.

.

[ Apa yang harus kulakukan agar kau memahamiku? ]


"Maehara... aku ingin masuk perguruan tinggi sambil bekerja. Kemudian menikah setelah mendapat gelar sarjana dan punya anak-anak yang lucu.

Menghentikan kunyah sandwich di mulut, Maehara menatap heran figur yang tengah berdiri—memegang kawat pembatas pemisah raganya dengan aspal ratusan kaki jauh di bawah.

"Kau serius, Isogai?"

"Tidak apa, kan? Aku juga ingin punya cita-cita..."

"Kalau begitu kuharap kau tidak keberatan dengan adopsi," sang casanova beranjak dari posisi duduknya, turut menemani sosok terkasih di samping, "Karena aku ingin menjadi orang beruntung yang akan menikah denganmu."

Senyum khas tidak lepas dari si helai obsidian, "Kau baru saja melamarku?"

"Tidak apa, kan? Aku juga ingin punya cita-cita..." Maehara sengaja, berhasil menyebabkan pipi isogai dikerubungi rona.

Beberapa saat keduanya ditemani sunyi. Sang mahkota senja ikut memandang apa yang sedari tadi dilihat oleh Isogai; bangunan gedung satu yang dikelilingi pepohonan hijau. Sahabatnya terus melihat ke sana dan Maehara sangat membenci itu.

"Pemandangan dari sini, selepas kelulusan... pasti indah, ya." jari-jari itu menekan kawat lebih kencang, mungkin akan ada alur membekas sementara pada kulitnya, "Setelah lulus nanti, ayo kita melihat sakura bersama."

"Kau menerima perasaanku?"

Gelengan kepala Isogai merubah mimik cerah Maehara.

"—Ini bukan tentang menerima atau tidak. Aku bahagia kalau Maehara bersamaku."

"Kalau begitu, tolong lihat aku."

Sejak mereka mulai bicara, Maehara tidak merasakan ivory Isogai sekalipun menyapa miliknya. Lebih sibuk memandang jauh seakan tenggelam dalam dunianya. Dua pundak itu terpaksa dikunci kasar, memaksanya untuk memutar arah namun sahabatnya seakan tuli dengan kelereng yang tidak berpindah fokus dari apapun yang dilihatnya di hala gedung utama.

"Kenapa? Kau membenciku? Apa karena aku sudah berbohong padamu? Jawab aku!"

Telinganya menerima hening.

"Aku benar-benar minta maaf. Aku tahu telah salah karena berdusta, tapi kulakukan karena aku menyayangimu!"

Tetap hening.

"Isogai, lihat aku! AKU MOHON, LIHAT AKU! ISO—"

Maehara terbangun dengan air mata terlanjur membasahi pipi.


Sebelum Sakura

.

.

.


Chapter 03 : Liliac


Asano menyeret kaki malas ke ruang makan. Autofokus menuju kulkas untuk mengeruk beberapa potong roti, telur, daging ham, juga topping mayones. Perutnya tidak terlalu lapar, tapi ia ingin mengunyah sesuatu untuk menyumpal mulutnya agar tidak mengomel karena urusannya beberapa hari ini kurang berjalan lancar. Langkahnya terputus tepat di ambang pintu saat melihat seseorang yang tidak disangka tengah duduk di ruang makan, tampak baru selesai membaca koran.

"Tumben sudah pulang jam segini..." nada yang remaja murni diliputi penasaran.

Sebagai calon kepala rumah sakit dengan jadwal padat luar biasa, melihat ayahnya di dalam rumah pada hari biasa sebelum matahari berpindah tahta menjadi hal berharga yang tergolong langka.

"Duduklah."

Mengerutkan alis, Asano muda meletakkan tas sekolahnya di lantai—dekat tempatnya mendudukkan diri di kursi berlawanan—dengan paras curiga. Secuil rasa laparnya mendadak lenyap entah kemana.

"Jadi?"

Mata yang lebih tua menyirat afeksi namun lemah, tidak setajam biasanya, "Jadi? Apa itu caramu membuka percakapan dengan ayahmu?"

"Seingatku, selama ini ada yang mendidikku untuk mengesampingkan basa-basi."

"Jadi," pria yang lebih tua memulai sesuai dugaannya, "Aku melihat apa yang kalian lakukan di kamar saat itu."

Manifestasi psiko organik yang tertimbun selama ini lepas seketika saat kucuran keringat dingin diproduksi kulitnya tanpa permisi, ditambah udara di sekitar Asano yang seakan terhenti. Sekelumit klausa implisit cukup untuk membuatnya terpojok bagaikan terpidana vonis mati.

"Apa-apaan!" emosi menjadi wujud pengalihan gesit sebagai sekat penahan rasa malu. Yang berhelai lebih pucat bangkit seketika dari kursinya, "Padahal ayah yang selalu mengajarkanku untuk mengetuk pintu sebelum masuk!"

Pria itu tersenyum tipis, sedikitnya merasa bersalah namun tidak menyesal, "Seorang ayah tidak akan mengabaikan suara-suara aneh dari kamar anaknya, kan? Dan aku tidak ingin mempermalukan kalian... aku hanya kecewa..."

"Lalu apa selanjutnya... menghinaku? menghukumku? Mengusirku dari rumah?"

"Semuanya pilihan menarik. Tapi boleh aku lebih memberi perhatian khusus pada apa yang telah kucuri dengar?" hembusan napas sekilas, "Itukah apa yang kau pikirkan selama ini? Mengoper air liur pada Yuuma untuk menggantikan serum?"

Asano hampir lupa kalau hidupnya berkaitan erat dengan dunia kedokteran. Dan percuma saja meluruskan kalau metode tersebut bukan semata-mata berawal darinya, walau ia ikut andil melanjutkan dan berniat melestarikan demi kelangsungan hidup sang pujaan, "I-itu semua..."

"Kau yakin air liurmu bersih dan tidak akan menambah masalah lain dalam metabolisme tubuhnya? Apa yang kalian lakukan sama sekali tidak bisa dibenarkan! Jangan lupa, air liur sangat rentan terhadap penyakit!"

Usaha protes, "Tapi terbukti sampai sekarang, cara itu cukup ampuh—"

"Memang kau akan memberikan saliva padanya sepanjang hidupmu? Yang harus Yuuma lakukan hanyalah mengikuti resep yang sudah kutetapkan!"

"Menyuntikkan benda tajam ke dalam nadi beberapa jam sekali bukanlah hal main-main! Selama ini dia tersiksa tanpa kepastian kesembuhan yang jelas!"

Gebrakan keras di meja, "Tapi itu aturannya. Jangan main-main dengan medis, Gakushuu!"

"LALU APA ANDIL MEDIS SAAT IBU DIVONIS KANKER DAN MENINGGAL?!"

"GAKUSHUU!"

Cukup. Tangan Asano segera meraih tas dan pergi dari sana secepat yang ia bisa. Berlari. Berlari.

Hanya berlari.


.

.

[ Apa yang harus kulakukan agar kau memaafkanku? ]


Pintu di hadapannya dibuka kasar.

Sangat kasar sampai remaja itu tidak peduli jika ada bagian yang mungkin saja bisa rusak, padahal ia yang selalu memperingati teman-temannya untuk menjaga setiap properti. Prioritas utamanya adalah menenangkan diri dalam wilayah kekuasaannya yang dikelilingi papan pengumuman, kursi, pun tumpukan risalah berderai mangsi. Bukannya disambut oleh terang dim menyakitkan mata, bahkan semua murid seharusnya sudah pulang dan tidak ada siapapun yang bisa memasuki ruang Osis tanpa lisensi.

"O-oh, Asano! Ahahaha," tawa canggung karena tertangkap basah. Tubuh yang sedang tiduran di sofa seketika mengubah posisi menjadi berdiri, "Bukannya tadi sudah pulang?"

"Akabane?"

"Sorry, aku menggandakan kuncinya supaya punya tempat untuk tidur-tiduran kalau bolos..." nada melambat, "...Asano?"

Hanya berdiri di sana dalam diam—memandang sesuatu yang tidak dipandangi. Raganya ada, tapi jiwanya seakan pergi. Asano tengah berada di puncak keterpurukan terdalam, menyadari sesuatu dari masa lalu berhasil digali tanpa henti dan dipanggil kembali.

"Kau menangis?"

"Aku tidak menangis."

Delik iris mercury ke arah jendela, "Kulihat di luar sedang tidak hujan."

Tubuhnya bergeming meskipun Karma mengikis jarak melalui langkah kaki, menyentuh pundaknya yang memiliki level tinggi hampir persis. Mencoba memberanikan diri untuk mendekat lagi kemudian memeluknya dengan resiko lebam sekujur badan maupun hujam untai makian bisa saja diterimanya nanti.

"Kenapa kau di sini,"

Pelukan itu semakin lama semakin sesak, mengikuti rasa sakit hati dan naluri, "Menunggumu..."

Asano sedang lelah bermain frasa. Makna literal saja gagal dicerna otaknya, apalagi sebuah kiasan. Bisik yang terdengar dari balik punggungnya terdengar semakin sayup.

"—Aku menunggumu selama ini, hanya menunggumu."

Melonggarkan pelukan, yang merah pekat memberanikan diri memandang sekilas kemudian menempelkan bagian dahi dengan dahi. Hanya berharap apa yang diikat erat selama ini mampu terulur meninggalkan bentuk simpul mati.

"Usaha yang sia-sia, Akabane..."

Konversasi harus ditunda sejenak. Karena dua bibir mereka mulai saling menekan, mendominasi dan beradu panas.


.

.

[ Apa yang harus kulakukan agar kau menerimaku? ]


To be continued...

.

.

.

A/N:
Lagi2 telat apdet karena lupa jadwal... efek liburan itu sesuatu banget #goler
Benernya author bikin chapteran ini dengan aura sangat baper. Mohon maklum, ya :(

See you next Rabu! #InggrisGagal

R&R Maybe? C: