UNNAME
Cast : SuperJunior (13+2), EXO (12) and other
Summary: Ketika di dunia ini tidak punya harapan lagi tentang perdamaian. Ketika ketidak pedulian menjadi senjata hebat untuk tak terlibat lebih jauh. Mereka UNNAME, sekelompok orang tak bernama yang menjanjikan perdamaian lewat konspirasi, peneroran, separatis dan ribuan jalan yang mereka katakan "Jalan Kedamaian"
Rated: T
Genre: Adventure, Sci-fi, Crime, Friendship and Suspense
Disclaimer: Cast milik Tuhan dan FF ini milik "Unperfect Team". Kibum selalu di usahakan milik ika zordick.
Warning: Typos, World war setting, Usahakan anda cukup dewasa untuk beberapa adegan.
UNNAME
Bagian X
AIRCRAFT HIJACKING
"Membajak pesawat?" Yesung mengeluarkan ekspresi tak percayanya menatap Kibum yang kini meletakkan IPADnya untuk memperbaiki kucing manisnya yang tergeletak tak berdaya. Kibum masih betah dengan wajah dingin dan datarnya, menatap satu per satu manusia yang menjadi rekan kerjanya beberapa waktu lalu. Demi tujuan yang sama, tujuan yang mungkin membuat mereka mati konyol.
"Itu konyol" Hangeng—seorang natizen anti perang yang selalu menulis hal yang masuk akal dan dikatai konyol oleh pemerintahan dunia kini harus mengatakan konyol untuk orang lain. Ini ide gila. Membajak pesawat bukanlah ide yang sangat bagus.
"Konyol? Bahkan ide membuat perdamaian dunia adalah hal terkonyol yang pernah ku dengar" mulut berbisa Heechul membuat semua orang yang berada di ruangan itu menundukkan wajah mereka. Dari awal mereka memang kumpulan orang konyol yang menginginkan hal konyol.
"Ini berbeda, kita akan mati!" Hyukjae tidak yakin ia bisa menembak dan bergaya ala sniper di dalam pesawat. Dari mana ia akan menembak? Dari ekor pesawat kemudian targetnya adalah kepala sang pilot?
Kyuhyun menarik nafasnya, kenapa orang dewasa itu jauh lebih penakut dari yang dia bayangkan. Mereka bodoh, tak bernyali dan membosankan. Kenapa anak anak harus berpanutan pada orang tua yang payah seperti ini. "Menculik presiden Kolombia, membuat kekacauan di Medellin, menembus blockade super Jepang, dan menjemputku di Imagine city, itu daftar daftar hal konyol yang pernah kalian lakukan"
Benar juga—
Mereka tidak takut sebelum ini, tapi kenapa terdengar begitu payah hanya karena misi membajak pesawat?
"JIKA KALIAN TIDAK BERANI, BIARKAN AKU SAJA YANG MEMBAJAK PESAWAT BODOH ITU DAN PERGI KE LONDON SENDIRIAN!" teriak Kyuhyun. Ia gerah. Ia tak pernah ingin berada di satu tim yang lemah dan hanya berisi kumpulan pecundang. Ia memang orang yang bekerja di belakang layar, dia memastikan setiap orang di kumpulan ini selamat dan mereka yang takut mati sama saja meremehkan kemampuannya. Intinya—
Mereka tak percaya padanya. Mereka sama saja dengan orang orang di luar sana yang menganggapnya hanya bocah. Tidak ada bedanya dengan orang tuanya—para sialan itu.
"Kenapa kita tidak coba naik pesawat secara damai seperti biasa, kita menyeludupkan dan kemudian sampai dengan selamat?" Hangeng bertanya, dia takut ketinggian dan dialah yang paling tidak menyukai ide ini.
"Tidak ada penerbangan Bogota – London, Mister" Kibum menatap Hangeng dengan pandangan meremehkan. "Kita harus menghemat waktu sebisa kita untuk mendapatkan anak itu sebelum ada yang menyadari bahwa ia masih hidup, menyimpan senjata yang lebih hebat dari misil dan bertenaga sama dengan nuklir"
"Lagipula—" suara Leeteuk memecah keheningan, sepertinya semuanya sibuk berdebat dan melupakan siapa pemimpin di sini. "Kita kehabisan uang" dia nyengir. Membuat seluruh mata menatapnya tak suka. Sungmin bahkan berdecak mendengarnya.
"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia" Ryeowook mengangkat tangannya, ia tidak bersuara sejak tadi karena ia tak mengerti. Suara cempreng cerianya entah kenapa selalu membuat Kyuhyun berdesis tidak suka.
"Berarti kau tidak pernah merasakan betapa susahnya menghidupkan rokok dengan air" sindir Kyuhyun. Ryeowook terdiam.
"Ah… maaf. Aku salah" dia mengakui bahwa ia pun tidak akan mungkin menghidupkan rokok dengan air.
"Resiko terlalu besar, Kyuhyun, Kibum" Sungmin memutuskan mendudukkan dirinya. Ia menatap tajam kedua bocah yang selalu melakukan hal yang diluar dugaan itu. "Pertama, kita tidak tahu dimana arah London. Kedua, siapa diantara kita yang bisa menjamin pilot yang membawa pesawat tidak berbohong. Ketiga, keberadaan kita akan diketahui. Keempat, kita akan terbang lebih tinggi dari awan, tidak ada jalan melarikan diri kecuali mati. Kelima, jika kalian membuat jalur baru Bogota – London, pesawat itu akan ditembak jatuh oleh Negara yang menjadi perlintasan dan jelas navigasi seluruh pesawat akan kacau"
"Keenam, kita akan dieksekusi secara langsung ketika tiba di bandara" Kibum menambahkan. Sungmin mempertajam tatapannya pada bocah yang masih terlihat santai itu.
"Kau yang paling jelas tentang itu"
"Itu semua bagian dari rencana. Tidak ada alas an untuk kita bermain seperti pecundang, konsep konspirasi seperti milik Yahudi akan memakan waktu lama, kita akan menyerang dari jalur depan seperti teroris, mengurangi populasi tidak penting masyarakat dunia dan membuat mereka bersatu untuk menghancurkan kita"
Hangeng melongo.
Yesung memijit kepalanya yang berasa berdenyut, sementara Leeteuk—lelaki berparas malaikat itu tersenyum. "Perang dunia ke dua menjadi damai karena dunia mempunyai satu musuh yaitu Hitler. Dan perang dunia ini akan berakhir jika mereka mendapatkan musuh yang lebih mengerikan dari Hitler, yaitu kita" Kibum menambahkan penjelasannya.
Mengeriyit. Heechul tak mengerti tapi benarkah ini jalan yang mereka pilih?
UNNAME
Siwon terjaga dari mati surinya, dia mengerjapkan matanya, mencoba membiasakan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya. Dia melihat sekelilingnya, dia berada di dalam van dan van itu sedang bergerak. Otaknya mencoba memproses apa yang sedang terjadi tapi ia tak mendapatkan apapun.
Menggerakkan tangannya dan berasa kaku. Apakah mereka sedang menculiknya dan bermaksud meminta tebusan atas dirinya pada negaranya?
Mereka…
Sekelompok orang orang yang duduk mengelilingnya. Ia menoleh ke samping menemukan seorang pria yang tertidur dengan sangat lelap. "Meoong~" dan suara itu membuat sang presiden menoleh, menemukan kucing Persia hitam yang menatapnya dengan tatapan yang entah kenapa menurutnya mengerikan.
"Good morning" Siwon membelalakkan matanya, salah seorang yang bertubuh kecil menyadari dirinya yang sudah terbangun. Mereka semua memakai topeng badut yang membuat Siwon susah mengetahui identitas orang orang yang menangkapnya tersebut. Sapaan selamat pagi itu seolah menohoknya, dia tak bisa apa apa, dia hanya dimaksudkan untuk menurut.
"Dia bangun?" kali ini seseorang yang lebih tinggi yang berada tepat di atas kepalanya. Dia mengeluarkan senter kecil dari sakunya, dengan santai menyenter bola mata Siwon, memberitahukan bahwa ia sudah baik baik saja. "Kita akan membuatmu bisa bergerak dengan shock terapi, setelah kau lulus negosiasinya, Mr. President" sepertinya orang itu seorang dokter.
"Baiklah, pimpinan!" orang itu memberikan isyarat pada seseorang yang tak memegang senjata di tangannya. Dia membuka topengnya dengan gambling, membiarkan Siwon melihat wajahnya. Seseorang yang menyelamatkan anak perempuan di tengah keramaian waktu itu. Siwon ingat, bahkan dialah orang yang satu satunya takkan pernah dilupakan Siwon.
"Pertanyaan pertama" Leeteuk—sang pemimpin mengumbar senyumnya. "Jika kau tak bisa menjawab maka kau memenuhi persyaratan negosiasi dengan kami, jika tidak—"
Treek—
Siwon bisa mendengar dengan sangat jelas suara tarikan pemicu senjata. Dia bisa menduga senjata itu jenis Heckler & Koch HK 416 senapan serbu F2000. Bisa membunuh dan jelas membuat kepalanya menjadi serpihan kecil. "Kau harus kembali ditempatmu sebagai seonggok mayat"
Hening—
Sebenarnya mereka tidak menyangka Leeteuk bisa diajak bekerja sama menjadi orang yang mengerikan. Kepribadian Leeteuk adalah yang paling susah di tebak dan sialnya Leeteuk menguasai semua kepribadian mereka. Leeteuk satu satunya orang yang memawangi mereka tapi tanpa pawang kecuali dirinya sendiri. Leeteuk tersenyum lebih lebar, nyaris menyaingi topeng badut tersenyum lebar yang dikenakan rekan yang duduk di sebelahnya.
"Diluar, pagi, siang atau malam"
CKIITTT—
Suara rem mendadak terdengar. Sepertinya seluruh manusia di van itu, termasuk Sungmin yang sedang menyetir tidak percaya dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Leeteuk. Pagi, siang dan malam sungguh bisa menghancurkan kepala presiden yang mereka dapatkan dengan susah payah. Sialan sekali.
Siwon menarik nafasnya. Pagi? Siang atau malam? Siapa yang tahu jika van itu seluruhnya tertutup bahkan tidak ada cahaya yang masuk dari jendela yang tertutup rapat dengan kaca film. Hanya ada lampu dan itu membuat Siwon kesulitan menebak apakah matahari diluar sana bersinar dengan cerah atau sinar rembulanlah yang mendominasi?
Siwon melirik seseorang yang menaikkan kucing di atas kepalanya. Satu satunya petunjuk adalah sapaan orang itu. Good morning. Pagi?
Bisa saja pagi yang dimaksudkan oleh orang itu adalah sindiran untuknya. Ketika orang membuka matanya sebagai sapaan setelah bangun tidur adalah selamat pagi, tapi belum tentu itu adalah benar. Apakah hari sudah siang sebenarnya ataukah sudah malam. Kenapa hidupnya harus di pertaruhkan oleh pertanyaan idiot sejenis ini. Pagi, siang dan malam, masing masingnya memiliki probabilitas satu banding tiga. Meskipun ia bisa melihat matahari di luar sana probabilitasnya adalah lima puluh banding lima puluh. Ini sulit.
"Jangan terlalu lama, kita akan sampai ke bandara!" salah seorang yang merakit Sniper rifle berbicara. Tidak sabaran tapi Siwon merasa sniper itu sedang membantunya, tidak ada seorang sniper yang terburu buru.
Siwon menatap Leeteuk yang tersenyum mengerikan. Sebenarnya dari awal Leeteuk tidak menanyakan pagi, siang atau malam. Siwon menyadari itu akhirnya. Lelaki itu sedang memberikan syarat negosiasi. Syarat negosiasi adalah percaya atau tidak percaya. Probabilitasnya lima puluh lima puluh, tapi akan menjadi berat sebelah saat ada pihak yang diuntungkan. Siwon seorang presiden dan kewajibannya adalah mempertanggungjawabkan negosiasi.
Apa yang harus ia lakukan jika negaranya berada di posisinya saat ini?
Percaya atau tidak percaya?
"Kau tidak punya pilihan" seseorang yang sedang memainkan ipad di samping seseorang yang bermain dengan seekor kucing memberi petunjuk untuk Siwon. Ya petunjuk. Siwon sadar, semuanya yang ada di van ini berada di pihaknya kecuali pemuda yang sedang menunjukkan senyuman mengerikan itu. Atau diakah satu satunya orang yang tak bisa berpikir dengan becus tentang pertanyaan yang lebih cenderung merujuk pada psikologis dibanding pertanyaan khas penjahat pada umumnya.
"Aku percaya" Lidah Siwon terasa kelu. Suaranya bahkan terdengar sangat kecil hanya mengucapkan sepatah dua patah kata. "Selamat pagi" itulah jawabannya.
"Cih, dia masih sempat mengumbar senyum" decih Yesung. Selain anak kecil dia jadi membenci orang yang hobi tersenyum sekarang.
UNNAME
"HEI BODOH, SIAPA YANG MEMBELI SENJATA SENJATA INI?" Terkadang Heechul persis seperti orang kesurupan ketika menyangkut masalah yang gawat. Hyukjae mengangkat tangannya santai, ia sebenarnya masih betah untuk mengelap sniper riflenya yang berjenis DSR – 50 itu. "Kau memesan dari mana?"
"Somalia" jawab Hyukjae santai.
"KAU GILA, MEREKA AKAN MENGEJAR KITA!" pekik Yesung kali ini. Dia melupakan todongan senapannya pada kepala Siwon. Dia meraih kerah kemeja Hyukjae, mengguncang tubuh kurus itu berkali kali.
"Ah, maaf, mereka memang suka di luar kendali" Leeteuk mencoba melerai kemudian. "Sebenarnya ada apa?"
"Si bodoh itu membeli barang dari Somalia, mereka menagih uangnya sekarang"
"Habisi saja mereka, apa susahnya" Kibum tidak membela Hyukjae, dia memberikan solusi dan sepanjang ini semua sesuai dengan rencana awal mereka.
Hening—
"Ah, maafkan aku Siwon. Jadi negosiasinya adalah kau bergabung dengan kami atau kepalamu akan hancur"
KREEK—
Suara pemicu milik Yesung kembali terdengar. Kali ini pistol yang dipegang oleh Ryeowook ikut andil. Ia menodongkannya pada Siwon, ikut mengancam pemuda itu. "Tujuan kami adalah perdamaian dunia" Leeteuk kembali memasang senyum malaikatnya.
Siwon berpikir. Ia mulai menimbang kemungkinan itu. Pilihan dari Leeteuk jelas berat sebelah, ia memang harus ikut dalam tim ini. Nyawanya di tangan mereka, dan orang orang yang menculik presiden, membuatnya mati suri, jelas bukan kumpulan orang orang biasa. Tujuan yang konyol hanya akan membuatnya mati bersama orang orang ini, tapi inilah satu satunya probabilitas yang mengizinkannya hidup.
"Aku ikut"
"Zhoumi!" dan alat dengan tegangan listrik tinggi berada di tangan sang dokter.
"ARGGHHH!"
UNNAME
Ryeowook memutar tali sepatunya. Ke kiri kanan, buat simpul kemudian—
Mereka lepas kembali.
Ini kali ke sekian ia mencobanya dan ia tak bisa melakukan apa yang dilakukan oleh yang lain. Ia sudah mencontek Kyuhyun ketika mengikat tali sepatu boots khas tentara yang kini mereka kenakan secara seragam tapi ia tak bisa juga. Ia melirik pada Hyukjae di sampingnya, menarik secara sengaja tali sepatu Hyukjae.
"Hyukjae, tali sepatumu lepas" kemudian memperingatkan sang penembak jitu mereka agar ia mendapat contekan lagi. Maklum saja, ia besar dan tumbuh di panti asuhan yang tidak pernah membuatnya mengenal tali sepatu. Ia hanya biasa menggunakan sandal dan menempelnya ketika sandal itu rusak.
Hyukjae tidak menunjukkan ekspresi apapun di balik topeng badutnya. Ia hanya membungkuk dan memperbaiki tali sepatunya itu. Ryeowook memperhatikannya dengan seksama, mencoba mengingatnya dengan baik. Ia jenius, dan bukankah deret Geometri atau perhitungan luas dengan metode Euler lebih susah dipahami daripada sekedar mengikat tali sepatu.
Tapi—
Ia tidak bisa. Tali itu tidak mau menyimpul dan kegagalan adalah hasil kerja kerasnya dalam membuat temali itu. Dia tak ingin kalah oleh Kyuhyun, bukankah Kyuhyun itu lebih muda darinya.
Ryeowook takkan menyerah.
Hingga—
Lelehan air mata itu mengalir juga. Tetes air mata membasahi lantai van. Ia tak bisa mengikatnya dan Heechul sudah berteriak kalau mereka sudah sampai di depan bandara El Dorado. "Kau baik baik saja?" Hyukjae bertanya pada navigatornya. Ryeowook hanya mengangguk saja dan Hyukjae sungguh turun dari van, meninggalkan Ryeowook di sana sendirian.
"HEI! TUNGGU AKU!" Teriakan cempreng itu terdengar karena hanya dia ditinggal sendiri. Dengan langkah kaki yang diseret karena takut jatuh menginjak tali sepatunya.
"Kau benar benar membuat semuanya dalam masalah Ryeowook" Ryeowook menghentikan langkahnya ketika Kibum memperingatkannya. "Ikat tali sepatumu!" ini perintah dari Kyuhyun.
Ryeowook menundukkan wajahnya yang tertutupi topeng badut yang seragam mereka kenakan termasuk Siwon. Tiga orang dengan setelan rompi anti peluru, pakaian serba hitam dan sepatu boots seperti tentara elit serta tambahan senjata di tubuh mereka membuat ketiganya sempurna seperti orang dewasa dalam tim mereka—para teroris, atau orang yang membuat kericuhan di siang hari yang cerah ini.
Siwon—seseorang yang kini berseragam sama dengan yang lainnya membungkukkan tubuhnya yang tengah menggendong tubuh Donghae, ia dengan telaten mengikatkan tali sepatu Ryeowook. Cukup membuat remaja itu tersenyum di tengah tangisnya. Siwon itu orang yang baik. Satu satunya orang baik menurutnya dalam gerombolan mereka.
"LETAKKAN TANGAN KALIAN DI BELAKANG KEPALA, KEMUDIAN MERUNDUKLAH!" Suara Heechul terdengar menggema di seluruh Bandar udara El Dorado. Dia mengangkat tangannya yang tengah memegang sebuah pistol secara vertical kea rah langit langit bandara.
DOOORR—
DOOORRR—
Pistol jenis Sig Sauer P245 itu memuntahkan pelurunya. Mengeluarkan suara tembakan yang disambut dengan teriakan histeris manusia manusia yang kebetulan berada di sana. Seluruh kegiatan berhenti, mereka langsung melakukan perintah salah satu pemakai topeng badut yang kini terlihat sangat mengerikan dimata mereka.
Kyuhyun melihat table keberangkatan pesawat yang tertera di dinding bandara. "We got it!" gumamnya yang kemudian langsung di dengar oleh Heechul.
UNNAME
Yesung mengunyah permen karet yang ada di mulutnya. Ia menatap jengah pada Siwon yang sepertinya kesulitan membawa Donghae di punggungnya. "Jika kau terlalu lama, kau akan kami tinggalkan!" katanya dingin hendak menutup pintu pesawat yang telah di klarifikasi oleh Kyuhyun harus mereka naiki, pesawat penumpang Avianca.
"APA YANG KALIAN INGINKAN?" seorang pramugari senior menatap horror pada pria tampan yang baru saja membuka topeng badutnya. Matanya yang sipit menatap tajam pada wanita cantik bername tag "Sally G. K."
"Hi Sally" Heechul memberi salam. Dia membuka topengnya juga, menodongkan pistolnya pada sang pramugari. "Letakkan telpon itu atau ku ledakkan kepala Miss Sally sekarang juga" desisnya berbahaya pada rekan pramugari yang hendak menelpon Pilot mereka agar penerbangan itu di gagalkan.
"Berpura puralah kami tidak ada di sini, cantik dan lakukan apa yang harus kalian lakukan!"—sebenarnya Sungmin bermaksud menggoda, tapi seragam ala teroris itu tak cukup membantu menebar pesonanya. Dia melangkahkan kakinya menuju badan pesawat, melihat keseluruhan isi pesawat kelas ekonomi itu dengan benar. Ia harus memperkirakan, berapa orang berbahaya yang harus mereka selesaikan sekarang.
"Silahkan tenang, kami hanya ingin berlibur!" Leeteuk memberikan senyuman pemungkasnya. Dia menunjukkan raut yang cukup membuat suasana yang akan berakhir ricuh itu menjadi tenang dengan kehadirannya. "Silahkan kalian menyelesaikan tugas kalian!" katanya mengomandoi para pramugari.
Siwon membuka topeng untuknya dan Donghae, membuat kericuhan kembali terjadi. Presiden Kolombia itu kembali hidup dengan luka kecil di dahinya. "Presiden?" menganga tak percaya. Hyukjae mengangkat snipernya, menumpukannya di bahu Siwon dengan enteng.
"Jangan bunuh mereka, teman!" Hangeng memberikan isyarat. Hyukjae memang di tugaskan membunuh siapa saja yang akan menganggu misi mereka. Tapi tidak sebelum pesawat itu lepas landas.
UNNAME
Kibum menatap mata Kyuhyun dalam. Isakkan itu masih terdengar dari bibir merah si kecil Kyuhyun. Dia tak mau berpisah dengan Kibum. Dia tidak akan aman. Ya dan sialnya dia tak di beri tahu tentang rencana mereka untuk menukar patner kerjanya. Dia yang sudah terbiasa dengan Kibum, kini harus bersama dengan Ryeowook. Seseorang yang tidak di sukai Kyuhyun.
Wajahnya sudah memerah dan bibirnya mengerucut lucu. Pramugari pramugari itu bahkan heran, benarkah dua bocah kecil yang kini saling menatap itu adalah rombongan teroris yang sedang membajak pesawat mereka. Terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
"Kau boleh bawa Tao" ini keputusan final yang dikeluarkan oleh Kibum. Dia cukup risih sebenarnya dengan Kyuhyun yang mengekor dengannya dan selalu berteriak tak karuan. Tao akan membuat Kyuhyun aman dan dia jauh dari sosok yang benar benar seperti bayangan untuknya.
"TIDAK MAU!" teriakan memekikkan itu menggelegar.
"Permen" Kibum meronggoh sakunya. Sebenarnya ia tak rela juga kalau permennya harus diberikan pada Kyuhyun, tapi mau bagaimana lagi. Ini sangat darurat. Ia mengulurkan tangannya yang terdapat satu buah permen lollipop di sana. Kyuhyun menggeleng kuat. Dia tidak mau.
"Dua" Kyuhyun memberikan penawaran.
Kibum berdecih. Dia hanya punya tiga permen dan Kyuhyun berlagak seperti preman yang mau merampoknya. "Satu lagi punya Tao" Kibum berkilah.
"Tao kan ikut denganku!"
Akhirnya Kibum menyerahkan satu lagi permennya dengan wajah murung. "Temani aku ke ruang pilot!" Kibum persis seperti boneka beruang milik Kyuhyun dulu, ia di seret kemana mana sesuka hati pemiliknya yang egois.
Yesung, Ryeowook dan Hyukjae mengikuti langkah dua bocah ajaib itu. Melewati tempat VVIP dengan santai, tidak terlalu peduli ada orang hebat seperti apa berada di sana. Membuka pintu ruang kendali pesawat, dan Yesung berbisik dengan santai di telinga sang pilot. "Bisakah kau membawa kami ke London Sir?"
"Si—siapa kalian?" terkejut. Tentu saja.
"Mayday mayday!" co pilot mereka segera menghubungi navigator.
DOOOOR
Hyukjae tanpa aba aba meledakkan kepala co pilot itu. "Bisa atau tidak?"
"A—"
DOOOORR
Kibum menutup mata Kyuhyun, ia menatap dingin pada Yesung yang kini nyengir tak berdosa setelah meledakkan kepala pilot dengan pistol caliber besar yang membuat isi otaknya berhamburan. "Maaf maaf" tidak ada maksud penyesalan di sana. Padahal Leeteuk sudah memperingatkan agar tidak berbuat yang terlalu mengerikan melihat beberapa bocah tak cukup umur ada diantara mereka.
"Panggil pramugari pramugari itu dan suruh mereka membersihkan kekacauan ini" Yesung melirik Ryeowook dan Ryeowook segera menghambur keluar. Ia takut pada tatapan pria itu. Seakan haus darah.
UNNAME
"TOKIDOKI! Pilot Devil Kid di sini, kepada para penumpang harap menikmati perjalanan kita menuju London" suara cempreng Kyuhyun menggema ke seluruh penjuru pesawat. Bocah yang sempat menjadi seorang nahkoda kapal pesiar itu berubah menjadi pilot saat ini. "HEI OTAK KOMPUTER KATAKAN SESUATU!" dan dia tidak berubah menjadi lebih sopan dari sebelumnya.
Suara Ryeowook terdengar gugup. Dia berdehem dan mencoba menuruti Kyuhyun. Tapi ia mau bilang apa? "A—aku" dan suaranya gemetar.
"Patnermu sepertinya tertekan karena Kuyun" Kibum berbicara dingin pada Hyukjae di sampingnya. Mereka sedang berjaga di ruang VVIP pesawat. Mereka tidak boleh lengah, ada kemungkinan orang orang di ruangan itu bagian dari angkatan kepolisian atau orang penting yang dapat mengancam keadaan mereka.
Hyukjae hanya melirik sekilas pada Kibum. Dia sejujurnya, lebih tertekan bekerja bersama si bocah dengan kucing di kepalanya itu dibanding dengan Yesung yang mengerikan. Jika Yesung akan menembak kepalanya sewaktu waktu, bocah ini seolah bisa mengeluarkan isi otaknya ketika ia ingin. Firasat Hyukjae hanya tidak enak. Aura Kibum hampir sama dengan Bandar Bandar narkoba besar yang menguasai Medellin. Hyukjae tak ingin berurusan dengan mereka sedari dahulu, sejak ia terlahir di Medellin.
"Dimana kau belajar memakai senjata?" Hyukjae bertanya ketika melihat Kibum memegang erat pistol jenis Glock keluaran Austria. Tangannya tidak gemetar seperti Hangeng ataupun Zhoumi yang memang tidak pernah memegang senjata api sebelumnya. Apa karena Kibum merasa ia sedang bermain tembak tembakan seperti yang dirasakan oleh Kyuhyun atau seperti Ryeowook yang memang merasa ia tak perlu menembak? Ataukah—
Karena dia memang bisa melakukannya?
Kibum tidak segera menjawab. Bocah yang sedikit lebih tua dari Kyuhyun itu memandang ke salah satu pria bertubuh gendut—seorang penumpang di pesawat kelas VVIP itu. "Tidak perlu belajar, hanya tinggal menarik pelatuknya saja"
"Glock 17, kau berhati hati memilih senjata"
"Ini senjata umum bagi para tentara" Hyukjae tersenyum simpul mendengar jawaban Kibum. Bocah itu berbohong meskipun kebohongannya dipenuhi dengan logika.
"Tapi tidak umum karena itu senjata keluaran pertama Glock, seseorang yang tidak ahli seharusnya memilih yang lebih kuat mungkin Glock 36. Slimline akan lebih menguntungkan untuk seseorang seusiamu"
Kibum tertawa garing. Dia tersudutkan dan dia tidak suka Hyukjae yang merupakan orang yang dipilihnya mencoba menasihatinya soal memilih jenis pistol. "Sejujurnya aku lebih suka jenis Revolver" Kibum berbicara, dia menyeringai.
Hening—
Kibum mengeluarkan sebuah revolver dari sabuk senjata di pingangannya. Hyukjae menaikkan sebelah alisnya. Dia tak mengerti, kenapa Kibum menyukai sesuatu yang kuno seperti itu. Kibum mengeluarkan seluruh peluru dari revolver itu. Satu satunya perbedaan dari pistol dan revolver hanyalah tempat penempatan pelurunya.
Jika revolver menggunakan tabung berputar maka pistol menggunakan pegas. Bukankan revolver lebih kuno dan merepotkan?
Kibum memasukkan sebuah peluru dan memasukkannya ke salah satu dari tujuh tempat peluru yang kosong di dalam revolvernya. Ia memutarnya kemudian. Ia menodongkannya ke kepala Hyukjae, membuat pria itu menelan ludahnya. Apa yang ingin di lakukan oleh anak ini.
"Karena aku bisa tahu apa isi kepala seseorang dengan memberikannya kesempatan untuk tetap hidup" Hyukjae melotot tak percaya ketika jemari kecil Kibum menarik pelatuk revolvernya.
"Ki—" lidah Hyukjae bahkan berasa kelu.
Dia takut. Bahkan sangat takut sampai seluruh tubuhnya gemetar hebat.
Ckreek—
"BANG" Kibum menirukan suara tembakan. Hyukjae menghela nafas lega. Keringat sebesar biji jagung sudah mengalir di dahinya. "Kau ingin mencoba sekali lagi?"
"Tidak" Hyukjae menjawab cepat, tapi kalah cepat dengan Kibum yang sekali lagi menarik pelatuknya. "Kumohon, ja… jangan!"
Kibum kembali menekan pelatuknya dengan santai. Tidak ada ekspresi berarti di wajahnya. Hingga—
DOOORR—
Seluruh penumpang di ruang VVIP itu berteriak sambil merunduk. Mereka berusaha menyembunyikan kepala mereka yang bisa saja menjadi korban penembakan Kibum selanjutnya. "TAO! Kau jangan nakal!" Kibum berujar tapi wajahnya tersenyum melihat ceceran darah itu.
"KIBUM! WHAT ARE YOU DOING?!" teriak Yesung. "PANGGILKAN MEDIS!"
UNNAME
Kyuhyun bersorak girang ketika dia dan Ryeowook selesai menyapa penumpang pesawat yang tengah mereka bajak. Leeteuk sudah mengizinkannya untuk bermain main sedikit asalkan mereka sampai di London tanpa kurang sehelai rambutpun. "Hei, Ryeowook. Kau tahu cara mengendalikan pesawat?"
Ryeowook melotot tak percaya dengan pertanyaan idiot yang baru dilontarkan Kyuhyun. Bukankah ini bodoh? Kyuhyun tidak tahu oleh karenanya ia bertanya. Bagaimana ia harus menjawabnya, naik pesawat sebagai penumpang saja, ketika ke Bogota adalah perjalanan pertamanya.
"Kau langsung pucat. Aku kan hanya bercanda. Baiklah, kau lihat ini" Kyuhyun menunjuk sebuah keyboard yang entah kenapa mirip seperti kalkulator scientific yang berada diantara tombol tombol di Cockpit pesawat. "Ini namanya FMC, Fligh Management Computer dan yang bagian pentingnya adalah CDU, Control Display Unit"
Ryeowook meletakkan tangannya di atas tombol tombol itu. "Setelah ini aku akan memutus hubungan dengan navigator di bawah dan kuharap kau bisa memperkirakan dengan benar kita akan sampai selamat atau malah jatuh di segitiga Bermuda" Kyuhyun agak melebih lebihkan di bagian segitiga bermudanya. Sebenarnya mereka tidak perlu lewat sana.
"Coba tekan switchnya" Kyuhyun mengomandoi. Ryeowook mematuhi.
"Kau bisa memperhitungkannya kan? POS INIT, mulai dari sana! Isikan itu dengan referensi bandara El Dorado. Setelah itu masuk pada Route page" Kyuhyun tampak sibuk menekan switch switch di bagian cockpit nya.
"Lalu apa yang harus ku isikan pada Origin?" Ryeowook sedikit bingung.
"Isikan saja dengan WIII, dan jangan lupakan nomor penerbangan kita pada DESK. Kau tahu nama bandara London kan?"
"Tentu saja! Itu Negara asalku" Ryeowook memajukan mulutnya karena kesal.
"Aku akan menghack sedikit, agar nomor penerbangan kita menjadi legal di Heathrow. Pastikan lampu excutenya menyala"
"Iya, aku tahu bagian ini Kyuhyun" Ryeowook jengah juga di perintah perintah oleh Kyuhyun yang cerewet. Bocah itu seolah tak mempercayakan pada Ryeowook untuk membuat Autopilotnya. "Lalu apa yang akan kau lakukan dengan penembakan misil pada kita?"
"Tentu saja aku harus mengacaukan radar mereka. Ini akan menyenangkan, kau tahu?"
UNNAME
Pria bertubuh gempal yang tertembak di kakinya itu berteriak kesakitan. "Aku akan menuntutmu, bocah!" teriaknya memaki maki Kibum yang berdecih ketika suara Yesung yang sedang menceramahinya juga ikut membuat telinganya sakit bercampur dengan suara makian pria yang suka memaki itu.
"Sudah ku katakan, Taolah yang menembakmu!"
"Semua orang di sini juga melihatmu yang menembakku setelah mengancam pria kurus itu" pria gempal itu menunjuk Hyukjae kali ini.
CEKREKK—
Yesung menodongkan machine gunnya pada pria bertubuh gempal itu. "Sekali lagi kau berbicara yang tidak penting, kuhancurkan perutmu, buncit!"
"Siapa namamu?" Kibum bertanya dengan nada mengintimidasi khasnya. Pria gempal itu menunjukkan wajah tidak sukanya.
"Ada apa ini?" Leeteuk berlari tergopoh gopoh ketika mendengar Yesung memanggil Zhoumi untuk mengobati seseorang. Ia kira salah satu dari mereka terluka.
"Matthew" Kibum menyeringai ketika mendengar nama itu. Dia tak menyangka akan bertemu secepat ini pada pria gempal tersebut. "Atau kau bisa memanggilku Shindong"
"Aku ingin kau merekrutnya, pimpinan" Leeteuk datang tepat waktu. "Siapa dia?" wajar jika Leeteuk sedikit penasaran. Kibum semakin tidak waras dimatanya, setelah menembak seseorang dan kini ia merekrut orang yang di tembaknya.
"Jaksa yang menangani pidana internasional. Matthew Shin" Kibum menjawab santai. Dia melempar revolver tak berpelurunya ke tangan Shindong. "Atau—"
"BOCAH BAJINGAN! AKAN KUBUNUH KAU!" suara melengking pria itu membuat Zhoumi yang tengah mengeluarkan peluru dari dalam kakinya terkejut.
"—Bukan" Kibum memberi isyarat pada Hyukjae untuk membidik pria gempal itu dengan sniper. Yesung menjadi lebih siaga. "Siapa namamu?"
"SIALAN! Ini kosong" dia berdecih.
"Beritahu namamu atau mereka akan menembak?" Kibum memandang remeh pada Shindong.
"Chen, namaku Chen"
"Elter Ego" Leeteuk bergumam.
TBC
Hoi hoi…
Long time no see~
Ka beneran kehilangan mood menulis seminggu ini. Hohohoho… tapi kabar gembiranya ka libur untuk dua minggu kedepan dan artinya yang ka habiskan waktu hanya tidur, makan, mandi, minum, menonton anime, menulis FF, makan, tidur, baca FF, tidur dan tidur.
Sebenarnya ka mau membuat Kyuhyun yang menerbangkan pesawat ini dari awal, tapi sepertinya ceritanya akan menjadi sangat panjang hanya seputar Cockpit dan kemungkinan salah menjelaskannya akan menjadi lebih banyak. Jadilah ka hanya menjelaskan sedikit saja xD
Ka ngasih spoiler aja deh, buat chapter selanjutnya mereka akan landing (pastilah) kemudian mereka menjemput Henry yang ternyata satu panti asuhan dengan Ryeowook. Lalu mereka akan mendapatkan Kangin dengan cara yang brilian namun sadis.
Nb: Ingat mereka pejuang perdamaian, tapi mereka lebih mengerikan dari hitler. Jadi jangan percaya mereka. Jangan sayang pada tokoh tokohnya karena mereka musuh dunia. Begitulah begitulah.
Apakah ka harus membalas review?
BAIKLAH AYO KITA BERMAIN GAME…
JIKA BISA MENJAWABNYA, KA AKAN MASUKKAN NAMANYA MENJADI PASANGAN CINTA RYEOWOOK DI SINI (tapi sih pasti takkan bersatu) hehehehehe
Dan juga ka akan update kurang dari empat hari untuk FF ini jika ada yang benar.
Pertanyaannya :
Yang mana terlebih dahulu ada?
RUANG atau WAKTU
Penjelasannya akan sangat diharapkan ^^
Maaf untuk chapter ini ka gak bisa balas review tapi ka akan membalas di chapter depan
