Katekyo Hitman Reborn belong to Amano Akira
OC and this fic story belong to Eddreine
.
.
.
"Entah kenapa...aku merasa makin banyak orang?" gumam Chikusa ketika menjelang siang. Memang cafe mereka ramai tapi selain untuk makan atau sekadar lewat, orang yang berkerumun di luar -mengambil foto- pun ramai.
"Pasti karena itu." semua mengikuti tatapan MM pada meja nomer 1 yang ada dekat jendela. 2 pemuda berambut putih dan hijau berpakain lengkap ala eksekutif muda menempati meja itu dengan seorang anak perempuan berkostum kelelawar dengan gaya metal tengah ngobrol santai. Entah ilusi atau apa, mereka seakan melihat aura merah muda berbentuk jantung bertaburan disertai aura berwarna pastel lainnya dari para pengunjung maupun yang lewat pada kedua pemuda asing tersebut (zi: author lebay deh).
"Kufufufufufu, menurutku ini karena ketampananku!" Mukuro narsisnya kumat, Chikusa dan MM memutar bola matanya, bosan.
"Tapi suer, baru kali ini melihat jelas kakaknya Lirina. Ganteng ya? Asistennya juga keren!" MM dan beberapa cewek sudah masuk mode fangirling. "Pantas saja Lirina nga tertarik pada cowok-cowok di sini, standarnya tinggi karena terbiasa liat orang ganteng!"
"Hey, kata-kata kalian itu menyinggung hati, byon!" Ken protes, sementara Mukuro, Chikusa dan anak laki-laki lainnya membatin 'Kami kan masih masa pertumbuhan, nanti juga bakal jadi cowok keren!' jerit mereka dalam hati dan sayangnya memang hanya bisa dikatakan dalam hati.
.
.
.
.
.
"Jadi kakak mau langsung pergi?" tanya sang adik ketika pulang sekolah.
"Hm~, apa boleh buat, aku hanya punya waktu luang hari ini, berhubung aku sedang ada di China jadi bisa meluangkan waktu melihatmu." Byakuran memindahkan Lirina ke pangkuannya, mengecup sayang pipi adiknya yang manis "Maaf ya, aku janji setelah semua selesai kita akan pergi liburan. Bolos sekolah juga tak apa."
"Asal jangan saat hari ujian." sela Kikyo yang sedang menyetir. Pemuda berusia 25 tahun itu tersenyum melihat wajah cemberut adik bossnya yang kini bersedekap di pangkuan sang kakak. Ia suka melihat kedekatan kakak beradik yang nyaris incest meski pada dasarnya bukan. "Besok hari terakhir kan?"
"Iyah...ng? Kak, rumah lewat!" Lirina baru menyadari setelah mereka agak jauh melewati apartement. "Mau makan di luar?"
"Fufufufufu, bukan. Kita akan ke rumah nii-san mu."
"Nii-san? Kau kan di sini." Byakuran tersenyum kecil mendengar jawaban polos adiknya, pemuda itu terus menatap mata adiknya lekat-lekat hingga yang ditatap sadar apa maksudnya "Kyouya...?"
.
Byakuran sungguh menikmati ekspresi kaget adiknya, ia memang sengaja membawa adiknya kemari atas permintaan istri kepala keluarga Hibari. Kediaman keluarga Hibari adalah tempat yang selalu dihindari Lirina sejak ia menyandang nama Gesso. Sama halnya dengan Kyouya Hibari yang menolak untuk datang ke Apartement mereka. Lirina mecengkram erat pakaian kakaknya ketika mereka memasuki halaman depan Kediaman Hibari, rumah asal ayah kandungnya Kyou Hibari atau lebih dikenal dengan Fong.
.
"Ah, Rin-chan! Kau sudah besar!" Sakura Hibari, istri Alaude, ibu dari Kyouya Hibari menyambut mereka di pintu masuk. "Sudah berapa tahun ya kau tak kemari?"
"...dua... setengah tahun..." jawabnya setengah berbisik. "Lama tak bertemu Sakura-san."
"Eh, kenapa memanggil begitu? Dulu kau memanggilku bibi." Sakura tersenyum miris melihat keponakannya memanggilnya dengan nada formal.
.
Tak ingin larut dalam suasana kaku, Sakura mengajak mereka langsung ke ruang makan. Sepanjang jalan Lirina melihat kalau tak ada yang berubah dari rumah utama Hibari. Mereka mengikuti lorong besar hingga tiba di ruangan makan bergaya tradisional Jepang, disana Alaude dan Hibari Kyouya menunggu mereka, Lirina membungkuk hormat, memberi salam pada kakak dari ayahnya.
.
"Lama tak bertemu, Alaude-san." reaksi Alaude pun tak beda jauh dengan istrinya, mengernyit kening dengan sikap keponakannya. Namun akhirnya ia menyadari apa sebabnya ketika menangkap mata tajam putranya pada keduanya.
.
Alaude hanya bergumam 'Hn' sebagai tanda silakan duduk. Di meja makan yang cukup untuk 12 orang itu mereka makan dengan suasana nyaris sunyi. Sesekali Sakura memancing pembicaraan dengan mengajak Byakuran dan Lirina ngobrol. Sayangnya tanggapan dari keponakan mereka sangat sedikit. Putranya pun yang duduk berhadapan dengan Lirina hanya makan dalam diam.
'Di sekolah adalah teman dan partner, di luar sebagai kenalan, di rumah merupakan orang asing.' aturan telah disepakati, tak ada seorang pun yang ingin melanggar. 'Anak-anak keras kepala' batin Alaude dan Sakura.
.
"Li-chan mau menginap di sini selama Byakuran pergi?" pertanyaan Sakura hanya dijawab gelengan dari keponakannya. Tapi ia masih berusaha membujuknya "Sendiri kan sepi."
"Ada Keluarga Gokudera."
"Kami kan keluargamu." sekali lagi anak itu menggeleng, meletakkan sumpitnya padahal makanannya belum habis separuh. "Li-"
"Maaf, bukan bermaksud tidak sopan. Aku permisi pulang, besok harus berangkat pagi." Byakuran sudah akan mengikuti ketika adiknya mencegah. "Kakak mau langsung ke bandara kan? Tak usah mengantar, aku naik taksi saja."
.
Hibari Kyouya menatap punggung anak itu hingga hilang dari balik pintu. Ia pun ikut meletakkan sumpit dan kembali ke kamarnya, nafsu makannya hilang. Padahal ketika di sekolah dan di apartement mereka -paling tidak- bisa bicara seperti biasa, namun di rumah ini entah kenapa dia tak bisa membuka mulutnya sedikitpun. Ada pengalang tak terlihat membuat mereka tak pernah bisa berinteraksi dengan baik seperti dulu. Dengan kasar Hibari menyambar botol obat di atas meja belajarnya, menelan 2 butir pil sekaligus dengan bantuan air.
.
"Sampai kapan aku harus minum obat bodoh ini?"
.
.
.
"Kyouya-nii! Mereka bilang Rin mirip Kyo-nii! Apa itu benar?"
"Tidak, kau terlalu berisik!" sahut Hibari yang tengah tiduran di kamarnya sambil membaca buku. "Lagi pula matamu coklat, kulitmu kuning, apa miripnya?"
"Errr..., iya, yah? Nga mirip..." anak itu cemberut, bibirnya manyun melotot pada warna kulitnya yang beda sekali dengan Hibari. "Padahal Bya-nii dan bibi bilang kita mirip. Kulit bodoh, mata bodoh!"
"Berisik."
"Rin tak bisa jadi adik Kyo-nii kalau wajah, mata dan kulitnya tak mirip!"
.
Memang bisa kulit kuning dipelototi jadi putih atau mata coklat dimaki jadi kelabu? Terkadang anak ini bisa begitu polos nyaris bodoh meski itu membuatnya terlihat lucu. Sepintas saat anak itu diam tenang, mereka memang terlihat mirip. Ia menepuk pelan kepala anak itu, senyum tipis tersungging di wajahnya. Lirina melihatnya, ia memeluk Hibari yang mengelus pelan punggungnya. Pelukannya makin erat ketika mendengar bisikan lembut di telinganya.
.
"Walau tak mirip juga tak apa, kau akan selalu jadi adikku..."
"Sungguh?" entah kenapa, gadis kecil itu terlihat mau menangis.
"Ssshhh, jangan menangis. Tak ada keluarga Hibari yang cengeng."
.
Mata Hibari terpejam, entah kenapa sangat tiba-tiba perasaannya jadk tak nyaman. Dadanya makin sakit, padahal dia sudah meminum obatnya. Ia berusaha duduk di tepi ranjangnya, mengatur nafas berharap rasa sakit akan berkurang namun yang ada malah makin menjadi. Ia berusaha meraih pintu kamarnya, ingin memanggil ibunya namun ia hanya mampu selangkah keluar dari kamarnya. Matanya menggelap, kesadarannya menjauh, tubuhnya pun menyapa lantai yang dingin.
.
~Flashback~
.
"Siang, Kyouya-kun!" sapaan familiar namun menyebalkan menyapa telinga sang ketua OSIS yang tengah menikmati tehnya.
"Nanas...!" Hibari geram melihat penampakan Mukuro di jendelanya.
"Oya,oya, aku bukan nanas. Aku adalah pria paling sekseh se Namimori, fufufufufu." Dengan PD-nya Mukuro menyibak poninya, bergaya bagaikan model shampo di majalah mingguan.
"Mana ada orang waras yang selalu masuk lewat jendela, narsis tingkat abnormal dan punya rambut aneh sepertimu?" Jleb! Mukuro merasa tertohok hingga daging buah nanas paling dalam (?). "Apa maumu?"
"Kufufufu, aku datang membawakan ini!" Hari ini Mukuro menyelinap lewat jendela seperti biasa untuk mengganggu Hibari. Tapi kali ini dengan set menu dari kafe kelas mereka. "Cicipi deh, kue yang ini buatanku!"
"Ada racunnya?" Hibari melotot pada kue sakura cheese cake yang disodorkan Mukuro. "Atau sudah kau ludahi?"
"Aman, aku tak melakukan hal memalukan begitu! Lagipula adikmu yang nyicip ketika adonan dibuat" Sendok plastik yang digunakan Hibari patah, Mukuro tersenyum tipis melihat reaksi Hibari yang sangat berlebihan "Apa aku boleh tanya sesuatu Kyouya-kun?"
" ...apa?" Hibari meraih sendok lain yang dibawa Mukuro.
"Apa yang sebenarnya dalam pikiranmu ketika melihat 'anak itu'?"
"Aku tak mengerti maksudmu nanas, masuk kelas sana!"
"Kufufufu, kalau begitu aku ubah pertanyaanku. Apa yang paling kau inginkan saat ini?" tanya Mukuro sebelum meninggalkan ruangan Hibari.
'Aku...saat ini...'
"Kyouya..."
'Aku hanya menginginkan satu hal.'
"Nii-san..."
'Kembalikan... dia padaku.'
"Kyouya-nii..."
'Kembalikan adikku...'
.
~Flashback end~
.
.
.
"Kenapa aku malah ke sini?"
.
Bukannya kembali ke apartement, kini Lirina malah ada di depan kedai sushi Yamamoto. Sudah jam 8 lewat, di dalam cukup ramai oleh orang yang makan bersama keluarga, rekan kerja maupun sendirian. Perutnya yang protes karena tak diisi dengan cukup membuatnya menyerah. Begitu akan masuk, pintu kedai sudah terbuka duluan oleh seorang anak berambut spike pendek dan berkulit tan. Anak itu nyengir sementara Lirina masih bengong karena kaget.
.
"Hei, Li!" sapanya. "Aku melihatmu lewat jendela tadi!"
"Oh...,malam, Takeshi." Lirina tersenyum canggung.
"...kau...kemari mau main atau mau makan?" Yamamoto merasa aneh, biasanya temannya ini memanggilnya dengan takechi atau yama-chan kini malah memanggil dengan nama depan.
"Makan dulu...kurasa..."
Sekali lagi suara perutnya yang keroncongan terdengar membuat Yamamoto tertawa, 'mungkin karena lapar' batinnya.
.
Menjelang jam 11 malam mereka bersiap menutup kedai sushi. Setelah menyelesaikan makannya Lirina membantu menjadi pelayan karena malah makin banyak pengunjung yang datang, mungkin karena hari itu malam minggu.
.
"Terimakasih." kata kedua anak itu pada pembeli terakhir yang meninggalkan kedai.
"Yeah, selesai!"
"Maa,maa, kau pasti capek sekali ya. Besok kan masih ada kegiatan."
"Iya, aku pulang ya paman!"
"Oh, baiklah. Takeshi, antar dia."
"Aku bisa sendiri."
"Tak apa, eh kau sendiri lagi di rumah?" Yamamoto merangkul bahu Lirina sepanjang jalan.
"Iya, kau tak datang ke sekolahku?"
"Besok, aku akan datang bersama yang lain. Bersiap saja bakal pusing, aku minta tratiran ya?" ancam Yamamoto meski cengiran jail kini tersungging di wajahnya.
"Ahahahaha, tak takut!" kedua sahabat itu bercanda sepanjang jalan, adu pukulan sambil membahas kegiatan sekolah mereka. Tak mereka pedulikan tatapan orang-orang yang heran melihat anak SD masih keluyuran menjelang tengah malam.
.
.
.
"Tidur yang nyenyak ya!" kata Yamamoto sembari menepuk pelan kepala Lirina ketika mereka sampai di depan pintu apartement.
"Aku yang harusnya bilang, terimakasih sudah mengantar."
"Hm, kau sudah seperti biasa lagi." tanpa ia sadari kata-kata itu meluncur, membuat sahabatnya kaget. "Syukurlah."
"Tak apa, maaf membuatmu khawatir, Takechi."
"Iya, anak kecil sepertimu memang suka bikin orang lain khawatir."
"HOI!"
.
Lirina protes namun kemudian mereka malah tertawa bersamaan. Kebetulan atau tidak, memiliki sahabat seperti Yamamoto Takeshi membuat Lirina bersyukur. Tak perlu bicara, sekali lihat saja mereka bisa tahu apa yang ada dalam pikiran masing-masing. Dalam kamarnya pikiran Lirina melayang kemana-mana. Andai dia dan Hibari bisa mengendurkan sedikit ketegangan dalam kekacauan hubungan mereka selama bertahun-tahun ini, ia ingin bisa sekali lagi menjadi adik skylark Namimori tanpa meninggalkan Byakuran. Mungkin terkesan serakah tapi keduanya adalah kakak yang sangat disayanginya.
.
.
.
TBC
