MONSTER
M
HUNHAN
bagian sembilan
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mendengar cibiran Kai yang sudah di luar batas kewajaran, Sehun berdiri dari kursinya. Ia membentak manusia yang tengah bersiap untuk mandi tersebut, yang melontarkan kata penyulut api dalam dirinya barusan dengan nada yang tak kalah menusuk. "JAGA MULUTMU DASAR SIAL!"
Kai tak mau kalah, jujur saja ia lelah jika setiap hari harus melayani Sehun, mengingatkan dia untuk makan, minum obat dan merawatnya seperti merawat bayi besar. Pria itu punya kehidupannya juga, EXO ada bukan untuk melayani sang maknae mereka yang sudah kehilangan arah hidup hanya karena asmara. Mereka ada untuk saling menguatkan, bukan seperti ini. Itulah pikir Kai.
"Lalu kau mau apa?! Yang selalu kau bicarakan selalu saja Luhan dan Luhan! kau fikir aku tidak muak mendengarnya setiap hari huh?! Siapa yang membuang-buang uang begitu saja hanya untuk membeli remote baru, perabotan baru, gelas dan piring baru?! Kau Sehun!"
Sehun menarik kerah kimono Kai menantangnya berkelahi, kedua mata masing-masing saling menantang mendominasi. Deru nafas sengit Kai dan Sehun bahkan bisa sangat terlihat jelas dari dada mereka yang kembang kempis.
"Kau muak? Lampiaskan saja sekarang. Kenapa harus membawa-bawa nama Luhan dasar bajingan.." geram Sehun sengit membuat darah Kai berdesir karenanya.
Suho bangkit dan mencoba berjalan mendekat menjauhkan keduanya agar tidak saling memulai, namun baru selangkah saja.
"Jangan mendekat Suho hyung!" Sehun menggertaknya dan langsung menurunkan mental keberanian Suho, sehingga yang terjadi, pria itu tertahan disana.
"Aku dan Irene tidak menjalin hubungan lebih selain dokter dan pasien. Camkan itu. Aku baru saja bertemu dengan Luhan kemarin, dan hal itu lah yang saat ini membuatku selalu berada di samping Irene untuk mengorek informasi, asal kau tau!" ucap Sehun lagi masih dengan nada menusuk dan siap membunuh Kai kapan saja.
"Informasi apa lagi huh? Luhan sudah bahagia dengan Kris, kekasihnya. Kau mau merusak hubungan mereka? Menghancurkannya sama seperti kau menghancurkan Donghae dan Irene, iya?!"
Dan ucapan Kai yang terakhir benar-benar tidak bisa dimaafkan.
Sehun mendorong tubuh Kai kuat hingga membentur meja kecil tempat perabotan dan juga telfon rumah disitu. Menjatuhkan vas bunga dan segala macam accecories di atasnya. Suho maju, namun dengan reflek Sehun menendang perut Suho kuat hingga pria itu terhempas dan meringkuk di lantai merintih kesakitan.
Pandangan marah kesetanannya kembali pada Kai, ia menarik lagi kerah kimono mandi Kai. Bahkan alat mandi yang tadi dipegang oleh pria berkulit eksotis itu sudah terlepas jatuh dengan odol yang terinjak kaki besar dan lebar Sehun.
"TARIK KEMBALI UCAPANMU KIM JONGIN!"
"TIDAK AKAN!"
Sehun mendecih atas jawaban Kai, ia pun tanpa pikir panjang mengangkat Kai melalui cengkeraman dan cekikan pada kimono mandinya dan kemudian membawa, mendorong pria itu masuk ke dalam kamar kosong di samping mereka, meninggalkan Suho yang mencoba mengejar masuk tapi terlambat.
Sehun menghempaskan Kai kembali namun Kai tidak terjatuh. Pria itu mencoba melepaskan Sehun dari pintu, mencegahnya agar tidak mengunci diri mereka berdua di dalam.
"Sehun! Kai! Hentikan!" Suho yang masih menahan sakit karena tendangan Sehun tertatih di depan pintu dan terus berteriak memohon. "BUKA PINTUNYA! KAI! SEHUN!"
Tapi seruan-seruan dan gedoran Suho tak mereka hiraukan, yang ada kini Sehun dan Kai sudah saling memiting, memukul, menghajar dan menendang tubuh masing-masing. Lebam, memar, bahkan luka-luka kecil hingga pukulan satu sama lain yang menyebabkan bibir keduanya sobek pun terus berlanjut.
Tidak ada yang mau mengalah. Sehun terus menyerang dan Kai tetap bertahan.
Pertarungan mereka tidak akan berhenti jika keduanya tetap terkurung sendiri di dalam kamar.
Suho masih berusaha mendobrak pintu tempat dimana Sehun dan Kai berkelahi di dalamnya. Ia berharap Chanyeol segera turun untuk membantunya namun mengingat bahwa ada Baekhyun di kamarnya, Suho pun memperkecil harapannya.
Masih terus mencoba mendobrak sekuat tenaganya, Suho sedikit lega karena Chanyeol dengan wajah mengantuknya sedang berjalan menuruni tangga bersama Baekhyun dalam rangkulannya.
Suho segera menyeret Chanyeol yang bertelanjang dada dan hanya menggunakan celana skiny jeans ketatnya tersebut untuk membantunya, membuat Baekhyun mengernyit bersamaan dengan suara gaduh yang terdengar dari arah kamar di depan mereka. "Sehun dan Kai sedang mencoba membunuh satu sama lain, bantu aku mendobrak pintu ini." jelas Suho seraya menarik Chanyeol semakin mendekati pintu ruangan dimana Sehun dan Kai berkelahi.
"Apa?!" Chanyeol kompak dengan Baekhyun tentu saja luar biasa terkejut karenanya. Tangan Chanyeol kemudian mencoba membuka ganggang pintu dan hampir merusaknya, namun sia-sia karena Sehun mengunci dari dalam.
Pintu ruangan tersebut adalah pintu yang kokoh dan membutuhkan bahkan 5 orang untuk mendobraknya. Jika hanya Chanyeol, Baekhyun dan Suho pun takkan cukup, walau mereka memaksa dan merusaknya dengan kampak, akan butuh waktu lama dan mungkin jika selesai salah satu dari Kai ataupun Sehun sudah ada yang tumbang.
Baekhyun mencoba membantu untuk mendobrak pintu namun Chanyeol yang panik melarangnya keras. "Kau duduk saja disana Baek, kau ini sedang hamil!" bentaknya cemas dan membuat Baekhyun diam di tempat dengan masih diselimuti perasaan paniknya.
"Sial!" umpat Suho yang hampir kehabisan akal. Kepalanya menoleh kanan kiri mencari sesuatu dan cara untuk masuk ke ruangan tersebut. Tanpa menunggu, Chanyeol sudah bersiap membawa tongkat baseball dengan kepalanya yang sudah terlindungi oleh helm.
"Suho hyung! Ambil helmmu!" perintah Chanyeol dari luar mansion, mendengarnya, Suho segera menyambar helm di dapur dan memasangnya di kepalanya, mengambil tongkat baseball dan mengikuti arah pergi Chanyeol meninggalkan Baekhyun berdiri di depan pintu ruangan.
Untung saja jendela ruangan tempat Kai dan Sehun berada tidak di tralis, sehingga dengan sekali, dua kali sampai lima kali ayun Suho dan Chanyeol berhasil memecahkan jendela tersebut dan masuk ke dalamnya.
"Sehun hentikan!" Chanyeol yang sama tingginya dengan Sehun segera menubruk Sehun dan memeganginya agar tidak menyerang Kai yang sudah tak berdaya dan kalah telak, wajahnya membengkak dengan darah mengucur di sudut bibir kiri dan mata kanannya.
Tak hanya satu dua lebam, hampir Chanyeol menemukan warna biru keunguan di sekujur tubuh Kai. Wajah, kaki, dada dan bahkan bahu. Membayangkannya, Chanyeol bergidik dan merasa ngeri bahwa kemarahan Sehun ternyata bisa sehebat ini.
Kai sudah terkulai lemah. Ditambah saat Suho dan Chanyeol berhasil masuk, posisi Sehun adalah sedang berusaha mencekik Kai.
Sehun masih meronta dalam tahanan Chanyeol. Suho segera memapah Kai dan pergi dari situ, keluar melewati jendela yang ia dan Chanyeol pecahkan untuk menjadi pintu masuk alternatif tadi.
"Kau pikir apa yang sudah kau lakukan?!" Chanyeol menggertak Sehun dan mendorongnya hingga punggung Sehun membentur tembok. Wajahnya juga sama babak belur dengan lebam di pelipis dan mata kirinya. Namun tak separah Kai.
"Kai terus bicara tentang Luhan dan aku muak mendengarnya!"
"Kau sudah sangat keterlaluan Sehun! Kau hampir membunuh saudaramu sendiri hanya karena Luhan!"
"Tapi dia menuduhku selingkuh dengan Irene juga hyung!"
Chanyeol hanya mendecak ia memperkuat cengkeramannya pada kedua bahu sehun sampai sang maknae agak sedikit rileks.
"Maaf, tapi sepertinya aku, Suho dan Kai tidak akan bicara padamu beberapa waktu ke depan. Kau harus introspeksi diri Sehun."
.
.
.
.
.
.
.
a/n
ntapzz
