Konbanwaaaa

Update kilat (?) nih XD /plak/

.

.

.

Yang berkenan silahkan lanjut baca X'D

.

.

.

Chapter 10

.

.

.


"Apa yang baru saja kau katakan?" Tanya Miku.

"Apa aku perlu mengulanginya?" Haku balik bertanya, Miku hanya terdiam. "Dengar ya, semua vampire yang kau kenali itu memiliki tunangan. Len dengan Gumi, Ted dengan Lily, dan Kaito dengan…"

"Luka"

Miku terkejut dan tidak bicara apapun.

"He—"

"Luka-san…adalah tunangan Kaito?" Seketika perasaan Miku pun tak menentu. Haku yang melihatnya pun hanya diam dan terus memperhatikannya.

"Kau membuatku iri"

Miku langsung teringat ekspresi serta perkataan Luka saat bertemu dengannya di Sasarai, tepatnya di kediaman Gakupo.

"Apa Kaito sengaja merahasiakan semua ini dariku?" Batin Miku.

"Vampire tidak mungkin serius dengan seorang manusia. Camkan itu baik-baik" Ucap Haku yang kemudian menghilang.

"Hiks…" Seketika air mata Miku pun keluar. Dadanya begitu sesak saat mengetahui jika Luka yang begitu ramah padanya ternyata adalah tunangan dari Kaito. "Padahal aku mulai mencitaimu…hiks"

"Are? Kau masih disini?" Tanya Gakupo yang kebetulan lewat. "Oh iya tadi Kaito bilang dia ada urusan mendadak, jadi dia langsung pergi ke Sasarai dan tidak bisa menemuimu" Ucap Gakupo.

Mendengar hal itu, tangis Miku pun semakin menjadi-jadi dan itu membuat Gakupo panik dan segera membuatnya tenang.

"Sudah baikan?" Tanya Gakupo, Miku menganggukkan kepalanya sambil terus mengusap kedua matanya. "Kenapa ka—"

"Gakupo-san, apa yang akan kau lakukan jika sebenarnya pacarmu sudah mempunyai tunangan?" Tanya Miku secara tiba-tiba. Gakupo terkejut.

"Kenapa kau—" Gakupo melihat ekspresi Miku yang begitu sedih. "Jadi kau sudah tau kalau Kaito sudah…"

". . ." Miku menganggukkan kepalanya.

". . ." Gakupo terdiam.

"Kenapa kalian semua tidak mengatakan hal sepenting itu padaku?" Tanya Miku yang air matanya kembali mengalir. "Kalau begini kan bukan hanya aku yang terluka, tapi juga tunangannya"

"Kalau boleh aku tau, siapa yang sudah memberi tau mu mengenai hal ini?" Tanya Gakupo sambil mengelus lembut kepala Miku.

"Haku…" Jawab Miku.

"Apa?! Aku tidak menyangka jika dia akan berterus terang padamu" Kata Gakupo. Miku hanya diam dan membiarkan air matanya yang jatuh dan mulai membasahi rok nya. Gakupo yang tidak tega pada Miku pun akhirnya memutuskan untuk menemaninya sampai benar-benar tenang. Gakupo tidak tau harus bagaimana karena informasi yang Miku dapatkan adalah sebuah fakta.

Sejak dulu semua Vampire yang mempunyai darah Bangsawan akan di jodohkan dengan Vampire keturunan Bangsawan lagi. Jika ada dari mereka yang menikahi Vampire biasa atau seorang manusia, maka gelar kebangsawanan mereka akan di lepas, dengan kata lain mereka bukanlah lagi anggota dari keluarganya lagi. Dan itulah yang dialami oleh ibunya Kaito, dia rela melepaskan gelar kebangsawanannya hanya agar dapat bersatu dengan seorang manusia. Beberapa tahun dia di asingkan, tapi akhirnya dia di perbolehkan pulang setelah melahirkan Kaito. Meskipun di perbolehkan pulang, dia bukanlah seorang bangsawan lagi. Selama di asingkan, dia tinggal bersama suaminya di rumah yang sekarang di tempati oleh Kaito dan sepupunya yang lain. Dia begitu setia pada suaminya, dia terus berada di samping suaminya sampai akhirnya dia menutup mata untuk selamanya. Dan setelah itu akhirnya dia memutuskan untuk membesarkan Kaito di Sasarai.


Ke esokan harinya Miku masih memikirkan ucapan Haku.

"Miku…" Panggil seorang laki-laki yang tidak lain adalah Kaito.

". . ." Miku hanya diam dan terus berjalan.

"Mi—" Kaito hendak memanggil Miku lagi, tapi seseorang memanggilnya sambil melambaikan tangan.

"Kaito!" Panggil seorang perempuan. Miku pun menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya.

Dhegh… Miku melihat Luka yang menghampiri Kaito. Hati Miku terasa sangat sakit saat melihat mereka tersenyum satu sama lain. Miku pun langsung mengalihkan pandangannya dan langsung berlari kedalam kelasnya.

Sesampainya disana Miku langsung kembali menangis. Len yang juga baru datang pun langsung menghampirinya.

"Miku kau baik-baik saja?" Tanya Len. Kemudian Gakupo menepuk bahu Len dan membawanya ke depan kelas. "APA?! DIA MEMBERITAHUKANNYA LANGSUNG PADA MIKU?!" Suara Len terdengar sampai kedalam kelas. Tangis Miku pun semakin mendalam.

"Andai aku tidak cinta, aku tidak akan merasa sakit"

"Andai aku tidak cinta, tidak akan ada orang lain yang tersakiti"

Selama di sekolah, Miku terus berusaha menghindari Kaito. Ketika tangannya di tarik pun Miku segera melepaskannya dan pergi meninggalkan Kaito.

"Apa yang sudah aku lakukan?" Tanya Kaito yang kebingungan dengan sikap Miku.

Haku yang ada disana pun hanya diam dan mengamati mereka berdua. Saat Kaito melihat ke arahnya, dia pun menghilang.

Miku yang masih berusaha menghindari Kaito pun pergi kea tap sekolah. Disana tidak ada siapapun kecuali…

"Apa yang sedang kau lakukan disini?" Tanya Nero yang sedang duduk di tiang pembatas. Miku hanya menatap Nero dengan tatapan hampa. Nero pun turun dan berjalan mendekati Miku.

"Nero-san…" Panggil Miku. Nero diam di depan Miku.

"Kau sedih?" Tanya Nero. Miku hanya diam dan air matanya kembali mengalir, Nero langsung memeluknya dengan lembut.

"Apa kau juga punya tunangan?" Tanya Miku.

"Iya…" Jawab Nero. Miku hanya diam. "Tapi dia sudah lama meninggal" Nero memeluk Miku lebih erat lagi.

"Se…sak" Kata Miku.

"Suaramu, rambutmu, aromamu, namamu semuanya mengingatkanku padanya" Nero melepaskan pelukannya dan meraba wajah Miku.

"Namaku?"

"Tunanganku bernama Zatsune Miku, mirip denganmu bukan?" Nero tersenyum. "Sayangnya dia meninggal dunia karena sakit" Raut wajah Nero kembali datar.

"Maafkan aku karena sudah mengingatkanmu padanya" Miku menundukkan kepalanya.

Miku pun duduk disana bersama Nero, tapi mereka tidak saling bicara satu sama lain lagi. Dan saat hari menjelang sore, Miku melihat Kaito yang sedang berjalan berdua dengan Luka.

"Apa yang kau lihat?" Tanya Nero yang menghampiri Miku.

"Kaito…"

"Kalau kau merindukannya, kenapa kau tidak temu—"

"Hatiku sakit saat berada di dekatnya" Ucap Miku. Nero terdiam.

Saat Miku pergi ke kelas untuk mengambil tasnya, secara tidak sengaja dia pun bertemu dengan Luka.

"L-Luka-san…"

"Halo" Sapa Luka dengan ramah.

"Dilihat darimana pun aku takkan bisa menandinginya" Ucap Miku dalam hatinya sambil melihat Luka dengan tatapan sedih.

"Miku? Kau kenapa?" Tanya Luka.

"Padahal aku sudah melukai hatinya, tapi dia masih begitu baik padaku"

"Miku?" Luka menggenggam kedua tangan Miku. "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu" Lanjutnya. Miku langsung melepaskan tangannya dan pergi meninggalkan Luka.

"Untuk saat ini aku masih belum siap untuk mendengar pengakuan dari Luka-san, aku tidak mau hatiku semakin hancur…"

Saat Miku berlari, tiba-tiba Kaito keluar dari sebuah ruangan dan pada akhirnya Miku pun menabraknya.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Kaito yang menahan tubuh Miku.

". . ." Miku hanya menganggukkan kepalanya dan melepaskan dirinya dari Kaito.

"Ada yang ingin aku katakan padamu…" Kata Kaito. Miku terdiam. "Miku, aku—"

Tiba-tiba Nero muncul dan langsung menarik Miku dan menjatuhkannya dalam pelukannya yang dingin.

"Jika kau berniat menghancurkan hatinya lebih dalam lagi, aku akan membunuhmu" Ucap Nero.

"Apa yang kau maksud?!"

"Bukan hanya kau, tapi tunanganmu pun akan aku bunuh" Ucap Nero lagi. Kaito terkejut dan langsung menatap Miku yang menangis di pelukan Nero.

"Nero, kita semua sudah membicarakan soal in—"

"Cukup! Aku tidak mau mendengar apapun lagi!" Miku sedikit membentak. Kaito pun terdiam.

". . ." Nero pun membawa Miku pergi tanpa berkata apapun pada Kaito.


Nero membawa Miku ke kediaman pribadinya di Akita.

"Kau boleh menenangkan dirimu disini" Ucap Nero. Miku pun hanya diam dan duduk di sofa sambil terus menangis. "Menangis tidak akan menyelesaikan apapun, tapi jika menangis dapat membuatmu lebih baik, itu taka pa" Nero mengelus kepala Miku dan kemudian meninggalkannya.

Saat dirinya sudah mulai kembali tenang, dia melihat sebuah album foto yang tergeletak di meja. Miku pun langsung mengambilnya dan melihat isi album tersebut.

Disana dia melihat foto keluarga Nero, lalu dia juga melihat Nero yang sedang memeluk seorang gadis cantik berambut hitam yang tidak lain adalah Zatsune Miku, tunangannya. Dalam foto itu Nero terlihat sangat bahagia, hal itu terlihat dari senyum di wajahnya. Selain itu juga ada foto Lily yang sedang di gendong Ted, lalu Luka yang sedang menggandeng tangan Kaito dan juga Nero. Lalu Miku menutupi foto bagian Nero sampai akhirnya hanya terlihat Luka dan Kaito. Miku terus melihatnya dan merasa jika mereka berdua sangat serasi.

"Luka-san yang cantik dan Kaito yang baik, mereka begitu serasi…" Miku kembali melihat-lihat foto yang lain. "Aku juga mencintai Kaito, tapi aku tidak mau melukai Luka-san…lalu aku harus bagaimana…"

Miku berjalan keluar ruangan itu dan pergi menuju halaman belakang rumah Nero. Disana dia duduk di sebuah bangku yang menghadap langsung ke air terjun. Beberapa saat kemudian dia mendengar langkah kaki yang mendekat. Miku pun menengok ke belakang.

"Haku-san…"

"Sekarang kau punya dua pilihan" Kata Haku.

"Pilihan?"

"Lepaskan Kaito, maka Luka akan bahagia. Atau pertahankan Kaito, maka Luka akan menderita"

Miku langsung terdiam.

"Bagaimana caranya agar aku dapat lepas dari Kaito?" Tanya Miku. Haku sedikit kaget.

"Cukup katakan jika kau tidak cinta padanya" Jawab Haku.

"Apa dengan begitu Luka-san tidak akan menderita?" Tanya Miku lagi sambil tersenyum.

"Ya…"

Setelah itu Miku tersenyum dengan air mata yang jatuh di pipinya, Haku pun terdiam dan akhirnya menghilang.

Meskipun bertanya seperti itu, sebenarnya Miku tidak mau melepaskan Kaito karena cinta yang sudah tumbuh di hatinya. Tapi dia juga tidak mau melukai Luka karena kehadirannya di antara mereka berdua. Miku tidak mau jadi orang ketiga yang merusak hubungan mereka.

"Aku cinta padamu, tapi aku harus melepaskanmu" Ucap Miku.

"Kau yakin akan melepaskannya?" Tanya Nero yang ntah sejak kapan ada di sampingnya.

"Nero-san?"

"Apa kau yakin dengan ucapanmu?" Tanya Nero lagi. Miku terdiam. "Jika kau cinta, pertahankan. Jika kau tidak cinta, lepaskan. Pikirkan itu baik-baik" Nero mengelus kepala Miku.

"Aku ak—"

"Jangan buat keputusan yang dapat membuat dirimu menyesal" Nero tersenyum pada Miku.

"Hm…" Miku membalas senyuman Nero.


3 hari telah berlalu, dan 3 hari pula Miku telah menghindar dari Kaito dan juga Luka.

"Sekarang aku sudah mulai tenang, mungkin sekarang tidak apa-apa kalau aku bertemu dengan Kaito" Ucap Miku dalam hatinya sambil berjalan melewati kelas Kaito.

"Kau serius?!" Miku mendengar suara Len dari dalam kelas Kaito.

"Kau harus segera memberitahukannya pada Miku!" Ucap Ted.

"Tapi…kenapa secepat ini…kalau kau menikah, bagaimana dengan Miku-chan?" Tanya Lily.

Miku pun menghentikan langkahnya dan melihat kedalam kelas itu. Dan disana dia melihat Kaito, Ted, Len, Nero, dan Lily.

". . ." Miku langsung terdiam dan lagi-lagi air matanya tumpah begitu saja saat mendengar ucapan Lily.

"Aku tidak bisa memberitahukannya" Kata Kaito yang terlihat kebingungan.

"Kau tidak perlu menyampaikannya lagi. Sepertinya dia sudah mendengarnya" Ucap Gakupo yang berdiri tepat di belakang Miku.

"Miku…" Kaito terkejut.

Kaito segera berlari menghampiri Miku dan mencoba menyentuh tangannya, tapi Miku segera menghindar. Tanpa berpikir panjang, Kaito pun langsung memeluk Miku dengan sangat erat.

"Maafkan aku…" Ucap Kaito. Miku hanya diam. Begitu juga dengan semua yang ada disana.

"Lepaskan aku"

"Maaf"

"Lepaskan aku!" Miku mulai mencoba melepaskan dirinya dari Kaito. "Aku tidak apa-apa…hiks…sungguh aku tidak apa-apa…hiks…karena itu semoga kau hidup bahagia bersamanya" Miku tersenyum pada Kaito.

"Miku…" Kaito terkejut dan melepaskan pelukannya. Kaito merasa sangat bersalah ketika melihat tangisan Miku yang teramat mendalam. "Aku mencintaimu Miku" Ucap Kaito sambil menggenggam tangan kanan Miku.

"Lepaskan…" Miku menarik tangannya.

"Miku dengarkan aku…"

"Tidak perlu ada yang aku dengarkan lagi, semuanya sudah jelas kan? Kau punya tunangan, dan kalian akan segera menikah" Miku kembali tersenyum dengan air mata yang terus membasahi kedua pipinya. "Aku tidak boleh menghalangi kalian…"

"Tapi aku hanya mencintaimu! Percayalah padaku!"

". . ."

"Miku? Katakan…kau juga mencintaiku kan?" Tanya Kaito. Miku terdiam.

"Bagaimana caranya agar aku dapat lepas dari Kaito?"

"Cukup katakan jika kau tidak cinta padanya"

Tiba-tiba Miku teringat dengan perkataan dari Haku.

"Aku juga mencintaimu, tapi aku tidak mempunyai pilihan lagi…maafkan aku" Miku menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

"Miku?" Panggil Kaito sambil menyentuh pundaknya.

Dugh…Miku mendorong Kaito.

"Sekarang aku akan mencoba untuk—"

Wussh…Angin berhembus kencang. Haku dan Luka muncul di tempat itu. Miku terdiam menatap Luka.

"Miku…" Panggil Kaito dengan lembut.

"Aku tidak cint—" Nero langsung membekam mulut Miku sebelum Miku menyelesaikan kata-katanya. Kaito terkejut dan langsung diam. Begitu juga dengan semua yang ada disana, tak terkecuali Luka.

". . ." Nero langsung membawa Miku pergi dari sana.


Nero membawa Miku kedalam perpustakaan yang sengaja di kunci Nero dari dalam.

"BODOH! APA YANG KAU PIKIRKAN?!" Bentak Nero. Miku langsung terdiam.

"A-aku…aku hanya ingin melepaskan Kaito" Ucap Miku. Nero langsung memukul salah satu meja yang ada disana. "N-Nero-san..hiks" Miku ketakutan. Nero langsung mencengkram bahu Miku dengan cukup keras.

"Caramu salah! Kalau tadi kau mengatakannya sampai selesai, Kaito akan mati!" Ucap Nero, Miku langsung terkejut. "Tidakkah kau belajar dari ingatan Gumi dan Len yang sudah kau lihat?"

"M-mati?" Miku kembali menangis. "Aku hampir…hiks…"

"Akan ku jelaskan padamu, hukum suci akan cinta dalam dunia Vampire" Ucap Nero sambil memeluk Miku yang gemetaran karena ketakutan.

"Love Me or Kill Me"

"Love Me or Kill Me?"

"Bagi seorang Vampire ciuman dan kata cinta itu sangat suci. Maka dari itu seorang Vampire hanya mengatakan cinta pada orang yang benar-benar dia cinta dan mencium orang yang benar-benar dia cintai. Ketika seorang Vampire melakukan kedua hal itu, berarti dia sudah menyerahkan hidup dan matinya pada orang yang dia cintai. Mereka akan tetap hidup selama orang yang mereka cintai tidak membuang perasaan cintanya. Dan mereka akan mati saat orang yang mereka cintai membuang cintanya, contohnya saja saat kau mengatakan 'aku tidak cinta padamu' pada Kaito, maka Kaito akan langsung mati dan menghilang" Jelas Nero.

"Jadi hidup Kaito ada padaku?" Tanya Miku. Nero menganggukkan kepalanya. "Lalu apakah Gumi pernah mengatakan kalau dia tidak cinta pada Len?" Tanya Miku lagi.

"Gumi tidak pernah mengatakan hal seperti itu pada Len. Karena dia tau apa yang akan terjadi pada Len. Tidak masalah kalau kau berkencan dengan orang lain, asalkan kau tidak mengatakan kalimat terlarang itu pada vampire yang mencintaimu" Jawab Nero. "Jika kalian tidak saling cinta, maka baik kata cinta maupun ciuman itu sama sekali tidak ada artinya dan hukum suci itu pun tidak berlaku"

". . ." Miku terdiam.

"Kita praktikkan ya" Nero mengangkat wajah Miku. "Aku cinta padamu" Ucap Nero yang kemudian mencium Miku. "Sekarang coba katakan jawaban menolak" Lanjut Nero.

"A-aku…" Miku ragu.

"Katakan saja"

"Aku tidak cinta padamu" Ucap Miku sambil menutup kedua matanya.

"Lihat kan? Tidak ada yang terjadi. Karena aku tidak memiliki perasaan cinta padamu, begitu juga kau padaku" Kata Nero sambil membelai pipi Miku. "Tapi jika kau katakan itu pada Kaito, maka…"

"Kaito akan menghilang…"

"Hm" Nero menganggukkan kepalanya.

"Apa Kaito juga sengaja tidak mengatakan kalimat itu pada tunangannya karena dia tidak ingin tunangannya menghilang?" Tanya Miku.

"Ntahlah, tapi yang aku tau pertunangan mereka adalah kehendak kakek" Jawab Nero sambil melepaskan pelukannya. "Sekarang kau mengerti kan?"

"Iya…"

"Sekarang kau harus memilih…"

"Cintai Kaito, maka dia akan tetap hidup atau Buang cintanya, maka dia akan lenyap"

"Love Me or Kill Me, Cintai aku maka aku akan tetap Hidup atau Bunuh aku dengan membuang Cintaku"

"Aku mengerti…sekarang aku benar-benar mengerti, Nero-san terima kasih banyak" Miku membungkukkan badannya. Nero tersenyum.

"Kaito sengaja merahasiakan soal tunangannya darimu karena dia takut kehilanganmu, dia lebih mencintaimu lebih dari tunangannya sendiri. Percayalah…Cinta Kaito hanya milikmu seorang" Kata Nero sambil membuka kedua ikat rambut Miku.

"Lalu…soal pernikahan Kaito?"

Nero sempat terdiam sampai akhirnya dia menghela napas panjang.

"Itu semua atas kehendak kakek, dia ingin menjadikan Kaito sebagai kepala keluarga yang baru. Hanya dengan menikahkan Kaito dengan seorang Vampire sempurna, maka Kaito juga akan menjadi Vampire yang sempurna tanpa harus menggunakan Kristal yang ada dalam jantungmu" Jelas Nero. Miku kembali terdiam. "Lusa…"

"Lusa?"

"Pernikahannya akan di selenggarakan lusa"

". . ."

"Miku?" Panggil Nero.

"Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Miku yang terlihat panik.

"Ng?"

"Aku…aku tidak mau menyerah, karena dia sudah mempercayakan hidupnya padaku" Kata Miku sambil tersenyum manis pada Nero. "Nah aku akan kembali ke tempat Kaito dan aku akan mengatakan jika aku tidak akan menyerahkan Kaito pada Luka-san" Lanjut Miku yang tiba-tiba bersemangat dan berlari menuju pintu.

"Luka?"

"Nero-san! Arigato! Jaa ne!"

Miku pun segera berlari menuju kelasnya Kaito lagi. Tapi saat sampai disana hanya ada Gakupo, Ted, Len, Lily, Gumi, dan Luka.

"Kaito tidak ada?" Tanya Miku.

"Kaito sudah pergi ke Sasarai" Jawab Len.

"Dia terkejut dengan kalimat yang hendak kau katakan" Sahut Ted. "Setelah Nero membawamu pergi, Kaito sama sekali tida bicara dan hanya menundukkan kepalanya"

"Maaf…aku sama sekali tidak tau betapa suci nya kata cinta bagi Vampire" Miku menyesal. Lalu Miku pun berjalan menghampiri Luka. "Luka-san.."

"Ada apa?" Tanya Luka dengan ramah.

"Apapun yang terjadi aku tidak akan menyerah! Aku akan terus mencintai Kaito sampai kapanpun. Aku tidak akan kalah dari Luka-san" Ucap Miku dengan tegasnya. Semua yang ada disana langsung terkejut bukan main.

"H-HEEEE?!" Luka terlihat sangat terkejut. Miku hanya memandang polos Luka. "M-Miku-chan apa yang kau maksud?"

"Aku tidak akan kalah meskipun Luka-san adalah tunangan Kaito" Miku memasang wajah serius.

"AHO!" Ted menjitak Miku. "Dari siapa kau mendapat berita gila seperti itu?" Tanya Ted.

"Ittai…Haku-san yang mengatakannya" Jawab Miku sambil mengelus-ngelus kepalanya sendiri.

"Ehem…" Gakupo berjalan mendekati Miku dan Luka. "Perempuan yang ada di hadapanmu ini bukan tunangan Kaito, tapi tunanganku" Ucap Gakupo.

"A-APA?!" Miku terkejut.

"Kau sudah di tipu si nenek sihir itu" Cetus Len.

"Yang tunangan Kaito itu adalah Haku sendiri" Kata Lily sambil menggandeng tangan Ted.

"Eh. . ." Miku langsung terkejut lagi. "Jadi…Haku-san…"

"Haku memang selalu memperhatikanmu" Kata Luka. "Kau tau? Selama ini aku sangat iri melihat kebersamaanmu bersama Kaito. Gakupo terlalu sibuk sampai jarang menemuiku" Luka memeluk Miku.

Miku pun langsung meminta maaf pada Luka karena sudah salah sangka padanya. Kemudian mereka pun sepakat untuk membantu memperbaiki hubungan Miku dengan Kaito.


Esok harinya Miku tak menemukan Kaito di sekolah. Dia pun bertanya pada Len dan Gakupo yang memang satu kelas dengannya.

"Sepertinya dia tidak akan bisa kembali kesini sampai upacara pernikahannya berlangsung" Ucap Gakupo.

"Ngh…lalu aku harus bagaimana" Miku kembali bersedih.

"Gerbang menuju Sasarai pun di tutup sampai besok malam. Aku dan yang lainnya pun tidak bisa kembali kesana untuk menemui Kaito" Kata Len sambil memakan pisang yang dibawanya dari rumah.

"Kenapa begitu?" Tanya Miku.

"Karena kakek kami adalah salah satu orang paling berpengaruh di dunia Vampire, maka dari itu keluarga kami selalu mendapatkan perlakuan khusus. Dan sepertinya kakek sengaja menutup jalan menuju Sasarai agar kita tidak menghancurkan pernikahan Kaito dan Haku" Jawab Gakupo.

Tidak lama kemudian Nero masuk kedalam kelas mereka.

"Aku akan menghancurkan segelnya. Temui aku jam 4 sore" Katanya yang kemudian menghilang.

"Sepupu kita tertampan memang bisa di andalkan hahaha" Sahut Len. Gakupo hanya terdiam dan terlihat khawatir pada Nero.


Hari yang di tunggu-tunggu oleh semuanya pun tiba. Jantung Miku terus berdegup dengan kencang. Disana Nero sudah berdiri tepat di pintu masuk ke dunia Vampire. Miku melihat Gakupo yang sedang bicara serius dengan Nero.

"Minum ini" Ted menyerahkan ramuan buatannya pada Miku, tapi Miku menolaknya.

"Aku ingin menemui Kaito dengan keadaanku yang seperti ini" Ucap Miku. Ted pun hanya tersenyum.

Nero pun mulai meletakkan salah satu tangannya ke pintu itu dan satu tangannya yang lain meraba lembaran-lembaran mantra yang di cetak dengan huruf braille. Perlahan pintu itu pun mulai terbuka, Lily dan Gumi pun langsung menggenggam tangan Miku. Mereka pun masuk bersama-sama kesana dan pergi menuju tempat pernikahan Kaito.


"Kita tidak berteleportasi" Ucap Ted.

"He? Kenapa?" Tanya Gumi.

"Kakek menggunakan mantra yang dapat melenyapkan kekuatan kita" Jawab Len.

"Nah para gadis pegangan yang erat ya" Kata Gakupo sambil menggendong Luka, Ted menggendong Lily, Len menggendong Gumi, dan Nero menggendong Miku. Mereka pun pergi sambil berlari karena tempatnya yang tida begitu jauh.

"Kaito…tunggu aku"

Beberapa saat kemudian suasana pernikahan pun begitu terasa dengan adanya berbagai ornament yang cantik dan itu semakin membuat perasaan Miku tidak karuan. Mereka pun sampai di depan pintu tempat berlangsungnya acara tersebut.

"Kita masih belum terlambat kan?" Tanya Len. Ted langsung melihat jam tangannya. Tiba-tiba dengan frontalnya Nero menendang pintu itu hingga terbuka lebar. Dan aroma manusia dari Miku pun langsung tercium.

". . ."

". . ."

". . ."

Gakupo, Len, Ted, dan yang lainnya hanya bengong melihat apa yang di lakukan Nero.

"KAITO!" Teriak Nero pada Kaito yang sedang berdiri tepat di altar. Kaito pun langsung membalikkan badannya dan melihat Miku yang sedang di gendong Nero.

Para pengawal kakeknya pun langsung menghalangi Nero dan sepupunya yang lain. Dan pada akhirnya perkelahian pun tak bisa di hindari.

"Miku…" Kaito masih terkejut. Miku hanya diam ketakutan melihat Nero, Gakupo, Ted, dan Len yang sedang berkelahi melawan para pengawal kakeknya. "Miku!" Kaito hendak berjalan mendekati Miku tetapi segera di tahan oleh kakeknya.

". . ." Haku hanya diam dan menyaksikan apa yang sedang terjadi di hadapannya.

Beberapa saat kemudian kakeknya pun langsung menepuk tangannya empat kali dan kemudian Ted dan sepupunya yang lain terjatuh ke lantai dan tidak bisa bergerak.

"Jangan mengacau" Ucap Kakeknya. "Keluarkan para pengacau itu!" Perintahnya. Seketika para pengawal itu pun langsung menyeret satu persatu dari mereka. Sampai akhirnya Miku pun mulai di seret oleh mereka, tapi Miku berusaha melawan. Kaito pun hanya menatap Miku dan mengulurkan tangannya. Miku pun mengangkat tangannya seakan-akan ingin menggapai uluran tangan Kaito.

"…Aku mencintaimu…"

Miku pun di keluarkan setelah melontarkan kalimat itu. Miku melihat ekspresi Kaito yang terkejut dan seketika Miku pun kembali menangis. Lily, Luka, dan Gumi langsung memeluknya dengan erat.

"Dimana Nero?" Tanya Len yang juga di keluarkan. Ted dan Gakupo langsung melihat sekelilingnya tapi tetap tidak menemukan Nero. Dan beberapa saat kemudian, bangunan tempat berlangsungnya pernikahan itu pun meledak. Semua yang ada di dalam pun berlarian keluar.

"Apa yang terjadi?" Tanya Gumi.

"Ini semua pasti ulahnya…" Ted melihat kedalam bangunan itu. Disana Nero berdiri berhadapan bersama kakeknya, dan dia tidak melihat Kaito dan hanya melihat Haku. Kemudian Kakeknya pun menghilang, begitu juga dengan Haku. Nero pun berjalan keluar.

"Maaf…" Kata Nero dengan nada menyesal pada Miku.

"Ng?"

"Kau sudah tidak bisa bertemu dengan Kaito lagi" Lanjut Nero yang kemudian menghilang meninggalkan mereka semua. Miku pun kembali terjatuh karena lemas.

"Kenapa?" Tanya Miku. "Aku tidak mau berakhir seperti ini…Kaito…" Miku menangis lagi.

Karena khawatir dengan segala sesuatu yang ada disana, mereka pun segera membawa Miku ke dunianya lagi.

Dan setelah kejadian itu Miku benar-benar tidak bertemu dengan Kaito lagi.


3 Minggu kemudian, Miku masih seperti orang yang kehilangan semangat hidupnya. Dia jadi lebih sering melamun dan itu membuat keluarganya sangat khawatir.

Saat sedang duduk di teras belakang rumahnya, dia melihat seekor kelelawar yang tergeletak di rerumputan. Karena kasihan, Miku pun segera mengambilnya. Miku pun memberinya makan dan mengajaknya bicara.

"Melihatmu aku jadi teringat dengan Kaito" Kata Miku. Kelelawar itu pun hanya menatap Miku. Perlahan air mata Miku pun kembali mengalir. "Kaito…hiks"

"Aku mencintaimu, aku mohon kembalilah"

Tiba-tiba kelelawar itu pun bersinar, karena terkejut Miku pun langsung melemparkannya begitu saja. Miku langsung menutup matanya ketika cahayanya semakin menyilaukan.

"Ittai…" Ucap seorang laki-laki. Perlahan Miku pun membuka matanya dan…

". . ." Miku terkejut ketika melihat orang yang dia rindukan sekarang ada di hadapannya.

"Kau teg—"

Brugh…Miku langsung memeluk Kaito dengan sangat erat.

"Kaito…Kaito…Kaito…"

Kaito tersenyum sambil balik memeluk Miku.

"Apa yang terjadi?" Tanya Miku.

"Bagaimana menjelaskannya ya…" Kata Kaito sambil menghapus air mata yang tersisa di mata Miku.

"Hm…aku tidak peduli, yang penting sekarang kau ada disini" Miku memeluk Kaito lebih erat lagi. Tak lama kemudian Miku mulai menyadari jika suhu tubuh Kaito tidak dingin dan gigi taringnya pun tidak sepanjang saat itu. "Apa yang terjadi padamu?" Tanya Miku.

"Bagaimana menjelaskannya ya…" Kaito menggaruk-garuk kepalanya. "Yang jelas semua ini berkat Nero" Kaito tersenyum.

"Hee…kalau begitu besok aku akan menemuinya dan berterimakasih padanya" Kata Miku dengan bersemangat.

"Kau tidak bisa menemuinya…"

"Ng? kenapa?"

"Karena Nero…"

.

.

.

=TBC=


Yosha! Akhirnya bisa chapter ini bisa selesai hari ini XD /plak/ tadinya sih mau update sesudah UTS, tapi karena ada yang minta update kilat jadi di usahain deh X'3

Makasih banget loh yang udah baca sampai disini /kissu(?)/

Mohon maaf apabila ada kesalahan kata, apalah daya X'D saya kebut-kebut(?)an buatnya…jadi maaf banget kalau ceritanya agak gimana gitu X'3

Yaudah, segitu aja… sampai ketemu setelah saya selesai UTS (?) X'D

Selanjutnya, Chapter 11 : Arigato Nero