Naruto © Masashi Kishimoto
Song of a Cherry Blossom © Diana-san
Indonesian Ver. © Yuki Kanashii
Chapter 10 — New Friend, New Enemy
Hari berikutnya adalah hari berkabut. Awan kelabu menutupi langit biru dan tanda-tanda badai mendekat terlihat cukup jelas. Cuacanya tentu sangat cocok dengan suasana hati Sakura hari itu karena ia sedang tidak senang.
Sakura menghabiskan waktu sepanjang hari untuk menemukan jalan keluar dari rumah besar Sasuke sehari sebelumnya. Tidak sampai larut malam ketika Sakura akhirnya sampai di apartemen kecilnya. Pada saat itu Sakura sudah mati kelaparan karena ia tidak makan apapun kecuali sarapan besar yang juga menjadi makan siangnya. Merasa malas untuk memasak apa pun apalagi membuat sesuatu yang dapat dimakan, Sakura merebus air dan memasak ramen instan untuk makan malam. Ia pergi ke tempat tidur dengan perasaan sedikit tidak kenyang dan gelisah di tempat tidur sepanjang malam. Jadi bayangkan bagaimana perasaannya pagi ini ketika ia turun dari tempat tidur; gadis cherry blossom itu tidak merasa ceria sedikit pun.
Sakura berjalan pelan dengan susah payah ke kelas di mana para gadis bergosip seperti biasa dan laki-laki melemparkan bola satu sama lain. Sakura menuju ke kursinya dan menjatuhkan tasnya ke lantai sebelum duduk merosot di atas kursi. Ia bahkan tidak perlu repot-repot melihat apa Sasuke sedang duduk di belakang sehingga Sakura bisa mencekiknya. Sakura menyandarkan kepalanya di lengan lalu menutup matanya dan mencoba mendapatkan kembali jam tidurnya yang hilang.
"Sakuuuuraaaaa-chaaaan," sebuah suara bernyanyi.
Sakura membenamkan kepalanya lebih dalam di antara lengan ketika mendengar suara Naruto bernyanyi. Ia mendengus dan berharap hal itu akan memberitahu Naruto agar meninggalkannya sendirian.
Dan ternyata tidak.
Naruto mulai mendorong Sakura untuk melihat apa ia akan bergerak. Sakura menggeram rendah saat Naruto terus mencoleknya. Setelah mendengar geramannya, Naruto memutuskan untuk mundur. Sakura tersenyum sambil terus melanjutkan tidurnya.
"Baiklah, buka halaman 890."
Sakura mengerang keras. Dari semua hari, Kakashi-sensei memilih untuk benar-benar mengajarkan sesuatu. Sakura membenamkan kepalanya lebih dalam saat ia mencoba menjerit tertahan.
Sakura bisa merasakan sebuah tongkat menusuknya. "Ayolah Sakura. Tidak ada waktu untuk tidur," kata Kakashi-sensei sambil terus menyenggol Sakura dengan tongkat meteran.
Ada apa dengan orang-orang hari ini dan colekan tanpa henti mereka? Sakura mengeluh dalam kepalanya.
Sakura dengan enggan mengangkat kepalanya dan bersandar pada satu lengannya. Merasa puas dengan setidaknya mampu melihat wajah Sakura, Kakashi pindah ke target berikutnya dan mengabaikan pelototan dari remaja berambut merah muda itu.
Kakashi-sensei berdiri di depan meja Sasuke dan menepuk-nepuk lengannya dengan tongkat meteran berulang kali sambil mencoba memikirkan apa yang harus ia lakukan dengan anak Uchiha itu.
Mata Sasuke terpejam dan kakinya disangga di atas meja. Di pangkuannya ada mp3 player dan satu set earphone terpasang di telinganya. Kakashi-sensei menusuk-nusuk pelan kepala Sasuke. Laki-laki berambut ebony itu membuka matanya kesal dan melotot pada orang yang melakukan itu padanya. Kakashi-sensei tersenyum ke arahnya. Pria berambut perak itu mengulurkan tangannya dan memberi isyarat pada Sasuke untuk menyerahkan mp3 player miliknya. Sasuke mendesah sambil mengeluarkan earphone dan menjatuhkan mp3 player di tangan gurunya.
"Kau bisa mengambilnya setelah kelas selesai," balas Kakashi-sensei.
Sasuke menguap. "Tidak perlu. Aku akan membeli mp3 player yang lain."
Gadis-gadis penggemar mulai memekik. "OH! BISAKAH AKU MEMILIKINYA?"
"APA YANG KAU KATAKAN? AKU INGIN ITU!"
"TIDAK! ITU MILIKKU!"
Sakura mengertakkan gigi saat teriakan dan jeritan tanpa henti membangunkannya dari tidur tiga menit miliknya selama Kakashi-sensei telah pindah untuk mengganggu Sasuke. Sialan Sasuke. Kau bahkan dapat menggangguku tanpa berusaha untuk melakukannya.
Sakura kembali menatap Sasuke yang tersenyum puas padanya. Gadis cherry blossom itu memberinya tatapan frustrasi sebelum kembali menghadap ke depan.
Kakashi-sensei membuka buku dan memulai ceramah panjang tentang pentingnya sejarah. Sakura mengerang. Aku akan menjadi begitu sejarah sebelum kelas berakhir.
—Song of a Cherry Blossom—
Sakura menatap jam dan memperhatikan jarum detik yang bergerak perlahan menyelesaikan satu lingkaran jam. Jarum menit ada di sebelah angka dua belas dan Sakura bersumpah ia akan mati jika kedua jarum jam merah tidak bergerak lebih cepat. Ini tampaknya telah terhenti pada detik ke sepuluh dari angka dua belas seolah-olah itu mencoba mengganggu Sakura. Akhirnya, jarum jam menyentuh angka dua belas dan bel berbunyi, menandakan kelas berakhir dan awal siang. Sakura meraih barang-barangnya dan bergegas keluar kelas.
Sakura berlari gembira menyusuri lorong-lorong sekolah sambil melewati kafetaria. Ia tidak punya waktu untuk menyiapkan makan siang sehingga ia memutuskan untuk membeli makan siang di sekolah. Sakura mengantri dan menunggu antriannya bergerak. Gadis cherry blossom itu mulai mengobrak-abrik tas sekolahnya dan mencari kartu identitas siswanya sehingga ia bisa memperlihatkan kartu itu ketika sampai di sana.
"Sialan. Dimana kartunya?" Sakura bergumam sambil meraba seluruh bagian dalam tasnya. "Aku tahu aku menaruhnya di suatu tempat di sini," Sakura menggerutu.
"Um," suara kecil dan lemah berseru.
Sakura berbalik ke belakang dan mengalihkan pandangannya dari tasnya. Seorang gadis pucat dengan rambut berwarna blueberry berdiri memegang kartu identitas dengan foto dan nama Sakura tercetak di atasnya.
Wajah Sakura cerah saat melihat kartu identitas muridnya. "Terima kasih!" Sakura berkata dengan gembira sambil mengambil kartu dari tangan gadis itu. "Aku akan mati jika kehilangan ini," kata Sakura.
Gadis berambut violet itu tersenyum malu-malu. "I-itu t-tidak masalah."
Sakura menatap lekat gadis itu. "Hei, bukannya kau murid dari kelasku?"
Gadis pemalu itu mengangguk. "Uh i-itu b-benar."
Sakura tersenyum sambil mengulurkan tangannya. "Aku Haruno Sakura."
Gadis berambut violet itu mengulurkan tangan dan menjabar tangan Sakura dengan lembut. "H-Hyuuga Hinata," katanya lembut.
"Sangat menyenangkan untuk bertemu denganmu Hinata. Kau tahu, kau punya sedikit kemiripan dengan seorang laki-laki yang aku kenal."
Hinata tersenyum malu-malu. "Oh, mungkin maksudmu Neji-san?"
Sakura mengangguk. "Ya, laki-laki itu maksudku."
"D-dia sepupuku," jawab Hinata.
Mata Sakura melebar. "Wow, benarkah?"
Hinata mengangguk. Sakura tertawa. "Dunia ini begitu kecil," kata Sakura.
Antrian mulai bergerak ke depan dan Sakura meraih nampan merah. "Jadi, apa kau ingin duduk bersama?"
Hinata tersenyum kecil. "Aku mau. Ini akan menjadi suatu kehormatan untuk duduk dengan seseorang sepertimu Haruno-san."
Sakura tertawa. "Ayolah. Panggil aku Sakura saja. Haruno-san membuatku terdengar begitu tua."
Hinata mengangguk. "Oke. S-Sakura?"
"Ya?"
Hinata tersipu. "Oh. Aku hanya ingin tahu kedengarannya seperti apa jika aku memanggilmu begitu."
Sakura tersenyum. "Kalau begitu aku bisa memanggilmu Hinata?"
Hinata mengangguk. "Y-ya!"
Sakura mencapai garis depan dan menyerahkan kartu identitas muridnya ke kasir di depannya dan kemudian kasir menghitung pembelian Sakura. Beberapa angka muncul di layar depan Sakura dan Sakura mengeluarkan uang dari dompetnya dan menyerahkannya kepada wanita kasir. Wanita kasir menyerahkan kartu dan kembalian Sakura padanya. Gadis berambut bunga itu menunggu Hinata membayar makan siangnya.
"Jadi di mana kita duduk?" Tanya Sakura segera setelah Hinata membayar. Sakura melirik sekitar kafetaria sekolah untuk mencari kursi kosong. Ia melihat area kosong di tengah kafetaria dan menunjuk dengan tangannya yang bebas sehingga Hinata tahu letaknya. Gadis berambut violet itu mengangguk sambil mengikuti Sakura.
Sakura meletakkan nampan ke meja dan duduk di kursi. Hinata duduk di kursi sebelah Sakura dan dengan lembut meletakkan nampannya. Sakura menguap sambil mengusap matanya.
"Sakura-san? Apa kau baik-baik saja?" Tanya Hinata dengan ekspresi cemas.
Sakura mengangguk. "Ya, aku hanya sedikit mengantuk."
Gadis berkepala merah muda itu menurunkan tangannya dan tersenyum. "Pokoknya, ayo kita makan."
Sakura melirik sepiring spaghetti di depannya dan tersenyum remeh. "Aku tidak peduli apa yang orang katakan tentang makanan di sini. Tidak peduli seberapa bergengsi sekolah ini, semua sekolah sama saja saat makan siang."
Hinata tertawa keras lalu menutup mulutnya malu dan wajahnya yang pucat berubah warna menjadi merah muda. Sakura tertawa. "Kau tahu Hinata, kau harus lebih banyak tertawa. Kau akan terlihat lebih cantik jika sering tertawa."
Hinata tersenyum lembut. "Apa karena kau sering tertawa makanya kau begitu cantik, Sakura-san?"
Sakura tergelak. "Please, aku hanya kuncup kecil di tengah-tengah ladang mawar mekar di sekolah ini."
Hinata menggeleng. "Tidak itu, tidak benar, karena suatu hari ketika kuncup mekar, itu pasti akan menjadi bunga yang paling indah dan unik di antara mereka semua."
Sakura menatap Hinata. "Dan apa itu?" Tantang Sakura.
"Sebuah cherry blossom yang indah di tengah-tengah ladang mawar."
Gadis cherry blossom itu tersenyum. "Kita lihat nanti."
Hinata mengangguk lalu mengambil garpu dan mulai makan. Sakura berpikir tentang apa yang Hinata katakan sambil memutar-mutar segarpu spaghetti. Indah dan unik? Itu sangat tidak mungkin. Atau mungkin?
"Hei! Apa kalian mendengar tentang apa yang terjadi Sabtu malam di rumah Sasuke-kun?"
Pikiran Sakura buyar ketika ia mendengar seseorang berbicara di belakangnya tentang Sasuke dan Sabtu malam. Astaga! Jangan katakan hal ini sudah menyebar ke seluruh sekolah?
Sakura berbalik perlahan untuk mengintip siapa yang berbicara. Itu adalah sekelompok gadis-gadis dari kelas Sakura. Di antara sekelompok gadis-gadis itu ada pacar Sasuke, Ino, duduk di tengah dengan punggungnya menghadap Sakura.
Sakura berbalik perlahan dan kaku sambil mencoba untuk tidak terlihat. Ia mengintip dari sudut matanya sambil mendengarkan percakapan yang terjadi di belakangnya.
"Bagaimana dengan Sasuke-kun?" Tanya Ino dengan suara bosan.
Seorang gadis berambut cokelat meletakkan nampan dan duduk di kursi di samping Ino. "Yah, aku belanja hari Minggu di mal yang baru saja dibuka akhir pekan dan mendengar beberapa wanita berbicara tentang gadis yang menghabiskan malam di rumah Sasuke-kun."
Ino mengejek. "Please, Aoi, tidak ada gadis yang pernah menghabiskan malam di rumah Sasuke-kun. Bahkan aku pun belum. Kau pasti baru saja mendengarkan gosip yang dimulai oleh orang-orang yang memiliki terlalu banyak waktu di tangan mereka."
Aoi menggeleng. "Aku positif tentang ini. Mereka bukan sembarang orang. Mereka bekerja di rumah Uchiha sebagai maid."
Ino mengangkat alisnya. "Maid?"
Gadis brunette itu mengangguk. "Ya. Mereka bekerja di sana. Salah satu dari mereka mengeluh tentang membersihkan jendela atau semacamnya, tapi, hal yang lebih besar adalah gadis itu dari sekolah kita."
Ino meneguk minumannya dan meletakkannya. "Oh benarkah?"
"Menurutmu kemungkinannya siapa gadis itu?" salah satu gadis bertanya.
"Aku yakin dia salah satu dari gadis-gadis pendiam yang tidak pernah berbicara di kelas. Mereka selalu paling sneakiest. Mereka berpura-pura polos tapi jauh di dalam mereka pencuri pacar," Aoi berkomentar.
Suara bisikan persetujuan terdengar dari setiap gadis yang duduk di sekitar Ino. Aoi mengibaskan rambutnya ke sisi lain. "Aku cukup yakin aku tahu siapa itu."
Ino menyilangkan lengan sambil menyilangkan kaki. "Dan kau pikir siapa itu?"
Gadis brunette itu memberikan senyum licik. "Kau tahu gadis Hyuuga? Orang yang duduk di depan Naruto? Aku selalu menangkap basah dia menengok ke belakang. Dia pasti memperhatikan Sasuke diam-diam ketika dia berpikir tidak ada orang lain yang melihatnya."
Sakura melirik Hinata yang menggigit bibir bawahnya dan bermain dengan ujung roknya. Sakura tahu Hinata berusaha menyembunyikannya, Hyuuga berambut ungu itu sebenarnya mendengarkan percakapan yang terjadi di balik mereka berdua.
"Cewek Hyuuga itu bertindak manis dan polos sehingga tidak ada seorang pun yang akan berpikir bahwa dia sebenarnya adalah pelacur."
Setetes air mata meluncur di pipi Hinata dan jatuh di pangkuannya. Gadis itu berusaha keras untuk tidak menangis dan memasang wajah berani. Sakura mengerutkan kening sambil menatap garpu yang ia pegang dengan kemarahan. Ia tidak tahan melihat seseorang terluka karena gosip gadis-gadis stereotypical. Terutama seseorang yang sudah dianggap teman. Sakura melemparkan garpunya di atas nampan dan kursinya bergeser saat ia berdiri. Hinata melirik gadis berkepala merah muda itu dengan kaget dan shock.
"S-Sakura-san?" Bisik Hinata bingung.
Sakura mengambil nampan spaghetti dan berjalan ke sekelompok gadis-gadis di belakangnya. Ia menepuk pelan bahu gadis brunette yang membelakanginya. Aoi berbalik dan sebelum ia bahkan bisa mengatakan sesuatu, Sakura membuang senampan spaghetti-nya di kepala brunette ini.
Aoi menjerit dan melompat dari tempat duduknya. Dia mulai berteriak-teriak sambil mengibaskan tangannya seolah-olah hal itu akan membuat spaghetti di kepalanya pergi. Sakura meringis saat jeritan menusuk Aoi bergema di seluruh kafetaria.
Banyak orang yang duduk di dalam kafetaria dan di luar mulai memperhatikan. Akan ada keheningan menakutkan jika bukan karena jeritan gadis brunette yang keras. Sebuah kerumunan sudah mulai terbentuk di sekitar Sakura dan Aoi yang sedang berhadapan satu sama lain.
Aoi berhenti menjerit dan memberikan tatapan tajam pada Sakura seakan tatapannya bisa menembus gadis berkepala merah muda itu dan membuatnya menjadi potongan-potongan kecil. Aoi mengangkat jarinya dan menunjuk Sakura. "KAU!" Teriaknya.
Sebelum Aoi bisa mengatakan atau melakukan sesuatu, kerumunan mulai menyingkir saat kepala sekolah berjalan masuk.
Orang tua itu mendesah sambil meletakkan tangannya di belakang. "Apa yang terjadi di sekitar sini?" tanyanya sedih.
Aoi menghentakkan kakinya sambil menunjuk Sakura. "DIA membuang makan siang menjijikkannya padaku!"
Sakura menyeringai. "Yah, aku pikir itu cocok dengan kepribadianmu."
Aoi melotot penuh ancaman pada Sakura dan tampak seolah-olah dia akan menyerang. Sakura melotot kembali pada Aoi dan ketegangan diantara keduanya meningkat. Seperti diberi aba-aba, mereka berdua mulai menyerang pada leher masing-masing tetapi lalu dilerai. Dua orang mencengkeram lengan Sakura dan teman Aoi memegang lengan Aoi erat.
Kepala sekolah mendesah. Tidak pernah dalam tiga puluh tahun dia melihat hal seperti itu terjadi di sekolah yang sangat bergengsi. Dia melirik Sakura dan melihat rambut merah mudanya yang tidak biasa berdiri keluar dari kerumunan siswa. Dia tertawa kecil sambil mendekati Sakura. Kepala sekolah berdiri di depan Sakura dan melindungi pandangan Sakura dari wajah Aoi yang ia cintai untuk mengirimnya ke planet berikutnya. Sakura melirik pria tua yang berdiri di depannya dan matanya melebar.
Dia tersenyum sedikit ke arah Sakura. "Nona Haruno-san?"
Sakura mengangguk pelan. Kepala sekolah mengangguk sedikit memberi isyarat pada dua orang yang memegang Sakura untuk membebaskannya. Dua orang segera menurunkan genggaman mereka pada Sakura dan Sakura hampir terguling. Gadis berambut merah muda itu kembali tenang. Ia berdeham sambil melirik sepatu dan menghindari menatap mata kepala sekolah.
"Silahkan ikut denganku, Nona Haruno-san," katanya sambil berbalik dan mulai berjalan.
Sakura mendongak dari sepatu dan melirik punggung orang tua itu. Sakura perlahan-lahan mulai mengikutinya karena semua mata mamandangnya.
"TUNGGU SEBENTAR!"
Semua kepala di kafetaria berpaling untuk melihat Aoi yang masih naik-turun dengan kemarahan pada Sakura. Gadis berkepala merah muda itu mendesah lalu menyilangkan lengannya dan mengetukkan kakinya tak sabar.
"Apa?" Tanya Sakura dengan suara bosan.
"Aku pikir kau berutang permintaan maaf atas kelakuan gorilamu!"
Sakura mengedipkan matanya. Seperti gorila?
Gadis berambut merah muda itu melirik kepala sekolah. Kepala sekolah berdeham. "Aku yakin Nona Haruno-san akan mempersiapkan permintaan maaf kepadamu setelah kami menyelesaikan masalah ini."
Aoi mendengus. "Yah, dia harus."
Sakura memutar matanya. "Yah, dia harus," tiru Sakura dengan suara nada tinggi.
Kepala sekolah menutup matanya seolah berpikir keras. "Ayo kita pergi sekarang Nona Haruno-san sehingga kita bisa mendiskusikan hukumanmu."
Kepala sekolah melirik kerumunan siswa di sekitar. Semua siswa mulai terpecah seolah-olah mereka tidak melihat apa yang terjadi selama lima belas menit tadi.
"Ayo kita pergi," katanya.
Sakura mengikutinya dan mereka berjalan keluar dari pintu kafetaria. Hinata menggenggam tangannya saat melihat gadis cherry blossom itu berjalan pergi.
"Sakura-san," bisik Hinata. Terima kasih.
