Girl With The Bunny Mask

Disclaimer : Vocaloid milik Crypton Future Media yang punya.

Warning : Typo, OC, Normal POV, Bloody Scene, humor di tempat yang tidak seharusnya.

.

.

.

Chapter 10

Pertarungan.

Setelah rapat yang lumayan panjang itu, akhirnya mereka menemukan dimana itu Princess berkat buku catatan yang di beri Mikuo kepada Kaito.

"Aku ingin membeli eskrim dulu." Kata Kaito kepada yang lainnya.

"Aku ikut." Kata Len sambil mengikuti Kaito. "Ada apa Kaito, kau kelihatan aneh setelah pengakuan itu." Kata Len.

"Aku hanya marah tadi, habisnya, tiba-tiba saja Neru-san datang dan mengakui semuanya, aku antara berterima kasih dan ingin marah, bagaimana dia bisa menyembunyikan informasi penting itu kepada kita padahal kita sedang krisis seperti ini." Kata Kaito sambil menggaruk kepalanya.

"Itu hal yang lumrah terjadi Kaito, informasi penting datang terakhir. Lagipula gadis yang kemarin kita selamatkan dari tadi menghubungiku terus." Kata Len.

"Iya, aku juga sama." Kata Kaito sambil menunjukkan ponselnya dimana banyak sekali riwayat panggilan tak terjawab dari nomor tak di kenal. "Lagipula aku merasakan Miku kini tengah kesakitan." Kata Kaito.

"Kita masih harus bersabar Kaito." Kata Len seketika ada yang menabrak Kaito hingga mereka berdua terjatuh. "Kaito! Kau tidak apa-apa?" Tanya Len.

"Aduh, hei! Lihat-lihat dong kalau jalan." Kata Kaito sambil bangkit, kedua pemuda itu terkejut dengan siapa yang mereka tabrak.

"Kau.." Kata mereka hampir bebarengan.

"Wah, kita bertemu lagi, Kita jodoh yah!" Kata seorang gadis yang bernama Beni Sachine itu.

"Kenapa kau sampai ke Tokyo?" Tanya Len.

"Aku mencari kalian tahu! Apa kalian dari kepolisian?" Kata Beni kepada mereka berdua. "Kalian kan keluar dari sana." Katanya lagi.

"Ah, iya kami telah dari kepolisian." Kata Len, sedangkan Kaito merasakan perasaan buruk akan menimpa mereka.

"Ayo ikut aku, kita jarang mengobrol, yuk ke kedai di sana." Kata Beni sambil menunjukkan sebuah arah kepada kedua pemuda itu, keduanya hanya mengangguk dan mengikuti gadis itu. "Jadi kalian kenapa habis dari kepolisian? Habis di tilang yah?" Kata Beni ramah, tetapi kedua pemuda itu tahu di balik senyuman itu ada sesuatu hal yang lain.

"Tidak, kami hanya melaporkan teman kami yang hilang." Kata Kaito sambil memakan eskrimnya. Sudah berulang kali gadis itu menggodanya selama perjalanan itu.

"Hooo, begitu yah, oh iya Kaito-kun! Menurutmu bagaimana bajuku?" Tanya Beni sambil berputar di hadapan Kaito, Kaito sendiri sudah sedikit muak dengan perlakuan itu. Sedangkan len hanya menaruh prihatin kepada sahabatnya itu, disaat pacarnya sedang dalam masalah, ada wanita datang menggoda Kaito, di satu sisi Len juga kasihan dengan Miku.

Sekai de Ichi-ban Ohime sama!

Sebuah ponsel berbunyi dan Kaito tahu itu ringtone ponsel milik Miku. Kaito akhirnya mengangkatnya dan pergi dari sana.

"Nee, Len-kun, apakah Kaito-kun sudah punya pacar? Aku ingin menjadikannya pacarku." Kata Beni kepada Len yang otomatis membuat Len ingin menyemburkan jus pisangnya.

"Kurasa kau harus mengurungkan niatmu itu Sachine-san, dia sudah memiliki pacar." Kata Len.

"Dia kan dulu salah satu kelompok geng di Osaka yang di kenal sebagai pemain wanita bukan? Apa pacarnya sudah banyak? Tidak kebagian deh." Kata Beni terus mengoceh.

"Tidak, sekarang dia sudah berubah Sachine-san, jangan membuatnya kembali seperti dulu." Kata Len.

"Memangnya kenapa? Kan keren orang sepertinya." Kata Beni masih bersihkeras.

"Sebenarnya apa maksudmu mengajak kami kesini Sachine-san?" Tanya Len ketus.

"Oh, aku? Aku hanya menyukai Kaito-kun kok, aku jadi khawatir tentang teman kalian yang hilang itu, sebaiknya kalian tidak usah mencarinya lagi. Aku bisa menjadi teman yang baik kok kepada kalian!" Kata Beni meminum milkshake miliknya.

"Tidak, temanku itu tidak akan bisa di gantikan siapapun, bahkan oleh seorang wanita kurang ajar sepertimu." Kata Len. "Lagipula Kaito juga tidak mungkin mau denganmu." Kata Len.

"Memangnya kenapa? Aku kan seksi, juga cantik." Kata Beni dengan PD-nya.

"Kau memang cantik dan seksi, tetapi tidak ada yang bisa menggantikan pacarnya Kaito sekarang ini." Kata Len masih acuh tak acuh. Kemudian dia melihat Kaito kembali. "Ada apa Kaito?" Tanya Len.

"Nao, dia masih tidak percaya kalau Miku adalah si gadis bertopeng itu." Kata Kaito duduk sambil menghela nafas. "Dia itu sungguh keras kepala sekali, apa yang ada di pikirannya sih. Padahal sudah di kasih kejujuran, oh iya, kabar buruk Uni kembali ke markas, lebih baik kita introgasi dia." Kata Kaito sambil kembali berdiri.

"Baiklah." Kata Len ikut berdiri. Beni yang tidak terima dirinya di acuhkan itu kemudian mulai merenggut kerah Kaito dan mulai menciumnya. Kaito langsung menepis badan gadis itu dan mengusap bibirnya.

"Apa-apaan sih kau ini!" Kata Kaito, dirinya sudah terbakar api amarah.

"Aku akan terus berusaha agar kau berpaling dari Miku, Kaito!" Kata Beni yang membuat kedua orang itu terkejut. Beni yang menyadari keceplosannya mulai membekap mulutnya. "Tidak ada cara lain lagi, kalau kau ingin ini kembali, ayo kejar aku." Kata Beni yang ternyata sudah mengambil ponsel Miku di kantong celana Kaito.

"Hei kembalikan Ponsel Miku!" Kata Kaito.

"Catch me." Kata Beni kemudian dirinya berlari.

"Len ayo." Kata Kaito yang di jawab anggukan dari Len, mereka berlari mengejar Beni yang membawa ponsel milik Miku. "Len, kau membawa senjata apa saja?" Tanya Kaito. Sebenarnya dia tidak berharap banyak karena Len hampir tidak pernah membawa senjata.

"Dua buah pistol dengan 10 Magazen." Kata Len yang langsung membuat Kaito menghela nafas lega.

"Kemungkinan dia akan menyergap kita, jadi kita harus berhati-hati." Kata Kaito sambil berlari, akhirnya benar perkataan Kaito, mereka sekarang berada di pergudangan kosong. Mereka naik hingga ke lantai dua di bagian gedung yang tidak memiliki tembok dan tangga untuk ke lantai selanjutnya telah roboh.

"Menyerahlah Sachine-san!" Kata Len.

"Memang apa pentingnya gadis itu bagi kalian, dia hanyalah gadis yang menyusahkan bagi kalian!" Teriak Beni.

"Dia adalah gadis yang banyak menyadarkan kami, sebaiknya cepat kembalikan ponsel itu, Sachine-san!" Kata Kaito.

"Tidak! Tidak! Aku Beni Sachine selalu bisa menjalankan semua misi dengan mulus! Aku tidak peduli apapun yang terjadi aku harus berhasil, bahkan Black Magic yang aku campurkan di eskrim dan jus kalian tidak mempan? Bagaimana bisa?!" Teriak Beni sambil menjambak rambutnya. "Padahal saat dia menggoda laki-laki itu, dia bisa melakukannya tanpa black magic! Bagaimana bisa kalian kebal dengan hal itu!" Teriak Beni.

"Tenanglah Sachine-san. Lagipula tidak ada yang bisa mengalahkan kasih cinta yang suci dan pertemanan yang tulus!" Kata Len, dia sudah menyiagakan salah satu senjata di tangannya.

"Tidak! Tidak mungkin! Black Magic adalah hal yang tidak mungkin bisa lemah karena hal remeh seperti itu! Kaito-kun! Jadilah pacarku, atau nyawa temanmu terancam. Dan ponsel pacarmu ini akan aku rusakkan!" Kata Beni kemudian mengarahkan ponsel Miku ke sebuah tempat terbuka di lantai dua itu di bawahnya ada kolam, sambil mengisyaratkan sesuatu hingga sekarang ada beberapa tanda merah di badan Len. Kaito semakin cemas dengan sahabatnya itu.

"Tembak saja! Kaito jangan cemaskan aku, kemampuanku hampir seperti Miku dalam hal ini kau tahu." Kata Len. Dia kemudian menarik nafas dan menghembuskannya, sekarang dirinya sedang berada dalam kondisi penuh konsentrasi.

"Dasar keras kepala!" Kata gadis yang sudah mulai menggila itu mulai melemparkan ponsel Miku ke kolam di lantai satu itu. Akhirnya terdengar beberapa tembakan dan semuanya terjadi sekejap mata, Kaito sedikit melindungi pandangannya dari angin yang di hasilkan Len. Setelah kondisi kembali tenang, Len mengulurkan sebelah tangannya dan beberapa peluru dari penembak itu berjatuhan dari genggamannya, seketika semua regu penembak di sana merasakan lengan kanannya sudah menyemburkan darah.

"Tidak!" Teriak Kaito melihat ponsel milik Miku yang terancam akan rusak selamanya. Tetapi Kaito kembali tenang.

"Untungnya kalian menggunakan pistol biasa, kalau tidak aku bisa mati saat ini." Kata Len.

"Menyerahlah Sachine-san!" Kata Kaito.

"Tidak! ...Ne-sama tidak menerima kata gagal! Tidak! Aku harus berhasil!" Kata gadis itu mulai menyerbu Kaito dengan beberapa serangan dari peluru itu, Kaito juga berlari ke arah Beni dan langsung bisa membaca pergerakan peluru itu, kedua peluru pertama akan mengunci pergerakannya. Dan yang pertama akan tepat ke depan. Kaito membuat peluru dari Beni terpantul dengan peluru darinya, dan Kaito segera menembak lengan Beni. "Tidaaakk!" Katanya kembali ingin menyerang Kaito. Kaito melancarkan tembakan yang sama dengan Beni dan Beni langsung mengikuti gerakan Kaito tadi.

'Huh, gerakan sama lagi hah!' Pikir Beni. Kemudian dia meraskan perutnya berdarah. 'Sonna! Peluru keempat?' Batin Beni.

"Kau kira aku akan melakukan hal yang sama denganmu setelah kau melihatku bagaimana aku mengelak semua peluru darimu itu?" Kata Kaito. Beni berhenti sebentar. Dia kemudian tertawa kencang.

"Kalian akan mati!" Kata Beni sambil merentangkan sebelah tangannya, kemudian ada tembakan yang berasal dari belakang Beni. Sedangkan luka di perut Beni sudah mulai sembuh. Pelurunya pun melesat keluar dari tempatnya bersarang tadi.

"Uni?" Tanya mereka berdua kaget.

"Beni-sama, maaf membuat anda menunggu, mereka mengintrogasiku hingga saat istirahat aku langsung kabur." Kata Uni sambil menodongkan sebuah pistol kearah mereka berdua.

"Len kau urus Uni, aku urus Sachine-san." Kata Kaito, Len hanya mengangguk.

Kaito mulai berfokus dengan gadis di hadapannya.

"Ayolah putuskan saja Miku, dengan begini, kau tidak perlu berurusan dengan Red Fox, mereka akan melepaskanmu dari target mereka dan aku akan membuatmu melupakan Miku secepatnya!" Kata Beni sambil terus menembak.

"Tidak akan pernah! Akan aku buat kau menelan kekalahanmu yang pertama kali!" Kata Kaito masih ikut menembak. Akhirnya Kaito menyadari sebuah keanehan dalam pistol yang di pegang Beni, seharusnya dengan menghitung jumlah peluru yang di muntahkan, sudah saatnya bagi gadis itu me-reload senjatanya itu, tetapi sekarang sudah masuk hitungan 30 dia sama sekali tidak mengganti magazennya, sedangkan Kaito sudah dua kali menggantinya. "Apa-apaan senjatamu itu!" Kata Kaito sedikit frustasi.

"Hah? Hanya black magic untuk senjataku agar memiliki peluru tidak terbatas, Aku juga tidak bisa melepaskan tanganku dari senjataku ini, setelah aku beri black magic, kau tidak bisa menembaknya jatuh dari tanganku Kyahahahaha!" Kata gadis itu, Kaito menjadi frustasi, di lihat darimanapun dirinya kemungkinan tidak bisa menang melawan Cheater. Kaito mengaitkannya dengan game pertempuran yang biasanya dia lakukan. Akhirnya Kaito menghela nafas.

"Baiklah Beni-chan, aku bersedia menjadi pacarmu." Kata Kaito akhirnya.

"Kaito! Apa yang kau pikirkan!?" Teriak Len yang sedang dalam pertempurannya sendiri itu. Tetapi Kaito mulai mendekat dan membuang pistolnya perlahan, Tangan kanannya mulai terangkat seperti berniat untuk memeluk, Kaito memasang muka seramah mungkin.

"Akhirnya kau sadar juga, heh, tenang saja aku akan bisa membuatmu melupakan gadis itu." Kata Beni sambil ikut mengulurkan kedua tangannya.

"Kaito!" Teriak Len.

"Urusai Len, aku menyadari sesuatu, dan lebih baik kau menurutiku." Kata Kaito kepada sahabatnnya itu. Keduanya mulai mendekat dan..

Zrasshh!

Sebuah semburan berada di tangan kanan Beni yang sudah putus itu, potongan tangan Beni yang memegang pistol itu langsung di ambil Kaito dan Kaito melepaskan pistol itu kemudian menendangnya menjauh.

"Menyerahlah Beni-chan." Kata Kaito masih tersenyum sambil menodongkan sebuah pistol kembali, ternyata Kaito menyimpan Wakizashi di punggungnya dan langsung menebas tangan Beni. Beni hanya melihat darah yang mengalir dari tangannya itu, bagian jari hingga pergelangannya sudah berpisah dari tubuhnya. Dia kemudian tertawa kencang.

"Kyahahahaha! Bagus juga Kaito-kun! Aku jadi bersemangat menjadikanmu pacarku!" Katanya menyodorkan tangannya yang putus itu dan kemudian dalam hitungan detik tangannya muncul dari dalam sana dan kembali utuh sedangkan tangan yang sudah terputus itu kemudian membusuk seperti apel busuk dan berwarna kebiruan. Kaito mendecih. Dia kemudian teringat suatu percakapannya dengan Akaito.

"Kaito, kalau kau ingin mengalahkan manusia yang bisa beregenerasi akibat black magic hancurkan.."

"Jantungnya!" Kata Kaito kemudian menusuk Jantung Beni. Meskipun darah banyak menyembur disana Beni hanya tersenyum.

"Kyahahaha! Kau memiliki pengamatan bagus Kaito-kun tetapi itu belum cukup." Kata Beni. Dia telah memindahkan jantungnya Ke bagian tubuhnya yang lain, Kaito mencabut pisaunya, Akhirnya aliran darah itu mulai berhenti dan luka itu menutup. Kaito mulai mengamati sekali lagi. Dia tidak memiliki ide dimana letak jantungnya. Kaito kembali teringat sesuatu.

"Mari kita lihat, sejauh apa kau bertahan Beni-chan." Kata Kaito sambil menunjukkan ujung Wakizashi-nya ke arah depan sedangkan dia melakukan kuda-kuda hendak menyerang khas samurai di masa lalu, dia melebarkan kedua kakinya dan menaruh kedua tangannya di genggaman pedangnya itu. Sisi pedangnya dekat dengan pipinya.

"Menyenangkan sekali pertarungan ini!" Kata Beni kembali menyiagakan pistolnya.

Pertarungan itu berlangsung sengit diantara Kaito terus menerus menebas tubuh Beni dan semuanya beregenerasi, sementara tawa Beni semakin liar. Akhirnya tangan kanannya terputus kembali. Kini Kaito bermandikan darah dari Beni, dia mengusap mukanya, dia sungguh kelelahan.

"Sudah selesai?" Tanya Beni. Dia kembali menunjukkan tangannya berniat kembali memunculan tangannya seperti yang sebelumnya. Tetapi sudah beberapa detik berlalu, tangannya tidak kunjung muncul. "A-ada apa ini?" Tanya Beni tidak percaya.

"Black Magic di masin-masing orang memiliki batasannya sendiri, jadi ini batasanmu! Biar aku beritahu kepadamu, memerlukan satu minggu untuk kembali memulihkan Black Magic mu kembali. Karena kau tidak mengetahui hal itu, berarti ilmu itu bukan murni darimu sendiri, melainkan dari orang lain, dan kalau seperti itu kekuatanmu akan sangat sedikit." Kata Kaito menjelaskan.

"...Ne-sama! Beri aku kekuatan lagi ..Ne-sama!" Kata Beni sambil berteriak di langit, sementara Uni sudah tumbang dengan tusukan di perutnya dan beberapa luka tembakan tetapi dia masih hidup. "Tidak! Tidak! Jangan ..Ne-sama! Aku berjanji setelah kau memberiku! Aku akan langsung membunuhnya! Beri aku kesempatan lagi ..Ne-sama!" Kata Beni sambil mengulurkan tanganya yang masih utuh ke angkasa. "Tidak.." Kata Beni, matanya mulai berair, Kaito dan Len hanya menatap gadis bermarga Sachine yang bajunya sudah compang camping karena tebasan Kaito dan berlumuran darah itu. "Tidak! Aku tidak gagal! Aku tidak gagal!" Kata Beni, seketika memang tangan kanannya kembali tumbuh tetapi tangan itu memegang pisau dan mengarah ke jantungnya. Seketika, dia langsung tumbang di tempat dan tubuhnya kembali memunculkan luka yang di akibatkan serangan Kaito. Kaito segera mengecek nadinya.

"Apa dia mati?" Tanya Len.

"Sayangnya iya. Aku memiliki dua berita buruk dan satu berita baik. Mana yang akan kau dengar terlebih dahulu." Kata Kaito kepada Len.

"Yang baik saja dulu." Kata Len, tubuhnya juga ada beberapa luka tetapi tidak separah Kaito yang harus bermandikan darah.

"Kabar baiknya, kita masih bisa meneruskan introgasi pada Uni." Kata Kaito.

"Yang buruk?" Tanya Len.

"Yang pertama, kita kehilangan benang merah yang langsung memberi tahu kita dimana mereka dan apa saja gerakan mereka, juga bagaimana kondisi Miku tentunya, dan yang kedua, aku menjadi persis dengan BAKAito-nii." Katanya sambil menunjuk rambutnya yang sudah berubah menjadi merah darah seperti kakaknya.

"Bercandamu tidak pada tempatnya sobat." Kata Len.

"Lihat saja, nanti semuanya akan tertipu." Kata Kaito.

"Leeeennnyy!" Teriak seseorang yang memiliki bandanya berbentuk pita keatas itu sambil memeluk Len.

"Akaito-san?" Tanya seseorang, ternyata Gakupo dan Luka.

"Kenapa kalian kemari?" Tanya Kaito berusaha menyamar menjadi kakaknya.

"Ka-kami kemari setelah melacak pelacak di leher Uni, Akaito-san, Akaito-san sendiri kenapa kemari?" Tanya Luka.

"Aku lebih suka kau memanggilku BAKAito." Kata Kaito.

"Ara, Imouto yo kau membuat citraku buruk." Kata salah seorang di balik Kaito.

"Akaito-Nii? Akaito-san!" Kata keempat remaja di sana terkejut. Akaito kemudian menyodorkan handuk kepada adiknya itu.

"Aku kemari karena aku melihat kalian menghadapi pengguna black magic, kurasa saatnya aku turun membantu kalian." Kata Akaito menggosok kepala adiknya yang rambutnya sudah kembali menjadi biru. "Dan kau memang mirip denganku adikku. Kurasa setelah ini kau ketularan phsyco-nya Miku" Kata Akaito.

"Miku tidak Phsyco tahu!" Kata Kaito sebal. "Dan aku juga tidak sudi kembar denganmu BAKAito-nii!" Kata Kaito sambil menjulurkan lidah. "Dasar Brocon!" Kata Kaito.

"Memangnya kau terusik dengan itu kalau aku Brocon adikku sayang?" Kata Akaito. Kaito hanya muntah di tempat itu, dia tidak muntah ketika melihat darah segitu banyaknya tetapi muntah dengan pernyataan kakaknya itu.

"Oh iya, Kaito, ponsel Miku." Kata Len, Kaito segera berlari menuju kolam itu dan Kaito bersyukur airnya jernih, Kaito menyelam di sana membuat semua tubuhnya yang berlumuran darah menjadikan air dari kolam itu menjadi merah darah, dan ketika Kaito muncul dari sana, warna pakaiannya kembali. Rin muntah-muntah melihat tubuh Beni yang hampir tidak berbentuk karena mantra regenerasi-nya menghilang.

"Untung Miku memasang Case anti air dan anti di lindas road roaller." Kata Kaito melihat ponsel milik Miku masih bisa beroperasi dengan baik.

"Bagaimana dengan Uni?" Tanya Luka kepada Gakupo.

"Dia sudah di angkut dengan ambulans. Kalian harus beristirahat Kaito, Len, besok saat yang menentukan." Kata Gakupo. Mereka berdua hanya mengangguk dan mulai kembali ke asrama.

.

.

.

TBC

Holla! Clara kembali-desu, setelah melalui proses rumit, akhirnya fic ini selesai-desu, tinggal beberapa chapter lagi untuk tamat-desu! Yeaayy! Akhir-akhir ini Clara jadi ketagihan anime Bloody, akhirnya kena deh di chapter ini akibatnya-desu. Akhir kata, Please RnR.. o(_)o