Curse of Life
Author : Shirokami Khudhory
Genre : Adventure, Friendship, Action, Romance
Rating : M
Disclaimer: Naruto by Masashi Kishimoto, Highschool DxD by Ichisei Ishibumi, dan UQ Holder by Akamatsu Ken serta mangaka maupun musisi yang karyanya saya catut di fanfic ini
Warning! AR, AU, gaje, OOC, typo, dsb.
Note :
Well... Sebelumnya perkenalkan saya Shirokami Khudhory, kali ini saya akan menghadirkan fanfic triple crossover Naruto x Highschool DxD x UQ Holder. Yap, kali ini saya membawa sebuah manga baru yang mungkin masih sedikit asing bagi kalian karena kupikir ini bakal menarik. Di cerita ini akan bercerita tentang sekelompok manusia-manusia yang abadi alias tak bisa mati, dan konflik antara mereka dengan makhluk spiritual yang semakin mengancam umat manusia.
Jujur, sangat susah utuk menggabungkan universe dari Highschool DxD dengan universe UQ Holder
Terlebih mengingat UQ Holder bersetting waktu pada tahun 2085 dimana manusia normal sudah menyadari keberadaan ilmu sihir, dan dunia sudah sangat modern walaupun belum merata, bahkan sudah diproduksi aplikasi agar manusia normal yang tak mempunyai bakat sihir bisa memiliki sihir walaupun harga aplikasi tersebut sangat mahal
Namun di sisi lain aku juga ingin membuat alur canon d HS DxD kugeser kek setting latar waktu seperti di UQ Holder yakni di tahun 2085
Untuk alur ceritanya, aku akan mengambil alur canon gabungan antara Highschool DxD dengan UQ Holder
Summary :
Keabadian... Kutukan paling mengerikan yang pernah ada, kutukan yang memaksa korbannya untuk terus hidup dalam kesepian dan kesendirian, melihat tiap sahabat maupun yang terkasih pergi meninggalkannya termakan oleh kejamnya arus waktu. Ditambah, para makhluk spiritual yang terlalu serakah atas dunia yang begitu sempit ini serta para penguasa yang tak pernah puas untuk menguasai segalanya, membuat mereka - para immortal mulai bergerak melindungi umat manusia.
"Bagiku yang sejak awal terlahir abadi, keabadian itu bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan. Justru sebaliknya, ini adalah sesuatu yang harus dikhawatirkan." - Raiser Phenex
Arc III : Excalibur and the Memories of Dragon
Chapter 10 : Re-Welcome to Devilish Teritory
Sementara itu, Jiraiya sedang berjalan di sekitar di kompleks pertokoan di pusat kota Kuoh. Sore hari itu sepulangnya dari Kuoh Academy sehabis selesai mengajar, ia berencana untuk terlebih dahulu mampir di pusat kota untuk membeli persediaan bahan makanan yang nyaris habis.
"Mohon berilah berkah pada umat yang tersesat ini."
"Mohon berilah kami derma atas nama Bapa di Surga."
Sebuah suara menarik perhatiannya, ia lantas menoleh kearah sumber suara dan melihat dua orang perempuan yang berpakaian layaknya seorang utusan dari gereja sedang mengemis di pinggir taman disekitar kompleks pertokoan kota Kuoh. Ia melihat kedua orang tersebut mulai terlibat perselisihan satu sama lain, bahkan salah satu diantara keduanya yang berambut biru mulai mencabut sesuatu yang berbalut kain perban tebal dari balik punggungnya. Menyadari sesuatu yang semakin diluar kendali, ia pun berinisiatif mendatangi mereka berdua.
"Wah... Wah... Wah... Tenang nona muda, kenapa kalian berdua berkelahi di tempat umum seperti ini?" Mendengar pertanyaan Jiraiya, mereka berdua lantas menoleh kearah Jiraiya dan menatap tajam kearahnya sambil berkata, "Who are you? / Siapa kau?"
"Aku?" Jiraiya menunjuk dirinya sendiri, "Hanya warga biasa yang kebetulan melintas disekitar sini dan melihat dua orang utusan gereja sedang mengemis lalu berkelahi tanpa sebab." lanjut Jiraiya santai.
Kedua exorsist wanita itu saling menoleh - menghadap kearah rekan sesama exorsist dan berbisik kecil, lalu tak lama kemudian mengangguk bersamaan dan menurunkan kuda-kuda bertarung mereka.
"Hmm... Sepertinya kalian berdua sedang kelaparan? Mau mampir ke restoran sebentar? Aku yang traktir kalian, kebetulan aku baru saja gajian." tawar Jiraiya.
NYAM... NYAM... NYAM...
Tampak Jiraiya beserta kedua exorsist wanita sedang duduk saling berhadapan di dalam salah satu restoran cepat saji yang terletak tak jauh dari tempat dimana mereka bertiga bertemu. Terlihat kedua exorsist wanita itu sedang menyantap burger tersebut dengan sangat lahap, atau mungkin lebih tepatnya seperti seseorang yang sudah tak makan selama beberapa hari. Sementara itu Jiraiya hanya bisa tersenyum tipis melihat tingkah laku mereka berdua sambil menyantap burger sayur di genggaman tangannya dengan santai, walau sebenarnya tatapan matanya tak bisa lepas dari sebuah benda besar berbentuk menyerupai pedang yang berbalut kain perban tebal dan terletak diantara kedua exorsist wanita itu duduk.
"Ok... Biar kuluruskan kembali, jadi kalian berdua diutus oleh gereja tempat kalian bernaung untuk mencari pedang suci milik gereja yang dicuri?"
"Yap, aku dan Xenovia-chan disebelahku ini diutus oleh pihak gereja pusat di Vatikan untuk mencari pedang suci milik gereja yang dicuri." jawab salah seorang exorsist yang berambut pirang chessnut yang diikat twin-tail sambil menunjuk teman disebelahnya yang bersurai biru pendek dengan jari jempolnya.
"Irina! I told you to don't call my name like that!" seru exorsist wanita lain yang bersurai biru pendek dengan sehelai poni berwarna hijau dan diketahui bernama Xenovia.
"But Xenovia-chan, is that a cute name?" Irina membela diri atas ucapannya sebelumnya.
"Ehem..." Jiraiya berdeham kecil untuk menarik perhatian kedua wanita exorsist itu, "Jadi... Kalau kalian berdua berada disini, itu berarti pencuri pedang suci tersebut sedang bersembunyi di kota ini?" ucapnya dengan nada sedikit bertanya.
Irina kembali mengangguk lalu berkata, "Yap... Menurut informasi terakhir yang pihak gereja pusat dapatkan, aura pedang suci tersebut terakhir kali terdeteksi di kota ini, kota Kuoh."
"Hmm..." Jiraiya bergumam pelan sembari memegang dagunya, "Bolehkah aku membantu kalian? Mungkin pihak kepolisian bisa membantu pencarian."
"Ahh... Tak perlu, kita bisa melakukannya sendiri, aku tak mau merepotkan tuan lagi." tolak Irina dengan halus, "Kami saja sudah sangat bersyukur atas pemberian tuan."
"Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu, kebetulan ada sesuatu yang harus kuurus di rumah segera." ucap Jiraiya.
"Ahh ya, terima kasih..."
Mereka bertiga lantas beranjak dari tempatnya duduk lalu berjalan menuju pintu keluar restoran, tak lupa Xenovia juga kembali mengalungkan benda yang dibungkus dengan kain perban ke balik punggungnya. Sesampainya diluar restoran tepatnya di depan pintu masuk restoran tersebut, Irina langsung membungkuk dihadapan Jiraiya.
"Terima kasih atas makanannya tuan, semoga amal kebaikan tuan dibalas oleh Bapa di surga." ucap Irina.
"Tak apa, anggap saja ini sebagai rasa syukurku atas rejeki yang telah diberikan padaku o-"
"Sensei..."
"Jiraiya-sensei..."
Ucapan Jiraiya tiba-tiba terpotong oleh suara beberapa orang yang memanggil namanya, ia lantas menoleh kearah sumber suara dan melihat 3 orang remaja yang memakai seragam Kuoh Academy sedang berlari kearahnya. Ia mengenali mereka bertiga sebagai Koneko Toujou dari kelas 1C, Issei Hyoudou dari kelas 1B, dan Saji Genshirou dari kelas 1C. Ia tersenyum sekaligus sedikit kesal dengan tingkah laku ketiga muridnya itu di tempat umum, di sisi lain Xenovia dan Irina yang mengetahui bahwa ketiga orang tersebut merupakan iblis merasa kesal dengan kehadiran ketiga iblis tersebut.
"Berapa kali harus kubilang, jangan memakai seragam sekolah di tempat umum seperti ini, kalian bisa memberi citra yang buruk terhadap sekolah ini." bentak Jiraiya.
"Maaf sensei... Kami baru pulang dari sekolah karena ada kegiatan klub sebelumnya jadi belum sempat mengganti baju, tapi sebenarnya kami kemari karena ada urusan dengan kedua exorsist wanita yang berdiri dibelakang sensei." ucap Issei.
Mendengar ucapan Issei, Jiraiya hanya bisa menaikkan alisnya karena bingung lalu menoleh kearah kedua exorsist wanita itu dan berkata, "Urusan? dengan mereka berdua?"
Mereka bertiga mengangguk pelan. Jiraiya lantas menoleh kearah kedua wanita exorsist tersebut dan juga kearah ketiga muridnya itu bergantian beberapa kali, ia bisa merasakan dengan jelas hawa permusuhan yang terpancar dari kedua exorsist wanita tersebut dan diarahkan kepada ketiga muridnya tersebut.
"Baiklah... Sepertinya urusan kalian cukup penting dan aku tak perlu tahu apa itu, lagipula ada suatu hal yang harus kuurus di rumah, jadi aku pergi dulu." ucap Jiraiya sembari menghela nafasnya.
Jiraiya kemudian berjalan menjauhi ketiga muridnya yang masih bersama kedua wanita exorsist tersebut. Sebenarnya ia tahu kalau ketiga muridnya itu adalah iblis karena ia sudah terbiasa dengan aura salah satu temannya yang juga merupakan seorang iblis. Karena itu setelah ia berjalan cukup jauh dan merasa ketiga muridnya itu tak dapat mendengar ucapannya, ia langsung berhenti dan menghela nafasnya sejenak.
"Sepertinya aku harus meminta bala bantuan..." ucapnya pelan.
Hari Minggu, hari yang kata orang merupakan hari terbaik untuk bersantai - memulihkan tubuh dan pikiran dari segala rutinitas yang ada. Yah, setidaknya itu yang seharusnya ia - Evangeline A.K. McDowell atau yang biasa dipanggil dengan nama Yukihime dapatkan. Alih-alih bisa mendapatkan istirahat yang tenang, ia sekarang malah harus menghadapi beberapa lembar dokumen yang berserakan diatas meja kerjanya di dalam ruang kerjanya dan menjalani rutinitas sebagai ketua UQ Holder.
Dihadapannya, berdiri seorang pria jangkung bersurai dark-blonde yang mengenakan setelan jas putih layaknya seorang dokter. Dan seorang wanita bersurai ikal panjang berwarna ungu yang mengenakan pakaian casual yang cukup menonjolkan ukuran payudaranya yang tergolong cukup besar. Yap, kedua orang tersebut merupakan member terbaru UQ Holder.
TOK TOK TOK
"Masuk..." teriak Yukihime begitu ia mendengar suara ketukan pintu ruang kerjanya.
Dari balik pintu ruang kerja Yukihime, seorang pria paruh baya bersurai putih berjalan memasuki ruangan tersebut. Yukihime tentu saja mengenali pria tersebut, walau kedua member baru UQ Holder tak mengenalinya.
"Ahh Jiraiya, akhirnya kau kembali... Apa misimu dengannya selesai?" tanya Yukihime.
"Tidak..." Jiraiya menggeleng pelan, "Justru aku kemari karena ingin meminta bala bantuan darimu, dan..." Jiraiya melirik kearah kedua member baru UQ Holder, "Sepertinya kita mendapat anggota keluarga baru."
"Ahh ya, mereka berdua memang member baru UQ Holder." Yukihime melirik kearah kedua member baru UQ Holder dan memberikan tatapan mata yang bisa diartikan sebagai 'perkenalkan dirimu pada dia!'
Mendapat tatapan dari Yukihime, pria bersurai dark-blonde yang memakai setelan jas putih maju selangkah ke depan dan sedikit membungkukkan badannya kearah Jiraiya, "Perkenalkan, aku UQ Holder #12 Raiser Phenex, dan..."
Wanita bersurai ikal panjang berwarna ungu ikut maju selangkah ke depan dan juga sedikit membungkukkan badannya, "UQ Holder #13 Yubelluna."
"Ahh ya, aku UQ Holder #2 Bartholomew Osvaldo Jiraiya, tapi kalian bisa memanggilku Jiraiya." balas Jiraiya yang kemudian menghadap kembali kearah Yukihime, dan kedua member baru itu masih diam berdiri di tempat, "Jadi... Dimana Karin? Tak seperti biasanya dia tak ada di ruanganmu."
Yukihime menghela nafasnya atas pertanyaan Jiraiya, "Entahlah, akupun tak tahu." Sebelah alis Jiraiya terangkat saat mendengar jawaban dari Yukihime, "Dari yang kudengar, sepertinya Karin terkena sihir teleport paksa saat melawan Zabuza di misi terakhir beberapa hari yang lalu."
"Lagi?" Yukihime mengangguk pelan, "Kita sekarang hanya bisa berharap ia tak diteleport paksa ke tempat yang aneh-aneh, terakhir kali ia diteleport kedalam kawah gunung Merapi dan kembali sambil membawa batu lava dengan tangan kosong."
"Ahh sial... Padahal dia bala bantuan yang cocok dengan misi ini, terutama karna dia mengenal baik orang itu." rutuknya pelan, "Kalau begitu cepat panggil Naruto dan Sasuke kemari..." titahnya.
~ Beberapa menit kemudian ~
"Jadi... Kita berdua akan melakukan misi di kota Kuoh?" tanya Sasuke setelah ia mendengar rincian misi yang telah dijelaskan oleh Jiraiya sebelumnya.
"Yap, lebih tepatnya menyamar sebagai murid di salah satu sekolah disana." ucap Jiraiya.
"Hmm, baiklah... Kupikir misi penyamaran seperti ini tak cukup buruk." jawab Sasuke, "Kalau begitu ayo kita berangkat!" timpal Naruto.
Naruto dan Sasuke kemudian kembali ke kamar mereka untuk mengemasi pakaian mereka. Setelah semuanya beres, mereka berdua kembali ke ruang kerja Yukihime dimana Jiraiya masih setia menunggu mereka. Dan setelah berpamitan dengan member UQ Holder yang ada di ruangan itu, mereka bertiga kemudian pergi meninggalkan Senkyoukan.
Di sisi lain, Yukihime yang mengintip dari jendela ruang kerjanya dan melihat Jiraiya telah melewati gerbang Senkyoukan langsung menoleh kearah Raiser dan Yubelluna.
"Nah sekarang... Kalian berdua bisa kembali ke kamar tidur kalian, dan ini kuncinya." ucap Yukihime sambil memberi sebuah kunci pada mereka.
"Terima kasih Yuki-"
Belum sempat Raiser menyelesaikan ucapannya, sebuah lingkaran sihir berwarna putih tercipta di tengah ruangan tersebut. Raiser dan Yubelluna yang mengetahui bahwa itu adalah lingkaran sihir bangsa iblis langsung memasang pose siaga bertarung dengan sepasang bola api seukuran bola sepak di kedua tangan Raiser dan juga sebuah tongkat sihir digenggaman tangan kanan Yubelluna - mengantisipasi sosok yang akan muncul dari lingkaran sihir tersebut.
"Turunkan kuda-kuda kalian berdua, dia bukan musuh atau ancaman bagi kita." titah Yukihime. Raiser beserta Yubelluna kemudian menurunkan kuda-kuda mereka, dan tak lama berselang sesosok orang muncul di tengah lingkaran sihir tersebut.
Keesokan harinya, Jiraiya yang pagi itu sedang ada jadwal mengajar kini berada di dalam gedung gymnasium. Ia kini sedang melakukan pull-up satu tangan dengan tangannya yang terlipat di belakang punggungnya sembari menunggu murid-murid berganti baju.
"Jiraiya-sensei..." Jiraiya menoleh kearah sumber suara sambil terus melakukan pull-up satu tangan dan melihat seorang siswi bersurai maroon yang mengenakan seragam olahraga.
"Ahh Meguri-san..." jawab Jiraiya singkat begitu ia melihat sang ketua kelas 2A telah berdiri didekatnya, ia lalu menoleh kearah pintu masuk gymnasium dimana murid-murid lain mulai berdatangan, "Dan sepertinya semua murid sudah datang."
Melihat semua muridnya telah datang dan berbaris dengan rapi, ia langsung melompat turun dan menghentikan kegiatan pull-up satu tangannya. Ia kemudian mengambil lembar absensi miliknya yang ia taruh tak jauh dari tempatnya berdiri dan mulai mengabsen muridnya satu persatu.
"Tomoe Meguri..." ucap Jiraiya.
"Hadir..." balas Meguri.
"Yuuto Kiba..." ucap Jiraiya, namun tak berbalas.
"Yuuto Kiba..." Lagi-lagi masih tak berbalas, bahkan setelah Jiraiya memanggil namanya sedikit lebih nyaring.
"YUUTO KIBA..." seru Jiraiya dengan sedikit emosi terkandung didalam ucapan, atau lebih tepatnya teriakannya.
"Umm Jiraiya-sensei..." Jiraiya menoleh kearah sumber suara yakni Tomoe Meguri, "Yuuto-san hari ini tidak masuk sekolah." ucap Meguri, "Sudah 5 hari terakhir ia tak masuk sekolah, teman-teman klubnya juga tak tahu ia hilang kemana." lanjutnya.
'Aneh... Tak seperti biasanya anak seperti dia bisa bolos sekolah 5 hari berturut' pikir Jiraiya, "Apa ada informasi lain mengenai anak itu?" tanya Jiraiya kembali.
Meguri menggeleng pelan, namun berucap sejenak "Entahlah sensei, tapi salah satu teman klubnya sempat bilang kalau sikap Yuuto-san sedikit aneh akhir-akhir ini."
"Hmm baiklah... Kalau begitu kita mulai saja pemanasannya." ucapnya.
Malam harinya, tepat satu jam setelah matahari terbenam, Jiraiya kini sedang duduk di balkon lantai 2 rumahnya sambil menyesap secangkir teh hangat. Ia kini sedang bingung, belum usai urusannya dengan pihak gereja yang sedang mencari pedang suci yang hilang, kini ia dihadapkan dengan kasus menghilangnya Yuuto Kiba, salah satu muridnya yang paling rajin sekaligus juga yang paling jaim.
"Ahh, apa semua kejadian ini ada hubungannya ya?" ucap Jiraiya pelan, "Ahh, lebih baik aku tanyakan saja padanya, mungkin dia bisa membantu."
Merogoh saku celananya, ia kemudian mengambil ponsel miliknya lalu mencari nomor kontak seseorang dan menelponnya.
[Moshi... Moshi... Ini siapa?]
"Ini aku, Jiraiya..."
[Ohh, pak tua ternyata... Ada apa kau menelponku?]
"Aku ingin menanyakan sesu-"
[Langsung saja ke inti pembicaraannya.]
"Huft, selalu to the point seperti biasa ehh... Dan kau benar, sesuai prediksimu utusan gereja pusat benar-benar datang ke kota ini."
[Jadi, ada perkembangan terbaru disana?]
"Tidak... Justru bertambah buruk karena salah satu muridku yang kuketahui sebagai iblis dari kelompok Gremory menghilang secara misterius. Apa kau tau sesuatu tentang hal ini? Seperti sesuatu yang pernah terjadi di masa lalu atau sebagainya."
[Sebentar, biar kuingat-ingat terlebih dulu...] Sejenak keheningan tercipta di tengah komunikasi tersebut, [Ahh, aku ingat... Beberapa tahun yang lalu ada sebuah proyek rahasia yang dilakukan oleh sekelompok exorsist dan ilmuwan yang diberi nama Holy Sword Project. Mereka mengumpulkan anak-anak yatim piatu dari berbagai gereja untuk dilatih agar bisa menggunakan pedang suci dan sekaligus mencari pengguna pedang suci Excalibur secara artificial] Suara helaan nafas begitu jelas terdengar dari speaker ponsel tersebut, [Sayangnya proyek tersebut gagal total, dan kamu tentu bisa menebak apa yang bakal terjadi dengan subjek proyek tersebut kan...]
"Disingkirkan..."
[Tepat sekali... Lebih tepatnya dibunuh untuk menghilangkan seluruh barang bukti mengenai proyek tersebut, dan menurutku salah satu muridmu yang tiba-tiba menghilang itu adalah salah satu korban yang selamat dari proyek itu.]
"Ahh sial, kenapa aku tak berpikiran sejauh itu dari tadi? Kalau begitu terima kasih atas informasinya."
[Anything for you, old man]
Dengan itu, maka berakhirlah percakapan antara mereka berdua via telepon. Menyesap kembali teh miliknya hingga habis, Jiraiya kemudian bangkit dari tempatnya duduk dan berjalan memasuki rumahnya kembali.
"Jadi, darimana aku harus mulai mencari muridku satu itu? Aarrgghh..." Mengacak-acak rambutnya lalu merapikannya kembali, ia lantas berjalan menuju pintu keluar rumah, "Mungkin secangkir capucinno di kedai kopi favorit bisa memberiku solusi terbaik."
TAP TAP TAP
Pukul 9 malam hari, Jiraiya yang baru pulang dari kedai kopi langganannya kini sedang berjalan di sekitar kota Kuoh. Ia berjalan dengan santai hingga tiba-tiba suara dentingan pedang mengusik indera pendengarannya.
TRAANG... TRAAANNG... TRAAAANNGG...
Penasaran dengan asal suara tersebut, Jiraiya pun langsung berjalan menuju sumber suara tersebut. Ia mendekati sumber suara tersebut secara mengendap-endap sambil terus menekan hawa kehadirannya.
Sayangnya, ia justru melihat sesuatu yang tak ingin ia lihat, muridnya yang sempat menghilang yakni Yuuto Kiba kini sedang bertarung melawan seorang exorsist bersurai putih. Dari ucapan vulgar yang seringkali exorsist itu ucapkan dan juga aura suci yang begitu kental dari pedang yang exorsist itu genggam, kemungkinan orang itu adalah seorang exiled-exorsist yang mencuri pedang suci milik gereja.
Pedang suci dan Yuuto Kiba.
Gotcha, sepertinya ia tak perlu repot-repot mencari keduanya karena keduanya kini muncul di depan matanya sendiri.
Namun saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk beriang-ria atas jackpot di hadapannya, karena justru kondisi muridnya - Yuuto Kiba yang tak bisa dibilang baik, Yuuto kini berlutut lemah dengan beberapa luka tebas dari pedang suci lawannya. Ia tahu sekali jika benda suci apapun, terlebih seperti pedang suci akan memberi luka fatal pada iblis, seminimal apapun kontak yang terjadi. Melihat ex-exorsist tersebut memasang kuda-kuda untuk menghabisi muridnya, Jiraiya langsung keluar dari tempat persembunyiannya.
"Selamat tinggal iblis-"
BUAGH... BRAAAKK...
Belum sempat menyelesaikan ucapannya dan tepat satu meter sebelum ex-exorsist itu berhasil menghabisi Yuuto Kiba, sebuah tendangan dua kaki ala gerakan kungfu melayang tepat di wajah ex-exorsist tersebut dan membuatnya terlempar cukup jauh hingga menjebol dinding beton sebuah rumah kosong yang telah lama tak berpenghuni. Di sisi lain, Yuuto Kiba terdiam atas kejadian yang baru saja terjadi dihadapannya, butuh beberapa detik untuk membuat Kiba tersadar dari keterkejutannya.
"Jiraiya-sensei..."
Jiraiya tak membalas sapaan dari muridnya tersebut, namun justru ia berbalik badan dan meninju sebongkah potongan beton yang melayang kearahnya hingga hancur berkeping-keping. Yuuto Kiba kembali terkejut, ia memang tahu jika guru olahraganya satu ini memang cukup kuat, tapi untuk menghancurkan potongan beton tebal hingga hancur berkeping-keping hanya dengan satu pukulan tunggal, bukankah kekuatan itu setara dengan kekuatan fisik seorang rook bangsa iblis? Karena sejauh yang ia ketahui, aura yang Jiraiya pancarkan menunjukkan bahwa gurunya ini hanyalah manusia biasa. Namun belum sempat ia berpikir lebih jauh mengenai gurunya tersebut, ia dapat melihat seseorang keluar dari reruntuhan dinding beton yang berlubang.
"Bajingan, yang tadi sakit sekali... Siapa kau pria tua? Apa kau devil lover yang ingin membela devil-chan busuk itu hah?"
"Aku?" Jiraiya menunjuk dirinya sendiri, "Hanyalah seorang guru biasa... yang tak suka melihat muridnya terluka... terlebih dari exorcist bermulut vulgar sepertimu."
Sementara itu di tempat berbeda, seorang gadis menatap kearah gedung tinggi yang berdiri tegak di hadapannya. Ia terdiam sejenak, lalu menghela nafasnya pelan, "Tak kusangka ternyata kau berada disini, Ice Dragon of Devastation."
to be continued...
AN :
Yey... Akhirnya cerita ini memasuki Arc III yang diberi nama Excalibur and the Infinities
Sesuai judulnya, arc ini akan membahas seputar pedang suci yang hilang namun dari sudut pandang yang sedikit berbeda
Dan, ada beberapa hal yang ingin kusampaikan...
Pertama, aku mencoba untuk membuat sebuah pendekatan yang sedikit berbeda untuk arc kali ini.
Mungkin tokoh seperti Jean Claude dan Jiraiya bakal berperan cukup banyak di arc ini, baik secara langsung maupun dari balik bayangan
Kedua, thanks atas 60+ Follow dan 100+ review untuk fanfic iseng ini
aku benar-benar berterimakasih atas reader selama ini
Terakhir, arc III kemungkinan besar akan berisi sekitar 4-5 chapter dengan sedikit flashback mengenai masa lalu salah satu member UQ Holder
Overall, terima kasih karena telah membaca fanfic saya satu ini...
Note :
Struktur kepemimpinan UQ Holder:
UQ Holder #1 : Evangeline A.K. McDowell (UQ Holder!)
UQ Holder #2 : Bartholomew Osvaldo "Jiraiya" (Naruto)
UQ Holder #3 : Jean Claude Hitsugaya aka. Shiro (Bleach)
UQ Holder #4 : Karin Orba Hauer aka. Karin Yuuki (UQ Holder!)
UQ Holder #5 :
UQ Holder #6 : Klisnaskov Schazevski aka. Kakeshi Kakashi (Naruto)
UQ Holder #7 : Naruto Springfield (Naruto)
UQ Holder #8 : Himejima Shuri (Highschool DxD)
UQ Holder #9 :
UQ Holder #10 : Mossad Ali Gaara (Naruto)
UQ Holder #11 : Sasuke Uchiha (Naruto)
Review :
nine fox of darkness :
ini sudah lanjut, maaf kalau molor 3 hari dari jadwal yang seharusnya
fumoruki (Guest) :
Naruto pakai magia erebea? Itu pasti, tapi mungkin tidak di arc kali ini
Date Uzumaki Ryumune Otsutsuki :
Thanks...
RaditDevilBoy001 :
Iya, pair Naruto dengan Yukihime walau takkan menonjol dan romancenya tidak sekarang karena masih memasuki arc yang serius
Dan soal Negi Springfield, akan ada rahasia penting dibalik hubungan Negi dengan member-member senior UQ Holder di masa lalu, terlebih dengan Yukihime
Bagaimana fanfic dari saya, semoga memuaskan anda selaku reader...
Overall, Shirokami Khudhory logout dulu...
