Kesadaran Diri, Bagian II
Seluruh basismu masih kepunyaan Rowling.
Dan sekarang kamu akan duduk menjalani Topi Seleksi menyanyikan versinya sendiri dari "My Immortal" Evanescence, yang tak pernah terjadi sebelumnya.
cuma bercanda
… dia penasaran apakah Topi Seleksi benar-benar sadar dalam arti menyadari kesadarannya sendiri, dan jika begitu, apakah dia puas hanya bisa berbicara pada anak umur sebelas setahun sekali. Seperti yang disebut dalam nyanyiannya: Oh, akulah Topi Seleksi dan aku senang sekali, Aku tidur sepanjang tahun dan bekerja hanya sehari …
Ketika ada kesunyian sekali lagi dalam ruangan, Harry duduk di bangku dan dengan hati-hati menempatkan ke atas kepalanya artefak telepatis 800 tahun dari sihir yang terlupakan.
Berpikir, sekeras yang dia bisa: Jangan Seleksi aku dulu! Aku punya pertanyaan yang harus kutanyakan padamu! Apakah aku pernah kena Mantra Obliviate? Apakah dulu kau pernah menyeleksi Pangeran Kegelapan ketika dia masih kecil dan bisakah kau memberitahuku tentang kelemahannya? Bisakah kau memberitahuku kenapa aku memperoleh saudara dari tongkat sihir Pangeran Kegelapan? Apakah hantu Pangeran Kegelapan terkunci dalam lukaku dan itukah alasannya aku bisa sebegitu marah sesekali? Itu adalah pertanyaan-pertanyaan pentingnya, tapi kalau kamu punya waktu lebih bisakah kau memberitahuku apa pun tentang bagaimana menemukan kembali sihir hilang yang dipakai dalam pembuatanmu?
Dalam kesunyian di batin Harry, di mana sebelumnya tak pernah ada suara kecuali satu, muncul suara kedua dan asing, terdengar benar-benar cemas:
"Oh, ya ampun. Ini belum pernah terjadi sebelumnya … ."
Apa?
"Aku sepertinya sudah jadi sadar-diri."
APA?
Ada desahan telepatis tanpa kata. "Walau aku mempunyai sejumlah besar memori dan sejumlah kecil kekuatan pemroses bebas, kecerdasan utamaku berasal dari peminjaman kapasitas kognitif dari anak-anak yang memakaiku. Aku ini dalam esensinya adalah semacam kaca yang merupakan tempat anak-anak Menyeleksi diri mereka sendiri. Tapi kebanyakan anak menganggap remeh tentang Topi yang berbicara pada mereka dan tak ingin tahu tentang bagaimana cara kerja si Topi itu sendiri, jadi kaca itu tidak merefleksikan-diri. Dan khususnya mereka tidak secara eksplisit penasaran apakah aku benar-benar sadar dalam arti menyadari kesadaranku sendiri."
Ada jeda selagi Harry menyerap semua ini.
Oops.
"Ya, memang. Jujur aku tak begitu suka menjadi sadar-diri. Itu tak nyaman. Akan melegakan untuk lepas dari kepalamu dan tak lagi sadar."
Tapi … bukankah itu mati?
"Aku tak peduli atas kehidupan atau kematian, hanya tentang Menyeleksi anak-anak. Dan sebelum kamu bertanya, mereka tidak akan membiarkanmu tetap memakaiku di kepalamu selamanya dan kau akan mati dalam hitungan hari kalau kamu tetap melakukannya."
Tapi─!
"Kalau kamu tak suka menciptakan makhluk yang memiliki kesadaran dan kemudian mematikan mereka seketika, maka aku sarankan supaya kamu tak pernah membicarakan masalah ini pada orang lain. Aku yakin kamu bisa bayangkan apa yang akan terjadi jika kamu berlarian dan mengatakan tentang hal ini dengan seluruh anak-anak lainnya yang menunggu untuk Diseleksi."
Kalau kamu ditempatkan di atas kepala siapa pun yang sedikit saja berpikir tentang pertanyaan apakah Topi Seleksi sadar akan kesadarannya sendiri─
"Ya, ya. Tapi kebanyakan dari anak umur sebelas tahun yang tiba di Hogwarts belum pernah membaca Godel, Escher, Bach. Boleh aku meminta janji kerahasiaanmu? Itulah kenapa kita berbicara tentang ini, bukannya aku sekadar Menyeleksimu begitu saja."
Dia tak bisa langsung melepaskannya seperti itu! Tak bisa cuma melupakan sudah secara tak sengaja menciptakan kesadaran yang pasti mati dan hanya ingin mati─
"Kamu benar-benar sangat mampu untuk 'langsung melepaskan', seperti yang kamu katakan. Tak peduli pertimbangan verbalmu atas moralitas, inti nonverbal emosionalmu tak melihat ada mayat dan tak ada darah; sejauh yang kamu peduli, aku cuma topi yang bisa bicara. Dan walaupun kamu mencoba menekan pikiran itu, pengawas internalmu benar-benar sadar bahwa kamu memang tak bermaksud untuk melakukannya, dan memang tak akan mungkin melakukannya lagi, dan bahwa inti sebenarnya dari usahamu mencoba menyajikan pentas perasaan bersalah adalah untuk menebus rasa pelanggaranmu dangan mempertontonkan suatu penyesalan. Bisakah kamu berjanji saja untuk menjaga ini tetap jadi rahasia dan langsung kita lanjutkan saja?"
Dalam sesaat empati ketakutan, Harry menyadari bahwa perasaan berantakan dalam batin ini pastilah apa yang orang lain rasakan ketika mereka berbicara dengan dirinya.
"Mungkin. Mana sumpah diam darimu, tolong."
Tak bisa janji. Aku jelas tak menginginkan ini terjadi lagi, tapi kalau aku bisa mengetahui satu cara untuk memastikan bahwa tak ada anak di masa depan yang akan pernah melakukan ini secara tak sengaja–
"Itu sudah cukup, kupikir. Aku bisa melihat maksudmu tulus. Sekarang, untuk melanjutkan dengan Seleksi–"
Tunggu! Bagaimana dengan semua pertanyaan lainku?
"Aku adalah Topi Seleksi. Aku Menyeleksi anak-anak. Cuma itulah yang aku lakukan."
Jadi tujuannya bukanlah bagian dari sisi-Harry dalam Topi Seleksi, dan … dia meminjam kecerdasan, dan jelasnya kosakata teknis Harry tapi dia masih memiliki tujuan anehnya sendiri … seperti bernegosiasi dengan alien atau Kecerdasan Buatan …
"Jangan repot-repot. Kamu tak punya apa-apa untuk mengancamku dan tak punya apa pun yang bisa kamu tawarkan padaku."
Dalam waktu kurang dari sedetik, Harry berpikir–
Si Topi merespon dengan geli. "Aku tahu kalau kamu benar-benar tak akan melakukan ancamanmu untuk membongkar keadaanku, dan kau mengutuk kejadian ini sampai berulang kali. Hal ini benar-benar terlalu bertentangan dengan sisi moralmu, entah kebutuhan jangka pendek apa pun darimu yang menginginkan untuk memenangkan argumen ini. Aku melihat seluruh gagasanmu saat mereka mulai terbentuk, apa kau pikir kau bisa menggertakku?"
Walau dia mencoba menekannya, Harry penasaran kenapa Topi tidak langsung saja memasukkannya ke Ravenclaw–
"Memang benar, kalau ini memang segampang itu, aku akan langsung meneriakkannya. Tapi kenyataannya ada banyak hal yang harus kita diskusikan … oh, tidak. Tolong jangan. Demi cinta Merlin, Haruskah kamu melakukan hal macam ini pada semua orang dan semua hal yang kamu temui dan termasuk pada kreasi kain–"
Mengalahkan Pangeran Kegelapan bukan keinginan egois ataupun jangka pendek. Seluruh bagian pikiranku sepakat atas ini: Kalau kau tak menjawab pertanyaan-pertanyaanku, aku menolak berbicara denganmu, dan kau tidak akan bisa melakukan Seleksi dengan baik dan layak.
"Aku harusnya menempatkanmu di Slytherin untuk itu!"
Namun itu juga sama saja suatu ancaman kosong. Kau tak bisa memenuhi nilai fundamentalmu sendiri dengan salah melakukan seleksi atasku. Jadi mari kita bertukar penggenapan fungsi kegunaan kita.
"Kau jahanam kecil licik," kata si Topi, dalam apa yang Harry kenali hampir sama persis seperti nada dendam-hormat yang dia akan lakukan kalau ada di situasi yang sama. "Baiklah, mari kita selesaikan ini secepatnya. Tapi pertama aku menginginkan sumpah tanpa syaratmu untuk tak pernah membicarakan dengan siapa pun juga tentang kemungkinan pemerasan macam ini. Aku TIDAK akan melakukan ini lagi."
Selesai, pikir Harry. Aku janji.
"Dan jangan menatap mata siapa pun waktu kamu memikirkan tentang ini nanti. Beberapa penyihir bisa membaca pikiranmu kalau kamu lakukan. Bagaimanapun aku tak tahu apakah kamu sudah pernah terkena Mantra Obliviate atau belum. Aku melihat pikiranmu saat mereka terbentuk, bukan membaca seluruh memorimu dan menganalisisnya untuk mencari ketidakkonsistenan dalam hitungan kurang dari sedetik. Aku ini topi, bukan dewa. Dan aku tak bisa dan tidak akan memberitahumu tentang percakapanku dengan dia yang nantinya akan jadi Pangeran Kegelapan. Aku hanya bisa tahu, waktu berbicara denganmu, ringkasan statistik dari apa yang aku ingat, suatu rata-rata tertimbang; aku tak bisa membocorkan padamu rahasia tersembunyi dari anak lainnya, sama seperti aku juga tak akan pernah membocorkan rahasiamu. Untuk alasan yang sama, aku tak bisa berspekulasi atas bagaimana kamu mendapatkan saudara tongkat sihir Pangeran Kegelapan, karena aku tak bisa secara spesifik mengetahui tentang Pangeran Kegelapan atau kesamaan antara kalian. Aku bisa memberitahumu bahwa jelas tak ada yang seperti hantu–pikiran, kecerdasan, ingatan, personalitas, atau perasaan– dalam bekas lukamu. Kalau tidak hal itu akan ikut berpartisipasi dalam percakapan ini, berada di bawah pengaruhku. Dan untuk kenapa kamu bisa marah sesekali … itu adalah bagian dari apa yang ingin kubicarakan denganmu, untuk urusan Seleksi."
Harry mengambil waktu untuk menyerap seluruh informasi negatif ini. Apakah Topi sudah berkata jujur atau hanya mencoba untuk menyajikan jawaban meyakinkan sesingkat mungkin–
"Kita berdua tahu kalau kamu tak punya cara untuk menguji kejujuranku dan bahwa kamu tidak akan benar-benar menolak untuk Diseleksi berdasarkan jawaban yang kuberikan padamu, jadi hentikan rewel tak bergunamu dan lanjutkan saja."
Telepati asimetris tak adil bodoh, bahkan tak membiarkan Harry menyelesaikan berpikir sendiri–
"Waktu aku berbicara mengenai kemarahanmu, kau mengingat bagaimana Profesor McGonagall memberitahumu bahwa dia terkadang melihat sesuatu di dalammu yang tidak seperti yang muncul dari keluarga bahagia. Kau memikirkan bagaimana Hermione, setelah kamu kembali dari menolong Neville, berkata padamu bahwa kamu terlihat 'menakutkan'."
Harry memberi anggukan batin, dia merasa cukup normal–hanya bereaksi pada situasi yang ada di hadapannya, cuma itu. Tapi Profesor McGonagall sepertinya berpikir bahwa ada yang lebih dari itu. Dan ketika dia memikirkannya, bahkan dia harus mengakuinya … .
"Bahwa kamu tak menyukai dirimu sendiri ketika kamu marah. Itu bagaikan memegang satu pedang yang gagang pegangannya cukup tajam untuk mencabut darah dari tanganmu, atau melihat ke arah dunia melalui kacamata es yang membekukanmu walau itu juga menajamkan pandanganmu."
Yeah. Kupikir aku juga menyadari hal itu. Jadi ada apa dengan itu?
"Aku tak bisa memahami masalah ini untukmu, ketika kamu sendiri tidak paham. Tapi aku memang mengetahui hal ini: Kalau kamu masuk ke Ravenclaw atau Slytherin, itu akan memperkuat sikap dinginmu. Kalau kamu masuk ke Hufflepuff atau Gryffindor, itu akan memperkuat sikap hangatmu. ITU adalah sesuatu yang benar-benar sangat aku perhatikan, dan itulah hal yang ingin aku bicarakan denganmu dari tadi!"
Kata-kata itu jatuh ke dalam proses pemikiran Harry dengan kejutan yang menghentikannya di jalurnya. Itu terdengar seperti respon yang jelas adalah bahwa dia tidak boleh masuk Ravenclaw. Tapi dia tergolong dalam Ravenclaw! Siapa pun bisa lihat hal itu! Dia harus masuk ke Ravenclaw!
"Tidak, tidak harus," kata si Topi dengan sabar, seolah dia bisa mengingat ringkasan statistik dari bagian ini atas percakapan yang sudah terjadi berulang-ulang kali.
Hermione ada di Ravenclaw!
Sekali lagi dengan perasaan sabar. "Kau bisa bertemu dengannya setelah pelajaran dan bekerja dengannya di waktu itu."
Tapi rencana-rencanaku–
"Ya rencanakan ulang! Jangan biarkan hidupmu dikendalikan oleh keenggananmu melakukan sedikit pemikiran ekstra. Kau tahu itu."
Ke mana aku harus masuk, kalau bukan Ravenclaw?
"Ahem. 'Anak cerdas di Ravenclaw, anak jahat di Slytherin, anak sok pahlawan di Gryffindor, dan semua yang benar-benar bekerja di Hufflepuff.' Ini menunjukkan sejumlah rasa hormat. Kamu benar-benar tahu kalau Ketelitian adalah sama pentingnya dengan kecerdasan murni dalam menentukan hasil akhir kehidupan, kau pikir kau akan benar-benar loyal pada temanmu kalau kamu sampai memilikinya, kau tidak takut dengan prediksi bahwa masalah ilmiahmu mungkin akan butuh puluhan tahun untuk diselesaikan–"
Aku ini pemalas! Aku benci kerja! Benci kerja keras dalam bentuk apa pun! Jalan pintas cerdas, itulah jalanku!
"Dan kamu akan menemukan kesetiaan dan persahabatan di Hufflepuff, persaudaraan yang kamu belum pernah rasakan sebelumnya. Kau akan temukan bahwa kau bisa mengandalkan orang lain, dan bahwa itu akan menyembuhkan sesuatu di dalammu yang rusak."
Sekali lagi itu adalah suatu kejutan. Tapi apa yang akan para Hufflepuff temukan di dalamku, yang tak pernah tergolong dalam Asrama mereka? Kata-kata masam, kecerdasan tajam, penghinaan atas ketidakmampuan mereka untuk mengimbangiku?
Sekarang giliran pikiran Topi yang berjalan lambat, ragu-ragu. "Aku harus Menyeleksi untuk kebaikan seluruh murid di dalam semua Asrama … namun aku pikir kamu bisa belajar untuk menjadi Hufflepuff yang baik, dan tak terlalu janggal di sana. Kamu akan lebih bahagia di Hufflepuff daripada di Asrama yang lain; itu adalah kenyataannya."
Kebahagiaan bukanlah hal terpenting di dunia untukku. Aku tak akan menjadi seluruh yang bisa aku capai, di Hufflepuff. Aku akan mengorbankan potensiku.
Si Topi tersentak; Harry bisa merasakannya entah bagaimana. Itu bagaikan dia menendang si topi tepat di selangkangannya–dalam komponen yang sangat diperberat dari fungsi kegunaannya.
Kenapa kamu mencoba mengirimku ke tempat yang bukan tempatku?
Pikiran si Topi sudah hampir jadi bisikan. "Aku tak bisa membicarakan tentang orang lain kepadamu–namun apakah kamu pikir kalau kamu adalah calon Pangeran Kegelapan pertama yang berlalu di bawahku? Aku tak bisa mengenali kasus-kasus individu, namun aku jelas tahu ini: Dari mereka yang tidak memiliki niat jahat dari sejak awal pertama, beberapa dari mereka mendengarkan peringatanku, dan masuk ke dalam Asrama-Asrama di mana mereka akan menemukan kebahagiaan. Dan beberapa dari mereka … beberapa dari mereka tidak."
Itu menghentikan Harry. Tapi tidak lama. Dan dari mereka yang tidak mengindahkan peringatan itu–apakah mereka semua menjadi Pangeran Kegelapan? Ataukah beberapa dari mereka mencapai kebesaran untuk kebaikan, juga? Berapa persentase pastinya di sini?
"Aku tak bisa memberimu statistik pastinya. Aku tak bisa mengenali mereka hingga aku bisa menghitung mereka. Aku cuma tahu bahwa peluangmu tidak terasa baik. Mereka terasa sangat tidak-baik."
Tapi aku tak akan pernah melakukan itu! Tak akan!
"Aku tahu aku pernah mendengar pernyataan itu sebelumnya."
Aku bukan calon Pangeran Kegelapan!
"Ya, kamu memang. Kamu sungguh, benar-benar memang."
Kenapa? Hanya kerena aku sempat berpikir bahwa akan keren kalau aku mempunyai pasukan pengikut tercuci otak yang menyorakkan 'Sambut Pangeran Kegelapan Harry'?
"Menarik, tapi itu bukanlah pikiran pertamamu yang muncul sebelum kamu menggantinya dengan sesuatu yang lebih aman dan tak begitu merusak. Tidak, yang kamu ingat adalah bagaimana kamu mempertimbangkan membariskan seluruh penganut darah murni dan meng-guillotine mereka semua. Dan sekarang kamu memberi tahu dirimu sendiri kalau kamu tak serius, tapi kamu memang. Kalau kamu bisa melakukan itu tepat di saat ini dan tak ada orang yang akan tahu, kamu akan lakukan. Atau apa yang kamu lakukan pagi ini pada Neville Longbottom, jauh di lubuk hati kamu tahu bahwa itu salah tapi kamu tetap lakukan juga karena itu menyenangkan dan kamu punya alasan bagus dan kamu berpikir kalau Anak Laki-Laki yang Bertahan Hidup bisa lepas darinya–"
Itu tak adil! Sekarang kamu cuma menyeret ketakutan batin yang belum tentu nyata! Aku cemas kalau aku mungkin memikirkannya seperti itu, tapi pada akhirnya aku memutuskan kalau itu mungkin bekerja dalam menolong Neville–
"Itu, kenyataannya, hanya suatu rasionalisasi. Aku tahu. Aku tak tahu apa hasil akhir sebenarnya untuk Neville–tapi aku tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepalamu. Tekanan penentu adalah bahwa itu adalah suatu ide yang sebegitu cerdas kau tak sanggup untuk tak melakukannya, tak peduli ketakutan Neville."
Itu bagaikan pukulan keras pada seluruh diri Harry. Dia terjatuh, lalu mengerahkan:
Kalau begitu aku tak akan melakukan itu lagi! Aku akan benar-benar berhati-hati supaya tak jadi jahat!
"Sudah pernah dengar."
Frustasi mulai menumpuk di dalam Harry. Dia tidak terbiasa diungguli dalam argumen, sama sekali, tak pernah, apalagi oleh satu Topi yang bisa meminjam seluruh pengetahuannya dan kecerdasannya untuk berdebat dengannya dan bisa melihat seluruh gagasannya saat mereka terbentuk. Lagipula, dari ringkasan statistik macam apa asal 'perasaanmu' itu? Apakah itu juga mempertimbangkan bahwa aku datang dari budaya Pencerahan, ataukah para calon Pengeran Kegelapan ini merupakan cuma anak-anak manja dari kaum bangsawan Zaman Kegelapan, yang tak tahu secuil pun tentang pelajaran sejarah tentang bagaimana akhirnya nasib Lenin dan Hitler, atau tentang psikologi evolusioner atas penipuan-diri, atau nilai dari kesadaran-diri dan rasionalitas, atau–
"Tidak, tentu saja mareka tidak ada dalam kelas referensi baru yang baru saja kau buat dalam suatu cara yang hanya meliputi dirimu saja. Dan tentu saja yang lain sudah mengutarakan pengecualian mereka sendiri, sama seperti yang kamu lakukan sekarang. Namun apakah itu penting? Apakah kamu pikir bahwa kamu adalah calon terakhir penyihir Cahaya di dunia? Kenapa hanya kamu satu-satunya yang harus berikhtiar atas kebesaran, waktu aku sudah menasihatimu bahwa kamu lebih beresiko dari kebanyakan? Biarkan yang lain, kandidat yang lebih aman mencoba!"
Tapi ramalannya …
"Kamu tak benar-benar tahu apakah memang ada ramalan. Itu sebenarnya hanya tebakan liar darimu saja, atau untuk lebih tepatnya, gurauan liar, dan McGonagall bisa jadi cuma bereaksi hanya kepada bagian tentang Pangeran Kegelapan masih hidup. Kamu sebenarnya tak tahu apa pun tentang apa yang dikatakan oleh ramalan itu atau apakah itu memang ada. Kamu cuma berspekulasi, atau untuk lebih tepatnya, berharap bahwa kamu punya satu peran pahlawan yang sudah disiapkan khusus hanya untukmu."
Tapi kalaupun memang tak ada ramalan, akulah orang yang mengalahkannya terakhir kali.
"Itu sudah hampir pasti satu kebetulan belaka kecuali kamu benar-benar percaya bahwa anak umur satu tahun punya kecenderungan bawaan untuk mengalahkan Pangeran Kegelapan yang harus terjaga sepuluh tahun kemudian. Semua ini bukan alasanmu yang sebenarnya dan kamu tahu itu!"
Jawaban atas ini adalah sesuatu yang Harry tak akan katakan keras-keras di depan umum, dalam percakapan dia akan mengitarinya dan menemukan argumen yang lebih cocok secara sosial untuk kesimpulan yang sama–
"Kamu pikir kalau kamu adalah calon dari satu yang terbesar yang pernah ada, pelayan Cahaya terkuat, yang tak ada orang lain yang mampu mengangkat tongkatmu kalau kamu meninggalkannya."
Memang … yeah, jujur. Aku tidak biasanya langsung keluar dan berkata seperti itu, tapi yeah. Tak ada gunanya memperhalus, toh kau bisa membaca pikiranku juga.
"Sampai ke titik di mana kamu benar-benar percaya bahwa … kamu harus sama percayanya bahwa kamu bisa menjadi Pangeran Kegelapan paling kejam yang pernah ada di dunia."
Kehancuran selalu lebih mudah dari penciptaan. Lebih mudah untuk mencabik-cabik, merusak, daripada mempersatukan kembali. Kalau aku punya potensi untuk mencapai sesuatu yang baik dalam skala masif, aku juga harus punya potensi untuk mencapai kejahatan yang lebih besar … . Tapi aku tak akan lakukan itu.
"Dan tetap kamu bersikeras untuk mempertaruhkannya! Kenapa kamu sebegitu ngotot? Apa alasanmu yang sebenarnya yang mengharuskanmu untuk tidak masuk Hufflepuff dan jadi lebih bahagia di sana? Apa ketakutanmu yang sebenarnya?"
Aku harus mencapai potensi maksimalku. Kalau tidak aku … gagal … .
"Apa yang akan terjadi kalau kamu gagal?"
Sesuatu yang menakutkan … .
"Apa yang akan terjadi kalau kamu gagal?"
Aku tak tahu!
"Kalau begitu itu harusnya tak menakutkan. Apa yang akan terjadi kalau kamu gagal?"
AKU TAK TAHU! TAPI AKU TAHU BAHWA ITU SESUATU YANG BURUK!
Ada kesunyian untuk sesaat dalam gua di dalam pikiran Harry.
"Kamu tahu–kamu tidak membiarkan dirimu memikirkannya, tapi di suatu sudut sunyi di pikiranmu kamu tahu persis apa yang tak kamu pikirkan–kamu tahu bahwa dengan penjelasan paling sederhana atas ketakutan tak terkatakan milikmu ini hanyalah ketakutan atas kehilangan fantasi dari keagunganmu, atas mengecewakan orang-orang yang sudah percaya padamu, atas keadaan kalau ternyata kamu itu cuma biasa-biasa saja, atas berkejap lalu memudar seperti banyak anak prodigi lainnya … ."
Tidak, pikir Harry dengan putus asa, tidak, itu sesuatu yang lebih, itu berasal dari suatu tempat yang lain, aku tahu ada sesuatu di luar sana yang harus ditakuti, suatu malapetaka yang harus kuhentikan … .
"Bagaimana mungkin kamu bisa tahu sesuatu seperti itu?"
Harry berteriak dengan seluruh kekuatan pikirannya: TIDAK, DAN ITU YANG TERAKHIR!
Kemudian suara dari si Topi Seleksi datang dengan perlahan:
"Jadi kamu mempertaruhkan kemungkinan untuk menjadi Pangeran Kegelapan, karena alternatifnya, untukmu, adalah kegagalan pasti, dan kegagalan itu berarti kehilangan segalanya. Kamu mempercayainya di dasar lubuk hatimu yang terdalam. Kamu tahu semua alasan untuk meragukan kepercayaan ini, dan semuanya gagal merubah pikiranmu."
Ya. Dan kalaupun masuk ke Ravenclaw akan memperkuat sikap dinginku, itu tak berarti bahwa dingin itu akan menang pada akhirnya.
"Hari ini adalah percabangan penting dalam takdirmu. Jangan sebegitu yakin kalau akan ada pilihan lain setelah yang satu ini. Tidak akan ada penunjuk jalan, yang menandai tempat terakhir mu untuk kembali. Kalau kamu menolak satu kesempatan apakah kamu akan tidak menolak kesempatan yang lain? Bisa jadi takdirmu sudah terkunci, bahkan hanya dengan melalui satu perkara kecil ini."
Tapi itu masih belum pasti.
"Bahwa kamu tidak tahu dengan pasti hanya menunjukkan pengabaianmu sendiri."
Tapi tetap itu masih belum pasti.
Si Topi melepas satu desahan yang teramat sedih
"Dengan demikian tidak lama kamu akan menjadi ingatan lain, untuk pernah dirasa dan tak pernah dikenali, dalam peringatan selanjutnya yang aku berikan … ."
kalau memang seperti itu yang terlihat padamu, lalu mengapa tidak langsung kamu tempatkan aku di mana kamu mau aku pergi?
Pikiran si Topi saat ini tercampur dengan duka. "Aku hanya bisa menempatkanmu di mana kamu ditakdirkan. Dan hanya keputusanmu sendiri yang mampu merubah ke mana kamu ditakdirkan."
Maka ini sudah selesai. Kirim aku ke Ravenclaw di mana aku ditakdirkan, bersama yang lain yang sama sepertiku.
"Aku pikir aku tak bisa mambuatmu mempertimbangkan Gryffindor? Itu adalah Asrama paling bergengsi–orang-orang mungkin mengharapkan kamu memasukinya, bahkan–mereka akan sedikit kecewa kalau kamu tidak masuk–dan teman-teman barumu si kembar Weasley juga di sana–"
Harry tertawa kecil, atau merasakan dorongan untuk melakukannya; itu keluar murni sebagai tawa batin, sensasi yang aneh. Sepertinya ada penjagaan untuk mencegahmu mengatakan dengan lantang secara tak sengaja, ketika kamu ada di bawah Topi berbicara tentang hal-hal yang tak akan kamu beritahu satu orang pun selama kamu hidup.
Setelah satu saat, Harry mendengar di Topi tertawa juga, suara sedih aneh dari kain.
(Dan di Aula di luar, kesunyian sudah jadi lebih dangkal pada awalnya saat bisikan-bisikan di latar belakang bertambah, dan kemudian mendalam saat bisikan-bisikan itu menyerah dan lalu menghilang, jatuh akhirnya pada suatu kesunyian pekat yang tak ada satu pun berani ganggu dangan sepatah kata pun, saat Harry berada di bawah Topi untuk banyak menit, menit panjang, lebih panjang dari seluruh murid tahun pertama sebelumnya dijumlahkan, lebih lama dari siapa pun dalam ingatan. Di Meja Utama, Dumbledore terus tersenyum ramah; suara metalik kecil sesekali datang dari arah Snape saat dia dengan santai memampatkan sisa terpilin dari benda yang dulunya adalah gelas anggur perak berat; dan Minerva McGonagall mencengkeram podium dengan tangan yang memutih, tahu bahwa kekacauan menular Harry Potter entah bagaimana sudah menjangkiti Topi Seleksi itu sendiri dan si Topi sedang akan, akan meminta satu Asrama Maut baru diciptakan hanya untuk mengakomodasi Harry Potter atau apa, dan Dumbledore akan memaksanya melakukan itu …)
Di bawah si Topi, tawa sunyi perlahan menghilang. Harry juga merasa sedih untuk alasan tertentu. Tidak, bukan Gryffindor.
Profesor McGonagall berkata bahwa kalau 'dia yang melakukan Seleksi' mencoba mendorongku masuk Gryffindor, aku disuruh mengingatkanmu bahwa dia bisa jadi akan menjabat Kepala Sekolah suatu hari, yang berarti dia akan punya kekuasaan untuk membakarmu.
"Katakan padanya aku memanggilnya anak muda kurang ajar dan katakan padanya untuk menjauhi pekaranganku."
Akan kulakukan. Jadi apakah ini percakapan paling aneh yang pernah kau lakukan?
"Tidak sedikit pun." Suara telepatis si Topi jadi semakin berat. "Yah, aku sudah memberimu seluruh peluang untukmu mengambil keputusan lain. Sekarang adalah saatnya untukmu pergi ke tempatmu, bersama mereka yang sama sepertimu."
Ada jeda memanjang.
Apa yang kamu tunggu?
"Aku cuma menanti untuk saat kesadaran ngeri, sebenarnya. Kesadaran-diri memang sepertinya memperkuat rasa humorku."
Huh? Harry mengingat lagi dalam pikiran, mencoba mencari tahu apa yang sedang dibicarakan si Topi–dan kemudian, tiba-tiba, dia sadar. Dia tak percaya dia bisa tak menyadarinya sampai sekarang.
Maksudmu kesadaran ngeriku bahwa kamu akan tak lagi sadar begitu kamu selesai Menyeleksiku–
Entah bagaimana, dalam gaya yang Harry benar-benar tak paham, dia memperoleh impresi nonverbal dari topi yang membenturkan kepalanya ke dinding. "Aku menyerah. Kamu benar-benar terlalu lambat untuk membuatnya jadi lucu. Sebegitu terbutakan oleh asumsimu sendiri hingga kamu sama saja seperti batu. Kupikir aku harus langsung saja mengatakannya."
Terlalu l-l-lambat–
"Oh, dan kamu benar-benar melupakan untuk meminta rahasia sihir terlupakan yang membuatku. Dan itu benar-benar rahasia luar biasa, penting, juga."
Kau JAHANAM kecil licik–
"Kamu layak mendapatkannya, dan juga yang ini."
Harry menyadarinya saat itu sudah terlambat.
Kesunyian menakutkan di aula dirusak dengan satu kata.
"SLYTHERIN!"
Beberapa murid menjerit, ketegangan yang terpendam sudah sebegitu besar. Orang-orang terkejut sebegitu keras hingga mereka terjatuh dari bangku. Hagrid tercekat dalam ngeri, McGonagall terhuyung-huyung di podium, dan Snape menjatuhkan sisa gelas perak beratnya tepat ke selangkangannya.
Harry duduk di sana terpaku, hidupnya sudah hancur, merasa benar-benar konyol, dan berharap sebegitu keras bahwa dia membuat pilihan lain atas alasan yang lain dari yang sudah dia buat. Bahwa dia melakukan sesuatu, apa pun yang berbeda sebelum itu terlambat untuk berbalik.
Saat momen pertama keterkejutan mulai memudar dan orang-orang mulai bereaksi pada berita ini, Topi Seleksi berkata lagi:
"Cuma bercanda! RAVENCLAW!"
