~oOo~ { READ MY BIO FIRST BEFORE YOU READ MY OWN FANFICT } ~oOo~
Baekhyun kembali menatap ke jendela karena ia tidak kuasa untuk menatap Chanyeol lebih lama lagi. Ia sangat mengagumi Chanyeol, tetapi ia masih saja merasakan seperti ada sebuah dinding besar yang membuat mereka tidak bisa bersatu dan menjadi sepasang kekasih. Entahlah, mungkin karena kondisi Chanyeol yang berbeda.
Namun tiba-tiba ada seorang penumpang yang berteriak jika telah terjadi sebuah kecelakaan di ujung jalan. Baekhyun yang terkejutpun langsung melirik ke arah jendela untuk melihat kecelakaan itu, namun yang ia dapati hanyalah seorang pengendara motor yang menabrak sebuah mobil dari belakang. Tidak ada korban yang terluka, yang ada justru dua orang yang nampak sedang cekcok mulut tentang siapa yang salah atas kecelakaan ini.
"Huft aku kira sesuatu fatal," gerutu Baekhyun. Dan baru saja Baekhyun ingin menolehkan kembali kepalanya pada Chanyeol, ternyata Chanyeol pun menoleh ke arah jendela dan itu menyebabkan wajah mereka berhadapan, lalu..
Cup
Baekhyun mengedipkan matanya saat menyadari jika bibirnya kembali menempel dengan bibir Chanyeol. Tetapi kali ini berbeda, ciuman ini adalah ketidaksengajaan diantara kedua belah pihak. Sedangkan Chanyeol langsung buyar akan fokusnya terhadap kecelakaan tadi, beralih untuk menatap Baekhyun yang menciumnya. Kembali.
"Ahh maafkan aku Chanyeol," ucap Baekhyun cepat.
Ia langsung menutupi bibirnya dengan tas yang sedari tadi di pangkunya, dan merutuki kebodohannya yang mencium Chanyeol di tempat umum seperti ini. Meskipun tidak ada yang melihat kejadian tadi, tetapi tetap saja Baekhyun merasa malu bukan main. Dan ia yakin wajahnya kembali memerah.
Chanyeol pun melakukan hal yang sama. Ia menunduk malu dan jantungnya kembali berdegup. Kenapa berciuman dengan Baekhyun bisa membuat jantungnya berdegup seperti ini? Berbeda dengan perasaannya saat ia mencium sang Umma.
'Chanyeol harus bertanya pada Umma,' batin Chanyeol sambil berusaha menutupi senyumannya karena ia benar-benar merasa senang saat ini.
Tak berbeda dengan Chanyeol, Baekhyun kini sedang tersenyum karena merasa amat bahagia. Akankah ia bisa merasakan kebahagiaan ini bersama Chanyeol setiap hari? Selamanya?
"Kini aku baru menyadari.. cintaku ini seperti menaiki sebuah bus. Ketika aku sudah menemukan bus yang tepat, maka aku bisa duduk dengan tenang hingga aku tiba di tempat yang menjadi tujuanku. Dan saat ini, aku sudah menemukan seseorang yang tepat untukku. Yaitu Chanyeol.. dan aku siap tiba di tempat tujuanku bersama Chanyeol nanti."
Baekhyun menghela nafasnya dan menopangkan kepalanya di bahu Chanyeol. Ia tersenyum dan mengeratkan pegangannya pada tangan Chanyeol yang nyatanya masih bertaut.
'Aku mencintaimu Chanyeol..'
.
.
.
~oOo~ UNFAIR ~oOo~
.
.
.
Author:
Yuta CBKSHH
Tittle:
UNFAIR (CHANBAEK)
Main Cast:
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Support cast:
Xi Luhan a.k.a Luhan
Kim Jong In a.k.a Kai
And others cast (EXO's members)
Rating:
M ++
Genre:
Fluff, Romance, Drama, Hurt/Comfort
Length:
Chaptered
Disclaimer:
Fanfict yang terinspirasi dari beberapa pengalaman. Terlebih pengalaman ketika semua usaha Yuta selama ini di anggap tidak berguna oleh beberapa pihak dan akhirnya pihak tersebut berusaha untuk menjatuhkan Yuta (malah curhat -,-). FF ini di tulis oleh Yuta sendiri dan tanpa di bantu oleh siapapun. Cerita ini tidak memplagiat cerita dari orang lain. PLAGIARISM ISN'T MY STYLE! NO COPAST! NO PLAGIAT! Semoga kalian suka dan bisa menerima cerita ini dengan baik ^^
Warning:
BL-BoysLove / YAOI / SHOUNEN-AI / HUBUNGAN SESAMA JENIS. MATURE CONTENT INSIDE! NC-21! DLDR! DO NOT BASH BUT KRITIK ATAU SARAN SANGAT DI PERBOLEHKAN. ENJOY IT!
Summary:
Chanyeol seorang lelaki yang memiliki keterbelakangan mental. "Dia.. terlalu aneh untuk menjadi lelaki yang aku cintai" - Baekhyun. (CHANBAEK) YAOI! Slight Official Pairing! RnR!
Backsong:
EXO - Unfair
~~ HAPPY READING ~~
.
.
.
Saat ini Chanyeol dan Baekhyun tengah berjalan kaki menuju rumah mereka. Mereka masih harus berjalan beberapa blok untuk tiba disana. Ini sudah malam dan Baekhyun sedikit khawatir akan di marahi oleh Bibi Park karena tidak mengabarinya. Baekhyun menyadari kesalahannya mengajak Chanyeol hingga malam seperti ini, tetapi jangan salahkan dirinya karena ia tidak ingat apapun saat tengah bersama Chanyeol.
Seperti sekarang, Baekhyun lebih memilih untuk menikmati sisa waktunya bersama Chanyeol dengan berjalan kaki. Jujur saja ia sangat lelah, tetapi ia masih ingin bersama Chanyeol. Ia tidak ingin hari mereka berakhir begitu saja. Meskipun ia tahu jika ia masih memiliki hari esok. Tetapi, kenapa saat ini ia bersikap seolah tidak ada hari esok?
"Chanyeol.."
Gumam Baekhyun memanggil nama Chanyeol. Namun Chanyeol tidak meresponnya dan terus menunduk memperhatikan langkah kakinya sendiri. Kalian ingat bukan, jika Chanyeol sering mengabaikan apa yang ada disekitarnya ketika ia sedang terfokus pada sesuatu?
"Chanyeol?"
Dengan terpaksa Baekhyun menghalangi jalan Chanyeol dengan berdiri tepat di hadapannya. Baekhyun merentangkan kedua tangannya dan usahanya ternyata berhasil, karena Chanyeol saat ini sudah memandang ke arahnya.
"Kenapa kau mengabaikanku?" Ucap Baekhyun sedikit merengek.
"Baekhyunee lelah?" Tanya Chanyeol balik dengan ekspresi khawatirnya.
Baekhyun menggeleng cepat dan ia mengerucutkan bibirnya.
"Aku bertanya kenapa kau mengabaikanku? Jawab aku Chanyeol- akh!"
Baekhyun tiba-tiba meringis sambil memegangi betis kanannya. Sepertinya Baekhyun merasakan keram otot di betisnya dan itu sangatlah menyakitkan untuknya.
"Baekhyunee tidak apa-apa?"
Dengan panik, Chanyeol langsung menopang tubuh Baekhyun dan menoleh ke arah sekitar mereka untuk mencari sebuah kursi. Tetapi Chanyeol tidak menemukannya dan terpaksa Chanyeol membawa Baekhyun ke tepi jalan yang sudah mulai sepi itu.
"Akh Chanyeol.. kakiku keram," ringis Baekhyun. Dan itu membuat Chanyeol semakin panik, tetapi Chanyeol tidak kehabisan akal. Ia tarik pinggang Baekhyun dan memeluknya dengan sangat erat. Perlahan Chanyeol menuntun langkah Baekhyun hingga punggung Baekhyun menyentuh sebuah tembok yang berada di belakangnya. Di apit oleh tembok dan tubuh Chanyeol, sehingga tubuh Baekhyun kini tegap dan kakinya menjadi lurus. Chanyeol melakukan hal itu agar kaki Baekhyun terus lurus seperti posisi ini hingga keram itu hilang.
Baekhyun masih meringis kesakitan dan ia memutuskan untuk memeluk tubuh Chanyeol, tetapi betapa terkejutnya ia ketika Chanyeol semakin memojokkan tubuhnya ke tembok hingga ia benar-benar terapit oleh tubuh tinggi Chanyeol tanpa celah sedikitpun.
"Chanyeol apa yang kau-"
"Diamlah Baekhyunee. Biarkan seperti in,i" Chanyeol berbicara tepat di samping telinga Baekhyun.
"Chanyeol.."
"Sampai keram Baekhyunee hilang," lanjut Chanyeol.
Baekhyun memejamkan kedua matanya erat dan ia menghela nafasnya. Kemudian ia menopangkan kepalanya pada bahu lebar Chanyeol. Memilih untuk menikmati waktu indah yang ia miliki bersama Chanyeol. Tidak tahu apakah ia akan mendapatkan kesempatan ini lagi atau tidak. Ia hanya ingin memiliki waktu lebih lama lagi saat ini.
Baekhyun terdiam sejenak dan sepertinya ia mulai mengerti sesuatu.
Nyatanya apa yang dilakukan Chanyeol tidaklah seperti kelihatannya. Chanyeol hanya berusaha untuk membantunya, sama seperti saat Chanyeol menopangkan tangannya pada bahu milik Chanyeol agar ia tidak tenggelam, dan juga saat Chanyeol menahan pinggangnya ketika ia hampir limbung karena mencium Chanyeol tadi di kolam renang.
Tetapi kenapa Chanyeol selalu berhasil membuat Baekhyun salah mengartikan semua sikap Chanyeol terhadapnya selama ini?
Dan perasaan Baekhyun muncul saat Chanyeol menyelamatkannya ketika ia hampir saja tenggelam. Chanyeol memberikannya nafas buatan melalui bibir mereka secara langsung. Tetapi ia baru menyadari apa yang Chanyeol lakukan selama ini semata-mata hanyalah ingin melindungi dan menjaganya saja. Tidak lebih.
Apakah ia salah jika ia mencintai Chanyeol karena sikap baik Chanyeol terhadapnya?
"Berhentilah melindungiku dan bersikap baik padaku, Chanyeol.." lirih Baekhyun.
"Berhentilah bersikap seperti ini terhadapku. Kau membuatku salah mengartikan semua sikapmu itu.." lanjutnya.
Tanpa sadar Baekhyun meneteskan airmatanya. Dan baru saja Baekhyun ingin melepaskan pelukan mereka karena ia rasa keram di kakinya sudah menghilang, Chanyeol tiba-tiba menahan satu tangannya pada dinding dibelakangnya. Chanyeol mencengkram kuat tangan Baekhyun disamping kepala Baekhyun dan mata mereka saling bertatapan saat ini.
"Apa salah?" Ucap Chanyeol.
Baekhyun terdiam dan terus menatap kedua onyx hitam itu bergantian.
"Apa ini salah Baekhyunee?" Chanyeol mengulang perkataannya.
"Jantung ini.. berdegup keras saat bersama Baekhyunee."
Baekhyun terkejut bukan main, terlebih Chanyeol belum melepaskan cengkraman tangannya, dan tetap bertahan pada posisi mereka.
'Kau mulai menyadari perasaanmu?' batin Baekhyun.
"Baekhyunee.."
Chanyeol menunduk sejenak dan kemudian ia mengangkat kepalanya kembali.
"Jangan bergerak."
Kemudian Chanyeol meraih wajah Baekhyun dan mengecup bibir Baekhyun cukup lama. Hanya sebuah kecupan ringan. Tidak lebih.
Chanyeol memejamkan kedua matanya dan tetap menempelkan bibir mereka. Baekhyun menahan nafasnya dan memandang Chanyeol dengan pandangan terkejutnya. Apakah Chanyeol benar-benar sudah menyadari perasaannya? Karena jika belum, bagaimana mungkin Baekhyun bisa mengelak kenyataan itu jika Chanyeol saat ini yang menciumnya lebih dulu?
Jantung Baekhyun semakin berdetak dengan keras saat Chanyeol melepaskan ciuman mereka dengan hati-hati. Ia bahkan masih bisa merasakan tekanan bibir Chanyeol pada bibirnya. Sungguh mendebarkan untuknya dan mungkin, kejadian barusan tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.
"Aku tidak ingin seorangpun memiliki Baekhyunee," ucap Chanyeol setelah ia selesai mengecup bibir Baekhyun.
Ya, Chanyeol berbicara tanpa menyebutkan namanya dan menggunakan kata 'Aku'. Dan lagi-lagi itu sangatlah mengejutkan untuk Baekhyun.
"Chanyeol kau.."
.
.
.
~oOo~ UNFAIR ~oOo~
.
.
.
Bibi Park mendapati Chanyeol langsung berlari menuju kamar mereka dengan wajah yang memerah. Dan itu sangatlah membuat Bibi Park merasa bingung. Sebenarnya, apa yang terjadi pada putranya tersebut?
Kemudian Bibi Park memutuskan untuk menghampiri Chanyeol dikamarnya dan tersenyum sambil melihat Chanyeol yang tampak merona terduduk di atas kasurnya.
"Apa yang terjadi?" Ucap Bibi Park dengan nada yang lembut sambil mengusap rambut anaknya itu dengan sayang.
Chanyeol hanya menggeleng cepat dan terus tersenyum. Nampaknya ia masih merasa malu dan enggan mengatakan apa yang baru saja di alaminya bersama Baekhyun tadi.
"Kau senang bermain bersama Tuan muda Baekhyun?"
Chanyeol mengangguk antusias dan ia mulai menatap wajah sang Umma.
"Aigoo kenapa wajahmu memerah seperti ini?"
"Chanyeol.. Chanyeol mencium Baekhyunee," ucap Chanyeol dengan cepat. Ia masih menunjukkan ekspresi malunya, tetapi berbeda dengan Bibi Park yang justru menunjukkan ekspresi terkejutnya.
"Kau.. mencium Tuan muda Baekhyun?" Ulang Bibi Park.
Chanyeol lagi-lagi mengangguk, tetapi wajah cerahnya hilang seketika saat mendapati ekspresi berbeda dari sang Umma.
"Seperti Umma mencium Chanyeol dan Chanyeol mencium Umma."
"Tepat dibibir?"
"Ne. Chanyeol mencium Baekhyunee tepat di bibir Baekhyunee."
Bibi Park tiba-tiba bangkit dan menjauhi Chanyeol. Kepalanya mendadak pusing setelah mendengar perkataan polos putranya tersebut. Ia tidak mengerti kenapa ia bersikap seperti ini, seharusnya ia senang karena Chanyeol saat ini sudah mulai jatuh cinta. Tetapi kenapa ia tidak ingin ini semua terjadi?
Jujur saja ia sangat menyukai Baekhyun yang terlihat sangat menyayangi Chanyeol, namun ia rasa ini bukanlah saat yang tepat. Bagaimanapun ia harus memperjuangkan masa depan Chanyeol.
Membiarkan Chanyeol dan Baekhyun terus berhubungan, itu sama saja dengan mengubur masa depan Chanyeol. Karena Tuan Byun nyatanya tidak menyukai putranya yang keterbelakangan mental ini, berhubungan dengan putra bungsunya tersebut.
"Kenapa kau melakukan hal itu? Bukankah sudah Umma katakan untuk menjauhi Tuan muda Baekhyun?" Ucap Bibi Park sambil menahan isakannya. Ia tahu Chanyeol pasti merasa sangat sedih jika ia bersikap seperti ini lagi.
Tetapi ia tidak memiliki pilihan lain. Ia hanya ingin yang terbaik untuk Chanyeol.
"Mian Umma.. Chanyeol menyayangi Baekhyunee."
"Kau bisa menjauhi Tuan muda Baekhyun?"
Ia rasa ini adalah saat yang tepat untuk membicarakan masalah Chanyeol yang akan di sekolahkan di sekolah khusus. Dan mungkin juga ini adalah saatnya ia memberi pengertian pada Chanyeol.
"Tidak bisa.." lirih Chanyeol. Raut wajahnya berubah menjadi sedih dan Chanyeol memandang Ummanya dengan pandangan yang ketakutan.
"Chanyeol. Kau bisa meraih masa depanmu dengan mudah jika kau menjauhi Tuan muda Baekhyun. Kau bisa melakukan hal seperti yang orang normal lainnya lakukan. Hidupmu akan jauh lebih mudah, Chanyeol."
"Tapi.. Umma mengatakan ciuman adalah sebuah tanda jika kita menyayangi seseorang. Dan Chanyeol menyayangi Baekhyunee."
Chanyeol sudah meneteskan airmatanya karena mood nya tiba-tiba berubah. Perasaan Chanyeol bisa berubah dengan sangat cepat jika itu mengenai hal yang menurutnya sensitif.
"Chanyeol dengarkan Umma. Umma menyayangi Appa tetapi Umma membiarkan Appa pergi. Kau tidak harus selalu bersama Tuan muda Baekhyun, Chanyeol. Hiks! Maafkan Umma."
Bibi Park memeluk tubuh putra satu-satunya tersebut sambil terisak. Hatinya hancur ketika ia harus memaksa Chanyeol untuk berpisah dengan seseorang yang telah berhasil membuat Chanyeol jatuh cinta untuk yang pertama kalinya.
"Kau jatuh cinta Chanyeol.. hiks! Kau jatuh cinta pada Tuan muda Baekhyun."
"Cinta? Seperti Appa dan Umma?"
Bibi Park mengangguk.
"Tapi kau harus menyadari posisimu, Chanyeol. Umma hanya tidak ingin kau terluka karena perasaanmu itu."
Chanyeol hanya terdiam masih sedikit tidak mengerti dengan apa yang Umma nya katakan. Ia pikir ia sama sekali tidak melakukan kesalahan, ia hanya ingin terus bersama Baekhyun. Tetapi kenapa seolah-olah orang lain tidak menginginkannya?
Bahkan sang Umma sama saja seperti Luhan hyung yang selalu melarangnya untuk berdekatan dengan Baekhyun. Ia bahkan masih mengingat betul masih ada orang lain yang tidak menyukai hubungannya dengan Baekhyun, yaitu Kris dan teman-temannya.
Apakah sesulit itu untuk menjadi teman Baekhyun? Apakah sesulit itu untuk menjaga dan melindungi Baekhyun?
"Untuk saat ini kau harus menjauhi Tuan muda Baekhyun dan turuti perintah Umma. Kau mengerti?"
Bibi Park mencengkram bahu putranya tersebut cukup kuat agar Chanyeol mau melakukan kontak mata dengannya. Tetapi nyatanya Chanyeol terus saja menunduk sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sungguh ia merasa pusing karena ia masih tidak mengerti hal ini.
Ia tidak bisa menjauhi Baekhyun.
"Kita akan pindah dari rumah ini. Kau harus mempersiapkan dirimu. Kau tidak bisa bertemu dengan Tuan muda Baekhyun lagi."
"Hiks Umma!"
"TUAN BYUN TIDAK MENGINGINKANMU CHANYEOL! HIKS!"
Dengan cepat Chanyeol menutupi telinganya dengan kedua telapak tangannya. Airmata mengalir deras membasahi wajahnya dan ia masih menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tidak. Ia tidak menginginkan semua ini. Ia tidak ingin semua ini terjadi. Tetapi kenapa harus dirinya yang mengalami hal seperti ini? Apa yang salah dengan dirinya?
"Maafkan Umma.. hiks! Tuan Byun tidak menginginkanmu karena kondisimu."
"Apa Chanyeol berbuat salah?" Lirih Chanyeol yang sepertinya sudah mampu mengendalikan emosinya.
"Kau tidak salah Chanyeol. Umma yang salah. Umma yang salah karena tidak mampu menjagamu dengan baik sehingga kau terlahir seperti ini.. hiks!"
"Umma menginginkan Chanyeol menjauhi Baekhyun?" Datar Chanyeol sambil menyeka airmatanya.
"Kau harus mendapatkan pendidikan untuk masa depanmu. Maafkan Umma."
"Bisakah Chanyeol berpamitan dengan Baekhyun?"
"Tentu. Tentu kau bisa melakukannya."
Perlahan tangan Chanyeol terangkat untuk mengusap lelehan airmata sang Umma, dan kemudian ia memeluk tubuh sang Umma dengan sangat erat.
"Jangan menangis, Umma."
"Berpisah bukan berarti tidak bisa bertemu lagi. Kita akan kembali bersama, Baekhyunee."
.
.
.
~oOo~ UNFAIR ~oOo~
.
.
.
"Kyungsoo.. Kai sudah tiba di Jepang sore tadi," ucap Suho dengan suara yang lemah. Kyungsoo menyambut Suho yang baru saja tiba di rumah mereka, dan menyiapkan air hangat untuk suaminya tersebut.
Kyungsoo sedikit merasakan ada yang berbeda dari diri Suho karena tidak biasanya Suho bersikap sedikit acuh terhadapnya. Seperti saat ini, Suho hanya berjalan melewati tubuhnya begitu saja menuju kamar mandi tanpa mengecup keningnya ataupun mencium bibirnya.
"Syukurlah. Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Kau nampak lelah," ucap Kyungsoo sambil memberikan sebuah handuk pada Suho.
Baru saja Kyungsoo ingin beranjak dari hadapan Suho, tetapi Suho lebih dulu menahan tangannya dan membuat Kyungsoo mengurungkan niatnya.
"Tunggu aku di kamar. Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu," datar Suho. Kemudian ia melepaskan genggaman tangannya pada tangan Kyungsoo dan memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Melenggang begitu saja, tanpa menunggu jawaban dari Kyungsoo.
Sudah cukup lama Kyungsoo menunggu sang suami di kamar mereka. Ia terdiam dengan pandangan kosongnya, karena saat ini ia sedang memikirkan apa yang akan dibicarakan oleh Suho terhadapnya. Apakah ini adalah masalah huhungannya dengan Kai? Ataukah karena masalah lain?
Jika ini mengenai masalah Kai, Demi Tuhan ia benar-benar sudah siap menerima segala resiko yang bisa saja terjadi. Ia siap jika Suho akan kecewa padanya dan ia juga siap jika Suho akan menggugat cerai dirinya. Ini adalah hukuman yang sudah sepantasnya ia terima atas pengkhianatan yang sudah ia lakukan pada suaminya sendiri.
Cklek
Kyungsoo menolehkan kepalanya ke arah pintu yang baru saja di buka oleh Suho. Ia pandangi raut wajah suaminya tersebut, tetapi sangat sulit ia mengerti karena tatapan Suho sangatlah sulit untuk di artikan. Sebenarnya apa yang terjadi pada suaminya tersebut?
"Kyungsoo.. kau mencintaiku?" Ucap Suho yang sudah mendudukkan dirinya tepat di samping Kyungsoo. Dan Suho tertawa kecut saat Kyungsoo tidak menjawab pertanyaannya dan justru memilih untuk terus terdiam.
"Lalu untuk apa kita menikah?" Tanya Suho lagi.
"Maafkan aku," gumam Kyungsoo.
"Sudah selama setahun kita menjadi sepasang suami istri, tetapi kita sama sekali belum pernah bersetubuh. Apakah itu terdengar normal?" Suho menampilkan raut wajah kecewanya. Tetapi ia masih bisa untuk tertawa. Lebih tepatnya, tawa yang Suho tunjukkan saat ini adalah tawa yang menyiratkan beribu-ribu kesedihan.
Kyungsoo masih terdiam menatap sosok lelaki yang sudah sangat baik terhadapnya. Kyungsoo pun merasa amat menyesal kenapa ia bisa mempermainkan hati seorang lelaki sebaik Suho. Ia merasa menjadi seseorang yang amat sangat jahat di dunia ini.
"Aku.. menyayangimu."
"Sebagai hyungmu? Betapa bodohnya aku yang baru menyadari ini semua ck!" Potong Suho.
"Aku mencintaimu karena kau telah menyelamatkan hidupku pada saat itu."
"Tetapi kau tidak harus selingkuh dengan adik kandungku sendiri, Kyung. Masih banyak lelaki lain di luar sana yang bisa kau ajak berselingkuh," ucap Suho meremehkan. Ia bahkan tidak memperdulikan ekspresi sedih Kyungsoo.
"Maaf aku baru mengungkapkan ini kepadamu. Tapi apakah kau ingat jika aku adalah kekasih Kai?"
Suho seketika terdiam dan ia menelan ludahnya kasar. Apakah saat ini Kyungsoo tengah membohonginya lagi?
"Aku tau aku pernah mengalami amnesia setelah aku kecelakaan, tetapi kumohon padamu untuk tidak membela diri dengan memanfaatkan hal it.u"
Kyungsoo menggeleng.
"Tidak. Aku tidak berbohong. Maafkan aku, tetapi aku lebih dulu menjadi kekasih Kai sebelum aku mengenalmu."
"Kyungsoo hentikan," kepala Suho mendadak pusing karena entah kenapa ia kembali teringat tentang kejadian yang membuatnya kehilangan ingatannya.
Ya, Suho pernah mengalami sebuah kecelakaan yang mengharuskannya koma untuk beberapa bulan, dan ketika ia berhasil membuka matanya, ia sama sekali tidak mengingat apapun. Yang ia ketahui hanyalah ia mengalami kecelakaan bersama kedua orangtuanya, dan kedua orangtuanya meninggal. Tetapi pada kenyataannya adalah salah, kedua orangtuanya meninggal sejak dirinya dan Kai masih kecil.
"Aku hampir bunuh diri pada saat itu. Kau tahu alasan mengapa aku ingin bunuh diri? Itu karena Kai. Kai berselingkuh dengan wanita lain dan aku benar-benar frustasi. Aku memutuskan untuk menabrakkan diriku pada sebuah mobil. Tetapi mobil itu justru menabrak tepi jalan dan terbalik karena menghindariku. Dan apakah kau tahu siapa pengemudi mobil itu?"
Kyungsoo meneteskan airmatanya dengan deras sambil meraih kedua tangan Suho.
"Kau. Kau lah yang mengendarai mobil itu. Aku merasa amat sangat bersalah karena telah membuatmu kecelakaan dan koma. Aku menyesal, maka dari itu aku selalu menjagamu di Rumah Sakit hingga kau tersadar untuk menebus semua kebodohanku. Dan saat kau membuka matamu, kau menganggapku jika aku ini adalah kekasihmu."
Suho turut meneteskan airmatanya setelah mendengar penjelasan Kyungsoo. Dan yang membuat hatinya remuk saat ini adalah..
Ia tidak mampu menemukan sebuah kebohongan dari mata Kyungsoo.
"Aku semakin membenci Kai ketika aku mengetahui jika Kai adalah adik kandungmu. Aku yang merasa benar-benar kalut pada saat itu, memutuskan untuk membalas dendam pada Kai. Dan aku menerima lamaranmu."
"Kau hanya memanfaatkanku?"
"Aku pikir aku bisa melupakan Kai setelah aku menikah denganmu. Tetapi nyatanya aku tidak bisa. Maafkan aku.. hiks!"
Suho menghela nafasnya perlahan. Dadanya terasa amat sakit. Tetapi setidaknya ia sudah mengetahui semua kebenaran yang tidak ia ketahui sebelumnya. Ini bukan sepenuhnya kesalahan Kyungsoo, ia pun merasa bersalah karena telah memaksa Kyungsoo secara tidak langsung untuk berpura-pura.
Suho tidak boleh egois dan ia tidak boleh memaksakan perasaannya walaupun ia akan merasa tersakiti nantinya. Lebih baik ia mengalah dan menganggap semua ini adalah hukuman dari Tuhan.
"Aku pun meminta maaf padamu karena telah memaksamu untuk berpura-pura mencintaiku selama ini. Aku merasa menjadi suami yang tidak baik karena selalu membuatmu merasa kesepian. Aku lebih mengutamakan pekerjaanku daripada dirimu."
Suho memeluk tubuh Kyungsoo dengan sangat erat, kemudian mengecup dahi Kyungsoo dengan sayang.
"Aku akan mengurus surat perceraian kita," final Suho.
.
.
.
~oOo~ UNFAIR ~oOo~
.
.
.
'Aku tidak ingin seorangpun memiliki Baekhyunee'
Baekhyun mengembangkan senyumannya ketika ia baru saja terbangun dari tidurnya. Entah kenapa kalimat Chanyeol yang semalam, terus saja terngiang di pikirannya.
Baekhyun akan selalu mengingat kalimat itu dan tidak akan pernah melupakannya sampai kapanpun. Apakah ini adalah mimpi? Tetapi kenapa semuanya terasa begitu nyata?
Akhirnya Baekhyun memutuskan untuk turun dari tempat tidurnya menemui Chanyeol. Ia ingin sekali melihat Chanyeol saat ini juga.
"Kau berhasil membuatku merindukanmu walau hanya semalam, Chanyeol," gumam Baekhyun seorang diri dengan senyum cerahnya.
Kemudian ia mulai menuruni anak tangga rumahnya untuk menuju ke dapur. Biasanya Chanyeol selalu ada di dapur sedang memasak atau bahkan sekedar mencuci piring.
Namun ekspresi ceria Baekhyun luntur seketika karena tidak mendapati seorangpun disana. Dimana Chanyeol? Dan dimana semua orang? Baekhyun mulai panik dan ia berjalan cepat menuju kamar Chanyeol yang terletak tidak jauh dari dapur.
Namun naas, Baekhyun tidak menemukan seorangpun disana. Terlebih lagi, kamar itu sudah kosong. Tidak ada perabotan sama sekali disana seperti biasanya. Apakah Chanyeol dan Bibi Park pindah kamar?
"Chanyeol.. kau dimana?"
Baekhyun yang masih mengenakan piyamanya berlarian mengelilingi rumah mewahnya. Ia mencari Chanyeol seluruh penjuru rumahnya, tetapi ia masih belum bisa menemukan Chanyeol. Dan yang paling ia khawatirkan, Bibi Park pun tidak berada disana. Sebenarnya kemana perginya mereka?
"Chanyeol kau dima-"
"Baekhyun, kau sudah bangun nak?"
Baekhyun segera menolehkan kepalanya setelah mendengar sapaan sang Umma. Ia langsung menghampiri sang Umma dan menunjukkan ekspresi paniknya.
"Dimana Chanyeol dan Bibi Park? Kenapa barang-barang mereka tidak ada di kamar?" Tanya Baekhyun tanpa berbasa-basi. Sedangkan sang Umma hanya terdiam dan tersenyum lemah.
"Mereka masih berada di luar. Temuilah mereka."
Baekhyun masih tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi, tetapi ia lebih memilih untuk langsung berlari keluar rumah dan betapa terkejutnya ia karena Chanyeol dan Bibi Park sudah berada di dalam mobil dengan pakaian yang rapih.
"Chanyeol!"
"Baekhyunee?" Ucap Chanyeol saat menyadari Baekhyun sedang berlari ke arahnya. Dan tanpa menunggu lama lagi, Chanyeol segera keluar dari mobil itu dan menghampiri Baekhyun.
Grep
Tubuh Chanyeol serasa kaku saat Baekhyun tiba-tiba memeluknya dengan sangat erat. Dan ia merasakan isakan Baekhyun didadanya. Apakah Baekhyun menangis?
"Jangan pergi hiks!" Isak Baekhyun sambil terus memeluk Chanyeol dengan erat.
Chanyeol merasa bersalah telah membuat Baekhyun menangis. Tetapi ia tidak mampu melakukan apapun selain menuruti perintah sang Umma yang mengharuskannya menjauhi Baekhyun.
"Chanyeol kenapa kau diam saja? Hiks! Kenapa kau pergi tanpa memberitahuku? Hiks! Kau ingin kemana eoh?"
Dengan perlahan Baekhyun melepaskan pelukannya dan mengangkat kepalanya untuk menatap wajah Chanyeol. Sedangkan Chanyeol masih terdiam dengan ekspresi datarnya.
"Chanyeol jawab aku," tuntut Baekhyun. Dan Chanyeol segera mengembangkan cengiran lebarnya.
"Chanyeol tidak ingin mengganggu tidur Baekhyunee," jawab Chanyeol. Mungkin tidak masalah jika ia sedikit berbohong, karena ia mengingat perkataan sang Umma untuk mengatakan hal ini jika Baekhyun bertanya kenapa Chanyeol pergi tanpa memberitahunya.
Dan Baekhyun dapat dengan mudah mengetahui jika Chanyeol saat ini tengah berbohong. Ia segera menolehkan kepalanya pada sang Umma dan meminta penjelasan.
"Kenapa Umma tidak memberitahuku?!"
"Baekhyun, Appa hanya ingin menyekolahkan Chanyeol di sekolahan khusus."
Sontak Baekhyun menolehkan kepalanya pada sang Appa yang muncul di belakangnya. Dan Baekhyun hanya melemparkan tatapan tidak mengertinya.
"Chanyeol, kembalilah ke dalam mobil," perintah Tuan Byun.
Tetapi Baekhyun berhasil lebih dulu menahan tangan Chanyeol dan ia langsung menunduk tepat di hadapan Chanyeol.
"Chanyeol jangan pergi," gumam Baekhyun.
Chanyeol tersenyum dan ia mengangkat kepala Baekhyun lalu menempelkan dahi mereka berdua.
"Hanya sementara," bisik Chanyeol.
Baekhyun menggeleng.
"Aku akan sangat merindukanmu, Chanyeol."
"Kita pasti akan bertemu lagi nanti," bisik Chanyeol lagi.
Kini Chanyeol menyelipkan jari-jari di rambut Baekhyun dan terus menempelkan dahi mereka berdua. Semua orang yang melihat mereka pun hanya bungkam dan tidak bersuara sedikitpun. Biarkan lah ini menjadi perpisahan mereka yang manis.
"Chanyeol.."
"Aku berangkat Baekhyunee. Hiduplah dengan baik."
Baekhyun meneteskan airmatanya kembali ketika Chanyeol menarik jemarinya yang terselip di rambutnya. Kemudian Chanyeol perlahan mulai melangkah mundur dan melambaikan tangannya pada Baekhyun dengan senyuman cerahnya.
'Aku menyukai Chanyeol sejak ia menyelamatkanku. Mungkin ini terlihat mustahil, tapi aku masih memiliki harapan. Tidak peduli bertahun-tahun berlalu. Tidak peduli bertahun-tahun aku menunggu..'
"Aku tidak akan pernah lelah untuk menunggumu, Chanyeol"
"Jika cinta itu seperti sedang menaiki bus. Meskipun aku sudah menaiki sebuah bus yang tepat, nyatanya aku masih harus melakukan sebuah perjalanan. Mungkin perjalanan yang aku lalui tidak akan mudah. Tetapi aku harus tetap menjalaninya jika aku ingin tiba di tempat tujuanku."
.
.
.
~oOo~ UNFAIR ~oOo~
.
.
.
Sudah seminggu berlalu sejak kepergian Chanyeol, Baekhyun masih saja terlihat menyendiri dan tidak menunjukkan senyumannya sama sekali. Jujur saja ia merasa sangat kehilangan sosok Chanyeol yang selalu melindunginya. Dan iapun juga merasa kehilangan semangatnya.
Sama seperti Luhan. Baekhyun akhir-akhir ini jarang sekali bertegur sapa dengan sang kakak. Ia pun merasa sedikit bersalah karena ia tidak memperhatikan sang kakak setelah pertengkaran hebat mereka beberapa waktu lalu.
Baekhyun lebih sering mendapati Luhan yang selalu mengurung diri dikamar, entah apakah Luhan merasa sedih juga karena kepergian Chanyeol atau karena alasan lain. Mungkin sudah saatnya ia membuang perasaan egoisnya terhadap Luhan, ia akan menanyakan hal ini pada Luhan secara langsung. Bagaimanapun juga, Luhan adalah satu-satunya kakak yang ia miliki.
Perlahan Baekhyun melangkahkan kakinya menuju kamar sang kakak, tangannya terangkat untuk mengetuk pintu kamar itu. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, dan Baekhyun hanya berharap Luhan belum tertidur saat ini.
Tok tok tok
"Hyung.." lirih Baekhyun memanggil Luhan.
Cukup lama Baekhyun terdiam di depan pintu kamar Luhan, hingga akhirnya pintu itu terbuka dan betapa terkejutnya ia karena Luhan tiba-tiba memeluknya dengan sangat erat sambil menangis terisak.
"Hyung, ada apa denganmu?" Ucap Baekhyun dengan nada yang khawatir. Kemudian ia memutuskan untuk membawa Luhan memasuki kamarnya, ia dudukkan tubuh Luhan di atas kasurnya dan kemdian ia duduk di sebelahnya.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau menangis Hyung?" Baekhyun mengulangi pertanyaannya.
"Baekhyun.. hiks"
"Hyung, aku ingin meminta maaf padamu soal kejadian beberapa hari lalu. Aku tidak bermaksud-"
"Aku yang seharusnya meminta maaf padamu, Baekhyun. Aku.. hiks- aku yang seharusnya meminta maaf karena telah berusaha merebut Chanyeol darimu."
"Chanyeol sudah tidak berada disini lagi Hyung.. tidak ada yang perlu di permasalahkan lagi."
Luhan menggeleng sambil menyeka airmatanya.
"Aku tahu kau pasti kecewa karena telah melihatku mencium Chanyeol pada waktu itu. Dan kau juga pasti kecewa karena akulah yang telah menuduh Chanyeol ingin memperkosaku."
Baekhyun terdiam. Jujur saja ia masih merasa sedikit sesak ketika mengingat tentang hal itu. Demi apapun, ia sudah berburuk sangka pada Chanyeol hingga membuat Chanyeol terluka. Tetapi semuanya sudah terjadi, dan tidak ada yang perlu di permasalahkan lagi.
"Aku mempercayai Chanyeol.." lirih Baekhyun.
"Kau harus mempercayainya. Dan kini aku baru tersadar jika Chanyeol tidak bersalah sedikitpun. Dia anak yang lugu, dan aku benar-benar menyesal."
"Luhan Hyung.. sudahlah. Aku tidak ingin Hyung menangis lagi."
"Tapi aku memiliki sebuah alasan mengapa aku bersikap seperti itu pada Chanyeol hiks!"
Luhan meraih kedua tangan adiknya itu agar Baekhyun mau menatap matanya.
"Sehun.. kekasihku.. kau mengingatnya?" Tanya Luhan dengan mata yang masih berlinang airmata.
Baekhyun hanya mengangguk lemah.
"Dialah alasan kenapa aku menjadi sosok yang seperti ini hiks! Aku kira dia mengkhianatiku.. ternyata- hiks!"
"Apa yang terjadi pada Sehun Hyung?"
"Dia.. dia memiliki penyakit yang parah. Dan betapa bodohnya aku karena baru menyadarinya sekarang hiks!"
Baekhyun terkejut bukan main. Pasalnya, ia mengenal Sehun adalah kekasih Luhan yang baik. Sehun terlihat kuat dan selalu tersenyum saat menjemput Luhan ke sekolah setiap hari. Ternyata ia baru mengetahui alasan kenapa Luhan dan Sehun tiba-tiba berpisah pada waktu itu.
Luhan tidak mengatakan apapun kepadanya, dan keesokan harinya Luhan benar-benar berubah menjadi sosok yang dingin dan keras kepala. Tanpa sebab, Luhan sering memarahi Chanyeol dan memaki-maki Chanyeol padahal Chanyeol tidak berbuat salah. Luhan terlihat sangat membenci Chanyeol sejak hari itu. Dan tak jarang, Baekhyun sering mendapati Luhan pulang sekolah dalam keadaan mabuk bersama teman sekelasnya, yaitu Kai.
Jadi, apakah saat ini Hyungnya tersebut sudah kembali pada sosok Luhan yang dulu? Luhan yang baik hati dan penyayang?
"Aku sangat menyesal. Nyatanya aku masih mencintai Sehun dan Sehun masih mencintaiku. Tetapi kenapa kenyataan ini begitu berat? Apakah ini adalah hukuman untukku?"
"Tidak Hyung. Jangan pernah berpikiran seperti itu. Semua ini sudah di takdirkan oleh Tuhan. Dan yang seharusnya kita lakukan saat ini adalah berharap dan melakukan yang terbaik."
Luhan mengangguk dan mulai mengembangkan senyumannya.
"Kau benar. Dan saat ini, aku akan menjaga Sehun tidak peduli berapapun lamanya aku menunggu ia membuka matanya."
"Itulah yang saat ini sedang aku lakukan Hyung.." Baekhyun tersenyum lemah.
"Aku menunggu Chanyeol entah sampai kapan.."
.
.
.
.
.
.
To Be Continued..
.
.
.
.
.
.
Mungkin chap depan Yuta bakalan kasih konflik dimana Baekhyun merindukan Chanyeol *eeaa
Dan apakah sekolah Chanyeol berjalan dengan baik? Akankah Chanyeol dan Baekhyun bisa bertemu lagi? *bisa lah, kalo gabisa ketemu lagi FF ini ga akan ada kelanjutannya wkwk *digampar
Kyungsoo dan Suho udah cerai. Tadi udah Yuta jelasin tentang masa lalu Suho yang ternyata korban kecelakaan dan hilang ingatan. Dan apakah masa lalu Suho akan terungkap sepenuhnya nanti? Tunggu saja wkwk *digampar lagi
Ok, Yuta gamau kebanyakan ngomong. Terima kasih banyak utk semua readers yang udh suka sama FF Yuta ini. Yuta bersyukur bgt. Dan semoga masih ada yang pengen lanjut juga :'D
OK, LAST!
NEXT?!
REVIEW JUSEYOO~~
YUTA TUNGGU~
TERIMA KASIH~
SARANGHAE BBUING~!
