Terima kasih untuk kalian yang sudah bersedia mereview pada chapter sebelumnya ^^
Rose: Kalau Karin sih jangan diragukan. Dia punya sisi yang dominan lebih dari Ichi :"| Saingan ya... Maunya ada saingan nih?
F . Freyja: Jangan pasrahan jadi orang, nanti malah dapet yg jelek2 mulu lho :( *eh*
Aoi Namikaze: Grimmy kan lagi nyari Ichi ada di mana :') Dia dapet Ichi di sini kok~ Ga tega bikin nunggu lama lagi XD
D: Yang ini dipanjangin kayak biasanya XD
ndoek: Kalo pahlawan ga kesiangan kan ga dramatis :"| *plak*
nanao yumi: Silakan lempar Grimmy ke kandang singa! Dengan senang hati saya minta kursi terdepan :DD *dicero*
rumput langit: Kalo sampe bikin kamu sensi, berarti saya TBCin di tempat yg bener :"| Muahahahaha *ditamplok*
via-sasunaru: Awalnya emang susah diucapin, tapi lama2 biasa kok~ Aizen sih udah pastinya tau :)
Ryuu: Yang dibawa Baraggan? Ohohoho... *plak*
Terima kasih juga untuk yang sudah login dulu sebelum mereview: Chibi Dan / astia aoi / Arya Angevin / Zanpaku nee / Dr . Kimchie / Aoi LawLight / Rani M Mario / chiisana yume
XOXOXO
CHAPTER 9: DECLARATION
Disclaimer: I don't own Bleach. It's Kubo Tite. I used it just for fun...
So... Onwards~
XOXOXO
"Turn to the left and stop at the end of the street, Shawlong."
"Yes, Sir."
Grimmjow diharuskan menahan seringai yang ingin tercetak di wajahnya kala melihat sekumpulan anak-anak remaja yang nongkrong tepat di tepian ujung jalan sesuai perkiraannya. Tapi, pada akhirnya ia tidak bisa juga menahan seringai lebarnya untuk mengembang di wajahnya ketika salah satu remaja yang memiliki surai dirty-blond berhenti tertawa dan dalam sekejap berwajah pucat saat menyadari mobilnya mendekat.
Bukan bermaksud sombong, tapi di Las Vegas ini tidak ada yang tidak tahu siapa pemilik dari Royal Blue 2009 Acura Rsx, dan seberapa penting orang di dalamnya... juga seberapa mengerikannya jika sampai salah bicara sedikit saja.
Shawlong menghentikan mobilnya tepat di depan pemuda bersurai dirty-blond tersebut tanpa mematikan mesin. Dengan pandangan lurus ke depan dan wajah datar, Grimmjow membuka jendela bertinta gelap di sebelahnya, dan dengan segera pemuda yang dimaksudkan menghampiri sementara anak-anak yang lainnya berdiri dan menatap dari kejauhan.
"H-hey... Euh... W-wazzup, G?"
"Ya know wha' kinda business I hav' ta be here, D. Spill out." Grimmjow menggeram pelan. Dari tepian matanya, bisa ia lihat Di Roy tersentak dan mulai bermain-main dengan ujung t-shirt yang dikenakannya. Kegugupan orang lain yang berhadapan dengannya biasanya selalu ia nikmati, tapi untuk saat ini ia tidak memiliki begitu banyak waktu untuk itu.
Walau merupakan antek terbawah, Di Roy tetap akan tahu di mana Baraggan berada. Yang berarti tahu pula di mana Aaroniero.
"3974 South Valley View, Suite 2, near Donna Beam."
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Shawlong yang mengerti keinginan Grimmjow, langsung tancap gas dan mengebut menuju tempat yang dituju. Meninggalkan debu jalanan yang membuat Di Roy serta teman-temannya terbatuk-batuk. "Damn beast... That man really scary as hell!" sahut salah seorang di antaranya sambil terbatuk-batuk dan mengibaskan tangan di depan muka, demi menyingkirkan debu.
"Shut up! Just be glad he didn't chop our heads off." Di Roy mendengus dan kembali ke posisinya semula.
XOXOXO
Sebuah Royal Blue 2009 Acura Rsx berhenti tepat di depan sebuah mansion serba putih bergaya Eropa. Pintu pagar otomatis yang sudah sangat mengenali kendaraan tersebut langsung terbuka dan tanpa menunggu mobilnya benar-benar berhenti, Grimmjow langsung keluar dan membanting pintu mobil di belakangnya. Dahinya yang sudah berkerut, menjadi semakin berkerut ketika samar-samar pendengarannya menangkap suara ribut dari dalam mansion. Tidak lama, beberapa pria berpakaian serba hitam yang sudah kusut, sobek di beberapa sisi, berhamburan keluar dari pintu utama yang berada tidak lebih dari sepuluh langkah dari tempatnya berdiri.
Grimmjow hanya bisa mengangkat alisnya, bingung dengan apa yang sebenarnya tengah terjadi, apalagi ketika tidak ada satu pun di antara mereka yang mengenali dirinya dan lewat begitu saja. Seolah nyawa mereka terancam jika berada dalam radius 100 meter dari mansion.
Hunh... Mungkin kali ini mereka eksperimen untuk menghidupkan kembali T-Rex dan berhasil, tapi T-Rexnya malah ngamuk.
Sebenarnya tebakan Grimmjow itu tidak meleset jauh. Hanya saja, bukan T-Rex yang sedang mengamuk di dalam mansion bergaya Eropa tersebut. Dan dia hampir saja mengetahui siapa yang tengah mengamuk kalau bukan gara-gara 'seonggok' tubuh yang bertubrukan dengannya hingga membuatnya tersungkur ke belakang. "—The fuck? !" Grimmjow mengerang. Dengan sodokan kuat, ia singkirkan orang yang menimpanya, dan memicingkan mata ketika akhirnya melihat jelas siapa yang menabraknya itu, "Yero? What the fuck is goin' on?"
Mengelus-elus kepalanya yang sempat berbenturan dengan pintu sebelum ini, Aaroniero bergumam, "That bitch... Didn't know he can be all Hulk like that if he want..." Dan seolah baru menyadari kehadiran Grimmjow, ia terperangah menatap ke arah sang pemuda bersurai biru, "G? Sedang apa kau di sini? Aku tidak tahu kalau kau ke Las Vegas tahun ini."
Grimmjow mendengus, "Yeah, sudah pasti. Tidak mungkin juga aku harus selalu mengabarkan ada di mana padamu." Ia menoleh ke samping tepat pada saat sebuah meja kecil terlempar ke arahnya. Pas-pasan, Grimmjow berhasil menghindar walau diharuskan hidungnya menyeret aspal di bawahnya. Meringis, ia kemudian menatap nanar ke arah dari mana meja itu berasal, dan mendapatkan seorang cewek berdiri dengan eskpresi lebih seram daripada anjing yang ekornya terinjak dan berpakaian seragam sailor.
... Seifuku? The fuck...?
Dan kelihatannya, walau pun 'cewek' itu mengenakan pita di rambutnya, kelihatannya 'cewek' ini bukan benar-benar cewek. Karena Grimmjow sangat mengenal surai oranye yang berbentuk spiky itu.
"... Ichi?"
Walau awalnya tidak begitu yakin karena ia hanya melihat sosok belakangnya saja, tapi begitu figur berpakaian ala seifuku itu berbalik dengan wajah yang sangat merah, tebakannya sudah terkonfirmasi dengan sangat baik. "G-Grimm?" Ichigo mengenakan ekspresi yang tidak kalah kagetnya dengan dirinya. Sama-sama tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya saat ini. Tapi, di detik berikutnya, wajah pemuda bersurai oranye itu pun berubah 180 derajat. Rona merah yang tadinya karena malu, sekarang karena amarah. Kerutan di dahi yang semakin dalam, aura membunuh yang dikeluarkan, plus geraman serta desisan yang keluar dari sela-sela gigi yang menggeretak.
Ichigo sudah lebih dari sekedar marah.
"KAU! TERNYATA KAU YANG BERADA DI BELAKANG INI SEMUA? ! !" Ichigo berteriak penuh amarah, dan melayangkan tinjunya ke arah Grimmjow yang susah payah menghindar. "KAU BENAR-BENAR BRENGSEK, JAEGERJAQUEZ! SETELAH MENYERETKU SEENAKNYA SAJA KE NEGARA INI, MENCUEKIKU, LALU SEKARANG INI? ! !"
"Woa woa woah... Tenang dulu, Ichigo!" Grimmjow mendecak. Susah payah ia menghindar dari berbagai hantaman yang diarahkan padanya. Ia tahu kalau pada kondisi semacam ini ia melawan, maka yang ada Ichigo malah akan semakin merasa kesal. Tapi, pada akhirnya ia tidak memiliki kemungkinan lain. Tidak mungkin ia terus-menerus menghindar tanpa bonyok nantinya. Jadi, dengan segera ia menangkap pergelangan tangan Ichigo dan memelintirnya ke belakang, membuat pemuda itu meringis. Untuk beberapa saat, Ichigo masih terus memberontak, meminta cengkeramannya dilepaskan. Lama-lama kesal juga, Grimmjow akhirnya menggeram sambil mencengkeram lengan Ichigo lebih keras lagi. Kelihatannya pesan yang ingin ia sampaikan berhasil, karena di detik berikutnya Ichigo langsung benar-benar diam tidak berkutik.
"Good girl." bisik Grimmjow tepat di telinga Ichigo. Pemberontakan yang hampir diberikan lagi, berhasil di tahan Grimmjow dengan sekali lagi semakin menguatkan cengkeramannya. Puas ketika akhirnya Ichigo kembali diam, ia melanjutkan bisikannya, "Aku sempat tidak suka ketika tahu Yero membawamu, Ichi. Tapi, kelihatannya untuk kali ini aku harus berterima kasih kepadanya, eh?" Ia kemudian menyeringai kecil ketika merasakan tubuh Ichigo bergetar.
Hm... Benar juga.
Mungkin kali-kali ada bagusnya ia berkunjung ke toko milik Baraggan.
XOXOXO
"Toko... Cosplay?"
Kau tahu bagaimana rasanya ketika diberitahu ada pembunuh di rumahmu, lalu salah satu dari temanmu bersikukuh untuk menemukannya sendiri daripada menelepon polisi? Panik bukan? Maksudnya... Ayolah, ini kan bukan film misteri di mana para tokoh utama kelihatannya terlalu gengsi untuk berteriak, lari, atau menelepon polisi untuk pertolongan. Bisa-bisa kau mati dalam keadaan masih virgin, atau belum pernah sekali pun merasakan bagaimana rasanya memiliki pacar.
Mengerikan 'kan?
Karena itu artinya kita hidup di dunia belum semuanya bisa benar-benar kita rasakan, tapi sudah mati duluan hanya karena terpengaruh oleh film bodoh yang jelas-jelas membodohi.
Lalu, setelah merasakan ketegangan yang teramat sangat karena tiba-tiba hukum rimba berlaku di rumahmu, bunuh atau dibunuh, sang pembunuh yang sudah menekanmu hingga terpojok, mendadak disinari oleh cahaya yang begitu terang dari atas. Perlahan tubuhnya terangkat, semakin lama semakin jauh di atasmu, lalu menghilang bersamaan dengan cahaya terangnya. Benda terakhir yang kau lihat di dalam kegelapan malam adalah sebuah piring yang terbang di angkasa. UFO. Pembunuh yang akan membunuhmu, dibawa pergi oleh UFO, oleh Alien.
Bagaimana perasaanmu?
Sweatdropnya banget banget BANGET 'kan?
Dan itulah apa yang tengah dirasakan oleh Ichigo saat ini. Sudah panik, jantung mau copot, karena mengira dirinya akan diperkosa oleh banyak orang sekaligus, pada akhirnya malah ini? MALAH BEGINI? Bukannya ia mau protes sih, tapi tidak adakah alasan yang lebih keren lagi daripada dirinya ternyata diinginkan untuk memperagakan kostum cosplay milik Baraggan?
"Memangnya kau tidak tahu, Berry?" Grimmjow bertanya balik seolah apa yang ditanyakan dirinya sebelum ini adalah hal bodoh yang seharusnya tidak dipertanyakan.
Ichigo hanya mendengus, "Kalau tahu, aku tidak akan sepanik tadi tahu!" Ia melempar salah satu sepatu yang dikenakannya ke arah Grimmjow yang kini sedang duduk di salah satu kursi di ruang utama. Tapi, kemudian ia dibuat mendecak kesal karena lagi-lagi pemuda bersurai biru itu bisa menghindar dengan mudah.
"Jadi, kalau kami bertanya lebih dulu, kau akan bersedia, Ichigo?"
Dengan segera Ichigo melemparkan tatapan nanar ke arah Aaroniero yang langsung mundur beberapa langkah dari posisinya, karena merasa Ichigo akan kembali melemparinya dengan kursi seperti tadi. Ia mengangkat kedua tangannya sejajar dengan wajah, bentuk pernyataan kalau ia tidak akan bicara apa-apa lagi. Ichigo mengernyitkan dahi semakin dalam, "Tidak." Jawaban yang lugas dan tegas. Mana mungkin ia akan mengiyakan hal yang tidak ia sukai, walau pun ia diberikan kostum yang berbeda dan lebih laki-laki daripada kostum yang tengah dikenakannya sekarang, ia tetap tidak akan pernah setuju.
"Nah kan. Makanya kami memang tidak berniat mengatakannya sebelum membawamu ke perayaan, agar nantinya mau tidak mau kau menurut." Baraggan menimpali dengan tenang. Ia mengangguk-angguk sendiri, seolah jawaban yang ia lontarkan barusan merupakan hal yang paling benar yang pernah dideklarasikan.
Ichigo membuka, lalu menutup kembali mulutnya. Selama beberapa saat terus begitu. Nampak ingin mengatakan sesuatu, tapi bingung dengan apa yang sebenarnya ingin ia katakan. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menutup mulutnya dan hanya mengeluarkan geraman kesal saja. Kedua tangan yang mengepal di sisi tubuhnya menandakan kalau ia menahan diri untuk mencekik mati orang tua di hadapannya. "Kenapa kau pilih aku?" Ia menghela nafas pendek ketika merasa dirinya mulai tenang. "Kulihat di casino kemarin malam, bukan hanya aku yang orang Jepang. Ada beberapa yang lain, bahkan ada yang perempuan."
"Tapi tidak ada yang memiliki rambut sepertimu."
Biasanya, jika ada yang menyinggung mengenai rambutnya, Ichigo akan langsung berserk. Tapi, kali ini nampaknya ia tidak bisa. Kenapa? Karena wajah tua Baraggan ketika mengatakan hal itu sama sekali tidak terlihat pertanda kalau ia sedang mengejeknya. Malah jauh sebaliknya. Daripada ekspresi mengintimidasi seperti yang ia lihat ketika pria tua itu memaksa dirinya untuk menggunakan seifuku, sekarang ini ekspresinya nampak begitu rileks, seolah tengah mengagumi artefak budaya kuno yang tidak ternilai harganya. Dan tatapan itu ditujukan kepadanya.
Jadi, tidak salah kan kalau wajahnya sekarang ini merona merah?
Jarang-jarang ada yang memujinya terang-terangan begitu.
...
...
...
Gawat. Gawat. GAWAT.
Kalau lawannya seperti ini, Ichigo jadi merasa ragu untuk benar-benat menolak. Karena pada dasarnya dia orang yang mudah 'tidak-enakan', beberapa kali ia merasakan kesulitan untuk mengatakan 'tidak' kepada orang lain, dan akhirnya ia akan benar-benar melaksanakan seperti apa yang dikatakan. Sama seperti sekarang ini.
"Dan kaki Ichigo menjadi nilai utamanya 'kan?" celetuk Grimmjow.
"WAHAHAHAHAHA... Ketahuan ya?" Walau agak gugup, Baraggan tetap tertawa renyah dengan satu tangan yang menyentuh tengkuknya sendiri.
Dan akibat pernyataan itu, urat kekesalan kembali muncul di dahi Ichigo. "THAT'S IT! AKAN KUPASTIKAN UNTUK MENGACAK ISI PERUTMU DAN MEMBERIKANNYA PADA SAPI, DASAR KAKEK MESUM! ! !" Tapi, sebelum sempat Ichigo melompat untuk kembali menyerang Baraggan, sebuah tangan yang kuat menariknya dan membenamkan tubuhnya pada dada bidang yang kini tengah tertutup oleh t-shirt hitam, yang sama sekali tidak membantu untuk menutupi lekuk tubuh karena ketat. Ichigo merasa wajahnya memanas ketika aroma parfum yang begitu familiar menerpa penciumannya, bercampur dengan aroma tubuh yang tidak akan pernah ia lupakan.
"Maaf, Baraggan. Tapi kurasa aku tidak akan memberikan izin untuk hal ini. Dia milikku."
Dengan itu, Grimmjow membawa Ichigo pergi. Tidak menyadari kalau saat itu Ichigo terperangah, tidak bisa mempercayai apa yang baru saja didengarnya.
XOXOXO
Royal Blue 2009 Acura Rsx kembali berhenti setelah sampai di tempat tujuan, kali ini adalah Las Noches. Pintu terbuka tidak lama kemudian, mencueki petugas hotel yang kebingungan karena sudah terlanjur mendekat, berniat untuk membukakan pintu. Grimmjow menunduk di dekat pintu mobil dan nampak tengah menarik sesuatu yang menolak untuk keluar dari mobil saat itu juga.
"Berry, kalau kau tidak keluar, kau akan bermalam di mobil ini, kau tahu!"
Ichigo mengerutkan dahi, "Apakah kau tidak mengerti, Grimmjow?" ia mendesis pelan, "Lihat apa yang sedang kukenakan! Tidak mungkin aku berjalan di dalam hotelmu dalam kostum begini!" dengan kasar ia menepis keras tangan Grimmjow yang berusaha meraihnya. Sekarang ini masih siang, banyak tamu hotel yang berlalu-lalang, dan ia masih saja mengenakan seifuku! Mana mau ia mempermalukan diri sebagai laki-laki yang senang berdandan seperti perempuan! Ia ini bukan seorang crossdresser, dan ia tidak mau orang menganggapnya seperti itu!
Argh!
Seandainya saja tadi Grimmjow tidak menariknya terburu-buru begitu dari rumah peristirahatan Baraggan, Ichigo pasti bisa menggunakan waktunya untuk berganti ke pakaiannya yang lama.
Tapi, pada kenyataannya, ia hanya sempat melepaskan pita yang menempel di rambutnya.
"... Baiklah. Terserah padamu saja." Grimmjow menghela nafas, lalu berbalik menjauh, mulai berjalan masuk ke dalam hotel.
Mulut Ichigo menganga ketika mendengar pernyataan Grimmjow. Semudah itu? Hanya begitu saja? Ichigo kembali mendesis sementara giginya menggeretak keras menahan amarah yang kembali memuncak. "Hanya begitu saja? Setelah mengambilku kembali, lagi-lagi kau meninggalkanku?" Ichigo berbisik pelan, tapi setiap kata yang ia keluarkan mengandung kesengitan yang mendalam. Grimmjow yang memiliki pendengaran sangat bagus, bisa mendengar kalau Ichigo tengah membisikkan sesuatu, walau tidak bisa menangkapnya, makanya ia menghentikan langkahnya dan kembali menatap ke arah sang pemuda bersurai oranye yang masih terduduk di kursi penumpang mobilnya... hanya untuk kemudian dibuat terpaku di tempat ketika melihat kedua mata Ichigo sudah basah.
"Kau selalu begitu!" lanjut Ichigo dengan menaikkan volume suaranya, membuat beberapa pengunjung hotel menoleh tapi pada titik ini ia sudah tidak peduli. "Menyeretku kesana-kemari, memaksaku tanpa mau mendengarkan apa yang kuinginkan... hanya untuk kemudian meninggalkanku begitu saja ketika kau sudah mendapatkan mainan yang lain? ! Kalau kau memang hanya akan meninggalkanku, ITU ARTINYA KAU TIDAK MEMBUTUHKANKU! KENAPA KAU TIDAK MENGIRIMKU PULANG SAJA KE JEPANG AGAR KAU BISA BERMAIN DENGAN TENANG BERSAMA DUA TEMAN MAINMU ITU? ! ! AKU BUKAN MAINAN YANG BISA KAU LEMPARKAN KESANA-KEMARI SESUKAMU, JAEGERJAQUEZ! Fuck—ketika memikirkan kalau aku menyukai orang sepertimu, rasanya bo—" Menghentikan ocehannya, kedua mata Ichigo terbelalak ketika merasakan sepasang bibir menempel pada bibirnya sendiri.
Dari semua hal yang terpikirkan olehnya akan dilakukan oleh Grimmjow ketika mendengar kata-katanya barusan, ia sama sekali tidak menyangka kalau pemuda itu akan menciumnya.
Ia bahkan tidak menyadari semenjak kapan Grimmjow mendekat ke tempatnya.
Walau sebenarnya ingin melawan karena ia masih marah pada yang bersangkutan, pada akhirnya Ichigo tidak bisa melakukannya. Tidak membutuhkan waktu lama, pemuda bersurai oranye itu dengan segera meleleh kepada ciuman yang diberikan oleh Grimmjow. Ia mengerang pelan dan membuka mulutnya untuk membiarkan lidah Grimmjow masuk ke dalamnya, bergerak bersamaan dengan lidahnya sendiri. Kedua pendengaran Ichigo bisa menangkap suara pintu mobil yang kembali menutup, dan kemudian Grimmjow menjauhkan bibirnya dari dirinya hingga memaksa Ichigo untuk membuka kedua matanya yang sempat terpejam beberapa saat lalu. Wajahnya kembali merona merah ketika menyaksikan kedua iris biru Grimmjow yang menggelap menatapnya dengan tatapan penuh nafsu, dan dengan Grimmjow berada di atas tubuhnya—mengurung tubuhnya dengan tubuhnya sendiri yang lebih besar—sama sekali tidak membantu keadaannya di mana nafsunya mulai terpancing.
"Take us to the parking lot, Shawlong. And go away." Grimmjow pada kenyataannya menggeram dengan gigi-giginya yang saling menekan satu sama lain. Suaranya yang terdengar serak dan kental dengan aroma nafsu, secara tidak disadari membuat Ichigo mendesah. Tidak sengaja ia menaikkan lututnya hingga menyentuh selangkangan Grimmjow yang menonjol, dan yang bersangkutan pun kembali menggeram.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk sampai di tempat parkir. Shawlong yang mengerti dengan apa yang ingin dilakukan oleh Bosnya, dengan sengaja memilih area yang paling sepi dan berada di bagian paling dalam. Ia pun segera keluar dari dalam mobil setelah mematikan mesin, dan langsung masuk ke dalam hotel, tidak ingin mengganggu Bosnya lebih lama lagi.
Segera setelah Shawlong keluar dari mobil, Grimmjow kembali menyerang bibir Ichigo. Ia tidak menunggu Ichigo membuka mulutnya dan langsung saja menyeruakkan masuk lidahnya. Ichigo mengerang, kedua bola matanya memutar ke belakang dan menutup saat merasakan lidahnya beradu dengan lidah Grimmjow dan dihisap untuk memasuki mulut sang pemuda bersurai biru. Ia membenamkan jemarinya di antara helaian rambut biru, dan memberikan tarikan hingga memperdalam ciuman di antara mereka. Ketika lidah Ichigo sedang begitu bersemangat mengeksplor bagian rongga mulut Grimmjow, lidah Grimmjow kembali mendorongnya masuk ke dalam mulutnya sendiri.
Ichigo merengek pelan, hal itu membuat Grimmjow tertawa kecil.
Pemuda yang lebih dominan itu menyudahi ciuman mereka dan memilih untuk menyerang rahang lawannya, sebelum kemudian turun ke leher. Hisapan kuat ia berikan di sana, hingga membuat Ichigo mengerang, "Aahhnn... G-Grimm...!"
"Fuck, Ichi..." geram Grimmjow pelan, "Kita skip saja foreplay untuk saat ini, ne?"
Dalam kondisi yang dikuasai oleh nafsu, tawaran Grimmjow barusan bagaikan sebuah emas di antara sampah. Apalagi kata-kata Grimmjow barusan memberikan hint bahwa mereka akan melakukannya lagi di kemudian hari, "Ye-yeah, aku setuju..." Dengan itu, Ichigo kemudian memindahkan tangannya ke celana jeans yang dikenakan oleh pemuda di atasnya. Ia langsung meraih kancing dan membuka risletingnya, hingga kembali membuat Grimmjow menyeringai kecil.
"Bersemangat sekali, Ichi."
"Berisik." dengus Ichigo. Ia kemudian menggeliat dan menaikkan pangkal tubuhnya sedikit, demi membantu Grimmjow menurunkan celana dalamnya. Di saat yang bersamaan dengan celana dalamnya yang akhirnya terlepas, Ichigo pun sudah berhasil membuka risleting jeans lawannya dan mengangkat kedua alisnya ketika menyadari kalau Grimmjow tidak mengenakan dalaman.
Kali ini giliran Grimmjow yang mendengus ketika melihat ekspresi yang dikenakan Ichigo, "Kau tahu, lebih baik sedia payung sebelum hujan, 'kan?" Kedua iris biru Grimmjow akhirnya memutuskan menggunakan waktu yang ada untuk melihat dengan baik penampilan pemuda di bawahnya. Helaian oranye yang lebih berantakan daripada biasanya, peluh yang mulai menuruni kening menuju pipi yang bersemu merah, tanda berwarna keunguan yang ada di bagian leher, seifuku yang berantakan dengan bagian rok yang terangkat, menampilkan dengan jelas kejantanan Ichigo yang sudah berdiri tegak dan penuh precum yang menetes. Grimmjow menjilati bibirnya, dan seringai lebar mulai terbentuk di wajahnya ketika akhirnya ia bisa melihat kembali lubang berwarna pink yang hanya dengan memikirkannya saja bisa membuat miliknya mengeras.
Ichigo yang sadar kalau sedari tadi Grimmjow memperhatikan kondisinya, mulai menggeliat tidak nyaman. Ia melingkarkan kedua kaki jenjangnya di pinggang sang pemuda dan menekannya hingga ia bisa merasakan sentuhan kepala kejantanan Grimmjow di bagian luar rectumnya, membuatnya mengerang.
"Oh, tenang saja. Aku tidak lupa kok, Ichi." sahut Grimmjow sambil tertawa kecil.
Ichigo semakin merona merah mendengarnya. Ia kemudian menarik wajah Grimmjow hingga hidung mereka bersentuhan, "Kalau begitu... fill me, Grimm." tantangnya, lalu kali ini dirinyalah yang berinisiatif mencium Grimmjow lebih dulu. Sang pemuda dominan tentunya dengan senang hati menerima lidah submisifnya, dan di detik berikutnya ia menghujamkan kejantanannya masuk hingga keseluruhan. Erangan Ichigo dijamin akan sangat keras jika bukan karena mereka sedang berciuman saat ini.
Grimmjow menarik kejantanannya keluar hingga hanya bagian kepalanya saja yang ada di dalam, lalu kembali menghantamkannya masuk dan dengan telak menghajar prostat Ichigo. Jeritan Ichigo kali ini terdengar karena hantaman barusan membuat ciuman mereka terlepas. Ichigo menggerakkan satu tangannya untuk bertumpuan pada pintu mobil, yang ia kemudian gunakan sebagai alat bantunya untuknya mendorong balik pangkal tubuhnya pada saat yang bersamaan dengan gerakan Grimmjow.
"Ahh! AH...! Grimm! Harder... fuck me har—AAAAAAAAAHHHH!"
Sepuluh menit berlalu semenjak mereka saling menghantamkan diri satu sama lain, tapi seolah tidak ada rasa lelah, tenaga mereka tidak berkurang sedikit pun—kecuali tubuh Ichigo yang bergetar semakin hebat di setiap hantamannya. Ingin mencapai puncak pada saat yang bersamaan dengan pasangannya, Grimmjow menggenggam kejantanan Ichigo dan mulai memompanya, sementara ia kembali menyerang telinga sang pemuda. Sudah menemukan titik sensitif yang berada di belakang telinga tersebut. Ichigo merasa tubuhnya semakin terasa terus bergetar ketika Grimmjow menjilat telinga dan terus menjilatnya hingga sampai di perpotongan antara leher dan pundaknya. Dan ketika Grimmjow menggigit keras bagian itu hingga berdarah, Ichigo tidak tahan lagi. Ia mengerang keras dengan kedua mata yang membelalak, mengeluarkan cairan hasratnya. Mengotori seifuku yang masih ia kenakan, dan tangan Grimmjow.
Merasakan area di sekitar kejantanannya mengetat, Grimmjow mendesis. Dengan beberapa gerakan lagi, ia pun menyusul Ichigo. Mengeluarkan keseluruhan bukti hasratnya di dalam sang pemuda bersurai oranye, membuat yang bersangkutan ikut mengerang pelan merasakan dirinya menjadi penuh.
Selama beberapa saat, keduanya tidak ada yang bergerak. Setidaknya hingga kedua pendengaran Grimmjow menangkap suara dengkuran ringan. Dan ketika ia melihat ke arah Ichigo, ia tidak bisa menahan tawa kecilnya menyadari sang pemuda kini sudah tertidur karena lelah. Tanpa mengeluarkan miliknya dari dalam Ichigo, Grimmjow menjatuhkan badannya yang lebih besar di atas Ichigo.
"Heh... Jangan salahkan aku kalau kau mimpi tertindih batu, Berry."
Tidak butuh waktu lama baginya untuk menyusul sang uke ke dunia mimpi.
.
TBC
.
Yosh. Akhirnya mereka bener2 fucking each other~! Semoga lemonnya ga mengecewakan, dan membuat kalian semangat untuk review ;D Hmmm... Ngomong2 adakah yang sempat menebak nasib Ichigo di tangan Aaroniero jadi begitu? ;) Ah ya, sekalian untuk memudahkan penggambaran, saya ada gambar Ichigo ketika mengenakan seifuku: ht tp :/ /yfrog. com/ki8kalvj - Jangan lupa hilangkan spasi kalo mau melihat~ ;D
