Gift Of Love
.
Naruto milik Masashi Kishimoto.
.
Real Story by Julie Garwood
.
Tachibana Ema
.
Warning AU, OOC, miss typo, Lime
.
.
Hinata merasa sangat sedih atas semua tuduhan Naruto padanya, padahal dia tidak dengan sengaja membuat semua kekacauan ini. Dia tidak tahu kalau melepas beberapa simpul itu membuat tiang kapal jatuh. Tapi bagaimanapun juga Naruto sangat jahat sekali padanya, sampai mau membuang payungnya yang tidak bersalah. Dan tidak seharusnya Naruto marah-marah seperti ini padanya. Sekarang untuk meluapkan semua kekesalannya dia hanya bisa menangis.
Semetara itu Naruto yang bingung harus berbuat apa pada istrinya, hanya bisa balas memeluk Hinata dan mengusap-usap punggungnya untuk membuat tangis istrinya berhenti. Lalu payung-payung yang niatnya tadi ingin dia buang berserakan di lantai sekitar kakinya. Sebenarnya dia masih sangat marah, tapi dia tidak tega juga melihat istrinya menangis seperti ini.
"Apa mereka tahu kalau aku yang merusakkan kapal ini?" tanya Hinata ditengah tangisnya.
"Kau tidak merusakkannya," gumam Naruto berusaha menenangkan tangis istrinya.
"Tapi apa mereka berpikir kalau aku..."
"Hinata, kita bisa memperbaiki kerusakannya dalam dua hari," kata Naruto. Tapi sebenarnya itu bohong, karena setidaknya mereka membutuhkan seminggu penuh untuk memperbaikinya. Tapi dia menyembunyikan kebenaran itu demi mengurangi kekhawatiran Hinata.
Hinata merasa lebih baik mendengar penuturan suaminya itu, lalu berkata. "Naruto?"
"Ya?"
"Apa pegawaiku tahu aku yang menyebabkan kerusakan ini?"
'Ah, ya pegawainya?' pikir Naruto dalam hati sambil memutar bola matanya bosan. "Ya, mereka tahu."
"Apa kau yang memberitahu mereka?" tanya Hinata seolah menuduh Naruto.
Naruto memejamkan mata berusaha menahan luapan amarahnya, akibat tuduhan itu. "Tidak. Aku tidak memberitahu mereka. Mereka melihat payungmu, Hinata."
"Aku ingin mereka menghormatiku."
"Oh, mereka sangat hormat," kata Naruto sambil tersenyum.
"Benarkah?" tanya Hinata penuh harap.
"Mereka menunggumu membawa wabah baru setelah ini," kata Naruto dengan satainya. Seketika itu harapan Hinata menguap begitu saja, tergantikan dengan perasaan kesal.
"Mereka tidak percaya hal-hal seperti itu," kata Hinata berusaha menyangkal.
"Oh, ya? Yang aku tahu mereka sangat percaya," kata Naruto. "Mereka bahkan saling bertaruh. Beberapa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan yang lainnya percaya kalau..."
"Mereka beneran percaya sama hal seperti itu?" tanya Hinata melepaskan pelukannya untuk melihat raut wajah suaminya.
"Mereka berpikir kalau kau terkutuk, Hinata," kata Naruto sambil menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana bisa kau tersenyum sementara mengatakan hal sejahat itu, Naruto?" tanya Hinata kesal.
"Mereka percaya pada takhayul," kata Naruto sambil mengangkat bahunya.
"Apa karena aku perempuan?" tanya Hinata. "Aku pernah mendengar, kalau para pelaut berpikir seorang perempuan di atas kapal membawa kesialan, tapi aku tidak percaya pada cerita konyol itu."
"Bukan. Bukan karena kau perempuan," kata Naruto menjelaskan. "Mereka dulu sudah terbiasa ada perempuan di kapal ini. Adikku, Sakura. Dulu dia yang memimpin kapal ini."
"Kalau begitu kenapa..."
"Kau tidak seperti Sakura," kata Naruto cepat. "Mereka cepat menyadarinya."
Hinata tak bisa meminta Naruto menjelaskan lebih lanjut. Karena sesuatu dibenaknya tiba-tiba mengalihkan perhatiannya. "Naruto, aku akan membantu memperbaikinya," kata Hinata kemudian. "Ya, itu dia. Mereka akan menyadari kalau aku tidak sengaja..."
"Oh, sudahlah Hinata," potong Naruto.
"Kalau begitu bagaimana aku bisa mendapatkan kepercayaan mereka lagi?"
"Aku tidak mengerti dengan obsesimu yang ingin merebut hati awak kapalku," kata Naruto. "Tapi ini semua tidak masuk akal, Hinata."
"Aku ini majikan perempuan mereka, mereka harus menghormatiku kalau aku akan mengarahkan mereka."
Naruto mendesah keras, lalu mengeleng-gelengkan kepalanya. "Arahkan saja dirimu sendiri ketempat tidur, Istriku. Dan tetap di situ sampai aku kembali."
"Kenapa?"
"Jangan tanya. Pokoknya diam saja di kabin."
Hinata mengangguk menurut. "Aku tidak akan meninggalkan kabin kecuali untuk menjenguk Shizune. Bagaimana?"
"Aku tidak bilang..."
"Ayolah, boleh ya? Ini akan menjadi siang yang panjang Naruto. Kau pasti baru pulang di malam hari. Aku pasti akan sangat bosan sekali menunggumu, sampai aku kelelahan mungkin."
Naruto tersenyum karena kata 'Pulang' yang dipakai Hinata, seakan mengatakan kalau kabin ini adalah rumah mereka. Kemudian dia mengangguk memberi ijin kalau Hinata boleh mengunjungi kabin Shizune.
"Baiklah. Kau akan menungguku malam ini," perintah Naruto. "Jam berapa pun itu."
"Apa kau akan marah-marah lagi?"
"Tidak."
"Baiklah kalau begitu, aku akan menunggumu," janji Hinata.
"Sial," Bentak Naruto kesal. "Aku tidak meminta. Tapi aku menyuruhmu."
Naruto meraih Hinata mendekat, kemudian ia meremas pundak istrinya. Tapi Hinata mendorong tangan Naruto dari pundaknya dan kedua tangannya memeluk pinggangnya sendiri.
"Naruto?" bisik Hinata.
Suara Hinata terdengar gemetar di telinga Naruto. Naruto menduga, kalau Hinata takut padanya, takut kalau dia akan menyakitinya. Naruto baru saja hendak menjelaskan bahwa betapun perbuatan Hinata yang membuatnya kesal, ia takkan pernah memukulnya. Tapi tiba-tiba saja Hinata berjinjit dan menciumnya. Karena sangat terkejut dengan perbuatan Hinata, Naruto hanya bisa diam dan bingung.
"Aku sangat kesal padamu saat kau meninggalkan kabin begitu saja setelah kita... sangat dekat."
"Maksudmu setelah kita bercinta?" tanya Naruto tersenyum melihat rona merah dipipi istrinya itu.
"Ya," jawab Hinata. "Aku kesal sekali."
"Kenapa?"
"Karena seorang istri senang mendengar kalau dia..."
"Memuaskan suaminya?" potong Naruto.
"Bukan," sanggah Hinata. "Jangan mengejekku Naruto. Jangan membuat apa yang terjadi diantara kita terkesan dingin dan terencana. Padahal semua itu sangat indah."
Naruto terkejut mendengar pidato Hinata yang berapi-api itu, dia tahu kalau wanita itu mempercayai apa yang dikatakannya dengan sepenuh hati. Naruto sangat senang sekali mendengarnya. "Ya, memang indah," kata Naruto. "Aku juga tidak mengejekmu kok," lanjutnya dengan nada lebih kasar. "Aku hanya sedang berusaha memahami apa yang kau inginkan dariku."
"Aku ingin mendengarmu..." Hinata berhenti tak melanjutkan kata-katanya.
"Kau ingin mendengar aku berkata, kalau kau adalah perempuan yang sempurna?"
Hinata mengangguk, "Aku juga salah," kata Hinata mengakui. "Seharusnya aku juga memberikan pujian padamu."
"Kenapa?"
"Karena seorang suami juga perlu mendengar kata-kata seperti itu dari istrinya," kata Hinata menjelaskan.
"Tapi aku tidak butuh kata-kata seperti itu."
"Tentu saja kau perlu."
Naruto memutuskan kalau dia sudah terlalu lama mengobrol dengan istrinya yang membingungkan itu. Kemudian dia berlutut di satu kakinya untuk memungut payung-payung Hinata yang berserakan.
"Boleh aku minta payungku?" tanya Hinata. "Aku akan segera menghancurkannya sendiri. Aku tidak ingin pegawaiku melihatmu membuangnya ke laut. Resanya sangat memalukan."
Naruto terpaksa menyetujui walau enggan. Ia yakin Hinata tak akan menimbulkan masalah lagi kalau barang tak berguna itu tetap disimpan di dalam kabin. Tapi, agar aman dia meminta Hinata berjanji.
"Payungmu tidak akan keluar dari kamar ini?"
"Tidak."
"Kau yakin akan menghancukan semuanya?"
"Iya."
Akhirnya Naruto merasa puas dengan janji itu. Kemudian dia meninggalkan kabin, dia merasa yakin kalau Hinata takkan merusak apa-apa lagi, kalau barang itu tetap disimpan. Lagi pula, apa lagi yang bisa dilakukan istirnya itu? Pikir Naruto setelah keluar dari kabinnya.
.
.
Tapi Naruto salah besar. Di malam itu, malam setelah seminggu semua kekacauan itu berlalu. Hinata membakar kapalnya.
Seminggu itu memang Hinata telah membuai mereka semua kembali merasa aman. Selama seminggu penuh berlalu tanpa kesalahan. Awak kapal memang masih bersikap hati-hati padanya, tapi tatapan marah mereka tak sesering dulu. Beberapa bahkan sesekali bersiul-siul sambil mengerjakan tugas harian mereka. Tobi, awak kapal yang selalu diliputi keraguan, adalah satu-satunya orang yang masih terus membuat tanda salib setiap kali Hinata lewat.
Tapi Hinata tak memperdulikannya, dan berpura-pura tak melihatnya.
Begitu layar selesai diperbaiki, mereka berhasil mengejar waktu dengan efisien. Hanya tinggal beberapa minggu lagi sebelum mereka tiba di pulau tempat tinggal Shizune. Cuaca juga cukup mendukung, meski panasnya hampir tak tertahankan di siang hari. Tapi di malam hari hawa tetap sama dinginnya. Dan selimut tebal masih dibutuhkan untuk menghilangkan rasa dingin yang menusuk.
Secara keseluruhan semuanya memang tampak tenang. Tapi semestinya Naruto sadar hal itu takkan bertahan selamanya. Saat itu Minggu larut malam ketika ia selesai memberikan pengarahan untuk mereka yang bertugas jaga malam itu. Ia menyela percakapan Jiraya dengan Kakashi untuk memberikan perintah baru tentang latihan menembak meriam yang akan mereka lakukan besok.
Ketiganya sedang berdiri tepat di depan pintu palka yang tersambung ke kabin Naruto. Karena itu Jiraya memelankan suaranya ketika berkata. "Anak-anak mulai melupakan omongan tentang istrimu yang dianggap terkutuk, Nak," ia terdiam sejenak, menengok sepintas kebelakang seakan-akan dengan begitu ia yakin Hinata tidak bisa mendengar ucapannya, lalu dia menambahkan. "Tobi masih suka mengatakan pada semua orang kalau masalah selalu muncul tiga kali. Sebaiknya kita harus terus mengawasi Hinata sampai..."
"Jiraya, tidak akan ada yang berani menyentuh istri kapten," gumam Kakashi mengingatkan temannya itu.
"Bukan begitu," kata Jiraya. "Maksudku, mereka mungkin saja masih bisa menyakiti perasaanya. Dia perempuan yang agak sensitif."
"Apa kau tahu kalau dia menganggap kita semua sebagai bagian dari pegawainya?" kata Kakashi. Ia menyeringai lalu menghentikan cengirannya, lalu melanjutkan ucapannya. "Hinata jelas sudah mempengaruhimu. Kalau kau sangat memperdulikan perasaannya," saat ia mulai melanjutkan pembicaraan ke topik yang sama, tiba-tiba saja indra penciumannya mencium bau asap. "Apa bernar kalau yang aku cium ini bau asap?" tanyanya.
Naruto yang lebih dulu melihat asap kebalu yang membumbung dari sisi pintu palka sebelum kedua anak buahnya melihat. Seharusnya dia berteriak kebakaran untuk memperingatkan yang lain. Tapi tidak. Ia justru meneriakkan nama Hinata.
Dibukanya pintu palka itu. Lalu gulungan asap hitam pekat langsung membubung keluar dari lubang itu, membutakan mata mereka bertiga. Naruto kembali memanggil-manggil Hinata. Sedangkan Kakashi berteriak.
"Kebakaran... Kebakaran..."
Sedangkan Jiraya lari terbirit-birit mencari ember, sambil meneriakkan perintahnya untuk mengambil air laut pada dirinya sendiri. Lalu Kakashi yang melihat Naruto hendak turun ke dalam kabinnya, berusaha menahan Naruto sambil mengatakan.
"Kau tidak tahu separah apa di bawah sana," teriak Kakashi. "Pakai tangga, Naruto... pakai tangga."
Kakashi berhenti berteriak ketika Naruto menyelinap turun tak mengindahkan peringatan Kakashi. Kakashi pergi ke tangga dia masuk ke kabin Naruto lewat pintu, dengan mendobraknya.
Naruto hampir tak bisa melihat di dalam kabin, karena asapnya sangat tebal sehingga menutupi penglihatannya. Ia hanya bisa meraba-raba ke tempat tidur mencari Hinata. Tapi begitu dia sampai di tempat tidur, dan tak merasakan tubuh perempuan itu. Dia memutuskan kalau Hinata tak ada di dalam kabin.
Begitu dia selesai mencari-cari istrinya. Paru-parunya terasa nyeri karena sesak. Dia terhuyung-huyung kembali ke pintu penyekat dan mengambil ember air laut yang diturunkan Jiraya untuk memadamkan api.
Setelah api padam, ancaman kebakaran yang lebih besar sudah lewat. Tapi bagiamanapun juga petaka nyaris menghapiri mereka bertiga, dan sekarang mereka bertiga sangat gemetaran. Naruto hampir tak bisa menguasai degup jantungnya, karena dia sangat cemas dengan keselamatan istrinya sampai-sampai membuatnya kalap. Tapi Hinata bahkan tak ada di dalam kabin. Hinata juga tidak pingsan karena asap. Hinata tidak mati.
Tapi belum!
.
.
Kakashi dan Jiraya berdiri mengapit Naruto. mereka bertiga menatap pojok ruangan untuk menilai kerusakan yang telah ditimbulkan. Beberapa papan di bawah kompor bulat itu jatuh menembus lantai ke tingkat bawahnya. Kini ada sebuah lubang menganga dan bersinar-sinar di lantai kayu itu. Dua dari empat dinding kabin dijilat api hingga menghitam sampai ke langit-langit. Namun bukan kerusakan kabin yang membuat Naruto takjub. Bukan. Perhatiannya tertuju pada sisa payung Hinata. Jari-jarinya masih membara di dalam dua pipa logam kompor yang tersisa.
"Apa dia pikir ini tungku?" bisik Kakashi pada Jiraya. Ia mengusap-usap dagunya sambil mempertimbangkan kemungkinan itu.
"Kurasa begitu," jawab Jiraya.
"Seandainya dia sedang tidur, asap itu pasti sudah membunuhnya," kata Naruto suaranya terdengar getir.
"Ah, Nak. Sudahlah," kata Jiraya, yakin anak muda itu hanya terlalu panik saja. "Hinata baik-baik saja dan itu yang penting sekarang."
Naruto menatap Jiraya tajam menusuk. Jiraya tidak gentar sama sekali dengan tatapan itu. "Kudengar Hinata menyebut pintu palka itu cerobong asap. Aku sendiri sampai ingin tertawa saat pertama kali mendengarnya. Kupikir kau sudah menjelaskannya, kan?"
"Kalau dilihat dari keadaan ini, sepertinya belum," sela Kakashi.
Naruto tidak memperdulikan semua ucapan kedua pelaut itu. Di kepalanya selalu terbayang kemungkinan terburuk, kalau Hinata ada di dalam kabin. Tapi pikiran kalau istrinya itu membakar kapalnya juga membuat kemarahannya meningkat seketika.
"Dia membakar kapalku," kata Naruto nyaris seperti hendak menangis.
"Hinata tidak sengaja," kata Kakashi membela perempuan itu.
"DIA MEMBAKAR KAPALKU!" raung Naruto tak mempedulikan ucapan Kakashi.
"Kami sudah dengar, saat kau mengatakannya tadi Bocah," potong Jiraya. "Sekarang tenangkan dirimu dan coba ambil hikmahnya dari kecalakaan kecil ini baik-baik."
"Kurasa dia membutuhkan beberapa menit lagi sebelum bisa berpikir logis," kata Kakashi. "Bocah ini sejak dulu memang selalu gampang naik darah. Lagi pula ini semua memang salah Hinata. Faktanya memang seperti itu, kan?"
Keduanya berbalik hendak meninggalkan Naruto sendiri. Tapi teriakan kapten muda itu menghentikan langkah mereka berdua. "Bawa dia ke sini. Sekarang!"
Jiraya mengisyaratkan pada Kakashi untuk tetap di situ, kemudian dia sendiri bergegas keluar mencari Hinata. Dia tak perlu waktu lama untuk menemukan Hinata, karena dia tahu satu tempat yang akan dikunjungi Hinata. Yaitu kabin bibinya. Saat bertemu Hinata, Jiraya mengatakan kalau Naruto memintanya kembali ke kabin, dia juga tidak memperingatkan Hinata perihal kebakaran itu.
Tentu saja Hinata segera bergegas kembali ke kabinnya. Matanya terbeliak kaget ketika melihat air yang membasahi lantai kabinnya. Kemudian menyusul kesiap kaget setelah menyadari ada lubang menganga di pojok ruangan.
"Ya Tuhan, apa yang terjadi di sini?"
Naruto berbalik menatap Hinata sebelum menjawab, "Kebakaran."
Seketika itu juga Hinata mengerti. "Kebakaran?" ulang Hinata dengan bisikan parau. "Maksudmu, kebaran di tungku?"
Semenit lamanya Naruto tak menjawab. Kemudian pelan-pelan dia menghampiri Hinata dan berhenti di hadapannya. Kedua tangannya cukup dekat untuk mencengkram leher istrinya. Alih-alih menahan godaan itu, Naruto melipat kedua tangannya dibalik punggungnya.
Hinata tak memandang suaminya, ketika perhatiannya masih tertuju sepenuhnya pada kerusakan di kabin mereka. Ia menggigit-gigit bibir bawahnya, dan ketika dia mulai gemetar. Naruto menduga kalau akhirnya Hinata mengerti apa yang sudah diperbuatnya.
Tapi ternyata dugaannya salah, "Seharusnya aku tidak membiarkan tungku itu tanpa diawasi," bisik Hinata. "Apa ada percikan yang..."
Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kemudian Hinata menatap mata Naruto. Ketakutan jelas terpancar jelas dimata perempuan itu, menurut Naruto.
Sebagian amarahnya menguap seketika, saat melihat raut wajah perempuan itu yang ketakutan. Oh, jahat sekali dia membuat istrinya sampai takut seperti itu. Sebenarnya ini pikiran yang aneh mengingat situasinya, tapi ada sesuatu yang memaksanya untuk terlihat tidak terlalu marah.
"Hinata?" kata Naruto berusaha mengeluarkan suara selembut mungkin.
Tapi bagi Hinata. Naruto terdengar sangat marah sekali. Dia memaksakan diri untuk tetap berdiri ditempatnya, meski dorongan untuk mundur menjauh nyaris menaklukan tekadnya.
"Ya, Naruto?" jawab Hinata, pandangannya tertuju ke lantai.
"Tatap aku."
Dengan ragu Hinata mendongakkan kepalanya. Lalu Naruto pun melihat mata Hinata yang mulai berkaca-kaca. Pemandangan itu membuatnya terasa tercabik-cabik, dan amarahnya pun menguap seketika.
Kemudian Naruto menghela napas panjang, helaannya itu terdengar sangat tersiksa.
"Apa ada yang ingin kau katakan padaku?" tanya Hinata ketika suaminya masih terus saja menatapnya tajam.
"Itu bukan tungku."
Setelah mengatakan hal itu, Naruto pergi meninggalkan kabin. Sedangkan Hinata menatapnya lama sebelum akhirnya berbalik memandang Kakashi dan Jiraya.
"Apa dia baru saja mengatakan kalau tungku itu bukan tungku?"
Keduanya mengangguk secara bersamaan.
Pundak Hinata seketika terbungkuk lesu. "Habis kelihatannya seperti tungku, sih."
Jiraya mengangguk menyetujui ucapan Hinata. Tapi kemudian dia menceritakan kalau logam-logam yang bertumpuk di sudut kabin itu dulunya dibawa dari perjalanan terkahir Naruto. sebenarnya benda itu mau digunakan untuk memperbaiki kompor yang ada dikapal. Hanya saja Naruto lupa untuk membawanya ke dapur, lanjut Jiraya. Lalu Kakashi mengakhiri penjelasan Jiraya dengan memberitahu Hinata kalau lubang yang ada dilangit-langit itu sebenarnya lubang udara. Bukan cerobong asap.
Wajah Hinata semerah kepiting rebus ketika kedua pelaut itu selesai menjelaskan padanya soal tungku dan cerobong asap di langit-langit itu. Dia kemudian mengucapkan banyak terima kasih atas kesabaran mereka untuk menjelaskan hal itu padanya. Ia merasa seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa.
"Aku bisa saja membunuh semua orang," bisik Hinata sedih.
"Ya, bisa saja," ucap Kakashi keceplosan. "Eh?! Maksduku bukan begi..."
Seketika itu juga tangis Hinata pecah. Kedua laki-laki dihadapannya nyaris panik melihat sangat emosionalnya perempuan itu. Jiraya melotot marah pada kawannya itu, karena membuat Hinata menangis.
Tiba-tiba saja Kakashi menjadi sangat bersalah karena membuat perempuan itu memangis seperti ini. Untuk menebus kesalahannya dia berusaha menenangkan tangis Hinata dengan menarik Hinata ke dalam pelukannya, lalu mengusap-usap punggung gadis itu pelan.
"Sudah, sudah, sudahlah Hinata. Tidak separah itu kok," kata Jiraya berusaha membantu. "Kau mana tahu kalau itu bukan tungku."
"Orang bodoh saja pasti tahu," seru Hinata.
Keduanya saling mengangguk di atas kepala Hinata. Kemudian Kakashi berkata. "Aku mungkin akan mengira itu tungku kalau aku..." ia tak melanjutkan ucapannya karena otaknya tak menemukan kebohongan yang meyakinkan.
Jiraya pun membantunya. "Siapa pun yang tidak terbiasa berlayar pasti akan mengira itu tungku."
Naruto berdiri di ambang pintu. Ia tidak dapat mempercayai pemandangan yang dilihatnya itu, Jiraya dan Kakashi, dua bajak laut paling kejam yang membuatnya merasa terhormat, kini bersikap seperti pengasuh anak? Ia pasti akan terbahak-bahak seandainya saat itu perhatiannya tidak tertuju pada kerusakan akibat kebakaran. Sebaliknya dia malah mengerutkan keningnya heran.
"Kalau kau sudah selesai membuat punggung istriku lebam-lebam, Kakashi. Kau mungkin ingin menyuruh beberapa anak-anak untuk membersihkan kekacauan ini."
Kemudian pandangan Naruto beralih ke Jiraya. "Papannya jatuh ke lantai bawah juga. Pastikan kerusakannya diperbaiki. Kakashi kalau kau tidak melepaskan tanganmu dari istriku, aku akan..."
Naruto tak perlu menyelesaikan ancamannya. Karena Kakashi sudah hampir keluar dari pintu kabin ketika Naruto berdiri dihadapan Hinata. "Jika ada orang yang harus menenangkan istriku, orang itu hanya aku."
Naruto menyentakkan Hinata langsung ke dalam pelukannya dan mendorong wajah istrinya ke dadanya. Jiraya tidak berani tersenyum sampai dia keluar dari kabin, karena melihat tingkah Naruto itu. Tapi dia tetap terkekeh kecil ketika pintu dibelakangnya tertutup.
Naruto masih memeluk Hinata beberapa menit kemudian. Tapi karena Hinata yang tak mau berhenti menangis juga akhrinya dia berkata, "Astaga, Hinata apa masih belum puas kau menangis?"
Hinata mengusapkan wajahnya yang lembab ke kemja Naruto, kemudian melepaskan diri dari pelukan suaminya. "Aku sudah berusaha untuk tidak menangis, tapi kadang sulit untuk ditahan."
"Aku tahu," kata Naruto.
Naruto menariknya ketempat tidur, lalu mendudukannya, dan merasa sudah cukup tenang untuk memberikan pelajaran tegas pada Hinata tentang satu ketakutan yang dirasakan setiap pelaut. Yaitu Kebakaran. Dia berjalan mondar-mandiri, tangannya terlipat dibelakang badannya, sementara dia bicara menjelaskan semua bahaya yang baru saja terjadi. Naruto berbicara dengan tenang, logis dan mendetail. Tapi Naruto tetap berteriak saat diakhir penjelasannya. Meski begitu Hinata tak berani menyebutkan fakta itu secara langsung. Karena denyut pembuluh darah di pelipis laki-laki itu masih terlihat sangat jelas, dan dia menyimpulkan kalau suaminya masih belum bisa menguasai amarahnya.
Untuk sekarang dia hanya bisa memperhatikan suaminya yang berjalan mondar-mandir dihadapannya sambil menggerutu itu. Hinata tahu kalau dia sangat mencintai laki-laki itu. Sangat sampai tak tertahankan. Ingin rasanya dia menghabur ke dalam pelukan Naruto dan mengatakan pada pria itu kalau selama ini dia selalu mencintai pria itu, tapi sekarang perasaan itu kini semakin... semakin nyata. Seolah sudah bertahu-tahun dia berkelana menunggu pria itu dan pada akhirnya dia telah tiba ke persinggahan terakhirnya.
.
.
Naruto menarik perhatian Hinata kembali dengan memintanya menjawab sesuatu. Tentunya Naruto harus mengulang pertanyaannya, karena sejak tadi Hinata melamun dan tidak tahu apa yang sedang ditanyakannya. Naruto terlihat sedikit kesal karena ternyata istrinya kurang menyimak pidatonya.
Sedangkan Hinata menduga kalau Naruto akhirnya mulai terbiasa dangannya. Hanya Tuhan yang tahu kalau sekarang dia juga mulai terbiasa dengan semua kekurangan Naruto. Laki-laki itu memang benar-benar tukang marah. Oh, sorot mata marahanya ketika tertuju padanya juga masih mampu membuatnya merinding, tapi Shizune benar. Di balik topeng itu ada sosok laki-laki yang baik hati.
Setelah berhasil membuat Hinata berjanji untuk tidak menyentuh apa pun lagi sampai mereka sampai di pulau Shizune, Naruto menyelesaikan ceramah panjanganya. Setelah itu Naruto meninggalkan kabiin, meninggalkan Hinata sendiri.
Untuk mempertanggung jawabkan kesalahannya, Hinata membersihkan seluruh kabinnya yang menghitam, mulai dari lantai, dinding sampai langit-langit yang terkena jilatan api pun dia bersihkan. Sudah hampir 2 jam dia memberihkan kabin. Setelah mengganti seprai dan mandi, Hinata memutuskan untuk menunggu Naruto. Dia ingin terlelap dalam pelukan suaminya.
Untuk menunggu Naruto, Hinata mengisi kebosanannya dengan memutuskan untuk menggambar. Dia mengambil buku sketsa dari koper pakaiannya. Lalu duduk disalah satu kursi, dan mulai menggambar suaminya. Kertas yang dimilikinya sepertinya tak cukup besar untuk menggambar Naruto. Dia tersenyum membayangkannya. Naruto hanyalah seorang lelaki biasa. Lelakinya. Gambar yang dibuatnya hampir menyerupai refleksi Naruto yang sebenarnya, pikirnya. Meski begitu dia tak mau menggambar kerut-kerut di dahi pria itu. Dia juga berhasil menangkap postur tubuh Naruto yang menyerupai seorang raksasa, dengan kaki berotot berdiri mengangkang dan tangan berkacak pinggang. Dia juga menggambar seolah rambut Naruto tertiup sepoi-sepoian angin. Hinata berharap, andai dia mempunyai cat warna mungkin dia bisa menunjukkan rambut Naruto yang berwarna orange dan mata birunya yang indah. Mungkin nanti setelah mereka sampai di pulau Shizune, dia akan meminta Naruto untuk membelikan cat warna untuknya agar dia bisa membuat sketsa yang sempurna.
.
.
Saat itu sudah lewat tengah malam ketika akhirnya Naruto kembali ke kabinnya. Hinata sudah terlelap. Ia meringkuk seperti anak kucing di kursi. Rambutnya yang tergerai hampir menutupi seluruh wajahnya, dan dia telihat tampak sangat lembut di mata Naruto.
Naruto tak tahu sudah berapa lama dia berdiri di sana menatapi istrinya yang sedang tertidur itu.
Oh, rasanya sangat menyenangkan ada Hinata didekatnya. Naruto tak mengerti kenapa dia merasa sangat senang tentang hal itu, bahkan dia mengakui kalau reaksi ini sangat berbahaya untuknya. Karena sebenarnya mustahil dia membiarkan ada seorang perempuan yang jauh lebih berarti baginya dibanding kargo.
'Perempuan itu hanya sarana untuk mencapai tujuanku,' kata Naruto mengingatkan dirinya sendiri. 'Dan Hanya itu, tidak lebih.'
.
.
TBC
Akhirnya setelah sekian lama berkutat dengan tugas chap 10 ini selesai juga. Banzaii..
Bagaimana? Bagaimana chap ini? Makin geregetan sama Hinata atau ada yang kasian sama Hime? Hehe...
Ayo tinggalkan kesan, pesan, kritik, saran dan semua unek-unek kalian tentang fic ini dikotak review ya...
Jaa, sampai jumpa di next chap.
.
Dan jangan lupa baca juga fic ku yg lain TEROR juga udah update lohh..
