Change : After the Arrival of My Brother
Boboiboy ©Animonsta
.
.
Tak peduli dengan rasa sakit yang terus menghantam tubuhku…
Asal kau baik-baik saja…
Ya asal kau demikian.
.
Enjoy Reading!
.
Chapter 10
JEGLAAARRR
Suara halilintar yang semakin bergerumuh, menemani rintik hujan yang semakin banyak saja jumlahnya. Begitu deras, hingga menimbulkan suara gemericik air yang tajam.
Jalanan aspal di tempat itu telah terbasahi oleh hujan, pohon-pohon pun… dan darah?
BRUUKK
"Hahaha … rasakan itu Halilintar!"
Darah sedikit muncrat dari mulut Halilintar. Tangan kanannya mengelap darah yang mengalir di salah satu sudut bibir. Mata merah itu mulai kehilangan tatapan tajamnya. Begitu datar menatap Ejojo dan ketiga anak buah yang sedang mentertawakannya.
Sial.
Ia bisa melihat Taufan yang terduduk disana, dengan kedua tangan yang diikat tali serta mulutnya yang tersumpel kain. Belum lagi, pisau yang digenggam Adudu masih setia di dekat leher Sang adik. Bulir air mata terus-menerus keluar dari pelupuk Taufan. Seandainya saja… Halilintar bisa menghapusnya.
TAP TAP TAP
Ejojo mendekat. Halilintar dapat merasakan tubuhnya tertarik ke atas, setelah tadi ia dengan nyamannya tergeletak di tong-tong sampah yang mampu memberikan rasa perih di sekujur punggung. Matanya telah berhadapan dengan iris coklat-kemerahan milik Ejojo.
"Lihat wajahmu itu, begitu lemah layaknya pecundang hahaha~"
Seandainya saja Taufan tidak terancam nyawanya, seandainya… adiknya tak berada disini. Demi apapun, Halilintar akan menghabisi ke-empat orang dihadapannya ini tanpa ampun, tak ada belas kasihan.
Namun…
"Kau bisa lihat kakakmu itu Taufan, bukankah memalukan sekali kakakmu itu. Payah! Lemah! Hahaha~"
"Hmph! Hmph!"
Halilintar menoleh sedikit ke kiri, mendapati adiknya yang berusaha berteriak—mungkin memanggil namanya atau entah, Halilintar tak bisa mengartikan hal itu. Kristal-kristal bening itu kembali berjatuhan, Halilintar tersenyum tipis.
"Tamatlah riwayatmu Halilintar!"
DUAGH
BUGGH
BRAAAK
PRAAANGGG
Punggung Halilintar menabrak dinding semen dengan kencangnya, dan kembali menghantam tong-tong sampah yang terbuat dari besi itu. Nyeri yang luar biasa sudah tak terasa baginya, serasa mati rasa. Sudah banyak darah yang keluar dari mulut serta kepala. Apakah ini akhir dari hidupnya?
Ejojo cs tak berhenti sampai disitu. Meski Halilintar sudah tergeletak tak berdaya, berbagai tendangan, pukulan, jambakan masihlah didapatkan oleh Halilintar. Suara teriakan Taufan pun masih terdengar meskipun indra pendengarannya mulai samar-samar.
Sesungguhnya… ia masih belum siap bertemu dengan kematian. Masih banyak hal yang harus ia lakukan dan ada hal- setidaknya ia ingin menyampaikan satu hal…
BRUUUK
Halilintar terjatuh tiga langkah dari tempat Taufan terduduk. Mata merah yang mulai kabur itu setia menatap Taufan yang tengah menjerit dan menangis terus. Ia berusaha tersenyum, menyampaikan pesan tersirat bahwa tidak perlu mengkhawatirkan dirinya. Meski ia tahu itu percuma.
Taufan adalah sosok yang ceria setelah Api. Memang… terkadang adiknya itu senang menjahilinya sewaktu mereka masih di Panti. Namun… pernah suatu hari ia pulang dengan kaki lecet karena terjatuh dari sepeda, dan Taufanlah yang paling heboh dan panik akan hal itu. Bahkan ia hampir menangis meski mulutnya tak henti-henti mengomelinya.
Tetapi…
Semua berubah ketika wanita itu datang dan mengangkat mereka sebagai anaknya. Awalnya mereka masihlah seperti biasa, layaknya saudara. Hari-hari mereka berjalan dengan indahnya karena dapat merasakan kasih sayang orangtua lengkap.
Akan tetapi…
Begitu meninggalnya wanita itu, mereka yang sudah begitu tergantung akan kasih sayang seorang Ibu awalnya menganggap bahwa Ibu tidak meninggal. Sampai pada akhirnya mereka sadar, bahwa seberapa keras kau berpikir seperti itu, faktanya ia telah meninggal. Mengingkari janji yang telah ia buat pada — bahwa tidak akan pernah meninggalkan mereka.
Semenjak itu… mereka mulai banyak mengurung diri. Begitu pula Halilintar. Air yang terus menangis di kamar sepanjang malam, Api yang selalu pulang malam dan pemarah, serta Taufan yang jarang menampakkan senyumnya di rumah. Semua berubah total.
Dan semakin kesini, Halilintar menyadari bahwa seharusnya ia tak ikut terpuruk akan kematian Tomoe, mengingat… ia adalah seorang kakak bagi ketiga adiknya.
Memikirkan hal itu, membuat Halilintar ingin menangisi dirinya. Akan tetapi, ia malah makin membenci diri sendiri. Benci akan dirinya yang telah gagal jadi seorang kakak.
Setidaknya…
Sebelum hidupnya benar-benar berakhir… bisakah ia diberikan kesempatan?
"Aku… memang tidak seperti seorang kakak pada umumnya. Yang selalu bisa menenangkan adik dengan pelukan serta senyum hangat. Aku- Bukankah begitu menyedihkan mempunyai seorang kakak sepertiku? Yang hanya memikirkan perasaan terpuruk seorang diri hingga tak sadar bahwa diri ini egois.
Tidak melihat kenyataan bahwa… sebenarnya adik-adikku lah yang lebih terpuruk. Mereka yang masih kecil sangatlah membutuhkan kasih sayang seorang Ibu, namun takdir merenggut kasih sayang itu. Kebahagiaan yang seolah telah menjadi bagian hidup kami.
Akan tetapi… waktu itu, disana—saat pemakaman, aku pergi seorang diri—berlari meninggalkan adik-adikku yang menangis seraya menjerit. Berlari menerpa hujan, menghindari kenyataan.
Harusnya… aku sadar akan posisiku sebagai seorang kakak, adik-adikku membutuhkanku dan saat itu aku- Kenapa aku bisa sebodoh itu?
Aku- Kakakmu memang terlampau bodoh kan, Taufan? Tetapi, jika hari ini hari terakhirku, tak sedikitpun aku menyesal. Asal kau baik-baik saja… Asal ketika ku benar-benar menutup mata, aku masih sempat melihat wajahmu… Asalkan… kau tidak terluka lagi…"
"Ka-Kau mau apa Bos dengan pi-pisau itu?!" Ucap Adudu agak ragu kalau apa yang dipikirkannya benar.
Ejojo yang baru saja merampas pisau yang digenggam Adudu sebelumnya untuk menodong Taufan, kini mulai menyeringai. Matanya berkilat, penuh hawa napsu dan kebenciaan.
"Tentu saja… mengakhiri semua~~"
Kedua bola mata Taufan membulat. Tidak… ini bukan seperti yang dipikirkannya. Apakah Ejojo benar-benar bak jelmaan iblis!
"Ma-maksudmu Bos?"
"Maksudku? TENTU SAJA MEMBUNUH DIA, PROBE! HAHAHAHAHA!"
Seketika tubuh Taufan bergetar hebat mendengarnya. Tidak. Halilintar tak boleh mati, saudaranya- kakaknya yang paling ia sayangi tidak boleh mati begitu saja. Seandainya saja ia tak datang kemari, mungkin Halilintar tak akan terluka parah seperti itu.
Semua karenanya.
Selama ini ia hanyalah sebagai beban, hanya merepotkan orang-orang di dekatnya. Tidak pernah berguna sedikitpun. Air mata kembali mengalir deras dari pelupuk Taufan, terutama ketika Halilintar yang sudah tak berdaya itu tersenyum kearahnya seraya mengeluarkan air mata.
"Terima kasih, aku… menyayangimu Taufan, aku menyayangi yang lainnya juga. Aku sayang kalian semua, adik-adikku. Maaf dan…"
"Dengan begini ku akan akhiri rasa sakitmu Halilintar! Hahahaha!"
Sedikit lagi… Ejojo akan berada di dekat Halilintar. Taufan semakin meraung, berteriak sekencang-kencangnya. Dan kini Halilintar mulai menutup matanya perlahan.
"Katakan selamat tinggal pada adikmu Hali!"
Ejojo pun hendak menancapkan pisau itu ke punggung Halilintar….
"… selamat tinggal…"
JLAAABB
Tes. Tes. Tes
"Apa aku…. sudah mati?"
Kedua matanya masihlah tertutup rapat, seolah ragu keluar dari kegelapan. Namun… aroma anyir yang mengganggu indera penciuman membuatnya berani untuk membuka perlahan.
BRUUUK
Hal pertama yang ia lihat adalah- seseorang yang terjatuh didekatnya dengan wajah yang tersenyum meski darah keluar dari mulutnya. Mata Halilintar terasa panas, menyesal telah membuka mata. Tangan putih pucat orang itu membelai pipinya dengan halus.
"Berjanjilah… kembali menjadi Kak Hali… ugh… yang dulu… ya. Aku… sayang Kak Halii…"
Tangan itu melemas bersamaan dengan tertutupnya iris biru cerah tersebut. Air mata keluar dari pelupuk mata Halilintar, rasa sesak pun hadir seketika. Tidak, ini tidak mungkin kan!
"TAUFAAAAAANNNNN!"
Halilintar berusaha terduduk meski susah payah, merangkak mendekati adiknya yang tergeletak di dekatnya. Ia rengkuh tubuh adiknya itu dan menatap sebuah pisau yang menancap di perut sang adik.
Untuk kedua kalinya Halilintar…
"Tidak! Taufan kau masih hidup kan! Jangan biarkan aku semakin membenci diriku! Jangan sampai aku- aku gagal! Aku benar-benar gagal jadi seorang kakak! AKU SAMPAH! AKU BODOH! AKU BENCI DIRIKU!" Teriak Halilintar dengan frustasinya.
Dari kejauhan … Ejojo, Pagogo, Adudu serta Probe hanya bisa merinding ketakutan. Pascanya mereka telah membunuh Taufan.
"Bagaimana ini Bos?!" Seru Probe panik.
"Tentu saja kita lari bodoh!"
GRAAP
BUUGH
Baru saja Adudu, Probe dan Pagogo ingin berlari mengikuti Ejojo, mereka telah ditarik oleh Api serta Air dan langsung mendapat pukulan telak di perut dengan kerasnya hingga mereka terjatuh.
"Mau lari kemana, heh?" Sinis Api yang entah kenapa berhasil membuat ketiganya ketakutan.
"Kak, pemimpin mereka mau kabur." Ujar Air sembari menunjuk Ejojo yang hendak berlari.
"Jangan kabur kau!"
Baru saja Api hendak mengejar Ejojo, namun tak jadi ketika melihat sosok Gempa yang sudah berada di depan menghadang Ejojo entah sejak kapan. Ejojo pun menghentikan langkahnya dan menatap sosok Gempa yang menatapnya datar itu.
" Satu langkah kau bergerak, katakan selamat tinggal detik itu juga." Ucap Gempa sembari menodongkan pistol dihadapan Ejojo.
Angin berhembus pelan, untuk pertama kalinya Api, Halilintar serta Air melihat raut wajah Gempa yang seperti itu.
.
.
.
KREEET
Pintu ruangan yang terbuka menarik perhatian Api serta Air yang berdiri di tengah ruangan itu. Gempa berjalan mendekati ketiga kakaknya yang sedang menjaga Taufan yang terbaring di kasur dengan selang infuse. Senyum tak pudar dari bibirnya.
"Ibu Hana sedang membayar biaya perawatan Kak Taufan dan untuk masalah senior Ejojo dan ketiga kawan-kawannya itu sudah diurusi oleh Kepala Sekolah. Sepertinya… mereka akan dikeluarkan hehehe."
Api menghela napas, setidaknya mendengar perkataan Gempa bahwa Ejojo dkk akan dikeluarkan dari sekolah itu cukup membayar apa yang telah mereka perbuat pada kedua kakaknya.
PUUK
"Lihat Kak Halilintar! Kak Taufan tersenyum loh! Mungkin dia senang, kita semua berada disini menjaganya. Kan jarang-jarang kita kumpul bareng hahaha." Ucap Gempa dengan riang setelah menepuk bahu Halilintar.
Ketiga orang itu terdiam, memang mereka jarang sekali berkumpul- sekalinya berkumpul hanya pada waktu makan malam serta sarapan pagi saja. Setelah itu sibuk menyendiri di kamar.
Halilintar yang masih duduk di dekat ranjang itu menghela napas. Ia masih ingat ucapan Taufan terakhir kali.
"Berjanjilah… kembali menjadi Kak Hali… ugh… yang dulu… ya. Aku… sayang Kak Halii…"
Ia menarik tangan Taufan pelan, dan menggenggam tangan itu dengan lembut. Ia berusaha menyimpulkan senyum setipis mungkin agar tak ada yang menyadarinya.
"Iya.. aku berjanji…" Gumamnya pelan.
"Kak Halilintar berkata sesuatu?"
Halilintar menoleh "Hm… ngomong-ngomong, darimana kau bisa punya pistol, hah?!" Selidik Halilintar pada Gempa yang kini mulai kagok.
"Hoho, benar! Tadi kau mengancam Ejojo dengan pistol! Anak kecil gak boleh main benda berbahaya tahu! Sini keluarkan!" Perintah Api.
Gempa menatap ketiga kakaknya dengan senyum menggelikan, sembari mengeluarkan pistol tersebut ia pun mulai tertawa lepas dan….
BRUUUUUSSS
"HAHAHAHAHHA, INI KAN CUMA PISTOL AIR! RASAKAN INI AYEEEE!"
Gempa pun mulai menembaki Api yang kini mulai berlarian menghindari semprotan air yang keluar dari pistol tersebut. Sementara Halilintar dan Air hanya sweatdrop, tak habis pikir kalau itu cuma pistol mainan. Kena tipu mereka.
.
.
TBC
.
.
A/N : AYEEEEYYYYY SAYA BALIK LAGI WOOOO XD Dan sekali lagi maafkan jika dalam ff ini terdapat kesamaan atau apalah gitu, ya… saya cuma mengikuti alur yang udah saya rancang dalam waktu lama aja. Gak ada maksud plagiat atau apapun.
Kalau misalnya ada yang meminta ff ini dihapus karena hal-hal tsb, saya tak masalah. Malas memperpanjang konflik, lebih baik mengalah jika itu bisa memperpendek masalah. xD
Memang agak lambat ya updatenya, sebab saya sehabis merombak alur ceritanya kembali huhuhu. Jujur baru pertama kali saya buat ff yang menurut saya ini mulai masuk tahap rumit xD
Saya sedang mencoba menentukkan jadwal kapan updatenya ff ini, biar lebih teratur. Doakan saja ya ^^
Terima kasih bagi yang sudah membaca!
