Title : One More Time

Author : DandelionLeon

Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun. Other cast temukan sendiri.

Rate : T / M

Genre : Romantic, Drama, lil bit of fluff and hurt. And it's a YAOI fiction.

Disclaimer : Cerita ini murni ide saya, jika ada kesamaan mungkin itu hanya kebetulan semata. All of cast milik SM, Tuhan dan orang tua mereka.

WARNING ! Don't like, don't read and don't blame my story!

Recomended song : ¤ Kim Tae Woo - Only you

¤ Kim Jin Ho - Hurts

.

.

This is DandelionLeon present...

.

.

And now

.

.

Here we go

.

.

Enjoy

.

.

Sudah terhitung seminggu sejak Chanyeol pergi meninggalkan Baekhyun dengan kebingungannya. Selama itu pula, Chanyeol seolah menghilang dari peradaban. Baekhyun memang jarang bekerja di kantor Chanyeol karena ia hanya partner sementara yang bekerja dengan perusahaan besar itu. Namun yang ia tau, Chanyeol memang jarang terlihat di kantor akhir-akhir ini. Berulang kali Baekhyun bertanya pada Lee Minhyuk-sekretaris Chanyeol, namun lelaki itu hanya menjawab bahwa sang presdir tengah sibuk dengan urusannya.

Beberapa kado atau beberapa kartu ucapan juga sering kali ia dapatkan di depan pintu apartemennya. Dan itu semakin membuatnya frustasi. Sempat ia berfikir bahwa Chanyeol lah dalang dari semua kado-kado itu. Tetapi, balik lagi. Bukankah ia sibuk?

"Kado lagi?" Tanya Seulgi yang saat itu menatap sebuah kotak kecil berisikan sebuah gantungan kunci teddy bear.

"Ya, aku semakin tak nyaman rasanya."

Seulgi tersenyum simpul. Perempuan itu lalu menyeruput jus jeruknya dengan santai.

"Terima saja, siapa tau dia adalah seseorang yang sangat mencintaimu? Kau harus hargai usahanya."

"Dia adalah pengecut, bagaimana bisa seseorang yang sangat mencintai bertindak pengecut seperti sekarang?"

Baekhyun melihat gelagat aneh dari perempuan di depannya. Seulgi tampak gelisah di tempat duduknya.

"Well, ada kalanya seseorang harus bertindak seperti sekarang. semua butuh proses kan Baek?"

Baekhyun mengangguk di tempatnya.

Berulang kali ia mengecek ponselnya. Berharap ada sebuah pesan masuk dari Chanyeol yang biasanya selalu ia terima di pagi hari. Sebenarnya itu adalah rahasianya. Lelaki jangkung itu sering kali mengiriminya pesan-pesan penyemangat, atau kata cinta yang singkat namun hati Baekhyun menghangat karenanya. Tetapi sudah seminggu ini, tak ada lagi pesan-pesan singkat itu ia dapatkan. Tidakkah Baekhyun terlalu munafik? Ia berkata benci dan bersikap dingin di depan Chanyeol, namun di sisi lain ia sangat mengharapkan perhatian lebih dari lelaki itu.

"huh... Dasar bodoh!" Gumamnya tanpa sadar.

"He? Kau bilang apa Baek?"

"Tidak ada, aku bilang dia itu bodoh." Gumam pria mungil itu lagi. Matanya sibuk memperhatikan keadaan di sekitar cafe. Banyak pasangan remaja yang menghabiskan waktu mereka disini. Sepasang anak dan ibu. Dan juga seorang bocah kecil yang sepertinya terlihat kebingungan. Entah dorongan dari mana, Baekhyun bangkit lalu berjalan menuju si bocah lelaki kecil itu. Meninggalkan Seulgi yang melihatnya penuh kebingungan.

"Adik kecil, kau kenapa?"

Bocah kecil itu menatap Baekhyun dengan matanya yang berkaca-kaca.

"hiks... Appa menghilang." Adunya dengan wajah memerah.

Seakan mengerti, Baekhyun berjongkok lalu memeluk anak itu sebentar.

"Jangan menangis. Ayo, hyung antar mencari Appa mu berada."

"Kata eomma, aku tidak boleh ikut dengan orang yang baru ku jumpai."

Aduh, repot juga jika seperti ini. Baekhyun berpikir sejenak. Bagaimana cara membantu adik kecil ini. Ia hanya tak tega melihat anak itu tersesat.

"Tapi Hyun bukan jahat, kok."

"Benarkah? Um... tunggu sebentar."

Baekhyun memiringkan kepalanya menyaksikan tingkah bocah di depannya. Anak itu mengeluarkan sebuah microphone mainan dengan gambar pororo disana.

"Itu apa?" Tanya Baekhyun dengan lugunya. Baekhyun, ingat umurmu okay?

"Ini detektor kebohongan. Aku akan bertanya padanya. 'Pororo, hyung ini orang jahat kan?'"

sudut bibir kanan atas Baekhyun naik. Ia baru menyadari betapa konyolnya dirinya saat ini karena meladeni tingkah Bocah di depannya. Seulgi menatapnya datar dari kejauhan. Perempuan itu memilih untuk melanjutkan makannya. Ia tau, Baekhyun memang sangat suka anak kecil, dan dia tidak. Jadi, biarkan Baekhyun dengan dunianya.

'Gotjimal~ Gotjimal~ Gotjimal neon andwe~'

Suara-mirip-pororo itu terdengar dari sana. Bocah kecil itu langsung tersenyum manis. Ia menarik tangan Baekhyun untuk berjalan.

"Pororo bilang, hyung itu orang baik. Daewook salah sangka ternyata."

'Daewook?' Batin Baekhyun bertanya. Ia bertanya-tanya dalam hati. Apakah anak itu Daewook yang_ Baiklah, ada banyak nama seperti itu di Korea. Sepertinya Baekhyun terlalu berfikir pendek.

"Kajja hyung cantik, kita cari appa."

"Ahaha, ne. Kajja~"

.

.

Sudah sepuluh menit Baekhyun dan anak bernama Daewook itu berjalan mencari ayah dari si bocah menggemaskan tersebut. Di seluruh cafe maupun di sekitarnya. Saat ini keduanya berjalan menuju taman. Baekhyun mengira mungkin saja ayah dari anak itu ada di sana.

"Memangnya tadi appa Daewook kemana?"

"Mwollayo hyung. Tadi Appa mengajak Daewook pergi ke taman, tetapi Daewook ingin es krim. Appa tidak mengizinkannya. Daewook berlari ke cafe itu, ingin membeli es krim."

Jadi anak itu menghilang dengan sendirinya?

Baekhyun melihat anak kecil itu terlihat kelelahan. Terbukti dari wajah pucatnya.

"Daewook kenapa hm?"

"Wookie lelah Hyung. Daewook baru sembuh dari sakit."

HUP... Baekhyun mengangkat tubuh kecil anak itu ke dalam gendongannya.

"Jika begini pasti tidak lelah lagi kan?" Tanya Baekhyun lalu mencium pipi gembul anak itu dengan gemas. Membuat kekehan terdengar dari bibir Daewook.

"Hm... Ne!"

"Omong-omong, umur Daewook berapa?"

"Lima, Daewook sudah masuk sekolah loh." Ucap anak itu dengan bijaknya.

"Jinjja? Woah, uri Daewook hebat sekali eoh?"

Baekhyun terus berjalan mengitari taman. Mencari Ayah Daewook yang sepertinya belum memunculkan batang hidungnya. Terbukti dari sikap anak itu yang terlihat tenang-tenang saja. Lama-lama lelah juga, fikir Baekhyun. Hampir saja Baekhyun menyerah jika pekikan Daewook tak terlontar baru saja.

"APPA! Hyung, itu appa ku!"

Anak itu menunjuk seorang lelaki bertubuh tinggi yang terlihat memunggungi keduanya. Sepertinya lelaki itu terlihat mencari sesuatu-mencari anaknya tepatnya. Namun, seperti familiar, fikir Baekhyun.

"wook-ah! Kau kemana saja hm? Appa mencari_"

"Chanyeol?"

"Baekhyun?"

Chanyeol berjalan mendekati dua orang itu. Ia menatap Baekhyun yang menunjukkan raut wajah tak terbaca.

Sementara Baekhyun, lelaki itu terlihat bingung dan sakit di satu sisi. Entahlah, ketakutannya berubah nyata, sepertinya.

"D-dia anakmu?"

Chanyeol terdiam, terlihat menghela nafas setelahnya.

"Aku akan jelaskan. Kita sebaiknya mencari tempat untuk duduk."

"A-aniyo, sepertinya Seulgi sudah lama menungguku."

Baekhyun menyerahkan Daewook kepada tersenyum-dipaksakan- pada Chanyeol.

"Baek? Tolonglah. Sekali saja, dengarkan aku."

Baekhyun terdiam, memikirkannya. Ia memang sangat ingin tau siapa anak kecil yang sempat tadi berada dalam gendongannya.

"Ne Hyung cantik! Jangan pergi dulu, jebalyo"

Baekhyun menatap wajah memelas Chanyeol dan Daewook secara bergantian. Akhirnya ia menyerah dengan menganggukkan kepalanya. Ia terperanjat saat Chanyeol dan Daewook saling melakukan high five.

Ia mengetikkan sebuah pesan singkat untuk Seulgi di sela langkahnya menuju sebuah bangku taman.

'Pulanglah duluan, aku ada urusan penting. Maaf membuatmu menunggu.'

Seseorang memperhatikan mereka dengan wajah kecewa. Ia mengepalkan tangannya erat, menahan segala luapan emosinya.

"Lihat saja nanti, Ich werde Sie erhalten!"

.

.

Hening. Baik Chanyeol atau Baekhyun tak ada yang berucap. Hanya suara Daewook sesekali terdengar yang mengomentari beberapa orang lewat atau menanyai apapun yang membuat bocah kecil itu penasaran.

"Appa dan hyung tidak seru! Aku akan bermain dengan anak itu saja!" Daewook berlari menuju tempat seorang anak kecil yang tengah bermain bola tak jauh dari mereka.

Chanyeol melirik Baekhyun yang terlihat menghela nafasnya.

"Baek, Daewook itu adalah anak Daehee."

Menyadari raut terkejut Baekhyun, Chanyeol langsung menyambung ucapannya. Ia hanya tak ingin Baekhyun salah paham lagi. Sudah cukup kesalahpahaman mereka yang tak berakhir selama ini.

"Anak Daehee dengan suaminya tentu saja. Aku sudah menganggap Daewook sebagai anakku karena saat di Amerika aku memang dekat dengan keluarga Dongwook hyung dan Daehee."

"Lalu, kenapa anak itu memanggilmu Appa? Kenapa bukan Hyung?" Tanya Baekhyun bingung.

Chanyeol tau, ada makna cemburu di dalamnya.

"Ayahnya sering bekerja ke luar negeri. Dan entah bagaimana, Daewook menganggapku sebagai ayah keduanya. Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Daehee, oke?"

Mati-matian Baekhyun berusaha menaham senyumnya. ia benar-benar senang, sungguh.

"Lalu, hubungannya denganku apa?"

Chanyeol tersentak. Hatinya berdenyut sakit. Padahal Baekhyun hanya bermaksud untuk mengusir kegugupannya.

"Aku... Aku hanya tak ingin kau salah paham. Kau tau bukan bahwa aku benar-benar ingin memiliki hatimu kembali?" Chanyeol mengaku secara gamblang. Cukup membuat Baekhyun berdebar kencang.

"Kau tau bahwa Seulgi dan aku_"

Chanyeol menecium bibir Baekhyun secara tiba-tiba. Jantung Baekhyun jangan ditanya lagi bagaimana kecepatannya saat ini. Matanya berkedip lucu. Hanya lumatan-lumatan sederhana yang Chanyeol lakukan. Ia mengecap bibir manis Baekhyun. Hanya sejenak, lalu ia melepaskan tautan bibirnya.

"Jangan pernah sebut nama perempuan itu di depanku Baek. Disini hanya ada kau dan aku. Aku tidak peduli hubungan statusmu dengannya apa karena bagiku itu hanyalah kebohonganmu semata. Aku akan meraihmu kembali kedalam pelukanku."

Baekhyun tak mampu berucap. Jarak wajahnya dan Chanyeol sangat dekat. Tatapan tajam Chanyeol seolah mengintimidasinya. Lidahnya kelu, tak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Apalagi saat Chanyeol kembali meraih tengkuknya. Meraup bibirnya dengan gerakan lembut.

Tautan keduanya terasa kian intens. Bahkan keduanya lupa bahwa mereka masih berada di tempat umum. Baekhyun membalas ciuman Chanyeol saat di rasanya semakin menuntut. Panas, basah, membuat rasa bahagia dan rasa tak terjabarkan itu menyusup ke dada masing-masing. Kedua masih asyik melakukan aksinya sampai_

"APPA! Kenapa appa memakan bibir Hyung Cantik ini?"

Cppkk... Suara kecipak terdengar saat Chanyeol dan Baekhyun melepaskan ciuman mereka secara paksa. Mereka menatap Daewook dan seorang anak kecil dengan bola di tangannya menatap mereka dengan bingung.

"W-wookie, appa tidak memakan_"

"Bohong! Hyung ini sampai kehabisan nafas karena appa! Hyung? Gwenchana?"

Baekhyun mengangguk dengan kikuk. Ia menatap Chanyeol seolah bertanya 'bagaimana ini?' . Chanyeol menggeleng dengan senyum canggung pula.

"Hyung cantik, aku akan menghajar Appa setelah ini. Tenang saja!"

Baekhyun terkekeh geli. Ia mengusap rambut halus Daewook.

"Baiklah, hajar saja appa Daewook itu sampai babak belur."

"Yak! Byun Baekhyun!"

"Hyung pergi dulu ya sayang? Lain kali kita bertemu lagi." lanjut Baekhyun mengabaikan pekikan protes dari Chanyeol.

"T-tapi..."

"Jika Daewook jadi anak baik, kita pasti bertemu lagi. Annyeong."

"Chanyeol, aku permisi dulu... A-annyeong."

Baekhyun berjalan meninggalkan Chanyeol yang terbengong di tempatnya karena melihat Baekhyun tersenyum padanya tadi. Apakah itu sebuah tanda bahwa Baekhyun mulai menerimanya kembali?

.

.

Chanyeol tau, dirinya terlalu percaya diri. Mengira bahwa hubungannya dan Baekhyun akan semakin dekat, namun nyatanya? Bahkan sudah hari ketiga, keduanya tak pernah bertemu. Selalu saja ada halangan untuk menemui pemuda mungil itu. Ia berjalan kesana-kemari. Ide nya untuk pindah di sebelah apartemen Baekhyun tak dapat terealisasikan dengan mudah. Ada beberapa alasan baginya untuk tidak jadi melaksanakan keinginannya itu.

Berulang kali Chanyeol hampir menyerah dalam keputusaannya. Panggilannya tak mendapat respon yang baik. Baekhyun tak kunjung mengangkat panggilan masuknya.

Sebuah pesan singkat berhasil membuatnya kebingungan. Isi pesan singkat aneh yang dikirimkan seseorang padanya.

Jika kau ingin melihat hal menarik, datanglah ke 'Louis Appartement' , lantai 25.

Hal menarik? Chanyeol berfikir. Bukankah itu apartement Baekhyun? Ia melihat kembali, nomor si pengirim adalah nomor yang sama persis mengiriminya pesan gambar beberapa waktu silam.

Ada sebuah dorongan, entah dari mana. Ia ingin menyusul Baekhyun sesegera mungkin. Entahlah, seperti ada sebuah firasat buruk menyapanya. entah itu menyinggung Baekhyun, atau dirinya.

Lelaki itu pergi ke tempat dimana Baekhyun bernaung. Secepatnya ia ingin kesana. Bahkan dirinya terlalu gegabah untuk meninggalkan rapat direksi yang akan segera dilaksanakan sebentar lagi.

Tak ia hiraukan teriakan sang sekretaris yang mengejarnya penuh frustasi. Persetan dengan itu semua! Fikirnya. ia hanya ingin menemui Baekhyun agar hatinya sedikit melega. Terdengar konyol. Meninggalkan kepentingan hanya karena sesuatu yang tak beralasan.

Sepatu pantofel hitamnya berketuk-ketuk menyentuh lantai. jalannya tergesa. Bahkan sesekali umpatan akan terdengar dari bibirnya. Apalagi ketika menunggu pintu lift yang tak kunjung terbuka tadi.

Chanyeol berjalan, menelusuri jalan berlorong di apartement itu. hampir, ia hampir mencapat tujuannya. Kamar Baekhyun berada beberapa langkah lagi namun, langkahnya terhenti ketika melihat siluet dua orang berbeda jenis disana. Chanyeol memicingkan matanya untuk menajamkan penglihatannya. Satu langkah mendekat... Dua langkah... Dan...

Lututnya terasa lemas. Saat melihat dua insan disana saling memagut. Si lelaki menyandar di dinding sementara sang perempuan memeluk tubuh lelaki itu sambil mencium pasangannya. Mereka bercumbu, dan seharusnya Chanyeol tak sesakit sekarang. Ya, itu berlaku jika si pelaku bukanlah sosok yang ia cintai.

"B-Baekhyun?"

Sosok itu menatap Chanyeol dengan mata membelalak. Ia mendorong si perempuan di depannya dengan cepat.

"Cha-Chanyeol? "

Chanyeol tak mampu berucap. Ia tersenyum miris dengan air mata mengalir di sudut matanya. Ia bukanlah sosok rapuh yang mudah menangis begitu saja. Bahkan dulu, ia tak menangis saat cinta pertamanya mencampakkannya demi lelaki lain. Namun, mengapa Baekhyun membuatnya seperti ini? Hatinya begitu sakit, seperti tercolok dengan besi panas. Ia menatap kedua insan disana dengan dingin, namun senyum mirisnya tetap tercetak jelas. Lelaki itu berbalik pergi. Berjalan gontai dengan pemikiran kosongnya.

.

.

To be continued

.

.

Ich werde Sie erhalten!* = aku akan mendapatkanmu. (bahasa jerman)

.

.

Saya mau ucapin BIG THANKS buat all my lovely readers yang udah mau luangkan waktu buat baca FF ini.

Banyak pertanyaan muncul di chapter sebelumnya. Aku tak sempat membalasnya, jadi sini aja deh.

Tentang Daewook yang anak Daehee itu, itu cuma heart attack aja kok. Buat yang ngira mereka bakal jadi konflik, that's wrong... Jika kalian teliti, pasti tau deh sumber konflik dari mana.

Udah mulai ketebak kan? Banyak yang bilang Seulgi suka Baekhyun, well... Kita lihat aja nanti. Dan maaf, aku cuma nyelipkan sedikit fluff disini. Kalian boleh marah karena Chanbaek always salah paham di ff ini, ya memang begitulah adanya. Kalo gak suka, ya gapapa. Aku cuma bisa buat cerita sampai batas kemampuanku yang masih perlu di asah lagi.

Jujur, aku pengen buat ini end secepatnya(juga ff lainnya) karena 'rencana' aku pengen hiatus. Tapi... itu cuma 'rencana', bisa jadi, bisa enggak /ribet banget idup lo/ ... Fufufu.

Okelah, segitu aja ceramah saya kali ini. Buat yang mau cuap-cuap atau sekedar kenal saya. Kalian bisa add fb author stress ini : Rizki Zelinskaya

don't forget to Read, review, favorit and follow... But, I'm not going to force you, because I don't want to be regarded as a maniac 'review'.

Kkkk...

Bonne nuit à tous... Tchao!

DandelionLeon *