-_ Ui Present _-
000 SUBTITUTE LOVE 000
Pairing : KyuWook, YeWook
Disclaimer : Mereka milik Tuhan YME dan diri mereka sendiri
Warning : Gendreswitch, AU, OOC maybe, serta kekurangan kekurangan lain yang tak bisa dihindarkan
Rated : T aja
Summary: "Aku mencintaimu." Ungkap Kyuhyun tulus sebelum kembali mengecup bibir merah itu dalam.
…
..
.
10. Kebahagiaan
Butiran salju nampak menuruni langit biru meramaikannya dengan udara dingin yang mampu membuat setiap orang mengeratkan jaket dan syal mereka. Tak berbeda dengan Ryeowook yang nampak berjalan menyusuri pertokoan Seoul bersama Heechul yang memaksanya untuk menemani belanja perlengkapan untuk membuat desain terbarunya.
Ryeowook melangkahkan kakinya menuju bangku yang disediakan disana, mendudukan dirinya sembari menunggu Heechul yang masih sibuk memilih bahan disalah satu toko tak jauh dari tempatnya duduk.
Ia menatap sekeliling yang nampak hangat dengan pemandangan sebuah keluarga bahagia yang nampak berjalan beriringan dengan kaitan tangan yang erat dihiasi senyuman di wajah mereka atau sepasang kekasih yang berbagi kehangatan dengan rangkulan. Sebuah senyum tipis tercetak di wajah Ryeowook.
Dialihkannya pandangannya pada langit biru mencoba menelusuri langit itu lebih jauh berharap meraih sosok yang telah meninggalkannya 3 bulan yang lalu menyisakan sebuah rasa sendiri namun tak lagi ada rasa sesal. Semua rasa sakit itu seakan teredam dengan video yang 2 bulan lalu datang padanya, sebuah video permintaan terakhir dari sosok yang ia cintai.
Flashback
Ryeowook hanya bisa terbaring diranjangnya, meskipun satu bulan telah berlalu dari kepulangannya dari Busan meskipun janji untuk hidup bahagia telah ia ucapkan namun hatinya tak bisa mengelak jika rasa kehilangan itu terlalu membekas dalam.
Kelebatan masa indah yang singkat dengan Yesung disaat-saat terakhir mereka membuat Ryeowook bahagia sekaligus duka didalam hatinya. Meskipun ia bersyukur kepada Tuhan mengizinkannya bertemu dengan Yesung seperti do'a yang selalu ia panjatkan namun ada saat pikiran buruk menguasainya bertanya kepada Tuhan mengapa hanya sekejap mereka bisa bersama, mengapa mereka tak bisa bersama lebih lama.
"Wookie-ah." Sebuah panggilan menyadarkannya dari segala lamunan tentang seandainya dan mengapa mengenai hal yang terjadi dalam hidupnya.
Heechul nampak berdiri di pintu kamar adiknya itu, sudah beberapa kali ia memanggil Ryeowook namun tak ada sahutan hanya beberapa saat yang lalu mata coklat itu nampak mengarah padanya.
"Ada paket untukmu, ini dari Busan." Ucap Heechul sembari menunjukkan sebuah map yang ada di tangnnya.
Mendengar nama Busan membuat Ryeowook segera beranjak dari ranjangnya menuju kea rah sang kakak.
"Ini dari Busan ?" Tanya Ryeowook kembali kepada Heechul mencoba memastikan apa yang ia dengar bukanlah sebuah kesalahan.
"Kyuhyun yang mengirimnya." Jawab Heechul sembari menyerahkan paket itu dan meninggalkan Ryeowook sendiri di kamarnya, ia tahu pasti adiknya membutuhkan ketenangan saat ini.
Ryeowook memandang map yang ada di tangannya, ia mendudukan diri pada ranjangnya membuka map itu perlahan. Ada dua buah barang di dalamnya, sebuah surat dan kaset dvd. Ryeowook membuka surat itu pertama disambut gaya tulisan familiar khas Kyuhyun membuatnya tersenyum sekilas mengingat Kyuhyun yang entah bagaimana saat ini keadaannya.
Dear Ryeowook
Aku tak tahu harus mulai darimana, namun aku hanya ingin mengatakan aku merindukanmu. Haish, bukan itu tujuan aku mengiri surat ini. Kau bisa lihat ada kaset dvd didalam map ini kan? Itu rekaman yang di buat Yesung hyung untukmu, pihak rumah sakit memberikannya padaku karena mereka menemukan kaset itu ketika membersihkan kamar rawat hyung. Aku belum melihat isinya karena aku tahu itu dibuatnya khusus untukmu.
Ryeowook-ah aku tahu semua ini berat, namun kita harus bahagia karena itu yang di inginkan Yesung hyung disana. Karena aku yakin ia juga akan bahagia jika kita juga bahagia disini. Mengapa aku berbicara begitu serius membuatku lelah saja, aku akan kembali ke Seoul dan ketika aku kembali kau harus mau jadi temanku seperti dulu.
By EvilKyu
Ryeowook tersenyum sekilas membaca akhir surat yang ditulis Kyuhyun itu.
"Tentu Kyu, bukankah memang kau orang pertama yang berhasil menembus tembok pertahananku."
Ryeowook mengembalikan surat itu pada amplopnya, kemudian beralih pada satu benda terakhir yang ada didalam map itu. Tak seperti dulu ia yang terburu-buru melihat isi dvd, Ryeowook kini memilih untuk sedikit menenangkan dirinya sebelum beranjak pada dvd player yang ada dikamarnya.
Layar televisi menampakkan gambar ruangan rumah sakit yang sebulan lalu selalu ia datangi setiap hari untuk bertemu pujaan hatinya. gambar itu beralih pada wajah pucat Yesung yang nampak pucat diranjang kamr inapnya.
"Annyeong Ryeowook-ah, entah mengapa aku ingin merekam diriku lagi. Aku narsis ternyata." Suara tawa yang begitu Ryeowook rindukan menggema dari televisi itu menampakkan wajah kekasihnya yang tertawa hingga mata sipit itu semakin tak terlihat.
"Oppa tak tahu sampai kapan kita bersama Ryeowook-ah, tapi apa kau tahu aku sangat bahagia memiliki kesempatan untuk bersamamu lagi. Haruskah aku berterima kasih pada Kyuhyun karena telah membawamu kepadaku tanpa sepengetahuanku? Kyuhyun adalah adik yang sangat berharga sama sepertimu yang sangat berharga juga dalam hidupku."
"Selama ini Oppa selalu menceritakanmu kepada Kyuhyun, bagaimana cantiknya bidadariku, bagaimana suara indahnya mampu menyihirku dan bagaimana rapuhnya dirimu hingga aku tak ingin kau hancur dan menjagamu selalu."
"Kyuhyun begitu bersemangat ketika aku memperlihatkan lirik lagu yang aku buat untukmu, ia mengaransemennya dengan begitu indah ketika ia mengetahui aku membuatnya untuk menyatakan perasaanku padamu. Mungkin semua hal itu membuatnya tertarik untuk mengenalmu Ryeowook-ah, dan aku yakin Kyuhyun sangat mudah mendekatimu karena ia memang sosok yang menyenangkan."
"Aku ingin melihatmu dan Kyuhyun bahagia Wookie-ah, biarkan perasaanmu berkembang untuknya karena aku bisa melihat itu semua dari mata kalian. Jangan menenggelamkan dirimu pada kenangan tentangku, raihlah cinta yang lain Ryeowook-ah karena aku merelakanmu untuk itu mungkin perkataanku kejam tapi yakinlah Ryeowook-ah aku melakukan ini karena aku mencintaimu. Hiduplah dengan baik, jangan pernah biarkan sayapmu terluka lagi Ryeowook-ah, kau harus berjanji arraseo ?"
Ryeowook menatap nanar video yang berhenti berputar itu, Yesung menginginkannya hidup bahagia dan ia akan melakukannya. Ia akan membuka hatinya dan hidup untuk meraih cita-citanya.
"Arraseo Oppa, aku berjanji akan hidup dengan baik."
Flashback End
'Oppa lihat aku, aku akan hidup bahagia disini seperti janjiku sehingga Oppa tak perlu terluka disana.'
"Wookie-ah." Ryeowook mengalihkan pandangannya pada sosok Oppa sesungguhnya yang menatapnya tak jauh dari tempatnya duduk.
"Kenapa melamun disini ?" Tanya Heechul sembari melangkah lebih dekat pada Ryeowook, nampak kedua tangannya membawa barang belanjaannya.
"Tidak apa." Ucap Ryeowook seraya berdiri, diraihnya salah satu kantung belanja Oppanya agar bisa ia rangkul.
"Kajja kita pulang." Ucap Ryeowook ceria, ia tarik pelan lengan Heechul agar berjalan dan tak lagi menanyakan pertanyaannya.
/
/.
/.
/.
/.
/.
Heechul dan Ryeowook sampai di rumah yang selama ini mereka diami, meskipun telah berbaikan dengan sang ayah, Kangin. Mereka lebih memilih untuk tinggal di rumah mereka dibandingkan dengan kediaman Kim yang penuh dengan ingatan pahit bagi mereka berdua.
Ryeowook melihat bingung sepasang sepatu yang berada di depan ruang tengah, Heechul yang membaca pikiran Ryeowook melangkahkan kakinya lebih dahulu dan membiarkan Ryeowook mengikuti di belakang tubuhnya.
"Appa." Panggil Heechul melihat sosok sang Appa yang nampak berkutat sesuatu di dapur.
"Ah, Heechul Ryeowook. Kalian sudah pulang." Sapa Kangin melihat kedua buah hatinya sudah datang.
"Appa mau makan sesuatu? Aku akan memasak untuk Appa." Ucap Ryeowook menghampiri Kangin di dapur.
"Ah tidak, Appa hanya mencari piring dan kimchi." Tolak Kangin halus, sembari membawa piring dan kimchi Kangin menuju tempat yang biasa Heechul dan Ryeowook gunakan untuk makan bersama.
"Appa membawa ayam goreng panas dan soda, Appa ingin makan dengan kalian. Ayo duduk." Ajak Kangin sembari menata ayam dan soda di meja tak lupa kimchi yang tadi ia bawa.
"Kenapa tidak Soju Appa, pasti lebih enak kalau cuaca dingin seperti ini minum soju." Tanya Heechul duduk disamping Appanya disusul Ryeowook yang langsung membantu sang Appa menata makanan mereka.
"Kau ini, Ryeowook masih dibawah umur, dia belum boleh minum Soju." Seraya memukul kepala Heechul perlahan dengan sumpit yang dibawanya.
Ryeowook hanya tertawa melihat interaksi kedua lelaki yang duduk bersamanya itu.
"Aku tak masalah jika Oppa dan Appa ingin minum soju tapi jika kalian mabuk aku akan membiarkan kalian kedinginan tidur di lantai dan aku akan tidur dengan hangat dikamar." Ucap Ryeowook sembari memakan ayam yang telah diberikan sang Appa.
"Kau kejam sekali, adik nakal." Ucap Heechul sarkatis mengikuti jejak Ryeowook memakan ayamnya.
Perbincangan riang disertai canda tawa mengisi dinginnya penghujung musim dingin dikeluarga yang telah kembali bersama itu, seperti bertahun-tahun yang lalu yang berbeda mereka hanya berbeda tak ada sang eomma yang kini tidur tenang di sisi Sang Pencipta.
"Heechul-ah, Ryeowook-ah Appa mendapatkan kesempatan untuk memperluas perusahaan kita ke Amerika." Ucap Kangin membuat kedua buah hatinya kembali menatap ke arahnya.
"Bukankah itu hal yang bagus?" Tanya Heechul sembari meminum sodanya.
"Ya, dan untuk merealisasikannya Appa harus pindah ke Amerika. Dan Appa ingin kalian ikut bersama Appa." Jelas Kangin.
"Tapi Appa aku.." Ucapan Ryeowook tertahan, jauh di dalam lubuk hatinya ia ingin tetap di Korea. Ia sudah sangat bahagia dengan sekolah, sahabatnya, kehidupannya dan Kyuhyun.
"Kalian sangat berbakat dalam bidang seni seperti Eomma kalian, kalian bisa sekolah disana. Harvard, Yale maupun Julliard kalian bisa mengembangkan diri kalian lebih baik disana. Dan kita bisa memulai semua dari awal, keluarga kita memulai semuanya dan biarkan Appa menebus semua kesalahan Appa pada kalian berdua."
"Appa."
/.
/.
/.
/.
/.
/.
Ryeowook melangkah perlahan memasuki gedung sekolah yang telah menemaninya selama 2 tahun ini, merangkai banyak kenangan yang tak ingin dilupakan olehnya.
"Annyeong Wookie-ah." Sebuah suara cempreng yang hampir setiap hari memasuki indra pendengarannya, Eunhyuk. Disampingnya nampak Donghae yang berjalan bersama sembari memberikan senyum tanda salam selamat pagi padanya.
"Annyeong." Balas Ryeowook menunggu sahabatnya itu mensejajarkan diri dengannya sebelum akhirnya berjalan bersama.
"Ah hari terakhir sekolah sebelum liburan, aku akan merindukan sekolah ini." Keluh Eunhyuk, ia masih ingin menghabiskan waktunya untuk menari setiap hari.
"Kita masih bisa ke sini setelah liburan Hyukjae." Ucap Donghae yang mendengar keluh kesah sang kekasih.
"Ah masih ada satu tahun lagi, benarkan Wookie-ah." Celetuk Eunhyuk yang tidak menyadari perubahan wajah Ryeowook disampingnya.
"Kalian mau menemaniku sarapan, aku ingin sarapan sebentar sebelum pergi ke acara kelulusan Kibum Oppa." Ajak Ryeowook pada kedua orang disampingnya.
"Ah iya hari ini hari kelulusan siswa kelas 3. Baiklah kajja." Jawab Eunhyuk yang kemudian merangkul sedikit menarik Ryeowook meninggalkan Donghae yang mengikuti mereka di belakang.
…
…
Suasana sepi melingkupi kantin yang biasanya menjadi kawasan teramai di Seoul Art School jurusan music dan drama itu, bukan karena hari ini libur tapi karena kebanyakan siswa terlalu malas untuk datang disuasana dingin yang masih melingkupi Seoul di musim dingin ini.
"Eunhyuk-ah, Donghae-ah." Panggilan Ryeowook pada kedua sahabat dihadapannya berhasil menarik perhatian kedua orang tersebut untuk menghadapnya.
"Aku akan pindah ke Amerika." Ucap Ryeowook lirih namun ia yakin kedua orang dihadapannya dapat mendengar suaranya.
"Mwo, kau bercanda kan Wookie ?" Pertanyaan Eunhyuk lontarkan berharap sang sahabat berkata april mop atau apapun meskipun ia sadar ini sudah jauh dari bulan april.
"Mianhae, Eunhyuk-ah." Ucap Ryeowook lirih, ia tahu akan seperti ini. Ia juga tak ingin berpisah dengan sahabatnya namun ia juga ingin memulai semua bersama Appa yang selama ini ia harapkan kedatangannya.
"Wae? Kenapa tiba-tiba ingin pergi?" Tanya Donghae, ia tahu hal itu yang ingin di ketahui kekasihnya namun Eunhyuknya telah lebih dahulu sesenggukkan disampingnya.
"Appa harus pergi ke Amerika dan aku dan Heechul Oppa sudah memutuskan untuk ikut Appa kesana, kami ingin mulai semua dari awal menjadi keluarga bahagia seperti dulu ketika Eomma masih hidup."
"Mianhae Eunhyuk-ah, aku tak pernah berniat pergi darimu." Ucap Ryeowook akhirnya ia tak mampu lagi menahan desakan air mata yang sejak tadi ia tahan.
"Wookie-ah." Sebuah pelukan dirasakan Ryeowook, pelukan dari kedua sahabatnya yang akan ia tinggalkan.
"Aku janji akan sering pulang ke Korea, setiap liburan musim panas dan musim dingin aku akan ke sini mengunjungi kalian. Aku janji, Eunhyuk-ah dan Donghae-ah adalah saudaraku disini, gomawo." Ryeowook begitu bahagia memiliki meeka, meskipun ia tak lama mengenl Donghae tapi ia tahu Donghae menyayanginya sebagaimana Oppanya dan Kibum menyayanginya dan Eunhyuk saudara terbaik dalam hidupnya seseorang yang tak akan pernah melepaskannya meskipun ia tengah terjatuh dan tertawa bahagia bersamanya ketika ia tengah bahagia.
"Gomawo."
/.
/.
/.
/.
/.
Ryeowook menatap bangga pada Kibum yang nampak tengah berpidato di depan mewakili seluruh siswa kelas 3 dihari perpisahan ini, ia tengah duduk di kursi yang tersedia untuk tamu dan siswa kelas 1 dan 2 yang beniat untuk melihat. Ia tahu sejak dulu Kibum Oppanya adalah orang yang sangat hebat dan bertanggung jawab meskipun sifat dinginnya terkadang menakutkan namun jauh didalamnya ia adalah sosok yang hangat dan penyayang.
"Kibum Oppa chukkae atas kelulusannya, Oppa memang hebat." Ucap Ryeowook upacara kelulusan telah berakhir 15 menit lalu.
Mendengar perkataan Ryeowook Kibum hanya bisa tersenyum sembari mengacak perlahan surai coklat panjang milik adiknya itu.
"Oppa, ayo kita kencan." Celetuk Ryeowook seraya merangkul lengan Kibum yang kini menatapnya.
"Kencan?" Tanya Kibum, bukan karena ia terkejut akan ajakan adiknya itu Mereka sudah sering kencan sebelumnya tapi itu sudah sangat lama.
"Ne, aku sudah lama tidak kencan dengan Oppa kan?" Rajuk Ryeowook, mencoba memasang wajah polos terbaiknya pada Kibum.
"Baiklah, tapi sebelum kita kencan kau harus pakai syal ini. Bagaimana bisa kau keluar di cuaca seperti ini tanpa syal." Ucap Kibum sembari memakaikan syal yang ada di tasnya pada Ryeowook.
"Aku tahu Oppa selalu membawa syal lebih di tas Oppa." Jawaban Ryeowook membuat Kibum tersenyum maklum. Beginilah sifat Ryeowook yang ia rindukan, manja, manis dan polos.
"Kajja Oppa." Ajak Ryeowook seraya menarik lengan Kibum mengajaknya menuju arah gerbang sekolah.
…
…
"Oppa, aku sayang Oppa." Ungkap Ryeowook perlahan, ia sandarkan kepalanya pada bahu yang selama ini menjadi salah satu penopang hidupnya, menjadi tempat sandaran yang kuat untuknya.
"Oppa tahu." Ucap Kibum ia menatap lurus kearah, air mancur yang kini berubah menjadi kolam salju itu.
Kini mereka tengah duduk di bangku taman tempat penuh kenangan untuk mereka dan Yesung. Menikmati sepinya taman yang berubah mati karena musim dingin membuat orang-orang enggan berlama-lama di taman ini. Tak ada lagi kata yang terdengar dari keduanya, tenggelam dalam masing-masing kenangan yang mereka miliki. Entah itu kenangan indah atau pun kenangan memilukan keduanya saling memiliki satu sama lain.
"Oppa aku akan pindah ke Amerika." Ucap Ryeowook tanpa mengalihkan pandangannya kearah Kibum yang kini menatapnya meminta suatu penjelasan.
"Appa harus pergi ke Amerika, aku dan Heechul Oppa sudah memutuskan untuk ikut Appa kesana. Aku akan memulai semua disana bersama Appa dan Heechul Oppa, tapi disisi lain aku tak ingin jauh dari orang-orang yang aku sayangi disini." Ungkap Ryeowook perlahan, ia menghapus air mata yang kembali turun di pipinya.
"Kapan kau berangkat?" Tanya Kibum, ia mengerti jika alasan itu yang Ryeowook berikan. Ia tahu sejak dulu betapa Ryeowook merindukan kasih sayang dari Appa yang melukainya. Jika memang itu alasannya ia akan merelakan adiknya untuk pergi.
"Setelah natal, kami akan berangkat setelah natal." Ucap Ryeowook kali ini menatap mata Kibum yang menatapnya dengan lembut, seolah mengatakan tak apa-apa padanya.
"Pergilah, orang yang menyayangimu pasti akan mengerti hal ini. Mereka pasti akan menunggumu kembali." Ucap Kibum menenangkan Ryeowook.
"Oppa."
"Haruskah Oppa melanjutkan ke Amerika, sepertinya aku bisa menembus Harvard." Ucap Kibum seraya menunjukkan sebuah surat yang ia bawa, surat yang menyatakan jika ia di terima di Harvard.
"Oppa." Ryeowook memeluk kakak yang selama ini selalu melindunginya, sama seperti yang dilakukan Heechul padanya meskipun dengan cara yang berbeda.
Kibum balas memeluk Ryeowook, ia telah lebih dahulu di beritahu oleh Heechul jika mereka mereka akan pindah ke Amerika oleh karena itu ia menerima tawaran untuk melanjutkan ke Harvard. Ia akan menjaga adiknya ini, karena ia tahu ia jauh lebih baik dalam hal menjaga Ryeowook dibanding dengan Heechul sendiri.
/.
/.
/.
/.
/.
Ryeowook menatap kamar yang 4 tahun ini ia gunakan, kamar yang begitu memiliki banyak kenangan di dalamnya meskipun kebanyakan adalah kenangan kelamnya. Ia merebahkan dirinya perlahan pada ranjang kamarnya, ia baru saja beres-beres barang-barangnya yang akan di kirim lebih dahulu ke Amerika.
"Barang-barangnya sudah diantar." Beritahu Heechul yang entah kapan memasuki kamar Ryeowook, Ryeowook sama sekali tidak sadar.
"Kau sudah pamit dengan semua temanmu?" Tanya Heechul seraya duduk di tepi ranjang tempat adiknya berbaring saat ini.
"Belum, aku belum pamit dengan Kyuhyun. Aku tak tahu bagaimana caranya aku pamit dengannya." Ungkap Ryeowook.
"Oppa sudah pamitan, dengan Sungmin Eonni dan Hangeng Oppa?"
"Hah, tangisan Sungmin membuatku kerepotan." Kisah Heechul yang kini ikut membaringkan diri disamping Ryeowook.
"Sungmin Eonni terlalu mencintai Oppa." Ucap Ryeowook sembari tertawa.
"Haiah kau ini, kami Cuma teman pabbo." Tegas Heechul semari menjitak pelan kepala adiknya itu.
"Hish Oppa kenapa suka sekali menjitakku."
"Biarin, dan cepat beritahu Kyuhyun. Sebelum evil itu tahu dari orang lain dan mengacaukan keberangkatan kita nanti." Pesan Heechul, beberapa bulan mengenal Kyuhyun membuat ia tahu kalau Kyuhyun terlalu mirip dengannya dalam bidang keevilan.
"Iya, aku mengerti."
/.
/.
/.
/.
/.
Kyuhyun memandang handphone ditangannya dengan sebuah senyuman yang entah bagaimana harus di deskripsikan karena senyum itu bukanlah Kyuhyun sekali. Sesekali ia mengepalkan tangannya dan meneriakan 'yes' yang cukup membuat Siwon yang kini tengah berada dikamarnya sambil bermain PS memandangnya aneh.
"Kau kenapa Kyuhyun-ah, kau sakit?" Tanya Siwon memberikan tatapan khawatir khas seorang kakak menyadari tingkah aneh adiknya itu.
"Ish, kau mengganggu saja hyung. Sana pergi ke kamarmu, bukankah dikamarmu juga ada PS." Usir Kyuhyun tanpa menatap Siwon, matanya masih saja menatap handphonenya seakan benda itu adalah sebuah harta yang berharga.
"Tanpa kau usir pun aku akan pergi, aku tak mau berlama-lama bersama orang gila sepertimu." Ucap Siwon seraya menyepak kaki Kyuhyun yang dapat dijangkaunya sebelum berlari meninggalkan kamar Kyuhyun berusaha menghindari lemparan bantal maut dari sang raja setan.
Setelah memastikan kakaknya pergi, Kyuhyun kembali menekuni handphone nya membaca pesan yang di terimanya beberapa menit yang lalu tanpa bosan. Memastikan apakah pesan itu bagian dari khayalannya atau tidak.
From : Ryeowookie-ku
Subject : kajja ^^
Kyuhyun-ah mau pergi 'kencan'? aku ingin berlibur besok, jebal temani aku ^^~
Itulah bunyi pesan yang mampu membuatnya menampakkan senyun tak biasa itu, entah mengapa hatinya sangat bahagia sekarang meskipun kata 'kencan' diantara mereka adalah hal biasa. Menghabiskan waktu berdua seharian saling menjadi sandaran bagi satu sama lain, Dan bagi Kyuhyun kesempatan untuk membuat Ryeowook mencintainya.
/.
/.
/.
/.
/.
/.
Angin dingin menemani Ryeowook yang tengah menikmati indahnya pagi di taman tak jauh dari rumahnya, meski terlihat tenang namun di dalam hatinya Ryeowook tengah mati-matian menyiapkan kata-kata yang mampu membuat Kyuhyun mengerti keputusannya untuk meninggalkan Jepang. Meskipun ia yakin kepergiannya tak akan selamanya namun ia juga terlalu berat meninggalkan Kyuhyun disini, meninggalkan perasaan yang ia sadari ada dalam hatinya.
"Kenapa kau melamun seperti orang bodoh seperti itu." Sebuah suara familiar membuatnya mengalihkan tatapannya pada Kyuhyum yang entah sejak kapan berada di sampingya. Mungkin benar jika laki-laki disampingnya mempunyai darah keturunan evil lord.
"Aku tidak seperti orang bodoh." Sahut Ryewook cepat seraya berdiri dari tempat duduk yang ia gunakan menunggu Kyuhyun beberapa saat yang lalu.
"Ayo pergi." Ucap Ryeowook lagi seraya menarik Kyuhyun yang masih duduk di bangku.
"Kemana?" Tanya Kyuhyun yang kini sudah berdiri disampingnya.
"Kemana saja." Ucap Ryeowook segera menari tangan Kyuhyun untuk meninggalkan taman itu.
/.
/.
/.
Mereka menghabiskan waktu mengelilingi pertokoan dan festival yang tak sengaja mereka lewati, menghabiskan waktu dengan bergandengan tangan erat dan berbagi canda tawa satu sama lain. Saling menjahili dengan lontaran-lontaran pertengkaran yang tak berguna namun entah mengapa terasa menyenangkan.
Lelah dengan segala kegiatan yang mereka lakukan sejak pagi, mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu sore mereka di pantai penuh kenangan mereka. Memilih menikmati lautan yang nampak membeku sembari menunggu matahari tenggelam yang tidak yakin entah akan terlihat atau tidak.
Kyuhyun dan Ryeowook mendudukkan diri pasir putih jauh dari pinggir pantai, memutuskan untuk menikmati deburan angin musim dingin yang terbawa ombak. Ryeowook menatap jauh laut lepas dihadapannya, menyandarkan kepalanya pada sosok orang yang kini memiliki hatinya.
"Ryeowookie, ada sesuatu yang ingin ku katakana." Ucapan Kyuhyun memecah keheningan diantara mereka yang telah betahan beberapa menit disana.
Ryeowook mengangkat kepalanya, mengalihkan tatapan matanya pada permata coklat dari kedua mata Kyuhyun. Kedua mata itu bertemu, menciptakan sebuah suasana omantis bagaikan drama.
"Mungkin aku lancang jika mengatakan ini, entah seharusnya aku mengatakannya atau tidak kepadamu. Karena pada kenyataannya perasaan ini tumbuh tanpa aku sadari dalam hatiku, mengabaikan semua tujuanku untuk bertemu denganmu. Ryeowookie tolong izinkan aku menjagamu selamanya, mencintaimu dengan tulus. Aku benar-benar mencintaimu."
Ryeowook menatap mata yang menunjukkan cinta yang besar padanya, air mata mengalir dari kelopak indah Ryeowook. Ia memeluk Kyuhyun dengan erat menenggelamkan wajahnya pada dada hangat sosok yang telah ia cintai tanpa sadar selama ini.
"Mianhae Kyu, aku tak bisa menjawab cintamu saat ini. Aku tak ingin mengikatmu ketika aku akan pergi darimu. Aku harus ikut Appa ke Amerika, aku akan meninggalkanmu bagaimana bisa aku menerima perasaanmu. Maafkan aku." Ryeowook menumpahkan semua perasaannya, ia merasa begitu egois jika ia menginginkan Kyuhyun untuk menunggunya, menerima cinta Kyuhyun ketika ia sendiri akan meninggalkan Kyuhyun pergi jauh
Kyuhyun memeluk Ryeowook erat dipelukannya, ia sudah tahu berita jika Ryeowook akan pindah ke Amerika. Berita itu pula yang menjadi pendorong kuat untuk mengungkapkan perasaannya pada Ryeowook.
Kyuhyun melepas pelukaannya, memegang lembut kedua sisi wajah Ryeowook memaksanya menatap kearahnya. Mata coklat itu memerah karena air mata.
"Apa kau mencintaiku?"Kyuhyun menatap Ryeowook lembut mencoba tidak memaksa Ryeowook, ia ingin Ryeowook melihat ketulusannya.
Ryeowook menatap Kyuhyun, ia ingin mengatakan jika ia juga mencintai Kyuhyun tapi..
"Jawab pertanyaanku, aku hanya ingin tahu apa kau memiliki perasaan yang sama atau tidak."
Ryeowook menganggukkan kepalanya, berharap Kyuhyun mengerti perasaannya. Perasaan jika ia juga memiliki perasaan yang sama.
"Katakan padamu perasaanmu." Kyuhyun mempertemukan dahi mereka, memegang kedua bahu Ryeowok mecoba menyalurka kekuatan pada gadis dihadapannya. Ia tahu Ryeowook telah menjawabnya, tapi ia ingin egois dengan mendengar Ryeowook mengucapkan secara langsung padanya.
"Aku mencintaimu, Aku mencintaimu Kyuhyun-ah." Ryeowook menumpahkan perasaannya bersamaan denga air mata yang ia tahan.
Kyuhyun tersenyum tipis mendengar jawaban Ryeowook, ia tatap mata yang kini terpejam menahan air mata.
Kyuhyun mendekatkan kedua wajah mereka merasakan terpaa napas hangat masing-masing. Kedua bibir merah itu bertemu, mengecup dalam menyampaikan perasaan tulus diantara mereka. Dua hati yang saling memiliki perasaan yang sama, Cinta.
"Aku Mencintaimu." Ungkap Kyuhyun tulus sebelum kembali mengecup bibir merah itu dalam.
Deburan ombak menciptakan simfoni alam mengiringi perasaan cinta mereka, matahari tenggelam yang malu-malu dibalik awan mengantarkan cinta mereka dalam suatu rajutan benang merah yang mengikat.
-_END_-
Next Chap Epilog
Thanks For Review, Fav, and Follow…. See You Everyone….
