Captivated
.
Chapter 10
— Hold Me Tight —
.
.
© Alestie
.
.
It hurts; I'm so exhausted without you
I know it will soon be our last, but I can't seem to let you go
don't leave, just quietly hold me.
.
.
Story:
.
Jeon Jungkook tidak pernah menceritakan perihal insiden yang tak pernah ingin diingatnya kembali ketika di Los Angeles satu tahun silam. Tidak pernah. Dan tidak akan pernah.
Kecuali pada kedua orang tuanya.
Kepada ketikan menyedihkan di ponselnya.
Dan kepada senior yang dengan kurang ajar meretas sandi di ponselnya dan membaca segalanya.
Kim Taehyung.
Dua bulan semenjak Jungkook mengundurkan diri dari klub sepak bolanya; dan dua bulan pula semenjak Kim Taehyung memutuskan hubungan dengannya sama sekali tanpa menitahkan setitikpun penjelasan.
Entah kenapa, walaupun menyakitkan dan begitu sulit ketika teringat; Jungkook tak menangisi apapun lagi.
Karena Jeon Jungkook mampu hidup tanpa seorang Kim Taehyung.
"Aku tidak membutuhkanmu, Hyung."—adalah bagaimana Jungkook memantrai dirinya sendiri ketika sudut matanya tanpa sengaja menangkap sosok Taehyung; nampak begitu sulit untuk didekati dan selalu menderap langkah seorang diri.
Setiap kali.
ェェェェ
Los Angeles, 2009 Mei.
Seharusnya Jungkook tidak pernah mengetes keberuntungannya hanya karena berhasil mengemudi Ford Mustang pemberian Ayahnya straight dari Chicago ke Seattle dengan selamat, kemudian kembali lagi ke flatnya bersama sekelompok kawanannya di kelas menari. Jungkook orang yang supel dan pandai bicara; namun karena itu pulalah ia mudah terbawa arus. Ia tetap menjadi anak baik-baik yang anti dengan hidup hura-hura dan free-sex ala California. Tetapi soal hang out, Jungkook selalu bisa menoleransi dirinya sendiri. Mengapa ia harus menahan diri ketika Hollywood, Universal, Downtown, hingga Venich begitu dekat dalam jangkauannya?
Ayahnya membelikannya mobil mewah dengan begitu permisif.
Dan bagi Jungkook, itu adalah implikasi dari lampu hijau terbaik.
Namun tidak lagi. Ketika Jungkook justru tergeletak tak berdaya di Cedars-Sinai dengan tujuh fraktur vertebra, dua fraktur sternum non-displasia, efusi selaput jantung, abrasi dan memar pada otot kardiovaskular. Kerusakan ekstrenalnya tidak fatal; diagnosa mengatakan bahwa patahnya akan cepat regenerasi dilihat dari respon hormonal tubuh Jungkook yang luar biasa terhadap medikasi. Pembuluh aortanya sempat sobek; namun ditangani dengan cekatan sebelum ruptur.
Melalui tes elektrokardiagram, ekokardiogram, CT-Scan, hingga Troponin-1—akhirnya Jeon Jungkook divonis mengidap Kontusio Miokardistik.
Tidak kronis; masih bisa melakukan hobi olahraganya asalkan dalam porsi yang distandarisasi oleh dokter bedahnya. Keseluruhan aktivitas hariannya tidak akan banyak berubah, kecuali kekebalan tubuh yang menurun dan mudah sakit ketika terlalu lelah dan deprivasi tidur. Selain itu, Jungkook tak mengalami cacat tubuh apapun dan segenap tampak luarnya utuh tanpa cela.
Tetapi bayaran atas keberuntungannya yang di luar akal sehat,
Jungkook harus mengimplantasi defibrillator artifisial intra-aortik menembus arteri femoralis hingga desendensnya, rutin medical check-up, dan terapi untuk menstimulasi tekanan diastolik atrial dan ventrikelnya,
—serta bergantung pada obat-obatan seumur hidupnya.
ェェェェ
Bagi Jungkook, Kim Taehyung adalah pecundang terbesar yang bersembunyi di balik topengnya yang penuh dusta. Taehyung tidak menepati janjinya untuk lebih sering berangkat ke kelas; presensinya menurun drastis. (Dan mungkin Jungkook akan merutuki dirinya sendiri mengapa ia masih saja menanyakan perihal keberangkatan Taehyung kepada Hoseok dan Yoongi diam-diam). Namun selain itu, Kim Taehyung menghidupi harinya dengan wajar. Sering terlambat, disetrap di depan kelas, berjalan ke atap seorang diri, dan bolak-balik ruang BP dengan diseret Park-saem dengan dijewer telinganya (mungkin kepergok merokok lagi). Ketika pandangan Jungkook tidak sengaja menemukan binar Taehyung dan bersitatap; maka Jungkook akan menjadi yang pertama mengalihkan sorot matanya di antara mereka berdua.
Sedangkan Jungkook, putar balik hidupnya juga kembali ke titik awal.
Matanya hanya menatap datar, berusaha mengukirkan senyum sementara wanita dengan postur semampai dan rambut selembut sutera itu tergagap di hadapannya.
"Jeon Jungkook-ssi, aku tahu kita tidak pernah berbincang sebelumnya. Tapi sejak dulu, a-aku—aku mengagumimu," lirih dan malu-malu, wajahnya terangkat, "—aku menyukaimu."
Kepopuleran Jungkook memang melambung di kalangan yeoja di setiap angkatan, tetapi sebelumnya tidak banyak yang cukup berani untuk menyatakan cinta kepadanya. Gadis di hadapannya adalah yang keempat dalam tiga hari terakhir; dan ketika Jungkook menanyakan alasannya, garis besar jawabannya selalu sama.
"Uh, sebenarnya aku sudah menyukaimu sejak lama. Tapi dulu—well, kau tampak begitu jauh dan terlihat seperti sangat sulit untuk dijangkau. Kupikir—dulu, kupikir kau sedikit—erm, konservatif?" Gadis itu tertawa canggung, mengibaskan tangannya malu, "Tapi kau tahu, semenjak penampilan barumu—gaya kerenmu, cara berpakaianmu dan bagaimana sebenarnya kau sedikit liar," lagi-lagi gadis itu menahan senyumnya, "—aku mulai melihatmu sebagai orang yang berbeda, Jungkook-ssi. Kau terbuka dan tampak begitu bersinar."
Begitu menggelikannya ketika rombakan penampilannya yang begitu bodoh dapat merubah persepsi orang tentang dirinya. Rasa segan yang biasa ditemukannya dalam bola mata kawan sekelasnya, mulai luntur menjadi canda tawa penuh solidaritas. Rangking bawah yang tadinya begitu malas berinteraksi dengannya mulai berani meminjam catatannya. Segalanya bagai menampar Jungkook dan menyadarkannya. Betapa terus-terusan mengkhawatirkan reputasinya membuat Jungkook buta akan apa yang seharusnya dimilikinya sejak dulu.
"Jungkook-ssi, kau kemarin anggota komite Festival Tahunan, 'kan? Well, ini soal kepanitiaan acara Open House minggu kemarin," gadis yang tiba-tiba menghampirinya itu menarik napas kasar, "Aku tidak tahu bagaimana, tapi setelah aku cross-check faktur dengan laporan pendanaannya, keduanya tidak sinkron. Parahnya defisit. Tadinya nominalnya tidak segitu—sumpah! Ayolah, kau harus membantuku! Aku tidak bisa menyerahkan rincian budgeting jika tertangkap ada window-dressing pada—"
"Eunsoo-ssi," Jungkook menyela dengan senyuman sopan, "Jika soal mekanisme umum, aku masih bisa membantu. Tapi jika sudah sejauh itu, aku tidak memegang tanggung jawab yang cukup untuk intervensi. Bagaimana jika kau diskusikan saja pada Departemen Keuangan? Larilah ke sunbaemu daripada kepada orang luar sepertiku." Intonasinya rendah, tetapi menikam.
Gadis itu menyalangkan mata tidak percaya, "Mana bisa! Kalau sunbaeku tahu—"
"Jika tidak ada urusan lain, saya permisi."
Segalanya menyadarkan Jungkook jika ia tidak pantas menjadi pesuruh semua orang; bahwa kebaikan hatinya bukan tercipta untuk dimanfaatkan seperti orang dungu. Menjadi anjing guru adalah bagaimana Kim Taehyung mencercanya dengan begitu keji selama ini, namun sekaligus menarik kembali warasnya bahwa Jungkook pantas untuk menghidupi kehendaknya sendiri, menjadi dirinya sendiri tanpa harus dibebani oleh ekspektasi apapun.
Kim Taehyung telah melepaskan belenggu dari jerat kakinya.
Kim Taehyung telah merubah hidupnya.
ェェェェ
Mungkin Jungkook orang bodoh karena betapapun ia berusaha menafikkannya, otaknya bekerja tanpa proses tatkala gendangnya mendengar sekelompok senior yang mengolok-olok Taehyung dengan begitu buruk di kantin siang itu. Mungkin Jungkook orang bodoh karena ia merasa begitu marah dan tidak rasional, tetapi jantungnya membisik jika Taehyung sama sekali tak layak menerima cercaan. Mungkin Jungkook orang bodoh ketika ia tak lagi mengenal pengendalian emosi dan memulai keributan nekat dengan lima orang seniornya. Mungkin Jungkook orang bodoh ketika Jimin di sampingnya berusaha menahan kepal tangannya tetapi Jungkook justru menghempas tubuh Jimin hingga tersungkur. Mungkin Jungkook orang bodoh ketika yang ia inginkan hanya kelima seniornya untuk mencabut kembali segala hinaan yang mengata-ngatai Taehyung seperti sampah tak bernilai dan menuntut sebuah permintaan maaf dari mulut mereka.
Mungkin Jungkook orang bodoh karena ia begitu ingin membela Taehyung, walau hatinya berulang kali menjerit bahwa semua ini tak akan ada gunanya.
Dan Jungkook merasa sungguh bodoh ketika ia duduk seorang diri di kursi penghakiman BP dengan wajah menunduk dan tak sanggup mengucapkan pembelaan apapun. Bahkan ketika Surat Peringatan Satu nyaris dituliskan atas namanya.
Hingga napasnya tersentak dan terlonjak ketika mendengar debrak pintu ruangan ditendang dengan begitu anarkis dari balik tubuhnya. Obsidian kembar Jungkook yang semula kosong, kini melebar dengan kilatan kerinduan menyaksikan sesosok yang begitu familiar dalam seutuh hidupnya tengah berdiri dengan begitu sempurna di depan matanya.
"Dimana seragammu, Tuan Kim?" wajah Park-sunsaengnim mengeras seketika, menggeram.
"Cerewet."
Seolah datang entah darimana, Kim Taehyung muncul dari ambang pintu dengan napas terengah dan alis menukik penuh amarah. Bahkan ia tak mengenakan seragamnya; hanya kaus polos dan jins, dengan beraninya datang ke sekolah di tengah hari tanpa memasuki satupun kelasnya. Taehyung melangkah lebar dan melenggang dengan kurang ajar menuju meja BP. Tepat di hadapan gurunya, Taehyung menggebrak material kaca itu dengan kasar. Sebelah tangannya menunjuk Jungkook tanpa sedikitpun melirik ke arahnya, sorot setajam elangnya hanya mematri di kedua bola mata gurunya yang jengah dan luar biasa kesal.
"Bocah keparat ini," suara Taehyung mendesis, ia menggeritkan giginya, "—aku yang menyuruhnya."
Dan mungkin Jungkook orang bodoh karena relung hatinya selalu tahu bahwa Taehyung pasti akan datang kapanpun Jungkook membutuhkannya; kapanpun ia tak sanggup menghadapi apapun seorang diri, kapanpun ia terjepit dan tak satupun orang berdiri dan berperang untuknya.
Bahkan ketika ucapannya mati tergugu kala Taehyung menerima segala tuduhan atas kesalahan yang diperbuatnya; ketika Taehyung menerima hukuman dan konsekuensi dari sesuatu yang namja itu tak pernah melakukannya, bahkan ketika Taehyung harus di skors sebagai pengganti atas dirinya.
Karena sebrengsek apapun Taehyung di depan matanya, sebajingan apapun Taehyung dilihat semua orang—
—Kim Taehyung adalah satu-satunya matahari bagi Jeon Jungkook.
ェェェェ
"Hyung."
"Hyungie…,"
"Taehyung… Taehyungie-hyu—"
"Berisik!" Taehyung menepis gamitan di lengan kausnya dengan kasar, keningnya mengernyit tidak suka dengan manik yang mengerikan, "Jangan mengikutiku, Brengsek. Aku tidak mengenalmu." Wajahnya cepat mengalih lagi dan buru-buru mengambil langkah lebar menjauh.
Karena setelah lebih dari dua bulan Jungkook mengebaskan dirinya, kini lidahnya terlalu kelu bahkan untuk mengeja nama Taehyung dengan sepenuh hatinya. Dengan cepat, Jungkook menyentak pergelangan tangan hyungnya, berharap Taehyung berhenti kabur darinya dan menghapus jarak menyiksa yang diciptakannya sendiri. Karena ini tidak masuk akal; karena seharusnya bukan begini kisah keduanya harus bermuara.
Kali ini, Taehyung menghentikan langkahnya. Ia membuang napas kasar, "Dengar," kini ia membalikkan tubuhnya, ekspresinya masih bergurat kesal tampak begitu kejam, "Aku tidak suka sekolah. Aku senang bisa di skors. Kau paham, sekarang?" ucapnya setengah menggeram.
Bibir Jungkook sudah gemetar dengan kedua matanya yang entah sejak kapan mulai menggenang. Melihat badai di bola mata indah Taehyung membuat dada Jungkook terasa begitu perih dan sesak tercekik. Begitu banyak luka di balik pupil hyungnya dan Jungkook seakan dapat menyaksikan bagaimana sorot Taehyung seakan menjerit membutuhkan pertolongan. Air mata yang tak pernah tumpah, binar penuh kebohongan yang tak pernah berdusta. Segalanya tampak begitu jelas ketika Jungkook menatap seutuhnya tanpa perantara dalam jarak keduanya yang sedekat ini.
Kepala Jungkook seakan mengosong dan genggaman jemarinya yang melingkar di pergelangan tangan Taehyung terasa begitu semu dan membias. Bola mata keduanya saling menyelami, membelenggu waktu dalam statis yang tak pernah mengenal pagi.
Kedua belah bibir Jungkook gemetar, giginya gemeratak.
"Hyung, aku—
"—aku menyukaimu…,"
"—aku mencintaimu…,"
Bisikan itu begitu lirih tetapi Taehyung dapat dengan begitu jelas menangkap segalanya. Kedua hazelnya melebar sempurna, bibirnya setengah terantup, dan ia dapat melihat namja kecil di hadapannya tengah menatapnya dengan tatapan yang begitu sukar diartikan. Sorot yang seakan runtuh menyerpih, tetapi tanpa air mata. Jungkook tampak begitu kuat, tetapi lemah dalam waktu bersamaan. Menyaksikan segalanya, netra Taehyung terasa luar biasa panas dan kerongkongannya kering terbakar. Kosakatanya menguap melebur tersapu angan.
Obsidian Jungkook hanya berpendar walau matanya terasa begitu perih. Karena Jungkook tak akan menangis—ia sangat tak akan menangisi apapun lagi. Jungkook telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa Kim Taehyung tak akan membuatnya menangis lagi. Tetapi dadanya terasa sesak karena sesungguhnya bukan begini semua yang ia inginkan. Bukan begini Jungkook ingin rahasia hatinya terbagi dengan namja yang dicintainya dengan begitu payah. Ia ingin membisikkannya dengan cara yang lebih manis, lebih romantis. Jungkook ingin mendikte cintanya dengan senyuman, bukan air mata. Tetapi segala perasaan yang tercekat terlampau lama di ujung lidahnya kini hanya ingin terbebas dan memberontak untuk didengar.
Karena Jungkook mencintai Kim Taehyung seperti orang bodoh.
Nalarnya telah terlalu lama menggali dan mengubur rasa yang sama setiap harinya, memendamnya dalam pusaran terdalam dan meludahinya kemudian menginjak-injaknya penuh kebencian ketika fajar. Namun Jungkook selalu tahu; bahwa setiap hari pulalah ia akan mencakar tanah dengan begitu frustasi; mencari sambil terisak dimana ia menyimpan cinta bodohnya untuk namja paling tak masuk akal dalam hidupnya.
Nalarnya telah terlalu lama menyulut kobaran api pada wajah Kim Taehyung yang terukir begitu berbekas di memorinya, membakar dan menghanguskannya menjadi abu dan berharap puingnya tak akan pernah kembali. Namun Jungkook selalu tahu; bahwa detik itu pulalah ia akan mengais abunya, berusaha menyatukan dan menyusun kembali serpihan sosok Taehyung yang telah lebur dari ingatannya.
Karena Jungkook orang bodoh sebab merasa yakin bahwa Kim Taehyung juga mencintainya.
Bola mata Taehyung jelas memerah dan menggenang, namun namja itu mengangkat wajahnya sepintas ke awan-awan seolah menghalau air matanya untuk tumpah. Mulutnya menarik napas bergetar dan Jungkook menatap segala pergerakan hyungnya dengan rasa takut.
Dan ketika usahanya berujung gagal dan derai air mata mengalir tanpa seizinnya dari sudut mata, Taehyung merutuk dengan suaranya yang sengau, "Aish, bangsat." Taehyung buru-buru mengusap kasar pelupuk matanya dengan pangkal tangan.
Terpana. Jungkook nyaris termangu tanpa suara menyaksikan bagaimana Taehyung menderai air mata sementara dirinya tidak. Pelupuk matanya seolah berusaha mengkhianatinya. Begitu menyiksa melihat Kim Taehyung-nya yang selalu tampak lebih kuat dari siapapun kini luluh lantak di hadapannya.
Wajah menangis Taehyung begitu tampan; bahkan dengan mata merah dan gurat wajahnya yang melunak dan tampak begitu bercelah. Seolah Jungkook dapat menyaksikan benteng yang Taehyung dirikan begitu kokoh di depan matanya, kini tengah runtuh dan mengizinkan langkahnya untuk masuk dan mendalaminya.
Akan tetapi, sejurus kemudian, Taehyung terkekeh sumbang. Jemari kurusnya naik dan meraih kedua pipi Jungkook lalu mengangkatnya lembut, "Hei, jangan katakan itu—jebal." desau Taehyung masih dengan senyuman yang tampak begitu tak sinkron dengan suara tersendatnya, "—kau tidak mencintaiku, oke? Itu hanya kesalahan," timpalnya penuh penekanan, "Kau hanya bingung; dan kau tak sungguh-sungguh berpikir seperti itu tentangku."
Jungkook cepat menggeleng, tangannya meraup jemari Taehyung dan meremasnya. Ucapan Jungkook nyaris meracau ketika sekali lagi bibirnya berusaha menyampaikan ketulusannya.
"Aku sungguh-sungguh mencintaimu, Hyung," jeda ketika lidahnya begitu getir dan Jungkook hanya menelan segalanya bulat-bulat.
"—aku membutuhkanmu."
Karena betapapun Jungkook berusaha memanipulasi perspektifnya sendiri, degup jantungnya selalu tahu bahwa kebutuhan itu senantiasa ada. Bagaimana dadanya begitu nyeri menyaksikan postur kurus Taehyung yang laksana memikul terlampau berat beban di pundaknya, bagaimana pedih hatinya menyaksikan langkah kaki Taehyung yang selalu melenggang seorang diri; bagaimana semua rasa sakit tak masuk akal ini menyadarkan Jungkook bahwa Kim Taehyung adalah candunya, kelemahan terbesarnya, orang yang begitu ingin diperjuangkannya.
Hening mengonsumsi detik, lama.
Jungkook dapat melihat Taehyung yang beringsut dari hadapannya untuk membelakangi dan menunjukkan punggungnya. Dengan jelas mendengar sengguk isakan Taehyung yang teramat lirih, dengan tanpa perantara menyaksikan bagaimana Taehyung mengumpat seraya menyeka wajahnya dengan kasar dari balik tubuhnya.
Hingga tiba-tiba Taehyung menarik namja yang lebih muda untuk mengikuti langkahnya. Lagi-lagi Jungkook hanya dapat menunduk menyaksikan jemari Taehyung yang menggenggam pergelangan tangannya dengan sempurna. Hangat—merindukan. Langkahnya nyaris terseok karena Taehyung berjalan dengan begitu cepat dan lebar. Tetapi bahkan hening di antara keduanya, bahkan degup jantung yang berdentum kuat seakan dapat menggema—setiap halnya bersama Taehyung selalu terasa nyaman.
Mata Jungkook mengerjap menyadari Taehyung menyeretnya ke Ruang Kesehatan. Hanya ada gadis petugas kesehatan yang diam seribu bahasa melihat keduanya yang baru saja masuk. Taehyung menoleh ke arah sang petugas, menyorotkan pandangan tidak senang sambil menyelingakkan wajahnya ke luar pintu mengisyaratkan gadis itu untuk pergi. Dan sang gadis buru-buru beranjak dan melesat keluar dengan ucapan permisi yang terburu.
Segalanya berlangsung dalam diam ketika Taehyung membimbing Jungkook dengan hati-hati untuk duduk di atas tepi ranjang, merangkul dan menggenggam jemari Jungkook untuk menyokong keseimbangannya. Bahkan ketika Taehyung membasahkan kain untuk mengusapnya ke sebelah rahang adik kelasnya yang lebam, tulang matanya yang membiru, dan sudut bibirnya yang sedikit sobek dan berdarah. Dengan begitu telaten membersihkan lukanya, menyapunya selembut sentuhan beledu di sekitar memarnya. Kening Taehyung mengerut dengan sorot serius ketika menangani lukanya; bening bola matanya masih merah karena tangisan sekejapnya.
Menyakitkan. Hanya perih yang begitu dalam ketika Taehyung memperlakukannya dengan begitu lembut—istimewa. Merasakan setiap sentuhan penuh kehati-hatiannya, sorot kelam penuh kecemasannya—karena Kim Taehyung begitu indah; begitu elok dan menyercah terang, sehingga Jungkook begitu ingin menjaga pijarnya, membiarkannya memayungi semestanya, dan terus mencintainya walau Taehyung tak pernah mengatakan hal yang sama.
Karena hanya kelembutan Taehyung yang mampu membuat hatinya remuk—sakit karena Jungkook selalu tahu hanya Taehyung lah pengisi ruang hampanya. Pas dan tanpa cela. Sehingga tanpa disadarinya, air mata tiba-tiba saja mengalir dari sudut mata Jungkook yang memar. Lirih dan tanpa suara.
Merasakan basah menjatuhi jemarinya, Taehyung terlonjak dengan mata melebar panik.
"M-Maaf, apa aku terlalu kasar? Sakit? Sakit sekali?" tanyanya memburu, alisnya bertaut dengan ekspresi kalut, "Tapi lukamu harus diberi Polysporin. Antiseptik seperti alkohol hanya akan memperlama regenerasi, kulitmu juga bisa rusak," Taehyung mengamati lamat-lamat wajah dongsaengnya yang penuh lebam, tidak tega, "Kau bisa, uh—jangan. Jangan gigit bibirmu sendiri. Jangan lukai dirimu sendiri," mata Taehyung mengedar untuk mencari objek, menggigit bibirnya kacau dan akhirnya berucap, "Gigit saja—uh, aku? Tanganku, jariku, bibirku—apapun. Sialan, harus bagaimana aku sebaiknya…," Wajah panik Taehyung bukan dusta. Jungkook dapat jelas melihat gurat kecemasan dan kepedulian yang nyata; dan semua itu membuatnya semakin tak sanggup menahan bulir air matanya sendiri.
"Hei, kau kenapa? Jangan menangis, ya Tuhan," Taehyung seperti merengek frustasi, lagi-lagi menggigit bibirnya resah kemudian menangkup rahang Jungkook dan mengangkatnya. Ekspresi Taehyung berantakan dan Jungkook bersumpah ia tidak pernah menyaksikan Taehyung tampak begitu panik sebelumnya, "Aku menyakitimu? Bagian mana yang sakit sekali?"
Dengan lemah, Jungkook menggeleng. Segala kelembutan Taehyung sangat menyiksa; tatapan penuh kasih sayangnya, sentuhan lembutnya yang membumbung akan kecemasan. Bagaimana bisa Jungkook terus-terusan menafikkan kerinduan atas semua detil tentang hyung terbaiknya selama ini?
Taehyung mendesah dengan kening mengernyit kentara, berusaha menangkap tatapan Jungkook tetapi dongsaengnya terus menunduk, "Kau membuatku takut. Hei, lihat mataku dan kumohon katakan kalau kau baik-baik saja," namun Jungkook tak bergeming, masih terisak lirih dan menolak untuk bertemu dengan mata hyungnya. Taehyung mendecih lemah, "Berhenti membuatku takut," bisiknya seperti memohon, "Aku mencemaskanmu setengah mati."
Yang Jungkook inginkan hanya segalanya kembali seperti dulu. Normal dan tanpa cela. Rapat dan tanpa jarak. Karena semua yang Jungkook inginkan adalah mengutarakan cintanya dan untuk Taehyung berhenti menghindarinya. Tanpa harus mempertanyakan apapun seusainya.
Jungkook berucap nyaris mencicit, "—Hyung," ia mengangkat wajah dan akhirnya menemukan manik Taehyung yang keruh dan berkecamuk, "Apa kau akan menolongku jika aku berkata bahwa aku tidak baik-baik saja?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Karena aku tidak baik-baik saja, Hyung. Aku merindukanmu—sangat merindukanmu. Aku lelah terus berpura-pura tidak mempedulikanmu," urainya tersendat-sendat, "—aku lelah berlagak tak mengenalmu, aku lelah tidak bisa memanggil namamu ketika kau begitu dekat di sekitarku." Dan kembali, Taehyung merasakan respirasinya begitu sesak dan segalanya begitu menyakitkan. Jungkook kembali membisik, "—aku berjanji tidak akan bertanya apapun lagi, aku berjanji akan mendengarkanmu lebih baik. Tidak bisakah kita kembali seperti dulu?"
Hening sempurna.
Lalu Taehyung tersenyum.
"Jungkook-ah,"—karena hanya Taehyung. Hanya Taehyung yang dapat menyebut namanya dengan begitu indah, begitu pas, begitu menggetarkan—sehingga Jungkook hanyut terenyuh hanya dengan suara Taehyung mengeja namanya. Jemari Taehyung mengelus pelan punggung tangan Jungkook dan berucap pelan, "Aku—aku tidak bisa memberitahumu alasannya, tapi kita tidak bisa kembali seperti dulu lagi. Kau mengerti?" ungkapnya tersenyum lembut.
Taehyung kembali berujar, "Dan kau," telunjuknya menepak dada Jungkook ringan, "Jangan berkelahi lagi, oke? Aku kaget sekali saat mendengar kabar bahwa dongsaeng terhebatku diseret BP karena berkelahi," Taehyung menghembuskan napas panjang, bicaranya mulai tertata walau tatapan matanya masih sendu, "Penampilan premanmu ini," jemari Taehyung menggusak pundak Jungkook hingga turun ke sikunya, "—untuk menjagamu. Bukan untuk mencelakaimu. Bukan untuk membahayakanmu. Jangan memulai keributan, kau anak baik-baik." Ada tawa kecil terselip dari ucapan Taehyung; dan yang Jungkook inginkan hanya merekamnya dalam ingatannya dan tak ingin melupakannya.
Taehyung mendesah lirih, "Dengar, jangan menjadi orang sepertiku," bisiknya menatap obsidian kembar Jungkook lamat-lamat, "Jangan suka berkelahi sepertiku. Jangan suka mengumpat sepertiku. Jangan masa bodoh dengan segalanya sepertiku. Jangan pernah berubah—tetaplah seperti ini, Jungkook-ah." Suara itu begitu dalam dan bergemuruh, intonasinya lemah tetapi serius, "Jeon Jungkook-ku yang baik hati, jujur dan tulus. Tetapi selalu tegas dan kuat. Apa aku egois jika menginginkan kau yang seperti itu tak pernah berubah?"
Ungkapan penuh kehangatan Taehyung bagai menyelimuti pendengaran Jungkook dan mendekapnya. Ketulusan yang begitu tak kasat mata membuat Jungkook meleleh kemudian menggeleng tanpa berusaha menahan tetes matanya untuk berhenti. Jungkook ingin berkata jika Hyungnya begitu berharga, bahwa Taehyung tidaklah egois dan Jungkook bersedia melakukan apapun yang Taehyung inginkan seperti dulu. Tetapi segenap halus tatapan Taehyung membuat bibirnya terkekang dan tak sanggup mengucap apapun.
Taehyung tersenyum, mengusap sebelah pipi Jungkook dengan ibu jarinya, "Jangan forsir kerja tubuhmu. Kau tidak sekuat itu. Sepak bola tidak cocok untukmu," dan Jungkook tahu persis mengapa Taehyung dapat menitahkan larangan ini—karena Taehyung tahu nyaris segalanya tentang dirinya. Taehyung kembali berujar, "Berhenti terlalu sering sibuk dengan guru-guru. Mainlah dengan teman-temanmu. Kau akan membutuhkan mereka suatu waktu."
Satu per satu penuturan yang menelaga dari bibir Taehyung penuh dengan kasih sayang dan kepedulian, sehingga Jungkook nyaris merasa didekap dengan begitu erat hanya dengan untai katanya. Panas menjalari pipi Jungkook karena rasa cinta yang membumbung tak tertahankan di dadanya. Jeon Jungkook memiliki tempat paling tersembunyi dalam jiwanya; dan hanya jemari Taehyung lah satu-satunya yang mampu menjamahnya. Mencengkeram detak jantungnya, dan Taehyung selalu memiliki pilihan untuk menjaga atau menghancurkan inti jiwanya.
Tetapi bahkan tanpa bisikan cinta, tanpa ungkapan kasih sayang, tanpa sanjungan dan wujud konkrit apapun—Jungkook dapat benar-benar merasa bahwa Taehyung tengah meremas jantungnya hingga titik kritis, membuat napasnya sesak dan macet; namun terus termangu stagnan di batas toleransinya tanpa sungguh-sungguh meleburkan seutuh jiwanya.
Segala dari Taehyung yang tak pernah terungkap menjelaskan lebih banyak daripada segenap kosakata mampu melukiskannya.
Semuanya bagai memaksa Jungkook untuk membuka matanya dan melihat betapa transparannya sesungguhnya Kim Taehyung selama ini. Betapa mudah dibacanya, betapa kasat matanya, betapa sebenarnya teka-teki dalam setiap esensi Taehyung begitu mudah terpecahkan apabila Jungkook bersedia menunggu sedikit lebih lama.
Selama ini, Taehyung lah yang selalu melakukan semua pekerjaan kotor untuknya. Taehyung menodai tangannya sendiri, mengorbankan sisi baiknya karam hanya demi menjunjung dan meninggikannya.
Siapa yang menghajar semua kakak kelas yang memperalat Jungkook ketika Festival Tahunan dulu?
Siapa yang bersedia tampak begitu bajingan, menjadikan dirinya musuh jahat OSIS hanya demi menjadi perisai bagi Jungkook, melindunginya dan tak membiarkan siapapun menyakitinya?
Siapa yang memuntahkan semua cercaan mematikan kepada semua guru, mengumpat pengurus BP; menjadi seorang berandalan brengsek demi menarik Jungkook keluar dari status anjing sekolah yang terdengar begitu menyedihkan di telinganya?
Dan siapa yang baru saja membanting pintu BP dan mengakui segala kesalahan yang tak pernah dilakukannya, menerima skors sebagai pengganti dirinya?
Siapa yang menangis ketika Jungkook mengungkapkan bisik cintanya padahal dirinya sendiri tidak?
Bukankah Kim Taehyung kini tampak begitu brengsek, dibenci semua orang, dianggap begitu tak berperasaan dan hina—sementara Jungkook masih berdiri di sini, bersih dan tanpa noda?
Dan Jungkook merasa bodoh, sangat sangat bodoh dan kejam, mengingat bagaimana dirinya berteriak di wajah Taehyung ketika di belakang sekolah dua bulan silam. Memuntahkan segenap curah hatinya seolah Taehyung adalah antagonis terbesar dalam hidupnya, seolah segalanya adalah salah Taehyung dan Jungkook adalah korban tersialnya.
Jungkook bisa saja menyalahkan setiap afeksi bohongan Taehyung untuk kejadian yang telah lalu; berlagak suci karena Taehyung lah yang selalu melakukan segala kekotoran untuknya, menjadi bajingan di antara mereka berdua, dan namja itu tak akan pernah berusaha membenarkan dirinya sendiri.
Namun sesungguhnya Jungkook juga menginginkan Taehyung, selalu—setiap ciuman lembutnya, belaian penuh kasihnya, bisikan memabukkannya; tetapi mengapa Jungkook menyalakkan segalanya seakan dirinya adalah korban soliter? Seakan hanya dirinya satu-satunya yang tersiksa dalam hubungan mereka?
Kim Taehyung nyaris tampak seperti masa bodoh dengan hidupnya sendiri. Tak peduli bagaimana dunia memandangnya, tidak peduli seberapa hancur citranya, tidak peduli seberapa rusak fisik dan mentalnya; semenjak ia secara sepihak berperan sebagai ksatria pelindung Jungkook yang selalu mengenakan topeng. Menjadi penjahat di depan matanya, kemudian berubah menjadi tameng di balik punggungnya.
Kim Taehyung hanya ingin melindunginya—dengan cara yang begitu indah, begitu cantik, tanpa mengharapkan pengembalian apapun. Sehingga Jungkook tak dapat berhenti merasa remuk begitu kali ini sungguh-sungguh tersadar tentangnya.
Bagaimana bisa Jungkook menjerit bahwa Taehyung telah menghancurkannya; sementara namja itu telah lebih dulu rubuh menjadi puing-puing, tak lagi memiliki apapun yang tersisa untuk menopang tubuh rapuhnya sendiri?
Seakan menyaksikan segala yang selama ini bersembunyi di balik tabir, seakan memecahkan misteri kehidupan yang selama ini menghantui jejak pikirnya; yang Jungkook inginkan hanya mengucapkan cintanya kepada Taehyung; menggenggam hangat jemarinya, merengkuh postur tubuhnya, menenggelamkan semua ketidak masuk akalan dan membuat Taehyung mengetahui bahwa dirinya berharga—bahwa Jungkook tidak membutuhkan Taehyung untuk menjadi sakit hanya karena terus melindunginya.
Namun segenap tatapan penuh kasih sayang dan sentuhan yang begitu membuai, membuat kepala Jungkook macet dan hanya ingin terpasung selamanya bersama Taehyung seperti ini.
"Hei, hentikan, jangan menangis terus, dasar jelek." Suara tawa sengau Taehyung memecahkan pikir kacaunya, menepuk ringan pipinya, "Jungkook-ah, apa kau haus?" tanyanya lembut lalu bangkit dari posisi meringkuknya, "—aku akan membelikan minum. Tunggulah di sini."
Kepala Jungkook merespon cepat dengan gelengan kuat. Tangannya dengan segera mencengkeram pergelangan tangan hyungnya dan menghalaunya untuk pergi. Dadanya sakit merasakan tangan Taehyung yang terasa lebih kurus semenjak terakhir Jungkook mengingatnya. Ia mengangkat wajahnya lemah, rautnya begitu kacau dan sorot matanya meremang berantakan.
"Jangan pergi," suaranya terbata menyedihkan, "Aku ingin bersamamu, Hyung, di sini."
Desisan itu bukan permohonan ataupun doa; melainkan sebuah bisikan tak berarti karena Jungkook selalu tahu bahwa Taehyung akan pergi. Ketika Jungkook menerawang ke dalam bola mata Taehyung; hanya ketidak abadian yang memantul di dalam keindahan netranya. Dan semua yang Jungkook inginkan adalah tenggelam bersama hyungnya dalam kefanaan yang sama. Sesingkat apapun itu.
"Astaga, manja sekali." Ucapan Taehyung penuh canda, tetapi terdengar menyiksa di telinga Jungkook, "Cengeng lagi." sebelah tangan Taehyung mendarat di puncak kepala Jungkook dan mengacak rambutnya ringan, "Aku hanya ingin membeli soda sebentar. Dan aku akan berlari."
Lagi-lagi Jungkook menggeleng, tidak semenuntut sebelumnya, "Taehyungie-hyung…," sebutan itu terasa begitu mendesir di ujung lidahnya, namun juga begitu benar. Ia hanya akan manja kepada Taehyung, karena hanya Taehyung lah yang mampu dengan begitu penuh kasih memanjakannya. Jungkook mendecit parau, "—jangan pergi…,"
Mendengarnya, Taehyung tertawa ringan, "Kubilang aku akan berlari, Anak Manja," janjinya. Taehyung membawa kepala Jungkook sedikit mendekat kepadanya dan mencium puncaknya penuh kelembutan. Jungkook memejamkan matanya ketika merasakan kehangatan meringkus nalarnya dan memberikan ketenangan di gemeratak otaknya yang mendebur kacau.
"—tunggu di sini, oke? Tidak akan lama."
Bahkan Jungkook tak sempat mengangguk atau memberi jawaban apapun ketika Taehyung sekali lagi berjalan meninggalkannya. Ia hanya menatap nanar kepergian hyungnya, menyaksikan punggung pepat dan menenangkan itu semakin menjauh lalu sepenuhnya sirna dari tangkapan matanya.
…dan Taehyung tidak kembali.
Bahkan hingga bel terakhir berbunyi nyaring.
.
- Bersambung -
Author's Note:
Hi, there!
HOW ARE YOU HOLDIN' UP, BABES? X"D
So much angst, I know. I personally want to apologize for stupid amount of melodrama in this chapter.
So, go on, scream on me in review box! ;))
Jadi..., apa perspektif kalian tentang Taehyung berubah, again?
Thanks for reading and reviewing!
Also, nggak buat fic ane aja yaa. Jujur ane agak concern sama masalah ini.
Kalo kalian ngerasa baca fic dan nikmatin ceritanya, instead of just faving on following,
please do review because that's the way readers can support the author.
They deserve it, guys. Mereka gak dibayar buat nulis fiksi, demi apa.
(Siders juga gak keren, btw).
Last, wait patiently for next chap!
.
Best regards,
Alestie.
[ twitter - alestierre ]
