Disclaimer : Bleach © Tite Kubo

.

Demons

.

Hoshikawa Mey

.

.


.

Wangi cerutu menyengat khas tertebar udara, bubuk rempah yang telah dibakar jatuh setitik putih di lantai berbahan kayu. Pintu geser yang menghubungkan ke taman luar memang terbuka lebar, namun karena tiupan angin yang datang ke arah dalam membuat asap pembakaran cerutu hanya berputar masuk di dalam ruangan. Aromanya padat, untuk yang tidak terbiasa mungkin akan merasa sesak nafas. Meskipun suasasna jauh lebih menekan mental, untuk sekedar bernafas terasa berat pula.

"Ini masih dini hari," suara renta bersuara, tangannya meletakkan cerutu di meja tanpa ada lagi minat. "Bukankah istrimu sedang diculik, tidak seharusnya kau mendatangiku merengek mencarinya."

"Aku tahu kakek pasti mengetahui sesuatu tentang kemungkinan keberadaannya."

"Cih, kalau kau punya banyak waktu hingga menyempatkan diri mengunjungiku, sebaiknya kau gunakan untuk yang lebih bermanfaat." Genryuusai meraih tongkat, bersiap meninggalkan cucunya dengan kebodohannya. Dia sedang tidak tertarik dengan apapun, jadi biarlah cucunya itu pusing sendiri.

"Aku akan mengikuti cara kakek untuk menjadi seorang pewaris, andai—kakek memberitahu dimana Rukia."

Langkah terhenti. Minat Genryuusai kembali. Ada sedikit percikan di sudut mata, ada siasat gelap terpancar. Bila diibaratkan pemburu, dia tau bahwa jaringnya telah siap menangkap tangkapan besar. "Lebih dari apapun?"

"Ya."

"Kau tetap akan mengikutiku meskipun nantinya sangat bertentangan dengan isi hatimu? Ah—tentunya Kuchiki Rukia tidak akan kuusik, aku sudah janji dulu."

"Ya, aku tetap patuh dengan kakek, tapi Rukia kekuasaanku."

Ahh—puas rasanya bila cucu kesayangan bisa patuh juga.

.

.

"Kurosaki-sama," Kiyone datang membungkuk, orang pertama yang jalan menyerbu ruang kerja Ichigo dengan terburu.

Lamunan Ichigo terpecah, tubuhnya berbalik menghadapi. Ada ekspresi ceria berkebalikan dengan praduga akan Kiyone yang akan terus menangis ketika nyonya kesayangan jatuh sakit. Apakah ada sesuatu yang baik?

"Dokter sudah selesai memeriksa. Sebaiknya Kurosaki-sama mendengar hasil pemeriksaanya langsung."

Ichigo tidak banyak bertanya.

Tubuhnya bergerak berjalan memimpin jalan. Membiarkan Kiyone mengekor di belakang. Ada perasaan berdebar juga cemas yang bercampur. Setengah hatinya penasaran, dan setengah hatinya penuh rasa antusias.

.

.

Sss...

Tirai bergerak dua kali

Sss...

Lilin kecil di sudut meja bergoyang seperti akan terhembus.

Perlahan Rukia membuka mata. Tidur damainya berakhir. Sudut mata yang seharusnya basah ketika mimpi masa lalu menghampiri tidak mengeluarkan setetes air mata lagi. Tubuhnya bersinggut duduk, pelan turun dari tempat tidur agar tidak membangunkan Kiyone yang tertidur di sudut ruangan, lelah karena menjaga Rukia sepanjang tidak sadarkan diri.

Ada keinginan menghampiri sang pelayan cengeng, sekedar menyelimuti atau membangunkan paksa agar si gadis muda berpindah tempat tidur ke kamar. Sayang apapun tidak begitu menjadi pemikiran Rukia. Wajahnya berpaling memandang langit luar menjingga, sore telah tiba, kegelapan akan datang menyelimuti tanpa pernah memberi kesempatan dirinya untuk siap.

"Sebaiknya kau mati saja."

Rukia tersenyum kecil. Sesuatu menyenangkan terlintas, namun cepat pudar karena tawa samar banyak orang yang terdengar dari ruang tamu beberapa ruang dari tempat istirahat Rukia.

"Tidak perlu menunggu apapun lagi. Kau sudah berusaha, dan itu sudah lebih dari cukup."

Pilu tangan Rukia terangkat, hendak menyentuh sesuatu namun mengurungkan hingga beralih mencengkram tepian tempat tidur. Wajahnya menunduk fokus menatap sesuatu. Pelan berbisik, "Haruskah aku tidak menunggumu juga? Kau tahu—bahkan mungkin sekarang aku tidak pula bahagia."

.

.

"Apa yang kukatakan untuk menjaganya!"

Kesal, marah, bisa jadi frustasi pula. Kurosaki Ichigo mengambil langkah semakin dipercepat menelusuri lorong. Wajah takut para pelayan mengekor pun membuat suasana tak kalah tegang. Setiap pintu yang dilalui disibak panik, tak terlewatkan mata juga terpendar liar ke setiap sudut. Ada ketidakteraturan nafas setiap yang dicari tak terlihat. Meskipun memeriksa seluruh mansion tidaklah seluas mansion milik para tetua, namun stres psikis menekan ketingkat hampir tak tertangani. Ichigo marah—bahkan sangat. Tapi melebihi marah, yang paling besar adalah—rasa takut.

Takut.

Bagaimana, bagaimana bila seandainya yang dicari tidak ditemukan?

"Ah, saya pikir Kurosaki-sama mengetahui kondisi nyonya."

Bagaimana bila dia—lari.

Tidak. Sekali tidak, tetap tidak. Itu mutlak.

"Meskipun warna kulit nyonya masih sedikit pucat, namun nadinya stabil. Saya yakin nyonya sudah mengkonsumsi obat herbal yang banyak tumbuh di pinggiran kota Karakura, dan herbal itu sangat langka. Kalau bukan Kurosaki-sama yang mencari, saya tidak begitu yakin orang lain bisa mudah mendapatkannya. Karena itulah saya berpikir Kurosaki-sama sudah mengetahui kondisi nyonya."

Bantingan pintu digeser semakin kuat, bunyinya menyakitkan telinga diabaikan agar pikiran tetap jernih menghalau segala imajinasi buruk yang belum terjadi.

Isi hati gencar bertanya. Kapan penyiksaan ini berakhir? Demi Kami-sama, mati pun tidak akan sebanding dengan apa yang tengah Ichigo alami. Dia hidup, tapi kehilangan oksigen. Dia bisa bergerak, namun sekujur tubuhnya nyeri menyakitkan.

Sial, sial, sial.

Ichigo membenci orang yang membuat situasi ini terjadi, sangat membencinya hingga ke tulang-tulang dan aliran darah. Rasa sakit yang membuatnya mengingatkan diri betapa jahat orang itu dan—membuatnya selalu sadar bahwa orang itu adalah satu-satunya yang dicintainya di dunia. Orang itu—

"Nyonya!"

Deg.

Semua mata fokus pada satu suara. Bila mereka air, suara itu adalah pusarannya. Ichigo tak luput memandang, seorang pelayan yang mengekor teracung tangannya ke sisi luar koridor. Sekilas terlihat hanya menunjuk langit kosong, namun bila lebih memusat tampaklah sesosok beryukata sederhana yang hanya dibalut mantel.

Sosok itu bediri di luar, memberi tampilan sisi punggung karena wajahnya menatap sisi berlawanan. Bagai patung tak bergerak meski angin meniup menggerakkan mantelnya bergoyang beberapa kali. Kedua kaki tanpa alas tampak memucat kedinginan, tak perduli kotor menempel karena tersentuh tanah langsung.

"Nyonya sedang mengandung."

Akhirnya, setelah sekian menit—Kurosaki Ichigo bisa bernafas.

Mungkin masih ada kemarahan yang tersisa, namun ketegangan telah perlahan memudar hingga tidak menyisakan apapun selain rasa lega bercampur rindu. Perlahan langkahnya mendekat, bersiap menjangkau namun terhenti saat ada orang lain yang mendahului. Pelayan kecil yang sudah amat familiar bagi Ichigo membungkuk membisikan sesuatu pada sosok yang berdiri di tengah halaman, tidak terdengar telinga tapi dapat disimpulkan bahwa pelayan itu memeberitahukan kedatangan sang tuan besar, karena setelahnya orang itu berbalik memberi senyum meski berwajah lelah.

"Hei," suara pertama yang Ichigo dengar pertama kalinya meyakini orang itu nyata.

"Kau—" susah payah menelan air ludah, kerongkongan Ichigo terasa sakit karena pernafasan menghimpit sesak, "—ingin lari?"

"Apakah kau akan melepaskanku?"

Tidak ada jawaban.

Ichigo bukan orang yang bisa menyampaikan perasaan dan isi kepala dengan kata, dia tipe bertindak. Karena itu tak lagi merespon tanya dengan kalimat, mengambil langkah besar, maju menjangkau sosok dihadapan hingga direngkuh dalam pelukan. Mengabaikan fakta telah menjatuhkan mantel penghalau dingin yang tersemat di pundak ke tanah, juga tidak perduli banyak mata memandang tak bisa menahan diri terkesiap. Ichigo tidak perduli.

"Kenapa kau menyiksaku seperti ini?" wajah Ichigo terbenam di persimpangan leher istrinya, masih tidak perduli posisi mereka semakin intim menjadi tontonan. Dia hanya terlalu sibuk menghirup aroma lili yang selalu mampu membuatnya mabuk.

Sejenak tidak ada jawaban selain hembusan nafas lemah, Ichigo teringat kondisi istrinya belum terlalu pulih. Perempuan itu hanya semakin merapatkan diri pada kehangatan tubuh Ichigo, menarik nafas kuat barulah merespon, "Aku tidak nyaman."

Karena aku mencintaimu?

"Aku merasa terganggu."

Karena aku mencintaimu?

Tubuh Ichigo berubah menjadi kaku, jantungnya mendadak berhenti berdetak. Hatinya semakin nyeri karena terus-menerus merespon keengganan istrinya. Jauh dilubuk hati ia tahu Rukia memang bisa menolaknya, tapi—masih Ichigo belum siap.

"Aku—membuatmu terganggu?" pahit, namun memang itulah yang harus Ichigo pastikan.

"Bukan."

"Bukan?"

"Aku tahu semua bukan sepenuhnya kesalahanmu, tapi—"

Tapi?

"—suara para tetua yang sedang berpesta mengganggu istirahatku."

Akhirnya Ichigo mendapatkan pencerahan setelah para tetua disebutkan. Ketakutan berlebihan yang tadi muncul buyar, dalam hati menertawai diri sendiri karena dipermainkan perasaan. Pelan wajahnya terangkat memenuhi iris ungu kelabu, sebelah tangannya mengusap permukaan pipi istrinya dengan lembut.

"Maaf aku tidak memperhitungkan keberadaan mereka akan mengganggu istirahatmu. Aku hanya terlalu sibuk mengurus para tetua karena langsung datang memberi selamat saat berita tentangmu dikabarkan kepada kedua keluarga. Mereka hanya terlalu bahagia."

Istrinya tidak lagi merespon, kini giliran wajahnya yang membenamkan diri pada dada Ichigo. Mungkin dia lelah, tapi sebagian besar isi hati Ichigo meyakini dia menghindari tatapan mata yang dari tadi terjalin diantara mereka. Perempuan itu mencoba menghindar. Tapi—untuk apa?

Dan—kenapa?

Lidah Ichigo masih gatal ingin menanyakan banyak hal. Jelas rasa penasaran setengah mati masih berlayar di kepala, penuh tanya bertumpuk. Dia ingin tahu seperti apa istrinya merasa setelah Ichigo mengungkapkan perasaan, lalu—kenapa perempuan itu tidak memberitahukan tentang kehamilannya disaat beberapa jam lalu bisa saja Ichigo bertindak kasar pada tubuh perempuan itu. Semua pertanyaan—kenapa?

Sayang semua tertahan. Terbungkam oleh bisikkan angin berhembus, tertelah oleh rasa cinta buta yang masih bertepuk sebelah tangan. Ya, cinta memang membutakan. Bahkan orang sekeras Kurosaki Ichigo mengalah dengan ego karena cinta.

.

.

"Rukia?"

Ichigo berebut melilitkan selimut di pinggang, rasa kantuk yang masih tersisa membuat tubuhnya sedikit huyung saat berdiri dari tempat tidur. Acuh tangannya meraih istrinya kedalam dekapan mengambil alih dari Kiyone, tidak terlalu memperdulikan fakta baik dirinya maupun Rukia belum terbungkus busana yang pantas—hanya terbungkus selimut.

Dalam dekapan sebelah tangan Rukia yang tidak memegangi selimut di depan dada menutupi mulut, matanyanya terpejam, wajahnya mengernyit. Ada aliran keringat di pelipis saat nafasnya mencoba dikembalikan teratur.

"Sepertinya nyonya sedang mual berat."

Penjelasan Kiyone seolah membaca kerutan permanen di wajah Ichigo. Mengernyit kepala keluarga Kurosaki itu menatap Kiyone tak nyaman. "Dimana kau berada sebelumnya sampai bisa menghampiri Rukia begitu cepat tengah malam begini?"

"Tuan tidak perlu khawatir, saya terlalu jauh duduk di ujung lorong untuk mendengar apa yang terjadi dengan tuan dan nyonya di dalam kamar. Tapi—" kini giliran Kiyone yang mencuri lihat serta memasang tampang terganggu. "Disaat seperti ini, daripada bertindak seperti kebiasaan tuan, bukankah lebih bijaksana kalau tuan membiarkan nyonya istirahat saja."

Bertindak seperti kebiasaan?

Wajah Ichigo mengerut.

Tunggu!

Siapa yang baru saja menegurnya? Apakah dia yang terlalu sensitif, atau memang benar Kiyone baru saja melontarkan sindiran? Apa pelayan itu bilang, Ichigo bertindak seperti kebiasaan—diperjelas bahwa Kiyone menyindirnya karena selalu menjamah tubuh istrinya meskipun sendag hamil? Dari mana datangnya keberanian perempuan itu? Apakah Kiyone tidak ingat bahwa dia dipekerjakan oleh keluarga Kurosaki? Astaga.

Hampir saja Ichigo melontarkan pembelaan, namun tawa lemah Rukia menyela. Rasa mual yang sempat menghampiri tampaknya sudah membaik, perempuan itu menggeleng singkat menepuk pundak pelayan muda yang begitu menyayanginya hingga berani bertengkar mulut dengan Kurosaki Ichigo.

"Jangan menyalahkan Ichigo, Kiyone. Aku yang merayunya lebih dulu. Lagipula aku sudah membaik." Tawa Rukia memang masih lemah, tapi setidaknya Ichigo sedikit lega karena tak lagi terdengar seperti menahan sakit.

"Nyonya yakin tidak membutuhkan sesuatu?"

"Ummm... sebenarnya—"

"Apa itu?" Ichigo menyuarakan lebih menuntut. Tampak semua keinginan Rukia adalah hal wajib kali ini, terlebih lagi ketika sedang mengandung.

Rukia melirik, berkedip beberapa kali. Mulutnya telah terbuka hendak bersuara, namun urung terkatup kembali menggeleng pelan. Kembali tersenyum lemah, tidak mengajukan permintaan apapun. "Aku hanya butuh istirahat saja."

"Katakan apa itu, aku tahu kau sedang berbohong."

Kembali Rukia menggeleng. Tanggannya melambai memberi isyarat pada Kiyone untuk pergi, setelah dipatuhi kedua tangan mungil itu melingkar di leher Ichigo, membenamkan wajah pada dekapan. Dia benar-benar nyata tampak tidak ingin mengatakan apapun.

Mendengus, mengalah Ichigo mengendong tubuh istrinya. Membawanya kembali ke ranjang, memeluk dalam dekapan hangat setelah selimut menutupi. Raut mukanya puas dipatuhi oleh Rukia yang bersedia lebih erat didekap dalam pelukan, wajahnya menunduk mengubur hidung dalam surai hitam kelam, menghirup aroma memabukkan membius mendekati kantuk.

"Jadi kau belum bersedia mengatakannya?" Ichigo meminta terakhir kali sebelum benar-benar jatuh tertidur. Gelengan singkat, dan itu sudah cukup membuat Ichigo menutup mata tak menuntut apapun lagi.

.

.

Wajah Ichigo berkerut serius, tangannya membalik beberapa kali kertas-kertas di tangan, beberapa kali juga meraih pena di atas meja lalu mencoret beberapa bagian pada kertas. Sudah berjam-jam dia berkutat disana, dan tidak ada satupun yang berani mengusik karena takut mendapat amukan. Meski sujujurnya temprament sang Kurosaki muda sudah semakin membaik, tapi tetap saja tidak ada yang berani bila laki-laki itu sedang berkerut serius.

"Apa itu?" suara Rukia datang akhirnya berhasil membuat perhatian Ichigo terlalih. Dia hanya menoleh singkat dengan seringai, lalu kembali fokus pada kertasnya.

Rukia tidak melontarkan pertanyaan lagi. Menghela nafas tangannya meletakkan nampan yang di bawa di atas meja, menyeduh teh hangat ke dalam cangkir untuk disuguhkan—memastikan posisinya aman agar tidak ada indikasi tersenggol hingga bisa tumpah membasahi kertas-kertas suaminya.

Kurosaki muda itu tampak serius tenggelam dalam pekerjaan. Jujur—entah mungkin karena hormon kehamilan—Rukia merasa sedikit cemburu karena kertas-kertas itu membuatnya terabaikan. Yah, karena dia sedang mengandung—dia yang biasa mandiri jadi ingin dimanja, diperhatikan meskipun hanya sekedar melemparkan godaan pada sang suami.

Karena itulah Kiyone sering menangkap mereka setelah 'bekerja' di tengah malam. Rukia jujur saat mengatakan dia yang lebih dulu merayu suaminya. Beberapa kali Ichigo bahkan sudah menolak bersikeras bahwa suaminya takut akan menjadi terlalu liar hingga tidak tertangani oleh Rukia, sayang bukanlah Rukia kalau tidak bisa memenangkan permainan. Meski sudah bersikeras, tetap saja Ichigo akan menjadi orang yang mengumpati diri sendiri ketika tahu rayuan Rukia selalu bekerja.

"Hei, hei..." Ichigo tertawa pelan. Kertas-kertas terlupakan. Sebelah tangannya turun menopang badan yang sudah miring kebelakang, sebelah lagi menahani tubuh Rukia yang sudah merangkak naik ke pelukan. Manja istrinya menarik-narik kerah kimono santai Ichigo, menuntut kecupan di bibirnya yang mungil. Menunduk Ichigo menanggapi. Mengecup sekilas bibir merah muda istrinnya.

Satu kecupan, Rukia merengut meminta lagi. Tertawa, Ichigo menyanggupi. Dua kecupan, tiga, empat, dan—tidak ada yang kelima. Kedua tangannya telah menawan Ichigo, menarik mendekat tak ingin mengakhiri ciuman yang kian mendalam. Sebelah tangannya turun, meraih tangan Ichigo yang tidak merengkuh tubuhnya, membawa tanpa dosa tangan suaminya untuk meraih gundukan kecil di depan dadanya—mengajak lebih berpartisipasi. Geraman halus dari tenggorokan Ichigo sebagai respon pertama. Rukia tahu gairah suaminya telah bangkit merasa eksplorasi tangan Ichigo kian antusias.

Terengah Ichigo yang pertama melepas ciuman, nafasnya tersenggal dengan wajah memerah. Berciuman dengan Rukia memang selalu bisa mengaktifkan rasa lapar pada tubuh perempuan itu. Bila seandainya dia tidak segera teringat akan kehamilan istrinya, mungkin sudah sejak tadi dia menggagahi tubuh istrinya di atas tatami. "Sial, Rukia."

Terengah pula, Rukia tertawa kecil. Kedua tangannya tidak lagi mencengkeram kuat, pelan wajahnya bersandar di dada Ichigo. Tersenyum damai mendengar detak jantung berirama. "Kau terlalu sibuk bekerja akhir-akhir ini. Jangan terlalu serius, bersantailah sekali-kali."

"Ah, tidak usah memikirkannya. Ini hanya beberapa laporan yang Genryu-ji pinta untuk kuperiksa. Tidak banyak kok." santai tangan Ichigo mengusap sisi perut Rukia yang sama sekali belum membesar. Matanya kembali pada kertas sambil sesekali mengecup puncak kepala istrinya, beberapa kali sengaja menghirup banyak-banyak aroma istrinya untuk keuntungan diri sendiri.

Perempuan itu menerimanya, manja dan begitu menempel, tahu betul banyak rasa kasih yang ingin dicurahkan Ichigo. Pahit, tetap saja hanya fakta tentang keberadaanya, bukan penerimaan rasa cinta Ichigo. Perempuan itu masih menutup hati. Tidak ingin mencintai, tidak pula bersedia belajar mencintai.

Harus seperti apa lagi agar perempuan itu mau mencairkan pertahanan?

"Hmm, jadi memang kau yang akan menjadi penerus pasti tetua Kurosaki?"

Ichigo ingin dengan enteng membenarkan. Sayang kenyataan tidak semudah itu. Lidahnya telah berubah pahit, gagasan tentang dirinya yang akan menjadi penerus berikutnya sudah membuat isi perutnya mual sepanjang waktu. Bagaimanapun dia adalah tipe bebas yang tidak ingin terikat, menjadi pemimpin klan berikutnya sungguh jauh di luar rencana. Tapi—kembali diingat, cinta itu membutakan.

"Mari kita tidak usah membahas hal itu," menghela nafas tangan Ichigo terangkat, menyisir helaian nakal yang tidak teratur kusut di dahi istrinya. "Apakah kau tidak ingin mengatakan apa yang kau inginkan tadi malam?"

Keras kepala, Rukia tetap menggeleng. "Itu tidak baik untukmu. Lupakan saja."

"Tapi itu baik untukmu."

"Tidak. Tidak usah."

"Baik, aku perjelas. Bukan saja untukmu, tapi untuk anak kita."

Penegasan kalimat 'anak kita' membuat Rukia terhenti untuk memprotes. Tangannya telah kembali mengcengkeram kerah kimono Ichigo untuk bertahan. Tampaknya Ichigo masih perlu membujuknya lagi.

"Aku tidak tahu apa yang membuatmu berat. Aku hanya tidak ingin situasi memburuk dan hal yang sama terulang, kita berdua sama-sama tahu bahwa kandunganmu itu lemah. Jadi meskipun kau berpendapat sesuatu akan buruk untukku, setidaknya kau membicarakannya agar ada jalan keluar. Jadi—katakanlah apa itu."

"Kau tahu—" jari telunjuk Rukia bermain di dada Ichigo, membentuk pola tak beraturan mencerminkan isi kepalanya. Setidaknya Ichigo berpedapat demikian. Sayang iris kuning madu itu tidak dapat menangkap tatapan violet istrinya karena wajahnya menunduk. Bila dia melihat, mungkin dia sadar tatapan Rukia sarat penuh makna.

"—saat klan Shiba menolongku, hanya paman Isshin yang mengetahui kehamilanku."

Rukia merasakannya. Tubuh Ichigo berubah tegang saat Shiba Isshin disebutkan. Tapi semua sudah dimulai, Rukia akan terus melanjutkan sementara berpura-bura tidak sadar dengan rasa tak nyaman suaminya.

"Dia yang mengatakan bahwa dalam beberapa hari aku akan rentan keguguran karena kondisiku yang lemah. Yah, aku tidak heran. Keadaanku saat itu seperti Kak Hisana. Fisikku memang lebih kuat, tapi saat itu tidak."

"Tapi kau membuktikan bahwa perkataan—orang itu—tidak benar. Kau masih memiliki anak kita hingga sekarang."

Rukia menggeleng, menyangkal pembelaan Ichigo. "Seharusnya tidak. Paman Isshin yang mengusahakan segala cara saat itu. Turun ke perbukitan tengah malam mengabaikan akan diserang binatang buas di hutan, paman Isshin mencari tumbuhan obat yang hanya tumbuh di perbukitan hutan tertutup." Tawa halus namun sedikit serak, jelas sedang menahan tangis—Rukia menyelami narasi dengan baik. "Dia begitu nekat dan tanpa pikir panjang sepertimu, paman Isshin betul-betul mengingatkanku padamu. Bibi Masaki, Kak Karin dan Yuzu, bahkan mereka menangis saat paman Isshin baru tiba di pagi buta dalam keadaan terluka-luka. Tapi setelah itu mereka tampak senang mengetahui paman Isshin membawa sekeranjang besar tumbuhan yang dicari, mereka mengatakan bahwa setidaknya obatnya akan bertahan setahun—cukup melebihi sembilan bulan aku mengandung. Itu kenangan yang indah. Karena itu, disaat kondisiku melemah aku akan mengingat kebaikan mereka hingga perasaanku membaik."

"Jadi—kesimpulannya obat yang kau butuhkan berada di klan Shiba?"

Umpan sudah dimakan.

.

.

Enggan kaki melangkah, namun—dia sudah terlanjur disini.

Tempo hari ia sudah berani melenggang seperti tuan tanah, masuk dengan angkuh sama sekali tidak melirik sedikitpun pemilik rumah. Tapi—dihari kemuadian kepercayaan dirinya hilang menjadi seperti seorang anak hendak memasuki kuil berhantu. Kedua kakinya tertanam di tanah, sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda akan melakukan pergerakan. Kemana perginya Kurosaki Ichigo yang tempo hari?

Yah—tempo hari.

Seharusnya Ichigo sudah berada pada tahap bimbang untuk memilih. Sejak lahir harus menerima bahwa dia harus hidup menerima kejamnya dunia tanpa seorang ibu. Berjuang sendiri bagai seonggok sampah tanpa perlindungan. Kini—setelah mengetahui ibunya masih hidup, hati kecil tidak bisa dibohongi bahwa Ichigo sangat merindukannya. Batinnya perih ingin kasih sayang, jiwanya rapuh mencari peganggan.

Bagaimana mungkin secara kejam dirinya telah menukar kasih sayang seorang ibu yang tak terbalas dengan seorang perempuan ular berbisa?

Perempuan yang telah begitu kejam mempermainkannya serta membuat kesabaran hilang. Perempuan itu selalu menjebaknya dalam posisi tak berkutik dan nyeri mengerikan. Seharusnya—Ichigo memilih ibunya, seharusnya—dia melupakan perempuan itu karena hanya rasa sakit yang selalu diberikan. Seharusnya—Ichigo tidak menerima mentah-mentah perasaan sayang perempuan itu ketika menjadi sosok pertama kali yang memeluk memberi perlindungan. Ichigo pasti bisa mengabaikan saat itu, menganggap sebagai angin lalu dan—

Ichigo meringis memijat pelipis. Dia benci menyangkal hati nurani.

Ichigo tahu—dengan sangat jelas—dia tidak bisa mengabaikan kebaikan Rukia. Berulang kali memang Rukia mencoba meyakinkan bahwa dia hanya bertidak sebagai kewajiban, tapi melindungi Ichigo dari cercaan Kurosaki Genryusai, Ichigo tahu itu tidak diperlukan. Istri yang baik adalah tetap diam ketika tetua sedang murka, bukan mengikuti jejak suaminya ikut menentang. Rukia tidak perlu berbuat sejauh itu bila tidak sedikitpun memiliki rasa perduli pada Ichigo.

Jadi—salahkah Ichigo lebih memilih perempuan pertama yang memeberikan kasih sayang padanya ketika seisi dunia sedang menghakimi saat itu?

"Ah, ada barangmu yang tertinggal disini, Nak? Atau kau hanya tersesat?"

Ichigo tersentak dari lamunan. Matanya mengerjap beberapa kali, sedikit linglung menatap sosok yang berdiri tidak jauh di hadapan. Tanpa disadari, kaki Ichigo telah melangkah memasuki halaman rumah besar Shiba Isshin, tertangkap basah oleh tuan rumah sebelum sempat berfikir mundur. Di hadapannya, Shiba Isshin berdiri menyilangkan tangan dibawah dada dengan cengiran aneh.

Wajah Ichigo berkerut, masam mendengus membuang muka. "Aku hanya mencari sesuatu yang dibutuhkan Rukia."

"Aaa, jadi kau sudah sadar menikahi perempuan yang jauh lebih muda darimu berbahaya? Kurasa umurmu sudah tiga puluhan, aku tidak tahu kau malah lebih memilih menikahi gadis belia disaat aku dulu sudah memiliki tiga orang anak diumur yang sama denganmu saat ini. Kau memang berdarah panas."

Kepala Ichigo berubah panas, garang wajahnya melotot pada Isshin tanpa bisa menghapus semburat malu di pipi. "Hei, hei... yang memiliki anak di usia muda itu kau, usiaku sekarang tidak terlalu masalah bila baru memiliki anak!"

"Ya, kau pantas. Tapi Rukia belum. Kau benar-benar tidak bisa menahan diri atau memang para tetua terlampau mendesakmu untuk memberi keturunan. Astaga... tidak terbayang Rukia harus melayanimu setiap malam."

Merah merambat memberi rona berbeda pada permukaan wajah Ichigo. Tampilan tak biasa yang pastinya tidak akan pernah didapatkan oleh penghuni Kurosaki Mansion. Mereka tidak akan pernah tahu bahwa Kurosaki Ichigo yang terkenal tak berperasaan bisa bersikap manusiawi.

"I,i—tu urusan rumah tanggaku, kau tidak berhak mengkritiknya terlebih lagi Rukia lah yang selalu berusaha merayuku!" Ichigo tidak berhenti memprotes,

Di luar perkiraan bahwa harusnya Isshin balas mendebat, Ichigo malah mendengar tawa. Tawa hangat, dan—rasanya menyenangkan. Hati kecil tergelitik. Beginikah rasanya memiliki seorang ayah?

"Kau benar-benar tergila-gila pada seorang perempuan lugu."

"Dia tidak lugu sama sekali."

"Sayang, kau sedang berbicara dengan siapa?"

Deg!

"Kita kedatangan tamu." Mengerling nakal iris coklat kayu Shiba Isshin melirik istrinya, lalu melempar pandang pada pewaris Kurosaki. Ada pancaran bahagia menbuncah tak tertutupi melihat sang istri terdiam masih diselubungi rasa terkejut bercampur haru. Begitupun pemuda bersurai jingga yang membatu kikuk.

"Masuklah, Nak. Aku tahu apa yang sedang kau cari."

.

.

Tersenyum Rukia menatap langit biru perlahan berubah jingga, teringat akan sosok Kurosaki Ichigo yang tengah berada di daerah pinggiran Karakura. Menyatukan keluarga yang telah lama berpisah tampaknya tidaklah sulit. Meski sang tetua akan segera mengetahui dan tidak akan begitu suka, namun setidaknya suaminya bisa perlahan belajar mengujungi kedua orang tuanya.

Yah—Rukia memang merencanakannya.

Kondisi kandungannya memang lemah, tapi sejujurnya suaminya tidak perlu repot-repot mengunjungi daerah perbatasan hingga memasuki keluarga Shiba demi mendapatkan tanaman obat tersebut. Sadarkah Ichigo bahwa daerah perbatasan Karakura luas? Kalau suaminya itu mau lebih berusaha, seharusnya dia tahu bisa mendapat tanaman serupa pada klan tetangga selain klan Shiba.

Ahh—suaminya memang tidak bisa berbohong, dia merindukan kedua orang tuanya meski terlihat begitu membenci.

Kembali tertawa, Rukia mengenyahkan pemikiran tentang suaminya yang sedang jauh berada di klan Shiba. Iris ungu kelabu kembali fokus membuka lipatan surat dengan hati-hati. Kata per kata dibaca dengan seksama, banyak hal yang terjadi selama dia terkurung di mansion, dan satupun tidak boleh ada yang terlewatkan olehnya.

Matanya masih menjelajah lembar per lembar, tampak serius hingga di kalimat penutup menciptakan kerutan di dahi.

Yang menculikmu bukanlah para pemberontak, mereka adalah orang bayaran. Jangan lupa segera membakar surat ini setelah membacanya.

Dalam keheningan, bibir mungil tersungging. Meraih dupa pembakaran, menyulutkan kepala merah pada ujung kertas surat. Panas merambat, kertas putih tak lagi sama karena terbakar berubah menjadi abu hitam. Nyanyian burung menyertai bagai melodi penutup sore.

Tampaknya situasi semakin menarik.

.

.

Pintu gerbang utama Kuchiki Mansion terbuka. Dari jendela lebar lantai dua Byakuya memperhatikan, seorang pelayan berjalan tergesa memeluk perut—jelas sedang menyembunyikan sesuatu.

Dahi sang kepala keluarga berkerut. Ini sudah yang kesekian kali dalam beberapa pekan. Bahkan lebih sering daripada waktu-waktu yang lalu. Ada perasaan tak nyaman di balik paras dingin sang kepala keluarga. Isi kepalanya memutar semua kemungkinan serta praduga berlandaskan analisa. Byakuya tidak menyukai perasaan yang bergemuruh dalam batin. Suka atau tidak, kenyataan selalu membuktikan terkaannya. Dan kali ini—situasi telah berubah semakin serius.

Sekali lagi sudut mata Byakuya melirik punggung si pelayan sebelum menghilang dibalik pintu. Dia tahu kemana pergerakannya. Pelayan itu pasti—ah, memangnya apa lagi? Pastilah balasan pesan yang lainnya telah datang.

.

.

.

To be continued...


I'm here.