan bersikap layaknya aku membullynya. Sebelumnya biar aku katakan, selain membuang waktuku karena membahas manusia tak penting itu, ini termasuk hal yang paling aku benci menceritakan keburukan orang. Tapi sekali saja akan aku lakukan untukmu." Hinata berkata jujur. Ia sungguh tak suka membahas masa lalu apalagi yang buruk tapi rasanya tak masalah melakukannya sekali untuk Uzumaki yang tengah dilanda kebingungan ini.

"Iya iya iya, wah kau sangat baik. Makasih sudah mau melakukannya untukku." Mata Hinata menyipit, apa Naruto tengah mengejeknya?

"Lanjutkan ceritamu." never mind. Hinata kembali menatap gelas di tangannya dan mulai mengingat beberapa potongan masa lalu.

"Dia itu sangat sok. Lagak bos, sok cantik, sok baik, sok polos, sok berkuasa dan bukannya aku sombong tapi kau bisa lihat sendiri dari segi manapun aku menang darinya. Tanpa lagak, aku memang berkuasa. Tanpa lagak bos aku sudah kaya raya tujuh turunan dan siapa yang perduli kau cantik apa tidak? Banyak yang berharap mereka jelek agar tak menjadi pusat perhatian apalagi lagak sok polosnya itu ugh sungguh menjijikan." Hm, Naruto cukup tak nyaman pada ucapan dengan bumbu kesombong.

Hei! Hinata tak menyombongkan diri tapi itulah faktanya. Sakura bukan apa-apa untuk Hinata, hanya saja ia terlalu malas meladenin gadis tak tahu diri itu. Kalau saja ia serajin itu, gadis itu sudah ia pastikan bertekuk lutut menohon padanya untuk berbaik hati.

"Dia membullyku, menfitnahku, membuat teman-teman membenciku. Berlagak korban saat dia menghasut yang lain demi kepentingannya. Aku memang marah tapi sebenarnya aku sama sekali tak perduli. Aku tak perduli bahkan aku berharap tak ada yang mau berteman denganku, berbicara bahkan menatapku." tanpa sadar Hinata bercerita soal dirinya tapi Naruto masih setia mendengarkan tanpa niat menyela.

"Ayolah, mereka pikir mereka siapa? mereka bahkan terlalu rendah untuk berbicara padaku. Jika aku mau, aku bisa saja membeli mulut mereka tapi mereka sama sekali tak penting untuk aku pusingkan. Ya itu, intinya dia tak sebaik yang kau kira. hanya sok polos saja." Hinata tak ngerti lagi kemana pembicaraan ini pergi tapi ada sedikit rasa lega di hati karena bisa mengomel. Ia bahkan tak ingat kapan ia cerewet seperti ini di depan orang.

"Jadi, menurutmu apa yang harus aku lakukan?" entah dengan alasan apa dan sejak kapan dan bagaimana, Naruto baru menyadari kalau sebenarnya, kini, Sakura tak lagi menarik dibahas untuknya. Ia bahkan merasa bosan dengan topik ini meski tetap melanjutkan. Berapa bulan ia mengharapkan Sakura, kini semuanya seolah sirna, ia tak merasakan perasaan itu lagi. Sama sekali.

"Aku tak tahu. Lakukan apa yang kau mau." bahu Hinata menggendik. "Peraturan pertama, jangan hiraukan orang lain. Peraturan kedua, jangan perdulikan apa kata orang lain. Ketiga, tinggalkan apa yang membuatmu ragu dan yang penting lakukan apapun yang kau suka. Hidup terlalu singkat untuk membahas hal tak penting. Sudah puas? kau sudah membuang banyak waktuku untuk mengucapkan sampah ini." meski berkata begitu, sejujurnya Hinata tak begitu mempermasalahkan waktunya yang terbuang. Berbicara santai dengan seseorang tak begitu buruk. Tapi hm ia baru sadar, mengapa ia bisa berbicara sesantai ini pada Naruto? Sejak kapan mereka sedekat ini?

"Apakah peraturan itu sebab kau suka mengamuk dan menghajar orang-orang?" Hinata hampir tersedak air yang baru saja melewati tenggorokannya.

"Uhuk huk!"

Byurr

Sisa air putih di gelas Hinata berakhir membasahi wajah bergaris kumis kucing Naruto.

"Setelah apa yang aku lakukan untukmu tadi, inikah balasanmu hah?!" Hinata marah? oh, tentu saja tapi rasanya berbeda seolah marahnya ini ditaburi sedikit humor...?

"Aku hanya bercanda, kau tak harus seserius itu." Naruto menggeleng. Masih saja tak berubah, kasar.

"Ugh! abaikan." bola mata Hinata berputar sebelum ia kembali menyandarkan punggungnya.

"Jadi?" Ia mengantung ucapannya dan melihat lurus ke depan, ke lemari dapur di hadapannya. "Lanjutkan ceritamu tadi." pintanya.

"Aku bilang padanya..." Naruto menoleh ke samping, ke wajah Hinata tepatnya dan Hinata melakukan hal yang sama dengan wajah bertanya-tanya. "Bisakah aku percaya padamu? Bisakah kau jujur padaku soal semuanya baik maupun buruk?" Naruto menggaruk tengkuknya dengan ibu jari, tiba-tiba rasanya gatal. "Karena kalau kau memalsukan sikapmu itu, maka bukan kau orang yang aku cintai selama ini."

Deg

Mengapa ia jadi tak konsen? Pikirannya melayang kemana-mana di saat ia seharusnya menceritakan apa yang terjadi semalam. semakin melihat Hinata, dia jadi terlihat semakin lembut meski dengan wajah datar itu.

"Dasar lemah, harusnya kau seret saja dia dan interogasi." Hinata memberi saran. "Tapi aku penasaran, apa yang aku katakan tadi tentang dia? Apakah kau percaya?" Hinata bertanya, Naruto mengalihkan pandangannya ke atap dapur.

"Entahlah, jujur saja saat ini apa yang aku rasakan soal dia, adalah-

-aku tak perduli." kedua mata itu kembali bertemu. Naruto tak tahu kenapa dan bagaimana tapi inilah yang ia rasakan kini. Ia merasa sama sekali tak lagi perduli sama Sakura.

...

"Apa kau sejenis playboy yang gampang berpaling?" Hinata membalikkan badan menghadap Naruto dan berkacak pinggang. Secepat itu dia move on? Ia tak sangka ternyata Naruto...

"Hei, bukan itu maksud"

"Yah aku tak perduli. Kadang orang terlalu sibuk tenggelam pada apa yang dia percayai hingga dia tak punya waktu untuk sadar akan perasaan dia yang sebenarnya." Hinata menyela. "Kurasa itu hal yang wajar lagipula dia begitu palsu di depanmu. Sakura yang kau kenal itu, tak ada. Semuanya palsu jadi, aku tak heran kau bisa bersikap seperti ini." kini giliran Naruto memasukan kedua tangan di saku celana, tentunya setelah meletak gelas tadi ke meja di belakangnya.

Satu sudut bibirnya terangkat. "Ternyata kau tak sebego yang aku kira. Otakmu itu berjalan untuk hal seperti ini." itu pujian tapi bagi Hinata, itu hinaan.

"Jadi, selama ini kau menilaiku bodoh?" matanya mengeram.

"Gadis temperaman yang suka ngamuk-ngamuk, iyap." jawab Naruto lantang.

"Kau!" tangan Hinata melayang tapi satu tangan Naruto mengangkap pergelangan tangan itu dengan mudah. Tapi sekasar apapun dia, dia tetaplah seorang gadis lemah jika lawannya adalah seorang lelaki.

Satu tarikan, badan Hinata berakhir di depan badannya dengan jarak 1 inci, kepala Naruto sedikit menunduk agar bisa menatap wajah mendonggak Hinata. mata mereka bertemu.

"Jangan bicara padaku di saat kau masih di penuhi kebohongan. Aku tak mau menyalahkanmu tapi kaulah yang membuat jarak di antara kita." Perkataan Naruto pada Sakura semalam. Ia marah dan semua kepercayaannya hilang begitu saja.

"Apakah aku terlihat seperti playboy sekarang?" Naruto bertanya karena ia merasa seperti itu. Tak lagi mencintai Sakura secepat kilat dan malah merasa nyaman di dekat gadis ini.

Kedua mata itu terkunci. "Aku tak perduli, itu tak masalah buatku. Jika kau merasa seperti playboy maka jadilah playboy sungguhan jangan di tahan-tahan." seperti biasa, Hinata selalu berucap dengan nada tak perduli dan lantang.

"Apa kau sedang mengajariku untuk menjadi buruk?" Naruto tersenyum lucu. Sepertinya hidup gadis ini terlalu enak hingga dia berkata sesukanya.

"Kalau kau merasa baik, kau takkan pernah melakukan apa yang menurutmu buruk." timpal Hinata apa adanya.

"Baiklah, kalau begitu." Naruto memberi jeda. "Bolehkan aku memelukmu? Apakah itu permintaan yang buruk?"

"Aku tak perduli selama itu tak menganggu zona amanku." jawab Hinata jujur, tapi diam-diam ia merasa wajahnya memerah entah untuk alasan apa dan Naruto memeluknya erat, melingkarkan kedua tangan kekarnya dipinggang Hinata, menyankan wajahnya di pundak kanan itu. "Kadang seseorang butuh sandaran tak masalah siapa tempat ia bersandar." mungkin kata-kata inipun berlaku untuk Hinata sendiri.

Sangat nyaman, sangat hangat.

"Kau sangat pendek." protes Naruto tapi ia menikmati pelukan ini. Cinta? tidak tapi yang jelas kau tak perlu cinta hanya untuk boleh memeluk seseorang, bukankah begitu?

Hinata pun merasakan hal yang sama. Sangat nyaman. Ia suka perasaan nyaman ini.

Matanya terpejam, wajahnya menyandar di dekat leher Naruto dengan kedua tangan mengalung erat lehernya. Setiap kali memeluk lelaki ini, rasanya sangat hangat dan nyaman dan kemudian, kantuk menyerang.

"Aku bukan seseorang yang mengandalkan perasaan. Cinta, sayang, rasa sakit, perhatian, perduli ataupun sejenisnya. Itu bukan gayaku." Hinata bercerita tanpa merubah posisinya.

"Aku tak perduli. Siapapun, mau ayah, ibu, orang terdekatku mungkin kalau cowokku sendiri. Kalau mereka meninggalkanku, rasanya aku takkan merasa sedih bahkan aku akan tak perduli. Yah awalnya aku pasti merasa kecewa ataupun sedih tapi aku hanya perlu dua menit untuk tak lagi perduli. Sedih tak cocok untukku." Hinata tak tahu mengapa ia mengatakan ini. Ia hanya ingin mengatakannya dan yap, ia lakukan. Itulah dirinya, lakukan apa yang dia mau tanpa menghiraukan orang lain.

"Hentikan itu. Berhenti mengatakan kau tak perduli." tegur Naruto tapi Hinata mengabaikan ucapannya.

"Kadang, aku merasa seperti tak memiliki perasaan. Kadang, aku juga bertanya-tanya bagaimana rasanya mencintai atau di cintai? Bagaimana bisa seseorang mencintai selama berpuluh-puluh tahun dan kenapa mereka tak bisa?" Hinata menyamankan pelukan, matanya masih terpejam menikmati kehangatan ini.

"Kapan terakhir kali aku bersenang-senang dengan temanku? Kapan terakhir kali aku mencintai, menyayangi dan kapan terakhir kali aku perduli?" Kapan? Hinata sama sekali tak tahu, apakah hal itu tak pernah terjadi? Entahlah, ia tak tahu. Ia terlalu sibuk tak perduli hingga tak punya waktu untuk hal-hal seperti itu.

Naruto mulai merasa...

Mungkinkah sebenarnya Hinata tak memahami isi hatinya sendiri?

Apakah kata andalannya 'aku tak perduli' mensugesti hingga dia merasa seperti itu padahal sebenarnya, jauh di dalam hatinya, terdapat banyak rasa disana.

"Aku tak tahu bagaimana menjelaskannya, tapi cinta itu adalah ketika perasaan ingin bersama itu ada. Menantikan hari-harimu dengannya, bangun pagi dan hal pertama yang kau lihat adalah wajahnya." Naruto menjawab. "Cinta bukan soal aku mencintaimu dan kamu mencintaiku tapi cinta itu soal apa yang akan harus diperjuangkan untuk bisa bersama?" Naruto jadi bertanya-tanya, apa yang telah ia lakukan untuk memperjuangkan Sakura selain menunggunya kembali?

"Ketika cintamu gagal, kau tak perlu seribu alasan kenapa dan mengapa, karena hanya ada satu jawaban. Kau atau aku yang tak berjuang?" ia melanjutkan.

"Jadi siapa?" Hinata bertanya. "Siapa yang tak berjuang di antara kau dan dia?" ia memperjelas pertanyaannya.

"Siapa?" Naruto berpikir keras. "Mungkinkah itu aku?" Hinata tersenyum lucu atas jawaban ragu Naruto.

"Bukan, kalian gagal karena dia tak jujur bahkan sampai saat ini." Hinata mengatakan pemikirannya dan Naruto melepas pelukannya.

"Maafkan aku." ucap Naruto tiba-tiba, ini yang ingin ia katakan dari kemarin. Ia telah banyak berpikir soal ini.

Hinata menaikan satu alisnya tak paham. "Maaf?" tanyanya tak mengerti.

"Maaf, untuk perkenalan kita yang buruk dulu. Maaf jika dulu aku kasar dan tak baik padamu bahkan jika aku pernah menyakitimu, aku sungguh minta maaf. Dan maaf untuk jika apa kau katakan soal Sakura itu benar. Maaf aku sudah menuduh dan tak percaya padamu." Naruto menjelaskan, ia sungguh-sungguh menyesali perbuatannya. Padahal mereka bisa berteman, tapi ia begitu jahat pada Hinata hanya karena sikap temperamen Hinata. "Kurasa akhir-akhir ini pun kau menjadi lebih tenang, itu sangat cocok." senyum mengejek terukir dan Hinata membalasnya dengan tatapan tak suka tapi ia menjawab.

"Beberapa hari di kamarku tanpa manusia-manusia pengacau tentu saja, aku tenang. Aku bukan orang gila yang kerjaannya marah-marah tak jelas." jawabnya jujur. "Lagipula aku tak perlu maafmu itu. Aku tak perduli." Kau tak berpikir Hinata akan sakit hati karena sikap tak baik Naruto padanya'kan? Kalau iya, sebaiknya kau tarik kembali pikiranmu itu karena jawabannya adalah tidak.

Naruto bersumpah. Gadis ini adalah manusia terjutek yang pernah ia kenal selama ini. Apakah dia memang sebodo amat ini atau apakah dia hanya malu untuk memperlihatkan perasaannya?

"Aku hanya merasa harus minta maaf dan jadi, apakah kita bisa berteman?" memberanikan diri, Naruto mengulurkan satu tangannya. "Aku, Uzumaki Naruto. Dan kau?" rasanya sangat aneh tapi tak seburuk itu ketika kau mau mengakui kesalahanmu dan memperbaikinya.

Hinata tak kuasa menahan senyum lebar hingga matanya menyipit. Tiba-tiba saja semuanya terasa berbeda. Ia tak menyangka Uzumaki ini akan berkata maaf padanya. Ia bersungguh-sungguh berniat menyadarkan lelaki ini dari kebodohan termakan drama gadis itu tapi semuanya malah terbongkar karena kecerobohan gadis pink itu sendiri. Lucu?

Dan hmm.. Teman...?

Hinata menjabat tangan yang terulur. "Aku Hyuuga Hinata, senang berkenalan denganmu, Uzumaki Naruto."

Harusnya dia merasa beruntung, karena dia adalah orang pertama yang Hinata akui sebagai teman.

.

.

.

.

Satu minggu kemudian.

"Naru, tolong dengarkan aku." wajah itu tertekuk, ia merasa sedih. Lelaki yang ia cintai sama sekali tak mau mendengarkan penjelasannya sejak kemarin.

Naruto masih berjalan di samping Hinata menuju ke kelas mereka di lantai tiga.

"Sudah kukatakan Sakura, sebelum kau mau jujur, jangan bicara padaku. Aku tak butuh penjelasanmu, aku perlu kejujuranmu."

"Bukannya aku ingin menyela tapi kurasa sudah terlambat untuk jujur." Hinata di sebelah Naruto menyela dengan datar. Bukannya ia mau ikut campur tapi ia hanya mengatakan apa yang ia mau. Naruto takkan kembali lagi padanya meski dia berkata jujur karena Naruto bahkan tak lagi terlihat perduli. Yah, menurutnya.

"Hinata!"

"Yaampun. Muncul lagi satu biang kerok." baru saja memasuki kelas setelah masa skornya selesai, seorang lelaki bersurai perak langsung membuat kepala Hinata berdenyut. Tak ada ketenangan yang ia butuhkan di sini.

"Aku memenangkan give away nginap di ke Konoha resort untuk empat orang. Sana sangat indah kau tahu? Kita bisa menikmati matahari tenggelam dan terbit untuk dua hari." jelas dia yang adalah Toneri semangat. Ia sudah sangat menunggu hari ini untuk bisa mengajak Hinata. Ia tak bisa masuk ke rumah Hinata karena di larang oleh security yang pastinya atas perintah Hinata tapi...

Toneri melirik Naruto lewat ujung mata. Sejak kapan lelaki itu menjadi dekat dengan Hinata? Toneri bahkan pernah beberapa kali melihat dia di izinkan masuk ke rumah Hinata tapi kenapa dirinya tak boleh? Mencurigakan.

"Aku lebih suka baring di kasurku dan menonton matahari terbit lewat tv." Hinata berlalu pergi tapi belum dua langkah, Toneri menghalangi.

"Ayolah, kita teman bukan? Temanilah temanmu ini." Toneri membujuk.

"Sejak kapan kau temanku?"

"Oh, jadi ceritanya lelaki yang kasar padamu itu adalah teman dan aku yang melindungimu, bukan?" jawab Toneri tak terima. "Mungkin aku juga harus mendorongmu juga agar bisa berteman denganmu." Hinata mendelik tajam.

"Baiklah baiklah. Aku ikut." jawab Hinata pasrah karena malas bercekcok.

"Aku juga mau ikut." tambah Naruto cepat tapi Toneri menatapnya tak suka.

"Kau tak di un"

"Aku juga mau ikut." ketiga mata itu tertuju pada asal suara, tepatnya Sakura yang sentiasa berdiri di dekat Naruto. Dia menunjukan raut wajah tak ingin penolakan dan terdapat sedikit raut memohon di sana.

"Hahahaha..." tawa Toneri pecah. "Naruto saja aku tak mau apalagi kau!" tolaknya sinis. Mereka berdua hanya akan menganggu saja dan kau kira mereka sedekat apa hingga Toneri mau pergi dengan dua manusia ini? Hubungan mereka hanya di hiasi oleh perdebatan dan pertengkaran.

"Tapi Toneri!"

"Kenapa aku tak boleh ikut? aku juga perlu reflexing." ucap Naruto yang sejujurnya hanya ingin pergi bersama Hinata. Mereka sering berjumpa dan sedikit berbincang selama seminggu ini. Hinata membiarkan Naruto melakukannya karena dia terlalu malas untuk protes.

"Kau kalau mau reflexing pergi saja ke tempat lain jangan menganggu kami." jawab Toneri. Toneri tahu hubungan Sakura dan Naruto tengah sangat buruk terus apa? Apakah Naruto berniat untuk mendekati Hinata? Entahlah yang jelas Toneri tak suka.

"Biarkan saja mereka berdua ikut." Hinata berlalu pergi ke bangkunya setelah berucap.

"Tapi Hina"

"Dengar brengsek, waktuku tak banyak untuk mendebatkan hal tak penting. Kalau mereka ingin ikut, silahkan. Intinya jangan ganggu aku." emosi Hinata naik seketika. Mengapa Toneri suka sekali mempermasalahkan hal kecil? Sangat menganggu!

"Apa?" tanya Naruto datar saat Toneri mengeram padanya. Ia hanya ingin ikut, itu saja.

"Sabtu jam 7 pagi. kumpul di sekolah."

.

.

.

.

.

to be continue.

hmmmmm

hmmmm

zonk ceritanya pasti kacau .

maapkan ku sudah berusaha