Sinopsis Bab Sebelumnya: Spain membeberkan segalanya kepada Netherlands, namun rupanya Netherlands tidak goyah dengan keputusannya untuk mempertahankan Indonesia dan juga Bhineka. Dia tidak akan memberikan dua orang yang disayanginya itu kepada siapapun. Spain tidak menyerah begitu saja. Jika negosiasi tidak berhasil, dia masih punya cara lain. Apa yang akan dia lakukan?

Axis Power – Hetalia adalah milik Hidekazu Himaruya. Saya meminjam karakter-karakter berikut hanya untuk kesenangan semata tanpa mengambil keuntungan material apapun darinya.

Fanfiksi ini mengandung tema dewasa, hubungan sesama jenis, dan referensi tentang male-pregnancy. Jika Anda merasa hal-hal tersebut bertentangan dengan preferensi Anda, harap jangan diteruskan membaca. Anda sudah diperingatkan.

Selamat membaca dan semoga menikmati.

.

.

.

.

.

Bhineka beringsut pelan, bergulung lebih dalam lagi oleh balutan selimutnya yang tebal dan menyenangkan. Dia membiarkan dirinya dibuai alam mimpi sedikit lebih lama dari biasanya, menikmati tidur di kasurnya sendiri yang empuk. Tempat tidur rumah sakit sungguh membuatnya tidak nyaman. Atau mungkin bau obat-obatan di sana yang membuatnya tak bisa tidur nyenyak. Tapi intinya, Bhineka senang sekali sudah diperbolehkan kembali ke rumah.

Meski Bhineka masih ingin berlama-lama tidur, tapi dia sadar bahwa dia tidak boleh terlambat pergi ke sekolah. Dengan agak malas-malasan dia bangkit, selimutnya merosot dari bahu. Dia menoleh ke samping, matanya langsung melihat pantulan dirinya dari cermin yang terpasang di pintu lemari. Rambut coklatnya sudah panjang sekali. Mungkin sudah waktunya dia potong sedikit…

"Bhineka? Kau sudah bangun?"

"Hampir," sahut Bhineka membalas teriakan ayahnya dari lantai bawah. Dia nyengir sendiri, lalu melompat turun dari kasur. Bau telur dan daging asap menyusup ke kamarnya, membuatnya cepat-cepat mengerjakan rutinitas paginya kemudian turun untuk sarapan. Kedua ayahnya sudah ada di sana. Indonesia sibuk meletakkan makanan di meja, sementara Netherlands tekun membaca koran sembari tangannya yang lain memegang cangkir kopi.

"Pagi!" serunya riang. Dia menunggu sampai Netherlands meletakkan cangkirnya sebelum dia memberikan pelukan selamat paginya. "Tumben Papa bangun awal."

"Kau yang telat bangun, Nona," kata Netherlands lalu menyentil hidung Bhineka. Yang disentil tertawa-tawa saja kemudian duduk di kursi yang berseberangan dengan ayahnya. "Kau senang sekali. Ada sesuatu?"

"Maksud Papa selain kenyataan bahwa aku tidak perlu sarapan bubur gandum lagi?" kata Bhineka dengan kilau jenaka di matanya. "Kurasa tidak. Tidak ada."

"Kelihatannya kau benci sekali bubur gandum," kata Indonesia tersenyum, meletakkan mangkuk di depan putrinya berikut segelas susu. Bhineka ganti mendongak menatap ayahnya yang satu lagi, membuatnya tidak memperhatikan Netherlands yang tampak tak ingin menatap matanya lama-lama. "Bubur gandum kan tidak bersalah apa-apa padamu."

"Daddy boleh berkata begitu sekarang," ucap Bhineka sambil menumpahkan serealnya ke dalam mangkuk, lalu mengambil telur dan sosis panggang. Dia menusuk sosis dengan garpu, kemudian menoleh Indonesia dengan ekspresi serius. "Tunggu sampai Daddy harus makan bubur gandum setiap hari selama seminggu. Aku mau dengar Daddy ngomong apa nanti."

Indonesia tertawa pelan, meninggalkan Bhineka dan beralih kepada Netherlands. Dia meletakkan piring, kemudian segelas jus jeruk. Dia melihat suaminya itu masih membaca koran. Dia sudah setengah jalan hendak menanyakan apa yang menarik di dalam situ ketika dia sadar mata Netherlands tidak bergerak. Dia hanya memandang koran itu, sementara pikirannya ada di tempat lain.

Indonesia menghela napas samar. Dia tidak ingin berbuat hal-hal yang sekiranya membuat Bhineka penasaran, jadi dia hanya menyentuh bahu Netherlands perlahan. Suaminya itu kemudian berjengit samar, kepalanya langsung mendongak dan bertatapan dengan Indonesia.

"Sarapan," ujar Indonesia pendek, tersenyum kecil memberi isyarat ke arah piringnya di meja.

"Daddy, pulang sekolah nanti aku mau mampir ke toko kue sebentar jadi mungkin aku akan sedikit terlambat," ujar Bhineka. Buru-buru Netherlands menyibukkan diri dengan sarapannya, supaya gadis itu tidak menyadari dirinya yang hilang fokus beberapa saat lalu.

"Kau mau pulang sendiri?"

"Iya. Tidak apa-apa, 'kan?"

"Tidak apa-apa, yang penting hati-hati saja," kata Indonesia pelan. Dia mengusap kepala gadisnya itu dengan sayang lalu menambahkan, "Kau tak mau sarapan bubur gandum lagi, 'kan?"

"Daddy!"

Indonesia kembali tertawa, kemudian berbalik dan mulai membereskan dapur. Suami dan anaknya melanjutkan sarapan, tetapi sesekali Indonesia melempar pandangan ingin tahu ke arah suaminya. Jujur saja, Indonesia tidak tahu apa yang Netherlands pikirkan. Maksudnya, dia tidak tahu pasti, ke arah mana jalan pikirannya saat ini. Indonesia berharap segalanya tidak akan menjadi lebih buruk. Dia tidak tahu kalau masih ada yang lebih buruk dari situasinya sekarang ini.

"Papa, ayo cepat sedikit!" seruan Bhineka itu mengalihkan perhatian Indonesia.

"Jangan buru-buru begitu," kata Netherlands santai, mengunyah panekuknya pelan-pelan. Jelas dia menggoda Bhineka. "Biarkan Papa menikmati sarapan sebentar lagi."

"Ah, Papa. Jangan seperti Kakek Nusantara," cetus Bhineka sembari turun dari kursinya, lalu mulai menarik lengan sang ayah. "Berlama-lama di meja makan itu cuma dilakukan oleh orang tua. Papa tidak boleh berlagak tua. Ayo cepat."

Indonesia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat keributan kecil di meja makan itu. Kalau Netherlands sudah bisa bercanda dengan Bhineka, bukankah artinya kehidupan keluarga mereka telah kembali seperti sedia kala?

Indonesia tahu itu hanya harapannya saja. Seperti apapun dia mencoba memperbaiki segalanya, rumah tangga mereka tidak akan pernah sama lagi.

"Daddy! Kami berangkat!" Bhineka berseru dari pintu depan, tangannya yang satu menggandeng lengan Netherlands, satunya melambai penuh semangat.

Indonesia cepat-cepat menghampiri mereka, kemudian tersenyum memberikan pelukan selamat pagi pada putrinya. Waktu dia bangkit berdiri, dia menyadari ada sekeping sereal tersangkut di kerah baju Netherlands.

"Tunggu sebentar," kata Indonesia mencekal lengan suaminya ketika dia hendak berbalik pergi. Netherlands berdiri diam, tidak yakin apa yang akan dilakukan Indonesia ketika pria itu menariknya mendekat. Otaknya macet untuk sesaat sampai Indonesia menarik tangannya kembali dengan sekeping sereal yang ia peroleh dari kerah baju Netherlands.

"Oh," katanya pelan. "Aku tidak tahu bagaimana benda itu bisa ada disitu…"

"Kau hanya sedang tidak fokus," balas Indonesia setengah berbisik. Jarak mereka yang begitu dekat membuat suaranya masih terdengar meski ia hanya berkata lirih. "Semuanya akan baik-baik saja, Nethere. Kau tidak perlu khawatir."

Netherlands menunduk, menatap langsung ke dalam mata kelabu Indonesia. Bulatan gelap itu memandangnya jujur, untuk kali ini dia bisa melihat bahwa tidak ada kebohongan yang melapisinya. Bibirnya tertarik membentuk sebuah senyum kecil, tangannya yang bebas menarik pinggang Indonesia, memendekkan jarak di antara mereka. Kepalanya menunduk, kemudian mencium Indonesia dengan lembut.

Mungkin, pikir Indonesia penuh harap, mungkin masih ada kesempatan untuknya memperbaiki segalanya…

Waktu Netherlands menarik diri, Indonesia setengah berpikir untuk mencegahnya. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali dia menghabiskan waktu berdua dengan suaminya itu. Netherlands seperti bisa membaca pikirannya, karena pria itu tersenyum kemudian mengendikkan kepalanya ke samping. Indonesia menoleh, dan tampaklah putrinya Bhineka berdiri tak jauh dari mereka, tersenyum lebar memandangi mereka.

"Tahu tidak? Rasanya aku jadi ingin naik bus saja," ujarnya dengan nada kasual, setengah berbalik badan dengan cengiran jahil. Dia bisa melihat bahwa wajah Indonesia merona merah, tapi ia tak membiarkan ayahnya itu merasa malu terlalu lama. "Kukira ban mobil Papa juga kempes. Atau tidak. Tapi pokoknya lebih baik aku naik bus. Sampai nanti."

Waktu Bhineka sampai di jalan, dia bisa mendengar pintu depan tertutup dengan sedikit lebih keras dari biasanya. Gadis itu tertawa sendiri, tak menghiraukan pandangan aneh bibi penjual bunga di seberang jalan.

"Dasar kasmaran."

.

.

.

Chapter 10

Shattered Bond

.

.

.

Romano tidak bisa menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya khawatir.

Memang Indonesia berkata bahwa dia bisa menjaga diri. Tapi Romano kenal Spain. Dia tahu manusia macam apa pria Mediterania itu. Sejauh ini keadaan masih tenang-tenang saja. Atau paling tidak, sejauh yang Romano tahu. Dia hampir yakin bahwa Spain bukan tipe orang yang mau diam-diam saja kalau ada kesempatan di depan mata. Tapi masalahnya adalah dia tidak tahu sebanyak apa informasi yang diketahui Spain, dan mengantisipasi dalam gelap begini rasanya menyakitkan.

Jadi dia mencoba menanyai Belgium.

"Aku tidak mengerti apa yang kau pikirkan," ucap Romano sambil lalu, sementara tangannya sibuk mengambil sarapan. Belgium menoleh dari tempatnya di depan konter dapur, tangannya berlumur busa sampai ke siku.

"Maksudnya?"

"Maksudku tentang Spain," kata Romano menjelaskan. Dia mengolesi roti panggangnya dengan selai kacang, lalu menggigit bagian ujungnya. "Apa perlunya memberitahu dia soal rumah tangga kakakmu. Mestinya kau juga tahu kalau mereka itu musuh bebuyutan." Alis Romano berkerut memandang rotinya. "Selainya tidak enak. Kau beli yang merk apa?"

"Aku tidak 'sengaja' memberitahunya, kalau kau ingin aku menjelaskannya secara spesifik," kata Belgium. "Seperti yang kubilang, dia sering meneleponku. Dia tanya apa kabar kakak, jadi aku cerita. Lagipula maksudku cuma minta nasehat. Dan selainya memang lain. Yang biasa habis, terpaksa kubeli yang itu."

"Memangnya sejak kapan Spain meneleponmu? Rasanya kau tidak pernah cerita. Kau punya mentega saja?"

"Sudah sejak lama, kok. Kau saja yang tidak suka mendengarkan kalau aku mulai bercerita tentang Spain. Mentega ada di rak sebelah kiri paling atas."

Romano bangkit dari duduknya, menghampiri lemari dinding dapur mencari mentega. "Yah, aku memang tidak begitu bersimpati pada Spain," gumamnya pelan. Dia menemukan mentega yang dimaksud, kemudian kembali duduk di meja makan. "Seberapa banyak yang kau ceritakan padanya?"

Belgium sudah selesai dengan cuciannya, jadi dia mengeringkan tangan kemudian mengambil cangkir berisi cokelat panasnya sebelum duduk di depan Romano. "Tidak banyak," ujarnya sambil meniupi minumannya yang masih mengepulkan uap. "Cuma sebatas yang aku tahu saja."

"Seperti?"

"Hal-hal yang besar dan di permukaan saja. Seperti kenyataan bahwa Bhineka ternyata bukan anak Netherlands, bahwa Netherlands berniat menceraikan Indonesia begitu dia tahu siapa selingkuhannya, itu-itu saja."

Romano mengunyah rotinya yang baru sambil berpikir. Dua informasi itu saja sudah cukup bagi Spain kalau dia berniat menghancurkan rumah tangga Netherlands. Romano tahu apa yang diincarnya. Pasti bukan Bhineka. Dan jawaban Indonesia waktu lalu cukup menjelaskan bahwa memang Spain-lah lelaki yang sebenarnya dicari oleh Netherlands. Bijaksanakah jika dia memberikan informasi itu kepada sang kakak ipar?

Tidak, rasanya tidak. Romano merenung. Di saat seperti ini, sebaiknya dia berdiri di pihak yang mana? Dia tentu tidak ingin melihat rumah tangga kakak iparnya hancur berantakan. Meskipun secara teknis, sekarang pun keluarga mereka sudah tidak utuh lagi.

"Memangnya kenapa?" tanya Belgium, membuat Romano menoleh ke arahnya. Kedua mata wanita itu menyipit curiga. "Spain memang bukan teman kakak, tapi toh tidak ada bahayanya kalau dia tahu. Paling-paling dia cuma akan menebar rumor. Dan lagi, kurasa dia tidak akan melakukan sesuatu yang sekiranya bisa membahayakan posisi Netherlands. Iberia Company itu kan terancam bangkrut, karena itu dia mencoba meminta bantuan dari perusahaan kakak. Kalau sampai terjadi skandal besar dan VO Company terkena bencana, dia juga yang dapat imbasnya."

"Iya, sih, tapi masalahnya bukan hanya itu," kata Romano. Dia menghela napas, menimbang-nimbang seberapa banyak yang sebaiknya dia ceritakan pada Belgium. Dia memutuskan bahwa tidak ada salahnya membicarakannya dari sudut pandang yang umum. "Tahu tidak, Spain 'kan dulu naksir Indonesia."

Belgium melemparkan pandangan tak yakin. "Ah, masa?" katanya. "Bukannya Indonesia dulu pacaran dengan Portugal?"

"Lho? Kau tahu dulu Indonesia itu pacaran dengan Portugal?"

"Tahu. Waktu Indonesia dijodohkan dengan Netherlands, aku dengar Portugal sering datang ke rumah Indonesia, memohon untuk bertemu dengannya," kata Belgium. Dia meletakkan cangkirnya, kemudian menengadah seperti mengingat-ingat. "Aku tidak menyaksikannya langsung, tapi orangtua Indonesia kemudian sering datang ke rumah, cerita kepada Papa dan Mama, meminta supaya pernikahan Indonesia dan Netherlands dipercepat, karena mantan kekasih Indonesia yang bernama Portugal kelihatannya berusaha membujuk Indonesia untuk kawin lari. Entah itu benar atau tidak. Tapi pokoknya aku tahu dari situ."

"Tidak, itu tidak benar," gumam Romano. Dia menyeruput jus jeruknya pelan-pelan. "Sebelum pernikahan Indonesia dilaksanakan, aku bersama orangtua Portugal mengantarnya ke pelabuhan. Dia berlayar ke Afrika Selatan, dan tidak kembali sampai tiga tahun kemudian."

"Wah," Belgium mendesah pelan. Kelihatannya, banyak kejadian rumit melatarbelakangi pernikahan kakaknya dengan pria Asia itu. "Nah, tapi kalau begitu aku tidak mengerti apa hubungannya dengan Spain."

"Aku sendiri tidak yakin apakah memang ada hubungannya," kata Romano setengah jujur. Bagaimanapun juga, dia tidak bisa membayangkan atas dasar apa Indonesia bisa menjalin hubungan dengan adik dari mantan kekasihnya itu. Kelihatannya sangat tidak masuk akal. Tapi kalau melihat kepanikan Indonesia malam itu, rasanya memang pasti Spain ada hubungannya dengan semua ini. "Maksudku kalau Spain menyukai Indonesia, kan bisa saja dia menggunakan kesempatan ini untuk mengaku-ngaku sebagai ayah Bhineka. Apalagi dia juga benci dengan kakakmu."

"Selama ini aku selalu merasa bahwa permusuhan antara Netherlands dan Spain itu lebih kepada kebencian sepihak dari kakak," kata Belgium. Dia memandangi roti Romano yang tidak dihabiskan tadi, kemudian memutuskan untuk mencobanya sendiri. "Jadi meskipun Netherlands membenci Spain, aku tidak yakin bahwa Spain juga balas membencinya. Maksudku, selama ini dia sering meneleponku, menanyakan kabar kakak. Memangnya orang mau repot-repot melakukan hal seperti itu untuk orang yang dia benci?" Belgium menghela napas, kemudian meletakkan rotinya. "Kau benar, selai kacangnya tidak enak. Aku tak akan beli yang seperti ini lagi."

"Soal itu, sebenarnya aku sendiri juga tak yakin," kata Romano dengan bimbang. "Tapi soal perasaannya pada Indonesia, itu aku yakin sekali."

"Itu kan sudah bertahun-tahun silam," kata Belgium. "Mungkin sudah sekitar… dua puluh tahun yang lalu. Memangnya dia masih menyimpan rasa cinta itu sampai sekarang?"

"Aku tidak tahu pasti," kata Romano mengakui. Dia memain-mainkan pisau makan sebentar, sebelum meletakkannya kembali, kemudian mendongak dengan ekspresi yang mengeras. "Yang aku tahu, dia sudah menghubungi Indonesia. Kalau tidak, malam itu dia tidak akan kemari dan bertanya tentang dari siapa Spain memperoleh informasi."

Belgium kembali menyipitkan mata. "Dan kalau dia menghubungi Indonesia… artinya?"

"Artinya Spain masih menginginkan sesuatu," jawab Romano dengan pasti. "Aku yakin itu."

"Apa yang dia inginkan? Atau mungkin lebih tepat kalau kukatakan… siapa yang dia inginkan?"

Romano terdiam selama beberapa saat. Matanya memandang selai kacang baru yang tak enak itu, berdiri di atas meja makan. Rasanya benar-benar tak enak. Belgium pasti akan membuangnya, kemudian membeli selai kacang baru dengan merk yang sudah biasa mereka punya. Sementara itu, dia akan makan roti dengan mentega saja…

Romano tertegun.

Oh…

"Jadi begitu…" gumamnya pelan.

"Begitu apa?" tanya Belgium tidak mengerti.

Romano memandang istrinya. "Aku sudah mengerti apa yang terjadi. Kalau dugaanku benar, dan aku yakin sekali bahwa aku hampir pasti benar, maka aku tahu siapa yang diinginkan Spain."

Belgium balas memandang suaminya, tampak sekali matanya memancarkan sebuah keinginan yang kuat. Belgium menghela napas. Dia tahu. Kalau dia ingin kakaknya bahagia, dia harus bisa membantu menjaga keutuhan rumah tangganya. Bukan membantu menghancurkannya seperti yang dia pikirkan pertama kali dulu.

"Kau ingin kita melakukan apa?" tanyanya pasrah.

"Sampai kita tahu bahwa Spain telah bertindak, kurasa kita tidak perlu melakukan apa-apa," kata Romano tenang. "Tapi aku bisa menebak cara berpikir Spain. Untuk bisa mendapatkan apa yang dia inginkan, dia akan perlu umpan. Tanpa umpan, dia tidak akan bisa berbuat apa-apa."

"Jadi… apa rencanamu?"

Romano tidak segera menjawab, melainkan mengeluarkan ponselnya. Sambil mencari kontak yang dia inginkan, dia tersenyum memandang Belgium.

"Aku akan menghubungi seseorang."

Dari daftar kontaknya, Romano berhenti saat dia sampai pada huruf P.

.

.

.

.

.

Bhineka menggelosor di atas meja toko kue yang didatanginya, merasa lebih lelah dari biasanya. Mungkin karena dia baru keluar dari rumah sakit, jadi staminanya belum pulih seutuhnya. Cuaca di luar begitu panas, membuatnya bersyukur dia mendapatkan lindungan di dalam toko berikut dinginnya AC. Tapi sekejap kemudian bibirnya cemberut.

"Aku tidak percaya Cyprus membatalkan janji begitu saja," gerutunya pelan. Dia tidak ingin menarik perhatian karena mengomel sendiri. "Katanya dia mau ditemani beli kue untuk pacarnya, tapi tahu-tahu saja dia bilang mendadak ada urusan. Huh. Jangan bilang ternyata dia punya dua pacar. Aku satu saja belum. Uh…"

Bhineka menarik badannya untuk berdiri tegak, mencoba melupakan masalah-masalah sepelenya sebagai seorang remaja. Sekarang belum saatnya memikirkan pacar. Apalagi dia juga tidak yakin kalau ayahnya akan memperbolehkan dia pacaran. Meskipun sekarang bisa dibilang Bhineka adalah gadis dewasa, sudah tujuh belas tahun, dia tahu bahwa Papa sangat posesif. Tapi… kakak kelasnya di klub sastra itu tampan sekali…

Bhineka menggelengkan kepalanya cepat-cepat kemudian menepuk kedua pipinya keras-keras. Rasanya panas, pipinya pasti merona. Daripada memikirkan lelaki, lebih pantas kalau dia memikirkan pekerjaan rumahnya yang menggunung. Absen seminggu saja, tugasnya sudah seperti tunggakan satu tahun. Dia bergerak hendak pergi ke konter untuk memesan sesuatu, ketika mendadak saja ada seorang pria yang menghampiri mejanya.

"Halo? Boleh aku duduk di sini, Nona? Tempat yang lain penuh."

Bhineka memandangnya sebentar, sebelum mengedarkan pandangannya berkeliling. Memang tempat itu penuh. Gara-gara cuaca panas, pasti banyak orang ingin mendinginkan diri sembari menikmati kue-kue manis yang dijual di sana. Dia tahu mengenai prosedur yang sepatutnya dikerjakan mengenai berhubungan dengan orang asing, tapi Bhineka merasa yakin bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan ketika mereka berada di dalam sebuah toko kue yang ramai.

"Tentu saja. Silakan."

Bhineka tersenyum ramah, dan pria itu membalas senyumnya. Dia merasakan bahwa laki-laki itu memberikan aura yang tak asing. Mendadak saja Bhineka teringat kepada Paman Romano.

"Terima kasih," kata pria itu sembari duduk di hadapan Bhineka. "Ngomong-ngomong, kau mau pesan sesuatu? Aku tadi sudah terlanjur pesan makanan untuk dua orang, tapi mendadak saja temanku pergi karena ada urusan. Kuharap kau tidak keberatan dengan tiramisu dan moka dingin?"

"Tidak, kurasa tidak," kata Bhineka tertawa. Pria itu pembawaannya menyenangkan, membuat Bhineka mengendurkan kewaspadaannya. "Aku juga kena hal yang sama. Teman sekolahku mendadak pergi, katanya juga ada urusan. Makanya sekarang aku sendirian. Paman tinggal di sekitar sini?"

"Ah, tidak. Kebetulan saja aku lewat di sini," kata pria itu, kemudian dia mengulurkan tangan. "Namaku Spain. Aku senang ditemani makan siang oleh gadis cantik sepertimu, Nona…"

"Panggil Bhineka saja," kata Bhineka sambil tersenyum malu-malu. Dibilang cantik oleh paman ganteng seperti ini, siapa yang tidak akan berdebar. Meskipun Bhineka hampir yakin bahwa pria itu pasti seumur ayahnya, tapi ketampanannya masih tampak jelas. Dengan rahang tegas, kulit kecoklatan yang sehat, rambut coklat dan mata hijau…

"Ah!" seru Bhineka pelan. Lelaki itu, Spain, memandangnya dengan agak heran.

"Ada apa?"

"Oh, bukan apa-apa," ujar Bhineka, tertawa sedikit kikuk. "Tadi aku berpikir kenapa aku langsung teringat dengan pamanku saat melihatmu. Rupanya kalian sama-sama punya rambut coklat dengan mata hijau. Walaupun rambut pamanku ada keriwil aneh di sebelah kanan kepalanya."

"Keriwil aneh?" ulang Spain berpura-pura terkejut. "Coba katakan, pamanmu bukan Romano, 'kan?"

Mata Bhineka langsung membulat. "Woah! Kau kenal dengan Paman Romano?"

Spain membuat senyumnya terkesan misterius waktu dia berkata, "Kurasa bukan hanya Romano yang kukenal." Spain tertawa, menikmati ekspresi penasaran gadis itu. "Kalau kau adalah keponakannya, berarti aku tidak akan salah jika kukatakan bahwa kau pasti Bhineka Tunggal Ika, putri dari Netherlands dan Indonesia."

"Kau kenal Papa dan Daddy juga?"

Papa dan Daddy, pikir Spain getir. Entah kenapa sekarang rasanya agak menyesakkan, ketika gadis itu sungguh-sungguh tidak tahu bahwa salah satu ayahnya yang asli sebenarnya adalah yang duduk di hadapannya saat itu.

Pesanannya datang, untuk sementara Spain terdistraksi dari perasaannya ketika dia sibuk mengedarkan piring dan juga gelas. Bhineka nampak masih terkesima atas kenyataan bahwa ternyata dia bertemu dengan kenalan keluarganya. Apalagi sikap Spain begitu menyenangkan, membuat Bhineka sama sekali tidak menaruh curiga.

Mereka mengobrol sambil menikmati hidangan mereka, Bhineka menyimak dalam-dalam saat Spain menceritakan kisah-kisahnya semasa muda dulu, bersama orang-orang yang kini menjadi famili terdekat Bhineka. Sementara pria itu diam-diam memperhatikan sang gadis belia, untuk pertama kalinya melihat secara langsung setelah selama ini hanya melihat fotonya di meja kantor Netherlands. Ada sebuah perasaan aneh yang diam-diam menyeruak dalam dadanya.

Ia begitu dekat dengan anaknya. Cukup dekat untuk menyentuhnya jika Spain ingin. Tapi di saat bersamaan, mereka juga begitu jauh. Sangat jauh.

"Paman Spain?" tanya Bhineka pelan, memiringkan kepalanya sedikit. Dia baru saja selesai menceritakan pengalamannya yang tidak menyenangkan di rumah sakit, dan Spain tersenyum saja memandangnya nampak seperti setengah melamun. "Halo?"

Bhineka adalah gadis yang cantik. Bukan tipe yang kecantikannya merebak dengan pesona gemilang, tapi dia memiliki daya tarik Indonesia yang khas dan memikat. Rambutnya panjang dan lurus, terurai di punggungnya dengan warna coklat yang senada dengan kulitnya. Matanya kelabu, tak sepekat Indonesia, dan ditingkahi cahaya matahari sore, gradasi hijaunya nampak berkilat-kilat. Gadis itu memiliki nuansa mediterania yang hangat, dia yang mewariskannya…

"Maaf, aku hanya melamun sedikit," ujar Spain tersenyum. Saat ini dia hanyalah kenalan dari keluarga gadis itu, yang Bhineka panggil sebagai 'Paman Spain'. Bukan saatnya dia meributkan identitasnya di mata gadis itu sekarang. Belum. "Sebenarnya aku masih ingin mengobrol lama denganmu, tapi sayangnya aku masih ada pekerjaan. Tak apa kalau kutinggal?"

"Ah, aku juga mau pulang saja," sahut Bhineka. Dia menatap jam tangannya dengan pandangan menyesal. "Aku bilang Daddy cuma mampir 'sebentar'. Tapi nyatanya sekarang sudah jam segini."

Mereka bangkit dari kursi masing-masing. Sementara Spain membayar pesanan mereka, Bhineka berjalan keluar dari toko kue tersebut. Dia sudah hendak menyeberang jalan ketika Spain menyusul di belakangnya.

"Aku jalan searah denganmu," kata Spain ramah. "Mau kuantar?"

Dia tahu bahwa dia mungkin mengulur keberuntungannya terlalu jauh. Sampai saat ini, semuanya berjalan sesuai rencana. Segalanya mungkin akan hancur berantakan jika dia mengacaukannya sekarang demi impuls sesaat. Namun Bhineka hanya tersenyum, kemudian berkata riang.

"Terima kasih, tapi aku naik bus saja."

Seolah dengan ketepatan waktu sempurna, sebuah bus berhenti di halte yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Bhineka menoleh, kemudian cepat-cepat kembali memandang Spain.

"Paman, aku duluan, ya! Senang bertemu denganmu. Sampai jumpa. Bye!"

Spain balas melambaikan tangan ke arah Bhineka yang berlari-lari ke arah bus tersebut. Dia masih sempat menangkap teriakan komikal gadis itu, berseru pada sang supir supaya menunggu dirinya naik dulu. Tawa kecil terlepas dari bibirnya. Dia terus mengawasi gadis itu, hingga helai terakhir rambutnya menghilang dan pintu logam itu menutup, kemudian bus itu melaju pergi melewatinya. Dia melihat Bhineka melambai bersemangat dari jendela, dan Spain merasa ada kontraksi aneh dalam dadanya.

Spain berbalik badan, berjalan ke mobilnya dengan ekspresi mengeras di wajahnya. Tidak ada gunanya bersikap sentimental sekarang. Kalau dia ingin memperoleh apa yang dia mau, dia tidak boleh menyerah pada naluri dan terus berjalan pada rencana yang sudah dia tetapkan. Sudah terlambat untuk mundur sekarang.

Spain tertawa.

Benar. Dia sudah terlambat dua puluh tahun untuk mengurungkan niatnya mendapatkan Indonesia.

.

.

.

.

.

"Tahu tidak apa yang paling kaubutuhkan sekarang?" ujar England sambil menyesap tehnya pelan-pelan. "Cuti. Libur. Apalah kau mau menyebutnya. Kau tidak bisa bekerja dalam keadaan begini, tahu."

Netherlands tidak menjawab. Dia masih menelungkup di meja kantornya, kepalanya dibungkus dua lengan yang tersilang. Orang bisa saja menyangka dia sedang tidur, tapi England tahu kalau dia mendengarkan jadi dia melanjutkan perkataannya.

"Sudah terlambat dua jam—"

"Soal keterlambatanku hari ini," potong Netherlands sambil mengangkat kepalanya, "disebabkan oleh sesuatu yang sama sekali lain. Tidak ada hubungannya dengan hal-hal yang menggangguku akhir-akhir ini. Maksudnya, tidak secara langsung. Hanya saja—"

"Baiklah. Lalu bagaimana soal proposal yang diajukan Denmark? Kau menandatanganinya di kolom yang seharusnya berisi tandatanganku."

"Aku cuma salah lihat. Kau tahu sendiri nama kita punya akhiran yang mirip."

"Netherlands. Kau sudah menandatangani dokumen macam itu selama belasan tahun. Dan coba tebak? Formatnya selalu sama."

"Oke, oke, mungkin aku cuma mengantuk. Lagipula—"

"Kalau kau terus-terusan mengelak, kau tidak akan kemana-mana," tukas England. Kali ini dia memandang sahabatnya itu dengan serius, tehnya diletakkan di atas meja. "Kau tidak fokus, terlalu banyak hal yang kaupikirkan. Kalau kau tidak bisa mengendalikannya, aku khawatir kau justru membahayakan dirimu sendiri."

Netherlands mengerang pelan, kembali menelungkup di atas meja. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengatur pikirannya seperti yang dikatakan England. Tapi rasanya sulit. Masing-masing pikiran seperti hendak keluar bersama-sama, membuatnya tidak tahu harus fokus ke mana.

Dia tidak bisa melakukannya sendiri, tapi di saat yang bersamaan dia juga tidak ingin bercerita pada England mengenai percakapannya dengan Spain, atau dengan Indonesia sesudahnya. Rasanya sudah cukup yang orang tahu mengenai kekacauan rumah tangganya, dia tidak perlu mengumbar lebih banyak lagi.

Walaupun demikian, pada akhirnya toh dia harus cerita juga. Semakin lama dipendam, dia akan semakin hilang fokus. Entah kekacauan macam apa lagi yang akan dia buat di hari-hari mendatang kalau dia memendam semua ini terus-terusan. Netherlands menghela napas panjang, kemudian dia mengangkat kepalanya dan memandang England lurus-lurus.

"Aku… memang ada banyak hal yang kupikirkan," kata Netherlands mengakui. Dia duduk tegak, tangannya memainkan pigura kecil yang berisi foto Bhineka di mejanya. Dia memejamkan matanya sesaat, kemudian membukanya lagi dengan sinar tekad yang baru. "Beberapa waktu lalu aku berbicara dengan Spain."

England juga menegakkan duduknya. "Kapan?"

"Kemarin dulu, sehari sebelum Bhineka keluar dari rumah sakit. Aku tidak sempat bercerita padamu karena setelah itu aku sibuk dengan kepulangan Bhineka dan macam-macam."

"Lalu… apa yang kalian bicarakan?"

Netherlands tidak segera menjawab. Wajahnya berkerut, seolah dia menahan rasa sakit yang timbul akibat mengingat isi percakapannya dengan lelaki yang dia benci itu. Sungguh. Memikirkannya saja membuatnya kembali merasa mual. Sebagian dirinya ingin mundur, menarik kembali keinginannya untuk bercerita, tapi sisi rasionalnya mengatakan bahwa dia harus membuka mulut kalau ingin berhasil melewati semua ini dalam keadaan waras.

Jadi dia menarik napas kembali dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan sebelum mulai berbicara.

"Spain," dia memulai, mencoba untuk tidak mengertakkan giginya saat menyebutkan nama itu, "Dia berkata… dia bilang kalau…" Netherlands memejamkan mata rapat-rapat. "Dia bilang kalau dia itu ayah Bhineka."

Berbagai macam hal langsung masuk dan berputar di kepala England mendengar perkataan Netherlands itu. Kedengarannya terlalu fantastis, dan England tidak bisa langsung mempercayainya. Bagaimanapun juga kalau melihat sejarah hubungan romansa Indonesia sebelum menikah dengan Netherlands, yang berpotensi menjadi pacar gelapnya adalah Portugal, mantan kekasihnya. Bukan Spain.

"Aku tidak mengerti," ujar England dengan ekspresi bingung yang jelas. "Maksudku, kita tahu bahwa mantan pacar Indonesia adalah Portugal. Kenapa Spain yang—"

"Itu aku juga tidak mengerti," kata Netherlands kesal. "Tapi waktu bicara denganku kemarin, dia begitu percaya diri dengan apa yang dikatakannya. Dia bahkan mengatakan bahwa aku boleh bertanya pada Indonesia kalau aku mau. Dan…"

"Dan…" England jadi merasa was-was. "Apa kata Indonesia?"

"Dia… dia mengakui semuanya," kata Netherlands. Suaranya terdengar sedih. Dia memang sedih, kasihan pada dirinya sendiri yang meskipun telah dihianati sedemikian rupa, tapi masih tidak bisa melepaskan orang yang menyakitinya itu. "Indonesia mengakui bahwa dengan Spain dia menjalin hubungan. Indonesia memohon-mohon padaku, berkata bahwa dia sungguh-sungguh menyesali kesalahan yang dia buat. Dia juga berkata bahwa seharusnya aku menamparnya lebih dari sekali."

"Kau menampar Indonesia?"

"Aku emosi, jadi jangan memandangku seperti itu," tukas Netherlands ketika pria Inggris itu memberinya pandangan tak setuju. Tentu saja, England adalah seorang gentleman sejati. Dia tak akan menyakiti seseorang yang disayanginya meskipun orang itu tadinya berniat menggoroknya dengan gergaji mesin.

"Yah, kurasa sampai pada suatu titik, itu memang hal yang pantas diterima Indonesia," ujar England mengalah, mengesampingkan pendapat pribadinya dan memberikan opininya secara objektif. "Kalau Indonesia sendiri mengakui, berarti memang tak salah lagi. Tapi aku masih tidak mengerti…"

"Aku juga tidak," geram Netherlands. Emosinya kembali naik, sehingga dia berbicara pelan-pelan supaya tidak lepas kontrol. "Kupikir Spain hanya membual, memanfaatkan situasi rumah tanggaku yang sedemikian untuk memukulku lebih keras lagi."

"Kurasa hal seperti itu tidak ada faedahnya bagi Spain," kata England. "Maksudku dia tidak punya alasan untuk berbohong. Oke kalian bermusuhan, tapi apa untungnya bagi Spain kalau rumah tanggamu hancur. Kalau dia membuatmu marah, paling-paling kau akan membatalkan kontrak kerja dengannya, lalu dia sendiri yang akan rugi. Spain tidak akan bertindak tanpa perhitungan. Dia tidak sebodoh itu."

Mata Netherlands menyipit. "Kelihatannya kau kenal dia," ujarnya.

England mengendikkan bahunya samar. "Aku tahu sedikit tentang dia," ujarnya sambil lalu. "Meskipun tidak cukup tahu untuk bisa memikirkan bagaimana mungkin dia yang berakhir menjadi teman kencan Indonesia."

"Kukira itu tidak penting lagi sekarang," kata Netherlands.

"Huh?"

"Yah, kalau aku sudah memutuskan untuk tidak menceraikan Indonesia, alasan apapun yang mendasari perselingkuhannya sudah tidak ada artinya," kata Netherlands sambil kembali bersandar di punggung kursinya. Dia kelihatan lelah. "Tapi aku tak bisa tenang. Spain meminta aku memberikan Bhineka padanya karena dia adalah ayahnya yang sah. Aku menolak, dan dia berkata akan menempuh jalur pengadilan."

"Dia tidak akan berhasil," kata England segera. "Juri akan menanyakan alasan mengapa baru sekarang dia meminta hak asuh atas Bhineka, setelah tujuh belas tahun berlalu. Dan kalau mereka tahu duduk perkaranya seperti apa, kau jelas yang akan dipilih sebagai wali yang lebih tepat untuk mengasuh Bhineka."

"Aku tahu…"

"Tapi kau masih khawatir?"

"Karena Spain juga menginginkan Indonesia," desah Netherlands putus asa. Dia menekap wajahnya dengan sebelah tangan. "Jika aku tidak menyerahkan Bhineka, dia meminta Indonesia sebagai gantinya. Tentu saja kukatakan padanya bahwa dia boleh menunggu sampai samudra mengering, tapi aku tidak akan pernah menyerahkan Bhineka maupun Indonesia."

England tertegun, memandang ke arah sosok pria Belanda yang biasanya memancarkan rasa percaya diri dan kekuatan tersebut. Keberhasilannya ini adalah akibat dari sikapnya yang selalu kuat menghadapi segala tantangan di hadapannya. Figur seorang pria yang tanpa cacat. Tapi melihatnya duduk di kursinya saat ini, tak berdaya menghadapi takdir dengan hati yang rapuh, England sadar bahwa Netherlands hanya seorang manusia biasa. Sama sekali bukan pria sempurna, hanya seorang lelaki yang tersakiti, yang kini berusaha mencari obat untuk menyembuhkan luka hatinya. Seorang suami dan ayah yang penyayang, yang akan terus mempertahankan orang-orang yang dicintainya.

England berdiri, menghampiri Netherlands yang masih duduk bersandar di balik mejanya. Dia berjalan memutari meja, sampai dia berdiri di sebelah lelaki itu, kemudian meletakkan tangan di bahunya. Netherlands menyingkirkan tangan yang tadinya dia pergunakan untuk menutupi wajahnya, kemudian memandang England.

"Aku akan membantumu," ujar England. "Aku akan membantumu menjaga Bhineka dan Indonesia dari tangan Spain. Aku tak akan membiarkannya mengambil apa yang berharga bagimu. Ada aku di sini, Netherlands. Kau tidak perlu berpikir untuk menanggung semuanya seorang diri."

Netherlands mendesah tertawa, kemudian menggunakan tangan England untuk menarik tubuhnya berdiri, memberikan pelukan singkat pada sahabat baiknya itu. Di saat seperti ini, dia sangat menghargai dukungan dari laki-laki itu. Di saat dirinya merasa tak yakin dengan apa yang harus diperbuatnya, dia merasa lega mengetahui bahwa dia tidak benar-benar sendirian.

"Terima kasih," ujarnya dengan senyum samar. England balas tersenyum, tapi sejenak kemudian ekspresinya mengeruh.

"Jadi kau menduga Spain pasti akan berbuat sesuatu untuk merebut Bhineka atau Indonesia darimu?" tanya England. "Itu yang membuatmu tidak bisa fokus pada pekerjaanmu?"

"Dia memang berkata bahwa dia akan melakukannya dengan cara lain, karena bernegosiasi denganku tidak memberinya hasil apa-apa," kata Netherlands. "Aku khawatir, England. Aku khawatir sekali. Aku tahu bajingan macam apa Spain itu, dan aku tidak bisa menebak apa yang akan dia lakukan."

"Kita tidak bisa berbuat apa-apa kalau hanya meraba-raba dalam gelap," kata England. "Selama dia belum melakukan apapun, kurasa sebaiknya kau tidak perlu khawatir. Kau juga perlu memikirkan dirimu sendiri, Netherlands. Siapa yang akan melindungi Bhineka dan Indonesia kalau kau sudah tumbang duluan akibat stres?"

Netherlands tersenyum juga mendengar perkataan England. Dia menoleh ke samping, dimana dia bisa melihat pemandangan kota yang dibias cahaya matahari terbenam dari dinding kaca kantornya. Memang benar. Tidak ada gunanya terus-menerus khawatir akan sesuatu yang belum tentu terjadi. Dan lagi kalau memang terjadi sesuatu, dia yakin dirinya berada di pihak dimana dia bisa mengandalkan orang-orang terdekatnya untuk bisa membantunya keluar dari situasi sulit.

"Kukira aku bisa melakukannya."

Netherlands menghela napas dalam-dalam, matanya yang coklat terang memancarkan tekad dan keberanian di dalamnya.

"Ya. Aku bisa melakukannya."

.

.

.

.

.

Indonesia menoleh jam dinding di dapur dengan agak cemas. Sudah hampir jam lima dan Bhineka masih belum pulang. Dia tahu bahwa putrinya tadi berkata akan mampir ke toko kue sebentar, tapi paling tidak seharusnya dia sudah sampai rumah sejak satu jam yang lalu. Meskipun Bhineka sudah berjanji akan lebih hati-hati, tapi Indonesia tidak bisa menahan rasa khawatir yang merayapinya.

Dia sudah berencana hendak mencari Bhineka ke sekolah ketika dia mendengar bunyi derit pintu gerbang dibuka dan dia bisa melihat sosok Bhineka dari jendela dapur.

"Aku pulang!"

"Bhineka, dari mana saja?" tanya Indonesia, berjalan menghampiri putrinya di pintu depan. "Kenapa jam segini baru pulang?"

"Maaf, Daddy. Tadi aku keasyikan ngobrol sambil makan kue sampai lupa waktu," kata Bhineka nyengir. "Lalu busnya juga mogok sebentar, jadinya aku pulang terlambat."

"Ya, sudah," ujar Indonesia dengan tarikan napas lega. Dia menarik Bhineka mendekat, kemudian mengecup keningnya. "Cepat mandi. Kau mau apa untuk makan malam?"

"Pasta?" tanya Bhineka dengan mata bersinar penuh harap.

"Oke, pasta."

"Huuray!"

Indonesia tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat anak gadisnya itu melompat-lompat riang menuju kamarnya. Kadang sulit dipercaya kalau Bhineka sudah tujuh belas, kalau melihat tingkahnya yang kekanakan begitu. Tapi dia memang gadis yang selalu penuh energi. Indonesia merapikan tempat sepatu yang sempat berantakan karena Bhineka, kemudian segera menuju dapur untuk membuat makan malam seperti yang dijanjikannya.

Saat melewati ruang tamu, Indonesia mendengar telepon berbunyi.

"Halo?" sahut Indonesia.

"Halo, ini Cyprus. Boleh saya berbicara dengan Bhineka?"

"Ah, Cyprus." Indonesia mengenalinya sebagai gadis berambut coklat dikuncir kuda yang merupakan teman dekat Bhineka. "Bhineka sedang mandi, dia baru saja pulang. Ada apa?"

"Tidak apa-apa, Mr. Indonesia. Saya hanya ingin minta maaf tadi siang meninggalkan Bhineka sendirian di toko kue karena ada urusan mendadak. Saya juga lupa memberikan buku catatan yang ingin dia pinjam. Kalau Bhineka masih ingin pinjam, saya akan membawanya besok."

"Kalau soal itu, mungkin sebaiknya biar Bhineka saja yang bicara nanti. Akan kusampaikan padanya supaya nanti dia meneleponmu."

"Baiklah kalau begitu. Terima kasih, Mr. Indonesia. Selamat sore."

"Selamat sore."

Indonesia meletakkan gagang teleponnya, kemudian meneruskan langkahnya menuju dapur. Sembari menyiapkan bahan-bahan, dia merasa ada bagian yang dirasanya agak ganjil dari percakapannya dengan Cyprus tadi. Tapi karena dia tidak bisa menentukan dengan pasti, apa yang ganjil itu, dia tidak begitu memikirkannya dan lanjut memasak. Tak lama berselang, dia mendengar langkah kaki Bhineka menuruni tangga, kemudian kepalanya menyembul di pintu dapur.

"Ada yang bisa kubantu?"

"Nanti saja. Tadi Cyprus menelepon, dia bertanya apakah kau masih ingin pinjam buku catatannya."

"Oh, benar," ujar Bhineka. "Baiklah, aku telepon dia dulu."

Gadis itu kembali menghilang menuju ruang tamu, dan Indonesia melanjutkan kegiatannya. Samar-samar dia mendengar suara Bhineka, tapi dia tidak bisa mendengar jelas apa yang dikatakannya. Beberapa saat kemudian Bhineka kembali ke dapur, mengulang pertanyaan yang sama.

"Tolong aduk saus yang di panci itu," kata Indonesia menunjuk saus yang berdeguk pelan di atas kompor. Dia sendiri memotong-motong sayuran, kemudian sambil lalu bertanya, "Bagaimana?"

"Ya, kubilang aku jadi meminjamnya," jawab Bhineka sembari mengaduk saus dengan sendok kayu. "Pekerjaan rumahku banyak sekali, dan banyak buku catatan yang harus kusalin. Salahnya sendiri tadi mendadak pergi."

Indonesia akhirnya ingat apa yang dirasanya ganjil tadi.

"Cyprus tadi bilang dia meninggalkanmu sendirian di toko kue."

"Iya. Dia pergi karena ada urusan mendadak."

"Tapi tadi kau bilang keasyikan mengobrol sambil makan kue sampai pulang terlambat," ujar Indonesia agak bingung. "Kalau Cyprus tak ada, dengan siapa kau mengobrol?"

"Oh, itu," Bhineka mulai terkikik pelan. "Tadi ketemu paman ganteng yang kebetulan duduk satu meja. Ternyata dia kenal Paman Romano, juga Papa dan Daddy. Jadi kami mengobrol seru. Apa benar dulu Daddy jadi ketua dewan kampus?"

"Eh? Kau tahu darimana?"

"Paman itu yang cerita. Kelihatannya dia teman kuliah Daddy."

Indonesia menghentikan sejenak kegiatannya mengupas bawang. Teman kuliahnya? Memangnya masih ada teman kuliahnya yang tinggal di sekitarnya sini? Kalau dia kenal dirinya dan juga Romano, mestinya dia teman yang cukup dekat.

"Namanya siapa?"

"Mmm…" Bhineka berpikir-pikir sebentar. Dia mematikan kompor, kemudian menuang saus yang sudah matang ke dalam mangkuk yang disiapkan Indonesia. "Sebentar, aku agak lupa siapa namanya. Pokoknya orangnya ganteng. Tahu tidak? Sekilas penampilannya agak mirip Paman Romano."

Jantung Indonesia kehilangan degupnya sedetik. Mirip Romano? Kan tidak mungkin…

"Bukan wajahnya, sih. Soalnya dia punya rambut coklat dan mata hijau."

Wajah Indonesia memucat. Dia merasa tangannya yang memegang pisau berubah dingin.

"Aduh… namanya tidak susah, kok. Pelafalannya cuma satu suku kata. Mmm… siapa ya…"

Indonesia merasa pusing. Dia meletakkan pisau dan bawangnya di meja, kemudian dia bergerak untuk duduk di kursi terdekat. Jika tidak, dia khawatir dia akan pingsan. Ini tidak mungkin. Tidak mungkin dia berbuat sejauh itu.

"Ah! Aku ingat sekarang. Namanya Spain. Paman Spain. Daddy kenal, 'kan?"

Untuk sesaat Indonesia tidak tahu harus berkata apa. Dia mendongak, melihat Bhineka menatapnya dengan ekspresi gembira di wajahnya. Indonesia harus mengatakan sesuatu, atau putrinya akan curiga ada yang tidak beres. Jadi Indonesia memaksa dirinya untuk tersenyum, kembali berdiri dan berlanjut mengupas bawang.

"Tentu. Daddy kenal baik dengannya."

Bhineka tersenyum lebar, kemudian asyik kembali dengan sausnya. Sementara gadis itu menabur cincangan daun peterseli, Indonesia menoleh ke arah jam dinding.

Netherlands… cepatlah pulang…

.

.

.

to be continued

.

.

.

A/N: Yah. Inilah chapter baru dari saya setelah… 3 tahun tanpa update. Saya terharu bahwa ada dari kalian yang masih menunggu update fanfic ini. Terima kasih banyak, terima kasih. Saya akan usahakan sebisa saya untuk bisa menyelesaikan fanfic ini. Untuk saat ini, semoga kalian menikmati chapter terbaru ini.

Sampai ketemu.