Memasuki bulan Mei, tahun 2018, cuaca berubah menjadi makin lembap dan cerah. Chanyeol sudah kembali beraktivitas di klub tari, hanya untuk mempelajari beberapa koreografi yang telah dibuat oleh Jiyong dan Jongin, lalu dia akan ganti baju di sekolah dan langsung pergi ke rumah sakit. Baekhyun harus cuci darah tiga kali sehari, ini membuat tubuhnya makin kurus dan makin lemah. Keluarganya yang ningrat bersedia menanggung semua biaya pengobatannya, namun tidak pernah menjenguknya barang sekali. Mereka meninggalkan Baekhyun di saat dia sekarat dan membutuhkan dukungan lebih.
Sekarang tanggal lima Mei, pukul dua belas kurang lima belas menit. Kini Chanyeol berdiri di belakang Baekhyun yang sedang berada di balkon, duduk di kursi roda menghadap langit, menikmati angin semilir menerpa wajahnya. Chanyeol berjalan maju dan berlutut di depan Baekhyun. Gadis itu memakai gaun rumahan biasa warna putih dan cardigan merah hati, kulitnya nyaris sepucat gaunnya, sangat kurus, namun di mata Chanyeol, dia tetap gadis tercantik yang pernah dilihatnya. Gadis yang telah memenuhi seluruh ruang hatinya, gadisnya, gadis yang diyakininya sebagai cinta terakhirnya di dunia.
"Halo," dikecupnya buku-buku jari Baekhyun. "Aku datang kemari lebih awal, tapi kau sedang tidur."
"Maafkan aku," ucap Baekhyun lirih. "Kepalaku sakit dan aku benar-benar tak bisa menahannya."
Hati Chanyeol nyeri. "Tak apa, sungguh," katanya. "Apakah kau merasa baikan sekarang?"
"Ya, sedikit lebih baik."
Chanyeol mencium tangan Baekhyun lagi, dan mencondongkan dirinya ke depan untuk mencium pipinya. "Selamat ulang tahun yang kedelapan belas, Baekhyun-ah."
"Terima kasih," kata Baekhyun, mengulas sebuah senyum. "Ini adalah ulang tahun terbaikku."
"Aku membeli dua hadiah untukmu," Chanyeol mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi kalung dengan bintang sebagai hiasannya. "Bintang ini sama seperti dirimu, yang selalu bersinar terang di saat-saat yang gelap. Seperti dirimu yang selalu tersenyum apapun kondisinya."
"Astaga," mata Baekhyun berkaca-kaca ketika Chanyeol memakaikan kalung itu ke sekeliling lehernya. "Ini... sangat indah. Terima kasih banyak, Chanyeol-ah. Aku menyukainya. Terima kasih."
"Aku masih punya satu hadiah lagi. Yang ini spesial, amat spesial," kata Chanyeol. Dia bisa merasakan hatinya berdegup sepuluh kali lebih keras daripada biasanya. Gugup, dia tersenyum simpul, mengecup tangan Baekhyun lagi, dan menarik kotak beludru merah berbentuk hati, membukanya, menampilkan dua cincin emas bertahtakan berlian yang ada di dalamnya. Inilah yang keluar dari mulut Chanyeol selagi dia menghembuskan napasnya.
"Byun Baekhyun, maukah kau menikah denganku?"
-o0o-
Chanyeol, yang sudah tampil necis dengan setelan jas hitam, menatap seisi gereja dengan tatapan haru. Meskipun jumlah tamunya tak banyak, dia tetap merasa bahagia—di bangku paling depan, ada ibu tiri Baekhyun, orang tua Chanyeol, Jisung, Minseok, dan ketiga sahabat terkaribnya. Di bangku lainnya ada Yoongi, Yixing, Jiyong, Jongin, dan beberapa kenalan Baekhyun. Mr Robbins, wali kelasnya yang agak galak, sedang berbicara dengan tamu lain. Chanyeol menatap gugup pendeta yang berdiri di sampingnya, lalu menatap semua hadirin, dan kembali ke pendeta. Dia merasakan sensasi yang sama ketika dia berjalan memasuki sekolah, perutnya melilit. Namun, terlepas dari itu semua, dia sangat bahagia.
Sejak dulu, LLG tak pernah melarang siswa-siswinya untuk berpacaran atau menikah, asalkan nilai mereka tetap baik dan memenuhi standar nilai masuk ke universitas. Chanyeol sangat berterima kasih pada kepala sekolahnya atas peraturan ini, namun tetap saja, dia harus rela dibombardir pertanyaan dari Cho Kyuhyun songsaenim—kepala sekolah. Dia menjelaskan semuanya, bahwa dia benar-benar ingin membuat Baekhyun bahagia sebelum gadis itu pergi, dan bahwa dia sama sekali tidak membuatnya hamil di luar nikah.
Chanyeol jatuh cinta kepada Baekhyun, begitu dalamnya sampai-sampai dia tak peduli gadis itu sedang sekarat. Dia tak peduli pada fakta bahwa mereka tidak akan punya waktu banyak. Yang terpenting adalah dia mencintai Baekhyun dan Baekhyun mengiyakan permintaannya, bersedia menjadi teman hidupnya, bersedia menjadi pelabuhan terakhir bagi hatinya. Penting baginya, untuk membuktikan pada semua orang bahwa cintanya pada gadisnya bukanlah nafsu atau karena fisik semata. Chanyeol akan tetap menikahi Byun Baekhyun apapun yang terjadi, bahkan jika mereka sama-sama sekarat sekalipun.
Pintu gereja terbuka, dan di ujung sana, Siwon berdiri di samping Baekhyun, yang duduk di kursi roda, memakai gaun putih se mata kaki dan mahkota bunga yang pernah Chanyeol berikan pada Natal lalu. Rambutnya yang sehitam arang dikepang satu dan dijuntaikan ke samping. Meskipun tampak sangat lemah, Baekhyun tetap tersenyum, kedua pipinya dihiasi semburat kemerahan. Dibantu ayahnya, dia berdiri dengan gemetar dari kursi roda, dan berjalan pelan-pelan menuju Chanyeol. Baekhyun, kendati tubuhnya terlampau kurus, kelihatan sepenuhnya sehat di hari yang membahagiakan ini.
Seokjin melipat kursi rodanya dan membawanya ke altar. Begitu Baekhyun sudah berdiri di hadapan Chanyeol, gadis itu kembali duduk di kursi roda. Rupanya dia tak sanggup berdiri lama-lama. Chanyeol berlutut agar tinggi mereka sama, tersenyum bahagia, air matanya menggenang. Sang pendeta melakukan hal yang sama, dan dia mulai membacakan Alkitab untuk memulai upacara pernikahannya. Baekhyun menitikkan air mata selagi ayat-ayat suci diucapkan keras-keras oleh pendeta. Melihatnya, Chanyeol ikut menitikkan air mata. Mereka pun saling mengucap sumpah.
"Baekhyun-ah," suara Chanyeol gemetar. "Aku tak memiliki banyak kata-kata sebelum aku mengucap sumpahku, namun biar kuperjelas: kau adalah gadis pertama yang pernah kucintai sedalam ini. Dan aku amat bahagia melihatmu berdiri di hadapanku sebagai calon istriku. Jadi, Byun Baekhyun, aku menjanjikan hati, jiwa, dan ragaku padamu. Aku, Park Chanyeol, mengambilmu sebagai seorang istri, sebagai seorang teman di kala susah maupun senang, suka maupun duka, dan di saat sehat maupun sakit. Aku berjanji akan selalu mencintaimu apapun kondisinya. Aku berjanji akan melindungimu, menjagamu, dan mendukungmu dalam hal apapun. Dan aku berjanji akan terus berada di sampingmu sampai ajal menjemput kita."
Baekhyun tersenyum, menggenggam tangan Chanyeol dan meremasnya sedikit. "Ketika kita pertama kali bertemu, di depan ruangan kepala sekolah, yang kuperhatikan darimu adalah penampilanmu yang sederhana dan matamu yang jernih. Tapi, yang membuatku jatuh cinta padamu adalah ketulusanmu ketika menatapku. Dan aku ingin membuktikan ketulusanku terhadapmu dengan menerima lamaranmu."
Chanyeol menitikkan air mata mendengarnya.
"Aku, Byun Baekhyun, mengambilmu sebagai suamiku. Aku berjanji akan mencintaimu dengan segenap hati dan jiwa ragaku. Aku berjanji untuk selalu mendukungmu, menggenggammu di saat suka maupun duka, menghormatimu, dan untuk terus berada di sampingmu sampai maut memisahkan kita."
"Dan dengan ini," kata sang pendeta takzim, "kunyatakan kalian sebagai suami dan istri."
Tepat saat sang pendeta mengatakan kalimat ini, tepukan dan sorakan riuh memenuhi gereja. Seokjin, Yoongi, dan Yixing menangis keras di bangku kedua, saling berpelukan. Keluarga Chanyeol tersedu, Minseok bertepuk tangan keras sekali. Jisung, yang tak mengerti apa-apa, juga ikut menangis. Siwon, bergelinang air mata, mencium kedua pipi Baekhyun, dan memeluk kedua pengantin dengan amat erat. Setelah itu, Chanyeol mencium Baekhyun seperti yang belum pernah dilakukannya.
Dia merasakan rasa bangga menyeruak masuk ke dalam hatinya. Dia merasa bangga karena dia telah berjanji, di hadapan kedua orang tuanya, di hadapan semua orang, di hadapan Tuhan, bahwa dia akan selalu mencintai Baekhyun apapun yang terjadi; di saat suka maupun duka, di saat sehat maupun sakit. Kemudian, mereka berdiri, Chanyeol mendekap Baekhyun lebih erat ke dalam pelukannya, mengecup pelipisnya sayang, dan bisa di dengarnya gadis itu berbisik, "Terima kasih banyak."
"Aku amat bangga padamu," ucap Minho yang tampak sangat terkesan. "Akhirnya setelah berteman selama tujuh belas tahun, aku bisa melihat sisi tulus dari dirimu."
"God! Mimpi apa kau, bisa menikahi gadis tercantik di sekolah?" Joohyuk meninju lengan Chanyeol main-main. "Tapi serius deh, aku salut. Aku tidak pernah membayangkan akan menikah di usia tujuh belas."
"Bravo, Sobatku! Kukira kau seorang pengecut bangsat yang cuma berani memacari gadis saja, ternyata kau sangatlah serius dan berani ambil risiko! Menikah! Dengan gadis secantik dan sebaik Baekhyun, pula!" kata Changmin gembira. "Oh ya, aku sempat nyicip kari ayamnya. Boleh kubungkus? Enak banget, sih."
Chanyeol tersenyum lebar. Selain tanggal ulang tahunnya, tanggal dua puluh Mei rasanya juga layak untuk dinobatkan sebagai hari paling membahagiakan sedunia.
-o0o-
Baekhyun dibawa ke rumah sakit dua jam setelah pengucapan sumpah pernikahan. Dia terlihat sangat kelelahan, lalu akhirnya dia mimisan dan ambruk, sehingga acaranya harus ditutup sejam lebih awal. Chanyeol mondar-mandir di depan ruangan nomor 04, masih mengenakan jas, rambutnya masih tertata klimis. Seokjin dan Yixing komat-kamit memanjatkan doa di kursi tunggu. Tak lama kemudian, Dokter Minki keluar ruangan, melepaa masker dan sarung tangannya. Wajahnya sedikit berkeringat.
"Pasien Baekhyun mengalami anemia, kekurangan banyak vitamin, dan paru-parunya sedikit meradang," katanya. "Kabar selanjutnya akan kami informasikan beberapa jam ke depan. Pasien sudah boleh dijenguk. Saya permisi dulu."
Chanyeol langsung berhambur masuk ke dalam. Bagian dalam tubuhnya seperti dikoyak menatap istrinya sedang terkulai lemas di ranjang rumah sakit dengan mulut dan hidung terbungkus nebulizer, sebuah alat pengalir obat berbentuk uap ke paru-paru yang mirip masker. Tubuhnya bukan main kurusnya, rambutnya sudah digerai kembali, dan gaunnya telah diganti dengan pakaian rumah sakit pada umumnya. Selagi dia duduk, air matanya jatuh, dia menangis tersedu-sedu sambil merebahkan kepalanya di perut rata Baekhyun.
"Sayang... kumohon..." isaknya. "Bertahanlah, oke? Kau—kau telah berjanji untuk selalu berada di sampingku..."
Tangan Baekhyun bergerak-gerak. Perlahan, kedua matanya terbuka, mengerjap-ngerjap, hingga akhirnya menatap Chanyeol, yang wajahnya bersimbah air mata. Perlahan dijauhkannya nebulizer dari mulutnya, tangannya mengelus rambut Chanyeol, lalu turun ke pipinya, menghapus sisa-sisa air matanya. Bahkan di saat-saat paling menyakitkan dalam hidupnya, Baekhyun masih tetap tersenyum. "Ya," ucapnya, lebih mirip bisikan lemah. "Aku telah berjanji."
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu," Chanyeol meraih tangan Baekhyun, mengecupnya, menggenggamnya erat. "Kau tak tahu betapa cemasnya aku..."
"Aku juga mencintaimu," dan ketika Baekhyun mengatakannya, Chanyeol menangis makin keras. Hatinya sakit karena tak bisa menampung rasa cintanya yang semakin besar seiring berjalannya waktu.
Banyak tamu pernikahannya mengirim buket bunga ke rumah sakit. Changmin memberi sebuket besar bunga mawar warna-warni—gabungan antara merah, kuning, putih, dan merah muda, lengkap dengan kartu ucapan berbunyi 'Get Well Soon, Girl'. Teman-teman sekelas Chanyeol dan Baekhyun patungan membeli boneka beruang ungu, buket bunga krisan, dan buah-buahan. Mereka juga menyelipkan selembar kertas berisi ucapan selamat menikah dan semoga lekas sembuh. Orang tua Chanyeol membelikan Baekhyun Alkitab baru dan syal berbahan wol tebal.
"Dia bahkan tertidur pulas tanpa meminta kita membacakan ayat-ayat untuknya," ucap Seokjin getir, ketika mereka berdua duduk berhadapan di kedai kopi depan rumah sakit yang kosong melompong. Chanyeol menunduk menatap susu coklat hangatnya, menolak bicara. "Bagaimana kondisinya?"
"Melemah, detak jantungnya," Chanyeol menghela napas. "Aku tak yakin dia baik-baik saja."
"Sama."
"Seokjin-ssi, apa yang harus kulakukan?" kata Chanyeol, kedengarannya putus asa. "Aku tak bisa terus melihat Baekhyun sekarat begini."
"Hanya mukjizat yang bisa menyelamatkannya, Chanyeol-ssi," kata Seokjin lemah. "Dan kita ditugaskan untuk menunggu kapan mukjizat itu akan datang. Yang perlu kita kuatirkan sekarang adalah soal apakah mukjizat itu akan datang atau tidak."
"Tuhan pasti mau membantunya," kata Chanyeol. "Baekhyun adalah orang yang sangat berbakti kepada-Nya."
"Justru karena itulah, kemungkinan Tuhan akan segera mengambil Nona Baekhyun semakin membesar," Seokjin menyesap tehnya. "Kau tentu akan mengambil bunga terbaik dari tamanmu, kan?"
Chanyeol mengerutkan dahi tak mengerti.
"Sama halnya dengan kita, Tuhan akan mengambil bunga terbaik dari taman-Nya. Tuhan akan mengambil orang yang menurut-Nya paling baik dari dunia ini, membawa orang itu kembali ke dalam dekapan-Nya di Surga. Tentulah Dia tak ingin menyia-nyiakan orang sebaik Nona Baekhyun."
Dan saat itu juga, Chanyeol menangis.
-o0o-
Begitu mereka kembali dari kafe, mereka dikejutkan oleh keluarnya Dokter Minki dari ruangan nomor 04. Pasti ada sesuatu yang terjadi pada Baekhyun. Dokter Minki melepas masker dan sarung tangannya, menatap mereka berdua dengan nanar dan putus asa.
"Kami tidak bisa menyelamatkannya lebih jauh lagi," katanya lemah. "Tidak, tidak, pasien belum meninggal, namun harapannya untuk bisa sembuh dan terus hidup hanya dua persen. Dia sudah bangun dari komanya, kondisinya terus memburuk. Sudah bisa dijenguk. Saya permisi."
Chanyeol berlari masuk. Baekhyun sudah sadar, sebuah kanula (alat bantu napas yang bercabang dua) tertancap hidungnya, matanya terpejam dan tangannya bergerak-gerak. Buru-buru Chanyeol duduk dan merebahkan kepalanya di paha Baekhyun, menangis keras seperti anak kecil. "J-jangan pergi... jangan, aku mohon jangan... berjuanglah untukku, Baekhyun-ah... tidak, jangan tinggalkan aku sendirian... kau—kau telah berjanji..."
Hening. Tangisan Chanyeol semakin menjadi-jadi.
"C-chanyeol-ah?" bisiknya. Matanya terbuka, keduanya merefleksikan cahaya putih lampu. Chanyeol segera menggenggam tangan Baekhyun, menciuminya, membasahinya dengan air matanya. "Chanyeol-ah?"
"Ya, Sayang, aku di sini," Chanyeol mengelus rambut hitam Baekhyun penuh cinta.
Gadis itu menepuk tempat kosong di sebelahnya. Ranjang yang ditempatinya memang tak terlalu besar dan cukup menampung hanya satu orang, namun Baekhyun sangat kecil dan kurus, jadi masih sisa banyak tempat. Chanyeol berbaring, merebahkan kepala Baekhyun di dada bidangnya. Chanyeol membenamkan hidungnya ke rambut istrinya yang beraroma mawar.
"Chanyeol-ah," bisik Baekhyun lirih. "Bolehkah aku meminta sesuatu?"
"Apapun, Sayang, apapun," sepertinya Chanyeol tidak akan memanggil Baekhyun dengan namanya lagi.
"Jika nanti aku—" ada jeda sejenak. "—pergi, maukah kau mencari penggantiku?"
"Tidak," jawab Chanyeol sangat tegas. Matanya bergelinang air, panas. "Aku tidak akan menikah dengan siapapun kecuali dirimu. Aku telah bersumpah tidak akan meninggalkanmu, dan meskipun diizinkan, aku tak akan menikah lagi."
"Kenapa?"
"Aku telah berjanji," jawab Chanyeol. "Di altar, beberapa jam lalu. Bahwa aku akan berada di sampingmu sampai ajal menjemput kita, bukan menjemputmu. Itu artinya, aku akan terus mencintaimu hingga kita berdua berpulang," Chanyeol mengecup puncak kepala Baekhyun.
"Ah, aku mengerti," gadis itu tersenyum. "Terima kasih."
Chanyeol mengangguk dan mencium puncak kepala Baekhyun lagi. Mereka hanya diam selama beberapa menit, memandangi langit-langit rumah sakit yang putih kosong, menyedihkan. Chanyeol hendak bertanya sesuatu, tapi dirasakannya kausnya basah. Mengernyit, dia menunduk melihat dadanya. Lalu, rasa panik menyergap hatinya begitu dia melihat begitu banyak darah keluar dari hidung dan telinga Baekhyun, yang memejamkan mata, sepertinya pingsan.
"Sayang? Sayang, bisakah kau mendengarku?" Chanyeol menepuk-nepuk pipi Baekhyun. Melihat semakin banyak darah, dia rasa dia tak punya pilihan lain selain keluar dari ruangan dan memanggil dokter. Dan itulah yang dilakukannya.
Seokjin, yang sedari tadi berbincang ringan dengan dokter tampan bernama Kim Namjoon di kursi tunggu, berdiri kaget. Wajah Chanyeol pucat pasi, dan dia nyaris mengumpat keras-keras kalau saja dia tidak melihat segerombolan dokter berjalan ke arahnya. Dokter Minki berjalan duluan, menerobos masuk begitu saja, dan Chanyeol terpaksa menunggu di luar setelah didorong oleh salah seorang suster.
"Apa yang terjadi, Chanyeol-ssi?" tanya Seokjin kuatir.
"Darah... keluar dari hidungnya... telinganya juga... aku takut sekali..." kata Chanyeol terburu-buru. Seokjin mulai bercucuran air mata dan menangis tanpa tahu malu di pundak Dokter Namjoon.
Setelah menunggu selama sejam lebih, Dokter Minki keluar ruangan. Sarung tangannya penuh darah. Dengan suara getir yang kentara sekali tak dibuat-buat, dia berkata sesuatu.
"Kita sudah kehilangan dia."
Tangis Chanyeol pecah seketika.
TBC.
sorry.
aha.
