You, Me and Our Memories

.

.

.

10

.

.

.

^_^ Happy Reading ^_^

.

.

.

"Kenapa suaramu? Kau menangis?"

Baekhyun mengusap kasar pipinya yang kembali basah oleh airmatanya sendiri. Nafasnya dia tarik perlahan demi mengurangi sesak yang menghimpit dadanya saat ini.

"Baek-ah!"

"Aku tak apa-apa. Hanya... aku baru mengumumkan kematian salah satu pasien gawat daruratku."

"Apa yang membuatmu menangis? Karena ternyata kau tak bisa menyelamatkan pasienmu itu?"

"Ehm. Setiap kali aku tak bisa menyelamatkan pasienku dan kemudian harus mengumumkan kematiannya di hadapan keuarganya, aku sedih, aku selalu merasa bahwa aku gagal menjadi sosok dokter yang katanya bisa menyelamatkan orang lain."

"Kau bukan Tuhan Baek-ah, jadi sangat wajar kalau kau pernah gagal. Benar tugas dokter adalah menyelamatkan manusia yang lainnya, tapi sekali lagi kau bukan Tuhan yang di tanganmu semua orang bisa lolos dari kematian. Kau sudah melakukan yang terbaik untuk menyelamatkannya bukan? Kalau Tuhan berkehendak lain, itu bukan salahmu."

Baekhyun tersenyum tipis. Minho juga pernah mengatakan hal itu padanya, dulu saat dia baru masuk ruang operasi dan saat itu pasien yang mereka tangani meninggal. Baekhyun yang kala itu menangis di pojok ruangan, di hibur Minho dengan kata-kata yang tak jauh beda dengan kalimat yang baru saja diucapkan Chanyeol padanya. Bukan salahnya kalau ada pasien meninggal, dia sudah mengusahakan yang terbaik, tapi Tuhan menghendaki hal lainnya.

"Ehm. Kau tak sibuk?"

"Pekerjaanku sudah selesai disini, sore nanti aku kembali ke Seoul."

"Jinjja?" Baekhyun menegakkan tubuhnya dan senyumnya mengembang dengan begitu lebar. Dari nada bicaranya serta ekspresi wajahnya, orang yang melihatnya pasti mengambil kesimpulan kalau saat ini dia sedang bahagia.

Bahagia?

Dia tak tahu kenapa hatinya terasa begitu bahagia saat mendengar Chanyeol pulang sore nanti. Hmm... hampir dua bulan mereka tak bertemu, komunikasi yang mereka lakukan hanya sebatas pesan singkat dan melalui panggilan telpon. Banyak hal yang Baekhyun bagi dengan Chanyeol melalui sambungan telpon. Apapun yang dia alami dan dia rasakan, pasti di ceritakan pada Chanyeol, seperti saat ini, dia baru saja menceritakan pasiennya yang meninggal di pertolongan pertama yang dia berikan. Kesedihan yang dia rasakan, ingin dia bagi dengan Chanyeol. dan keinginannya untuk berbagi akan bertambah besar kalau dia sedang merasa bahagia.

"Dari suaramu kau sepertinya senang aku akan pulang."

Baekhyun tersipu malu, pipinya merona merah muda. Entahlah, ada rindu yang tak pernah dia sampaikan pada Chanyeol, namun secara tersirat dia selalu mengisyaratkannya.

Sejak Chanyeol pergi ke Jeju dua bulan yang lalu, sudah puluhan kali dia menanyakan kapan pria itu pulang, dan sekarang saat mendengar Chanyeol akan pulang sore ini, perasaannya begitu bahagia dan dadanya seakan ingin meledak.

"Tidak. Biasa saja." Sangkalnya.

"Ooo... aku tak lama di Seoul. Paling tidak hanya sehari, setelah itu aku akan ke Italia. Kira-kira..."

"Ya!" pekik Baekhyun yang tiba-tiba merasa kesal dengan pernyataan Chanyeol.

"Wae? Kau tak senang aku pulang, jadi untuk apa aku lama-lama di Seoul. Pekerjaanku banyak."

"Terserah padamu saja. Aku tutup! Pekerjaanku juga masih banyak!"

"Ya... ya... ya...! Byun Baekhyun-ssi! Aku belum selesai!"

"Who care? Kau sibuk 'kan? Harus menyiapkan dirimu untuk ke Italia bukan? Aku tak akan meng..."

"Aku merindukanmu. Nanti aku jemput jam delapan. See you."

Baekhyun terpaku di tempatnya. Dadanya berdegup lebih kencang dari sebelumnya. perasaan yang sepuluh tahun lalu pernah hadir di dalam hatinya untuk Chanyeol, saat ini kembali lagi. Dan rasanya jauh lebih besar dari sebelumnya. Ah!

"See you." Lirih Baekhyun sebelum memutuskan panggilan telponnya.

Gadis itu terlihat menarik nafasnya perlahan sebelum meninggalkan taman belakan rumah sakit yang selalu menjadi tempatnya untuk berbagi cerita dengan Chanyeol dua bulan terakhir ini.

Baekhyun kembali ke ruangannya. Mata gadis itu memicing mendapati Taemin yang menelungkupkan badannya diatas meja dengan lengan yang digunakan sebagai tumpuan kepalanya.

"Taemin-ssi!" panggil Baekhyun lirih.

Sekedar informasi, selama dua bulan ini, hubungan Baekhyun, Taemin dan juga Minho tak berjalan baik. Tak banyak yang mereka bicarakan kecuali masalah pekerjaan. Selain itu, mereka lebih banyak diam dan saling menghindar. Jadi, meski Baekhyun satu ruangan dengan Taemin, mereka tak cukup dekat dan tak bisa di katakan sebagai teman, karena saat Taemin masuk ruangan ini, Baekhyun lebih memilih keluar, begitu pun sebaliknya.

Sebenarnya, Baekhyun kurang merasa nyaman akan hal itu namun ada satu sisi hatinya yang menjerit tak terima setiap kali dia mencoba dekat dengan Taemin.

Dia tahu, kejadian itu tak sepenuhnya salah Taemin, tapi tetap saja, hatinya masih sakit bila mengingat akan hal itu.

Baekhyun mendekati Taemin, menyentuh pundak gadis itu namun tak ada respon dari si pemilik tubuh. Baekhyun melirik bagian bawah tubuh Taemin dan matanya membulat saat melihat darah merembes melalui sela kaki rekannya itu.

"Taemin-ssi!" pekik Baekhyun yang langsung bergerak cepat mengangkat kepala Taemin, tubuh lemas itu dia tegakkan di kursi. Baekhyun semakin dibuat mengangga saat melihat darah sudah membasahi rok bagian depan taemin.

"Apa yang kau lakukan?" jerit Baekhyun yang hanya disahutI Taemin dengan rintihan.

Baekhyun berlari ke pintu, membukanya lebar. "Tolong! Suho-ya!" pekiknya saat melihat Suho melintas tak jauh darinya.

Suho berlari mendekati Baekhyun.

"Ada apa?"

"Taemin-ssi." tunjuk Baekhyun pada Taemin yang terkulai lemas di kursinya.

"Astaga!" Suho bergerak cepat dengan mengangkat tubuh Taemin, dia kemudian berlari ke ruang IGD dengan diikuti Baekhyun di belakangnya.

Hal itu menarik banyak perhatian petugas medis disana, beberapa dari mereka melihat dan ada juga yang ikut membantu Suho.

"Letakkan disini!" tunjuk Baekhyun pada ranjang kosong di sebuah ruangan yang baru di bukanya. "Bantu aku menghentikan pendarahannya." Ujarnya pada Suho.

Mereka bergerak cepat dengan memasang berbagai alat medis ke tubuh Taemin. Mulai dari selang oksigen dan berbagai hal yang di butuhkan untuk penyelamatan itu.

"Kau! Bisa panggil dokter Im?" Baekhyun memerintahkan salah satu perawat yang membantunya untuk memanggil dokter lain.

"Kenapa dokter Im?" tanya Suho.

"Aku tak tahu, aku merasa membutuhkan bantuannya."

"Dokter Im adalah dokter kandungan, Baek-ah. Memangnya Taemin-ssi..."

"Jangan banyak bicara Suho-ya! Bantu aku menghentikan pendarahannya!" pekik Baekhyun marah. Suho tersentak dan langsung bergerak cepat membantu Baekhyun.

Sekitar lima menit, seorang dokter perempuan berambut sebahu masuk ke ruangan itu.

"Ada apa ini?" tanyanya pada Baekhyun yang masih berusaha menghentikan pendarahan yang terjadi pada Taemin.

"Aku menemukan dia sudah dalam keadaan seperti ini di ruangan kami." Ujar Baekhyun.

Im Yoona memeriksa Taemin dengan seksama dan ketika tangannya menekan bagian bawah perut Taemin, gadis itu meringis kesakitan.

"Tolong bawa alat itu kemari!" ujarnya. Suho yang berada di dekat alat yang di tunjuk Yoona langsung mendekatkan alat itu pada Yoona. Dengan sigap, Yoona menyingkap baju Taemin, lalu mengarahkan alat itu ke bagian perut Taemin.

"Dia keguguran."

Baekhyun berdiri kaku di tempatnya. Dugaannya tadi tak salah, langkahnya untuk memanggil Yoona juga tak salah, kecurigaannya benar.

"Ba-bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Baekhyun, dia tahu jawaban yang akan di berikan Yoona, tapi tetap saja dia bertanya demi mendapat jawaban yang lebih pasti.

"Sepertinya dia sengaja melakukannya, ada indikasi kandungan senyawa lain di tubuhnya. Bisa jadi dia meminum pil untuk menggugurkan kandungannya."

Baekhyun merasakan sesak di dadanya. Kenapa? Kenapa Taemin bisa sebodoh ini?

"Kita bersihkan rahimnya. Tolong bantu aku Baekhyun-ssi." Baekhyun menatap Yoona dengan tatapan terkejut, lalu dia mengangguk pelan dan mulai membantu Yoona menangani Taemin.

Sementara itu, di depan ruangan itu, beberapa orang berkumpul dengan ekspresi penasarannya. Tentu saja, siapa yang tak penasaran bila mengetahui keadaan Taemin yang di bopong Suho dengan darah segar membasahi bagian bawah tubuhnya. Siapapun pasti bertanya-tanya, ada apa dengan dokter muda itu?

"Ada apa? Kalian tak ada pekerjaan? Kenapa berdiri di sini?" hardik Minho yang membuat orang-orang itu mundur teratur dari tempat mereka berkumpul tadi.

Minho menatap ke dalam ruang kecil itu, dahinya berkerut samar melihat Baekhyun, Yoona dan Suho di dalam sana. Ada apa?

"Apa yang terjadi?" tanyanya pada salah satu perawat yang tadi ikut berkumpul di depan ruangan itu.

"Saya kurang tahu yang sebenarnya terjadi saem. Hanya saja, tadi dokter Lee di bopong dokter Kim dengan darah membasahi bagian bawah tubuhnya, dokter Byun juga terlihat panik."

Minho melangkah perlahan mendekati ruangan itu, dari balik kaca, dia bisa melihat Yoona, Baekhyun dan juga Suho serta satu perawat lain tengah sibuk mengurus Taemin.

Minho hendak masuk ketika Suho keluar dari ruangan itu.

"Saem!" sapa Suho.

"A-apa yang terjadi?" tanya Minho dengan mengulang pertanyaan yang sama seperti yang dia tanyakan pada perawat tadi.

"Dokter Lee mengalami keguguran."

Jdeeeeerrrrr!

.

.

.

Chanyeol menyalami kliennya sesaat setelah dia melaporkan bahwa proyek yang di tanganinya selesai. Dari tatapan mata pria paruh baya itu, terlihat jelas bahwa beliau sangat puas dengan pekerjaan yang di lakukan Chanyeol dan timnya. Dan melihat hal itu, Chanyeol hanya bisa membatin bahwa apa yang diusahakannya tak sia-sia. Dia berkorban banyak, berada di Jeju dua bulan tanpa pulang sama sekali ke Seoul, benar-benar hal yang sebenarnya sulit di lakukannya. Hatinya tertinggal di ibu kota Korea selatan itu.

"Anda langsung pulang Tuan Park?" tanya pemilik resort yang pembangunannya baru saja di selesaikan Chanyeol. Pria paruh baya itu sepertinya memiliki maksud dengan menanyakan hal itu pada Chanyeol.

"Tidak. Saya kembali ke Seoul nanti sore." Sahut Chanyeol sopan.

"Wah... kebetulan sekali, putriku akan datang siang ini, kalau anda tak keberatan, ikutlah makan siang dengan kami."

Chanyeol sedikit dibuat terkejut dengan pernyataan si klien yang sepertinya dia menangkap maksud dari pria itu.

"Maaf. Saya tidak bisa, ada yang harus saya kerjakan setelah ini."

Pria itu terlihat kecewa, namun tak lama kemudian dia tersenyum.

"Tuan Park! Apakah anda sudah memiliki kekasih?"

Maksud yang di tangkap Chanyeol dari pernyataan pria itu ternyata sesuai dugaannya. Ada kemungkinan, kliennya itu ingin menjodohkannya dengan putrinya.

"Saat ini mungkin belum, tapi saat ini saya dekat seorang perempuan yang akan saya nikahi nantinya. Maaf kalau hal itu mengecewakan anda. Kami senang bekerjasama dengan anda dan semoga ini bukan yang terakhir anda memakai jasa kami. Sekali lagi terimakasih atas kepercayaannya, saya permisi Tuan Jeon."

Chanyeol membungkuk sopan, kemudian kembali menegakkan tubuhnya setelah beberapa saat. Dia mencoba tersenyum sopan dan kemudian melangkah keluar dari tempat itu.

Urusannya sudah selesai dan dia tak ingin mencampur adukkan urusan pribadinya dan pekerjaan.

Bukan hanya sekali ini Chanyeol menerima penawaran dari kliennya untuk di jodohkan dengan putri mereka, namun Chanyeol selalu menolak, dia memiliki keyakinan bahwa Baekhyun lah yang akan mendampinginya menghabiskan sisa umurnya.

Meski dia sempat kehilangan keyakinan itu beberapa saat yang lalu, tapi rupanya Tuhan berpihak padanya dengan membuat Baekhyun mengakhiri hubungannya dengan Minho.

Terlalu jahat memang, tapi Chanyeol bersyukur atas hal itu. Setidaknya, Tuhan masih sangat menyayanginya dengan memberinya kesempatan untuk kembali dekat dengan Baekhyun meski dia harus sedikit berjuang.

Seperti yang dia katakan pada kliennya tadi, dia memiliki urusan lain yang harus diselesaikannya sebelum dia kembali ke Seoul. Apakah itu?

Membeli oleh-oleh untuk Luhan, Jongin dan Kyungsoo yang terus menerus, hampir setiap hari menerornya dengan pertanyaan yang sama, 'kapan kau pulang dan jangan lupa oleh-olehnya'. Tak lupa, dia juga akan membelikan oleh-oleh untuk wanita yang sangat di cintainya.

Chanyeol sampai di sebuah toko yang menyediakan cinderamata. Dia mengelilingi toko itu, mencari beberapa barang untuk ketiga temannya dan juga untuk Baekhyun tentunya.

Mata Chanyeol terlihat tertarik pada rak yang memajang boneka beruang dengan berbagai ukuran.

"Selamat siang! Ada yang bisa di bantu?" tanya pramuniaga yang entah darimana datangnya, yang jelas suaranya sempat membuat Chanyeol berjengit kaget dan langsung melepaskan boneka kecil yang tadi di pegangnya.

Sebisa mungkin Chanyeol mengembangkan senyum sopan. "Ini..." Chanyeol menunjuk ragu boneka kecil yang tadi sempat di pegangnya.

"Ini ada pasangannya Tuan. Biasanya mereka yang membeli ini untuk di bagi dengan kekasihnya, apakah Tuan juga demikian?" pertanyaan pramuniaga itu membuat Chanyeol berpikir sedikit keras.

Kekasih ya? Haruskah seperti itu? ehm...

"Tapi tentu tidak semuanya, ada juga orangtua yang membelinya untuk anak-anak mereka."

Chanyeol mengangguk-angguk mengerti.

"Saya ambil satu."

"Hanya satu? Ini ada pasangannya, kalau di beli satu, pasangannya dengan siapa?"

"Ya sudah, saya ambil keduanya."

Pramuniaga itu tersenyum senang dan langsung mengambil dua boneka yang di maksud Chanyeol. "Ada yang lain yang anda butuhkan?"

Chanyeol menggeleng sambil mengikuti langkah pramuniaga itu menuju kasir.

Setelah membayar semua barang belanjaannya, Chanyeol keluar dari toko itu. Kali ini, dia menyempatkan diri untuk makan bersama para pekerja yang telah membantunya menyelesaikan proyek itu.

Clung

Chanyeol merogoh saku jaketnya, memeriksa ponselnya yang baru saja berbunyi untuk pemberitahuan pesan masuk.

From : Kim Jongin

Hyung! Kau perlu di jemput? Kalau iya, katakan kau pulang jam berapa dan... kita

makan-makan setelah itu. Ok!

To : Kim Jongin

Nanti aku beritahu. Ok! Kita makan-makan tapi aku tak bisa lama, ada urusan lain yang

harus ku lakukan.

From : Kim Jongin

Apa kami boleh mengajak Suho hyung dan Sehunie?

Chanyeol terlihat berpikir. Suho? Hubungannnya dengan Suho memang tak membaik sejak kejadian sepuluh tahun yang lalu. Suho yang selalu mengemis maafnya dan dia yang membangun tembok besar untuk membatasi dirinya bergaul dengan pria itu, karena dia masih berpikir bahwa malapetaka yang terjadi dengannya sepuluh tahun yang lalu adalah akibat dari ulah Suho.

Tapi...

Kalau Baekhyun saja bisa memaafkannya setelah luka itu, seharusnya dia juga bisa melakukan hal yang sama pada temannya itu bukan? Baiklah! Sudah waktunya menjadi manusia pemaaf Chanyeol-ah. Menjadi manusia yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

To : Kim Jongin

Ajak saja. Sudah lama aku tak bertemu dengan mereka.

From : Kim Jongin

Ok! Semoga kau selalu bahagia hyung.

Chanyeol tersenyum membaca kalimat terakhir yang dikirim Jongin untuknya.

"Aku bahagia saat ini Jongin-ah. Jangan terlalu mengkhawatirkanku lagi." Gumam Chanyeol sambil memasukkan ponselnya ke saku. Setelahnya dia kembali melanjutkan langkahnya menuju sebuah restoran tempatnya membuat janji dengan para pekerja.

.

.

.

Minho sedang duduk di salah satu bangku di halaman belakang rumah sakit ketika Baekhyun menghampirinya dan langsung duduk disampingnya.

Dengan mencium aroma parfumnya yang sangat familiar, tanpa menoleh pun Minho tahu, Baekhyun lah yang duduk di sampingnya saat ini.

"Apa yang kau lakukan disini?"

Minho menarik nafasnya perlahan. Apa yang dia lakukan disini? Tak ada. Dia hanya duduk dan hal itu sudah dilakukannya lebih dari dua jam.

Mendengar dari Suho bahwa Taemin mengalami keguguran, otaknya mengalami kekacauan. Banyak hal yang menghinggapi pikirannya saat ini, namun hanya satu yang terus berdengung di kepalanya. Taemin keguguran, apakah janin itu anaknya?

"Aku pikir, setelah hari itu, hubunganmu sudah jauh lebih baik dengan Taemin-ssi, tapi..."

"Aku memang tak bicara dengannya sejak kejadian itu kecuali masalah pekerjaan."

"Choi Minho yang ku kenal, tak pernah sejahat itu terhadap seorang perempuan."

Minho mengalihkan tatapannya pada Baekhyun yang juga tengah menatapnya.

"Kejadian malam itu kesalahan kalian berdua, lalu haruskah dia sendiri yang menanggung bebannya. Kami berkantor di ruangan yang sama, aku memang tak dekat dengannya tapi melihatnya seperti tadi, aku juga merasa bersalah oppa. Aku merasa, dia mengambil keputusan gila itu salah satu alasannya karena aku."

"Apa maksudmu dengan keputusan gila?"

"Kau benar-benar tak tahu?"

Minho menggeleng pelan.

"Dia meminum pil untuk menggugurkan kandungannya."

Jantung Minho rasanya sudah jatuh entah kemana. Dia tak berpikir sampai kesana, saat Suho memberitahunya bahwa Taemin keguguran, dia hanya berpikir mungkin Taemin kelelahan hingga menyebabkan gadis itu keguguran.

"Saat aku masuk ke ruangan kami, dia sudah pingsan dengan darah yang sudah merembes banyak dari sela kakinya."

Keadaan sunyi tiba-tiba, Minho mengusap kasar wajahnya. Rasa bersalah berdentum keras di hatinya. Dia penyebab semua kekacauan ini.

Baekhyun menatap Minho dengan tatapan miris. Oh ayolah, seharusnya semua bisa menjadi lebih baik, dia sudah membuka jalan dan meminta Minho untuk bertanggungjawab atas perbuatan yang dilakukannya. Dia pikir, Minho mendengarnya dan hubungan kedua orang itu membaik setelah dia memutuskan untuk pergi dari Minho. Tapi tebakannya salah, Taemin terpuruk sendirian tanpa di sadari oleh siapapun.

Baekhyun mengulurkan tangannya, lalu mengenggam erat tangan Minho.

"Taemin-ssi, dia merasa sendirian oppa. Kau harus mendampinginya, kau harus selalu ada di sisinya. Saat ini, dia butuh seseorang yang bisa menguatkannya setelah melalui masa sulitnya dan kurasa, dari sekian banyak orang disini, hanya kau yang saat ini dia butuhkan. Jadilah Choi Minho yang aku kenal dulu, yang tahu konsekuensi yang harus dihadapi ketika dia melakukan satu kesalahan. Yang bertanggungjawab dan selalu mampu membuat bangga orang-orang di sekitarnya."

Minho menatap Baekhyun sesaat.

"Sejak hari itu, aku seperti kehilangan tujuan hidupku Baek-ah. Aku masih berharap bahwa semua yang terjadi hanya mimpi dan ketika aku terbangun keesokan harinya, kau akan kembali tersenyum bahagia bersamaku."

"Saat ini, aku akan jauh lebih bahagia melihatmu bertanggungjawab atas apa yang sudah terjadi oppa. Jangan menjadi pengecut, karena Choi Minho yang ku kenal tak seperti itu."

Minho masih menatap Baekhyun. Yang dia rasakan saat ini jauh lebih baik dari sebelumnya. Bila biasanya setiap melihat Baekhyun, hanya perasaan bersalah dan penyesalan yang dia rasakan, kali ini ada rasa lega di hatinya. Lega karena apa dia juga tak tahu.

"Dia mencintaimu oppa. Sudah sepantasnya dia mendapatkan cinta yang sama darimu. Mungkin memang tak sekarang, tapi kalau kau mau belajar, tak ada yang tak mungkin bukan? Sekarang, temui dia, katakan apapun yang bisa membuatnya tenang."

"Aku akan menemui profesor Lee terlebih dahulu."

Baekhyun tampak sedikit terkejut, tapi kemudian dia tersenyum tulus.

"Inilah Choi Minho yang ku kenal, selalu kuat dan bisa menghadapi apapun dengan penuh tanggungjawab."

Minho menanggapi pujian Baekhyun itu dengan senyum tipis.

"Aku tak sehebat itu Baekyunie. Aku sedang berusaha menjadi manusia yang bertanggungjawab atas apa yang telah terjadi. Mungkin memang terlambat, tapi aku akan mempertanggungjawabkan semuanya."

Baekhyun kembali mengembangkan segaris senyuman.

"Ingat satu hal oppa, meski kita tak ditakdirkan bersama, kau harus tetap bahagia."

Minho tersenyum kecil sambil mengangguk pelan.

"Kau tahu Baekhyunie, beberapa waktu terakhir ini, aku sering memperhatikanmu. Kau berbeda dari biasanya."

Baekhyun memegang kedua pipinya, lalu dahinya dan juga dagunya serta hidungnya. Perasaannya mengatakan tak ada yang berubah di wajahnya, tapi kenapa Minho mengatakan dia berbeda.

"Saat sedang menelpon atau saat sedang membalas pesan yang entah dari siapa itu, senyummu sangat lebar dan bahkan kau tak segan tertawa lepas. Sepuluh tahun aku mengenalmu, kau tak pernah seperti itu, bahkan kau cenderung menarik dirimu dari lingkungan sekitar."

Baekhyun terhenyak.

"Jujur saja, aku sempat merasa iri dan juga penasaran. Siapa dia yang bisa membuatmu melakukan semua itu?"

Baekhyun kembali dikejutkan dengan pernyataan Minho. Benarkah seperti itu, dia berbeda? Dia bukan lagi Baekhyun yang Minho kenal sepuluh tahun terakhir ini?

"Kau... hubunganmu sudah semakin membaik dengan Chanyeol-ssi dan yang lain."

Baekhyun mengangguk, dia tak sanggup bersuara karena degup jantungnya yang tiba-tiba meningkat setelah mendengar Minho menyebut nama Chanyeol.

"Semoga kau bahagia dengannya Baekhyunie."

"Heh!" Baekhyun menatap Minho memastikan.

"Dia, bukankah dia yang selalu membuatmu terlihat sangat bahagia dan juga tertawa lepas?"

"O-oppa!"

"Aku sakit hati, itu pasti. Aku kecewa juga pasti iya, tapi bukan karena kau. Aku sakit hati dan kecewa karena ternyata bukan aku alasan kebahagiaanmu. Aku menyesali satu kenyataan bahwa aku tak pernah berusaha keras untuk membahagiakanmu."

"Oppa! Aku pernah merasa bahagia saat bersamamu, itu yang harus kau tahu. Kau sudah berusaha keras untuk membahagiakanku, jangan merasa menyesal karena hal itu."

Baekhyun meggenggam kedua tangan Minho demi meyakinkan pria itu bahwa selama sepuluh tahun terakhir ini, dia bahagia.

"Sama seperti yang kau katakan padaku, kau juga harus bahagia. Berjanjilah!"

"Aku akan bahagia setelah oppa berjanji kalau oppa juga akan bahagia."

"Aku akan bahagia, itu janjiku."

"Aku juga akan bahagia."

Keduanya saling tersenyum sebelum kemudian Minho berdiri dari duduknya.

"Aku harus pergi."

"Aku mendoakanmu oppa."

Minho mengangguk kecil, lalu dia melangkah pergi dari Baekhyun.

Sebelum benar-benar masuk kembali ke dalam rumah sakit, Minho sempat menoleh pada Baekhyun yang kebetulan gadis itu juga tengah menoleh padanya. Dari jauh, dia tersenyum kecil, sama halnya dengan Baekhyun.

Jika akhirnya kau tidak disatukan dengan orang yang namanya sering kau sebut dalam doamu, mungkin kau akan disatukan dengan orang yang sering menyebut namamu dalam doanya.

.

.

.

"Hyung!" pekik Jongin girang saat matanya menangkap sosok Chanyeol yang berjalan keluar dari pintu kedatangan domestik Gimpo airport.

Lambaian tangannya disambut Chanyeol dengan hal senada.

"Bagaimana kabarmu? Aku pikir kau lupa jalan pulang hyung." Jongin memeluk Chanyeol dengan begitu erat. Sangat kentara kalau dia merindukan sahabat sekaligus atasannya itu.

"Bagaimana bisa lupa kalau setiap harinya kalian menerorku dengan berbagai keluhan."

Jongin menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Dia salah tingkah, seperti pencuri yang tertangkap basah tengah mengambil barang.

Chanyeol berdecih sebal.

"Sudahlah! Ayok kita pergi dari sini. Ehm... mereka sudah menunggu kita?" tanya Chanyeol sambil melangkah meninggalkan ruang tunggu bandara Gimpo. Langkahnya di jajari Jongin.

"Eoh. Tadinya aku juga mau mengajak Baekhyun, tapi dia masih ada operasi. Pekerjaannya benar-benar tak dapat di tinggalkan kali ini."

Chanyeol tak terlalu ambil pusing penjelasan Jongin. Bukan apa-apa, sebelum kembali ke Seoul tadi, dia sempat bertukar pesan dengan Baekhyun dan memang benar Baekhyun mengatakan masih ada operasi sampai jam sembilan nanti. Jadi, sebenarnya Chanyeol tak perlu diberitahu hal itu karena dia juga sudah tahu.

Tapi... Jongin 'kan tak tahu kalau hubungan Chanyeol dan Baekhyun mulai terangkai dengan baik saat ini.

"Yang lainnya bisa 'kan?" tanya Chanyeol sambil memasang seat beltnya. Mereka sudah masuk ke dalam mobil Jongin dan bersiap meninggalkan Gimpo.

"Iya. Awalnya Suho hyung tak bisa ikut, tapi aku sedikit memaksanya."

"Kau tak harus melakukan itu Jongin-ah. Kalau dia mengatakan sibuk, ya harusnya kau menghormatinya. Dia dokter, tanggungjawabnya terhadap orang lain lebih besar daripada kita."

Jongin diam mendengar teguran Chanyeol.

"Mian hyung." Lirih Jongin.

"Sudah terjadi. Kau tak perlu meminta maaf, hanya saja lain kali kau harus lebih tahu diri saat membuat janji dengannya."

"Nde."

Mereka tak lagi terlibat pembicaraan setelah itu. Chanyeol memilih memejamkan matanya sejenak, sedangkan Jongin fokus pada jalanan yang sedikit gelap.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di salah satu restoran tradisional Korea yang terdapat di Seoul. Jongin memarkir mobilnya tak jauh dari restoran itu.

Kedatangan Chanyeol disambut dengan jabatan tangan dan juga pelukan ringan dari orang-orang yang paling dekat dengannya sepuluh tahun ini.

"Senang melihatmu lagi Chanyeol-ah." Luhan berujar dengan tulus, di usapnya lembut punggung Chanyeol yang duduk tak jauh darinya itu.

"Terimakasih untuk sambutan hangatnya." Chanyeol tersenyum sedikit lebar sambil memandang sahabatnya satu persatu.

"Kau bicara seperti orang lain saja hyung." Sahut Sehun. Chanyeol sekali lagi tersenyum.

Tak berselang lama, mereka sudah terlibat dalam obrolan santai. Saling bercanda dan juga mencela, kembali mengingat-ingat kebersamaan mereka yang sudah cukup lama. Rona bahagia tampak jelas di wajah keenam orang yang beranjak dewasa itu.

"Oh ya! Aku mendengar kabar kalau Baekhyun sudah mengakhiri hubungannya dengan Choi Minho."

Luhan yang sejatinya ingin menyuapkan sepotong daging ke mulutnya, urung melakukannya mendengar apa yang dikatakan Suho.

"Jinjayo?!" pekiknya tak percaya. Hubungannya bisa di katakan dekat dengan Baekhyun, bahkan minggu lalu mereka sempat meet up bertiga dengan Kyungsoo juga tapi Baekhyun tak mengatakan apa-apa. Dia juga tak terlihat seperti orang baru putus cinta, Baekhyun terlihat baik-baik saja.

"Aku baru mendengar kabar itu beberapa waktu lalu. Tak ada yang menjelaskan secara pasti, hanya saja setelah mendengar hal itu aku mulai memperhatikannya dan sepertinya hal itu tak salah. Seprofesional apapun kita dalam pekerjaan, bila kita bekerja dengan pasangan kita, tentu ada beberapa hal yang akan jelas terlihat, tapi mereka tak menunjukkan hal itu sama sekali. Mereka terlibat pembicaraan hanya tentang pekerjaan saja."

"Hanya karena hal itu kau mengatakan mereka putus hyung." Sahut Jongin yang berpikir apa yang dikatakan Suho bisa saja salah. Asumsi Suho yang salah sepertinya.

"Benar. Seminggu lalu kami bertemu dan dia tak menceritakan apa-apa." Sela Kyungsoo.

"Tak semua masalah pribadi kita harus kita bagi ke orang lain meski kita sudah sangat dekat dengan orang itu Kyungie-ya." Chanyeol ikut bersuara.

Luhan memasang wajah berpikir.

"Kau kenapa sayang?" tanya Sehun yang tak begitu di pedulikan Luhan.

"Kalau memang hubungan mereka sudah berakhir, berarti saat Minho-ssi menunggu Baekhyunie di depan perusahaan waktu itu, hubungan mereka sudah dalam masalah." Luhan mencoba merangkai ingatan dua bulan lalu.

"Bisa jadi." Jongin menjentikkan tangannya sambil mengangguk-angguk pelan.

"Jahat tidak kalau aku bahagia sekarang?" tanya Luhan.

"Maksudmu?" tanya Suho.

"Tuhan menjawab semua doamu Chanyeol-ah. Kali ini kau harus mendapatkannya kembali dan jangan lagi kau sia-siakan." Luhan menatap Chanyeol yang sejak tadi seperti tak terpengaruh dengan perbincangan yang sedang terjadi.

Apa yang dianggap sahabatnya sebagai berita baru, dia sudah tahu lebih dulu dan mengenai ucapan Luhan tentang jawaban Tuhan atas semua doa-doanya, jujur saja sudah jauh hari dia mengamini hal itu. Saat ini juga tengah berusaha untuk semakin dekat denga Baekhyun.

Drrrtttt... drrrrtttt... dddrrrrrrtttt

Chanyeol merogoh saku celananya, memeriksa ponselnya yang bergetar. Nama Baekhyun tertulis di layar.

"Ehm."

"Kau sudah di Seoul?"

"Eoh. Wae? Kau di jemput sekarang?"

"Ehm. Aku akan membersihkan diri dulu. Setelah itu..."

"Aku akan menjemputmu sekarang."

"Ya! Aku belum selesai bicara."

Chanyeol tertawa lebar tanpa suara. Dia sangat menyukai cara Baekhyun meneriakinya.

"Baiklah. Lanjutkan."

"Aku harus mengunjungi seseorang terlebih dahulu."

"Nugu?"

"Nanti saja ceritanya."

"Setelah ini aku akan menjemputmu."

"Nanti saja. Aku akan menelponmu lagi."

"Aku lebih suka menunggumu daripada kau yang menungguku. Selesaikan urusanmu dan aku akan menunggumu di depan."

"Tapi..."

"Sudah jangan banyak tapi, semakin cepat kau mengakhiri panggilan ini, maka semakin cepat kita bertemu."

"Arra. Sampai bertemu nanti."

"Ehm."

Baik Luhan, Sehun, Suho, Jongin dan Kyungsoo, selama Chanyeol terlibat pembicaraan di telpon tadi, menyimak dengan tatapan keheranan. Sepuluh tahun ini, Chanyeol tak pernah seperti itu pada siapapun. Saat sedang berkumpul seperti ini, Chanyeol paling malas mengangkat telponnya yang berdering. Kalau si penelpon bisa membuat Chanyeol berubah, tentu orang itu sangatlah istimewa untuk pria itu. Tapi siapa?

"Jongin-ah aku pinjam mobilmu."

"Heh!"

Chanyeol menyambar kunci mobil Jongin dan dia bersiap meninggalkan tempat itu.

"Ya hyung! Kau mau kemana dan siapa yang tadi menelponmu?" pekik Jongin.

Chanyeol yang sudah berada dua langkah dari mereka berbalik sambil tersenyum lebar.

"Baekhyunie."

Butuh waktu sekitar enam puluh detik untuk mereka berenam mencerna apa yang dikatakan Chanyeol.

"Ya Park Chanyeol!"

.

.

.

Chanyeol nyaris terlelap dalam mimpi saat Baekhyun mengetuk kaca di sebelahnya.

Chanyeol membuka matanya dan tersenyum mendapati Baekhyun berdiri di luar. Dengan isyarat kecil, dia meminta Baekhyun masuk ke dalam mobil dari pintu lain.

"Kau terlihat lelah." Ujar Baekhyun setelah masuk ke dalam mobil.

"Sekarang tidak lagi. Setelah melihatmu."

"Pembohong." Cibir Baekhyun sambil memasang seat beltnya.

"Aku hanya pernah satu kali berbohong padaku, Baekhyunie."

Baekhyun menatap Chanyeol sesaat. Ada sesuatu yang berbeda dari kalimat itu.

"Maaf."

"Kenapa kau meminta maaf?" tanya Chanyeol sambil memutar stirnya, dia bersiap melajukan mobilnya membelah jalanan kota Seoul.

"Karena menyebutmu pembohong. Ehm... kau pasti tersinggung dengan kata itu."

Chanyeol tersenyum tipis.

"Tak apa. Kau sudah siap bersenang-senang malam ini?"

"Eh! Kita kemana memangnya?"

"Kau akan tahu nanti. Ehm... berjanjilah padaku, kalau malam ini kau sangat senang, kau akan memelukku."

"Shirreo. Aku belum tahu kau mengajakku kemana, bagaimana bisa kau memintaku berjanji seperti itu."

"Baiklah. Aku akan memastikan hal itu. Tunggu sampai kita sampai ke tujuan kita." Chanyeol tersenyum kecil sambil menambah kecepatan mobilnya.

Sekitar dua puluh menit kemudian, mereka sudah sampai di sebuah plataran parkir. Chanyeol memarkirkan mobilnya disana, kemudian dia turun. Baekhyun mengikuti Chanyeol dengan raut wajah kebingungan.

"Kau mengajakku kemana sebenarnya Park Chanyeol? Jangan katakan kita ke tempat ski."

"Aku tak mengatakannya. Ayo!" Chanyeol mengulurkan tangannya, meraih tangan Baekhyun dan kemudian menghela gadis itu mengikutinya.

Baekhyun masih terlihat kebingungan, pun demikian dia tak lagi banyak bertanya. Dia percaya Chanyeol tak akan mencelakainya.

"Dua!" Chanyeol memesan dua buah tiket pada petugas loket di tempat itu.

"Chanyeol-ah!" bisik Baekhyun, dia masih cukup penasaran dengan akan dibawa kemana dirinya oleh pria itu.

"Sssttt!" Chanyeol memberi isyarat Baekhyun untuk diam.

Setelah mendapatkan tiketnya, Chanyeol mengajak Baekhyun berdiri mengantri tak jauh dari tempat dia membeli tiket tadi. Selama menunggu, Baekhyun mengedarkan pandangannya ke segala penjuru tempat itu. Pada sebuah gambar yang tertempel di salah satu dinding tempat itu, Baekhyun menyadari akan kemana mereka malam ini.

"Ayo masuk Baekhyunie!" ajak Chanyeol. Baekhyun sedikit tersentak, lalu mengikuti langkah pria tinggi itu masuk ke dalam sebuah benda persegi yang sering di sebut sebagai kereta gantung.

"Chanyeol-ah! Kita ke Namsan?"

Chanyeol menatap Baekhyun, lalu tersenyum kecil sambil mengangguk.

Baekhyun menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

"Sungai Han dan Namsan, dua tempat yang paling ingin kau kunjungi di Seoul."

"Kau mengingat hal itu?"

"Apapun tentangmu, aku menyimpan dan mengingatnya disini dan disini." Chanyeol menunjuk pelipisnya lalu pindah ke dadanya.

Baekhyun dibuat terharu oleh pernyataan Chanyeol. Bahkan dia tak ingat kalau dia pernah mengatakan pada pria itu mengenai keinginannya untuk mengunjungi tower yang menjadi simbol kota Seoul itu.

"Aku tak ingin melihatmu menangis, aku membawamu kesini untuk melihatmu tersenyum bahagia."

Baekhyun tersenyum lebar, lalu berbalik, menatap Namsan yang semakin dekat di matanya.

Setelah kereta gantung itu berhenti, Chanyeol dan Baekhyun melanjutkan perjalanan mereka menuju Namsan tower dengan berjalan kaki, menapaki anak tangga sambil saling mengeratkan genggaman.

Baekhyun tak banyak bicara, tapi dari senyum yang tak lepas dari bibirnya, siapapun pasti bisa menyimpulkan kalau dia saat ini sangat bahagia.

"Aku benar-benar tak percaya, akhirnya aku bisa mengunjungi tempat ini." ujar Baekhyun dengan senyumnya yang semakin lebar. "Mungkin orang tak akan percaya kalau aku mengatakan inilah pertama kalinya aku mengunjungi tempat ini, setelah usiaku menginjak dua puluh sembilan tahun. Berlebihan tidak menurutmu Chanyeol-ah, kalau aku mengatakan aku bahagia." Baekhyun melepas genggaman tangan Chanyeol, lalu dia berlari dengan begitu riang.

Chanyeol berhenti sejenak, dia ikut bahagia melihat kebahagiaan Baekhyun.

"Chanyeol-ah ayo! Kita tak miliki banyak waktu untuk berkeliling disini. Ayo! Aku ingin melihat tempat gembok cinta." Baekhyun kembali menghampiri Chanyeol, lalu menarik tangan Chanyeol agar mengikuti langkahnya yang sedikit berlari.

Tak memerlukan waktu lama, saat ini mereka sudah tiba di tempat yang diinginkan Baekhyun.

Baekhyun terlihat begitu takjub dengan deretan gembok yang terkunci di sepanjang pagar serta berapa tempat lain yang sepertinya memang sengaja disediakan untuk hal itu.

"Ini luar biasa Chanyeol-ah. Bagian ini sudah mirip pohon natal." Baekhyun menunjuk replika pohon yang terbuat dari besi tentunya, yang sudah di penuhi dengan gembok. Dan memang, jika di perhatikan dengan seksama benda itu sudah mirip pohon natal.

"Kau ingin memasang gembok disini?" tanya Chanyeol.

Baekhyun menggeleng pelan. Dengan cahaya yang tak begitu terang, dia memperhatikan gembok-gembok yang terpasang disana.

"Kalau kau menawariku melakukannya sepuluh tahun lalu, mungkin dengan senang hati aku akan melakukannya. Kalau sekarang tidak, karena perasaan cinta dan bagaimana perasaan itu akan bertahan lama, semua tergantung dari bagaimana cara kita menjaga perasaan itu, salah satunya dengan kepercayaan. Bukan dengan gembok ini."

Chanyeol mendekati Baekhyun.

"Aku pernah memasang gembok disini." Ujar Chanyeol yang berhasil mengalihkan perhatian Baekhyun dari acaranya membaca satu persatu nama yang tertera di permukaan gembok itu.

"Jinjja? Untuk apa? Jangan katakan kau mempercayai mitos itu?" Baekhyun tertawa tanpa suara.

"Sepuluh tahun yang lalu aku melakukannya, aku mempercayai mitos itu. Saat aku memasang gembok itu, dalam hati aku berdoa, semoga suatu saat nanti aku kembali dipertemukan denganmu. Dan jika hal itu terjadi, aku ingin meminta maaf dan memintamu kembali padaku."

Baekhyun terhenyak dengan pandangan yang tak dilepaskan dari sosok Chanyeol yang berdiri di sampingnya.

"Tapi seiring berjalannya waktu, aku menyadari banyak hal. Aku yang telah begitu dalam menyakiti, masih pantaskan di maafkan? Apakah aku masih pantas memintamu kembali menjadi kekasihku? Pada akhirnya, aku hanya bisa berdoa pada Tuhan, kalau pun aku tak bisa membuatmu bahagia, setidaknya aku ingin memastikan bahwa pendampingmu kelak akan selalu membahagiakanmu."

Baekhyun meraih tangan Chanyeol dan menggenggamnya erat.

"Aku selalu berpikir akulah yang paling terluka dari kejadian itu, tapi ternyata semua mengalami hal yang sama, terluka dan terpuruk. Keadaanku parah tapi kau sepertinya jauh lebih parah."

"Aku sempat berpikir untuk mengakhiri hidupku."

Baekhyun menatap Chanyeol tak percaya.

"Malam itu, aku sudah menyiapkan semuanya. Pisau yang sudah ku asah, surat juga sudah ku tulis. Aku nyaris menyayat pergelangan tanganku tapi tiba-tiba aku mendengar sebuah bisikan yang mirip dengan suaramu." Chanyeol membalas tatapan Baekhyun.

"Apa yang dibisikannya hingga kau urung melakukan perbuatan gila itu?"

"Neomu saranghae Chanyeol-ah."

Baekhyun tersenyum kecil, lalu menyenggol pelan lengan Chanyeol.

"Bisikan itu berasal dari dasar hatimu, dimana disana masih tersimpan harapanmu untuk bertemu denganku. Lagi."

"Kau mungkin benar. Kalau malam itu aku tak mendengar bisikan itu, sekarang mungkin kita tak akan berada disini." Chanyeol tersenyum kecil.

Mereka melanjutkan wisata malam itu ke sebuah restoran yang juga terdapat di tower itu. Chanyeol sudah reservasi sebelumnya.

"Aku tak tahu kalau ada restoran disini." Bisik Baekhyun saat mereka sudah duduk di tempat yang di pesan Chanyeol. Dari tempat itu, Baekhyun bisa menikmati suasana malam di Kota Seoul.

"Seandainya tempat ini juga ada apartemennya, aku akan membelinya. Lihatlah! Dari sini Seoul begitu indah."

"Nanti kalau aku jadi presiden Korea, aku akan membangun satu buah kamar disini, khusus untukmu."

Baekhyun tertawa lebar.

"Kau akan di audit kejaksaan kalau melakukan hal itu."

"Tak masalah asal kau bahagia."

"Ya!"

Tawa lebar mendera keduanya.

"Tunggu! Chanyeol-ah, kau merasakan tempat ini berputar?" tanya Baekhyun kebingungan.

"Tempat ini memang bisa berputar tiga ratus enam puluh derajat."

"Jinjjayo?"

"Ehm. Kalau kau tak percaya, lihatlah disana, pemandangannya sudah berbeda dari yang tadi. Sungai Han terlihat dari sisi ini."

"Wooooaaaahhhh! Daebak!" seru Baekhyun takjub.

Chanyeol diam memperhatikan Baekhyun. Ada banyak hal yang dia lewatkan, yang selama ini dia sesali tentang Baekhyun. Betapa seharusnya sudah sejak dulu dia membahagiakan perempuan itu, dengan limpahan cintanya.

"Kau senang."

"Ehm." Baekhyun mengangguk kuat. "Lain kali aku ingin kesini lagi."

"Kau ingin ke tempat ini besok pun, aku akan mengantarmu Baekhyunie."

"Besok? Tidak. Kau akan kembali disibukkan dengan pekerjaanmu, sama halnya denganku. Jadi mungkin akan lama kita kembali kesini."

Chanyeol hanya mengangguk, pertanda dia cukup memahami maksud Baekhyun.

Mereka menyelesaikan makan malam itu ketika hampir tengah malam. Keduanya memutuskan pulang setelah itu.

Dan saat ini, mereka berdua tengah berjalan menuju rumah Baekhyun.

Ini keinginan Baekhyun, dia meminta Chanyeol memarkir mobilnya di tempat yang cukup jauh dari rumahnya, dia hanya ingin berjalan berdua dengan Chanyeol sambil berbagi cerita.

"Aku malu memberimu oleh-oleh seperti itu. Sepertinya diusia kita, tak pantas bermain boneka."

"Aku suka ini. Lucu." Baekhyun meremas gemas boneka kecil yang diberikan Chanyeol padanya. Melihat hal itu, Chanyeol merasakan hatinya menghangat.

"Aku senang kalau kau menyukainya."

"Ehm." Baekhyun masih meremat-remat boneka itu. "Ini lembut." Lanjutnya.

"Tadi ada yang ingin kau ceritakan? Apa?" tanya Chanyeol kemudian.

Baekhyun menghentikan langkahnya, lalu menatap Chanyeol sesaat.

"Taemin-ssi... saat aku masuk ke ruangan kami, aku menemukan dia pingsan dengan darah merembes dari sela kakinya." Baekhyun menarik nafasnya pelan. "Dia hamil Chanyeol-ah, tapi dia menggugurkannya." Lanjut Baekhyun, ada nada penyesalan pada kalimat itu.

"Hamil? Dari hubungan yang di lakukan dengan Minho-ssi?"

"Aku rasa begitu. Aku baru tahu kalau hubungan mereka tak membaik meski aku sudah memutuskan hubunganku dengan Minho oppa. Mereka tak pernah bicara kecuali masalah pekerjaan."

"Kau juga seperti itu pada Minho-ssi?"

"Heh!"

"Suho yang mengatakannya tadi, kau dan dia hanya bicara kalau untuk urusan pekerjaan."

"Aku melakukannya untuk menjaga perasaan orang yang sudah disakitinya."

"Dan bisa jadi Taemin-ssi juga melakukan hal yang sama untuk menjaga perasaanmu."

Baekhyun menatap Chanyeol. Lalu mengangguk kecil.

"Mungkin kau benar. Ehm... tadi sebelum menemuimu aku sempat ke ruang perawatannya, tak banyak yang kami bicarakan, aku hanya menggenggam tangannya dan mencoba menguatkannya. Aku juga sudah meminta pada Minho oppa untuk bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya."

"Dia melakukannya?"

"Ehm. Aku tak tahu apa yang dia bicarakan dengan profesor Lee. Yang jelas, dia cukup lama berada di ruangan ayah Taemin-ssi itu."

"Apa harapanmu untuk mereka?"

"Mereka bahagia."

"Dan kau?"

"Aku juga akan bahagia."

Chanyeol menatap Baekhyun yang tengah tersenyum lebar.

"Ehm... Chanyeol-ah!"

"Eoh."

"Terimakasih untuk malam ini. Meski kunjungan kita ke Namsan adalah kunjungan yang singkat, aku sangat senang. Satu hal dari sekian banyak yang kuharapkan, malam ini terwujud."

"Aku ikut senang kalau kau senang."

"Setelah ini, kau ingin mengajakku kemana lagi?" tanya Baekhyun dengan mata bersinar bahagia.

"Ke altar pernikahan kalau kau tak keberatan."

Baekhyun mematung di tempatnya, bahkan Chanyeol tak menyadari kalau Baekhyun sudah menghentikan langkahnya.

Dia baru menyadari ketika langkahnya sudah mencapai hitungan kelima. Chanyeol mengerutkan dahinya saat mendapati Baekhyun berdiri mematung di belakangnya.

"Baekhyunie!" panggil Chanyeol.

Perlahan Baekhyun menoleh, menatap Chanyeol yang terlihat gagah di depannya. Pria itu menyimpan tangannya di kedua saku celananya. Pria itu tengah menatapnya dengan lembut dan penuh cinta. Pria itu yang selama dua bulan terakhir ini mengisi harinya, yang membuatnya merasakan apa itu nyaman dan juga yang membuatnya tersenyum dengan lebar.

Chanyeol selalu seperti itu, bahkan sejak mereka mulai berkencan sepuluh tahun yang lalu. Kepribadian Baekhyun yang sedikit tertutup bila dihadapan orang lain, namun berbeda bila di hadapan Chanyeol, Baekhyun akan dengan mudah menceritakan apapun pada pria itu. Chanyeol... satu-satunya pria yang bisa membuat jantungnya berdebar hebat.

Baekhyun melangkah mendekati Chanyeol.

"Aku masih cukup kaget dengan apa yang kau katakan tadi." Ujar Baekhyun, dia mencoba terlihat tenang, padahal hatinya tengah bergejolak hebat.

Kenapa Chanyeol terlihat begitu tampan dan sangat menarik malam ini? Keluh Baekhyun dalam hati.

"Kau tak harus mengiyakannya kalau memang kau masih ragu. Aku hanya mengatakan harapanku. Seperti yang kukatakan padamu, sampai kau benar-benar yakin bahwa aku tak akan lagi menyakitimu, aku akan selalu menunggumu."

"Chanyeol-ah!"

"Kita sudah sampai. Kau masuk sekarang, cuci kakimu dan tidur. Semoga mimpi indah." Chanyeol tersenyum lebar, namun hal itu justru membuat Baekhyun ingin menangis.

"Gomawo." Hanya kata itu yang keluar dari bibir Baekhyun.

"Ehm. Masuklah! Aku akan melihatmu dari sini."

Baekhyun mengangguk, kemudian berbalik dan melangkah menuju rumahnya.

Chanyeol menarik nafasnya perlahan, matanya masih mengikuti Baekhyun yang semakin menjauh darinya. Dan ketika tubuh Baekhyun hilang di telan pintu apartemennya, Chanyeol berbalik dan melangkah pergi dari tempat ini.

Malam ini, perjuangannya berakhir disini.

"Chanyeol-ah!"

Chanyeol kembali berbalik, menatap Baekhyun yang berdiri beberapa langkah darinya.

"Wae?"

Tak menjawab pertanyaannya, Baekhyun terlihat berlari mendekatinya lalu tanpa dia sangka sebelumnya, Baekhyun menubrukkan tubuh kecilnya. Perempuan mungil itu memeluknya dengan begitu erat.

Beberapa detika mereka tetap berada di posisi itu. Chanyeol masih terlihat kebingungan.

"Malam ini aku sangat bahagia, dengan semua yang kau lakukan padaku, semua yang kita lewati bersama malam ini, membuatku sangat bahagia. Neomu ghamsahamnida Chanyeol-ah."

Baekhyun melonggarkan pelukannya, kepalanya mendongak menatap Chanyeol yang menunduk menatapnya. Keduanya mengembangkan senyum lebar.

"Ini hadiah untukku?"

"Ehm. Kau memintaku berjanji untuk memelukmu kalau malam ini aku bahagia. Aku melakukannya, aku memelukmu sesuai janjiku karena malam ini aku benar-benar bahagia."

Chanyeol mengeluarkan tangannya dari sakunya, lalu dirapikannya rambut Baekhyun yang menutupi dahinya. Setelah itu, dia menarik tubuh Baekhyun dan memeluknya dengan begitu erat.

"Aku juga bahagia."

.

.

.

TBC

Note : Terimakasih untuk cinta dan perhatian kalian terhadap cerita ini.

Yang mengharapkan ada adegan kissing di part akhir angkat tangannya?

Maaf kalau membuat harapan itu tak terwujud, ciuman mereka disimpan dulu ya...

Ehehhehehe

Ini sudah sangat panjang dan rekor, karena ngetik sudah lebih dari 5000 kata, lebih panjang dari chap2 sebelumnya jadi kuharap kalian senang dan puas.

Big Love For You Guys 3

.

.

.

^_^ Lord Joongie ^_^