Details?
[SPECIAL CHAPTER]
Story © alice dreamland
The Basketball which Kuroko Plays © Fujimaki Tadatoshi
Genre: Romance, Drama
Warning: Typo(s), all in 2nd PoV, skip scenes, AkashixReader, fluff, drabbles, special 1k+ /?
Detil 10: Kapsul Waktu
Akashi menopang dagu pada kursi penumpang yang menghadap jendela—manik heterokomnya menatap lurus pemandangan khas musim semi di luar kaca yang terus berganti seiring mobil berjalan.
Sudah delapan hari pohon sakura mekar—membiarkan angin menerbangkan kelopak halusnya. Akashi menduga ia takkan dapat melihat pemandangan ini lagi minggu depan.
Tapi sudahlah—apa pedulinya?
Toh rutinitas sehari-harinya juga tidak berubah.
Menghela napas—menyandarkan kepala pada pintu samping, hendak kembali memperhatikan selagi menunggu sampai pada kediaman.
Namun manik heterokomnya mengerjap—kala menyadari seseorang yang sangat ia kenali berjalan ringan di sekitar pepohonan pada trotoar.
Siapa lagi kalau bukan [surname][name]?
Mengenakan sarung tangan dan menggengam sekop—padahal kau memakai dress berenda bunga-bunga selutut, kalung perak berliontin oval, serta sepatu flat. Sangat tidak sesuai.
Akashi pun membatin—menggali lubang kah? Atau mungkin mencari cacing untuk memancing?
Ah, tunggu. Ia harus cepat memberhentikan mobil sebelum kau menghilang dari pandangan karena kecepatan berlebih. Menyerukan permintaannya pada supir keluarga Akashi, pemuda itu pun turun setelah mobil memarkir di tikungan sepi.
Meski mengatakan kalau akan lama, supir keluarga Akashi serta bodyguardnya (ayah Akashi memaksa Akashi untuk membawa satu sebelum berpergian) bersikeras menunggu sang tuan muda.
Akhirnya Akashi pun mengabaikannya—berjalan menuju dirimu yang kini membungkuk memperhatikan batang pohon demi pohon dengan seksama.
Jalanan beraspal di sebelah sangat sepi—hanya satu-dua mobil berlalu dengan kecepatan tinggi. Sisanya berjalan tenang di trotoar—baik di bagian kanan maupun kiri jalan—dan bersepeda ria.
Kaus yang dikenakan Akashi berkibar tertiup angin—mengingat ia baru saja bertemu dengan rekan setim lamanya di Teiko. Ah, tak lupa Akashi mengenakan jaket merahnya.
Kau tak bergeming dari posisi—manik terpusat pada popohonan, tak menyadari langkah Akashi yang kian mendekat. Kau berdiri—sesekali membungkuk dengan kedua tangan di balik punggung.
"Sedang apa kau di sini?" Akashi memulai pembicaraan—berhenti pada jarak setengah meter darimu, merubah posisi di belakangmu.
"HUAA—eh?" Kau yang awalnya terkejut kini menoleh—memandang Akashi heran. "Ah! Doumo, Akashi-kun! Sedang apa di sini? Mencari udara sejuk?"
"Kau belum menjawab pertanyaanku." Wajah Akashi datar seperti biasa—tak lupa tatapan menusuk dan dinginnya. Kau telah terbiasa, karenanya tidak memedulikan—tertawa kecil sebagai permintaan maaf.
"Sumimasen, Akashi-kun. Aku sedang mencari pohon tempat aku mengubur time capsuleku dulu." Tersenyum manis, kembali memandang kumpulan pohon besar yang didominasi warna merah muda.
Akashi mengerjap. Begitu rupanya, pantas saja kau membawa sekop merah dan menggunakan sarung tangan plastik.
"Aku ingat menguburnya di sekitar sini. Waktu itu pohonnya juga kuberi tanda ukiran pada batangnya." Kau berujar—kaki berjalan sementara manik lihai mengamati batang kokoh setiap tanaman.
"Apa yang ini?" Akashi menunjuk sebuah pohon—dengan ukiran garis tak beraturan. Kau menoleh, mengamati—dan manikmu melebar.
"Iya, yang ini! Arigatou, Akashi-kun!" Tersenyum ceria—mengelus batangnya dengan telapak tangan kanan. "Tidak terasa ya, sudah tujuh tahun berlalu."
Lelaki di sebelahmu diam, sementara kau mulai berlutut dan menggali tanah di sekitarnya menggunakan sekop.
Akashi berjongkok, namun tak membantu karena minimnya peralatan yang dibawa. Menggali dengan tangan? Itu tabu bagi seorang pewaris Akashi Corp. macam dirinya.
"Apa boleh menggali di sini?" Akashi mengerutkan kedua alis—sedikit heran. Kau mengangguk riang.
"Daijoubu, daijoubu. Lagipula rumahku di depan pohon ini, samping jalan. Polisi yang biasa berpatroli di sini juga sudah mengenalku. Mereka pernah bertemu denganku saat ronda malam." Tanah terangkat dan diletakkan di samping kala mulut bertutur kata.
Akashi tak menjawab. Kau tak memedulikannya, sibuk menyekop tanah kala mencari kapsul waktu yang dulu kau kubur.
"Ah!" Sesuatu yang keras membuatmu berhenti menggali. Kini mengubah arah sekop menuju samping; menampakkan sebuah kotak coklat tua yang cukup besar.
Melihat bahwa galianmu cukup lebar, kau pun mengangkat kotaknya—yang ternyata sangat ringan. Meletakkannya di hadapanmu dan Akashi.
"Eh? Ada password angkanya." Kau mengerjap—kemudian jemari mencoba memasukkan angka abstrak pada tiga digit yang ada.
5-9-3
Menekan tombol buka—namun tak berhasil. Melepaskan kedua sarung tangan, meletakkannya di sebelahmu seraya merapikan rambut dengan tampang heran.
Akashi tak mengatakan apa pun sedari tadi—mengamati perilakumu dari samping. Kau pun tak menghiraukannya, kini mencoba memasukkan angka lain yang terpikir dalam benak.
Dulu waktu kecil, angka favoritmu adalah...
Kau mengangguk kala mendapat jawaban—kembali memutar angka tiga digit pada kotak.
1-2-3
Menekan tombol dan—
Cklek!
—terbuka!
Senyumanmu merekah. Kini jemari lentik beralih menarik tutup kotak ke atas belakang—membiarkannya dalam posisi karena ditahan engsel besi agar tak menyentuh tanah. Manikmu mendapati mainan masa kecil serta harta kanak-kanak dalam pandangan.
Hanya tiga benda—namun kau tahu; semuanya sangat berharga.
Pertama: boneka anak ayam berbulu kuning—yang kau namai Emily saat berumur tiga tahun. Terbukti dengan adanya kertas bertulisan kacau ala anak balita—tertempel pada bulunya, mencantumkan nama.
Kau pun memeluknya tanpa memedulikan orang-orang yang berlalu lalang di belakang—mengingat kalian di trotoar jalan; meski sepi.
Kedua: foto lusuh dirimu berumur tujuh tahun bersama kakek nenek juga seorang lelaki berambut coklat muda. Kau mengenakan dress merah marun selutut tanpa lengan, topi lebar berpita merah melindungi dari cahaya sinar matahari siang, dan ekspresi gembira.
Akashi yang melihat di sebelahmu mendelik heran. Siapa lelaki seusiamu itu? Kau punya teman masa kecil? Mengapa dirinya tidak tahu?
"Siapa dia?" Akashi merubah posisinya menjadi duduk di trotoar—toh berjongkok lama sangat melelahkan.
Kau masih berlutut—menatapnya heran. "Maksud Akashi-kun?"
"Lelaki seusiamu di foto." Tatapannya menajam pada foto—seakan beradu pandang dengan lelaki kecil berambut coklat yang tampak pemalu.
"Eh? Dia Sakurai Ryo." Kau melebarkan senyum. "Saudara sepupuku di Tokyo. Dulu aku sering mengunjunginya saat liburan musim panas. Namun sekarang tidak lagi karena dia sudah SMA; pasti sibuk—mengingat sekolah kita tugas juga menumpuk."
Oh. Saudara sepupu rupanya.
Pandangannya melunak, menghela napas—melihatmu yang kini mengamati benda ketiga.
Sebuah kertas ulangan bertulisan angka '100'.
Lebih tepatnya—ulangan matematika.
"E-Eh..." Peluh mulai menetes dari pelipis—bibir membentuk seulas senyuman ragu. "Aneh, aku tak ingat pernah mendapat seratus untuk pelajaran ini."
Akashi mengamatimu yang terlihat bingung. Tanpa kau sadari, perilakumu menggemaskan di matanya. Ingin Akashi tertawa karena raut wajahmu, namun ditahannya.
"Ah, sudahlah. Sudahlah. Lagipula justru bagus kan dapat seratus!" gumammu seraya menggelengkan kepala—manik berbinar.
"Jadi intinya nilaimu yang dulu lebih baik daripada sekarang?"
Kau mengerjap—melihat Akashi tiba-tiba telah membawa kertas betulisan nilai seratusmu tercinta (entah bagaimana lelaki itu mengambilnya dalam secepat kilat).
"Huwaa, kembalikan!" Kau merebut kertas itu menahan malu. Meski perkataan Akashi ada benarnya, mendapat nilai sempurna untuk mata pelajaran matematika SMA sangatlah di luar jangkauan—kecuali bagi Akashi Seijuuro seorang.
Kau melipat kertas itu dan meletakkannya di samping beserta dua benda lainnya—mengosongkan kotak. Dan menyadari bahwa tempat dalam kotak sangatlah besar.
Kau memang menyiapkan benda untuk dikubur kembali—serta membukanya tujuh tahun kemudian saat sudah universitas, atau mungkin telah bekerja?
Tapi benda itu sangat kecil! Hanya satu lagi! Pasti akan menyisakan banyak tempat.
Menggerutu dalam hati menyadari keteledoranmu tidak membawa benda lebih, kau pun menghela napas. Ingin kau kembali masuk dalam rumah mengambil bahan—tapi mengingat ada Akashi di sini dan galianmu belum ditutup, kau urungkan niatmu untuk pergi.
Melepaskan kalung berliontin perak yang terkulai di lehermu, memasukkannya dalam kotak coklat. Dan benar saja—sisa tempatnya sangat banyak, bahkan mungkin memasukkan dua ekor kucing pun muat.
Kau pun beralih pandang pada pucuk pepohonan kala merasakan angin kencang melewati kalian berdua—menggeret beribu kelopak merah muda mengikuti arus.
Tersenyum lebar menikmati pemandangan, tak menyadari Akashi memasukkan jaket merahnya dalam kapsul waktumu. Namun mendapatinya kala kembali menunduk.
Kau mengerjap heran—menatap Akashi dengan sebelah alis terangkat. "Are? Akashi-kun, kenapa jaketmu—?"
"Karena tempatnya masih banyak, aku memasukkan jaketku untuk dibuka tujuh tahun ke depan," ujar Akashi simpel.
"T-Tapi kita kan belum tentu bertemu lagi setelah lulus SMA." Kau berucap ragu—memainkan rambut, merasa canggung. "Lagipula jaket itu mahal lho Akashi-kun, masih bisa kau gunakkan 'kan? Untuk apa dimasukkan?"
Akashi menatapmu datar. "Liontin perakmu juga mahal dan masih bisa digunakkan, kan? Alasanku sama denganmu."
Kau tersentak.
Oh ya...
Dimasukkan karena berharga.
Tertawa ragu, memandang Akashi lurus. "D-Demo, bagaimana bisa kita bertemu tujuh tahun—" Kau menghentikkan ucapan; mengerjap kala mendapat ilham.
Cepat, kau berdiri dan menepuk kedua tangan ceria—tersenyum lebar. "Jaa, bagaimana jika tujuh tahun lagi saat kita sudah bekerja nanti, bertemu kembali di tempat ini. Tepat hari ini—di musim semi?"
Akashi mengerjap—mengangguk datar. Merasa itu tidak akan terlalu bermasalah. Mengingat ia hanya perlu mencatat hari ini, bukan?
Kau kembali berlutut—tetap dengan senyuman merekah. Menyodorkan tangan kanan, membuat Akashi menaikkan sebelah alis—memandangmu heran.
"Sampai saat itu tiba, kuharap kita terus berhubungan baik, Akashi-kun!" Dengan aura bunga-bunga dan efek blink-blink.
Akashi tersenyum samar melihat keantusiasanmu. Menyambut tanganmu lembut—dibalas tatapan gembira serta senyuman sehangat mentari.
Tentu saja kalian akan terus berhubungan baik. Toh bagaimana pun juga, Akashi tak pernah memiliki niat untuk berpisah denganmu.
Sedikit pun.
.
GOMENASAITELAT UPDATE. Sekali lagi saya telat karena pulsa.
Iya, pulsa.
Yang saya bales PMnya kemarin, itu karena saya kebetulan nongkrong di sebuah toko ber-wifi. Jadi saya manfaatkan kesempatan itu untuk buka FFN mobile—tetep ga bisa update sih *ngais tanah* tapi worth it, bisa bales bbrp PM /plek
Sekarang mungkin terungkap sudah kenapa reader lebih suka ngomong 'sumimasen' daripada 'gomenasai' di cerita ini. Sepupunya Sakurai sih #dor
Ini pwanjang to the bwanget. Special chapter karena ini bagian ke cepuluh serta permintaan maaf saya telat update.
Semoga memuaskan :''3 saya harap ngak aneh karena kepanjangen. Supir sama bodyguardnya nongkrong doang /terluvakan/
Balasan review anon:
-Kii-tan
Souka? Arigatouu *nangis terharu*
Iya, Akashinya diem cool soalnya -_-" but pasti akan bertindak huahahahaa /plek
Terima kasih telah mereview :3
Semoga semuanya suka! Terima kasih telah membaca, mereview, fave, fol, bahkan favenya sudah mencapai 59 *nangis terharu*
Maaf jika ada kata-kata yang tak berkenan, semoga chap depan lebih memuaskan ya :3
Sekian!
~alice dreamland
