Title : Birthing Machine

Cast : KyuMin

Genre : Hurt, Angst, Romance, Sad

Happy Reading! ^^

.

*Birthing Machine*

.

Kyuhyun memasuki rumahnya ketika hari sudah gelap. Sangat gelap karena sekarang sudah hampir pukul setengah dua pagi. Ia sengaja melakukannya. Menghindar seperti pengecut. Menghindari istrinya sendiri. Padahal baru saja ia bermimpi ingin memperbaiki rumah tangganya, tapi ia sendiri yang kembali menghancurkannya. Seakan-akan ia tidak berhak mendapatkan rumah tangga yang harmonis.

Tapi semua itu hanya isi pikirannya sendiri. Nyatanya, Kyuhyun bahkan tidak mendengar pembelaan Sungmin semalam. Ia lebih memilih untuk tidak mendengar apapun dari istrinya itu. Lebih memilih untuk mengikuti isi pikirannya saja. Tidak tahu bahwa mungkin saja Sungmin memaafkan dirinya, menerima kesalahannya. Kyuhyun terlalu berspekulasi dengan pemikirannya sendiri.

"Kau pergi pagi-pagi sekali dan pulang selarut ini. Apa yang kau hindari?"

Suara Sungmin menghentikan langkah Kyuhyun. Namja itu berbalik dan menemukan istrinya duduk di sofa, menatapnya lurus.

"Kau menungguku?"

"Ya. Tentu saja. Ada yang harus kita bicarakan" sahut Sungmin dengan tetap menatap Kyuhyun.

Kyuhyun berjalan mendekatinya. Diperhatikannya wajah istrinya yang seharian ini tidak dilihatnya. Meski dengan pencahayaan yang minim, namun ia dapat melihat dengan jelas pucat dan lelah di raut wajah Sungmin.

"Kau pucat. Kita bicara besok saja. Sekarang masuk ke kamar dan tidurlah" pinta Kyuhyun.

Sungmin bergerak menghindar ketika Kyuhyun hendak menarik tangannya. Membuat Kyuhyun terdiam.

"Aku ingin bicara. Dan aku tidak akan masuk ke kamar sebelum pembicaraan ini selesai" tukas Sungmin.

"Baiklah. Katakan"

Kyuhyun mengalah. Ia tidak bisa memaksa Sungmin lagi. Mungkin mereka memang harus bicara.

"Bukankah kau bilang ingin memperbaiki rumah tangga ini? Tapi mengapa sekarang kau menghindar?" cecar Sungmin.

"Aku tidak menghindar" bantah Kyuhyun.

"Kau menghindar. Setelah mengatakan semuanya, kau menghindar. Setelah membuat aku merasa bersalah karena tidak bisa memutuskan peraturan bodoh keluargamu, setelah membuat aku merasa begitu membencimu dengan kenyataan Minhyun pergi karena ulahmu. Kau menghindar"

"Ya, baiklah. Aku memang menghindarimu. Aku menjauhi kenyataan. Aku bersembunyi dari fakta bahwa akulah yang menyebabkan Minhyun pergi"

"Tapi kau sudah berjanji, Kyu. Kau berjanji untuk memperbaiki hubungan kita"

"Setelah apa yang kulakukan padamu, pada Minhyun, bagaimana bisa hubungan ini diperbaiki? Bagaimana bisa kau hidup dengan pembunuh sepertiku?" tanya Kyuhyun.

"Kau tidak bersungguh-sungguh dengan janjimu, kau mendustai janji yang bahkan baru kemarin kau ikrarkan! Jika menurutmu hubungan ini tidak lagi bisa diperbaiki, maka apa yang seharusnya kita lakukan? Kau ingin kita bercerai?!" tanya Sungmin dengan tatapan kecewanya.

"Dulu kau yang ingin bercerai dariku"

"Itu dulu! Saat semua kenyataan kau sembunyikan dariku! Saat aku masih kau bodohi! Cho Kyuhyun, aku kecewa padamu!" pekik Sungmin dan bergegas masuk ke dalam kamar.

Kyuhyun terdiam. Membiarkan bahunya terbentur bahu Sungmin saat istrinya itu melewatinya. Tapi sepersekian detik kemudian ia menyadari satu hal dari ucapan Sungmin padanya, membuatnya segera berbalik mengejar Sungmin dan memeluk tubuh ringkih istrinya dari belakang.

"Kau menerimaku? Memaafkan semua kesalahanku? Katakan Sungmin, katakan! Apa kau menerimaku kembali?" cecar Kyuhyun.

"Ya, Kyuhyun. Ya. Aku menerimamu, meski dengan semua kesalahan yang kau lakukan. Aku menerimamu" ucap Sungmin dengan air matanya yang mengalir, menetes tepat di atas tangan Kyuhyun yang memeluknya.

"Tapi Minhyun-"

"Ssshh... Minhyun memang pergi karenamu, tapi jangan salahkan dirimu lagi. Bagiku, kau mengakui semua kesalahanmu sudah cukup. Minhyun juga sudah tenang disana, ia pasti senang ayah dan ibunya tidak lagi bertengkar"

"Terimakasih, Min. Terimakasih"

.

*Birthing Machine*

.

Hari ini Kyuhyun dan Sungmin pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan rutin pada kandungan Sungmin. Kini keduanya sudah berada di ruang tunggu dan tengah menunggu panggilan dari suster. Ini merupakan pertama kalinya bagi Sungmin datang ditemani Kyuhyun, sama seperti Kyuhyun yang pertama kali menemani Sungmin.

"Sejak tadi kau gelisah, ada apa?" tanya Kyuhyun lembut.

Sungmin menoleh dan menatap Kyuhyun sejenak kemudian menggeleng pelan. Sungmin tetap diam membuat Kyuhyun tidak ingin memaksanya lagi. Tapi Kyuhyun menggenggam tangan Sungmin yang tidak berhenti meremas ujung bajunya. Tanda kegelisahan istrinya itu.

"Kyu"

"Hmm?"

"Bagaimana jika bayi ini perempuan?" tanya Sungmin khawatir.

Kyuhyun melepaskan genggaman tangannya pada Sungmin dan dengan cepat merangkul tubuh istrinya. Sekarang ia mengerti apa yang sejak tadi membuat Sungmin gelisah. Hari ini mereka memang akan melakukan USG dan ia duga Sungmin takut mengetahui jenis kelamin bayi mereka.

"Bukankah sudah kukatakan, USG hanya untuk memeriksa keadaannya saja? Tidak perlu menghkhawatirkan jenis kelaminnya" ujar Kyuhyun seraya mengusap pundak Sungmin untuk menenangkan istrinya itu.

"Aku tahu. Tapi bagaimana jika ia terlahir sebagai perempuan? Apa aku harus membua-"

"Sudah, Sungmin. Sudah. Kau berpikiran terlalu jauh. Aku tidak lagi memikirkan ia akan menjadi perempuan atau laki-laki nantinya. Bukankah sudah kujelaskan kalau itu semua hanya keinginan orangtuaku? Bagiku, laki-laki atau perempuan sama saja"

"Tapi jika orangtuamu tahu jika ini anak perempuan, mereka pasti tidak akan tinggal diam" cemas Sungmin.

"Ingat Sungmin, aku disini untuk melindungimu. Bukan seperti dulu. Aku akan berdiri di depanmu, menghalangi orangtuaku menyentuhmu sehelai rambut pun. Jadi jangan khawatirkan apapun lagi" tenang Kyuhyun.

"Percaya padaku" ujar Kyuhyun kemudian.

Beberapa saat kemudian giliran Sungmin dipanggil untuk masuk ke ruang pemeriksaan. Kyuhyun dengan setia menemani ketika Sungmin diperiksa. Dan saat yang mereka tunggu-tunggu tiba. Dokter mulai mengoleskan gel di perut Sungmin untuk melakukan USG.

Ketika alat USG tersebut bergerak-gerak di kulit perut Sungmin, saat itulah Kyuhyun dapat melihat rupa anaknya di layar monitor. Ini pertama kalinya bagi Kyuhyun melihat langsung rupa anaknya saat di USG, ia sungguh bahagia. Namun kebahagiaan yang sama tidak terpancar dari dokter yang memeriksa kandungan Sungmin.

"25 minggu. Bayinya masih tidak menunjukan perkembangan yang signifikan. Beratnya kurang dari bobot normal dan perkembangannya juga lebih lambat" ucap dokter.

Seketika senyum bahagia di wajah Kyuhyun hilang. Ia memang tidak mengerti pasal kehamilan. Meski selama ini ia sadar bahwa perut Sungmin tidak begitu besar, tapi ia pikir hal itu terjadi hanya karena janinnya kecil.

Dilihatnya Sungmin tidak memberikan reaksi atas ucapan dokter, yang membuatnya merasa bahwa Sungmin memang sudah menyadari bahwa kandungannya tidak baik-baik saja.

Setelah dokter selesai melakukan USG kepada kandungan Sungmin, dokter tersebut menjelaskan lebih detail mengenai keadaan kandungan Sungmin.

"Bayinya sangat kecil. Sungmin-ssi harus memperhatikan asupan gizi yang masuk ke dalam tubuh anda dan kurangi hal-hal yang membuat anda stress. Stress juga dapat memicu perkembangan janin. Vitamin yang saya berikan sebelumnya masih rutin anda konsumsi 'kan?"

"Ya, dokter. Saya tidak pernah melewatkannya sekalipun"

Dokter tersebut mengangguk dan menuliskan resep vitamin tambahan untuk Sungmin.

"Saya akan memberikan vitamin-vitamin tambahan. Sama seperti sebelumnya, vitamin ini tidak memberikan dampak buruk pada kandungan anda. Untuk penguat kandungan, anda bisa menebus kembali vitamin yang sama. Vitamin yang baru ini untuk tumbuh kembang bayi di kandungan anda. Bisa dikonsumsi bersamaan dengan vitamin yang lain, jadi tidak perlu khawatir. Susu hamilnya juga jangan lupa diminum, Sungmin-ssi" pesan dokter tersebut.

Setelah menerima resep tersebut, Kyuhyun dan Sungmin pamit dan segera keluar dari ruangan dokter berganti dengan pasien yang lain. Mereka tidak langsung pulang, keduanya berbelok menuju apotek untuk menebus resep vitamin yang diberikan tadi. Dan selama itu pula Sungmin tidak mendengar suara Kyuhyun sedikitpun. Bahkan Kyuhyun tetap diam sejak mereka masih berada di ruang pemeriksaan tadi.

Sungmin tahu bahwa Kyuhyun kembali merasa bersalah atas keadaan bayi dikandungannya. Seperti kata dokter tadi, stress menjadi salah satu pemicunya. Dan ia tahu betul bahwa masalah-masalah yang ia hadapi selama ini tentu membuatnya menjadi stress. Tapi dibalik semua itu, penyebab utamanya karena masalah pada rahimnya. Tapi lagi-lagi hal itu juga karena Kyuhyun. Sungmin tidak pernah menyalahkan Kyuhyun, baginya sudah cukup Kyuhyun ada disisinya kini.

Sungmin membawa tangan Kyuhyun untuk menyentuh perutnya yang tidak terlalu membuncit. Tapi setidaknya bayinya berkembang, meskipun kecil. Perutnya sudah lebih besar dari sebelumnya. Celana yang dipakainya juga sudah naik satu ukuran.

"Jangan terlalu memikirkan perkataan dokter tadi dan jangan menyalahkan dirimu lagi. Meskipun perkembangannya lambat, tapi dia ada. Dia hidup, berbagi nafas dan makanan denganku. Dia mulai bergerak meskipun sangat jarang dan nyaris tidak terasa olehku. Tapi dia bergerak di dalam sini. Dan kalau kau belum tahu, dia sudah lebih besar dari sebelumnya. Ukuran celanaku sudah naik satu ukuran dan celana yang lama mulai terasa sesak. Aku berjanji akan meminum semua vitamin yang diberikan dokter juga susu yang kau beli mahal-mahal supaya dia tumbuh lebih cepat. Aku juga akan makan lebih banyak supaya dia selalu kenyang. Nanti kau akan melihat bagaimana aku kesulitan menggerakkan tubuhku sendiri karena dia sudah sangat berat. Dan kau harus membelikanku baju baru setiap minggunya karena pertumbuhannya membuat berat badanku terus naik dari hari ke hari. Dan kau akan memijat kakiku setiap malam karena kakiku pegal membawanya berjalan kemana-mana"

Kyuhyun memindahkan satu tanganya untuk menyentuh perut Sungmin hingga kini kedua tangannya berada disana, saling bertumpuk dengan tangan Sungmin sendiri.

"Dan ketika ia lahir, kita akan bergantian menggendongnya karena ia akan menjadi bayi yang berat dan membuat tangan kita pegal jika menggendongnya lama-lama" sahut Kyuhyun.

Sungmin terkekeh dan memukul lengan Kyuhyun pelan.

"Kalau sampai tanganmu pegal, itu berarti bayi kita obesitas. Aku tidak mau jika bayi kita obesitas"

Kyuhyun menanggapinya dengan tertawa.

"Baiklah. Cukup lahir dengan sehat dan selamat"

"Ya. Lahirlah dengan sehat dan selamat" sahut Sungmin seraya membawa tangan Kyuhyun untuk mengusap-usap perutnya.

"Tidak hanya bayinya, kau juga harus tetap menemaniku menjaganya nanti" sambung Kyuhyun yang mengisyaratkan bahwa ia tidak inign jika kemungkinan terburuk dalam setiap kelahiran terjadi.

Sungmin tidak menjawab. Tapi ia memberikan senyum manis seolah berjanji ia akan terus menemani Kyuhyun.

.

*Birthing Machine*

.

Hari berganti hari, kini usia kandungan Sungmin telah menginjak minggu ke-32. Sungguh keajaiban ia bisa mempertahankan kandungannya hingga bulan ke-8. Meski di setiap pemeriksaan kehamilannya, dokter selalu mengatakan bahwa bayi yang dikandungnya masih dibawah bobot normal. Karena itu pula, di usia kehamilan yang tua ini perut Sungmin tidak sebesar usia kandungan 8 bulan pada umumnya. Meski perutnya memang sudah jelas menonjol dan ia tidak bisa lagi mengenakan kaus-kaus seperti di awal kehamilannya. Bayi dikandungannya juga tidak begitu aktif bergerak. Hanya sekali-dua kali menendang dalam sehari. Tendangannya pun sangat halus dan nyaris tidak kentara. Dokter bilang hal itu wajar karena memang bayi serta kandungannya lemah.

Sungmin juga tetap mengkonsumsi vitamin dan susu hamil seperti yang dianjurkan. Ia bahkan menambahnya dengan vitamin alami dari buah-buahan yang setiap sore selalu ia santap menjelang jam makan malam.

Hubungannya dengan Kyuhyun pun semakin membaik. Mereka kini sering menghabiskan waktu dengan pergi berjalan-jalan atau makan malam di luar. Hanya saja terkadang Sungmin masih merasa takut jika orangtua Kyuhyun mengetahui hubungan mereka sekarang. Yang ia takutkan bukan pada orangtua Kyuhyun, tapi ia takut jika Kyuhyun kembali ditekan oleh kedua orangtuanya dan berubah menjadi seperti yang dulu.

Terkadang ia berpikir bagaimana cara melawan peraturan keluarga Cho. Ia ingin segera berkumpul dengan putri-putrinya. Hidup bahagia bersama. Meski Kyuhyun sudah mengiyakan permintaannya ini, tapi sampai sekarang tidak ada satu hal pun yang dilakukan suaminya itu. Sungmin tahu Kyuhyun masih mencari waktu yang tepat. Orangtua Kyuhyun terlalu mengerikan untuk mereka dan ia tidak tahu apa yang akan orangtua Kyuhyun lakukan jika sampai mereka tahu bahwa putri-putrinya masih ada.

"Apa yang sedang kau pikirkan?"

Suara Kyuhyun membuat Sungmin terkejut. Ia tidak sadar bahwa Kyuhyun sudah duduk di sampingnya –mungkin sejak tadi.

"Aku tanya apa yang sedang kau pikirkan, Cho Sungmin? Aku sudah pulang sejak 15 menit lalu dan sudah melewatimu berkali-kali tapi kau seperti tidak melihatku. Aku sudah duduk disini selama lebih dari 5 menit dan kau juga tidak menggubrisku"

"Ne?"

Sungmin memiringkan kepalanya bingung, tapi justru terlihat menggemaskan di mata Kyuhyun. Namja itu tidak segan-segan untuk mencubit pipi Sungmin gemas. Membuat Sungmin mengaduh sakit dibuatnya.

"Kau sudah membuang waktumu selama 15 menit lebih untuk melamun, sekarang jelaskan apa yang kau pikirkan tadi" tuntut Kyuhyun.

Sungmin diam. Ia tidak tahu harus mengatakan apa tadi ia pikirkan pada Kyuhyun atau tidak. Setelah menimbang-nimbang, Sungmin memilih menggelengkan kepalanya. Mungkin sebaiknya ia tidak perlu menceritakan isi pikirannya pada Kyuhyun, Kyuhyun sudah cukup tertekan selama ini dan ia tidak mau menambah beban pikiran Kyuhyun dengan tuntutannya.

"Aku tidak memikirkan apa-apa" ucap Sungmin memperjelas.

Kyuhyun tahu Sungmin berbohong, tapi ia lebih memilih untuk tidak memaksa Sungmin bercerita. Apapun yang Sungmin pikirkan, pasti ada hubungannya dengan masalah yang sedang mereka hadapi selama ini.

"Ah! Aku baru ingat. Bersiap-siaplah, kita pergi makan malam di luar malam ini" ucap Kyuhyun seraya membantu Sungmin bangun dari duduknya dan menggiring namja manis itu masuk ke kamar.

"Kita makan malam dimana?" tanya Sungmin seraya memilih baju yang cocok untuk ia kenakan.

"Hanya di kedai pinggir jalan, pakai baju biasa saja" sahut Kyuhyun santai sambil berjalan masuk ke kamar mandi.

Sungmin melihat-lihat sebentar baju miliknya dan akhirnya memilih sebuah baju hamil berwarna biru gelap dengan celana hamil berwarna hitam. Ia juga memilihkan baju untuk Kyuhyun yang senada dengan pakaiannya.

Belakangan mereka memang sering makan malam di luar. Meski hanya di restoran kecil ataupun kedai pinggir jalan seperti malam ini, keduanya tetap menikmati kebersamaan mereka. Kyuhyun sengaja memilih tempat makan biasa bukan di restoran mewah karena pasti banyak orang-orang yang mengenal orangtuanya di tempat-tempat mewah seperti itu. Dan Kyuhyun tidak ingin orangtuanya mengusik Sungmin lagi.

Beberapa menit kemudian Kyuhyun keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk di pinggangnya. Sungmin memberikan baju yang telah ia pilihkan kepada Kyuhyun dan beranjak keluar dari kamar, menunggu Kyuhyun di ruang tamu.

"Kajja, kita pergi sekarang" ajak Kyuhyun beberapa saat kemudian.

Sungmin berjalan mengikuti Kyuhyun yang berjalan lebih dulu. Mereka masuk ke dalam mobil dan beberapa saat kemudian mobil silver Kyuhyun telah bergabung dengan pengendara lainnya di jalan raya.

"Kau ingin makan apa?" tanya Kyuhyun di tengah perjalanan mereka.

"Eumm... apa saja, terserah padamu" sahut Sungmin.

Kyuhyun mengulurkan tangan kananya menyentuh perut besar Sungmin.

"Aegi-ya, katakan pada appa kau ingin makan apa? Appa akan membelikan apapun yang kau mau"

Dug!

Tendangan yang amat sangat lembut menyapa tangan Kyuhyun yang masih berada di perut Sungmin. Tendangan kecil dari bayi mereka yang tidak terlalu kentara.

"Dia menendang?" tanya Kyuhyun.

"Ya. Meski sangat pelan, tapi itu memang tendangannya"

Tidak lama kemudian mereka telah tiba di daerah pasar malam dimana terdapat kedai makanan di sepanjang jalan. Kyuhyun memarkirkan mobilnya di pinggir jalan dan memutuskan untuk menyusuri jalanan dengan berjalan kaki.

"Sudah terpikir ingin makan sesuatu?" tanya Kyuhyun yang saat ini menggenggam tangan Sungmin erat, mengajaknya melangkah bersama dengan perlahan.

"Eumm... Tiba-tiba aku ingin makan sup ikan yang hangat. Bisa kita mendapatkan itu?"

Kyuhyun terkekeh pelan, diraihnya puncak kepala Sungmin dan mengacak rambutnya lembut.

"Tentu saja bisa. Kita cari kedai sup di sepanjang jalan ini"

Setelah menyusuri jalanan yang padat dengan pejalan kaki, akhirnya mereka menemukan sebuah kedai makan yang menawarkan sup ikan seperti keinginan Sungmin. Tanpa berbasa-basi keduanya langsung masuk ke dalam kedai dan mengambil tempat disana.

"Bibi, berikan kami dua porsi sup ikan dengan nasi!" seru Kyuhyun.

Wanita paruh baya pemilik kedai mengangguk dan mulai membuatkan pesanan Kyuhyun. Kedai itu masih sepi, mungkin mereka pembeli pertama malam itu. Karena biasanya kedai-kedai seperti ini ramai ketika menjelang tengah malam.

Trakk

Bibi pemilik kedai dibantu dengan pelayannya mengantarkan hidangan pesanan Kyuhyun dan Sungmin. Dua mangkuk besar sup ikan yang masih mengepul kini berada di meja mereka beserta dengan dua mangkuk nasi.

"Karena kalian pelanggan pertamaku hari ini, kuberikan porsi yang spesial. Dan kulihat istrimu ini sedang hamil, kutambahkan sedikit jahe dan rempah-rempah agar istri dan bayi dikandungannya sehat" ucap Bibi pemilik kedai dengan ramah.

"Kudo'akan persalinanmu nanti berjalan dengan lancar, bayi dan ibunya sehat dan selamat" tambah Bibi itu kemudian.

"Terimakasih, Bibi" balas Sungmin.

Wanita paruh baya itu kembali ke tempatnya di balik kompor. Meninggalkan Kyuhyun dan Sungmin yang mulai menyantap hidangan di hadapan mereka. Sungmin menyantap sup ikan dengan lahap, membuat Kyuhyun menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Pelan-pelan, Sungminnie. Lidahmu bisa terbakar jika makanmu seperti itu. Ditiup dulu"

Sungmin memberengut, tapi tetap menuruti perintah Kyuhyun untuk meniup sup hangat tersebut sebelum ia makan.

Tidak perlu waktu lama bagi mereka untuk menghabiskan dua porsi besar sup ikan beserta nasinya. Setelah menghabiskan semuanya tanpa sisa, keduanya keluar dari kedai setelah menyelipkan sejumlah uang di bawah mangkuk dan berterimakasih pada pemilik kedai.

"Ingin berjalan-jalan?" tawar Kyuhyun.

Sungmin menggeleng pelan.

"Aku ingin pulang dan beristirahat" sahut Sungmin.

"Kau lelah?" tanya Kyuhyun khawatir.

"Sedikit"

Mendengar jawaban Sungmin, Kyuhyun tidak bertanya lagi. Ia segera membawa Sungmin kembali ke mobil dan pulang ke rumah mereka.

"Kyu" panggil Sungmin di tengah perjalanan mereka.

"Ada apa?"

"Bisakah kita ke makam Minhyun dalam waktu dekat ini?" tanya Sungmin.

"Kau ingin kesana? Tidakkah sebaiknya sampai kau melahirkan dulu?"

"Aku ingin pergi sebelum melahirkan, dalam waktu dekat ini" paksa Sungmin.

"Baiklah, hari Minggu ini. Tapi pastikan kesehatanmu terus membaik"

Sungmin tersenyum puas. Dulu Kyuhyun pernah berjanji padanya untuk menemaninya mengunjungi makam Minhyun. Dan sekarang ia menagih janji itu.

.

*Birthing Machine*

.

Sungmin mengernyit. Kyuhyun baru saja tiba di rumah beberapa menit yang lalu, tapi kini suaminya itu telah siap untuk pergi lagi dengan membawa kunci mobil di genggamannya.

"Kau mau kemana, Kyu?" tanya Sungmin penasaran.

"Hari ini eomma dan appa ada di rumah mereka. Aku harus kesana"

"Untuk apa? Apa... apa kau ingin mengatakan semuanya pada mereka?"

"Ya. Cepat atau lambat mereka harus tahu semuanya. Aku sudah lelah menjadi budak mereka, aku tidak ingin mereka memaksaku lagi"

"Tapi Kyu, kau sudah janji akan menemaniku mengunjungi Minhyun" ucap Sungmin panik.

"Hei, ini masih hari Jumat, Sungminnie. Kita akan pergi hari Minggu, seperti yang kujanjikan" balas Kyuhyun.

"Berjanjilah untuk pulang, Kyu"

"Tentu saja aku akan pulang, Minnie"

"Aku takut –hiks"

Ucapan Sungmin terputus dengan isakannya. Ia tidak tahu kenapa, tapi tiba-tiba perasaannya begitu kacau. Rasanya akan ada sesuatu yang besar yang terjadi dengan mereka. Ia takut Kyuhyun tidak akan kembali bersamanya lagi. Ia takut ini akan menjadi akhir dari pernikahan mereka.

Kyuhyun meraih Sungmin dalam pelukannya.

"Sssh, aku berjanji akan pulang. Tidak akan terjadi apa-apa. Semua baik-baik saja"

Kyuhyun mengusap punggung Sungmin menenangkan istrinya yang menangis lirih.

"Aku sudah menelepon Ahra noona untuk datang menemanimu, dia akan datang sebentar lagi. Jangan khawatir"

Kyuhyun melepas pelukannya, mengusap air mata yang mengalir di pipi mulus Sungmin.

"Hari Minggu kita akan ke makam Minhyun, seperti janjiku"

Kyuhyun mengecup lembut kening Sungmin, sedikit lebih lama dari biasanya.

"Aku pergi dulu" pamit Kyuhyun.

Sungmin hanya diam, menatap punggung Kyuhyun yang menjauh darinya. Dan ketika Kyuhyun telah keluar dari kamar mereka, Sungmin berlari menghampiri jendela. Menatap suaminya yang akan keluar.

Seperti memiliki telepati, Kyuhyun berbalik dan menatap ke arahnya dari bawah –halaman rumah. Pria itu melambaikan tangannya pada Sungmin sebelum masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari rumah.

Sementara Sungmin berdoa lirih, berharap semuanya baik-baik saja seperti kata Kyuhyun tadi. Sesaat kemudian Sungmin meringis perih, perutnya sakit, bayi di dalam kandungannya gelisah. Ia mengusap perutnya sejenak.

"Apa kau juga khawatir? Sama sepertiku? Berdoalah untuk appa-mu, semoga semuanya baik-baik saja"

.

.

TBC

Jeng! Jeng! Jeng! Apa yang akan terjadi di chapter 11 nanti? Apa 'sesuatu yang besar' yang Sungmin khawatirkan benar2 terjadi?
Tunggu aja chapter selanjutnya^^ *smirk*

FYI, ini uda mendekati ending. Sebentar lagi kita harus berpisah sama ff ini, sebelumnya author mau minta maaf kalo ada readers yang merasa ceritanya kurang bagus. Apalagi kemarin tiba2 jalan ceritanya author ubah. Author sih berharap ceritanya jadi lebih menarik, tapi ternyata ada yang beranggapan jadi kurang oke. But it's okay. Author masih belajar menulis kok^^

Last, review please^^

November 12, 2015 – 19:58