Warning! NC 18+
Dipagi yang mendung, sang surya enggan menampakkan dirinya dan bersembunyi dibalik awan hitam. Membuat hujan turun dengan begitu deras disertai gemuruh petir yang menakutkan.
Luhan terbangun dari tidurnya. Keringat dingin terus mengalir dari tubuhnya yang bergetar hebat.
Astraphobia itu masih tidak mampu ia hilangkan sejak bertahun-tahun yang lalu. Dia tidak tahu mengapa ia sangat takut akan petir. Baginya setiap kilatan petir adalah maut dan suara petir adalah kematian.
Melihat kesekeliling ruangan dan Luhan tidak menemukan kekasihnya.
"Sehun… kau dimana?" Wajahnya seketika memucat dan Luhan mulai menangis. Dia takut, takut sekali disaat seperti ini. Dia butuh seseorang, sebelum nafasnya berhenti karena astraphobianya.
Kilatan petir semakin terlihat jelas dan terang dari jendela kamar, Luhan semakin ketakutan dan tangisnya semakin memecah. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan, melangkah satu jengkalpun ia tidak mampu. Tubuhnya yang bergetar terasa seperti besi yang sangat berat dan sulit untuk menggerakkannya.
"Sehun…" Dia mulai memanggil nama kekasihnya, berharap dengan memanggil nama Sehun dan kekasihnya akan datang dalam sekejap. Namun Sehun bukanlah seorang malaikat ataupun hantu yang akan datang ketika Luhan memanggil namanya.
Hujan semakin deras dan gemuruh petir terdengar semakin keras, begitupula dengan keringat dingin dari tubuh Luhan yang semakin bercucuran. Bahkan Luhan berkali-kali menyeka keringat yang yang mengalir dari pelipisnya.
"Sehun!" Dengan frustasi, Luhan berteriak memanggil nama kekasihnya.
JEDUARRR
—BRAKKK
Tepat saat petir terdengar menggelegar, pintu kamar dibuka dengan paksa. Luhan tidak berani menatap dan menutup wajahnya dengan selimut. Ia tidak melihat Sehun berdiri diambang pintu dengan sekujur tubuhnya yang basah oleh air hujan.
Sehun menghela nafas lega mengetahui kekasihnya masih dihotel CN dan tidak kembali sendirian ke hotel penginapan. Ia segera berjalan menghampiri kekasihnya yang meringkuk ketakutan.
"Lu kau tidak apa-apa?" Tapi tidak ada jawaban dari Luhan.
Sehun membuka selimut yang menutupi tubuh Luhan dan menemukan kekasihnya memejamkan mata, sedangkan tangannya Luhan gunakan untuk menutup kedua telinganya.
Tangan Sehun yang dingin terulur untuk mengusap surai madu kekasihnya dan membuat kekasihnya itu membuka mata.
Luhan mendongak menatap manik Sehun. Dia terlalu terkejut Sehun benar-benar datang. Tubuhnya yang terasa berat tiba-tiba saja terasa ringan untuk digerakkan, jadi Luhan bangkit dan memeluk tubuh kekasihnya. Menumpahkan rasa ketakutan dan kebahagiaan secara bersama.
"Kau tidak apa-apa Lu? Jangan menangis lagi, aku disini heumm?" Sehun berkata dan mengusap-usap punggung mungil kekasihnya.
Luhan hanya mengangguk dalam dekapan Sehun. Getaran pada tubuhnya sedikit demi sedikit menghilang.
Luhan merasakan tubuh Sehun menggigil dan usapan dipunggungnya terasa semakin melemah. Dia mendongak dan melihat raut wajah Sehun yang pucat. "Sehun-ah kau tidak apa-apa?" Luhan bertanya dengan khawatir.
Sehun mengangguk lemah dan dengan tiba-tiba kepala Sehun terjatuh dibahu Luhan. Matanya masih terbuka meski tubuhnya melemah, Sehun hampir tidak sadarkan diri.
"Sehun! Oh Sehun." Luhan panik dan mengguncangkan tubuh Sehun.
"Aku…tidak… apa-apa Lu…" Sehun menjawab dengan suara yang hampir tidak mampu Luhan dengar.
"Kau berbaringlah dan aku akan mengeringkan tubuhmu." Luhan dengan pelan membantu Sehun membaringkan tubuhnya diranjang dan segera berlari mengambil handuk yang berada dikamar mandi hotel.
Luhan dengan lembut mengeringkan rambut Sehun menggunakan handuk dan memastikan tetesan air dari rambut kekasihnya menghilang.
"Sehun-ah aku akan meminta pelayanan kamar agar membawakan pakaian."
Setelah berkata seperti itu, Luhan mengambil intercom yang berada dimeja nakas, namun Sehun menahan lengannya dan menggelengkan kepalanya dengan lemah. Sehun tidak mau Luhan melakukannya.
"Kenapa? Kau bisa sakit dengan pakaian yang basah seperti itu." Luhan meletakkan tangannya dipipi Sehun dan mengusapnya.
Sehun tersenyum dan menggenggam tangan Luhan yang berada dipipinya. "Di ranselku ada satu setel pakaian, kau bisa mengambilnya."
Luhan menolehkan kepalanya kearah ransel Sehun yang berada disofa kamar hotel, jadi ia mengangguk dan berjalan untuk mengambilnya.
Sementara Luhan sibuk dengan ransel, Sehun mengambil sebuah benda dari saku celananya dan membuka aplikasi kamera video, sebelum kemudian meletakkannya pada dashboard ranjang. Sehun berterimakasih pada siapapun itu yang telah meminjamkan ponselnya, ia berjanji akan mengbalikan ponsel itu pada pemiliknya setelah ia menyelesaikan aksinya.
Luhan kembali dengan membawa pakain yang ia ambil dari ransel Sehun. "Sehun-ah kau harus mandi dan berganti pakaian."
"Tapi aku tidak punya tenaga Lu, bahkan membuka kancing kemeja saja aku tidak sanggup." Sehun berpura-pura lemas dan tidak memiliki tenaga.
Luhan percaya kekasihnya itu benar-benar kelelahan sekarang. Jadi dia mendekat dan membantu Sehun bersandar pada dashboard ranjang. Kedua tangan mungilnya terulur untuk membuka kancing kemeja yang Sehun kenakan. Dia tidak mau kekasihnya sakit dan harus sesegera mungkin mengganti pakaian.
Ketika kancing kemeja pertama telah Luhan buka, Sehun dengan cepat menarik tangan Luhan hingga tubuh kekasihnya itu jatuh ditubuh nya yang dingin.
Luhan yang terkejut mencoba untuk bangun dari tubuh kekasihnya, namun Sehun menahan kedua lengan Luhan dengan kuat hingga Luhan berhenti memberontak. Luhan tidak tahu jika tenaga kekasihnya sangat kuat meskipun tubuhnya terlihat lemah. Ia menatap Sehun penuh tanya, tapi kekasihnya tersenyum menggoda.
Luhan membuka mulutnya untuk bertanya mengapa, namun terlambat ketika Sehun menarik tengkuknya dan mengunci bibir Luhan dengan bibirnya, sebuah ciuman panas yang menggiurkan baru saja dimulai.
Luhan hanya terlalu terkejut mendapati serangan tiba-tiba dari Sehun, jadi ia memberontak mencoba melepaskan diri dari kekasihnya.
Sedangkan Sehun tidak suka jika keinginannya ditolak, jadi ketika Luhan memberontak dia mengubah posisinya. Membalikkan tubuhnya dan menindih tubuh Luhan untuk menghentikan pergerakannya.
Sekarang atau tidak akan pernah, adalah pikiran yang berkecamuk dikepala Sehun, membuat nafsunya semakin memuncak. Sehun melumat bibir kekasihnya dengan lembut namun menuntut. Dia menunggu Luhan membalas ciumannya, dan ketika itu terjadi, Sehun dengan lihai memasukkan lidahnya dimulut Luhan untuk mencari lidah kekasihnya dan menari bersama-sama.
Luhan meletakkan kedua tangannya diantara tengkuk Sehun dan menariknya dengan kuat, meminta lebih akses ekplorasi yang Sehun ciptakan dengan bibirnya. "Eunghhh…" Luhan melenguh tanpa sadar ketika ia telah terbawa oleh nafsu.
Ciuman yang berawal dibibir kini turun ke area leher putih Luhan, Sehun dengan nafsu penuh cinta meninggalkan tanda cinta berwarna merah dibeberapa titik sensitif kekasihnya. Membuat Luhan menggeliat tak nyaman, namun juga menyenangkan.
Sehun menegakkan tubuhnya beberapa detik untuk melepas kemejanya yang basah dan sedikit mengangkat tubuh Luhan untuk membantu melepas kaos yang kekasihnya kenakan dan membuat keduanya setengah telanjang. Dia kembali menindih tubuh Luhan. Mengecup setiap inchi tubuh kekasihnya.
"Eunghh Ss…Sehunhhh" Luhan kembali melenguh ketika lidah lembut Sehun bermain-main disekitar dadanya. Kekasihnya itu menghisap dan menggiggit puting nya yang telah mengeras secara bergantian, sedangkan tangan Sehun yang bebas mulai menyusup kedalam celana Luhan. Mencoba mencari Luhan kecil yang ia rindukan.
Hisapan Sehun semakin turun ke area perut kekasihnya, dan kedua tangannya ia gunakan untuk membuka ikat pinggang Luhan serta melepas celana yang Luhan kenakan. Membuat batan yang telah mengeras dibalik celana itu terbangun dengan tegak.
"Sshh…" Mulut Luhan berdesis ketika batangnya dipegang Sehun dan ia berusaha keras untuk tidak mendesah dengan menggigit bibir bawahnya. Tetapi kenikmatan duniawi tidak mampu ditahan oleh siapapun yang melakukannya.
"Eunghh… hhh… akh—" Erangan itu keluar dari bibir Luhan dan tidak mampu ia kendalikan ketika penisnya dihisap dengan kuat oleh Sehun. Mulut Sehun yang hangat memberikan sengatan listrik dari penis Luhan yang membuat seluruh tubuh itu mengejang menerima kenikmatan.
Sehun terus bermain dan mengulum penis kekasihnya, membuat Luhan harus menerima beribu-ribu volt aliran listrik.
Luhan menekuk kedua kakinya dan menjepit kepala Sehun yang semakin cepat mengulum penisnya yang hampir memuntahkan sesuatu yang ada didalamnya.
"Ss… Sehun ak… aku…akh!" Luhan tidak sempat memberitahu Sehun jika ia tidak mampu lagi menahannya dan ketika penisnya berkedut, cairan kental berwarna putih itu keluar dan masuk kedalam mulut Sehun.
Luhan menghembuskan nafas lega ketika Sehun menghentikan blowjob nya.
Sehun merangkak keatas tubuh Luhan dan kembali mencium bibir kekasihnya, dia membagi cairan manis di mulutnya itu dengan Luhan. Merasakan bersama-sama cairan cinta yang dimiliki Luhan. Terasa manis, sama seperti wajah kekasihnya yang juga manis.
"Bagaimana jika kita ke inti saja heumm?" Sehun bertanya dengan tatapan sayu dan suara paraunya. Selama ini Luhan lah yang selalu mengulum penisnya ketika mereka bercinta, dan untuk pertama kalinya Sehun membiarkan dirinya sendiri yang mengulum penis kekasihnya dan tidak membiarkan Luhan yang mengulumnya.
Luhan mengangguk dan Sehun menatap benda pergi panjang berwarna hitam miliknya diatas dashboard ranjang yang masih merekam apa yang mereka berdua lakukan. Ponselnya hanya mampu merekam dengan durasi dua jam saja, jadi ia harus mempercepat aksinya agar hasil rekamannya sempurna.
Sebenarnya Sehun tidak ingin melakukan itu, tapi ia merasa ini adalah hubungan intim terakhir yang mungkin masih bisa ia lakukan bersama Luhan, jadi tidak ada salahnya jika Sehun mengabadikannya melalui sebuah rekaman video.
"Sehunnie ada apa?" Luhan mengusap pipi Sehun dengan lembut, merasa jika kekasihnya itu sedang melamun.
Sehun tersenyum dan ia membuka sendiri celananya sebelum kemudian memposisikan tubuhnya dan Luhan. Ia meletakkan kedua kaki Luhan dikanan dan kiri pinggangnya agar memudahkan dirinya memasukkan penisnya kedalam lubang anus Luhan.
Satu hentakan tidak membuat penis Sehun yang besar dan panjang masuk dengan sempurna, jadi ia melakukan dua hentakan sekaligus dan memasukkan seluruh penisnya dengan sempurna.
Luhan mengerang dengan keras. Ia merasakan tubuhnya seperti terbelah menjadi dua, meski sakit namun dia tahu sakit itu akan segera digantikan oleh kenikmatan yang tiada taranya.
Sehun memaju-mundurkan dengan pelan penisnya, tidak ingin membuat Luhan kesakitan.
"Enghh lebih cepat dan dalam sayang…" Ini adalah kali pertama Luhan memanggil Sehun seperti itu dan membuat nafsu Sehun semakin meningkat.
Sehun mengabulkan keinginan kekasihnya. Ia menggerakkan tubuhnya semakin cepat dan menghentakkan penisnya semakin dalam.
"Akh… akh…hemhhhh" Erangan Luhan menggema diseluruh kamar dan membuat Sehun menambah lebih kecepatan gerakkannya.
"Shh…Lu…heumhhh" Bahkan Sehun tidak mampu lagi menahan desahannya, rasa nikmat itu semakin bertambah dari detik ke detik berikutnya.
Sehun menundukkan tubuhnya dan mencium bibir Luhan, dia berusaha untuk tidak mendesah dengan cara mengalihkannya dengan sebuah ciuman.
"Emhhhhh" Itu terlalu nikmat dan desahan Luhan tertahan oleh bibir Sehun. Ia meremas rambut Sehun, mengatakan padanya jika ia ingin Sehun menambah lagi kecepatannya. Semakin cepat, maka semakin dalam dan nikmat rasanya.
Sehun menambah lagi pergerakkannya dibawah sana dan Luhan mencengkram dengan kuat punggungnya. Sehun mampu merasakan kuku Luhan yang menggores kulit punggungnya. Itu tidak sakit, justru membuat Sehun semakin bersemangat.
Sehun melepaskan ciumannya dibibir Luhan seiring dengan kedutan dipenisnya yang ia rasakan. Luhan telah orgasme beberapa kali dan ia hampir saja merasakannya. Jadi ia semakin mempercepat hentakannya, dan bunyi decitan ranjang semakin terdengar keras. Begitu pula dengan erangan Luhan yang bagaikan lagu indah ditelinga Sehun.
"Engh akh! Ss…Sehun! ak…aku tidak kuat!"
"Tunggu sebentar Lu! enghh aku juga akan segera mengeluarkannya"
Luhan menggelengkan kepalanya kekanan dan kekiri dengan frustasi. Sehun mencengkram penis Luhan dan merasakan penis kekasihnya itu berkedut-kedut.
"Akh! Eungh SE—"
"Shhh…LU—"
"HUN!"
"HAN!"
Akhirnya setelah dengan sabar menahan hasrat itu, Sehun dan Luhan mengeluarkannya bersama-sama. Sperma Luhan yang menyembur dan mengotori perut Sehun dan sperma Sehun yang keluar didalam anus Sehun. Kenikmatan yang benar-benar melegakan.
Sehun jatuh diatas tubuh Luhan dan kekasihnya itu memeluk erat area lehernya, bahkan Sehun mampu mendengar detak jantung Luhan yang memberontak.
Nafas hangat Sehun menerpa leher Luhan, membuat Luhan merinding. Jadi ia memeluk leher Sehun dan mengusap lembut rambut kekasihnya yang kini basah oleh keringat.
Sehun mengangkat sedikit tubuhnya untuk menatap Luhan yang juga menatapnya. "Aku mencintaimu Lu." Kemudian ia mengecup singkat bibir kekasihnya dan merebahkan tubuhnya disamping Luhan.
"Aku juga sangat mencintaimu Sehunnie." Luhan menghadap kearah Sehun dan mengenggam tangan Sehun, menautkan jari-jari tangan mereka.
Sehun tersenyum lemah dan mendekap tubuh Luhan dibawah selimut putih yang menutupi tubuh telanjang mereka.
Kanada menunjukkan pukul 10.15a.m ketika Luhan terbangun. Sendiri tanpa hangat dekapan kekasihnya. Hujan telah berhenti dan langit tidak lagi mendung, bahkan matahari telah menunjukkan dirinya dan memberi kehangatan setiap makhluk dibumi yang kedinginan. Luhan mendudukkan dirinya dan menggeliat untuk merenggangkan otot-otot tubuhnya.
Luhan memicingkan matanya, mencari dimana kekasihnya berada dan dia tidak melihatnya, jadi kakinya mengayun ke tepian ranjang dan memijak lantai marmer yang dingin.
Luhan memunguti pakaiannya yang berserakan dilantai, kemudian memakainya dengan cepat dan berjalan kearah kamar mandi, mungkin saja kekasihnya sedang membersihkan diri dari aktivitas panas mereka beberapa menit yang lalu.
Pintu kamar mandi yang tertutup, juga suara gemericik air dari dalamnya membuat Luhan tersenyum lega. Benar dugaannya, Sehun ada disana, didalam kamar mandi. Jadi ia memutuskan untuk menunggu sampai kekasihnya selesai.
Beberapa menit yang Luhan habiskan untuk menunggu Sehun akhirnya telah usai ketika pintu kamar mandi itu terbuka. Bau harum dari shampoo dan sabun menyeruak memenuhi indra penciumannya.
Sehun keluar dengan balutan handuk disekitar pinggangnya dan tetesan air yang mengalir dari rambutnya yang basah. Seksi dan menggoda, bahkan kini semburat merah muda menghiasi kedua pipi milik Luhan.
"Luhan? Kau sudah bangun?" Sehun menghampiri Luhan yang menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Ya, seperti yang kau lihat."
Sehun tertawa melihat kekasihnya yang malu-malu.
"Lu, dengarkan aku." Sehun menangkup wajah kekasihnya dan membuat Luhan menatapnya penuh pertanyaan.
"Aku meminjam ponsel seseorang dan menghubungi Kris. Dia akan menjemputmu segera dan kau pulanglah ke Seoul bersamanya."
"Lalu bagaimana denganmu? Apakah kita tidak akan pulang bersama ke Seoul?" Luhan menjatuhkan tatapannya pada lantai. Tidak ingin Sehun menatap wajahnya yang sedih.
"Aku dan Baekhyun masih harus disini sampai lusa, ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan. Kau mengerti baby dear?"
Luhan mengangguk dan tersenyum. Dia suka panggilan itu keluar dari bibir kekasihnya.
"Nah sekarang kau bersihkan dirimu dan tunggu Kris disini sampai dia menjemputmu." Sehun kembali menangkup wajah Luhan dan memberikan ciuman singkat dibibir dan kecupan hangat di keningnya. "Aku berangkat dulu Lu, jaga dirimu."
Ntah mengapa Luhan merasakan ada kesedihan diraut wajah Sehun ketika ia mengucapkan semua itu. Luhan merasakan sesuatu telah terjadi pada Sehun tanpa sepengetahuannya.
"Baiklah, kau juga jaga dirimu baik-baik Sehun-ah. Aku akan menunggumu pulang di Seoul."
Sehun tersenyum palsu dan membalikkan tubuhnya. Tidak membiarkan Luhan melihat airmata yang akan segera terjatuh dari matanya.
Seperti yang Sehun katakan, Kris benar-benar datang menjemput Luhan dan mereka pergi ke bandara bersama untuk pulang ke Seoul. Meski Luhan kecewa tidak bisa pulang dengan Sehun, setidaknya ia akan bertemu kekasihnya lusa ketika Sehun telah kembali.
.
.
.
.
.
.
Luhan terus menunggunya. Kekasihnya yang jauh di Kanada untuk segera pulang dan dia akan memeluk Sehun tanpa melepaskannya. Dia merindukan Sehun, meski hanya tidak melihat kekasihnya satu menit saja.
Hari ketujuh Luhan menunggu Sehun. Tapi penantiannya berujung dengan keputusasaan. Sehun membohonginya dan tidak kembali dalam waktu satu hari. Dia khawatir dan juga kecewa. Kekasihnya itu bahkan tidak pernah mengangkat telpon ataupun membalas pesan dari Luhan. "Sehun… ada apa denganmu?"
.
.
.
.
.
To Be Continue. . .
AN : Woooohooo special NC! Bagaimana? HOT? COLD? Atau jelek? Aku kurang bisa nulis bgituan, nulis segini aja sampai harus acak-acak rambut dan bolak-balik kamar mandi. Nista ngebayangin HunHan ML -" Nah berhubung sudah aku turutin naik rate dan NC nya, jadi harus direview hehehe
Konfliknya chapter depan ya xD
Tidak pernah lupa aku ucapkan banyak terimakasih buat kalian para pembaca yang bersedia meluangkan waktu untuk membaca FF absurdku. Terimakasih untuk review, follow dan favoritnya.
See you next chapter.
