Chapter 9: ORCHIDETA

Setelah dari pemakaman Wonshik, Jongin meminta pada Sehun untuk mengantarkannya pulang. Bukan pulang ke rumah Sehun lagi, namun pulang ke rumahnya yang berada di sekitar distrik Yongsan.

Sehun mendapati Jongin hanya diam sedari tadi. Ia lebih menikmati jalanan Seoul dari pada berceloteh seperti biasanya. Sehun tahu anak ini masih merasa sedih atas kematian Wonshik. Ditambah, pembunuh Wonshik adalah kakak tirinya sendiri. Sehun tahu Jongin tengah memendam pergolakan batin yang kuat.

Fakta itu semakin menghantam Jongin ketika polisi mengatakan jika orang tua dan adik Wonshik sudah mati dari jauh hari sebelum kematian Wonshik. Menurut laporan penyelidikan, kematian mereka tidak wajar. Yaitu dibunuh. Dan Jongin menyimpulkan jika pembunuh itu juga adalah Tao.

Mengapa Tao bisa sekejam ini?! Apakah dia sudah tidak memiliki hati?

Tuduhan bahwa Jongin membunuh Wonshik telah dicabut karena faktanya Wonshik telah mati sebelum anak panah Jongin menancap di dada Wonshik. Dan tidak ada bukti sama sekali. Bahkan devisi autopsi dibuat terkejut karena mayat Wonshik seperti sedang dimurnikan dan pembusukan terhenti. Mereka tidak pernah melihat yang seperti ini. Dimana mayat yang sudah membangkai selama 3 hari berhenti mengeluarkan aroma busuk dan tak ada lalat atau belatung yang kembali mendekati. Jasad Wonshik seperti disucikan.

Jongin memejamkan matanya sejenak. Kedua tangannya mengepal diatas pangkuan. Dan Sehun melihatnya namun ia enggan berbicara sepatah kata. Ia tidak pandai menenangkan orang yang sedang gelisah dan marah. Karena dia sendiri mewarisi sifat kemarahan lebih besar sebagaimana seorang demon yang memiliki sifat dasar seperti amarah dan egois.

Namun jika dipikir lagi, sepertinya tidak hanya demon yang memiliki sifat buruk itu. Tapi semua makhluk memilikinya. Arshi yang seorang angel pun disebut-sebut sebagai angel miko yang bermandikan darah. Karena Arshi sering membunuh siluman yang berniat merebut Orchideta, tidak pandang bulu. Arshi bahkan menghilangkan belas kasihnya jika sudah berhadapan dengan siluman. Arshi tak pernah segan-segan menancapkan anak panahnya pada siluman-siluman jahat itu. Walau angel miko itu suci, namun tetap saja Arshi memiliki hati yang gelap jika sudah berurusan dengan siluman yang akan merebut Orchideta.

Jadi menurut Sehun, semua makhluk memiliki kegelapan dalam hati yang terdalam. Sesuci apapun makhluk itu, rasa yang mendasar itu tetaplah ada. Tidak ada saint demon ataupun saint angel yang tidak memilikinya dan dewa pun juga dapat memiliki rasa yang kelam itu. Yang dipicu oleh perasaan yang kuat. Seperti rasa kehilangan.

Sehun hanya dapat menggenggam sebelah tangan Jongin yang masih mengepal. Membuat Jongin yang semula memejamkan matanya beralih menatap Sehun yang tetap fokus menyetir. Ia lalu menurunkan pandangannya pada genggaman tangan Sehun. Ia lantas mengendorkan kepalannya dan balas menggenggam tangan Sehun dengan lebih erat. Rasanya ia lebih tenang sekarang.

Tapi, hal yang terus merasuki pikirannya tidak dapat dienyahkan sedari kemarin.

"Apakah kau akan terus menggenggam tanganku seperti ini?" Jongin merasa konyol menanyakannya pada Sehun, namun ia hanya ingin merasa tenang dan berhenti khawatir.

"Kau meragukanku?" Sehun balik bertanya.

Lalu Jongin terdiam seraya mengelus-elus punggung tangan Sehun. "Tanganmu besar ya," Jongin tersenyum kecil sebelum membawa tangan Sehun ke dadanya dan menempelkannya disana. Ia kembali menatap keluar jendela.

Sehun sempat menoleh dan mendapati Jongin sedang menampilkan kegundahan. Sehun lalu memilih menepikan mobilnya dan membawa wajah Jongin untuk menghadapnya.

Jongin menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Sehun mengelus cuping telinga Jongin lembut agar anak itu tenang.

"Besok adalah hari ulang tahunku. Sello bilang, para siluman akan datang untuk meminum darahku." Jadi ini yang mengganggu pikiran Jongin? "Aku tahu ini ada hubungannya dengan Osiris Arshi. Jujur saja, aku sudah merasakan gelenyar dalam darahku sekarang. Rasanya... panas. Seperti ada yang tengah mencoba bercampur dengan darahku,"

"Dengar, aku akan menjagamu dan melindungimu," Lalu Sehun mengecup dahi Jongin dengan lembut dan menenangkan.

"Besok, Orchideta juga akan keluar dari tempat persembunyian," Batin Sehun.

"Sehun, kita pulang saja ke rumahmu," Kata Jongin kemudian. "Aku tidak bisa melibatkan orang lain selain kita. Yang kumaksud adalah kakekku,"

"Baiklah..." Sehun lalu memutar haluan.

.

.

.

Saat turun dari mobil Sehun, Jongin dibuat bingung. Pasalnya, Sehun membawanya ketempat yang asing. Sebuah mansion diatas bukit dengan simbol burung phoenix yang gagah ditengah kolam ikan. Mansion cukup besar dengan gerbang berwarna emas yang tadi mereka lewati. Mansion bergaya klasik yang mirip dengan markas karena Jongin dapat melihat halaman belakang yang dipenuhi target. Sepertinya ini adalah tempat latihan menembak.

Tempat ini nampak rapi dan bersih walau sepertinya sudah lama tidak ditinggali. Banyak sekali ornamen berbentuk burung phoenix saat Sehun mengajaknya masuk ke dalam. Beberapa foto jendral kemiliteran terpajang di beberapa dindingnya. Juga ada banyak foto orang-orang berbaju hitam. Mata Jongin tertarik dengan sebuah foto besar yang menampilkan jajaran orang berpakaian serba hitam dengan Sehun yang berada ditengah seperti pemimpin. Disudut foto tertera tahun 1945.

"Tempat apa ini sebenarnya?" Tanya Jongin.

"Ini mansion sekaligus markas organisasi mafia yang dulu pernah aku pimpin," Jawab Sehun santai seraya menarik Jongin untuk naik ke lantai dua.

"A-Apa?! Kau pernah menjadi mafia?! Yang benar saja!" Jongin tercengang, sementara Sehun tertawa. "Ternyata kau penuh kejutan!"

"Tempat ini jauh dari pemukiman umum. Kurasa disini lebih aman untukmu,"

"Jadi, foto-foto itu adalah para anggotamu?"

"Hm... mereka sudah mati. Hanya tersisa beberapa dan mereka sudah sangat tua,"

"Sementara kau masih begini saja," Cibir Jongin.

"Ya, masih tampan dan bergaya," Sehun tertawa lagi.

"Aku baru tahu kalau kau memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Kukira kau hanya bisa datar,"

Sehun hanya terkekeh mendengar Jongin menggerutu. "Kau mandilah. Baju ganti ada di dalam lemari itu. Setelah itu kita akan berlatih memanah dan menembak. Atau kita bisa bertanding agar aku tahu seberapa bagus kemampuan bertarungmu,"

"Ya ampun, kau seperti kakekku yang suka menyuruhku berlatih,"

"Aku bertaruh kalau kau sering kabur!"

"Tch!"

Mereka hanya tidak tahu jika di dalam hutan ada seekor siluman bertubuh lipan raksasa namun berkepala manusia sedang mengamati mansion phoenix karena mencium bau manis yang amat memabukkan. Ia baru saja turun dari langit begitu bau darah yang menguarkan aroma anggrek bulan bercampur coklat dan madu merasuki indra penciumannya. Bau yang berasal dari seorang bocah di dalam mansion itu. Ia juga dapat merasakan aura kristal Orchideta walau samar.

"Setelah sekian lama, akhirnya muncul kembali. Orchideta harus menjadi milikku!"

.

.

.

Minseok termenung dibangku halaman belakang rumahnya yang penuh tanaman berbunga hasil perawatan ibunya. Ia nampak menimang-nimang sebuah anak panah yang dengan samar menguarkan cahaya. Mungkin sebentar lagi cahaya itu akan hilang. Ia terdiam dan berpikir. Ketika melihat Jongin melesatkan anak panah ini tanpa busur, ia merasa takjup. Ia berpikir bahwa anak itu luar biasa. Kekuatan anak itu mampu mensucikan sesuatu seperti jasad. Dan Minseok dapat melihat jika Jongin dipenuhi energi kehidupan yang hebat.

Siapa Jongin itu? Setelah insiden Minseok pingsan di rumah sakit saat menjemput Jongin, ia selalu terbayang sosok Jongin bersama seekor siluman serigala yang memiliki sembilan ekor. Sebenarnya, ingatan apa yang hilang sebelum dia pingsan? Ia merasa telah mengalami hal luar biasa tapi ia tak dapat mengingatnya.

"Hei," Seseorang menyapa sambil menepuk sebelah bahu Minseok, membuat anak berkacamata bak Harry Potter itu melonjak kaget.

"Eh, ayah? Kapan ayah datang?" Sapa Minseok seraya mempersilahkan lelaki yang ternyata ayahnya itu duduk di sebelahnya.

"Baru saja. Nenek bilang rindu padamu. Sudah beberapa bulan kau tidak mengunjunginya," Lelaki yang seperti berusia 40 tahunan itu berbicara dengan wibawanya.

"Ish, jika aku ke rumah nenek, Inbrestise hyung selalu menjahiliku," Minseok menggerutu dengan bibir mengerucut yang membuat sang ayah terkekeh geli. "Aku ingin menghajar hyung jika ketemu nanti. Terakhir kali, dia memerangkapku di dalam bongkahan es. Menyebalkan!"

Lelaki dewasa itu lantas tertawa kencang. Membayangkan putra bungsunya dibekukan di dalam es karena kejahilan putra sulungnya.

"Ayah, kenapa tertawanya begitu~" Minseok merajuk sambil memukul-mukul tubuh kekar ayahnya karena merasa tersinggung oleh tawa sang ayah yang terdengar mengejek.

"Maaf... maaf..." Sang ayah menahan tawanya, "Tapi, kenapa kau memegang anak panah?" Tapi dia juga penasan dengan panah yang sedari tadi anaknya pegang.

"Terjadi pembunuhan di sekolahku,"

"Benar, ibumu juga sudah bercerita,"

Minseok mengangguk, "Jasadnya baru ditemukan kemarin. Anak panah ini menancap sesaat sebelum jasad ditemukan. Ayah tahu? Panah ini bercahaya, meluncur seperti bintang jatuh. Anak panah ini mampu memurnikan jasad itu. Dan yang membuat aku terkejut, orang yang melesatkan anak panah ini tidak pakai busur namun jangkauannya bisa mencapai 30 meter. Tidakkah ini aneh? Yang aku tahu, ini adalah kekuatan miko. Tapi aku ragu temanku adalah miko. Karena dia juga dijuluki anak siluman."

"Huh? Anak siluman yang seperti miko?"

"Entah. Aku juga tidak mengerti,"

"Coba ayah lihat panahnya," Kata sang ayah. Lalu Minseok memberikan anak panah Jongin pada sang ayah.

Begitu anak panah itu sampai dalam genggamannya, tubuhnya menegang secara mendadak. Karena ia merasakan energi yang familiar pada anak panah yang sebentar lagi cahayanya hilang. Seketika ingatan tentang seseorang yang ia kenal beberapa ratus tahun lalu menyerang pikirannya.

"Nintrana, kau akan menikah dengan Osiris Arshi. Seorang saint angel dari Edelwais," Seorang dewi cantik berbalut selendang peach berkata pada anaknya.

"A-Apa? Kenapa mendadak sekali? Dan kenapa aku, Bu?" Nintrana berujar gugup.

"Ini adalah kemauan Zeus dan Poseidon. Lalu Reizen dan Arshi sendiri juga sudah menyetujuinya. Demi kebaikan Edelwais. Kenapa kau terkejut? Bukankah kau dan angel itu sudah saling kenal? Dan beberapa waktu lalu kau mengatakan pada ibu bahwa kau menyukainya."

"T-Tapi, dia mencintai orang lain,"

"Benar, cinta itulah yang terlarang. Makanya mereka berniat menikahkan Arshi denganmu. Bukankah ini adalah keberuntunganmu? Jadi bersiaplah, karena semua sudah diputuskan. Besok angel miko itu akan datang bersama Reizen,"

Nintrana tidak tahu bagaimana harus menyikapi. Jujur saja ia merasa senang. Ia mengenal Arshi saat dirinya sedang diserang seekor siluman laba-laba. Sebuah anak panah tiba-tiba meluncur seperti bintang jatuh dan membelah siluman itu hingga mati. Sebuah kekuatan yang luar biasa. Dan Nintrana tahu jika yang melakukannya adalah seorang angel miko yang sudah dikenal sebagai penjaga kristal orchideta. Mungkin memang pertemuan mereka kebetulan, tapi itu adalah awal dari kedekatan mereka.

Nintrana senang begitu ibunya, Dewi Khionie berkata bahwa dia akan menikah dengan angel miko yang ia sukai itu. Namun ia juga merasa tidak seharusnya begini. Karena ia tahu Arshi mencintai orang lain. Dengan kata lain, Arshi setuju menikahinya karena terpaksa. Demi kebaikan Edelwais dan semua makhluk yang menghuni langit.

"Apakah kau tidak masalah dengan ini?" Tanya Nintrana pada Arshi yang tengah bermain dengan kupu-kupu dan ilalang. Desau angin berdesau sejuk. Menggoyangkan anak rambut Arshi yang tidak ikut diikat kepang. Sejenak Nintrana terpesona. Angel miko di depannya ini nampak indah dan lembut. Juga terasa begitu suci. Mampu menenangkan jiwa yang sedang tersesat hanya dengan menatap wajah teduhnya. Namun Nintrana tahu bahwa angel miko di depannya ini tidak sesuci itu. Karena pada kenyataannya, Arshi telah bermandikan banyak sekali darah siluman.

"Walau hatiku menolak, tapi aku harus tetap melakukannya. Setidaknya, orang yang akan menikah denganku adalah kau yang telah aku kenal. Aku tidak bisa membayangkan jika itu orang lain. Sejujurnya aku lega disaat yang bersamaan,"

"Apakah Mocvant tahu tentang ini?"

Arshi terdiam sejenak, sebelum atensinya jatuh pada setangkai bunga layu diantara ilalang. Arshi menghampirinya dan menyentuhnya. Perlahan bunga itu berdiri tegak dan kembali hidup bersamaan dengan kristal Orchideta yang bercahaya di punggung tangan bersimbol segita miliknya. Sementara putra dari Dewi Khionie itu menunggu dengan sabar.

"Jangan sampai dia tahu," Kata Arshi seraya berbalik menghadap Nintrana. Namun dia menemukan Mocvant baru saja muncul dengan teleportasi beberapa meter dibelakang Nintrana dengan raut tanda tanya.

"Sepertinya aku harus pergi sekarang," Kata Nintrana sambil mengedikkan bahu ringan. Karena ia tahu Mocvant datang, jadi ia berpikir lebih baik pergi sebelum demon muda itu curiga padanya.

Arshi mengangguk sambil tesenyum kecil. Lalu Nintrana berjalan menjauh. Meninggalkan dua makhluk berbeda warna itu untuk menikmati sisa kebersamaan mereka. Nintrana sempat menoleh kebelakang ditengah langkahnya. Dan ia merasa menyesal telah melihat apa yang terjadi selanjutnya.

Dimana Arshi nampak menyelipkan rambut panjang yang bebas dari kunciran kepang disela-sela telinganya. Nintrana merasa iri pada Mocvant karena dapat melihat Arshi berlaku manis secara natural setiap saat. Dan Arshi selalu begitu setiap bersama Mocvant. Nintrana kembali fokus pada langkahnya sebelum akhirnya ia terbang tanpa sayap karena apa yang terjadi diantara dua saint itu tak ingin dia lihat. Ia tidak ingin hatinya sakit melihat Arshi dengan pasrah dipeluk dan dicium oleh Mocvant.

Tapi, ia tidak pernah menduga bahwa Arshi akan mati dihari berikutnya.

"Ayah? Oi~ kenapa ayah melamun, eoh?"

Nintrana mendadak tersadar dari masa lalunya dan ia menatap Minseok dengan tatapan yang entah apa artinya. "Ayah pernah mengenal seseorang yang juga memiliki panah dengan kekuatan seperti ini. Bahkan ayah merasakan energi yang sama di panah ini. Siapa yang telah menggunakan panah ini, Gheata?" Jelas Nintrana dengan diakhiri pertanyaan.

"Apa maksud ayah?" Minseok yang ternyata adalah cucu dari Dewi Khionie itu nampak tidak mengerti maksud ayahnya.

"Apakah kau ingat ayah pernah bercerita tentang seorang saint angel yang seharusnya menikah dengan ayah tapi justru angel itu mati?"

"Maksud ayah adalah angel miko dari Edelwais? Iya aku ingat. Tapi apa hubungannya dengan panah ini?"

"Aku tidak tahu bagaimana ini terjadi, tapi kekuatan angel miko itu terasa mengalir dalam panah ini,"

"Ayah jangan bercanda dong. Pemilik panah ini adalah temanku yang usianya terpaut satu tahun dibawahku. Sedangkan angel miko itu sudah mati 350 tahun yang lalu,"

"Ghe, reinkarnasi itu ada..." Ucap lelaki dewasa yang merupakan putra dari Dewi Khionie itu dengan suara pelan. Lalu Minseok menjadi bingung. Jadi dia mengambil ponselnya demi menunjukkan sesuatu pada sang ayah.

"Ini, aku pernah mengambil foto bersamanya," Minseok menunjukkan sebuah foto yang menampilkan foto dirinya bersama Jongin dengan pose peace sign, lalu Lu Han berada di belakang mereka ikut berfoto. Seketika mata Nintrana membulat.

"Ghe, ayah yakin temanmu ini adalah reinkarnasi angel miko itu. Wajah mereka sangat mirip. Dan kurasa laki-laki dibelakang kalian ini sudah mengetahui tentang temanmu ini,"

"Kenapa ayah berpikir jika Lu Han mengetahuinya?"

"Karena orang ini adalah kakak dari saint demon yang angel miko itu cintai,"

"A-Apa?! Jadi Lu Han adalah saint demon?!"

Nintrana mengangguk, "Nama aslinya adalah Mocmoti Silvestre. Kau pasti tidak ingat tentang dia karena kau masih kecil waktu itu. Mocmoti pernah menggendongmu saat kau masih kecil dan dia juga pernah meminta ayah untuk menjodohkanmu dengannya jika kau sudah besar,"

"UHUK... UHUK!"

"Yak, Kim Siwon apa yang telah kau lakukan pada putraku! Mengapa dia sampai batuk-batuk begitu?" Seorang wanita berusia 40 tahunan datang dengan panik, menginterupsi sepasang ayah dan anak itu.

"Ayah mengagetkanku dengan perkataannya, Bu," Adu Minseok.

"Hei, aku hanya bercerita padanya, Kwon Yuri sayang," Nintrana dengan nama manusia Kim Siwon itu mengelak.

"Kau pasti membicarakan demon gila yang meminta dijodohkan dengan bayiku," Lalu wanita yang menyandang sebagai ibu kandung Minseok itu memeluk anaknya posesif. "Benar-benar pedofilia sejati!"

"Ibu, aku sudah 17 tahun sekarang ini, hampir 18," Interupsi Minseok.

"Aniya, bagi ibu kau tetap bayi imutku,"

"Terserah deh," Minseok akhirnya pasrah saja.

Sementara Nintrana hanya tertawa kecil melihat keluarga kecilnya. Yah dalam hati ia bersyukur karena telah bertemu manusia seperti istrinya. Dia bisa melupakan Arshi karena Yuri. Dia bahagia dengan keluarga kecilnya. Walau Minseok hanya setengah dewa karena darah Yuri yang hanya manusia biasa mengalir serta dalam tubuh Minseok, namun ia sangat menyayanginya. Ibunya juga tidak menolak Minseok. Justru ibunya juga sangat sayang pada Minseo walau tidak terlalu menyukai Yuri.. Dan keluarga kecilnya ini baik-baik saja walau Nintrana sudah pernah menikah sebelumnya, dengan seorang peri tumbuhan dan memiliki anak bernama Inbrestise yang saat ini tinggal bersama sang nenek di bukit selatan. Namun kedua anaknya cukup dekat walau saling menjahili. Dan putra sulungnya itu dapat menerima Yuri sebagai ibu tirinya, karena sang ibu kandung sudah mati dibunuh siluman

.

.

.

Malam telah datang, Jongin tengah berada dalam posisi berdiri tegak dengan handgun yang mengacung. Dia juga dilengkapi kaca mata dan headphone tanpa kabel sebagai perlengkapan berlatih memembak. Ia baru saja selesai dengan latihan menembak dan justru berakhir peluru itu meleset semua dari target. Membuat Sehun mendesah frustasi karena kekasihnya sama sekali tidak ada bakat menembak. Jongin benar-benar tidak cocok dengan senjata api.

"Sudah kubilang, ayah ataupun kakekku tidak melatihku bagaimana menggunakan pistol. Lagipula di Neptunus tak ada senjata seperti ini, bodoh!" Gerutu Jongin kesal karena Sehun terus saja memerintahkannya untuk mengulangi latihannya. Padahal jelas-jelas saint demon itu tahu kalau Jongin benar-benar payah.

Jongin tidak tahu sejak kapan Sehun sudah menyiapkan semua ini. Tapi yang ia tahu, Sehun memiliki gudang senjata yang tersembunyi dibawah tanah. Dari mulai yang tradisional seperti tombak dan panah sampai senjata modern seperti pistol dan bom pun ada dalam gudang itu.

Gila, Sehun ternyata tidak main-main dengan dirinya yang memimpin organisasi mafia pada tahun 1940-an. Ketika ia bertanya dari mana Sehun mendapat persenjataan sebanyak itu, dengan santainya pemuda pale itu menjawab bahwa semua senjata itu adalah hasil penjarahan dan penyelundupan. Wah! Benar-benar saint demon ini! Latar belakangnya sungguh mengejutkan dan gelap. Lalu, ketika ia bertanya mengapa Sehun mendirikan organisasi gelap itu, dia hanya menjawab santai bahwa dia hanya ingin menghibur dirinya.

Sungguh, saat itu juga Jongin ingin menghajar kekasihnya tanpa ampun. Demi Tuhan, Sehun menempatkan banyak sekali nyawa manusia dalam bahaya hanya demi kesenangan. Benar-benar sifat saint demon sekali. Oh Sehun sungguh gila!

"Lagipula, apa peluru mempan pada siluman?!" Jongin mencibir.

"Tidak," Jawab Sehun singkat.

"Lalu kenapa kau melatihku menggunakan pistol?"

"Setidaknya peluru mempan terhadap manusia," Jawab Sehun dengan wajah tanpa dosa. Ia membawa dua pedang ditangannya.

"Argh! Aku sungguh ingin menghajarmu!" Jongin mendesah kesal. Ia melempar pistol dan kacamatanya kesembarang arah. Sekali lagi timbul hasrat untuk meninju Sehun. Karena secara tersirat Sehun menyuruhnya untuk menembak manusia. Iya, Jongin tidak mengerti maksud Sehun yang sebenarnya.

Sehun hanya bermaksud agar Jongin dapat melindungi diri dari para manusia yang jahat. Sehun tidak salah kan?

Iya tidak salah, tapi Jongin salah paham. Hadeuh, bagaimanapun kan Jongin masih bocah.

"Ya kalau begitu hajarlah aku," Sehun berujar santai seraya melempar satu pedang ditangannya pada Jongin.

Anak itu menangkap pedang tajam itu dengan baik. Namun matanya membulat terkejut. Sementara Sehun telah bersiap dengan posisi kuda-kudanya. "Jangan bercanda, Hun! Kau memintaku bertanding pedang denganmu?"

Sehun sama sekali tidak menjawab. Ia justru bergerak cepat mengayunkan pedangnya kearah Jongin. Jongin yang tidak siap hanya bisa terkejut dan ia hanya menangkis serangan-serangan Sehun.

Trang! Trang! Trang!

"O-oi, kau serius dengan ini?!" Jongin memekik panik ditengah serangan Sehun yang membabi buta. Jongin benar-benar tidak menyangka jika Sehun sungguh-sungguh menyerangnya.

"S-Sehun! Hentikan!" Pekik Jongin lagi.

Sehun melakukan gerakan menghunus tepat ke arah Jongin. Jongin yang menyadari itu segera menangkis, namun ketika pedang mereka bergesekan, Sehun justru mendorong pedang Jongin ke samping hingga terpental beberapa meter. Dilanjutkan gerakan memutar sementara Jongin mundur dengan cepat untuk menghindari hunusan pedang Sehun yang terus berlanjut.

Namun pada akhirnya pedang Sehun mengacung tepat di leher Jongin hampir menggoresnya. Jongin tegang bukan main. Dan dia menatap Sehun dengan tidak percaya ketika saint demon itu justru menatapnya tajam.

Sehun menurunkan pedangnya, "Kau penuh keraguan, Jongin. Kau tidak bisa membunuh orang yang telah kau kenal. Jika kau seperti ini, kau tidak akan bisa megalahkan Chrysaor," Ujar Sehun dengan suara dingin dan datar. Membuat Jongin bungkam dan diam seribu bahasa. Sehun sungguh berbeda dari biasanya.

"Aku mengujimu apakah kau bisa mengayunkan pedang padaku. Tapi kau tidak bisa karena kau menyayangiku. Jongin, apa kau sadar jika sebenarnya rasa sayang itu bisa membuatmu lemah? Aku tahu bagaimana rasanya, tapi kau tidak boleh goyah karena itu atau kau akan habis,"

Baru kali ini Sehun bersikap tegas padanya dan itu membuat Jongin terkejut. Sehun nampak tak memiliki keraguan saat menghunuskan pedang padanya. Bagaimana bisa Sehun memiliki niat untuk membunuhnya seperti itu? Mengapa Sehun bisa seperti itu?

"Jika kau lemah, bagaimana kau bisa melindungi diri sendiri dan mempertahankan Orchideta jika aku tidak disampingmu?" Kata Sehun seraya berjalan mendekat pada Jongin dan membiarkan pedangnya menancap di tanah.

Jongin bergeming, ia tidak meronta saat Sehun memegang kedua bahunya dan mensejajarkan wajahnya hingga tepat berada di depan wajah Jongin dengan jarak yang amat dekat seperti akan mencium. Untuk sesaat Jongin terdiam, sebelum akhirnya Jongin mendapati mata kiri Sehun menampilkan bercak berbentuk bunga anggrek yang memancarkan cahaya berwarna keunguan. Jongin terkejut bukan main tatkala mata kiri Sehun tiba-tiba mengalirkan darah dan Sehun nampak menahan sakit. Cahaya pada mata Sehun semakin terang.

"G-Gwenchanayo?" Ujar Jongin panik. Namun Sehun tidak menjawab apapun, ia justru meraih tangan kanan Jongin dan melepas sarung tangannya. Ia mengarahkan telapak tangan milik Jongin pada mata kirinya. Ketika telapak itu berhasil menyentuh mata kiri Sehun, simbol segita dan anak panah dipunggung Jongin ikut bercahaya. Jongin dapat merasakan sebuah energi besar yang berusaha keluar dari mata kiri Sehun dan akan masuk dalam telapak tangannya. Ia merasakan cakra kuat dari mata kiri Sehun beresonansi dengan cakranya.

Sesuatu seperti menempel pada telapak tangannya, jadi ia merespon dengan menggenggam sesuatu itu dan menarik tangannya dari mata kiri Sehun. Namun ia harus kembali terkejut saat ia melihat mata kiri Sehun kehilangan manik hitamnya hingga hanya tersisa putihnya saja. Lalu, kelopak mata itu tertutup secara perlahan. Membuat Jongin menjadi panik.

"A-Apa yang terjadi dengan matamu?" Jongin mencoba meraih mata kiri Sehun yang menutup itu dengan tangannya yang lain. Tidak terlalu menyadari jika tangan kananya ternoda darah karena baru saja menarik keluar manik mata kiri Sehun.

"Tidak apa-apa, mataku akan kembali lagi setelah ini," Ujar Sehun sambil menggenggam tangan kiri Jongin yang hampir menyentuh mata kirinya.

"T-Tapi, manikmu hilang!"

"Tidak hilang. Manik mataku ada dalam genggaman tangan kananmu,"

Walau tidak mengerti, Jongin menurunkan pandangannya pada sesuatu yang berbentuk seperti kelereng berwarna hitam pekat dalam genggamannya. Itu adalah mata Sehun.

Entah bagaimana kejadian pastinya, yang ia tahu hanya manik mata Sehun kembali mengeluarkan cahaya amat terang menyilaukan yang menelan dirinya dan Sehun. Membawa mereka ke sebuah tempat yang memiliki pilar-pilar besar namun tidak ada atap yang disangga.

Jongin bingung dan tidak tahu mereka berada dimana. Yang dia lihat hanyalah sebuah kendi berwarna coklat dengan sebuah bola kristal bulat yang memiliki bercak bunga anggrek bulan berwarna ungu mengambang diatasnya. Bercahaya dengan sangat indah namun juga penuh energi. Lalu Jongin juga menemukan sebuah busur berukuran besar dan memiliki ukiran naga merah berada disisi kendi itu. Tergeletak di atas bantal berwarna merah darah.

Seekor naga merah tertidur nyenyak di belakangnya seperti menjaga semua benda itu.

"Itulah yang namanya kristal Orchideta. Arshi menyembunyikannya di mata kiriku saat dia hampir mati," Jelas Sehun. "Kendi itu berisi abu jasad Arshi. Dan busur disebelahnya disebut Archarisis. Itu adalah busur suci milik Arshi. Jika kau ingin tahu dimana kita berada sekarang, maka jawabannya adalah di dalam mata kiriku sekaligus makam Arshi,"

Yang terjadi selanjutnya adalah, bola kristal kecil itu perlahan meninggalkan tempatnya dan melayang menuju Jongin. Simbol di punggung tangan Jongin seolah merespon kedatangan Orchideta dengan kembali bercahaya dan Orchideta masuk ditengah segita. Tertanam di dalam punggung tangan Jongin. Dan pada saat itu juga, darah Jongin bergejolak hingga menimbulkan rasa panas disekujur tubuhnya.

"A-Apa yang terjadi pada tubuhku? Rasanya panas!" Tubuh Jongin tiba-tiba meringkuk menahan sakit sehingga Sehun reflek menangkapnya sebelum kekasihnya itu tersungkur.

"Argh! Panas~ ini juga menyakitkan~" Jongin mendesis menahan sakit yang kian menjalar serasa menusuk tulang.

"Bertahanlah, Orchideta hanya menyesuaikan dengan darahmu. Hanya sebentar, sayang," Sehun mencoba menguatkan. Ia mendudukkan Jongin di lantai dan merengkuhnya dalam pelukannya. Sejujurnya ia sendiri tidak tega melihat Jongin kesakitan seperti ini.

"T-tapi ini sangat sakit," Rintih Jongin. Ia meremat kuat kemeja yang dipakai Sehun dibagian dada. Ia menatap Sehun dengan penuh kesakitan dan peluh yang membanjir. Dalam sekejap mampu membuat kaos hitam ketat yang Jongin kenakan basah oleh keringat. Tak terbayang seberapa sakit Jongin merasakannya. Sehun hanya mampu mendekap Jongin erat.

"Argh~ ini teramat sakit, Hun~ aku tidak kuat~" Rintih Jongin lagi. Membuat Sehun panik setengah mati. Ia menangkup sebelah pipi Jongin dan mencium bibir Jongin secara lembut. Mungkin ini memang gila, mencium Jongin yang tengah kesakitan. Tapi nyatanya, anak yang masih dibanjiri peluh itu telah berhenti merintih dan cengkraman pada kemeja Sehun mengendur dengan perlahan.

Bersamaan dengan tenangnya Jongin, bau yang amat harum serta terasa menggoda dan nikmat tiba-tiba tercium oleh hidung Sehun. Bau yang begitu memabukkan menguar dari tubuh Jongin.

Sehun melepas ciumannya perlahan dan ia menatap sayu wajah Jongin yang nampak tenang dengan wajah terpejam. Entah Jongin pingsan atau tertidur, yang jelas Jongin nampak baik-baik saja dan nafasnya berhembus teratur. Sehun merasa lega untuk sesaat. Ia menghapus peluh di wajah Jongin menggunakan lengan kemeja panjangnya dengan lembut.

Namun kelegaan itu tidak berangsur lama. Sehun dapat merasakan aura siluman yang mulai mendekat.

"Serahkan anak itu padaku," Sehun mendapati seekor siluman lipan raksasa berkepala manusia dengan 6 tangan telah berada di belakangnya dengan aura yang cukup kuat.

Siluman ini pasti terpanggil karena aroma memabukkan dari tubuh Jongin dan aura yang dipancarkan Orchideta. Namun Sehun tidak menyangka jika siluman menjijikkan itu mampu menyusul mereka di makam Arshi. Sehun tidak bisa membiarkan siluman mengotori makam Arshi.

"Hanya dalam mimpimu," Sehun berdesis. Ia segera berteleport di dekat meja yang menjadi tempat diletakkannya abu jasad Arshi. Ia menyandarkan Jongin disana. Lalu ia berdiri dengan trisula yang muncul di tangan kanannya.

"Orchideta... Serahkan Orchideta kepadaku," Siluman itu seperti kesetanan.

Siluman lipan raksasa itu bergerak untuk menyerang. Sehun baru saja akan menebaskan trisulanya untuk melepaskan tornado demi menghempas siluman menjijikkan yang sudah berani menginjakkan kaki di makam Arshi, namun aksinya terhenti ketika seekor naga merah yang semula tertidur tiba-tiba melesat, menubruk siluman lipan itu dan menyerangnya.

"Naga Osiris..." Sehun mengenali naga itu. Itu adalah naga merah bernama Osiris. Naga yang merupakan kuchiyose milik Arshi. Dan sebenarnya, nama Osiris yang melekat pada nama Arshi di dapat dari naga itu. Naga yang berhasil ditaklukkan oleh Arshi dan sangat setia padanya. Osiris menjaga tempat ini, dan naga itu pasti juga tidak ingin siluman hina seperti lipan itu mengotori makam tuannya.

Pertarungan hebat terjadi. Siluman lipan nampak kualahan menghadapi Osiris. Naga itu lalu menyemburkan api dari mulutnya. Membakar sang siluman dalam kobaran api yang sangat panas hingga siluman lipan itu menjerit-jerit kesakitan dan jatuh ke tanah dalam keadaan mati sementara Osiris hanya menatapnya dari udara.

"Ada yang datang lagi!" Pekik Sehun tiba-tiba ketika ratusan siluman berbagai bentuk mendadak muncul dari atas.

Osiris kembali siaga dan ia kembali menyemburkan apinya kearah para siluman itu. Sehun hanya tidak menyangka jika aroma Jongin dapat mengundang siluman sebanyak ini. Entah berapa ratus. Yang pasti sangat banyak dan Sehun berpikir bahwa yang nampak saat ini hanya sebagian siluman yang mencium aroma Jongin. Sehun yakin akan muncul lebih banyak lagi siluman dan lebih berbahaya. Sial, mulai sekarang pasti hari-harinya dan Jongin akan sulit.

Sehun menebaskan trisulanya dan muncullah tornado yang menghempaskan para siluman yang berhasil melumpuhkan Osiris dalam lilitan dan gigitan. Sehun lalu menembakkan kilat dari trisulanya pada para siluman yang meluncur ke arahnya dan Jongin, hingga mereka remuk menjadi kepingan-kepingan daging dan darah bercecer dimana-mana serta mengotori kemeja birunya. Ia cukup menyesal dan marah karena makam Arshi jadi kotor seperti ini.

Seperti tak ada habisnya, siluman dengan jumlah banyak kembali muncul dan menyerang. Beberapa saat terus seperti itu hingga Sehun mendapati Osiris kualahan menghadapi banyaknya siluman yang terus muncul. Sehun lalu terbang dan melakukan beberapa serangan untuk membebaskan Osiris dari cengkraman para siluman. Osiris menggeram dengan suara berat, sebelum matanya menyala dan Osiris menyemburkan api dari mulutnya lebih besar dari sebelumnya. Membakar semua siluman itu dalam sekali semburan api.

Namun Sehun maupun Osiris terlambat menyadari jika seekor siluman ular tengah menancapkan taring di lengan kanan Jongin dan menghisap darah Jongin beberapa teguk. Membuat tubuh siluman itu bertranformasi menjadi raksasa dengan tubuh bersisikkan seperti naga. Mirip Osiris namun warnanya hitam dan kepalanya adalah ular. Bentuk yang menjijikan.

Lalu Orchideta yang berada dalam punggung tangan Jongin tengah berusaha di keluarkan dari tempatnya oleh siluman ular yang telah mendapat kekuatan dari darah Jongin. Sial, Sehun tidak menyangka jika darah kekasihnya dapat memberikan efek sedasyat itu pada siluman yang meminumnya. Sehun masih ingat jika Sello pernah mengatakan jika darah Jongin adalah darah yang sempurna. Karena merupakan gabungan dari darah dewa, healer, angel miko, dan youkai.

Yang Sello maksud adalah, darah dewa milik Poseidon. Darah pure healer milik Belacius (Sehun baru tahu bahwa ternyata Jongin putra dari seorang pure healer, pantas jika Jongin memiliki kemampuan penyembuh sebagus itu dengan digabung kemampuan Poseidon yang menurun padanya), lalu darah angel miko milik Arshi, dan darah youkai milik Sello. Benar-benar darah yang sempurna. Pantas saja para siluman mengincarnya, karena darah itu lebih sempurnah mengontrol Orchideta daripada milik Arshi dulu. Pantas saja kristal legendaris itu langsung memilih Jongin sebagai pengganti Arshi. Selain karena darah Arshi yang juga mengalir dalam tubuh Jongin, namun juga karena Jongin keturunan yang sempurna. Orchideta juga mengenali Jongin sebagai reinkarnasi penjaganya terdahulu.

Sungguh ini rumit. Namun inilah relikuinya.

Osiris kembali menggeram, secepat kilat ia terbang menerjang siluman yang berevolusi itu dan menjauhkannya dari Jongin yang mulai sadarkan diri.

Hal pertama yang Jongin lihat adalah Orchideta yang kembali tenggelam dalam punggung tangannya dan Seekor naga merah raksasa yang memunggunginya seperti melindunginya. Lalu ia melihat sekelilingnya telah dipenuhi oleh potongan-potongan daging dan darah yang berceceran. Mata Jongin melotot seketika, sebelum Sehun terbang turun menghampirinya.

"Apa yang terjadi, Sehun?" Tanya Jongin dengan suara parau karena ia masih merasa lemas.

"Kupikir ini sudah lewat tengah malam. Dengan kata lain ini adalah hari ulang tahunmu dimana tubuhmu akan mengundang para siluman. Mereka datang untuk darahmu," Jawab Sehun seraya memegangi Jongin yang berusaha bangkit namun tidak bisa.

Osiris kembali bergerak saat siluman ular itu kembali menyerang. Lalu terjadi pertarungan yang menimbulkan debuman-debuban seperti ledakan. Jongin menatap sangsi. Dan ia menyadari bahwa naga merah itu adalah naga yang semula tertidur di belakang kendi abu Arshi.

"Siluman itu awalnya hanya ular kecil. Namun dia berhasil meminum darahmu dan berubah menjadi seperti yang kau lihat sekarang,"

"K-Kau serius?" Jongin shock. Ia mendapati lengan kanannya terasa nyeri dan dua luka bekas gigi taring menghiasi lengannya dengan sisa darah yang mengering.

"Gwaenchanayo?" Tanya Sehun khawatir. Pasalnya, Jongin nampak kesakitan.

Jongin mengangguk pelan. Ia lalu menyembuhkan lukanya dengan cakra yang mengalir dari telapak tangan kirinya. Luka itu hilang dalam sekejap.

Pandangan Jongin lalu beralih pada Osiris yang nampak terpojok. Terbukti dari raungan kesakitan karena siluman keji itu berhasil melukai tubuhnya. Sehun kembali berdiri, ia mengambil beberapa langkah di depan Jongin. Mengumpulkan petir di ujung tombak trisulanya dan menembakkannya ke arah siluman brengsek yang melilit Osiris. Namun, siluman itu hanya terpental. Tidak hancur seperti siluman lain yang terkena sambaran petirnya. Darah Jongin melipatgandakan kekuatan sesignifikan itu. Luar biasa!

Jongin menggigit bibir bawahnya ketika melihat mereka terpojok. Ia ingin menolong.

"Jongin,"Sello tiba-tiba bicara melalui kepalanya, "Ambil archarisis arch. Gunakan itu untuk memusnahkan siluman ular itu,"

Jongin lalu berusaha untuk berdiri namun ia merasa benar-benar lemah. Selain karena efek Orchideta tadi, juga karena darahnya telah dihisap oleh siluman brengsek itu. Sial!

Jadi dia berusaha menyerap cakra alam lebih banyak keseluruh tubuhnya untuk membantunya mengumpulkan tenaga. Dan ia berhasil melakukannya. Jongin mengambil busur berukiran naga itu, namun ia kebingungan karena tidak ada anak panah disana atau dimanapun.

"Bagaimana aku menembak jika tidak ada anak panah?" Tanyanya pada Sello.

"Kau tidak perlu anak panah dalam genggamanmu. Kau hanya perlu menarik busur seperti posisi menembak. Maka anak panah akan muncul disaat yang bersamaan. Archarius adalah busur istimewa. Arshi selalu menggunakannya dalam pertarungan melawan siluman yang sangat kuat,"Jawab Sello.

"Tapi, aku bukan Arshi,"

"Aku tahu, tapi aku yakin kau bisa melakukannya. Kau bilang kau selalu dilatih Poseidon dalam memanah, kakekmu juga melatihmu hal yang sama. Kau pasti bisa Jongin. Aku percaya kau bisa menggunakan archarisis,"

"Aku akan mencobanya,"

Jongin berdiri memasang kuda-kudanya. Dan ia melakukan apa yang diinterupsikan Sello. Sebuah anak panah bercahaya muncul begitu ia menarik busurnya dan membidik siluman ular yang terbang melawan Osiris dan Sehun. Busur yang menakjupkan, karena Jongin tidak perlu menenteng anak panah kemana-mana. Benar-benar praktis. Namun ia juga ragu apakah ia dapat mengenai siluman yang tak bisa diam itu atau tidak. Ia takut jika panahnya akan meleset dan justru mengenai Sehun atau Osiris.

Namun Jongin segera ingat perkataan Sehun sebelum ini. Bahwa ia tidak boleh goyah dan ia tidak boleh ragu atau semuanya akan habis.

"Aku akan membidik dengan keyakinan!" Walau ia mengakui cukup sulit membidik target yang bergerak cepat, namun ia yakin ia dapat mengenainya. Ia ingin melindungi mereka dan mengalahkan siluman menjijikkan itu. Ia ingin melindungi sebagaimana ia berjanji pada Arshi.

Seperti bintang jatuh, anak panah bercahaya itu meluncur secepat kilat. Membelah kepala hingga ekor siluman itu menjadi dua, lalu sirna menjadi butiran debu. Hilang ditelan cahaya dari panah yang Jongin lesatkan. Membuat Sehun maupun Osiris tersentak terkejut. Karena, kekuatannya sungguh mirip dengan Arshi namun lebih kuat.

Ketika Sehun mengalihkan pandangan pada Jongin, hatinya berdesir. Karena ia seperti melihat jiwa Osiris Arshi berada di belakang Jongin dengan pose yang sama, yaitu membidik dengan archarisis Jongin seperti perwujudan Arshi.

Sehun terbang turun menghampiri Jongin diikuti sang naga merah yang mendarat sedikit jauh dari dua orang itu.

Bruk!

Jongin tiba-tiba jatuh terduduk dan wajahnya memucat. Membuat Sehun memekik dan Osiris menggeram khawatir.

"Kau tidak apa-apa?" Tanya Sehun khawatir.

Jongin tersenyum lemah. "Ini karena aku kehilangan banyak darah," Ia berpikir, seharusnya Sehun seharusnya juga mengkhawatirkan dirinya sendiri. Jongin merasa khawatir dengan mata kiri Sehun yang masih tertutup dengan bercak darah yang mengering. Padahal Sehun tadi bilang bahwa matanya akan segera kembali seperti semula, namun sampai sekarang masih tertutup rapat.

Jongin lalu membelai mata kiri Sehun pelan. Ia hampir saja menangis jika saja Osiris tidak mengalihkan perhatiannya. Jongin dapat melihat naga merah legendaris itu mulai melangkah mendekatinya. Suaranya terdengar bedebum karena berat tubuhnya yang entah berapa ton. Mata merah Osiris menatap lurus kepada Jongin tanpa beralih sedikitpun. Jongin merasakan perasaan yang aneh ketika dirinya bertatapan dengan Osiris.

Jongin dibuat terkejut ketika naga merah itu merunduk memberi hormat tepat di depannya. Bahkan kepala Osiris hampir menyentuh kepalanya. Walau Osiris sudah menunduk, tapi tetap saja masih terlihat tinggi. Apalagi Jongin dalam posisi terduduk di tanah.

Entah dorongan dari mana, Jongin mengulurkan tangan kanannya untuk menyentuh kepala sang naga raksasa dan mengelusnya pelan. Naga itu nampak menggeram. Tapi bukan geraman ancaman. Mungkin naga itu tengah merasa senang karena Jongin mengelusnya.

"My lord," Naga itu berbicara untuk pertama kalinya setelah bungkam sedari tadi. Dan Jongin merasa sedikit terkejut mendengar suara sang naga yang amat berat. Bahkan lebih berat daripada suara Sello. Tunggu, naga ini memanggilnya tuan?

"Gambarlah simbol di punggung tanganmu pada tanah yang kau pijak menggunakan darahmu lalu panggillah namaku. Maka aku akan datang kapanpun kau membutuhkanku dan akan bertarung bersamamu, Mylord," Terang sang naga pada Jongin.

"Dia menjadi kuchiyosemu yang setia, Jongin," Sehun menimpali.

.

.

.

Mereka keluar dari makam Arshi dengan bantuan Osiris yang menciptakan pusaran portal seperti black hole. Sehun menapak tanah di halaman belakang mansion phoenix, kembali ke tempat semula dimana mereka juga menghilang. Jongin nampak sangat lemas dalam gendongan bridal Sehun. Anak itu hanya tersenyum kecil, busur archarisis masih berada dalam genggamannya. Namun tak lama kemudian berubah menjadi butiran cahaya yang merasuk pada simbol segitiga milik Jongin. Sepertinya, pusat kekuatan Jongin ada pada punggung tanan kanannya. Tadi Osiris mengatakan jika simbol berbentuk segitiga dengan anak panah yang menusuk setiap sudutnya ini disebut triangle arch. Sebuah simbol saint milik Arshi dan sekarang menjadi miliknya.

Jongin masih merasa tak percaya jika dia baru saja mengalami hal menakjupkan seperti tadi. Berhadapan dengan siluman yang kuat. Mendapatkan busur legendaris yang tidak perlu menenteng anak panah kemana-mana. Dan, Jongin mendapatkan kuchiyose berbetuk naga merah yang sangat besar. Semasa sekolah di JHS Jongin pernah membaca buku mengenai mitologi Mesir. Nama Osiris adalah dewa naga yang melindungi mesir. Disandingkan sejajar dengan Rha dan Obeli.. Rupanya, Osiris adalah kuchiyose milik Arshi. Jongin berpikir bahwa saint angel miko itu sangat kuat. Pantas saja ia dipilih untuk menjaga orchideta sebelum ini.

Pusaran portal di atas mereka perlahan mengecil. Lama kelamaan berubah wujud menjadi butiran kelereng hitam. Sehun membuka mata kirinya yang hanya menampilkan warna putih lalu kelereng hitam itu jatuh masuk ke matanya. Rupanya itu adalah manik mata kiri Sehun.

Sehun mengerjapkan matanya beberapa kali menyesuaikan maniknya yang telah kembali ketempatnya semula.

"Sudah kubilang, mataku akan kembali seperti semula," Ucap Sehun tenang seraya menatap Jongin yang ada dalam gendongannya. "Sekarang yang ada dalam mataku hanya abu jasad Arshi. Jadi, biarlah dia tenang tanpa menanggung beban Orchideta lagi. Aku sudah tidak ingin siapapun mengganggu makamnya lagi,"

Jongin tersenyum kecil, ia mengangguk setuju sebelum akhirnya jatuh tertidur karena terlalu lelah. Sehun memakluminya, wajar saja Jongin lelah. Rupanya mereka berada di dalam makam Jongin sampai sore menjelang. Padahal mereka masuk kesana malam hari sebelumnya. Lumayan lama ternyata.

"Jongin~" Seseorang tiba-tiba memekik. Itu adalah Minseok yang berlari bersama Lu Han memasuki mansion. Pasti Lu Han yang memberi tahu Minseok tentang markas ini.

"Apa yang terjadi padanya?" Orang lain juga muncul hampir bersamaan. Kris Wu terbang turun menggunakan sayapnya.

Sehun sepontan melotot, Lu Han dengan segera mentup mata Minseok. Wah gila si Kris itu, ada manusia disini. Tapi malah terang-teragan terbang dengan sayap Pegasusnya.

"Kau gila apa?!" Lu Han mengumpat keras. Ia merutuki Kris yang ceroboh.

"Maaf, aku lupa," Kris hanya nyengir tanpa dosa.

"Dasar bodoh," Cibir Sehun.

"Apa yang terjadi pada Jongin? Dan kenapa dokter berlumuran darah?" Tanya Minseok setelah Lu Han menurunkan tangannya dari mata Minseok.

"Kami hanya berlatih berburu tadi. Jongin hanya kelelahan mengejar rusa," Jelas Sehun mengarang cerita. Tapi Minseok tentu saja tidak mudah percaya. Masa iya berburu sampai tidak masuk sekolah. Dokter Oh tidak pandai berbohong.

"Hei bung, kebohonganmu bodoh sekali," Bisik Kris. Sementara Lu Han menepuk jidatnya.

"Oke... oke... tadi ada siluman yang menyerang kami. Puas? Persetan jika manusia ini terkejut," Sehun lalu melangkah pergi. Niatnya mau masuk ke dalam, namun ia harus urung ketika seekor siluman berbentuk laba-lama raksasa merayap di atap mansionnya. Membuat semuanya terkejut bukan main.

Sehun mendengus jengah. Baru saja ia selesai menghabisi ribuan siluman bersama Osiris, sekarang muncul lagi seekor siluman memuakkan.

"Bisa kalian urus yang ini?" Kalimat yang Sehun lontarkan tentu saja ditujukan untuk Lu Han dan Kris. Memangnya apa yang bisa ia harapkan pada Minseok? "Dia pasti datang karena mencium aroma Jongin,"

Benar, mereka bertiga baru menyadari jika tubuh Jongin menguarkan aroma yang sangat harum.

Kris dan Lu Han sama-sama mendesah, tidak terima Sehun memerintah seenaknya. Tapi mereka sudah bersiap dengan senjata masing-masing. Lu Han dengan tombak berwarna emas dan ujung berbentuk berlian, jeveline rough dan Kris dengan tanduk di dahinya.

Tapi, baru saja mereka akan menyerang, justru siluman itu telah membeku, berubah menjadi es.

Sehun, Lu Han, maupun Kris shock seketika karena mereka merasa belum melakukan apa-apa dan diantara mereka tidak ada yang memiliki kekuatan es. Siapa yang melakukannya?

Tangan kanan Minseok bergerak seperti meninju udara. Disaat yang bersamaan tubuh siluman yang membeku itu hancur berkeping-keping.

"K-Kau..." Kris terbata.

"Apa? Kalian ingin meremehkanku lagi?"

"Siapa kau ini?" Tanya Minseok lagi.

"Cucunya Khionie," Jawab Minseok seraya membenarkan kaca matanya yang melorot.

"Wehh~~~"

Sementara Lu Han hanya tersenyum karena ia sendiri sebenarnya sudah tahu sejak awal. Ya tentu saja, dia kan pernah menggendong Minseok saat masih bayi. Hahaha...

Sehun nampak tak peduli dengan fakta itu. Ia memilih membawa masuk Jongin.

"Siluman akan datang lagi. Kupikir Jongin tidak bisa pergi kemana-mana. Bagaimana jika membuat kekkai di sekeliling bangunan?" Lu Han mengusulkan.

Kris dan Minseok setuju. Mereka lantas mengambil posisi. Melakukan ritual untuk membentuk kekkai. Hei, bagaimana mereka bisa menjadi kompak dalam waktu singkat?

.

.

.

.

Tolong jangan bunuh aku. Aku gak tau ini apa. Aku cuma nulis yang ada di kepalaku. Jadi kalau kurang puas ya maapkeun yak...

I'm sorry, kalau adegannya jadi mirip2 inuyasha sewaktu matanya dikeluarin sama seshomaru. Well, sebenarnya inspirasinya dari sana.

And what about kuchiyose? Wkwk... Betul... Dari Naruto pastinya.

Dan buat busur archarisis yang gak perlu anak panah. Coba bayangin Ishida yang seorang quinzy di anime Bleach. Gak pake anak panah juga kan? Cuma perlu narik tali busurnya terus panah cahaya muncul gitu aja. Hehehe... Maybe archarisis juga begitu.

Maap kalok luhan sama kris nya cuma muncul dikit banget. Terus Tao nya malah gak nongol sama sekali. Hehehe... Anggep aja dia lagi persiapan perang kayak Madara #plak

Voila! Minseok aku bikin setengah dewa. Karena gue pikir kalok Minseok cuma manusia biasa ntar dia nyusahin. Kalok masalah kenapa jadi cupu, anggep aja Minseok gak suka jadi orang songong dan agak penakut. Dan dia juga jadi anaknya Nintrana, orang yang pernah mau dijodohin sama Arshi. Sekaligus cucunya dewi khionie. Wkwkwk... Aku gak tau kenapa aku bikin Siwon jadi Nintrana. Hahahah... Tolong jangan bunuh aku!

Ada yang mau nanya? Tunjuk tangan coba wkwkwk

Winter AL Yuurama