Naruto © Masashi Kishimoto

Exterminate Time © liaprimadonna

Pairing; Narusasu

OOC syangadt. Typos, Drama.

.

.

Sasuke bermimpi.

Dalam mimpinya, ia kembali berada dalam sekap ruang yang sempit. Suasananya gelap dan tak ada udara sama sekali. Sesekali menghirup napas, hanya debu yang terhisap. Disentuhnya dada yang masih terbalut piyama, sesaknya masih terasa meskipun mimpi sudah lewat. Lagipula ia tidak berada di tempat sempit itu, ia di rumahnya, dapurnya.

Mimpi buruk itu.

Sasuke memang tak lepas daripadanya, setiap malam bermimpi tentang kejadian tragis yang terus menerus diulang tanpa jeda. Kejadian yang terburuk itu, mau berapa lama lagi menghantuinya? Ia juga lelah. Ia butuh rehat dari rasa takut.

"Sasuke?"

Sasuke refleks menoleh, menemukan Itachi di belakangnya.

"Aku akan pergi tigapuluh menit lagi. Bisakah kau buatkan kopi untukku juga?"

Hanya mimpi. Benar. Walau sesaknya masih ada, bagaimanapun itu hanya mimpi. Mimpi yang mencerminkan masa lalu.

Itachi mengerutkan dahi melihat Sasuke terdiam. "Dengan dua sendok teh gula," lanjutnya.

"Ke mana kau akan pergi?" tanya Sasuke, mengambil satu cangkir lagi untuk sang kakak.

"Menemui seorang gadis."

Hal yang sangat langka itu membuat Sasuke terkejut. Itachi memang sudah hampir kepala tiga. Selama ini Sasuke tak pernah tahu bahwa kakaknya sudah menggandeng seorang gadis. Apalagi memperkenalkan gadis itu padanya.

"Jadi, sudah saatnya, ya?"

Itachi menoleh, tangannya masih mengait dasi di kerah. "Hm?"

Bunyi adukan sendok di cangkir beradu. Dua sendok teh gula sesuai pesanan Itachi sudah tercampur.

"Sudah saatnya kau membawa gadismu untuk menemuiku."

Itachi justru tertawa.

"Ada yang lucu?"

"Apa kau sudah tidak sabar menggendong keponakan?" Itachi berkelakar. Lalu mengangkat bahu. "Tapi sayang sekali, yang kutemui sekarang bukan calon iparmu, Otouto."

"Siapa?"

"Kau akan mengetahuinya nanti."

Entah kenapa saat itu wajah Itachi tiba-tiba menjadi serius. Ia terlihat menghela napas sesekali. Sasuke bungkam.

Siapa?

"Ini kopimu."

"Jangan terlalu kau pikirkan."

Meskipun Itachi berkata begitu, nyatanya Sasuke tak bisa berhenti memikirkan apa pun. Dua hari yang lalu seharusnya Itachi sudah kembali ke Konoha karena pria itu merasa harus menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda di sana. Namun, tiba-tiba saja ia berkata bahwa ada hal lagi yang harus dilakukannya di Tokyo.

Sasuke merasa gelisah. Sesuatu? Apa? Ia akan menyalahkan dirinya sendiri jika sesuatu yang menunda kepulangan sang kakak adalah tentang masalah yang tengah dihadapinya.

"Ke mana kau akan pergi?"

"Kau sudah menanyakan itu?"

"Ke mana?"

"Sasuke."

"Jawablah."

Kali ini, Itachi segan meneguk kopinya. Ia meletakkan cangkir di meja keramik.

"Kopinya kurang hitam," katanya, meraih toples kopi bubuk. "Aromanya tidak seperti kopi."

"Itachi."

Tangan Itachi meraih rambut Sasuke, lalu menggusaknya. "Aku akan memberitahumu. Sarapanlah bersama, ajak Naruto juga."

Sang kakak meninggalkan Sasuke ke ruangan lain dengan membawa kopinya. Serta merta Sasuke menyibukkan tangannya dengan dua cangkir di meja. Naruto belum bangun pagi ini. Tentu saja, pria itu bukan morning person.

Sudah sejak kemarin Naruto kembali bekerja di kantor surat kabar meskipun Sasuke masih melarangnya. Sebenarnya Sasuke sudah beberapa kali meminta Naruto untuk berhenti, tapi pria itu sangat keras kepala. Selama masih ada Sai di kantor itu, Sasuke masih belum merasa tenang.

Sampai saat ini Sai belum melakukan apa-apa. Namun ancamannya tempo lalu, tidak mungkin main-main.

"Naruto?" panggil Sasuke saat ia membuka pintu kamar. Kekasihnya tengah terduduk di tengah ranjang dengan selimut sebatas perut. Sasuke meletakkan susu hangat dan kopinya ke nakas. "Kau sudah bangun?"

Naruto mendongak padanya. Pandangan mata biru itu tak lepas bahkan ketika Sasuke sudah duduk di tepi ranjang.

"Naruto?" panggil Sasuke lagi. Yang dipanggil hanya menatapnya kosong. "Tidak apa-apa jika kau masih mengantuk, kau bisa tidur lagi. Sekarang masih jam tujuh."

Pria blonde itu masih diam. Keningnya berkerut-kerut seolah tengah memikirkan hal berat.

"Apakah lukamu sakit lagi?" Nada Sasuke agak rendah dari sebelumnya. "Sudah kuduga kau seharusnya kau tidak bekerja dulu."

Kali ini, Naruto sedikit bereaksi dengan memutar bola matanya. Ia memajukan sedikit kepalanya dan mengecup singkat bibir Sasuke.

"Ocehanmu yang membuat kepalaku sakit."

"Hm?"

Selimut ditarik terbuka oleh Naruto. Kakinya dijejakkan ke lantai dingin. Ia tersenyum dengan wajah sumringah sambil meraih kopi. Sasuke makin mengernyit.

"Dobe, itu kopiku."

Naruto menjulurkan lidahnya. "Uh, pahit seperti biasa."

Sasuke menghela napas. "Kau harus meminumnya sambil menatapku, mungkin rasanya bisa berubah manis."

Butuh beberapa detik bagi Naruto untuk mencerna ucapan itu. Dan detik berikutnya ia tertawa keras.

"Sejak kapan kau bisa berkata sepercaya diri itu?" Ia tertawa sambil menekuk badannya ke depan. "Astaga. Menggelikan. Aku tidak bisa berhenti tertawa."

Sasuke menghela napas.

Naruto meliriknya disela-sela tawanya. "Hei? Kau marah?" Ia merangkul bahu Sasuke. "Kau agak sensitif belakangan ini."

"Aku tidak marah."

Naruto angkat bahu, tangan satunya kembali menjulur mengambil cangkir kopi. Diteguknya banyak-banyak.

Setelah itu cangkir ditaruh lagi.

Sasuke mendapat lirikan ambigu dari pria itu. Wow. Mata Naruto memang membius kapan saja birunya menatap. Sebelum sempat bertanya maksud lirikan itu, kepala Sasuke ditarik ke depan. Dan ia merasakan bibir Naruto membungkam lagi. Kali ini ada rasa lain di bibirnya ... yaitu kopi.

"Ngh."

"Telan."

Saat pagutan terlepas, barulah wajah Sasuke memerah seperti tomat. Teguk cairan yang ditelannya melewati kerongkongan. Ia mendelik sebal. Sering melakukan ciuman pagi bersama Naruto masih saja membuatnya kepalanya panas.

"Kau benar," kata Naruto, "rasanya jadi jauuuh lebih manis."

Kali Sasuke yang memutar bola matanya. Ia bangkit berdiri.

"Turunlah. Kita akan sarapan bersama."

Naruto mengendur lesu. "Heee, malas."

"Ada yang ingin dikatakan Itachi kepada kita."

"Apa Suigetsu sudah pergi?"

Hal itu masih menjadi alasan kepada Naruto enggan sarapan pagi di rumah Juugo.

Sasuke lantas menjawab dengan gelengan. Naruto langsung menggelung tubuh sambil memeluk bantal. "Bilang pada kakakmu, aku masih tidur."

"Baiklah."

Jawaban itu meluncur cepat tanpa keraguan. Naruto tak senang sama sekali. Ini lebih seperti yang ia duga bahwa Sasuke akan menuruti semua perkataannya. Tapi itu membuatnya jadi tidak menarik. Sasuke masih sama seperti kemarin, kaku. Maka harus Naruto yang mengubah cara bersikapnya.

"Aku mau cuci muka dan gosok gigi," katanya lesu, mengangkat kaki ke kamar mandi di kamar mereka. "Tunggu aku sepuluh menit."

Dan Sasuke hanya tersenyum.


"Tch! Selera makanku langsung buruk ketika mencium bau bakteri seorang preman di sini."

Naruto spontan melirik pada siapa yang baru saja mengatakan hal itu.

Suigetsu.

Bukannya tidak bisa melawan atau terpaksa mengalah, namun Naruto enggan membuang habis suara untuk sepupu Sasuke yang menurutnya tidak tahu malu itu.

Bayangkan saja, ini bukan lagi menyoal tentang bau siapa yang harus terhirup, tetapi tentang siapa yang harus angkat kaki karena keberadaannya sama sekali tidak dibutuhkan.

Oh. Naruto mengakuinya. Ia tidak butuh mendengar ocehan dari bibir imajiner tebal yang bisanya berkata buruk saja.

Awalnya Naruto mengakui bahwa ia numpang di sini. Sekarang ia punya alasan kuat lain kenapa ia harus tetap menetap di sini.

"Kenapa terburu-buru?" Itachi berbasa-basi.

Suigetsu sekali lagi mendenguskan napasnya sambil menyipit ke arah Naruto. Tidak menjawab. Hanya kursi yang berderit kasar karena terdorong ke belakang dan juga entak kaki menjauh.

"Aku heran kau masih bisa tahan di-bully olehnya, Naruto?"

Naruto berdecih menjawab, "Kedengarannya memang serius dan menyebalkan, tapi melihatnya kesal justru membuatku senang."

Itachi, terus terang, kaget mendengar penuturan itu. Kalau begini Naruto terlihat seperti pria antagonis yang suka memancing emosi lawan.

"Tak heran," katanya. "Baik, dengarkan ini. Pagi ini aku akan menemui seorang gadis yang akan menjadi saksi untuk gugatan kedua yang aku ajukan ke kantor polisi. Setelah itu aku akan pergi ke kantor polisi untuk melanjutkan laporan dengan membawanya serta."

Naruto menatapnya.

"Naruto, jam berapa kau berangkat kerja?" tanya Itachi.

"Jam empat."

"Sebelum itu apa kau keberatan untuk bertemu dengan gadis ini bersama dengan Sasuke?"

Sasuke tidak menginginkan perpanjangan kasus lagi. Meski tahu betul siapa dalang kasus dari kejadian-kejadian buruk yang dialaminya belakangan ini, Sasuke hanya ingin akhir. "Aku tidak ikut." Suaranya lirih.

"Tapi Sasuke," kata Itachi, "tentu saja kau harus ikut. Keteranganmu sangat dibutuhkan polisi. Kau pasti tidak mau hidup dalam ketakutan lagi. Kecuali kau mau Naruto terus terlibat dalam masalah ini."

Sasuke benci harus diingatkan soal itu.

Tekanan udara pagi itu terasa mendesak masuk ke kepalanya, sementara tangannya mendingin. Sasuke mencengkeram pinggiran meja makan dengan erat lagi. Pandangannya melirik pada Naruto, dan pria itu tengah menatapnya juga.

"Tidak masalah," potong Naruto, menyelipkan jemarinya ke tangan Sasuke. "Aku bisa menggantikan kesaksian Sasuke juga."

Sasuke berdecak tanpa sadar. "Aku belum menceritakan apa pun padamu."

Ah, ya, tapi Naruto tahu secara garis besar.

"Ceritakan padaku nanti."

Juugo yang sejak tadi diam, menyela, "Kurasa Itachi benar, lebih baik kau ikut ke menemui gadis itu, Sasuke."

Naruto menatap Juugo, kemudian menatap Sasuke. "Kau tahu, aku tidak akan memaksamu. Biarkan saja kali ini aku membantu, jangan merasa terbebani oleh apa pun."

"Aku merasa lelah."

"Aku ingin menceritakan ini padamu, sebenarnya aku dan pria itu memang sudah berselisih ketika dia masuk menjadi pegawai baru di kantor. Kalaupun dia ingin mencelakaiku, itu semata-mata karena dia ingin balas dendam karena perlakuanku padanya." Naruto mengusap jari Sasuke. "Ini bukan gara-gara kau. Percayalah padaku, Sasuke."

Pikiran Sasuke berpacu, saling terkait. Tapi akhirnya mengerti kenapa Naruto bisa tahu kalau Sasuke merasa terbebani karena masalah Sai.

Juugo pasti sudah bercerita padanya sedikit banyak.

"Baiklah, aku tidak bisa memaksamu kalau begitu," kata Itachi.

"Jam berapa?"

"Hm?"

Pandangan Sasuke tertuju pada Itachi. "Jam berapa kami harus menemuinya?"

"Jam dua," jawab Itachi.

Kemudian tidak ada yang berbicara lagi.

Sementara di sisi lain ada hal yang membuat Naruto penasaran mengenai saksi yang disebutkan Itachi. Kalau tebakannya benar maka saksi itu adalah Sakura. Gadis itu pernah disebut Sasuke ingin meracuninya di restoran tempo lalu.

"Saksi itu ... apakah Sakura?"

"Ya," kata Itachi.

"Siapa dia?" tanya Juugo setelah meneguk air terakhirnya.

"Teman kantorku," kata Naruto, saat mengatakan ini ia melirik ke arah Sasuke. "Dulu dia juga merupakan teman satu universitas denganku dan Sasuke."

"Aku berniat mencari tahu tentang gadis itu setelah pengakuan Naruto waktu itu. Dan baru hari ini aku membuat janji temu dengannya."

Sasuke meliriknya. "Itukah yang membuatmu menunda kepulangan ke Konoha?"

Pertanyaan Sasuke mengambang di udara begitu saja.

Itachi mengambil serbet dan mengusap mulutnya dengan pelan. Tanpa menjawab, ia memundurkan kursi, berdiri tegak. "Sampai bertemu siang nanti," katanya, membiarkan tapak kakinya mengetuk lantai menjauh dari ruang makan.

"Aku juga akan berangkat sekarang," kata Juugo. "Sasuke, tolong kunci pintu saat kau pergi nanti."

Sunyi senyap.

Juugo juga pergi. Ruangan hanya bersisa Naruto dan Sasuke saja. Keduanya diam seumpama patung.

"Habiskan makananmu," tegur Naruto yang sudah siap dengan sumpit di tangannya. "Jangan memikirkan apa pun."

"Aku belum menceritakan padamu tentang Sai."

Naruto membasahi bibir sebentar. "Kau bisa menceritakannya saat kau siap."

"Sai adalah mantan pacarku."

Kali ini gerakan Naruto benar-benar berhenti. Ia menoleh ke arah Sasuke. Dan saat itu tangan Sasuke sudah siap menangkup pipinya dan menyesap bibirnya lamat-lamat. Tentu saja, Naruto kaget, namun ia jadi menguasai diri dan segera mengambil alih ciuman itu. Hingga pagutan mereka lepas sehabis kehilangan napas.

Fakta yang baru saja dikatakan Sasuke sudah ia ketahui melalui mulut Juugo dua hari yang lalu, ia tak terlalu terkejut lagi. Naruto ingat pesan Juugo untuk tak terlalu sering membahas pria itu ketika bersama Sasuke.

Dan ia mencoba melakukan itu sebaik mungkin.

"Setelah makan bagaimana kalau kita mandi bersama?" Naruto bertanya antusias. "Sudah lama tidak ada yang menggosok punggungku."

"Baiklah."

"Oh, well, sepertinya selain mandi kita bisa juga bermain sabun, kan?"

Butuh beberapa detik bagi Sasuke untuk mencernanya. Lalu ia berkata, "Baiklah."

Mukanya tersipu.


"Aku ingin bir."

"Aku sudah menyiapkannya di kulkas."

"Oh," kata Naruto, sedikit terkejut. Langkah kakinya tak segan menuju ke dapur. Lalu kembali lagi dengan dua kaleng bir. Satu untuk Sasuke.

Pengait kaleng dibuka. Mereka mendentingkan kaleng.

"Tapi aku tidak minum," aku Sasuke, memerhatikan jakun Naruto naik turun menenggak alkohol.

"Hanya satu tak akan membuatmu mabuk."

"Toleransiku terhadap alkohol sangat rendah, Dobe."

"Bagaimana kau tahu? Kau pernah meminumnya?"

Wajah Sasuke tetiba seperti gelagapan mendapat pertanyaan itu. Ia menaruh kaleng bir di meja nakas. Tak menatap Naruto.

"Hei?" Naruto meraih bahu Sasuke. "Kenapa? Mau bercerita?"

Sasuke menggeleng, matanya hanya terpusat di lantai.

"Sudah saatnya kau bercerita tentang Sai, bukan? Aku tak keberatan jika kau tidak bercerita sekarang, tapi hatimu tak bisa menahannya lagi."

Memang benar. Apa yang hatinya butuhkan adalah rasa lega.

"Tapi aku merasa kau tak akan senang nendengarnya."

"Itu mungkin saja."

Mata Sasuke menatap Naruto dengan penuh. "Sai, dia adalah pacar pertamaku." Sasuke memulai. "Kami berpacaran selama kurang lebih sebulan saat sekolah. Awalnya menyenangkan bisa menemukan laki-laki yang sepemikiran denganku dalam hal perasaan. Dia berkata bahwa wanita tidak lagi menarik di matanya. Kami melakukan hubungan itu atas dasar saling suka. Kami berpacaran dengan cara yang sama seperti yang anak-anak normal lain lakukan."

Benar. Naruto tak senang mendengarnya.

"Semua perlakuan Sai tampak normal di minggu-minggu kami berhubungan. Aku juga mulai berani memberinya rasa sayang tulus. Hubungan kami berjalan melalui jalan sembunyi-sembunyi, tanpa memberitahu siapa pun. Dan kandas begitu saja ketika aku tiba-tiba menemukan sebuah kebenaran." Sasuke menghela napas. "Sai pembohong. Sai membohongiku. Sejak dimulai dengan terbongkarnya judi taruhan dengan teman-temannya, dia mulai kasar. Aku tidak bisa melawan. Aku diancam. Tidak ada lagi kalimat lembut dan pegangan mesra.

Suatu ketika sepulang sekolah teman-temannya memaksa Sai menciumku, kami melakukannya. Kalau aku bersikeras menolak, Sai akan menghajar. Aku melakukan ciuman paksaan itu berulang kali. Teman-temannya mengambil gambar kami, menjadikannya foto itu sebagai bahan bully-an oleh mereka.

Memang ada yang tak wajar, dan aku mulai ketakutan tapi aku terus berusaha menemui Sai meskipun dia tidak lagi mau menemuiku. Dia membenciku. Hari itu tepat ketika foto kami tersebar ke satu sekolah, Sai marah besar. Dia mulai diejek dan dibully oleh teman-teman yang dulu pernah bersamanya, bahkan seisi sekolah melakukan hal yang sama. Kami di-bully. Pada akhirnya, dia datang padaku dengan berteriak-teriak sepulang sekolah pada hari Sabtu. Aku diseret.

Teman-teman Sai yang mengambil foto kami juga ikut menyeretku. Mereka terus menerus mengompori Sai bahwa ...," Sasuke menjeda sebentar, ia tersedak air matanya sendiri, "akulah penyebab semua ini."

Naruto tanpa sadar mengepalkan tangan.

"Sai makin murka. Aku dibawa ke gudang sekolah yang sudah lama tak terpakai. A-Aku diikat. Mereka memberiku alkohol sampai aku merasa sangat pusing."

Sasuke menunduk sesenggukan. Rasanya tetap menyesakkan jika mengingat itu.

"Belum puas sampai di situ, mereka juga memukuliku. Aku merasa hatiku terluka sangat parah. Dan ..., tiba-tiba saja mereka m-mengurungku di ... di—"

Kalimat itu tak berlanjut, Sasuke langsung berdiri dengan goyah sambil memegangi dadanya. Seperti tercekik. Napasnya mulai putus-putus menjadi tidak teratur.

Ia menggeleng. Sekelebat ingatan menghantam kepala. Dalam ingatan di kegelapan itu tubuh ringkihnya meronta, tercekik, sesak dan takut.

Tapi, tidak ada yang datang menolong.

Terkesiap, Naruto langsung berdiri, merangkul bahu Sasuke. Pria berhambut hitam itu menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Berjongkok. Tak sanggup berdiri lagi.

Naruto memeluknya. "Kau baik-baik saja? Maaf. Maafkan aku. Maaf."

Tak ada jawaban dari Sasuke. Ia menjatuhkan bebannya pada Naruto dan membalas pelukannya erat-erat.

Ia menangis kencang saat itu.


Naruto melihat Sasuke memasukkan botol obat ke kantung celananya. Ia tidak tahu itu obat apa, tapi ia juga tidak berniat bertanya. Pemandangan beberapa saat lalu sudah cukup membuat Naruto terenyuh. Sebegitu besar beban yang dipikul Sasuke selama ini, dan Naruto tidak pernah mengetahuinya.

Naruto juga pernah menjadi yang terjahat, Sasuke pantas jika ingin menyebutnya begitu. Naruto pernah menghakimi Sasuke atas apa yang tidak diketahuinya.

"Biar aku yang membawa mobil," kata Naruto, melirik jam yang telah menunjukkan pukul satu. Butuh hampir satu jam untuk mengemudi dari kawasan rumah Juugo sampai tempat Itachi.

"Tidak apa-apa. Tanganmu masih belum pulih."

Naruto agak terganggu mendengar suara Sasuke yang parau. Ia menarik tangan Sasuke dan membawanya duduk di tepi ranjangnya lagi. "Duduklah sebentar," pintanya.

Sasuke menatapnya. "Naruto, apa aku menjijikkan?"

Saat itu Sasuke bertanya dengan mata kosong. Naruto mengedip lambat. "Tidak."

"Kau pasti pernah berpikir seperti itu sebelumnya."

"Ya," jawab Naruto jujur. "Tapi apakah hal itu perlu dibahas lagi?"

Dahi Sasuke berkerut.

"Kau boleh melakukan apa pun setelah mengetahui bahwa dulu aku pernah beranggapan seperti itu." Tangan Naruto membawa jemari Sasuke ke pipinya. "Aku adalah bajingan yang sudah menyadari perasaan sejak lama, tapi cukup bodoh karena terus menyangkalnya."

Sasuke merasa Naruto tengah tersinggung. "Aku bukannya ingin menyalahkanmu. Tapi—"

"Aku tahu."

"Maafkan aku."

Naruto memutar bola mata. "Terlalu banyak kata maaf hari ini. Aku bosan mendengarnya. Lebih baik kita pergi sekarang saja."

Menurut, kunci di nakas langsung diraih Sasuke.

"Kau yakin untuk menyetir hari ini? Ya, tapi ngomong-ngomong tanganku memang masih sedikit sakit," timpal Naruto, menggoyangkan sikunya ke atas-bawah.

"Akan kuambilkan—"

"Tidak, terima kasih." Mengumpat, ia menarik lengan Sasuke. "Kita pergi sekarang. Tarik napasmu dalam-dalam."

Anehnya Sasuke menuruti.

"Lalu buang melalui bokong," lanjutnya. Sasuke mendelik masih sambil menahan napas. "Bercanda. Ayolah, cepat, nanti kita terlambat." Kaki Naruto telah mendahului Sasuke menuju ke pintu luar. Ia berbalik sebentar hanya untuk berkata, "Jangan lupa buang napasmu."

Sasuke tersenyum geli.

Mereka akhirnya menemui Itachi dengan tidak adanya beban lagi. Ada mungkin, sedikit. Tapi itu bukan kendala besar. Mereka tiba di tempat yang dikatakan Itachi satu jam kemudian. Mereka memang tidak menemui polisi untuk kelanjutan interogasi, melainkan melipir ke tempat makan di dekat sana untuk membahas satu dua hal.

Itachi sudah berada di sana begitu mereka tiba. Naruto langsung menyongsong menarik satu bangku untuk Sasuke ketika Itachi melambaikan tangan pada keduanya. Saat itu Naruto tak benar-benar mengabaikan keberadaan seorang gadis yang juga ada di meja bundar itu.

Hanya ada empat kursi. Naruto menggiring Sasuke untuk duduk di dekat Itachi, sementara ia berada di sebelah kiri Sasuke dan bersebelahan dengan Sakura.

"Sakura," tegur Naruto, ramah, namun gadis itu hanya menundukkan kepalanya. "Sudah lama menunggu?"

"Kami baru saja makan siang."

Bekas piring mereka memang masih tercecer di meja, kemudian Itachi memanggil pelayan untuk membereskannya dan memesan beberapa minuman.

Sasuke betah membisu di tempat saat itu.

"Apa kalian sudah makan siang?" tanya Itachi, dan Naruto menjawab; ya, dengan cepat. "Baiklah, kalau begitu sekarang kita akan langsung membahas perkembangan bukti. Haruno-san, keberatan untuk menceritakan semuanya sekarang?"

Gadis yang menjadi satu-satunya makhluk tercantik di sana, tersentak.

Ia menatap Naruto agak takut. Napasnya dihela. "Pertama, aku ingin minta maaf padamu, Naruto."

"Aku senang karena kau memilih untuk jadi saksi. Dan aku datang hanya untuk mendengar kesaksian itu."

Sakura tersenyum getir. "Baiklah, aku akan mengatakannya. Naruto, aku telah bersekongkol dengan Sai untuk mengerjaimu sejak Sai datang sebagai pegawai baru di kantor."

Suaranya terdengar agak parau seolah ada yang ditahan di bagian kerongkongannya.

"Mengerjaiku?" tanya Naruto.

"Sai berkata padaku bahwa kalian berdua adalah teman dekat. Dia berniat memberimu kejutan. Sampai-sampai aku diminta untuk mengambil kunci rumahmu secara diam-diam."

Ais Naruto berkerut. Ia ingat pernah kehilangan kuncinya waktu itu.

"Sakura, Sai bukan temanku. Kami tidak saling mengenal."

"Maaf," kata Sakura, merasa bersalah lagi. "Seharusnya aku mengonfirmasi hal itu padamu terlebih dahulu. Tapi aku malah memberikan kuncimu pada Sai tanpa curiga sama sekali. Maafkan aku."

Mendengar hal itu, Sasuke langsung meremat sebelah tangannya sendiri.

Seluruh tubuhnya meremang.

Naruto yang kehilangan kunci saat itu adalah awal mula kenapa Sai bisa masuk menerobos rumahnya.

Oh, astaga.

"Sai juga pernah menyuruhku untuk meracunimu," kata Sakura, kemudian ia meralat cepat-cepat, "tapi aku tidak tahu kalau botol yang diberikan olehnya berisi racun. Dia berkata bahwa itu hanya obat tidur untuk mempermudah rencananya memberimu kejutan."

Kejutan? Naruto berdecih.

Kejutannya memang berhasil.

Itachi yang telah mendengar cerita Sakura terlebih dahulu, menyela, "Aku ingin menambahkan sedikit. Jadi, Haruno-san, setelah kau memberikan kunci rumah Naruto pada Sai, dia langsung menyerang Sasuke pada sore harinya."

Air muka Sakura tampak terkejut. Itachi belum menceritakan ini tadi.

"Kau ingat itu jam berapa, Sasuke?"

Sasuke tak bisa menjawab, matanya hanya menggeletar gelisah.

Itachi mendesah. "Menurut perkiraan Juugo penyerangan itu terjadi pada jam enam."

"Apakah hari itu sama dengan saat Sai izin absen karena sakit?" gumam Naruto. Ia mulai diserang kemarahan. "Si keparat itu!"

"Aku juga ingin meminta maaf karena membuatmu salah paham pada Sasuke," lirih Sakura. "Sasuke benar soal 'bersekongkol', meskipun aku tidak tahu tentang rencana Sai, tapi aku tetap saja terlibat."

Meja digebrak oleh Naruto. "Kenapa kau baru menceritakannya sekarang?! Hah? Kau berpura-pura polos di depanku, Sakura, kenapa?!" Ia menggeleng. "Aku tidak bisa menerima ini. Aku akan memberi pelajaran pada-"

Kalimat terputus karena tangannya digenggam. Ia menoleh. Sasuke.

Pria itu masih saja membuat ekspresi yang makin membuat Naruto murka pada Sai.

"Pernah sekali Sasuke menghubungi ponselmu," lanjut Sakura, kali ini sedikit membuat Sasuke bereaksi meliriknya. "Dia menitip pesan untukmu. Tapi aku tidak menyampaikannya."

"Ha?"

Sakura menggeleng. "Aku tidak tahu mengapa aku melakukannya. Saat itu aku mengajakmu ke bar sepulang kerja agar kau tidak bertemu dengan Sasuke."

"KAU!" Bunyi decit kursi memekak saat Naruto spontan berdiri. Ia hampir tak sadar bahwa tangannya sudah bersiap memukul Sakura kalau saja Sasuke tak menahan. "Untuk apa kau melakukan hal itu?!"

"Karena aku cemburu pada Sasuke! Meskipun berusaha menyangkal, aku tak bisa membohongi diriku sendiri kalau aku mencintaimu." Sakura tetap menangis, sementara ia menunduk. "Aku memang bodoh, maafkan aku."

Naruto menjatuhkan tubuhnya lagi ke kursi.

Sekarang yang merasa bersalah adalah dirinya sendiri. Malam penuh gemerlap di bar di mana ia habiskan untuk membikin tubuh mabuk, ada orang lain yang menunggu kepulangannya di rumah.

Bukankah hari itu adalah saat Sasuke memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka?

"Apa masih ada yang lain?"

Naruto tidak menatapnya saat bertanya itu, namun atmosfer di sekitar pria itu membuatnya terintimidasi.

"Ada banyak hal." Kalimat meluncur lirih. "Aku pernah menciummu di taman kantor waktu itu."

Jangan bilang ...

"Itu juga rencana Sai," lanjutnya. "Sai mengambil foto kita saat itu dan mengirimnya pada Sasuke."

Jemari Naruto mengepal hingga buku jarinya memutih.

Sakura tak berani menatap Naruto dan ia melanjutkan ceritanya, "Naruto, apa kau ingat ketika Sai dibawa ke kantor polisi? Sehari sebelumnya, pria itu berkata bahwa dia berhasil mendapatkan Sasuke. Aku panik. Aku langsung menyuruhmu menghubungi Sasuke tepat saat Sai digiring oleh polisi. Aku memang hanya menduga-duga, akan tetapi kalau Sai saja berani berniat untuk meracunimu sudah dipastikan dia bisa mencelakai Sasuke juga."

Sial!

"Seharusnya jika kau mengatakan alasannya dengan jelas pada saat itu, kesalahpahaman antara aku dan Sasuke tidak akan berlanjut!"

"Dan," Itachi menyela lagi, "dia memang berhasil mencelakai Sasuke."

Naruto beku. Jelas sudah.

Naruto membalikkan badan, tangan Sasuke didekap. Tangan itu begitu dingin. "Sasuke, maafkan aku. Aku tidak tahu kalau saat itu kau ..."

Kalimat tak selesai, Naruto tak sanggup melanjutkan.

"A-Apa yang dilakukan Sai pada Sasuke?" Kali ini gadis pink iu mendongak.

Itachi melirik Sasuke sebentar sebelum menjawab, "Keterangan itu akan dijawab di kantor polisi."

Meja berdecit, Sasuke berdiri tetiba. Pria itu berjalan keluar tanpa persetujuan yang lain.

Naruto ikut berdiri. Hampir ingin menyusul, lalu terdengar suara Itachi, "Kesaksian selanjutnya akan dibahas di kantor polisi," katanya. "Haruno-san, besok keterangan lanjutan masih dibutuhkan oleh penyidik. Kuharap besok kau tidak terlambat."

Tanpa mendengar jawaban Sakura, Naruto segera melesat ke luar. Ia menemukan Sasuke berdiri sambil bertopang pada tiang lobi restoran. Pria itu sedang berusaha mengeluarkan sebutir obat dari botol kecil yang ia pegang.

"Obat apa ini?" Naruto menyambar botol itu.

Sasuke menjawabnya dengan suara napasnya yang tercekik. Pandangan matanya seperti kacau sejenak. Dada terus menerus diremat. Udara seakan hilang lagi. Selalu seperti ini.

"Sasuke?"

Tak ada jawaban. Sasuke berkata dengan nada tersendat kalau ia membutuhkan obatnya. Naruto kebingungan, tapi ia terlalu curiga dengan eksistensi obat itu.

"Lihat aku, Sasuke. Lihat." Naruto melihat mata hitam itu menatapnya, namun tak fokus. Pria itu terus-terusan sesak napas. "Ada apa denganmu?"

Sasuke menggeleng. Lalu mengerang. Napasnya masih cepat.

Satu pelayan wanita yang membawa nampan dipanggilnya. "Tolong, aku membutuhkan air mineral," pintanya.

Pelayan itu melesat cepat dan kembali tak lama kemudian dengan segelas air.

"Apakah perlu kupanggilkan ambulans?" tanya pelayan itu agak cemas.

Naruto menggeleng sembari memberi Sasuke minum. Kali ini bersama botol obatnya. "Tolong panggil pria yang di sana itu kemari."

Yang ditunjuk Naruto dari kaca lobi adalah Itachi yang duduk tepat dekat pintu masuk. Pelayan itu menurut. Beberapa orang mulai melihat ke arah mereka berdua, bahkan ada yang mendekat. Tak lama kemudian Itachi keluar, namun keadaan Sasuke sudah lebih baik dari sebelumnya.

"Ada apa?" Itachi berjongkok dekat Sasuke.

"Kurasa dia sesak napas."

Itachi melirik obat di tangan Sasuke dengan agak kesal. Padahal Sasuke dilarang mengonsumsi obat penenang dosis tinggi itu lagi.

"Naruto, kau bisa menyetir?"

"T-Tidak, jangan." Sasuke memotong. Tidak jelas.

"Aku bisa."

Itachi menatap Naruto sebentar. "Baiklah. Sekarang lebih baik kalian pulang. Aku masih ada urusan dengan Haruno-san."

"Ya," jawab Naruto sembari membawa Sasuke yang setengah sadar di bahunya. Ia membisiki Sasuke, "Kau bisa berjalan?"

Walau dengan mata terpejam, Sasuke mengangguk.

Naruto pamit undur, melesat ke basement.

Kesempatan itu dipakai Itachi untuk segera masuk mendatangi Sakura. Anehnya, gadis itu tidak ada di mana-mana. Tidak juga di tempat mereka duduk. Ia bahkan menyuruh pelayan wanita untuk mengecek apakah Sakura pergi ke toilet, tapi tidak ditemukan siapa pun di dalam. Segera setelah itu Itachi langsung mencoba menghubungi ponsel Sakura, namun panggilan terhubung mailbox.

Sampai ke sekian kalinya Itachi terus mencoba, namun tetap tidak tersambung.

"Ke mana dia?"

Dalam kebingungan, Itachi akhirnya memilih menyusuri jalanan terdekat berharap masih bisa menemukan Sakura berjalan di sekitar situ. Setelah satu jam, hasilnya tetap nihil.

Perasaannya jadi agak kacau setelah Sakura menghilang. Ia ingin beranggapan kalau gadis itu sengaja pergi. Namun, jika memang itu yang pada akhirnya ia lakukan, kenapa ia mau menjadi saksi?

Itachi merasa ada yang tidak beres.

Kantor polisi adalah destinasi akhir Itachi untuk mendapat jawaban. Ia segera melaporkan keluhannya tentang Sakura. Saat itu laporan yang diberikan Itachi belum bisa diproses karena gadis itu belum benar-benar bisa dinyatakan hilang.

"Laporan anda sudah kami catat, Uchiha-san. Jika dalam duapuluh empat jam nona Haruno Sakura masih tidak bisa ditemukan, kami akan melakukan penelusuran."

Itachi menyayangkan. Ini memang hanya spekulasi, tapi untuk berjaga-jaga, ia juga perlu kepastian. Gadis itu akan berperan sebagai saksi untuk adiknya. Karena prosedur kepolisian juga menyatakan bahwa saksi akan mendapat perlindungan hukum.

"Apakah anda yakin bahwa Haruno-san benar-benar menghilang?" tanya si petugas.

"Tidak, belum." Itachi menyanggah. "Aku hanya mengkhawatirkan keselamatannya, dia akan menjadi saksi untuk kasus adikku."

"Kami akan melakukan penelusuran setelah duapuluh empat jam. Sebelum itu, laporan masih dinyatakan mentah."

"Aku mengerti." Itachi berbalik dari meja laporan, saat itu ia menabrak seseorang yang ada di belakangnya. "Ah, maafkan aku."

"Uchiha-san?"


"Kau mencari cucumu?"

"Ya."

Itachi agak terkejut. Tanpa sengaja ia bertemu dengan pria tua yang tempo lalu pernah menolong Sasuke yang mengalami hiperventilasi tiba-tiba saat sedang di restoran. Pria tua itu berkata bahwa pihak kepolisian menghubunginya karena mereka berhasil menemukan keberadaan sang cucu.

"Aku mohon maaf sebelumnya, Shimura-san, tetapi apakah cucumu berasal dari Konoha?" tanya Itachi ragu, keterangan petugas mengatakan bahwa cucu dari pria tua ini telah ditemukan. Dan cucunya bernama Sai.

"Benar. Dia sedang menjalani pengobatan di Konoha."

Itachi tersentak. "Pengobatan?" Ia mengulang. "Apa yang terjadi padanya?"

"Sai mengalami gangguan pada kejiwaannya. Sudah empat tahun dia menjalani perawatan di bawah pengawasan dokter ahli. Dokter itu menyatakan dia sudah sembuh, dan Sai telah dibebaskan dari panti rehabilitasi sejak empat tahun yang lalu. Namun, dia masih disarankan untuk selalu berada dalam pengawasan orang dewasa."

"Apakah kau tahu apa penyebab cucumu mengalami gangguan jiwa?"

Pria tua itu merasa aneh dengan pertanyaan Itachi, tapi tetap menjawab, "Bullying."

Dahi Itachi mengerut.

"Sai memiliki orientasi seksual yang melintang. Saat tahun ketiganya di sekolah menengah pertama, orangtuanya dipanggil ke sekolah karena Sai kedapatan berciuman dengan laki-laki seusianya."

Oh. Inilah saat di mana hati Itachi mulai diremas. Ini seperti mengulik luka yang membusuk dan membuatnya kembali nyeri.

"Bagaimana tanggapan orangtuanya?"

"Orangtuanya pergi meninggalkannya ke luar kota karena tak kuat menanggung malu, namun dalam perjalanan keduanya mengalami kecelakaan dan meninggal. Sai terpaksa dititipkan bergilir pada kerabat-kerabatnya selama setahun, di tahun keduanya aku memutuskan untuk mengambil dan merawatnya di rumahku."

"Kalau tidak salah, kau adalah dokter, bukan?"

Pria tua itu melepaskan pandangan jauh-jauh pada taman kecil di area kepolisian tersebut. Ada satu kupu-kupu yang hinggap di bunga yang kuning. "Aku adalah dokter spesialis paru. Aku sudah pensiun." Ia tertawa.

"Shimura-san, sebelumnya maaf karena lancang untuk mendengar cerita ini," kata Itachi. "Aku mengenal cucumu. Dan aku juga berasal dari Konoha."

Reaksi pria itu tidak diduganya, ia malah tersenyum. "Aku tahu. Maaf karena aku juga menyembunyikan fakta ini. Sesaat setelah bertemu dengan adikmu tempo lalu, aku merasa familier dengan wajahnya."

"Kau tahu adikku?"

"Fotonya dan Sai masih tersimpan rapi di kamar Sai."

Itachi menatap pria itu tak percaya.

"Aku sungguh menyayangkan apa yang terjadi di masa lalu. Terutama untuk adikmu."

"Dan aku akan menjebloskan cucumu ke penjara."

Shimura Danzo tersenyum maklum. Ia berdiri dari kursi kayu untuk melanjutkan pencarian sang cucu yang telah ia ketahui alamatnya. "Polisi sudah mengirimkan surat penangkapan Sai padaku, sehari sebelum mereka menghubungiku. Aku adalah walinya. Aku meminta maaf sebesar-besarnya atas apa yang terjadi pada adikmu."

"Shimura-san." Itachi menegur saat melihat pria itu membungkuk di depannya. Ia memegang bahu pria tua itu. "Kau tidak boleh membungkuk pada yang lebih muda."

Bahu Itachi ditepuk dua kali olehnya. "Aku akan pergi menuju alamat yang diberikan kepolisian. Besok aku akan membawanya ke sini. Aku berjanji padamu."

Saat itu, Itachi tidak tahu apakah ia harus lega atau merasa sedih.


Pukul lima sore.

Itachi mengetuk kamar Sasuke begitu tiba di rumah. Sepanjang perjalanan ia terfokus dalam banyak hal. Terutama adiknya. Sebentar lagi Sasuke akan menghirup wangi kebebasan lagi.

Pintu terbuka, dan Naruto muncul di ambang pintu.

Itachi beku sesaat. "Kau tidak bekerja?"

"Aku ingin menemani Sasuke hari ini."

"Bagaimana keadaannya?" Itachi melongok ke dalam ketika Naruto memberi space dengan membuka pintu lebih lebar. Sasuke tengah fokus pada notebook. "Apa yang dia lakukan?"

"Bermain game."

"Game?"

"Nii-san, kau baru tiba?" tanya Sasuke dari dalam, anak itu terfokus pada notebook meskipun bertanya padanya.

"Game apa yang membuatmu tidak menatapku ketika bertanya, Otouto?"

"Susun batu."

Naruto terlihat menahan tawanya saat Sasuke menjawab. Menghabiskan waktu bermain game amatir adalah murni ide Naruto. Saat mereka melakukan itu terlihat sekali kalau Sasuke ketagihan.

Menggeleng, Itachi kembali menatap Naruto dan berkata, "Kebetulan kau di rumah, ada yang ingin kubicarakan."

Mereka berdua menuju ruang tengah. Itachi menyalakan TV, namun dengan volume kecil. Ia mempertimbangkan untuk menceritakan tentang Sakura dan pertemuannya dengan Shimura Danzo, tetapi ia memilih untuk membahas soal Sakura terlebih dahulu.

"Naruto, apa kau bisa menghubungi Haruno?"

Alis Naruto menukik. "Apa maksudmu?"

Itachi mendesah, pangkal hidungnya dipijat sebentar. "Haruno menghilang tepat ketika aku kembali ke dalam restoran siang tadi."

"Menghilang? Mungkin yang kau maksud, dia pulang?"

"Tidak," sanggah Itachi, "gadis itu tidak bisa dihubungi, dia menghilang begitu saja."

Naruto buru-buru mengeluarkan ponselnya. "Aku akan mencoba menghubunginya?" Telepon tidak tersambung saat itu. Naruto bingung. "Nomornya mailbox."

"Adakah kerabat yang bisa dihubungi?"

Yang terpikir saat itu hanya Shion dan Ino, mereka berdua adalah pegawai kantor yang cukup dekat dengan Sakura. Karena Sakura sendiri adalah gadis perantauan yang berasal dari kampung halaman yang jauh dari Tokyo, jadi Naruto tidak pernah mengenal orangtuanya.

Akan tetapi ketika menghubungi dua gadis blonde itu, Naruto tidak mendapat pencerahan. Mereka juga tidak tahu keberadaan Sakura. Tidak pula di kantor. Malah Ino mengomeli Naruto karena tidak masuk kerja tanpa keterangan yang jelas sama dengan Sakura.

Naruto menepuk jidatnya soal itu. Ia lupa kalau sedang bolos.

"Aku akan mencarinya."

Tepat setelah mengatakan itu, ponselnya berdering. Naruto membukanya. Pesan masuk.

Naruto, temui aku malam ini di Onions. Jam 10.

Wajah Naruto pias.

Sai.

"Ada apa?" tanya Itachi.

Ponsel diremat, Naruto merasa murka tetiba. "Sai mengajakku bertemu malam ini."

"Aku ikut."

"Tidak, jangan. Aku curiga kalau Sai yang menyembunyikan Sakura. Aku akan datang sendiri."

Itachi tidak setuju. "Dia berbahaya, Naruto."

Akan tetapi alasan itu tetap tak bisa dijadikan alasan bagi Naruto untuk gentar. Ia merasa punya tanggungjawab pada keselamatan Sakura karena membuat gadis itu terlibat.

Dan Onions, itu merupakan petunjuk jelas mengapa Naruto yakin kalau Sakura ada bersama pria itu.

Onions adalah nama bar di mana Sakura biasa mangkir dari kepenatan masalah. Gadis itu sering membawanya ke sana.

"Aku akan tetap ikut. Aku akan berada di belakang." Itachi memberi pilihan satu-satunya. "Kita tidak bisa mengendurkan kewaspadaan kita pada pria ini."

Naruto mendesah. "Aku mengerti. Tapi tolong jangan beritahukan masalah ini pada Sasuke."

"Aku tidak perlu dikte darimu," kata Itachi. "Jam berapa kau akan pergi?"

"Jam sembilan."

"Kalau begitu istirahatlah, kita akan berunding rencananya setelah Juugo dan Suigetsu pulang."

Naruto menurut. Langkah meniti lunglai ke kamar.

Dan rencana untuk menghajar pria itu habis-habisan mulai tersusun di kepalanya.

Tbc.


Apakah Sakura diculik kolongwewe? Nantikan kisahnya /?

Review?