Disclaimer : sama seperti sebelumnya.
.
.
.
Kise memasukkan anak kunci ke dalam lubangnya, kemudian memutarnya.
Hari Jumat sore keenam orang pemuda berambut pelangi sepakat untuk bolos latihan basket. Akashi yang biasanya cerewet soal latihan tepat waktu, kali ini ikut-ikutan bolos—demi mencari mayat. Kalau itu terdengar psikopat, biarlah.
Akashi mengikuti Kise melangkah masuk ke dalam rumah kontrakan. Di belakangnya Midorima, Aomine, Murasakibara dan Kuroko mengikuti. Keenam orang pemuda itu langsung berkumpul di depan rumah sepulang sekolah. Mereka penasaran apakah benar di dalam lemari Kuroko ada pintu rahasianya, seperti yang sering ada di film-film.
"Kita tidak akan melakukan yang tidak-tidak, kan?" Tanya Aomine dengan suara rendah, kepalanya menengok kanan-kiri—siapa tahu dia mendengarkan. Kise yang berjalan paling depan menghidupkan lampu lorong.
"Kita cuma menengok apa yang ada di dalam lemari Tetsuya." Jawab Akashi datar.
"Hanya sebentar, kan? Pak Pendeta bilang jangan dekat-dekat gudang, lho." Ujar Murasakibara sebelum memasukkan permen ke dalam mulutnya. Demi kelancaran ide Akashi untuk mencari mayat, Murasakibara harus menahan sedikit nafsu makannya dan menggantinya dengan permen bebas gula—karena kalau kebanyakan makan yang manis-manis giginya bisa berlubang.
"Hanya sebentar, Atsushi." Sahut Akashi asal. Padahal dia berniat menemukan mayatnya hari itu juga kalau bisa. Bukannya Akashi senang melihat mayat lho, ya. Bukan. Dia hanya ingin masalah yang menimpa teman-temannya cepat selesai. Siapa tahu kalau mayat hantunya ditemukan, hantunya berterimakasih lalu menghilang. Kan di film-film biasanya begitu.
Kise memimpin teman-temannya menaiki tangga dan berhenti di depan kamar Kuroko. Yang menempati kamar bergerak maju untuk mendahului masuk. Kamar Kuroko tampak suram dengan gorden yang tertutup rapat dan agak berdebu. Karena Kepala Pendeta berkata untuk tidak mendekati gudang, Kuroko dan Murasakibara bergantian tidur dengan Aomine, Midorima atau Kise di lantai satu.
Kuroko berjalan menuju jendela dan membuka gordennya agar cahaya sore bisa masuk. Meskipun demikian Aomine tetap menyalakan lampu—tidak ingin sedikit pun berada dalam kegelapan.
Akashi berjalan menuju lemari besar yang menempel di dinding. Dibukanya lemari itu, membuat isinya yang kosong terlihat. Kuroko sudah memindahkan bajunya ke koper dan menaruhnya di lantai satu. Lemari itu ukurannya setinggi orang dewasa rata-rata dan lebarnya sekitar dua meter.
Ada kayu bulat panjang terpalang tinggi—sekitar dahi Akashi, tempat untuk menaruh hanger baju. Agak aneh juga karena tempat menaruh hanger itu lebih tinggi dari biasanya. Tapi kalau dilihat lagi, ukuran lemarinya-lah yang terlalu besar.
Akashi masuk ke dalam lemari itu. Sekarang setelah dia masuk ke dalam lemari yang bagian bawahnya setinggi sekitar limabelas senti, posisi palang hanger jadi berada tepat di dagunya. Pemuda itu mengulurkan tangannya, mengetuk bagian dalam lemari. Suaranya ringan, seperti ada sesuatu di bagian dalamnya.
Pemuda berambut merah itu meraba-raba bagian dalam lemari, dan mendapati bahwa ada bagian cekung di ujung sebelah kanan. Tidak terlalu terlihat karena kegelapan dalam lemari, tapi bisa diketahui jika mengamati benar-benar. Akashi memasukkan tangannya ke dalam situ, mendapati bahwa ceruk itu cukup dalam dan bisa berfungsi sebagai kenop pintu, membuat bagian dalam lemari bisa digeser.
Akashi mencengkram bagian itu dan berusaha menggesernya. Tapi rupanya cukup sulit melakukannya. Terutama karena ada palang kayu tempat hanger yang menghalangi tubuhnya merapat ke dalam lemari. Selain itu mungkin karena sudah lama tidak dibuka sehingga banyak kotoran mengganjal di sekitar dinding kayu itu. Akashi menggunakan kedua tangannya dan menggesernya sekuat tenaga. Kayu bergeser dengan bunyi berderak keras.
Sebuah pintu berukuran laki-laki dewasa terbuka menganga di hadapan mereka, menampakkan kegelapan yang pekat. Ternyata inilah alasan ukuran lemari yang besar sekali.
"Pintu rahasia?" Aomine terperangah. "Pintu rahasia sungguhan?!" Ulangnya. Akashi keluar dari lemari.
"Ya, Daiki. Pintu rahasia sungguhan." Ujar Akashi dengan seringai kemenangan. "Sekarang, Tetsuya, kau punya senter?"
"Ada, sih, tapi kelihatannya cuma satu." Kuroko berjalan menuju meja belajarnya dan menarik lacinya, menampakkan senter kecil.
"Oh! Aku sepertinya punya yang besar-ssu." Tanpa menunggu jawaban Kise melesat keluar kamar dan menuruni tangga dengan bunyi gaduh. Tak lama kemudian pemuda itu kembali ke kamar Kuroko.
"Ini. Aku ingat ayahku meninggalkannya di kardus peralatan di dapur. Aku juga menemukan satu lagi-ssu." Kise mengacungkan dua senter berukuran besar pada Akashi. Pemuda merah itu mengambil salah satunya dan menyalakannya, menyorotkan cahaya senter pada bagian dalam lemari. Tampak sebuah dinding yang tertutup debu dan sawang.
"Aku masuk." Ujar Akashi dan tanpa bicara lagi melangkah masuk ke dalam lemari. Dia membungkukkan badan untuk menghindari palang dan memasuki pintu rahasia. Diedarkannya senter ke kanan dan ke kiri.
"Ada lorong di sini. Kurasa dibangun di balik tembok." Akashi berkata sambil terus menyoroti sekitarnya. Tangannya memegang bagian pojok lemari. "Papan kayu bagian dalam lemari ini bergeser ke bagian dalam dinding bata," ujarnya, "karena itulah lemari menempel pada dinding. Ini bukan pintu rahasia di dalam lemari, tapi lemari yang dibuat untuk menutupi pintu rahasia."
"Kenapa pintu seperti ini dibuat-nanodayo?"
"Entahlah. Tapi kalau pelatih Kise tidak tahu, mungkin pintu ini dibuat ketika rumah ini dibangun." Akashi menjawab. Pemuda itu mengarahkan senternya ke kanan. "Aku akan ke dalam." Katanya kemudian sebelum menghilang dari pandangan.
"Ada apa saja di sana, Akashi-kun?" Kuroko bertanya dengan suara keras. Pemuda itu berdiri agak jauh dari lemari.
"Hanya lorong berdebu. Sebentar. Aku akan mengecek ada apa di ujungnya." Sahutan Akashi sedikit teredam di dalam.
"Ku-kurasa kita tidak boleh diam saja-ssu. Kalau ada apa-apa sama Akashicchi gimana?" Kise bertanya dengan suara cemas.
"Kalau begitu kenapa tidak kau saja yang masuk menemaninya?" Ujar Aomine.
"A-aku kan harus mengawasi keadaan di luar-ssu. Kenapa tidak kau saja, Aominecchi?"
"Ma-mana mau aku masuk tempat mencurigakan begitu. Murasakibara saja."
"Badanku terlalu gede, Mine-chin. Susah masuknya." Sahut Murasakibara yang masih setia mengemut permen bebas gula.
"Kalian ini cuma bisa ngomong saja-nanodayo. Sini senternya." Midorima dengan sebal merebut senter dari tangan Kise dan melangkah masuk ke dalam lemari. Dia menundukkan badan dan melongok ke dalam pintu rahasia, menyoroti kanan-kirinya dengan senter, mendapati lorong penuh debu dan sawang.
Lorong itu sempit, lebarnya paling hanya satu meter, hanya muat satu orang. Panjangnya tak lebih dari enam meter. Ujung lorong itu adalah tembok kusam yang dipenuhi sawang. Lantainya dari kayu, sama dengan semua lantai di rumah itu. Hanya saja yang ini warnanya sudah keabuan karena tertutup debu tebal.
Akashi tengah berjongkok di ujung lorong, tampak mengutak-atik sesuatu di lantainya. Midorima menyorotinya dengan senter.
"Ada sesuatu di sini." Ujar Akashi. Sorotan senter Midorima naik ke atas, ke arah tembok di ujung lorong. Ada sesuatu di sana. Midorima berjalan perlahan mendekati tembok dengan senter tetap menyorot.
"Akashi." Midorima berdiri di samping Akashi, memanggil dengan suara rendah. Akashi mendongak. "Lihat ini." Midorima mengulurkan tangannya dan membersihkan sawang yang menempel di tembok.
Akashi berdiri, ikut mengamati. Midorima menelan ludah. Akashi mengulurkan tangannya, jemarinya mengelus pelan sebuah bekas yang nyata tercetak di tembok.
Sebuah bekas telapak tangan.
"Ini darah." Ujar Akashi dengan suara tenang. Midorima menatapnya horor.
"Maksudmu..."
"Pendeta itu bilang, kan? Pernah ada pembunuhan di sini. Mungkin ini salah satu TKP." Kedua pemuda itu berpandangan. Akashi kemudian menyoroti lantai di bawahnya.
"Kau lihat itu?" Di lantai yang penuh debu tercetak samar sebuah kotak, dengan bundaran kecil dari besi di ujungnya. Ada juga bekas kehitaman di sekitar situ, tapi tidak jelas karena tertutup debu.
"Itu juga darah?" Midorima mengernyit. "Ada ruangan lagi di bawah sini-nanodayo. Tapi dimana ujungnya? Lantai bawah?"
"Mungkin. Coba kau mundur. Kurasa ini bisa dibuka." Midorima mundur. Tapi baru satu langkah kakinya terserimpet, menyebabkan tubuhnya terhuyung. Tangannya otomatis menggapai apa saja yang bisa dia gapai. Tepat sebelum bokongnya menyentuh lantai, Midorima berhasil meraih sesuatu—menyelamatkannya dari sentuhan debu tebal dan lantai.
"Kau tidak apa-apa?" Akashi menundukkan badannya, senternya menyorot Midorima.
"Ya." Ujar Midorima, sedikit terengah.
"Hati-hati. Lantainya kelihatan sudah rapuh. Kalau kau sampai jatuh dengan keras mungkin kita berdua akan terbanting ke bawah. Kalau kepala duluan yang jatuh... yah..." Akashi mengatakannya dengan santai seolah-olah bercerita soal peliharaannya yang berbuat konyol. Midorima memucat dan langsung berdiri. Dia tidak mau mati muda. Setidaknya jangan dengan Akashi.
"Apa itu yang kau pegang?" Akashi mengarahkan senternya pada tangan Midorima, dan mendapati bahwa Midorima berpegangan pada sebuah cekungan kecil yang mirip pada pintu di dalam lemari tempat mereka masuk mereka tadi. Kedua orang pemuda itu berpandangan.
"Coba buka." Kata Akashi. Midorima menatapnya dengan tatapan protes, tapi Akashi mendelik dan dengan mendengus sebal Midorima akhirnya menurut. Dia berusaha menggeser kayunya, tapi kayu itu tak bergerak.
"Pakai kedua tangan." Perintah Akashi. Midorima merengut sebal, tapi menyerahkan senternya pada Akashi dan memposisikan tubuhnya miring, kemudian menarik kuat-kuat 'kenop' pintu kayu itu ke samping. Suara derakan keras memenuhi lorong ketika pintu terbuka.
"Apa itu, Akashi?" Terdengar suara cemas Aomine dari luar. Akashi dan Midorima spontan menutup hidung mereka dengan tangan. Bau busuk menyengat menguar begitu pintu terbuka.
"Kami baru saja menemukan jalan masuk lain ke gudang." Sahut Akashi setengah berteriak. Tapi saat dia melakukannya dia tak sengaja menghirup bau busuk menyengat itu, menyebabkannya terbatuk-batuk. Pemuda berambut merah itu mendorong tubuh Midorima keluar dari lorong.
"Uhuk uhuk." Akashi membungkukkan badan ketika sudah sampai di luar lemari, terbatuk-batuk. Midorima juga melakukan hal yang sama. Bau itu bahkan sampai di luar, membuat Kuroko, Kise, Aomine dan Murasakibara menutup hidung mereka dengan dahi berkerenyit.
"Kita perlu sesuatu untuk menutup hidung. Ada sesuatu dalam gudang." Ujar Akashi dengan sedikit terengah ketika batuknya mereda.
"Ini, Akashi-kun." Akashi terlonjak sedikit ketika mendengar suara Kuroko yang tiba-tiba di sampingnya. Kepala merah itu menoleh, mendapati Kuroko sudah memakai masker bergambar Nigou unyu. Akashi mengernyit.
"Ini pemberian Momoi-san." Jawab Kuroko datar, menjawab pikiran Akashi. Tanpa berkata apa-apa lagi Akashi menyambar masker berwarna merah dari tangan Kuroko dan memakainya. Yang lain-lain juga ikut memakai masker berwarna-warni yang entah darimana di dapat Kuroko.
"Oke. Kalau mau ikut bawa senter. Kita lihat apa yang ada di dalam gudang."
"Tapi memangnya boleh, Aka-chin? Kata Pak Pendeta kan kita tidak boleh dekat-dekat gudang."
"Memangnya kau tidak penasaran dengan apa yang ada di dalamnya, Atsushi? Lagipula kalau memang benar di rumah ini pernah terjadi pembunuhan, mungkin hantu si perempuan itu adalah korbannya. Mungkin dia menghantui kalian karena tidak bisa tenang di alam baka."
"Dan itu bisa jadi dikarenakan mayatnya belum ditemukan, atau keinginan terakhirnya belum terkabulkan-nanodayo."
"Dengan kata lain, kita harus membantu menyelesaikan masalahnya supaya dia bisa tenang dan tidak mengganggu kita lagi. Begitu kan maksudmu, Akashi-kun?"
"Ck. Sudah mati saja masih minta masalahnya diselesaikan orang lain. Merepotkan sekali sih ini setan."
"Hush, Aominecchi, kalau dia dengar bagaimana-ssu?!" Kise menampol kepala Aomine, menyebabkan pemuda berkulit tan itu mendelik.
"Aku ikut ke dalam, Akashi-kun." Ujar Kuroko yang membawa senter kecil miliknya. Akashi mengangguk dan mulai melangkah ke dalam lemari. Disorotkannya senter ke lorong gelap. Kise segera mengikuti di belakangnya, kemudian Kuroko yang membawa senter disusul Aomine—yang memegangi Kuroko agar tidak terjatuh, bukannya karena takut lho ya—lalu Murasakibara dan yang terakhir Midorima.
Murasakibara sedikit kesusahan memasuki lemari karena tubuhnya yang besar dan dia hampir membungkuk 180 derajat untuk menghindari palang, tapi akhirnya dia masuk juga. Hawa pengap bercampur bau busuk langsung menyerbu mereka meskipun sudah memakai masker. Keenam pemuda itu tetap menutupi hidung dengan tangan. Mereka melangkah dengan hati-hati dalam kegelapan. Akashi yang pertama sampai di dalam gudang.
Pemuda berambut merah itu masuk dan mengedarkan sorotan senternya ke sekeliling. Ada banyak kotak-kotak kayu yang bertumpuk dan tertutup debu. Ada pula sofa rusak yang sudah bolong-bolong, juga rangka ranjang yang teronggok begitu saja di pojokan. Gudang ini ternyata cukup luas, ukurannya sama dengan sebuah kamar.
Akashi menyoroti salah satu tembok yang tampaknya berbatasan dengan kamar Kuroko. Ada banyak bercak kehitaman di situ. Dia baru saja berniat melangkahkan kaki untuk mendekat ketika ruangan menjadi terang benderang. Akashi mengerjapkan mata menyesuaikan, kemudian menoleh ke belakang.
"Lampunya masih nyala-nanodayo." Yang lain sudah masuk ke dalam gudang, dan Midorima baru saja menekan saklar lampu. Akashi mendongak, menatap lampu neon yang tampak normal, seperti yang ada di ruangan lain di rumah ini.
Setelah gudang menjadi terang, sekarang lebih mudah melihat barang-barangnya. Kise menutup mulutnya dan memejamkan mata, merasa mual seketika. Yang lainnya membelalakkan mata melihat isi gudang.
Di sana, di tengah-tengah ruangan ada sebuah kursi duduk. Ada tali melingkari kedua kaki dan juga lengan kursi. Tak jauh di sampingnya ada sebuah kotak yang terbuka, dan di dalamnya ada berbagai alat perkakas. Yang paling menonjol adalah sebuah tongkat baseball yang ujungnya sudah berubah warna menjadi hitam. Ada pula palu, gergaji besar dan sebagainya. Lantai di sekitar kursi dan kotak itu penuh dengan noda-noda lebar berwarna hitam yang tertutup debu.
"I-itu darah?!" Aomine bertanya dengan ngeri. Noda kehitaman itu lebar di sekitar kaki kursi, kemudian menjadi sebuah garis memanjang di bawah kaki mereka. Tidak hanya itu, di salah satu tembok juga ada banyak bercak kehitaman.
"Jadi benar pernah terjadi pembunuhan di sini?" Kuroko berbisik dengan suara pelan, wajahnya yang pucat menjadi makin pucat.
"Mungkin." Sahut Akashi. "Yang jelas dia pasti disiksa lama sekali sebelum dibunuh. Kalian lihat tongkat baseball itu? Ujungnya sudah kehitaman. Mungkin dia dipukul berkali-kali dengan itu. Dan juga palunya. Lalu gergaji itu…. Mungkin kakinya dipot—"
"Akashi!" Midorima berseru, dan Akashi menoleh.
Kuroko mencengkram daun pintu, wajahnya sudah sepucat mayat dan tampak seperti mau pingsan. Kise menutup mulutnya dan kelihatan seperti mau muntah. Aomine mengernyit, tangannya bersandar pada tembok, tampak berusaha keras mengalihkan pandangannya dari jejak darah dan apapun itu di dalam gudang. Murasakibara berjongkok memeluk lututnya, memejamkan mata erat-erat dan menutup kedua telinganya dengan tangan. Hanya Midorima yang masih berdiri tegak, tapi wajahnya pucat pasi.
"Yah, intinya, dia diseret keluar dari gudang—ke pintu di lantai lorong itu." Akashi menunjuk ke pintu di lantai lorong—garis berbentuk segiempat yang terlihat samar dibalik debu tebal—yang ditemukannya tadi bersama dengan Midorima. Jejak darah memang terputus di situ. Kuroko langsung menjauh dari pintu gudang.
Midorima baru saja bergerak mendekati pintu di lantai itu ketika tiba-tiba lampu neon berkedip-kedip. Semua menengadah menatap lampu. Hawa dingin tiba-tiba merasuk sumsum, membuat keenam orang itu membeku di tempat. Bola lampu tiba-tiba pecah. Kise memekik tertahan. Ketiga orang pemuda yang memegang senter serentak menghidupkan senter masing-masing, mengarahkannya ke segala arah dengan panik. Murasakibara langsung berdiri.
"Jangan bergerak!" Akashi tiba-tiba berseru. Semua orang langsung berhenti bergerak. Napas memburu terdengar jelas. Dan samar-samar suara sesenggukan perempuan terdengar.
"Shintarou. Kau yang paling dekat dengan pintu? Matikan sentermu. Keluar pelan-pelan, kita kembali ke kamar Tetsuya." Suara Akashi terdengar hampir seperti bisikan, namun semua orang mendengarnya. Midorima menelan ludah. Dia mematikan senternya dan dengan meraba-raba perlahan pemuda itu berjalan mundur ke arah lorong.
"Kuroko?" Midorima memanggil dengan suara rendah, dan suara gemerisik pelan menandakan Kuroko juga sudah bergerak ke lorong. Lampu senternya juga sudah dimatikan. Hanya lampu senter Akashi yang masih menyala, dan dia tidak bergerak sama sekali.
"Ryouta?" Akashi memanggil dengan suara rendah. Sesenggukan itu makin keras terdengar.
"I-iya." Kise menyahut pelan, dan suara derit kayu terdengar. Kise sudah berjalan keluar.
"Atsushi." Murasakibara tidak menjawab, tapi deritan berat pada kayu yang sedikit terburu-buru menandakan kalau dia bergerak. Akashi merasakan jantungnya berdentam. Suara sesenggukan itu makin keras…
"Daiki." Akashi berbisik. Dia sendiri mulai melangkah mundur, merasakan bahwa Aomine tepat di belakangnya. Lampu senter Akashi bergoyang pelan ketika dia mundur. Aomine sudah keluar dari pintu, berdiri di ujung lorong, dan Akashi tepat di pintu.
Akashi menelan ludah. Kalah oleh rasa penasarannya, pemuda itu mengarahkan cahaya senternya pada kursi di tengah ruangan. Suara sesenggukan itu menjadi tak terkendali, memenuhi gudang. Keringat dingin mengalir di dahi Akashi.
"A-Akashi—" Aomine berbisik dengan suara gemetar.
"Sshh." Akashi dengan cepat mendiamkan Aomine. "Jalan, Daiki." Perintah Akashi. Dia tahu bahwa Aomine ketakutan. Dia sendiri mulai merasakan tangannya gemetaran.
Di kursi di tengah ruangan duduk seorang wanita. Akashi menyorot tepat pada kakinya. Sepasang kaki pucat. Ada bekas pemotongan tak sempurna di betis kanannya, dan Akashi bisa melihat dengan jelas urat-uratnya yang terpotong, juga tulang yang sedikit mencuat. Pekerjaan yang buruk sekali dan pasti menyakitkan. Tapi sudah tak ada darah di sana. Hanya kulit pucat, warna kehitaman daging dan urat serta tulang putih yang mencuat. Akashi menyorotkan lampu senternya semakin ke atas. Dress putih kusam menggantung di bawah lutut si wanita, dan kedua tangan pucatnya tergeletak di atas lengan kursi.
Akashi bisa mendengar Aomine bergerak menjauh darinya menuju lemari Kuroko, dan dia pun mengikuti jejaknya. Masih menyoroti wanita itu—takut jika wanita itu bergerak tiba-tiba, Akashi perlahan menutup pintu gudang. Segera setelah pintu gudang tertutup, Akashi berjalan mundur dengan cepat, dengan senter masih menyoroti pintu gudang.
Dia hampir sampai di lemari Kuroko ketika terdengar jeritan memilukan—gabungan antara kemarahan dan rasa sakit—dan tiba-tiba saja pintu gudang yang sudah ditutup menjeblak terbuka. Akashi terbelalak ketika kepala hitam si wanita tiba-tiba muncul dari bagian bawah pintu, tepat dimana cahaya senter Akashi menyorot. Akashi merasakan tubuhnya kaku.
Kepala itu tiba-tiba menoleh, matanya yang kemerahan menatap Akashi dengan bengis. Ekspresi wanita itu tampak marah. Salah satu tangan pucat wanita itu keluar dari pintu.
Akashi memaksa otaknya bekerja, dia harus pergi dari situ. Dia harus bergerak, harus bergerak…
Tangannya yang satu lagi muncul. Wanita itu merangkak menuju dirinya.
Bergeraklah. Bergeraklah—
Wanita merangkak makin cepat dan makin cepat, dan tanpa berpikir lagi, terdorong oleh instingnya Akashi melempar senter ke arah wanita itu—tak peduli kena atau tidak, sebelum berbalik dan berlari menuju lemari.
Akashi bisa mendengar wanita itu meraung marah di belakangnya, dan deritan kayu menandakannya makin mendekat, dan Akashi mempercepat larinya—
Tepat ketika Akashi keluar dari pintu lemari, dia berbalik dan dia bisa melihat wanita itu muncul dari lorong dan menatapnya, wajah pucatnya yang marah dan matanya yang merah dengan lingkaran hitam di sekelilingnya, dan tepat ketika wanita itu hendak melompat ke arahnya Akashi menutup pintu lemari Kuroko. Pemuda itu menumpukan seluruh tubuhnya pada pintu, tangannya bergetar memegangi kenop pintu agar tidak terbuka.
Ada dobrakan keras dari balik pintu, membuat Akashi yang menyangga pintu dengan tubuhnya hampir terpental. Akan tetapi Murasakibara tiba tiba ada di depannya dan balas mendorong sekuat tenaga, dan hasilnya dobrakan itu berubah menjadi gebukan marah. Aomine dan Midorima datang menggotong rak buku Kuroko, meletakkannya di samping Akashi.
Dalam satu gerakan Akashi menyingkir dan rak buku itu dipepetkan di depan lemari menggantikan berat tubuhnya. Murasakibara mendorong rak buku sekuat tenaganya karena gebukan itu masih terdengar, meskipun sekarang sudah cukup teredam. Kemudian Kise dan Kuroko datang dengan meja belajar Kuroko, dan menaruhnya di depan rak. Murasakibara menyingkir ke samping dan memegangi rak bersama Aomine dan Midorima di sisi lain.
Kise, Kuroko dan Akashi memegangi meja belajar, mendorong balik dari depan, berusaha sekuat mungkin menahan agar pintu lemari tidak terbuka. Beberapa saat kemudian suara gebukan itu menghilang, menyisakan keheningan di dalam kamar. Mereka mendengarkan selama beberapa saat. Saat merasa tak ada lagi yang ada di balik pintu lemari, Akashi berkata perlahan,
"Kurasa sebaiknya kita keluar dulu dari sini sekarang."
Yang lain langsung menyetujui. Mereka tak mau bersama dengan setan gila itu lebih lama lagi. Hanya dalam waktu lima menit keenam orang pemuda itu sudah meninggalkan kontrakan berhantu.
.
.
.
A/N : Serem ga? Kayaknya engga deh. Tapi ini cuma awal, guys! Chapter depan akan terjadi pertarungan terakhir : KiSedai & Kuroko VS Setan!
Kayak judul episode One Piece yah. Sudahlah lupakan saja.
Btw tau ga kenapa saya bikinnya yang masuk lorong itu Akashi duluan terus disusul Midorima? Karena saya bikin fic ini sambil dengerin seiyuu dua chara itu nyanyi duet…. Jadinya waktu mikir 'siapa yah yang mau dimasukin ke lorong setelah Akashi?', pikiran saya berkelana bahwasanya Ono-san ga bakal biarin Kamiya-san sendirian di dalem lorong gelap itu *ditendang* Maaf ya reader-tachi atas ketidakjelasan saya *deep bow* Kamiya-san dan Ono-san juga, cepet nikah sana *digebuk massa*
Eniweis, ditunggu chapter selanjutnya yaa~
