yeah... akhirnya setelah sekian lama, fic ini update juga.

maaf banget baru sempet update sekarang soalnya, kemarin-kemarin sibuk banget sama sekolah.

padahal bulan puasa, tetep aja sekolahnya padat kegiatannya *tibatibacurcol

yaudah, daripada curcol, author mau mengucapkan makasih banget buat semua yang udah review di chapter sebelumnya.

makasih banget buat kritik dan sarannya. moga, chapter yang ini gak garing.

anyway, daripada kebanyakan ngomong, langsung aja deh...

enjoy ;;)


Girls at the Rock Show

"Part 10"

Disclaimer: J.K. Rowling. Unless the OC :)

Pairing: Draco Malfoy – Hermione Granger

Warning: OOC, OC, AU etc etc.


Draco memilih untuk berdiam diri tidak jauh dari tempat Harry dan Hermione mengobrol. Dia lebih memilih untuk memperhatikan mereka daripada mengganggu mereka berdua. Tiba-tiba, dia teringat kata-kata yang sudah diberitahu oleh teman-temannya beberapa waktu lalu di studio pribadinya. Draco merasa sedikit bersalah dengan apa yang dia lakukan kepada teman-temannya. Kini Draco sadar bahwa teman-temannya benar.

Kau bodoh, Draco. Lihat, kan? Apa yang teman-temanmu sudah peringatkan dan kau hanya menganggap mereka omong kosong. Sekarang, luka di hatimu semakin dalam, kan? Perih, kan? Siapa suruh menjadi Tuan Keras Kepala dan tidak mau mendengarkan sahabatnya?

Draco menggelengkan kepalanya saat suara-suara negatif di kepalanya tertawa mengejek. Sepintas, Draco sedikit menyesali apa yang telah dia perbuat. Berperilaku keras kepala terhadap teman-temannya yang sudah berusaha memperingatkannya agar tidak jatuh terlalu dalam. Tetapi, dia terlalu keras kepala untuk mendengarkan apa yang teman-temannya katakan. Dan sekarang, Draco hanya bisa berdiri seperti orang bodoh di depan kasir sambil meremas kacamata hitamnya.

"Kau mau pesan sesuatu, Tuan?" suara pelayan yang ada di samping Draco membuyarkan lamunan Draco. Pria berambut pirang itu menggeleng dan segera meninggalkan kafe tersebut.

Saat Draco hampir membuka pintu kafe tersebut, tiba-tiba dia mendengar namanya dipanggil oleh seseorang. Sepintas, dia mengira bahwa dia dipanggil oleh fans yang menyadari bahwa dia berada di sana. Tetapi, rupanya Draco salah. Harry-lah yang memanggilnya dari kejauhan. Semua mata tertuju kepada Draco dan juga Harry.

"Hei, Draco! Kemarilah!" panggil Harry dari ujung ruangan. Draco hanya melirik ke arah Harry dan Hermione duduk. Harry tersenyum lebar dan melambai-lambai ke arahnya. Sedangkan Hermione tersenyum dan mengangguk. Menyiratkan bahwa Draco memang sebaiknya bergabung dengan mereka. Draco menggeleng dan langsung keluar dari kafe tersebut. Dia sudah cukup kesal dengan apa yang dia lihat. Suara-suara negatif di kepalanya bahkan semakin mengejeknya dan tertawa lepas. Tertawa karena bisa mengalahkan ego Draco Malfoy yang besar.

"Draco!" Harry mengejar Draco dan mulai menarik Draco untuk duduk bersamanya di sudut ruangan tersebut. Harry bahkan menyeret Draco karena Draco menolaknya untuk bergabung. Tetapi, Harry yang tidak kalah keras kepala dari Draco, terus saja menyeret Draco sampai laki-laki berambut pirang tersebut duduk di hadapan Hermione.

"Apa? Aku tidak mau mengganggu kalian pacaran, oke?" gerutu Draco sambil meletakkan kacamata hitamnya di balik jaket abu-abunya. Harry dan Hermione menaikkan alisnya dan mereka mulai tertawa mendengar apa yang dikatakan Draco. Bagaimana mereka tertawa seperti itu? Apakah mereka tertawa karena mereka mengejek Draco karena mereka benar-benar sepasang kekasih sekarang?

"Siapa yang berpacaran, Drake? Tidak ada yang berpacaran," kata Harry sambil terkekeh. Draco menaikkan alisnya dan melihat Harry dan Hermione secara bergantian. Wajah Hermione terlihat sepuluh kali lebih cantik saat dia tertawa seperti itu. Draco baru sadar bahwa Hermione sangat cantik saat dia tertawa dan tersenyum. Dia jarang sekali melihat Hermione seperti ini sebelumnya. Sehingga, dia sempat melamun saat melihat Hermione yang terlihat bahagia ini.

"Tapi, kalian berpegangan tangan dan terlihat seolah kalian berpacaran," gumam Draco seperti anak umur 5 tahun yang baru dituduh menghabiskan es krim di lemari es. Harry tertawa lagi sedangkan Hermione hanya terkekeh melihat tingkah Draco yang terlihat sangat kekanak-kanakan.

"Kami sahabat sejak kami berusia 11 tahun, Draco. Sudah wajar kami berpegangan tangan seperti itu. Dan... tunggu, kau cemburu?" tanya Harry.

Cemburu? Ha? Cemburu? Kata-kata itu tidak ada di kamus Draco. Yeah, tentu saja, kan? Draco tidak akan pernah cemburu kepada Hermione dan Harry seperti itu. Haha, tentu saja Draco tidak cemburu, kan? Dia hanya merasa kesal dengan Harry yang dengan bebas menggenggam tangan Hermione dan membuat Hermione tertawa bahagia seperti itu. Tentu saja Draco tidak cemburu. Cemburu bukanlah kata-kata yang ada di kamus Draco Malfoy. Tentu saja... tentu saja, kan?

"Aku? Cemburu? Haha. Tidak... aku sangat tidak cemburu. Lagi pula aku bukan pacar Hermione jadi aku tidak perlu cemburu, kan? Untuk apa aku cemburu? Aku tidak ada status apa-apa dengan Hermione? Aku tidak berhak untuk cemburu. Lagipula itu hakmu untuk menggenggam tangan sahabatmu. Yeah, itu hakmu. Aku sama sekali tidak cemburu. Yeah, aku tidak cemburu. Tidak, tidak. Aku, Draco Lucius Malfoy, sama sekali tidak cemburu melihatmu, Harry James Potter, menggenggam tangan sahabatmu yang sangat aku cintai, Hermione Jean Granger. Yeah, tentu saja aku tidak cemburu. Aku hanya... dammit!" Draco mengoceh sendiri dan wajahnya terlihat sangat merah sekarang. Hermione, mau tidak mau, tersenyum melihat tingkah Draco yang sangat kekanak-kanakan. Harry sudah tertawa lepas melihat tingkah Draco yang terlihat salah tingkah seperti itu.

"Oh yeah, kau sama sekali tidak cemburu, Malfoy." Harry menggodanya dan mengedipkan matanya. Wajah Draco semakin memerah dengan apa yang baru saja Harry lakukan. Hermione hanya tersenyum melihat tingkah kedua laki-laki yang ada di hadapannya.

"Uh, aku harus menjemput Ginny. Aku ada janji nonton film malam ini. Bye, guys!" tiba-tiba, tanpa mendengar jawaban dari kedua temannya, Harry langsung pergi dari tempat tersebut, meninggalkan Hermione dan Draco yang kini duduk berdua dengan canggung.

Draco masih tidak tahu harus mengatakan apa. Dia hanya menatap kedua tangannya yang dia letakkan di atas meja sambil memandangi piring pancake Harry yang sudah kosong. Hermione juga tidak tahu harus berkata apa. Tiba-tiba saja otaknya berhenti bekerja. Dia juga memandangi gelas cappuccino nya yang sudah setengah kosong. Hermione tidak tahu mengapa tiba-tiba jantungnya bekerja lebih keras daripada biasanya.

Awkward moment dan tidak ada satupun dari mereka yang berusaha untuk mencairkan suasana. Hermione lebih sibuk memikirkan bagaimana dia pulang karena dia saat menuju ke kafe ini bersama dengan Harry. Dan kini, Harry sudah pergi dan meninggalkan dia dengan pria berkepala pirang yang berhasil membuat Hermione salah tingkah dan membuat otak Hermione berhenti bekerja.

Sedangkan Draco sudah jauh tenggelam dalam pikirannya sendiri. Bagaimana dia untuk memulai pembicaraan dengan Hermione. Memang sebelum-sebelumnya, Draco lebih mudah untuk mengungkapkan perasaannya kepada Hermione dan dengan mudah mencari topik pembicaraan. Tetapi, setelah dia menciumnya di dalam mobil beberapa waktu yang lalu, rupanya, keistimewaan Draco sebagai penggoda wanita hilang ditelan bumi. Dia sama sekali tidak tahu harus memulai darimana dan apa yang akan dia katakan selanjutnya. Dia bahkan sadar bahwa dia belum memesan minuman atau makanan sama sekali.

Tiba-tiba, Draco mendengar Hermione berdehem. Draco mengangkat wajahnya dan melihat wajah Hermione yang juga rupanya sedari tadi ditekuk, sama seperti wajahnya. Dia bisa melihat Hermione mulai tersenyum dan Draco serasa berasa di atas awan melihat senyum Hermione. Akhirnya, Hermione mau tersenyum kepadanya.

"Uh... Her-Her-Hermione, um... aku..." Draco mulai membuka mulutnya. Hermione tersenyum melihat Draco yang terlihat seperti orang bodoh tersebut. Jauh di dalam hati dan pikirannya, Hermione sangat gemas melihat tingkah Draco saat ini. Tidak tahu mengapa, dia sangat ingin menggenggam kedua tangan Draco dan mengatakan kepada laki-laki tersebut bahwa dia sangat-

Tunggu.

Apa yang Hermione pikirkan?

Tetapi, Hermione sudah terlalu jauh tenggelam ke dalam tatapan mata kelabu Draco yang ada di hadapannya. Dia baru sadar bahwa mata Draco cukup indah. Biasanya, dia menganggap bahwa orang yang bermata kelabu itu tidak terlalu indah. Tetapi, berbeda dengan milik Draco. Kedua mata tersebut membuat Hermione tidak ingin melepaskan tatapannya dari mata Draco.

"Maaf aku telah bertindak sangat bodoh tadi," gumam Draco setelah mengambil nafas yang cukup dalam. Hermione tersenyum.

"Yeah, tidak apa-apa. Kau terlihat berbeda sekarang," gumam Hermione. Dia tidak tahu alasan yang jelas mengapa dia mengatakan hal tersebut. Tetapi, itu cukup untuk membuat Draco tersenyum.

Entah apa yang membuat Hermione jadi salah tingkah seperti ini. Tetapi, saat melihat bibir Draco tersenyum tersebut cukup untuk membuat jantung Hermione berdegup sangat kencang dan dia merasa sangat salah tingkah.

Ayolah, Hermione, berpikir! Berpikir! Kau tidak boleh terlihat seperti remaja perempuan yang bodoh!

Geram pikiran Hermione. Tetapi, gadis tersebut lebih memilih untuk melawan pikirannya dan lebih mengikuti kata hatinya. Jika logikanya yang bertindak, tentu saja Hermione akan langsung tak acuh kepada Draco dan meninggalkannya di sini seperti yang sudah-sudah. Tetapi, Hermione dengan sangat senang hati untuk tetap duduk di hadapan Draco dan membiarkan Draco membuka pembicaraan di keadaan yang sangat canggung tersebut.

"Uh, Hermione... aku boleh menanyakanmu sesuatu?" tanya Draco. Hermione langsung mengangguk dan tersenyum saat melihat wajah Draco mulai menghangat dan tidak menunjukkan kecanggungan.

"Um... aku... aku ingin... aku ingin minta maaf dengan apa yang sudah aku lakukan beberapa bulan belakangan. Um... aku... aku ingin memulai dari awal," kata Draco dengan sedikit gugup. Hermione hanya menaikkan satu alisnya dan terkekeh mendengar perkataan Draco.

"Yeah, maksudku, aku ingin kita memulai dari awal secara normal. Dari awal kita berkenalan. Aku tahu saat pertama kali kita berkenalan itu adalah hal paling aneh. Bahkan kau membenciku. Sangat, sangat membenciku." Draco menelan ludahnya dan memainkan ujung resleting jaketnya. Hermione tersenyum melihat tingkah Draco yang memang terlihat kekanak-kanakan.

"Oke..." Hermione tersenyum melihat ekspresi Draco saat dia mendengar jawaban Hermione.

"Fine. Uh... Hai, aku Draco Malfoy. Aku dari Wiltshire. Kebetulan aku punya rumah singgah di London. Kau siapa?" tanya Draco dengan sangat gugup. Dia mengulurkan tangannya ke arah Hermione dan gadis berambut keriting tersebut dengan senang hati menjabat tangan Draco yang dingin, lebih dingin daripada udara di kota London saat itu.

"Aku... Aku Hermione Granger. Aku dari London. Rumahku tidak jauh dari sini, kok." Hermione tersenyum dan menundukkan kepalanya dengan malu-malu. Draco bisa merasakan bahwa dirinya serasa terbang ke awan. Dia bisa merasakan degupan jantungnya dan desiran darahnya yang sangat cepat. Dia bahkan bisa bertaruh bahwa wajahnya saat ini sudah merah, semerah apel atau tomat.

Hermione juga bisa merasakan hal yang sama. Dia belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya di dalam dirinya. Tentu saja Hermione pernah merasakan apa yang namanya jatuh cinta. Tetapi, dia ingat jatuh cinta pertamanya kepada kakak kelasnya, Oliver Wood, dan dia tidak merasakan perasaan sehebat sekarang ini. Dia tidak pernah merasa terlihat bodoh di hadapan Oliver. Berbeda dengan Draco yang berhasil membuatnya terlihat seperti gadis remaja normal.

"Kau bersekolah di mana?" tanya Draco sambil tersenyum.

Selanjutnya, mereka berdua mengobrol seperti layaknya sepasang sahabat, atau bahkan lebih dari sekedar sahabat. Hermione bahkan sangat senang bisa mengetahui lebih jauh tentang Draco. Bagaimana Draco sangat mudah bosan dengan hal yang tidak terlalu menarik perhatiannya, bagaimana trik Draco untuk menciptakan sebuah lagu, dan bagaimana kebiasaan Draco jika dia sedang tour keliling Eropa atau bahkan keliling dunia.

Draco juga mengetahui Hermione lebih dari sekedar gadis jenius yang ketus. Draco mengetahui bagaimana paniknya Hermione jika dia tidak mengerjakan tugasnya. Bagaimana Hermione akan berteriak frustrasi kepada kakak tirinya karena selalu menjahilinya. Bahkan, Draco tahu cerita tentang Hermione dan Logan dan rumitnya tentang keluarga mereka.

Hermione tidak tahu mengapa dia bisa bercerita sangat banyak kepada Draco. Dia belum pernah merasa senyaman ini sebelumnya kepada orang lain. Kecuali Harry dan Ron, tentu saja. Hermione belum pernah merasa dia bisa memberikan semua masalahnya kepada orang lain. Hermione belum pernah merasa sesenang ini di hidupnya sebelumnya. Terutama saat dia mendengar tawa Draco yang sanggup membuat jantungnya berdegup sangat kencang. Pipinya bahkan sempat memerah saat Draco dengan tidak sengaja menggodanya.

Akhirnya, mereka berdua memutuskan untuk pulang. Draco, tentu saja, menawarkan diri untuk mengantarkan Hermione sampai ke rumahnya. Awalnya, Hermione menolak. Tetapi, karena Draco yang cukup keras kepala, akhirnya, Hermione mengiyakan tawaran Draco.

Selama di mobilpun, Hermione lebih banyak sharing tentang apapun yang dia suka. Seperti rasa es krim favoritnya, band favoritnya, lagu favoritnya, film favoritnya, aktor favoritnya, olahraga favoritnya. Draco juga melakukan hal yang sama. Dalam waktu sekejap, mereka sudah sangat cocok. Hermione yang dulu yang selalu ketus dan cuek kepada Draco, sudah hilang entah kemana. Draco bahkan merasa bahwa dia sekarang sedang berada di nirwana karena Hermione bisa merubah pendiriannya kepada Draco. Dan dengan sangat bersyukurnya, dia tidak jadi menyalahkan dirinya sendiri karena terlalu keras kepala dengan apa yang teman-temannya katakan.

"Baiklah. Kita sudah sampai. Aku masih ingat saat pertama kali aku datang kemari. Kau bertengkar dengan kakak tirimu untuk membukakan pintu," kata Draco sambil terkekeh. Hermione menaikkan alisnya. Tentu saja dia mengingat itu. Bagaimana Hermione ingin menolak mentah-mentah kehadiran Draco tetapi Logan memilih untuk menjadi seseorang yang sangat menyebalkan dan akhirnya menerima Draco sebagai tamu di rumahnya.

"Sudahlah. Masa lalu kita yang buruk tidak usah dibahas." Hermione menghela nafasnya. Dia malu sendiri dengan sikapnya yang dulu terlihat sangat menyebalkan dan bitchy. Hal tersebut membuat Hermione tidak ingin membahas masa-masa kelam tersebut. Dia hanya ingin membuka lembaran baru dengan Draco dan mencoba untuk menulis memori-memori yang indah dengan Draco.

"Baiklah. Um... Hermione, aku... um... kau mau tidak kalau minggu depan kita... berkencan?" tanya Draco. Suaranya terdengar samar-samar. Dan hal tersebut cukup untuk membuat kedua pipi Hermione merona merah dan tersenyum lebar.

"Yeah... sounds nice." Hermione tersenyum. Kedua mata Draco membulat dan tidak percaya dengan jawaban Hermione. Senyumnya sangat lebar sehingga dia bisa merasakan wajahnya sakit karena senyumannya terlalu lebar. Tetapi, dia tidak peduli.

"Uh... great. Aku akan mengirimmu SMS saja untuk detailnya. Hari apa dan pukul berapa aku akan menjemputmu," kata Draco sambil tersenyum. Hermione terkekeh dan mengangguk mendengar ucapan Draco.

"Ya sudah. Aku harus segera masuk. Aku tidak mau Logan terlalu merindukanku," kata Hermione sambil terkekeh. Draco tertawa mendengarnya.

"Well, mungkin aku yang akan merindukanmu," gumam Draco. Kedua pipi Hermione semakin memerah mendengarnya. Dia menundukkan kepalanya dan tidak berani untuk menatap mata Draco.

"Uh... baiklah. Aku akan segera masuk. Bye, Draco,"

"Bye. Sampai jumpa di kencan berikutnya,"


"Hermione's falling in love with that little blonde guuuuuy~"

Sudah sejak sore sampai malam, Logan selalu menyanyikan lagu bodoh tersebut di hadapan Hermione. Tentu saja Hermione menceritakan semuanya kepada Logan tentang Draco yang baru saja mengantarnya pulang. Tetapi, Logan memilih untuk menjadi kakak tiri yang menyebalkan dan membuat sebuah lagu konyol untuk mengolok-olok Hermione.

Hermione bahkan sempat melempar bantal yang ada di sofa ke wajah Logan yang membuat Logan semakin tertawa puas karena tingkahnya berhasil membuat kedua pipi Hermione memerah dan adik tirinya terlihat sangat kesal. Itulah tujuan Logan, membuat gadis berambut keriting tersebut kesal dan salah tingkah sendiri.

"LOGAN ANDREW DIAMOND!" teriak Hermione sambil berusaha mengejar Logan yang sudah berlari ke sekeliling rumah. Kini, mereka berdua merasa seperti anak berusia 5 tahun yang sedang berebut makanan dan berkejaran ke sekeliling rumah. Hermione tidak merasa malu untuk mengejar kakaknya seperti ini. Menurutnya, Logan sudah keterlaluan dan sangat, sangat menyebalkan.

Logan pun semakin senang melihat aksi Hermione yang terlihat sangat kesal. Dia bahkan menyanyikan lagu milik David Archuleta yang berjudul Crush dan berhasil membuat Hermione melempar bantal sofa yang lain.

Kedua orang tua mereka sedang pergi saat itu. Sehingga, Logan dan Hermione dengan bebas berkejaran di dalam rumah dan Hermione juga mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas untuk diucapkan seorang gadis. Tetapi, hal tersebut justru sangat menghibur Logan sehingga dia tidak henti-hentinya menyanyikan lagu konyolnya dan juga lagu milik David Archuleta tersebut.

"Am I crazy or falling in love?" goda Logan lagi. Hermione kini melompat dan menerjang Logan. Pria yang berusia 2 tahun lebih tua dari Hermione tersebut, terjatuh di atas lantai dengan Hermione berada di atasnya. Tawa Logan berhenti saat dia melihat mata Hermione yang mengerikan.

"You. Are. Damn. Crazy. Logan. Andrew. And. I. Swear. To. God. If. You. Did. That. Again. I. Would. Kill. You!" geram Hermione di telinga Logan. Pria tersebut merinding mendengar nada mengancam di suara Hermione. Dia belum pernah melihat saudari tirinya terlihat begitu mengerikan.

Mengetahui bahwa Logan sudah berhenti mengolok-oloknya, Hermione langsung berdiri dan menjatuhkan sebuah bantal yang cukup besar ke atas tubuh Logan yang kurus. Hermione menggeram sekali lagi lalu berlari ke lantai atas. Logan bisa mendengar debam suara pintu kamar Hermione.

Logan tahu bahwa Hermione sangat marah. Dia tahu bahwa dia sudah sangat keterlaluan menggoda Hermione seperti tadi. Dia bahkan takut sendiri melihat wajah Hermione yang cantik berubah menjadi sangat mengerikan seperti tadi. Mengingatnya saja Logan sudah ngeri. Akhirnya, dia hanya menggelengkan kepalanya dan menjatuhkan dirinya di atas sofa.

Dia harus meminta maaf kepada Hermione secepatnya.

Sedangkan di dalam kamar, nafas Hermione memburu dan dia tidak percaya bahwa dia bisa melakukan hal yang baru saja dia lakukan. Dia belum pernah merasa semarah ini sebelumnya. Dia memang tidak seharusnya semarah itu kepada Logan. Tetapi menurutnya, Logan sudah sangat keterlaluan. Dia tidak peduli jika besok Logan akan memohon-mohon kepadanya untuk memaafkannya. Memikirkannya saja, Hermione sudah jengah dan memutar kedua bola matanya.

Akhirnya, dia memutuskan untuk mengambil handphone nya dan menelepon sahabatnya.

Harry.

"Ini Harry Potter. Ada yang bisa dibantu?" Hermione tersenyum mendengar suara sahabatnya di seberang telepon.

"Uh, Harry, ini Hermione," gumam Hermione.

"Hei! Ada apa, Mione?"

Hermione pun menceritakan semuanya. Berawal dari awkward moment yang berada di kafe sampai dia bertengkar dengan Logan. Bahkan, Hermione juga memberitahu Harry bahwa dia akan berkencan dengan Draco lagi minggu depan. Harry pun dengan senang mendengar curahan hati sahabatnya.

"Aku hanya mengingatkanmu saja, Mione. Kalau kau akhirnya menjadi milik Draco, aku harap kau bisa tahan dengan ocehan fans nya. Kau tahu sendiri bahwa dia memiliki jutaan fans di luar sana. Apalagi mayoritas fans nya adalah kaum hawa," kata Harry. Hermione mendesah mendengar apa yang Harry katakan. Tentu saja Hermione harus mau berurusan dengan fans Draco jika nanti akhirnya mereka benar-benar menjadi sepasang kekasih. Membayangkannya saja Hermione sudah ngeri.

"Ya. Kau benar. Ada nasihat?"

"Tetaplah jadi dirimu sendiri. Jangan terpancing dengan apapun yang mereka katakan kepadamu. Jika mereka memujimu, ucapkan terimakasih. Jika mereka menghujatmu, tidak usah kau tanggapi. Kau Hermione Granger. Bukan gadis labil berusia 15 tahun yang merengek karena orang yang dia suka malah menyukai orang lain," kata Harry sambil tertawa.

Hermione merasa lega bisa berbagi masalahnya dengan Harry. Hermione benar-benar merasa berterimakasih dengan Harry. Laki-laki berkacamata itu memang sudah membantu Hermione melewati semua rintangan yang pernah Hermione hadapi. Hermione sendiri bukan seorang gadis yang sangat jenius yang bisa menyelesaikan masalah sendiri. Dia juga harus berbagi masalah dengan yang lain, kan? Menanyakan pendapat mereka dan meminta saran serta nasihat mereka.

Tak terasa, waktu sudah hampir menunjukkan waktu tengah malam. Hermione akhirnya menutup teleponnya dan mulai merebahkan tubuhnya lagi di atas kasurnya yang sangat empuk. Dia hanya menatap langit-langit kamarnya yang berwarna biru langit. Setiap dia menatap langit-langit tersebut, dia merasa sangat nyaman. Sejujurnya, dia sangat nyaman melihat warna langit. Karena, setiap saat dia memandangi langit, dia bisa melupakan seluruh masalahnya sejenak.

Tiba-tiba, Hermione mendengar pintu kamarnya diketuk. Dia tahu bahwa itu Logan yang meminta dirinya untuk masuk. Tetapi, Hermione berpura-pura tidur dan tidak mendengarkan Logan. Dia lebih memilih diam dan menutup telinganya saat Logan sudah mulai berpidato tentang betapa menyesalnya dia sudah menggoda Hermione secara berlebihan dan bagaimana dia tidak mau bertengkar dengan Hermione hanya karena masalah sepele. Dari pidato yang diberikan Logan, Hermione bisa merasakan bahwa Logan benar-benar sangat menyesal.

"Baiklah, Hermione, aku minta maaf," kata Logan dengan suara yang sangat memelas. Setelah itu, Hermione tidak mendengar pidato Logan lagi. Dia bisa mendengar langkah kaki Logan mulai menjauh dari pintu kamarnya. Hermione hanya menghela nafasnya dan mengubur wajahnya dengan bantalnya.

Mungkin dia harus mulai berpikir dan mempertimbangkan lagi pernyataan damai dari Logan. Dia juga tidak mau terus menerus bertengkar dengan Logan hanya karena masalah sepele. Tetapi, Logan sudah sangat keterlaluan.

Akhirnya, Hermione memutuskan untuk menutup matanya dan melupakan seluruh masalah yang ada di dirinya sejenak. Dia ingin mengistirahatkan tubuhnya dan otaknya karena hari ini merupakan hari yang sangat menguras perasaannya.

-To Be Continued-


aduuuh...maaf banget kalo endingnya itu gaje banget.

sebenernya tadinya cuman mau diselesein sampe yang Draco pergi dari rumah Mione.

tapi, kayanya kepdendekan. ah terserahlah. haha

di chapter selanjutnya bakal diceritain kencannya Draco sama Hermione heheheh._. excited? :3

maaf banget ini tuh chapter paling aneh dan bikin Draco sama Hermione OOC maksimal. maklum, bikinnya tuh jam 11 malem._.

MAAFKAN SAYA ;_;

oh iya, author udah nargetin kalo cerita ini bakal selesai sebelum masuk ke bulan September. soalnya, author juga udah mau fokus sama kelas 12.

jadi, moga aja di akhir Agustus kalo nggak awal September, ceritanya udah selesai. (doain aja gak dapet writer's block blablabla)

anyway... thanks banget udah mau baca cerita aneh nan gaje ini. dan akhir kata...

REVIEW! boleh saran, kritik, request, apa ajadeh terserah. author bakal menerima dengan lapang dada kok *hugs*

~Xoxo, CrazyForKames