Menma – Part 3

"Sacrifice"

Konoha 1, 5 tahun setelah perpindahan dimensi

Atas bantuan Sasuke, aku bisa menjadi anggota ANBU dengan mudah. Yang sulit itu adalah menjadi ANBU khusus yang tugasnya mengawal Hokage dan keluarganya. Menjadi ANBU khusus ternyata banyak syaratnya, salah satunya adalah waktu. Seorang ANBU reguler baru bisa menjadi ANBU khusus setelah minimal 10 bulan bertugas. Bahkan Sasuke pun tak bisa mengusahakannya meski ia punya jabatan yang cukup tinggi di kesatuan ANBU.

Setelah bergabung bersama ANBU khusus pun tak menjamin aku bisa mendapatkan informasi yang kuinginkan. Memang sih, sekarang aku bisa memantau lebih dekat apa saja yang dilakukan Menma. Aku juga punya akses mudah ke berbagai hal yang dirahasiakan desa. Diantaranya data-data penting seperti misi kelas S, sejarah Konoha, jumlah detail persenjataan dan pasukan, serta kebijakan-kebijakan Hokage yang tidak disampaikan ke publik.

Tapi bukan itu informasi yang diinginkan Resistance. Resistance ingin mengetahui alasan Menma memperkuat persenjataan Konoha.

Kupikir dengan menjadi ANBU khusus aku akan mendapatkan petunjuk. Namun sampai sekarang aku belum mendapatkan petunjuk apapun.

Aku telah salah.

Dalam meeting terakhir yang diadakan Resistance, kami membahas keadaan politik Konoha yang semakin memburuk. Empat kage sudah memberikan peringatan terakhir kepada Menma mengenai produksi senjata dan perekrutan shinobi yang berlebihan. Tapi sayangnya, Menma masih tak buka suara, bahkan di hadapan 4 kage sekalipun. Empat kage sudah memberikan waktu 7 hari kepada Menma untuk menghentikan kegiatannya, namun sampai hari ini, hari ke-5, tak ada tanda-tanda penghentian kegiatan Menma.

"Itu berarti... besok kita akan melakukan kudeta," jelas Sasuke.

Semua orang yang hadir di pertemuan Resistance malam itu tak ada yang membantah. Mereka sadar ini adalah jalan satu-satunya.

Dari laporan terakhir petugas perbatasan Konoha, pasukan shinobi Suna sudah bersiap menyerang di perbatasan desa. Kirigakure, Iwagakure, dan Kumogakure sedang dalam perjalanan dan diperkirakan besok siang sampai. Empat desa itu tak mau mengambil resiko membiarkan Konoha membangun begitu besar kekuatan tanpa alasan yang jelas. Bagaimana jika kekuatan shinobi yang besar itu nantinya dipakai untuk menginvasi desa lain? Ujung-ujungnya mereka juga yang repot.

Tsunade mengigit bibir bawahnya. Ia tidak ingin kudeta terjadi, tapi ini demi Konoha yang sudah dibangun oleh kakeknya, Hashirama. Justru akibatnya akan lebih parah jika menunggu sampai hari ke-7 dan membiarkan 4 desa yang menyerang Konoha.

"Aku akan amankan dewan dan tetua desa. Meski ini kudeta, kita tak boleh membiarkan mereka mati," usul Tsunade.

"Aku dan Iruka akan mengurus akademi. Kami pastikan anak-anak dan pengajar tidak panik," tambah Ebisu.

Sasuke mengangguk setuju atas usulan 2 orang itu.

Yamato yang merupakan kapten elite jounin kemudian memberikan beberapa lembar kertas kepada Sasuke. "Itu elite jounin yang bergabung bersama Resistance. Mereka berjumlah 750. Untuk mempermudah kita mengenali mereka, saat kudeta dimulai mereka akan membuka head protector dan memakai band berwarna merah di bisep kiri mereka."

Band merah berbahan kain yang diikatkan di bisep kiri memang merupakan ciri khas anggota Resistance. Merah melambangkan api yang berarti Resistance bercita-cita untuk mengembalikan Konoha seperti sedia kala dengan semangat api.

"Bagaimana dengan para anggota klan besar?" tanya Sasuke memastikan.

Semua perwakilan klan menyatakan siap, kecuali Hanabi yang hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan.

Selanjutnya disusun rencana penyerangan Gedung Hokage dengan terlebih dahulu memetakan kekuatan Konoha dalam sebuah peta besar yang digelar di meja. Dalam hal ini yang turun tangan adalah sang ketua Divisi Persenjataan Konoha, Tenten. Ia orang yang paling tahu seberapa besar sebenarnya kekuatan perang yang dimiliki Konoha.

"Secara garis besar Konoha memiliki 4 lapisan keamanan," kata Tenten memulai penjelasannya. "Lapisan pertama adalah yang terluar dan berada di perbatasan dengan desa tetangga. Memiliki 6 barrack dengan masing masing 2000 jounin. Mereka dipersenjatai ratusan heavy catapult, balista, dan senjata berat jarak jauh lainnya."

"Lapisan kedua adalah antara benteng Konoha dan perbatasan. Daerah ini didominasi oleh perbukitan. Memiliki 4 barrack dengan masing-masing 1500 jounin. Mereka dipersenjatai ratusan mid & short catapult, balista, pemanah, dan shinobi jarak jauh."

"Lapisan ketiga berada di dalam benteng utama Konoha. Memiliki 4 barrack di 4 penjuru Konoha dengan masing-masing 500 elite jounin. Mereka disebar di benteng, menara, dan di seluruh penjuru desa. Mereka kebanyakan shinobi spesialis jarak pendek dan menengah."

"Lalu yang terakhir lapisan keempat ada di Gedung Hokage. Terdiri dari 1000 ANBU reguler dan 100 ANBU khusus. Mereka semua shinobi yang sudah terlatih dan rela mati demi Hokage."

"Jika dijumlahkan, ternyata sangat banyak," kata Kiba. Chouji yang berada di sampingnya mengangguk setuju.

"Ya. Totalnya lebih dari 20.000 personil dari berbagai tingkatan dan kemampuan. Tak heran ini membuat 4 desa takut. Pasca perang ninja ke-4, tak ada desa yang memiliki kekuatan sebanyak itu," jelas Sakura. Ia tetap menyumbangkan idenya meski nanti tak akan ikut menyerang. Ia akan menjaga anak laki-lakinya yang baru berusia 6 bulan.

"Menghadapi pasukan sebanyak ini, apa rencananya?" tanyaku.

Sakura mengambil sebuah spidol merah dan melingkari Gedung Hokage di peta. "Serangan akan dipusatkan di Gedung Hokage karena di sanalah Menma berada. Penyerangan akan dilakukan dini hari saat penjagaan ada di titik paling lemah. Dari pihak luar, Konoha memang terlihat mustahil ditembus. Tapi kita sudah berada di dalam."

Benar juga, saat ini kita sudah berada dalam jarak serang. Kita seperti akan menangkap seekor burung dalam sangkar, tapi kita sudah berada di dalam sangkar bersamanya. Tentu saja itu lebih mudah.

"Selain itu, 50% ANBU berada di pihak kita dan ada di bawah komando Sasuke-kun. Jadi pada dasarnya kita hanya perlu mengatasi 500 ANBU dan 50 ANBU khusus. Kita akan lakukan dengan cepat sehingga Menma tak sempat untuk mengerahkan 20.000 pasukannya untuk datang membantu," tambah Sakura.

Kali ini Sasuke yang berdiri. Ia mengambil spidol lain dan menulis sejumlah angka-angka di peta. "Total anggota Resistance sekitar 1500 personil. Kita harus melakukan kudeta secepat mungkin. Waktu ideal kita 5 menit. Karena dalam lima menit pertama musuh kita hanya 550 ANBU. Tapi lebih semenit saja, kita harus berhadapan dengan 20000 jounin yang datang dari berbagai pelosok desa."

Aku menelan ludah. Beberapa orang di hadapanku juga terlihat cemas. Lima menit bukanlah waktu yang banyak. Lebih dari itu kita akan jadi amukan puluhan ribu shinobi.

"Aku, Sai, Naruto, serta 50 X-ANBU akan jadi tim inti yang masuk ke Gedung Hokage menangkap Menma, sementara sisanya mengambil alih Gedung Hokage dan mempertahankannya sampai kudeta selesai. Kau yang akan membunuh Menma, Naruto."

Aku tertegun. Sebenarnya aku sudah memperkirakan ini akan terjadi. Mengingat kalau nanti aku akan membunuh diriku yang lain membuatku merasa bersalah. Kenapa aku bersikeras melindungi Naru sementara di sini aku malah membunuh Menma?

"Naruto? Bagaimana pendapatmu mengenai rencana kita? Ada yang ingin kau sampaikan?" tanya Sakura.

Semua orang di ruangan menatapku. Aku adalah kunci dalam kudeta ini. Aku orang yang akan melakukan eksekusi terakhir.

"Rencana sudah bagus," jawabku. Mati-matian aku berusaha agar suaraku terdengar normal dalam tekanan yang berat ini.

Di bawah meja, tangan Hanabi terus menggenggam tanganku. Kami saling menguatkan satu sama lain karena kami tahu keputusan ini terlalu berat bagiku dan Hanabi. Dengan persiapan Resistance yang semakin matang serta keacuhan Menma, kami berdua semakin kehilangan harapan. Aku dan Hanabi tak punya kekuatan yang cukup besar untuk menghentikan 2 pihak yang bertentangan ini. Kudeta ini sudah tak terelakkan lagi.


"Di sini 'kan tidak ada siapa-siapa, kenapa tidak buka topengmu saja, Naruto?" tanya Hanabi saat aku masuk ke kamarnya.

Saat ini, 5 jam sebelum kudeta, aku masih seorang ANBU khusus Konoha. Ini adalah malam terakhirku bertugas menjaga kediaman Hyuuga. Akhir-akhir ini Menma lebih banyak menghabiskan waktu di Gedung Hokage. Hinata dan Misa sudah tidur sedangkan Hiashi dan Ko entah kemana. Yang masih terjaga di mansion hanya aku, Hanabi dan beberapa anggota Hyuuga branch yang siap bertempur dini hari nanti.

Aku mengusap bagian samping topeng rakunku, sekedar memastikan kalau topeng ini masih kokoh di tempatnya. Semua orang di mansion tidak ada yang mengenaliku, kecuali Hanabi. Seorang ANBU khusus memakai jubah hitam yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Tubuh kami dipasang segel yang berguna untuk menyamarkan chakra. Suara kami terdengar beda karena menggunakan jutsu khusus untuk mengubah suara yang keluar dari pita suara. Saat bertugas kami tidak punya nama, kami hanya dipanggil berdasarkan topeng yang kami pakai.

"Ini peraturan ANBU. Aku tak boleh membuka topeng ketika sedang bertugas," jelasku pada Hanabi.

"Kau terlalu menaati peraturan padahal sebentar lagi kau bukan lagi ANBU khusus," gumam Hanabi sambil tersenyum. Saat itu ia sedang berbaring di futon, sedangkan aku sedang bersila di sampingnya.

"Anggap saja ini pengabdian terakhirku sebagai seorang ANBU. Dibanding membicarakanku, lebih baik kau tidur selagi masih punya waktu. Dari kemarin kau kurang tidur 'kan?"

"Aku tidak terlalu ngantuk. Aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu."

Aku menghela napas pelan. Sejak sebulan terakhir, sejak aku jadi ANBU khusus, aku tak pernah punya waktu untuk Hanabi. Aku hanya bisa bercengkrama bebas dengannya di pertemuan Resistance. ANBU khusus bertugas 12 jam sehari. Setengah hidup kami dihabiskan untuk mengabdi kepada Hokage.

Kini kami hanya punya waktu 5 jam sebelum kudeta.

Waktu hampir habis, namun petunjuk mengenai alasan Menma memperkuat pertahanan Konoha masih menjadi tanda tanya besar. Menma terkesan menyembunyikannya bahkan dari ANBU khusus dan keluarganya sekalipun.

"Maaf karena aku tak bisa memenuhi keinginanmu. Kupikir dengan menjadi ANBU aku akan menemukan petunjuk," gumamku sambil menunduk, tak berani menatap Hanabi.

"Naruto," panggil Hanabi, menyadarkanku dari pikiran-pikiran yang membebaniku. "Jangan pikirkan permintaanku setahun yang lalu, jangan buat itu jadi beban. Kalau memang Menma harus mati, kita tak bisa berbuat banyak. Mudah-mudahan saja nanti Nee-san tidak sedih."

Setidaknya kalimat Hanabi itu membuatku agak tenang. "Baiklah aku mengerti, aku tak akan menjadikannya beban. Pada dasarnya kita memang hanya 2 orang idealis yang tak mampu berbuat apa-apa."

"Kalau begitu aku ingin melihatmu tersenyum. Kumohon buka topengmu dan perlihatkan senyummu. Aku belum melihatmu tersenyum hari ini."

Aku tersenyum tulus, bocah ini kembali menghiburku di saat-saat yang kubutuhkan. Sepertinya ia hanya menunjukkan sisi manjanya padaku. Di hadapan orang lain dia selalu disegani sebagai ketua klan Hyuuga.

"Baiklah, Hanabi-chan." Aku menaikan sedikit topengku untuk memperlihatkan senyumku. Lalu aku menunduk dan mengecup kening Hanabi. "Sekarang tidurlah, kau tetap butuh tidur. Aku akan membangunkanmu 4 jam lagi. Oyasumi."

Hanabi terkekeh geli. "Hn. Oyasumi."


Jam menunjukkan pukul 4:30 dini hari. Semua anggota Resistance sudah berada di posisinya masing-masing, sesuai dengan yang direncanakan saat pertemuan kemarin. Kami tinggal menunggu perintah Sasuke.

"Sekarang saatnya." Kudengar perintah Sasuke dari earphone di telinga kiriku, sementara earphone di telinga kananku kugunakan untuk memantau kondisi ANBU lain. Setiap ANBU khusus memang diberi earphone untuk berkomunikasi. Setelah kupastikan tak ada ANBU yang menyadari pergerakan Resistance di lantai atas, kubuang earphone itu dan fokus mendengar arahan Sasuke di earphone lainnya.

Semua anggota akhirnya bergerak sesuai bagiannya masing-masing, termasuk aku. Aku bergabung bersama 4 ANBU khusus yang sedang berjaga di depan ruangan Hokage, berlagak seperti tak terjadi apa-apa.

"Hey, Rakun," sapa salah seorang ANBU di sana. "Bagaimana keadaan di Hyuuga Mansion?"

"Aman seperti biasa, sekarang saatnya aku berjaga di sini," jawabku. "Bagaimana di sini? Aman?"

"Aman, terlalu aman. Terkadang aku mengharapkan ada sedikit tantangan dalam pekerjaan ini," jawab ANBU bertopeng harimau dengan asal, disambut dengan pukulan pelan dua ANBU lain di sampingnya sambil tertawa.

Aku ikut tertawa. Harimau bodoh. Sebentar lagi kau akan mendapatkan tantangan.

Tak lama kemudian terdengar bunyi gaduh dari lantai bawah. Pasukan Resistance sudah dihimbau untuk sesunyi mungkin, tapi kelihatannya bentrokan dengan ratusan ANBU di sana tak bisa dihindari.

Kami para anggota ANBU khusus dilatih untuk selalu waspada dalam kondisi apapun. Begitu terdengar bunyi gaduh dari arah lantai bawah gedung, kami bersiap untuk melindungi Hokage. Saat ANBU dari bawah berlari menemui kami dan menyampaikan kabar penyerangan, kami tahu apa yang harus dilakukan.

"Lindungi Hokage!"

Kami semua masuk ke ruangan Hokage, bergabung bersama 4 ANBU lain yang memang bertugas di dalam ruangan. Kami melindungi Hokage dari berbagai sisi. "Maaf Hokage-sama, ada penyerangan ke gedung Hokage. Tetap bersama kami," kata Harimau.

"Siapa yang menyerang?" tanya Menma.

"Mereka menamakan dirinya Resistance. Mereka dipimpin Sasuke."

"Ck! Panda dan Elang, pergi ke rumahku dan lindungi Hinata dan Misa! Singa, suruh semua ANBU untuk melindungi Gedung Hokage bagaimanapun caranya! Ular, suruh jounin lapisan ke-2 dan ke-3 datang membantu ke sini!"

"Hai!"

Setelah 4 ANBU itu jauh, kutatap sisa ANBU di ruangan itu. Ada 5 ANBU selainku yang sedang bersiaga dengan Menma di tengah kami. Sesaat kupikirkan cara termudah dan tercepat untuk melumpuhkan 5 orang itu.

Setelah siap kukeluarkan 2 buah kertas peledak dan 2 kunai. Dua kertas peledak kutempel di punggung 2 orang ANBU di sampingku.

BOOM!

Dua orang ANBU mati.

Kumanfaatkan asap yang tercipta sebagai kamuflase. Kulakukan shunshin ke hadapan 2 ANBU lain dan menusuk mereka di bagian leher, satu-satunya bagian tubuh ANBU yang tak terlindung armour.

Empat ANBU mati, sisa 1 ANBU lagi.

Tanpa membuang waktu lagi kukeluarkan kunai lain dan kualirkan chakra ke sana.

"Rakun! Apa yang k-"

Kunai yang dialiri chakra menjadi berkali lipat lebih tajam dan mampu menembus armour. Sehingga saat kuhunuskan kunai itu ke dada ANBU terakhir, armour-nya hancur dan kunai bisa menembus jantungnya. Bahkan ia tak sempat menyelesaikan kalimatnya.

ANBU beres, sekarang tinggal-

BUKH!

Menma memukul wajahku dengan keras hingga memaksaku mundur beberapa langkah. Topeng rakunku hancur. Padahal topeng ANBU diklaim kuat dan tidak mudah pecah. Bahkan kini mulutku mengeluarkan darah. Aku lupa sedang berhadapan dengan seorang Uzumaki lain yang sama-sama kuat.

"Membunuh 5 ANBU khusus dalam waktu kurang dari 3 detik patut kuacungi jempol. Siapa kau?!" tanya Menma sambil bersiap memasang kuda-kudanya.

Aku tak perlu menjawabnya karena tak lama setelah itu asap menghilang membuat tatapan kami bertemu.

Menma melotot tak percaya. "N-Naruto, kenapa kau lakukan ini?"

Aku berjalan mendekati Menma. Jubah hitam kulepaskan, jutsu dan segel perubah suara dan penyamar chakra kunonaktifkan, tak perlu lagi menyembunyikan identitasku. Kulihat Menma agak mundur. "Aku tak punya pilihan. Kuminta hentikan produksi senjata dan lepaskan gelar Hokage sekarang juga."

Menma tak lagi memasang kuda-kudanya. "Untuk senjata aku tak bisa memenuhinya. Lalu permintaan kedua itu, bukankah aku sudah menawarimu jadi Hokage? Sudah kubilang asal kau menggantikan posisiku aku tak masalah. Aku sudah percaya padamu."

"Sayangnya bukan aku yang akan jadi Hokage."

Menma kembali menatapku, kemudian ia tersenyum kecut. "Orang arogan dan tanpa ekspresi tak cocok jadi Hokage."

Keningku berkerut, Menma tahu siapa yang kumaksud. "Aku belum menyebutkan nama."

Menma kulihat tidak setegang tadi, bahkan ia terlihat tak takut padaku dan kini mendekatiku beberapa langkah. "Aku tak sebodoh itu. Pria Uchiha itu kandidat terkuat setelahmu. Maaf jika kau tersinggung karena aku menjelek-jelekkan sahabatmu. Tapi itu realitanya. Aku tahu dia jenius tapi bukan hanya kejeniusan yang dibutuhkan seorang Hokage. Apa kau pikir seseorang yang pernah menghianati desa dan nyaris membunuh beberapa temannya pantas jadi Hokage?"

Aku tak mampu menjawab. Jika dipikir lagi, kata-kata Menma ada benarnya. Itulah mengapa antara aku dan Sasuke, yang terpilih jadi Hokage Ke-6 5 tahun lalu adalah aku.

"Dewan memiliki pikiran yang sama denganku setahun lalu. Mengabdi sebagai elite jounin belum bisa menutupi catatan kriminalnya. Bahkan dewan lebih memilihku jadi Hokage."

Keributan di lorong menyadarkanku kalau aku sudah kehilangan setengah waktuku hanya untuk bicara dengan Menma. Aku tak punya waktu banyak lagi. "Cukup bicaranya! Kau sedang dalam posisi sulit. Berhasil atau tidaknya kudeta, dan siapapun yang nantinya akan jadi Hokage, kau akan tetap dibunuh. Aku bisa menyelamatkanmu, aku akan membawamu ke Konoha 2."

Aku serius saat mengatakan akan membawanya ke Konoha 2. Ide itu baru terpikir barusan. Mungkin itulah satu-satunya jalan agar Menma selamat.

"Aku tak bisa meninggalkan Konoha 1," jawab Menma keras kepala. "Aku harus melindungi Konoha 1."

"Dasar keras kepala! Melindungi Konoha dari apa?! Kita sudah tidak dalam peperangan jadi tidak dibutuhkan persenjataan sebanyak ini. Ini hanya akan membuat desa lain khawatir."

Menma tak menghiraukanku. Kudorong tubuhnya ke meja dan kuarahkan kunai ke lehernya. "Jawab, Menma!"

"Naruto, kita sedang menghadapi masalah yang lebih besar dari sekedar tahta Hokage dan perang antar desa. Mungkin kau tak merasakannya, tapi aku merasakan sebuah pancaran chakra yang sangat kuingat yang semakin hari semakin mendekat."

Peganganku di badan Menma melonggar. "Yami?" tanyaku ragu.

Kuharap Menma akan bilang tidak. Tapi ternyata dia mengangguk.

"Aku pernah bertarung dengannya jadi aku ingat chakra-nya. Setahun lalu aku masih ingat kalau aku sempat menceritakan Yami padamu, lalu kau menanyakan kenapa aku terlihat begitu tenang padahal Yami mengincarku. Sebenarnya aku tak tenang. Aku takut. Aku hanya pintar menyembunyikannya. Ketakutan itu selalu muncul saat aku melihat Hinata dan Misa. Aku takut kalau Yami membunuh mereka. Aku tak ingin kehilangan keduanya. Hanya mereka yang aku miliki sekarang. Aku tak keberatan memberikan posisi Hokage kepadamu selama kau tetap mengizinkanku terus merekrut shinobi. Itu caraku untuk melindungi Konoha dan keluargaku dari Yami."

"Aku tak bisa. Kekuatan shinobi yang berlebihan membuat desa lain khawatir. Apalagi jika tanpa alasan yang jelas. Kenapa tidak kau ceritakan ini kepada Resistance dan para penduduk? Mungkin mereka akan mengerti dan bisa mencari solusi bersama."

"Kau tak akan percaya sekuat apa Yami jika tak melihatnya sendiri. Aku hanya tak ingin penduduk ikut merasakan rasa takut yang kurasakan. Menjadi Hokage bukan berarti menjadi yang terkuat di desa, tapi berusaha menjaga perasaan seluruh penduduk desa. Menjadi Hokage berarti kau siap melindungi mereka meski mereka menganggapmu tak mempedulikan mereka. Aku tak peduli apa kata mereka, yang kutahu aku selalu berusaha untuk melindungi mereka dari bahaya yang tak mereka kira."

"Tapi-"

BRAKK!

Pintu ruang Hokage didobrak sebelum aku selesai bicara. Lalu muncul Sasuke, kulihat Kiba dan Hanabi ada di belakangnya.

"Kau sulit dihubungi. Apa yang membuatmu lama?! Bunuh dia!" perintah Sasuke.

Aku baru sadar earphone-ku jatuh saat dipukul Menma. Waktu terus berjalan. Kurang dari 2 menit lagi 20000 jounin akan datang.

Aku menunduk, keinginanku untuk membunuh Menma sudah benar-benar hilang.

"Aku tak bisa."

"Apa kau bilang?" tanya Sasuke. Kiba dan Hanabi tak kalah kaget.

"Ugh!" Di tengah-tengah ketegangan itu Menma memegang dadanya. Keringat mengalir dari dahinya dan kedua tangannya bergetar.

"Kau kenapa, Menma?" tanyaku kaget bercampur bingung.

"Chakra yang kelam ini... Tak salah lagi. Yami sudah datang!"

"Apa?!" Yami datang? Kenapa harus sekarang di saat banyak masalah terjadi di Konoha, rutukku.

Menma membentuk segel Hiraishin dan tak mempedulikan kebingungan beberapa orang di antara kami. Ia langsung pergi begitu saja.

"Kenapa kau melepasnya, Naruto? Siapa Yami?!" tanya Sasuke, kini ia sudah tak bisa menyembunyikan kepanikannya. Baru kali ini aku melihat Sasuke sepanik itu. Bagaimana tidak? Rencana yang disusunnya lama terancam gagal dan masa depan Konoha terancam.

"Tenang, teme," ujarku, berusaha menenangkan Sasuke. Padahal aku sendiri panik. "Dialah yang menjadi alasan kenapa Menma merekrut banyak shinobi. Dialah ancaman terbesar yang sebaiknya kita khawatirkan sekarang. Dia sangat kuat dan bisa melenyapkan Konoha dengan mudah."

"Maksudmu dia orang yang juga telah menghancurkan Konoha kampung halaman Menma?" tanya Hanabi memastikan.

Aku mengangguk. "Hanabi, segera kembali ke rumah dan jaga Hinata dan Misa."

Aku tahu sebenarnya Sasuke masih belum percaya sepenuhnya padaku, tapi lama-kelamaan kami mulai merasakan killing intent yang luar biasa. Apalagi saat kami naik ke puncak gedung untuk mencari tahu, aura membunuh itu terasa begitu kuat.

"Chakra apa ini? Aku tak pernah merasakan yang seperti ini sebelumnya. Begitu kelam padahal jaraknya jauh. Firasatku buruk," ujarku. Tanganku gemetar dengan sendirinya. Aku menoleh ke arah Sasuke dan kulihat ia merasakan ketakutan yang sama meski ia lebih pintar menyembunyikannya dari pada aku. Kiba kusuruh menemui Sakura untuk berjaga-jaga.

"Sai," panggil Sasuke kepada Sai yang baru saja sampai di atas. "Beri tahu yang lain, misi kita berubah. Lindungi Konoha," kata Sasuke akhirnya. Lalu Sasuke menatapku. "Bawa aku menemui Menma."

Aku mengangguk. Sasuke memegang pundakku lalu aku melakukan Hiraishin mengikuti Menma.

Tak lama kemudian terbentuk barier chakra berbentuk kubah yang menyelimuti desa dari mulai perbatasan desa . Barier kedua terbentuk di antara benteng dan perbatasan, sementara barier ketiga terbentuk di benteng utama desa. Ternyata di setiap barrack jounin yang diceritakan Tenten, ada sejumlah jounin spesialis pertahanan yang ahli di bidang itu. Jadi itulah rencana Menma. Dia memastikan penduduk aman dengan 3 lapisan barier dan 3 lapisan shinobi. Dengan begitu Konoha terlindung dari serangan darat maupun udara.

BOOOOOM!

Baru sampai di dekat Menma, kami sudah dikagetkan dengan ledakan besar di hadapan kami. Ledakan itu seperti gabungan 1 ton mesiu karena telah mampu membentuk kawah dengan radius sekitar 1 km. Bahkan hembusan ledakannya saja terasa seperti angin puyuh.

Setelah suasana tenang, aku terbelalak. Tembok perbatasan utara dan 1 barrack telah hilang. Itu berarti 2000 jounin telah mati dalam ledakan itu, bahkan jasadnya hilang. Otomatis barier paling luar pun lenyap. Beberapa jounin yang masih hidup menuding kalau itu serangan Suna yang berada tak jauh dari perbatasan.

"Tahan!" teriak Menma. "Itu bukan serangan Suna! Perintahkan satu orang untuk menyuruh Suna berhati-hati. Bilang kepada Gaara untuk tidak ke sini apapun yang terjadi. Sementara jounin yang lain lebih baik kalian masuk ke barier kedua dan berlindung. Jangan ada yang keluar!"

"Apa ledakan itu ulah Yami?" tanyaku.

"Ya, tidak salah lagi. Hanya dia yang bisa melakukan hal semacam itu."

Sebongkah batu berukuran sebesar rumah tiba-tiba terlempar ke arah kami.

Aku yang saat itu terlalu terfokus pada ledakan tak sempat menghindar.

BRAKKK!

Saat kubuka mataku di sekelilingku ada chakra berwarna ungu muda. Aku mendongak ke atas dan kulihat ada susunan tulang rusuk besar di sana. Ini rangka Susanoo. Aku terlindung dari batu besar itu berkat Susanoo. Tapi yang membuatku lebih kaget ternyata Sasuke masih berada di sampingku dan dia bahkan belum mengaktifkan sharingan-nya.

Aku dan Sasuke bertukar pandangan. Perlahan kami menoleh ke depan.

Tampaklah Menma sedang berdiri di depan kami. Chakra ungu itu berasal dari tubuhnya.

"Ini sharingan pemberian sahabatku," katanya. Mangekyou Sharingan aktif di pupil kanannya. "Kalian tak apa-apa?"

Kami berdua mengangguk.

"Refleks yang cukup bagus," kata seseorang dengan suara yang agak serak.

Menma menoleh ke depan. Susanoo ia nonaktifkan agar penglihatannya lebih jelas ke arah depan.

Di sana nampaklah pria berambut pirang, dua matanya berwarna merah menyala.

"Lama tak jumpa, Namikaze Menma."

Menma mengepalkan kedua tangannya.

"Yami!" desisnya.

Sekilas Yami memang mirip denganku. Namun jika diperhatikan, banyak sekali perbedaan di antara kami. Rambut pirang Yami berantakan, tanda lahir di pipinya lebih kasar melebihi Menma, pupilnya berwarna merah menyala, kuku tanganya panjang. Ia memakai pakaian serba hitam. Kaos hitam tanpa lengan yang robek di beberapa bagian, celana panjang, dan boots hitam. Yang lebih mencolok adalah chakra-nya yang berwarna hitam kelam. Ia diselimuti aura membunuh yang sangat kuat. Ia tidak mengontrol chakra-nya dengan baik. Bahkan Yami terkesan sengaja memancarkan chakra kelamnya itu keluar dari tubuhnya, menghembus keluar dari kedua pergelangan tangannya. Apa chakra-nya sangat besar hingga ia tak sayang membuang-buang chakra-nya sendiri?

Aku berjalan mendekati Yami untuk lebih jelas melihat sosok diriku dari dimensi lain itu.

"Naruto, jangan terlalu dekat!" cegah Menma.

Aku mengangkat tangan, mengisyaratkan kalau aku tidak akan terlalu dekat. "Yami!" teriakku. "Apa tujuanmu membunuh Menma?"

Yami menatapku dari ujung kaki ke ujung kepala, lalu ia tertawa. "Dengar baik-baik blondie! Aku tidak butuh alasan untuk membunuh orang."

A-apa?

Ada rasa kesal yang langsung muncul dalam diriku begitu kalimat itu terlempar dari mulut Yami. Berarti 2000 orang yang mati tadi pun dibunuh begitu saja tanpa alasan yang jelas. Segera aku melesat menuju ke arahnya.

"Tunggu Narutooo!" teriak Menma, aku tak mempedulikannya.

BUKH!

Kupukul wajah Yami dengan telak. Yami tak berusaha menghindar. Ia membiarkan dirinya terpukul. Kuserang ia dengan bertubi-tubi. Pukulan, tendangan, dan sikutan kulayangkan bergantian. Namun ia masih tetap diam. Apa ia sengaja?

Aku mundur beberapa langkah untuk mengatur napas.

Perlahan Yami bangun, mengusap darah di dagunya, dan membersihkan celananya yang kotor.

"Membosankan," cibirnya. "Kau sudah selesai? Hanya itu yang kau punya?" tanya Yami sambil meregangkan ototnya.

Aku tak percaya. Aku tadi memukulnya dengan sekuat tenaga, mana mungkin Yami tak kesakitan sedikitpun.

"Giliranku!" Sepersekian detik setelah Yami mengatakannya, ia sudah berada di hadapanku dan tahu-tahu kepalan tangannya sudah memukul perutku.

"Guhhh!" Perutku serasa terkoyak. Darah segar keluar dari mulutku.

"Naruto!" Teriakan Menma terdengar samar di telingaku.

Tak lama kemudian aku tumbang ke depan, memeluk perutku yang sakit bukan main.

Dengan santainya Yami duduk di punggungku. "Itu baru yang namanya pukulan," ejek Yami.

Aku tak terlalu tahu apa yang terjadi selanjutnya karena setelah itu Menma dan Sasuke menyerang Yami. Mereka bertiga terlibat pertarungan sengit.

Setelah beberapa saat, kupaksakan untuk bangun. Kulihat Menma dan Sasuke juga kerepotan melawan Yami. Ada sesuatu yang membuat kekuatan serta kecepatan Yami di atas normal. Aku belum pernah melihat orang bertarung secepat itu, bahkan Lee juga tak secepat itu. Rupanya aku terlalu meremehkan Yami. Sekarang bukan saatnya untuk santai-santai. Kuaktifkan mode Kyuubi dan bergabung dalam pertarungan.

Menma dan Sasuke masih melancarkan pukulan bertubi-tubi ke arah Yami. Pengguna sharingan memang bisa kau andalkan dalam hal kecepatan, mereka lebih cepat dari pada aku. Tepat saat Yami melompat ke belakang untuk menghindari pukulan Sasuke, aku menghadangnya dari belakang, kuhadiahi dia dengan tendangan di punggungnya ke arah atas. Seakan itu tak cukup, aku melakukan shunshin ke atas tubuhnya dan memukul perut Yami. Menma dan Sasuke tak mau kalah. Mereka menyambut Yami di bawah dengan tinjuan.

Yami terlempar ke bebatuan dengan keras.

"Kuharap tendanganku barusan sesuai harapanmu, Yami," ujarku kesal.

Serupa dengan chakra normal, serangan yang diselimuti chakra Kyuubi pun akan bertambah kuat puluhan kali lipat.

Kudekati Menma dan Sasuke. Keduanya sedang terengah-engah mengatur napas. Kupegang pundak Sasuke untuk sekedar mengobati luka-luka di badannya menggunakan chakra Kyuubi, sedangkan Menma pasti sudah dibantu Kurama miliknya.

Brukh...

Bebatuan terangkat saat Yami bangkit.

"Tiga lawan satu. Pertarungan ini semakin menarik," gumam Yami. Aku tahu pukulan kami yang beruntun tadi membuatnya sakit. Yami mengangkat kedua tangannya ke atas. Chakra berwarna hitam berkumpul di atas tangannya, membentuk 2 bola energi berukuran besar.

"Jika kalian mengajak bermain cepat. Baiklah aku layani. Aku tak akan membuang waktu lagi. Keperkenalkan kepada kalian, Dark Rasengan!"

Aku dan Menma bertukar pandangan lalu kembali menatap rasengan yang Yami sebut Dark Rasengan.

"Itu bukan rasengan biasa. Energinya makin membesar. Kalau itu meledak, bisa terjadi ledakan dahsyat seperti tadi," ujarku.

Menma mengangguk setuju dan mengaktifkan mode Kyuubi. "Naruto, kita gunakan rasengan untuk melawannya."

"Baiklah."

Sasuke terlihat mengumpulkan chakra-nya untuk membentuk Susanoo. "Aku akan menyerang dari sini, kalian pergilah!"

Detik demi detik berlalu dan Dark Rasengan milik Yami semakin membesar. Rasengan kami pun kini sudah siap.

"Sekarang Naruto!" teriak Menma

Kami berlari mendekati Yami. Lagi-lagi ia tak bergeming. Aku dan Menma tak pedulikan itu, yang penting rasengan milik Yami hancur.

"Rasengan!""Rasengan!"

Empat rasengan beradu. Bersamaan dengan itu panah Susanoo milik Sasuke melesat ke arah Yami. Gesekan antara 4 rasengan menciptakan suara yang memekikan telinga. Tapi itu tak berlangsung lama.

Rasengan berwarna biru miliku dan Menma terserap ke dalam Dark Rasengan. Tak disangka panah yang tadi mengarah ke badan Yami pun ikut tertarik. Begitu juga dengan kilatan-kilatan chakra orange yang keluar dari tubuhku, perlahan tertarik ke dalam Dark Rasengan.

Aku dan Menma mundur serentak.

"Jangan gunakan ninjutsu murni! Gunakan senjutsu! Dark Rasengan punya sifat yang mirip dengan kemampuan Sage of The Sixs Path! Dia menyerap chakra!"

Menma menurut dan mengaktifkan mode sage. Kedua matanya kini berupa gabungan mata rubah dan mata kodok, begitu juga dengan mataku. Sasuke melakukan hal yang sama dengan manggabungkan chakra yang dulu Juugo berikan padanya.

"Hahahaha... Kalian terlambat menyadari. Dark Rasengan terlanjur menyerap semua energi yang kalian gunakan dan mencampurkannya dengan chakra hitam milikku. Saat dua atau lebih jenis chakra bergabung, keduanya akan beresonansi dan menciptakan chakra baru yang lebih dahsyat."

Kelihatannya Yami tidak bicara omong kosong. Energi yang terpancar dari kedua bola energi itu terasa lebih kuat dibanding yang pertama, saat aku berada di Gedung Hokage.

"Selamat tinggal Konoha!" Yami melempar bola energi ke arah desa dan satu lagi ke arah shinobi Suna di perbatasan desa.

Sial!

Menma segera melakukan Hiraishin mengejar Dark Rasengan pertama sedangkan aku mengejar yang kedua. Sasuke tetap menembak Yami dengan panah Susanoo-nya berharap dua Dark Rasengan akan lenyap jika Yami terluka. Nyatanya saat tangan kiri Yami terkena panah, 2 bola energi itu tetap melesat ke arah tujuannya.

BOOOMMMM!

Ledakan tak terhindarkan. Aku memang sempat memindahkan sebagian besar ledakan ke tempat lain dengan Hiraishin, tapi sepersekian ledakan tetap meledak di dekat perbatasan. Ribuan shinobi terlempar saking kuatnya ledakan. Padahal Gaara sudah membuatkan benteng pasir, tapi tetap tak bisa melindungi pasukannya. Entah berapa ribu yang mati.

Ledakan kedua terjadi tak lama setelah itu. Aku bersyukur masih bisa merasakan chakra Menma beberapa saat setelah ledakan, berarti ia selamat. Tapi di hadapan Konoha kini terbentuk kawah dengan ukuran yang lebih besar dari sebelumnya. Barier 2 dan 3 hancur sekaligus. Gerbang depan Konoha yang fenomenal pun ikut hancur. Aku tak bisa bayangkan seandainya aku dan Menma tak sempat memindahkan ledakan ke tempat lain.

Aku kembali ke dekat Sasuke. Sesekali ia terlihat menahan sakit di matanya karena kelelahan menggunakan Susanoo dalam waktu lama.

Tapi sepertinya usaha pemuda raven itu menunjukkan hasil. Tangan kiri Yami yang terkena panah Susanoo memperlambat gerakannya. Menma tak membuang waktu dan segera menahan Yami dengan tangan yang terbuat dari chakra Kyuubi. Ia sepertinya tak mau mengambil resiko jika Yami kembali membuat Dark Rasengan.

Menma lebih beruntung dari padaku, ia masih punya banyak chakra Kyuubi yang tersisa. Ia membuat beberapa tambahan tangan dari chakra Kyuubi untuk semakin mengikat Yami.

"Apa yang kau lakukan Menma?" tanya Yami kesal.

"Ini bukan sekedar cengkraman yang terbuat dari chakra Kyuubi. Aku menyertakan fuinjutsu untuk menekan chakra."

Sekilas aku melihat rantai yang mengikat tubuh Yami dan Menma. Aku pernah melihat rantai seperti itu. Itu rantai yang digunakan ibuku untuk membantuku menguasai chakra Kyuubi.

"Ini kombinasi yang diajarkan ayah dan ibuku. Ini hal terakhir yang diajarkan mereka sebelum mereka kau bunuh," desis Menma. Ia mempererat ikatan di badan Menma.

"Ughhhh! Berengsek kau Kushina, Minato!" teriak Yami. Ia memancarkan chakra hitam lebih besar, meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari Menma.

"Sasuke, Naruto," panggil Menma. "Gabungkan kekuatan kalian dan bunuh Yami. Kekuatan Yami tak bisa dianggap remeh sehingga kalian harus mengeluarkan kekuatan terbaik kalian."

Aku dan Sasuke saling berpandangan. Jurus yang cocok untuk digabungkan adalah Enton: Gakutsuchi dan Rasen Shuriken. Kedua jurus itu sudah terbukti kehebatannya di perang dunia ninja ke-4.

"Tapi jika jurus itu digunakan..." Sasuke tak melanjutkan kalimatnya.

"Serangan itu akan ikut membunuhmu, Menma," lanjutku. Aku sama sekali tak setuju jika harus menggunakan jurus itu.

"Tidak apa-apa. Itu kewajibanku sebagai Hokage," balas Menma.

"Tapi kau tidak layak mati seperti itu. Itu terlalu kejam." Gabungan kedua jurus itu sangat hebat. Bahkan Juubi saja kalah. Jika jurus itu digunakan pada Yami, Menma akan ikut terkena karena jurusnya besar sedangkan targetnya kecil. Membayangkannya saja aku sudah ngeri.

Tanpa kuduga, Menma malah tersenyum. "Apa yang kau katakan? Ini impian seorang Hokage untuk bisa mati melindungi desanya, meskipun aku bukan berasal dari sini. Ini juga merupakan impian seorang suami sekaligus ayah untuk bisa mati demi melindungi istri dan anaknya. Paling tidak setelah ini aku yakin keluargaku dan seluruh penduduk Konoha akan aman."

"Tapi-"

"Aku pernah bertarung dengannya! Yami lebih kuat dari apa yang kalian bayangkan. Dia belum mengeluarkan kekuatan sepenuhnya. Cepatlah waktu kalian tak banyak. Ini satu-satunya kesempatan kalian. Jangan sia-siakan."

Aku menatap Sasuke, kemudian mengangguk. Meski berat, tapi harus kami lakukan agar tak membuat usaha Menma sia-sia.

Sasuke mengumpulkan chakra-nya yang tersisa. Susanoo-nya yang tadi hanya berupa tengkorak saja kini kembali memiliki daging dan armour, bahkan kaki. Dibentuklah panah baru, kali ini dengan menambahkan api amaterasu di sana. Ia sudah siap membidik Yami.

Aku juga melakukan hal yang sama, kukumpulkan sisa-sisa chakra Kyuubi yang kumiliki. Kuaktifkan kembali mode Kyuubi dan kubentuk Rasen Shuriken.

Aku memejamkan mataku, menekan air mata yang memaksa keluar.

Maaf telah salah menilaimu, Menma. Di samping keputusan kontroversialmu membuat begitu banyak senjata dan pasukan shinobi hingga nyaris menyebabkan perang. Kenyataannya kau memang seorang Hokage yang baik. Kau selalu memikirkan pendudukmu di atas apapun. Konoha bangga punya Hokage sepertimu.

"SEKARANG!" teriak Menma.

Aku dan Sasuke melepas jurus kami secara bersamaan, mengarahkannya pada target yang sama.

"Enton: Susanoo Gakutsuchi!" "Rasen Shuriken!"

Terbentuklah rasen shuriken yang dilapisi api amaterasu, terlempar cepat menuju badan Yami... dan Menma.


Badan Yami dan Menma terbakar api amaterasu. Aku sama sekali tak tega melihatnya. Aku membalikan badan dan menatap Konoha.

Untuk melindungi Konoha selalu saja dibutuhkan pengorbanan. Kali ini sang Hokage Ke-6 yang jadi korban. Chakra-nya sudah hilang, ia sudah mati. Meski bukan berasal dari sini, Menma sudah menganggap Konoha seperti desanya sendiri hingga rela mati mengorbankan dirinya.

"Awas Naruto!"

"Arghhh!"

Aku tersungkur ke tanah. Seseorang menarik kakiku hingga terjatuh!

Aku berbalik dan melihat Yami di sana sedang menarik kakiku. Kenapa dia begitu kuat? Padahal sekarang api Amaterasu sedang membakar hampir seluruh badannya, kecuali kepala dan kedua tangan.

"Tidak secepat itu, Naruto! Asal kau tahu, Menma bukan satu-satunya yang ingin kubunuh di sini, hahahahaha," kata Yami dengan suara serak khasnya. Tawanya itu semakin membuatnya terlihat seperti orang psycho.

Sasuke akan menolongku tapi berhenti saat Yami kembali mengeluarkan Dark Rasengan dan mengarahkannya pada perutku. Salah-salah, kami akan mati bersama jika Dark Rasengan kembali meledak. Sasuke akhirnya menolongku dari jauh, ia mengontrol api Amaterasu agar menyebar ke kepala Yami.

Yami yang sedang mengontrol chakra hitam di tangan kanannya jadi tak fokus.

Dalam keadaan terdesak seperti itu, hanya satu yang terpikir olehku, yaitu berpindah dimensi dengan membawa serta Yami bersamaku.

"Teme! Dengarkan pesan terakhirku," teriakku pada Sasuke. "Jadilah Hokage yang tak kalah hebat dari Menma! Maaf dulu aku pergi tanpa pamit padamu. Kali ini aku akan pamit."

Sasuke kaget mendengar kata-kataku. "Pamit? Hei, Dobe! Jangan bilang kau akan pergi lagi!"

Aku tersenyum. Akhirnya Sasuke memanggilku dengan panggilan itu lagi. Mengingatkanku pada persahabatan lama kami. Kuusap darah di telapak tanganku lalu kubuat suatu kombinasi segel.

"Kau boleh pergi tapi harus kembali ke sini!" teriak Sasuke. Mata kirinya mengeluarkan darah karena efek penggunaan Amaterasu.

Aku tak menanggapi kalimat Sasuke. Aku tak yakin selamat oleh Dark Rasengan kali ini. Chakra-ku sudah hampir habis. Paling tidak aku ingin diingat sebagai Naruto yang berjuang menyelamatkan Konoha, bukan Naruto yang meninggalkan pelantikan Hokage. Jika Menma saja yang bukan berasal dari sini mau mengorbankan dirinya demi Konoha, kenapa aku tak mau?

"Dobe!"

Segel-segel yang kubentuk hampir selesai.

"Arrgghhhh! Awas kau Narutooo!"

Yami masih berusaha menyerangku tapi Sasuke terus memperbesar api di tubuhnya hingga kini mencapai leher. Dengan sisa tenaga yang ada, kutarik tangan kiri Yami dan kutahan dengan sikutku. Sementara tangan kanannya yang memegang Dark Rasengan kutahan dengan kedua kakiku. Kupastikan dia ikut terbawa bersamaku ke dimensi lain.

Kedua tanganku bersatu untuk mengakhiri kombinasi segel perpindahan dimensi.

Kulemparkan senyum terakhirku ke arah Sasuke. "Tolong sampaikan maafku kepada Hanabi."

"DOOOBE!"

To Be Continue…


© rifuki