(Chap 6 Pt.2)
- The Most Beautiful Moment In Life-

Pagi itu adalah hari bersih-bersih di panti asuhan. Aku sedang menyapu pekarangan taman bermain, dan di belakangku ada Jungkook yang sedang memakan coklat sambil duduk di ayunan kosong. Aku sengaja menyuruhnya duduk disana agar ia tidak kelelahan karena ikut bersih-bersih. Setelah selesai menyapu, aku menghampiri Jungkook dan duduk di sebelahnya.

"Ada apa Jungkookie?" tanyaku saat kulihat Jungkook terus menatapiku tanpa berkedip. Kulihat ia menyodorkan coklat di tangannya yang sudah tersisa setengah, "untukku?" tanyaku begitu melihat coklat itu, Jungkook hanya diam sambil mengerjapkan matanya.

Kkk aku ingat ia selalu mengerjapkan matanya setiap kali ia berkata ya atau tidak, aku hanya tersenyum kemudian mengambil coklat itu dan memakannya. Dan kembali lagi kurasakan mata tajam Jungkook tidak lepas dariku, aku kembali menatapnya dan kulihat ekspresi polosnya. Dan aku sudah mengerti, aku segera mengulurkan tanganku untuk mengusap surai rambut Jungkook dan berkata, "anak baik...". Kulihat Jungkook hanya menunduk merasakan usapan itu.

"wah, Jungkookie, kau begitu dekat dengan Taehyungie, ya?" tanya Nara noona yang tiba-tiba saja datang lalu berjongkok di depan kami nerdua. Aku segera menghentikan usapannya pada kepala Jungkook dan tersenyum menatap Nara noona.

"ne nuna, Jungkook sangat suka jika aku usap kepalanya... seperti anak kucing"

"kkk kalian tau kalian berdua tidak pernah bisa dipisahkan"

"tentu saja, aku dan Jungkook akan selalu bersama!" ucapku sambil memeluk leher Jungkook. Kulihat Nara noona hanya tersenyum menatapku, tapi tak lama kemudian senyumnya menghilang sambil menatapku.

"ada apa nuna?"

"a-ah, ani Taehyungie... ah bisa kau ikut aku sebentar?" ucap Nara noona sambil memunculkan senyum manisnya. Aku hanya mengangguk kemudian turun dari ayunan. Kulihat Jungkook terus menatapku seakan ingin berkata 'kajima', tapi aku hanya tersenyum kemudian menatapnya dan berkata, "tunggu disini, arra? Aku akan segera kembali" ucapku sambil memegang tangan Jungkook. Kulihat Jungkook hanya diam dan mengerjapkan matanya dan aku yakin ia berkata 'baiklah'. Aku tersenyum kemudian merogoh sakuku dan memberikan sebungkus coklat pada Jungkook, Jungkook hanya bisa menerimanya dan menatap ku.

Setelah itu aku menggenggam tangan Nara noona dan mengikutinya. Sepanjang perjalanan aku hanya bersenandung kecil mengikuti Nara noona yang sedang bernyanyi. Ia membawaku melewati lorong-lorong kelas dan seakan aku mengetahui arah jalan ini, aku menatap Nara noona yang masih sesekali bernyanyi.

"Noona..."

"Ne Taehyungie?"

"Eum... kita akan kemana?"

Seketika Nara noona berhenti bernyanyi, ia melambatkan jalannya, dan matanya memancarkan kesedihan. Aku menatapnya bingung, dan seketika aku merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Perasaanku benar-benar tidak enak.

"Noona...?"

"Eh-ah... ne... ne Taehyungie? Ah, kita akan ke ruang kepala panti asuhan hehe"

"Kenapa kepala panti asuhan ingin bertemu denganku? Apa aku nakal?"

"Tidak tidak, kau tidak nakal Tae, kau adalah anak yang baik... hanya saja, kepala panti asuhan ingin menemuimu karena... karena ada orang tua yang ingin mengadopsimu"

Seketika aku berhenti berjalan dan melepas genggaman tanganku dari tangan Nara noona. Nara noona menatapku dan seakan mengerti apa yang ku rasakan.

"Tae..."

"Noona, apa aku benar-benar akan diadopsi?"

Kulihat Nara noona berjongkok di depanku dan memegang kedua pundakku. Ia menunjukkan senyumnya, senyum palsunya. "Tae... kau tidak ingin sendirian lagi kan? Kau ingin punya orang tua kan? Kau tau, orang tua yang akan mengadopsimu ini sangatlah baik, kau akan bahagia bersama mereka, kau akan punya baaanyak mainan..."

"Tapi... bagaimana dengan Jungkook?"

Kulihat Nara noona hanya diam memandang sendu padaku. Aku yang seakan mengerti kenyataannya, segera mengambil satu langkah mundur sebagai penolakan untuk ikut dengannya. Dan seketika aku merasakan panas di mataku. "Tae..."

"Aku tidak mau orang tua baru! Aku tidak mau mainan! Aku hanya ingin bersama Jungkook!"

Kulihat Nara noona hanya diam, ia menunduk kemudian menatapku dengan senyumannya, ia kembali menghampiriku dan memegang tanganku. "Taehyungie sayang... kau akan punya banyak teman baru nantinya, kau akan lebih senang bersama-"

"Shireo! Aku hanya ingin bersama Jungkook!"

"Nara"

Seketika kami berdua terdiam mendengar suara seseorang di belakang kami. Itu adalah kepala panti asuhan, dia pasti sudah mencariku dan Nara noona, dan saat itu aku tidak bisa lari kemana-mana.

"Kenapa lama sekali? Ayolah cepat, pasangan suami istri itu sudah menunggu Taehyung"

"N-ne, kami akan segera kesana. Taehyungie, ayo kita temui orang tua barumu"

Saat itu rasanya aku ingin menangis, tapi aku tidak bisa menolak kepala panti asuhan. Dan pada akhirnya aku hanya bisa mengikuti mereka, sesekali kepalaku menengok ke belakang. Aku khawatir meninggalkan Jungkook sendirian disini, aku sudah berjanji padanya ingin menjaganya, tapi aku sendiri malah pergi darinya. Aku merasa ini benar-benar tidak adil, kenapa harus aku yang diadopsi? Dan jika memang harus aku, apa aku tidak bisa membawa Jungkook?

Singkat cerita, setelah pertemuan di ruang kepala panti asuhan, pria yang akan menjadi ayah baruku itu membawaku keluar panti asuhan. Ia berjalan sambil membawa ranselku. Aku sesekali menatap pekarangan panti asuhan itu, berharap Jungkook keluar dan menarikku kembali kedalam sana. Dan tiba-tiba saja kurasakan sebuah tangan lebar yang mengusap kepalaku.

"Hey anak manis, apa ada yang tertinggal?"

Kulihat ayah baruku disana, tersenyum lembut sambil mengusap kepalaku, seketika aku teringat bayangan ayahku, ada sedikit rasa rindu padanya. Dan saat mendengar pertanyaannya, aku ingin sekali menjawab Jungkook lah yang tertinggal disana, tapi entah kenapa rasanya aku tidak berani.

"Ayolah, kita masuk ke mobil, ibumu sudah menunggu" ucapnya lagi sambil kembali mengusap kepalaku. Aku menatap matanya lekat dan kemudian memberanikan diri membuka suara.

"Ahjussi... wae? Kenapa kau mengadopsiku?" kulihat pria itu menghilangkan senyumnya dan balas menatapku. Aku ingin sekali mengetahui kenapa ia mengadopsiku, kenapa tidak orang lain saja?

"Kau akan tau jawabannya setelah kita sampai rumah nanti, ne? Sekaramg ayo kita temui ibu-"

"Ahjussi... apa kau tidak mau menukarku dengan yang lain? Atau kau ingin mengadopsi satu anak lagi?"

"Taehyungie... ibumu hanya ingin kau, dia memilihmu karena ia menyukai wajahmu. Dan ia hanya menginkanmu, tidak yang lain"

"Keundae ahjussi, aku ingin kau mengadopsi satu anak lagi, aku tidak ingin sendirian disana"

"Kau tidak akan sendirian Taehyungie... kita akan pindah ke kota, lalu kau akan sekolah, di sekolah nanti kau akan mendapatkan banyak teman baru, kau akan bahagia nanti, ne?"

Aku tidak bisa berkutik lagi, aku benar-benar kalah kali ini. Aku hanya bisa menuruti orang tua baruku. Di sepanjang perjalanan menuju rumah baruku, aku terus menunduk, berfikir bagaimana keadaan Jungkook jika aku tidak disampingnya, berfikir siapa yang akan melindungi Jungkook jika aku tidak ada untuknya, dan berfikir bagaimana perasaan Jungkook ketika aku tidak ada lagi disampingnya, apakah dia akan sedih sama sepertiku? Aku bahkan belum mengucapkan selamat tinggal padanya, kenapa mereka kejam sekali?

Setelah menempuh perjalanan beberapa lama, aku sampai di sebuah perkarangan rumah yang besar, ada sebuah taman bunga yang besar dan dipenuhi bunga cantik, sebuah air mancur besar, dan sebuah rumah besar yang megah. Ini semua memang terlihat mwnyenangkan untuk sebagian orang, tapi bagiku ini semua akan sangat menyenangkan jika aku menikmatinya bersama Jungkook.

"Taehyungie, ayo kita masuk" ucap ahjussi itu sambil menggendong tas kecilku dan menuntunku menuju rumah besar itu, ketika pintu dibuka, terlihat banyak wanita dan pria yang membungkuk menyambut kami. Beberapa wajahnya terlihat seperti pelayan-pelayan di rumah lamaku, aku jadi merindukannya.

"Taehyungie... kau tunggu disini ya, aku akan memanggil ibumu" ucap ahjussi tadi sambil mengusap kepalaku dan meninggalkanku di ruang tamu yang besar. Aku hanya bisa duduk terdiam sambil melihat sekeliling ruang tamu itu. Aku bisa melihat banyak pigura foto yang terpasang disana, lebih banyak foto seorang anak kecil dibandingkan foto keluarga. Kakiku tergerak begitu melihat foto seorang anak kecil yang tersenyum manis.

Wajahnya mirip denganku, ketika aku melihatnya, aku seperti melihat bayanganku di cermin. Aku kembali melihat sekeliling, dan masih banyak lagi foto anak kecil itu yang terpajang di ruang itu. Aku kembali melihat-lihat, hingga akhirnya kakiku berhenti begitu melihat sebuah foto dengan beberapa bunga dan lilin di sekitarnya. Aku mengerjapkan mataku dan menyipitkan mataku untuk membaca tulisan yang tertera di bingkai foto itu. "Jung... Ba...ek...hyun. Jung Baek Hyun?"

"Itu kakakmu"

Seketika aku membalik badanku dan menatap seorang pria cantik dengan tubuh tinggi yang sedang menatap sendu pada pigura foto tadi. Aku menelan ludahku perlahan, takut jika pria itu marah padaku karena aku sudah berjalan-jalan tanpa izin di ruang tamunya. Tapi yang aku lihat ia malah menatapku kemudian tersenyum lembut.

"Kau Taehyung kan?" ucapnya, aku hanya bisa mengangguk perlahan dan takut-takut. Tapi pria itu hanya tertawa kecil kemudian berlutut di hadapanku untuk menyesuaikan tinggi badannya denganku, ia kembali tersenyum kemudian mengusap kepalaku. "Namaku Jung Youngjae, panggil aku umma, ne?" ucapnya sambil mengusap perlahan pipiku. Seketika aku mengingat bayangan seorang wanita yang selalu mengusap pipi ku.

"Taehyungie, aku senang kau berada disini, aku sudah tidak merasa kesepian lagi"

"Eu-eum... ahjus-"

"Ah kan... panggil aku umma, memang tidak terbiasa disaat awal-awalnya, tapi biasakanlah..." ucap pria bernama Youngjae itu.

"Ne, dan panggil aku appa" sambung seorang pria lagi sambil menuruni tangga, pria yang sama yang mengantarkanku dari panti asuhan ke rumah ini. Tapi tunggu, apa itu berarti kedua orang tuaku adalah pria? Aku menatap wajah mereka bergantian, kemudian mereka tersenyum seakan mengerti apa yang aku pikirkan.

"Tidak apa kan? Kau juga suatu saat akan mengerti Tae... "

"Eum, dan appa mu ini, namanya Jung Daehyun, aigoo kalian berdua begitu mirip, dan kau juga mirip dengan Baekhyun, apa kau reinkarnasinya?"

"Aigo yeobo, tidak ada yang namanya reinkarnasi... anak kita sudah tenang disana..."

"Keundae, Taehyungie ini sangat mirip dengan Baekhyun... aku jadi merasa kalau Baekhyun ada disini"

Baekhyun? Reinkarnasi? Tenang disana? Apa maksudnya, anak di dalam foto itu sudah meninggal? Jadi alasan mereka mengadopsiku...

"Ayo, aku antar kau ke kamarmu" ucap pria bernama Daehyun itu sambil menggenggam tanganku dan membawa tas ransel ku, aku hanya bisa menurut sambil mengikutinya menuju lantai dua. Setelah pria itu membuka pintu sebuah kamar, aku terkejut begitu melihat isi kamarnya, kamar itu begitu luas dan banyak mainan dimana-mana. Untuk sesaat, aku lupa kalau aku baru saja keluar dari panti asuhan dan meninggalkan Jungkook disana. Aku berlari masuk kedalam dan melihat-lihat isi kamar itu. Aku berlari dari sisi ke sisi melihat kamar itu, dan menuju balkon untuk melihat pemandangan kota. Aku tersenyum begitu merasakan angin yang sejuk menerpa tubuhku.

"Kau suka?" ucap seorang pria membuatku tersadar akan lamunanku. "E-eum! Aku suka... eum, umma..." ucapku malu-malu di akhir kalimat, aku menunduk menunggu reaksi pria di hadapanku itu, dan tak lama kemudian ku rasakan pelukan hangat darinya.

"Terima kasih Tae... terima kasih sudah lahir ke dunia..." aku hanya terdiam sambil membalas pelukannya dengan malu-malu tak lama kemudian sebuah tangan mengusap kepalaku dan kulihat Daehyun tersenyum sambil menatap kami berdua. "Selamat datang di rumah Taehyungie..." untuk sesaat, aku merasakan kehangatan keluarga yang sebelumnya hilang.

Pagi ini, hari pertama aku masuk ke sekolah, aku meneruskan sekolah berdasarkan pelajaran yang sudah aku pelajari di panti asuhan. Mereka bilang aku termasuk anak yang mudah menyerap ilmu, dan karena itu aku mudah untuk loncat ke kelas satu sekolah menengah pertama, dan tidak perlu waktu lama bagiku untuk menuju ke SMA. Awalnya aku gugup, bagaimana jika aku tidak mendapatkan teman? Bagaimana jika aku tidak bisa menyesuaikan diri? Bagaimana jika aku tidak bisa mengikuti pelajaran? Dan yang terpenting, bagaimana jika aku belum bisa menemukan Jungkook?

Kembali terpikir olehku, apa Jungkook sudah keluar dari panti asuhan? Apa dia sudah mendapatkan keluarga baru? Aku selalu berusaha mencarinya jika aku keluar rumah bersama ayah dan ibuku, tapi hasilnya nihil, aku tetap tak bisa menemukan dia. Aku ingin ke panti asuhan, tapi aku takut tidak mendapat izin dari kedua oramg tuaku.

Beberapa tahunpun berlalu, yang namanya anak SMA pasti kalian tau aku adalah seorang pria sekarang, bukan lagi anak kecil yang selalu makan sebungkus coklat sambil duduk di atas ayunan atau bermain mainan anak kecil. Orang tuaku semakin sibuk dengan pekerjaannya, mereka sering ke luar negri dan meninggalkanku sendirian di rumah. Tak masalah, aku bisa menjaga diriku sendiri, ditambah lagi rumah besar ini dilengkapi dengan alat pengaman canggih dan orang-orang yang selalu menjagaku.

Suatu hari, bosan sendiri dirumah, aku menerima ajakan temanku, Jimin, untuk pergi keluar. Hitung-hitung refreshing dan sekalian mencoba keberuntungan, siapa tau saja aku bisa bertemu dengan Jungkook. Setelah berganti pakaian, aku segera berangkat menuju tempat yang di tetapkan oleh Jimin. Aku melajukan mobilku perlahan, bermaksud jika saja aku bertemu atau melihat Jungkook di sekitar jalan. Tapi hingga akhirnya aku sampai di cafe, aku tidak melihat sosok yang menyerupai Jungkook. Tapi bahkan aku lupa bagaimana rupanya jika sudah sebesar aku sekarang. Kkk apa dia masih lucu? Atau malah tambah tampan? Ah aku rasa dia masih akan terlihat lucu menggemaskan kkk

Saat aku turun dari mobil, aku segera menghampiri meja Jimin, disana terlihat seorang pria dengan topi terbalik yang sedang memakan waffle yang ditemani secangkir cappucino. Aku duduk di depannya dan mengistirahatkan tubuhku.

"Hei, kau baru datang? Lama sekali, aku makan duluan karena aku lapar" ucapnya sambil memukul kepalaku dengan sendok.

"Maaf, aku mencari Jungkook saat perjalanan kesini" ucapku sambil melihat menu.

"Kau masih mencari dia? Aigoo seberapa penting dia untuk hidupmu, ha? Lagipula aku bertaruh kau sudah lupa rupa dia yang sekarang" sambungnya sambil kembali melahap waffle nya. Hah aku benci membuka kenyataan. Saat aku dan Jimin larut dalam kesunyian, seorang waiter tiba-tiba meletakan sepiring waffle di hadapanku dan membuatku langsung menatapnya. Dan terlihatlah wajah pucat yang dingin disana.

"Hey, kau baru datang dan kau sudah melamun?"

Aku mengerjapkan mataku beberapa kali sebelum akhirnya tersadar. Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaan milik waiter tadi, cukup lama hingga akhirnya kurasakan sebuah sendok mendarat di atas kepalaku.

"Yah! Kenapa kau memukulku?" tanyaku sambil mengusap kepala.

Sang pelaku hanya menatapku sinis sambil berkata, "Sialan kau Kim Taehyung, jangan menatapi kekasihku seperti itu" pria pendek di depan ku berujar posesif. Seakan sang waiter adalah miliknya. Dan waiter itu hanya terkekeh pelan melihat tingkah pria itu.

"Apa ada yang salah? Taehyung hanya menanggapi pertanyaanku Jiminie..."

"Aku hanya tidak ingin dia jatuh cinta padamu Yoongi hyung, kau kan milikku"

"Kkk benarkah? Siapa yang bilang bahwa aku itu milikmu" goda sang pria pucat bernama Yoongi itu sambil menusuk-nusuk pipi Jimin dengan jarinya.

"Nah nah... pertanyaan retorik lagi? Heis aku bahkan tak perlu menjawabnya hyung"

"Kkk habiskanlah makananmu, akan ku ambilkan soda untukmu. Tae, habiskan waffle mu ya?" ucap pria pucat itu sambil berbalik membawa nampan coklat yang sebelumnya ia gunakan untuk membawa sepiring waffle kesukaan ku.

Aku lagi-lagi hanya tersenyum, entah menanggapi pesan Yoongi hyung atau menanggapi sahabat ku yang sangat posesif pada kekasihnya itu. Aku hanya terdiam memakan waffleku, perlahan kurasakan Jimin mendekatkan kepalanya ke arahku dan berbisik, "hey kau tidak menyukai Yoongi hyung kan?"

Aku melirik sahabatku itu, dan terkekeh pelan kemudian kubalas mengetuk kepalanya dengan sendok, "tentu saja tidak, bodoh. Jika aku menyukai Yoongi hyung, aku tidak akan berusaha keras menemukan Jungkook hingga saat ini"

"Aigo, kau masih mencarinya? Tsk, seberapa penting dia untukmu Tae?"

"Sangat penting, tentu saja. Dia yang merubah hidupku saat di panti asuhan"

"Hohoho... cinta pada pandangan pertama? Umur berapa kau saat itu?"

"Mungkin... 8? Atau 10?"

"Kau bahkan masih bocah di umur segitu Taehyung!"

"Kkk cinta itu tidak memandang umur, Jimin"

"Aigoo tapi kau sudah menghubungi panti asuhan itu? Siapa tau saja Jungkook-mu itu masih ada disan"

"Aku sudah kesana, dan dia tidak ada disana. Mereka bilang Jungkook kabur dari panti asuhan. Malah sebagian pengasuh ada yang tidak tau siapa itu Jungkook"

"Tsk tsk... rumit sekali... tapi, bagaimana jika... mungkin sebenarnya kalian sudah berpapasan tapi kalian tisak mengenal satu sama lain"

Seketika aku menyadari sesuatu. Mungkin saja, apa yang dikatakan oleh Jimin ada benarnya. Ini sudah hampir memasuki tahun ke 9 aku tidak bertemu dengan Jungkook, mungkin saja dia dan aku tidak saling mengenal saat kami berpapasan kan?

"Terimakasih Jim. Ah, aku harus pergi sekarang"

"Hee? Kenapa cepat sekali?"

"Aku ada urusan. Ini, aku titipkan uangku disini. Katakan pada Yoongi hyung terimakasih untuk waffle nya"

"Ah baiklah kalau begitu"

Setelah meletakan uang waffle ku, aku segera keluar dari cafe. Hari ini aku akan kembali mencari Jungkook. Mungkin sebagian orang mengatakan kalau aku ini gila, karena mencari orang yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Ada benarnya juga jika ternyata kami berpapasan tapi tidak saling mengenal wajah satu sama lain. Aku berjalan menjauhi cafe kecil tadi.

Kali ini aku tidak akan melibatkan polisi lagi, seberapa besarpun aku membayar mereka, tetap saja masih tidak ada kabar dari mereka. semoga saja jika aku terjun sendiri ke jalan, aku akan menemukan Jungkook. Seketika aku merasakan hal yang tidak enak, bagaimana jika ternyata Jungkook itu sudah tidak ada? Dan bagaimana jika dia sudah di adopsi orang lain dan pindah ke kota atau negara lain? Bagaimana... bagaimana jika aku tidak bisa bertemu dia lagi?

Entah kenapa memikirkan itu semua membuatku mempercepat langkahku. Atau mungkin lebih tepatnya sekarang ini aku sudah berlari di jalanan Seoul yang ramai ini. Aku tidak peduli apa kata orang melihat aku yang panik begini, aku hanya ingin segera menemukan Jungkook.

Rasanya sama seperti 10 tahun yang lalu saat aku ingin meninggalkan panti asuhan.

Panik. Gelisah. Takut. Khawatir. Semuanya bercampur menjadi satu. Oh tuhan aku bemar-benar ingin melihat wajah anak itu sekarang!

Bruk!

"Hah... hah..."

Aku terdiam begitu merasakan bokongku sudah menempel pada aspal trotoar. Aku menunduk untuk mengumpulkan nafas, rasanya dadaku sangat sakit, apa aku semakin lemah? Berlari seperti itu saja aku sudah merasa sangat lelah. Aku menaikan kepalaku untuk melihat siapa atau apa yang baru saja aku tabrak tadi. Dan disana aku melihat seorang pria bersurai hitam yang menunduk sambil membereskan kertas-kertas brosur yang berserakan, oh aku rasa itu kesalahanku. Reflek aku duduk dan ikut membantunya membereskan brosur-brosur itu. Setelah selesai, aku dan dia kembali berdiri, aku masih memperhatikan pria itu yang menunduk sambil membereskan celemeknya.

Merasa ku pandangi, pria itu berhenti bergerak kemudian menaikan kepalanya untuk menatapku. Wajahnya lumayan manis, tatapannya juga sangat dingin seakan ia benar-benar membenciku karna baru saja ku tabrak. Setelah menelan salivaku dengan gugup, aku menunduk untuk meminta maaf, "m-maafkan aku, aku tidak sengaja, aku tidak melihat jalan tadi, maaf"

Aku kembali melihatnya dan melihat tidak ada perubahan dari raut wajahnya, tetap dingin. Tak lama kemudian dia menarik paksa brosur-brosur yang ada di tanganku kemudian ia kembali menatapku seakan berkata "pergi sana jangan dekati aku". Aku hanya bisa menelan saliva kemudian berjalan menjauh darinya pelan. Aku tidak mengerti, apa ada orang yang memperkerjakan orang diam seperti itu?

Trak!

Langkahku terhenti begitu kakiku merasakan sebuah benda kuinjak. Aku segera mengangkat kakiku dan melihat sebuah nametag plastik kecil yang terbelah dua dibawah sana. Aku segera membungkuk untuk mengambil nametag itu, kulihat disana tertera tulisan 'JEON'. Jeon? Sepertinya pernah dengar... seperti... marganya Jungkook, tapi... apa benar ini dia? Tiba-tiba saja pria yang membagikan brosur tadi segera merampas potongan nametag itu dari tanganku, ia sekarang benar-benar kelihatan jengkel, tatapannya seakan-akan mengusirku, tapi rasa penasaranku lebih kuat daripada rasa takutku.

Aku menatapi wajahnya, mencoba mencari kebenaran apakah pria itu benar seorang pria manis bernama Jeon Jungkook yang selama ini kucari. Lama aku menatapinya, kudengar sebuah suara yang menghentikan aktivitas analisa ku. Aku menengok ke arah pintu kedai makan itu bersamaan dengan pria penyebar brosur tadi juga.

"Kau sudah selesai? Mau makan siang?"

Aku menatap pria manis yang berdiri dengan wajah datar di depan pintu kedai sambil mengunyah permen karet, merasa ditatap, pria itu ikut memperhatikanku dan tak lama kemudian ia berhenti mengunyah permen karetnya. "Taehyung?"

Seketika aku terkejut begitu mendengar ia memanggil namaku, tunggu, dari mana ia tau namaku? Kulihat pria pembagi brosur itu juga menatapku dengan cepat dan terkejut, tapi rasa penasaranku lebih menjurus ke pria pemakan permen karet itu. "Kau tau namaku?"

Dengan tatapan datar, pria manis itu menengok kanan-kiri kemudian menyuruhku masuk, "masuklah, diluar dingin". Sambil menggandeng tangan pria pembagi brosur itu, pria manis itu mengajakku masuk ke kedai makan kecilnya.

Sekarang disinilah aku, berada di sebuah meja dengan semangkuk ramyun yang baru saja di letakan di atas mejaku. Aku menatap ramyun itu kemudian menatap pria manis disamping mejaku. Pria itu masih dengan wajah datarnya dan permen karet di dalam mulutnya. Setelah meletakan nampan di meja sebelah, pria manis itu duduk di hadapanku.

"Makanlah, selagi hangat. Aku yang traktir" ucapnya.

Aku hanya bisa terdiam menatap mangkuk ramyun itu kemudian melihat sekitar. Rumah makan yang tidak terlalu besar, namun terasa nyaman, ada beberapa foto keluarga yang terpajang di dinding-dinding. Saat aku sedang melihat sekitar, sebuah suara menghentikan mataku yang masih menelusuri kedai itu.

"Apa yang kau lakukan di daerah ini? Kupikir rumahmu tidak di dekat sini"

Kulihat pria manis itu menatapku dengan sedikit tidak suka, aku mungkin karna aku lancang menatapi kedainya. "Ah... aku sedang... berjalan-jalan saja..."

"orang beruang seperti mu berjalan? Menggunakan kaki? Hah yang benar saja..." ucap pria manis itu sambil tersenyum meremehkan. Aku hanya menatapnya bingung, masih terbesit dalam pikiranku tentang siapa priaanis itu sebenarnya

"Bagaimana kau bisa tau?"

"Siapa yang tidak tau? Pria tampan yang masuk kedalam kelas dengan tiba-tiba, memperkenalkan dirinya sebagai keluarga dari orang terpandang di Korea, dan selalu mendapat pujian dari guru-guru dan murid-murid lain karna kepintarannya, tapi selalu menutupi jati dirinya dengan bersikap ramah pada semua orang. Orang munafik seperti mu, siapa yang tidak tau?"

"Tunggu, kau teman sekelasku?"

"Sebut saja begitu"

"Kau... anak yang selalu menatapku sinis di kelas?"

"Oh apa aku melakukannya padamu?"

"Tentu saja, aku selalu ingin mengajakmu berbicara, tapi kau selalu menghindar"

"Kau? Ingin bicara pada orang rendahan sepertiku? Hah, yang benar saja..."

"Hei berhentilah membandingkan status sosial. Aku benar-benar tidak masalah dengan hal itu" ucapku tegas sambil menatapnya tajam. Aku memang berasal dari keluarga terpandang, tapi aku tidak suka jika ada orang yang membeda-bedakan status sosial. Karna bagiku kita semua sama, hanya manusia yang nantinya akan busuk di dalam tanah, tanpa harta tanpa keluarga.

Kulihat pria manis itu menghela nafas kemudian menatapku kesal, sepertinya ia merasa jengkel karna sudah ku kalahkan. "Ok kebmbali pada pembicaraan awal, apa yang kau lakukan di daerah sini"

"Aku sedang mencari orang"

"Si pria bermarga Jeon itu?"

"Dari mana kau tau?"

"Aku mendengarnya dari mulut orang"

"Ah... kalau begitu, jika kau menemukan seorang pria bernama Jeon Jungkook, beritau aku ke nomor ini" ucapku sambil memberikan nomor telfonku padanya. Pria manis itu tampak terdiam sambil memegang kertas ditangannya. Ia pun memperhatikanku dengan ragu.

"Jeon... Jungkook?"

"Y-ya, apa kau mengenalnya?"

Kulihat pria manis itu menggigit jarinya kemudian ia beranjak dari duduknya menuju dapur. Beberapa menit kemudian kulihat pintu dapur itu terbuka dengan seorang pria pembagi brosur tadi berjalan di belakang pria manis pengunyah permen karet itu. Kulihat pria pbagi brosur tadi hanya menunduk mengikuti pria di depannya. Tak lama kemudian pria pengunyah permen karet itu berdiri di samping mejaku.

"Hey, tunjukkan padanya apa yang selama ini kau simpan" ucap si pengunyah permen karet.

Perlahan tangan pria pembagi brosur itu merogoh sakunya dan mengeluarkan sebungkus coklat yang selalu aku makan saat aku merasa sedih di panti asuhan. Aku menatap bungkus coklat yang sudah lusuh itu dengan tidak percaya, kemudian aku berdiri dan menatap pria pembagi brosur itu yang bahunya bergetar seperti sedang menahan tangis.

"Jungkook?"

"Sebelum kedua orang tuaku meninggal, mereka mengadopsi seorang anak kecil yang mereka temukan dipinggir jalan, kala itu hari sudah malam dan salju juga sudah turun. Selama ini aku hidup dengan orang yang kau cari, maaf" jelas si pengunyah permen karet sambil mengusap surai pria pembagi brosur yang ternyata adalah Jungkook.

Grep!

Tanpa pikir panjang aku segera memeluk Jungkook dan menyalurkan semua rasa rinduku pada pria manis itu. Aku tidak percaya, setelah sekian lama aku mencari, akhirnya aku menemukannya disini. Aku benar-benar merasa bersalah karena melanggar janjiku padanya, aku benar-benar merasa bersalah karena meninggalkan dia sendirian di panti asuhan. Kurasakan pelukan Jungkook semakin erat, dan bahuku juga terasa basah apakah dia menangis? Oh dia tau bagaimana cara membuatku selalu merasa bersalah.

"Jungkookie... aku minta maaf karna aku meninggalkanmu waktu itu, aku minta maaf karena mengingkari janjiku..."

Tanpa suara, kurasakan anggukan kepalanya dalam pelukanku, aku merasa lega karena ia telah memaafkanku. Akhirnya semua rasa yang selama ini aku rasakan terbayar sudsh dengan adanya pria ini di hadapanku. Sekarang tinggal membawanya pulang kan?

"Ah... kkk terima kasih karena sudah memaafkanku... sekarang, ayo kita pulang" ucapku sambil mengusap kepala Jungkook dengan lembut, perlahan kurasakan ia menjauhkan kepalanya dari dadaku. Melihat jejak air mata di pipi nya benar-benar membuatku makin merasa bersalah, tanpa pikir panjang aku segera mengusap lembut pipi itu kemudian menunjukkan senyum yang selalu kutujukan pada Jungkook. Tak lama kemudian Jungkook tersenyum dan mengeratkan pelukannya padaku.

"Ho, curang sekali, selama kau hidup denganku, kau bahkan tak pernah tersenyum padaku..." ucap si pengunyah permen karet sambil mengusap rambut Jungkook, ia tersenyum lembut kemudian menatapku "aku rasa memang lebih baik jika kau hidup dengan pria ini, setidaknya kau lebih merasa bahagia kan" ucapnya lagi sambil menampilkan senyumnya padaku.

aku yang mendengarnya tersenyum lebar, akgirnya aku bisa bersama kembali dengan Jungkook. Setelah merapihkan baju dan barang-barang Jungkook, aku pamit untuk membawa pulang Jungkook. Disaat itulah Jungkook membungkuk kemudian tersenyum dan berkata "terimakasih". Dan karena itu adalah pertama kalinya ia mendengar Jungkook berbicara, si pengunyah permen karet itu tersenyum kemudian mengusap kepala Jungkook. Setelah itu aku dan Jungkook pergi meninggalkan kedai makan itu.

*. Skip (Author POV)

Seokjin menatap iba pria di hadapannya yang sedang menunduk sambil memegang gelas kopinya. Entah dia harus senang atau malah sedih, yang pasti ia bisa menangkap kalau pria di hadapannya itu hidupnya lebih keras daripada ia yang ditinggal ayahnya saat usianya sudah mencapai 19 tahun.

"A ekhem, baiklah Tae... aku turut berduka atas kematian kedua orang tuamu" ucap Seokjin dengan senyum untuk membuka percakapan. Taehyung yang mendengarnya hanya tersenyum kemudian menatap pria di depannya itu.

"Tidak apa Seokjin, aku sudah pasrah atas kematian mereka, lagipula sekarang aku sudah hidup dengan Jungkook" ucap Taehyung sambil memperlihatkan senyumnya.

Mendengar nama 'Jungkook', Seokjin kembali menghilangkan senyumnya dan menatap ragu pada Taehyung "Ah, berbicara tentang Jungkook, dari beberaa fakta dan ditambah dengan ceritamu, aku merasa kalau dia bukanlah... anak yang baik"

"Apa maksudmu?"

Mendengar pertanyaan Taehyung, Seokjin menunjukkan wajah seriusnya kemudian mengeluarkan beberapa berkas. "Aku minta maaf atas kelancanganku untuk mengatakannya, tapi... dari beberapa laporan di panti asuhan, Jungkook sering mencelakai salah satu anak di panti asuhan. Dan setelah ia dilaporkan menghilang, seorang pengasuh di panti asuhan itu di temukan tewas dengan luka tusuk di lehernya"

"Lalu... apa kau ingin bilang kalau yang membunuh pengasuh itu adalah Jungkook?"

"Kemungkinan besar iya, karena dari semua fakta yang kami dapat, fakta-fakta itu menjurus ke Jungkook"

Taehyung terdiam beberapa saat setelah mendengar pernyataan Seokjin. Ia merasa tidak terima jika ada orang yang menuduh Jungkook sembarangan. "Hah, apa-apaan... kau tidak seharusnya berkata seperti itu detektif, tidak ada bukti yang kuat, bisa saja itu hanya tuduhan karena ada yang tidak suka dengan Jungkook kan" ucap Taehyung dengan nada yang mulai meninggi, ia benar-benar tidak terima pada pernyataan Seokjin.

Seokjin sendiri hanya bisa terdiam mendengar perkataan Taehyung. Ia juga merasa bersalah karena tiba-tiba mengeluarkan pernyataan kalau Jungkook bersalah atas peristiwa pembunuhan, dan lagi akan susah dan sulit bagi Taehyung jika polisi menangkap Jungkook bagaimanapun Jungkook yang menemani Taehyung hidup selama kedua orang tua Taehyung tidak ada di rumah.

Merasa sudah tidak ada urusan lagi, Taehyung segera berdiri dari kursinya kemudian berbalik untuk meninggalkan Seokjin, tapi langkahnya terhenti begitu mendengar suara letusan pistol dan saat melihat banyak pasien serta pengunjung rumah sakit berlarian keluar rumah sakit. Seokjin yang juga melihatnya langsung berdiri dan menghampiri Taehyung.

"A-ada apa ini?" tanya Taehyung dengan panik.

"Tsk, sial" umpat Seokjin sambil mengambil walkie talkie-nya dan menghubungkannya ke partnernya. "Namjoon! Namjoon! Kau dengar aku?"

Tidak ada jawaban, hanya suara tidak jelas yang ada di sana, Seokjin kembali menyambungkannya dengan Namjoon dan kali ini ia mendapat respon dari Namjoon.

"H-hyung..."

"Namjoon kau dengar aku?"

"H-hyung, a-u t-dak bi-a ber-cara -nyak"

"Namjoon bicara lah yang jelas!"

"Ada apa detektif?"

"Diamlah"

"H-ung dia -kan mem-nuh-u... -rim ba-tuan"

Seokjin kembali mengumpat ia hampir saja membanting benda persegi panjang itu. tak lama kemudian ia segera menyambungkan walkie talkie itu pada kantornya dan meminta bantuan. Taehyung hanya bisa menatap Seokjin cemas. Yang ada di pikirannya hanya Jungkook, ia tidak ingin pria manis itu kenapa-kenapa di dalam sana. Dan tanpa pikir panjang Taehyung segera berlari masuk kedalam rumah sakit dan Seokjin yang melihatnya langsung memanggilnya.

"Taehyung apa yang kau lakukan?!"

Taehyung hanya diam tak menghiraukan panggilan Seokjin dan tetap berlari. Yang ada di kepalanya hanya ada Jungkook. Seokjin kembali mengumpat kemudian ia memasukan walkie talkie nya dan mengambil pistolnya dan segera mengejar Taehyung.

To be continue..

HUWEEEEEE ANYEOOOOONNNNGGGG Maaf ya nji telat update nya ToT /bow/
nji lagi sibuk2nya sekolah soalnyaaa ;-;
nanti nji usahain biar cepet update deh oh iyaaaa, Sick ini ditambah 1 chap lagi lho, berhubung bangtan ngeluarin album baru lagi nov 2015 kemarin, jadi nji memustukan untuk menambah 1 chap lagi/? hehehe x)
chap terakhir nanti langsung end lhooo x)
nanti nji bikin ending yang paling gregeeettt kkk sad ending gpp ya? clue nya, seseorang mati/? /plak/? xD

hehe oh iya, makasih ya buat readernim-readernim yang masih setia menunggu ff abal milik nji ;v;
nji bener2 sayang kalin duh kkk x)
okelah sebagai permintaa maaf, chap terakhir akan segera keluar hehe

oke seperti biasa, RnR juseyooo ;v;