A/N: Semoga update ini berkenan di hati. Mohon maaf jika ada kesalahan typo.

Chapter 10 - Flashback

Levi mengusap wajah Eren yang tengah tertidur dalam sangkar. Dia duduk di depan sangkar, mengawasi ekspresi tidur Eren. Mengetahui bahwa bocah yang kini dihukum untuk tidak keluar sangkar sampai dia jera, sang raja berpikir dia bisa mematikan keinginannya untuk kabur. Mengetahui bahwa masuknya Eren ke dalam istana hanya dengan tujuan untuk melihat laut dan menjadi prajurit, tatapan tajam Levi melemah. Menyadari bahwa dia seorang bocah yang hanya memiliki pikiran yang penuh dengan laut dan dunia luar. Pemandangan yang dilihat di depan mata sore ini membuatnya sadar bahwa ketiga anak ini memiliki tujuan yang sama untuk mengabdi pada istana dan melihat laut.

Eren merintih pelan, Levi menarik tangannya menjauh. Dia diam saat Eren membuka matanya perlahan, mengerjap dan mendapati dirinya diawasi. Eren bangun dari tidurnya, berlutut dan mundur sampai ke tepi sangkar. Mata Eren turun melihat noda darah pada jubah Levi. Dia menatap ngeri.

"Kau bangun." Ekspresi galak bocah itu membuat dadanya ngilu.

"Raja… itu… darah?"

Levi tidak menghiraukan pertanyaannya. "Lupakan tugasmu untuk memuaskanku malam ini. Aku disini hanya ingin memperingatkanmu, jangan sekali-kali kau mendekati Erwin lagi. Jika ada orang selain kedua saudaramu, aku, Farlan atau si gila Hanji yang mendekati sangkar ini, berteriaklah." Mata Levi berkilat berbahaya.

Eren mengangguk tanpa suara. Dia meneguk ludah, dengan berani menatap balik mata Levi yang tidak berkedip. Duduk kaku ketika Levi berdiri, bersiap bahwa Levi akan membuka sangkar. Matanya mengawasi Levi mengambil belati yang tergeletak di lantai, berlumur darah. Dia menatap bingung ketika Levi balik badan dan pergi meninggalkan kamar kosong tempat sangkarnya diletakkan. Eren menghela nafas lega. Setidaknya dia tidak harus menghadapi kekasaran Levi malam ini. Menepuk jantungnya agar tenang, Eren menyender pada jeruji sangkar.

Membanting pintu tertutup, Levi menatap dingin pengawal bertubuh besar yang tergeletak tidak bernyawa di lantai.


Mikasa menatap bulan dari jendela kamarnya. Tugas untuk bersama Eren malam ini dihentikan raja. Mikasa menekan dahinya pada kaca jendela, menghela nafas panjang. Apa tidak bosan sang raja menyiksa saudaranya? Dia mencengkeram celemek yang masih dikenakannya. Menyadari bahwa ada sesuatu di dalam kantong celemek, Mikasa mengeluarkan buku kecil tentang masak memasak yang diberikan Armin. Dia membuka halaman yang dibatasi Armin, menemukan secarik kertas yang dilipat rapih. Mikasa menutup buku ketika Shasha masuk.

"Mikasa? Kau belum berganti baju?" Sasha, teman sekamarnya mengusap matanya, menguap lebar sambil menutup pintu.

"Aku akan ganti sekarang." Mikasa membalas. Dia berjalan menuju lemari dan mengambil baju tidur.

"Apa kau mendengar kabar mengenai Eren dari Petra?"

Sasha menggeleng kepala. "Sepertinya hari ini kau tidak usah bertugas menjaganya."

Mikasa meninggalkan kamar dan berjalan menuju kamar mandi khusus pelayan. Dia tidak membuang waktu untuk bersantai. Pikirannya tertuju kembali pada robekan kertas itu. Setelah berpakaian rapi, Mikasa membuka kertas yang dilipat rapi. Informasi yang ditulis Armin mengenai adanya kudeta terang-terangan yang dilakukan kerajaan, pandangannya tertuju pada nama bayi yang bersangkutan dengannya. Mengernyitkan dahi pada nama yang sama, Mikasa mengeja nama panjang bayi itu.

Mikasa Ackerman

Pada penjelasan Armin di akhir, dia menyuruh Mikasa untuk menanyakan detailnya pada Eren.


Armin sibuk berkutat dengan pion-pion di hadapannya, berusaha untuk mempelajari kemungkinan terburuk yang bisa terjadi bila memilih jalan yang salah. Pikirannya terbagi dengan adanya hal yang mengganjal dalam hati. Apakah Eren tahu silsilah saudari angkatnya? Dia ingat nama yang tertulis dalam robekan halaman. Dia sudah menyerahkan inti informasi kepada Mikasa secara tersembunyi, menuliskan dengan jelas pada secarik kertas. Armin berharap hal itu dapat membuat Mikasa tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan sedikit keterangan yang didapat. Benaknya penuh dengan tanda tanya. Apa hubungan Erwin dengan kerajaan terdahulu? Dari sekian buku yang dibacanya, tidak ditemukan informasi mengenai Erwin Smith diikutkan dalam kudeta. Dia terlalu muda untuk menjadi bagian dalam kudeta tersebut. Tidak ada namanya dalam korban yang dituliskan. Mengetahui latar belakang yang namanya cukup tersohor dan menjadi orang terpercaya Levi, dia seharusnya berada dalam jajaran nama terkenal.

Armin mencengkeram pena dalam genggaman. Dia mengusap rambutnya yang berantakan untuk yang kesekian kali, bergumam dengan dirinya sendiri dan berdecak tidak sabar. Tidak mungkin dia melakukan kudeta seorang diri, bukan? Sejenius apa pun dia, tidak mungkin tidak ada orang yang bisa diajak bekerjasama dalam proses ini. Berkali-kali bayangan bahwa dia menjadi yang pertama dipancung di hadapan semua orang sebelum Eren dan Mikasa membuatnya bergidik.

Armin menutup mata, menggigit bibirnya, mengecap asin darah dari kulit yang terkoyak. Tangannya bergetar hebat, dia memutuskan untuk tidak melanjutkan dan menutup buku.

'Apa yang harus kulakukan. Ini mustahil…' Harapan satu-satunya adalah kematian. Mungkin ada baiknya Erwin menghabisi nyawanya di saat dia tahu Armin menemukan robekan kertas itu.


Eren terbangun oleh suara gaduh di depan pintu kamarnya. Dia melihat pengawal direpotkan oleh seorang pelayan yang memaksa masuk.

"Mikasa? Apa yang dilakukannya?" Eren menggenggam jeruji, menatap khawatir.

"Kau tidak ditugaskan malam ini, Mikasa. Kuharap kau mengerti."

Eren menangkap suara Farlan yang berdiri tepat di depan pintu yang setengah terbuka, menghalangi masuknya Mikasa.

"Aku tidak peduli, biarkan aku bersama dengannya."

"Ada apa ribut-ribut?"

Semuanya menatap Levi yang keluar dari kamar, mendelik pada satu per satu prajurit yang menjaga di seberang kamar. Mikasa memeluk selimut miliknya yang dibawa serta, mendelik balik ke arah Levi yang langsung tahu sumber keributan di depan kamar.

Levi mendengus. "Biarkan dia masuk, dia tidak akan berhenti sampai pagi. Farlan, aku ingin bicara denganmu."

Farlan berjalan masuk mengikuti Levi. Para pengawal memberi jarak bersamaan dengan raja mereka membanting pintu. Pintu ditutup dan Mikasa berlari menuju sangkar.

"Apa kau bisa berhenti bertindak seenaknya?" Eren langsung memarahi.

Mikasa jelas tidak memperdulikan, memasukkan selimut ke dalam sangkar melalui jeruji. Dia memberikan kertas pemberian Armin pada Eren.

"Katakan, apa kau tahu tentang hal ini? Aku tidak tahu apa maksud Armin, tapi kuharap kau bisa menjelaskan, bila kau memang tahu." Mikasa duduk dengan gelisah.

Eren membuka tulisan Armin, membaca dengan cepat sebelum hatinya mencelos. Matanya membulat membaca keterangan ini. "Darimana Armin mendapatkan ini?" Tangannya mulai berkeringat.

"Dia memberikannya padaku kemarin sore sebelum kita melihat laut."

Eren terdiam. Ingatan akan datangnya gadis kecil yang digandeng oleh Grisha pulang ke rumah membuat dadanya ngilu. Dia menaruh sobekan kertas itu pada pangkuannya. "Kau harus membakar ini, Mikasa. Tidak ada yang boleh tahu."

"Maksudmu, kau tahu soal ini? Tidak mungkin aku merupakan salah satu keluarga kerajaan. Ini tidak masuk akal, Eren!"

"Kau pikir kenapa mereka membantai keluargamu?"

Mikasa menekap mulutnya. "Bagaimana kau bisa tahu hal ini, Eren?"

Eren menatapnya serius. Dia menelan ludah, berbicara sepelan mungkin. Selagi Farlan tidak menjaga.

Mempunyai pemerintahan yang kolot dan menggaris besarkan lelaki harus menjadi pemimpin, Kerajaan Ackerman tidak menerima kenyataan bahwa penerus selanjutnya menjadi tanggungjawab seorang bayi bernama Mikasa Ackerman. Kebusukan kerajaan terbukti dengan adanya titah dari sang raja untuk menggulingkan keturunan tersebut. Bayi Mikasa tidak tahu menahu mengenai hal tersebut harus menerima kenyataan bahwa ibunya dicemooh karena dia tidak mampu melahirkan seorang anak lelaki. Rahimnya diambil demi menyelamatkan dirinya dari kematian karena adanya penyakit pada rahim. Sang raja mengambil calon permaisuri baru dari seorang harem strata atas, dengan harapan lahirnya seorang calon raja. Istana terbelah dua dengan adanya pengikut keluarga Mikasa Ackerman yang merasa keputusan raja sangat tidak adil dan dengan sengaja mengacaukan garis keturunan raja karena mengambil seorang harem untuk diperistri. Yang satunya menjadi pemegang teguh kekuasaan yang hanya memperbolehkan seorang lelaki untuk memimpin negeri.

Permaisuri kedua melahirkan seorang anak laki-laki setahun kemudian. Bayi Levi menjadi pemegang takhta kerajaan.

Tidak ingin permaisurinya meributkan status bayi mereka, raja mengusir ibu Mikasa dari istana. Demi keselamatan bayinya, mantan permaisuri pun terpaksa meninggalkan istana. Dia tinggal di dalam asuhan kakak laki-lakinya, Kenny Ackerman ― yang bekerja pada kerajaan sebagai mata-mata― secara tersembunyi.

Sang ibu jatuh hati pada seorang pengusaha keliling dan membesarkan Mikasa sampai berusia tujuh tahun. Mereka hidup di pondok kecil untuk mengasuh putri mereka sampai pada saat titah kerajaan diturunkan untuk membunuh orang tua mereka. Kenny yang merupakan salah satu ksatria terkuat istana menggertakan giginya, rasanya masih tidak percaya akan perintah yang telah didengarnya sendiri.

"Apa maksudmu aku melakukan kesalahan? Apa aku tidak salah dengar bahwa aku melakukan dosa besar terhadap istana? Apa aku tidak salah baca bahwa titah raja mengatakan kalau aku sudah berselingkuh dari kerajaan dan menikah di luar istana?! Bukankah mereka yang sudah melempar anak ini ke luar istana?!"

Mikasa yang mendengarkan mengerjap bingung. Suaminya mengelus punggung sang istri, berusaha menenangkan dia.

"Percaya atau tidak itulah keputusan raja. Kau sudah tahu kebusukan mereka. Besok adalah waktunya kau akan dibawa ke istana."

Ibu Mikasa memeluk anaknya dan menangis. Mikasa yang bingung membalas pelukan ibunya.

"Kenny, kumohon lindungilah anak ini."

Kenny menghela nafas, menyaksikan adegan sedih di depan matanya. "Akan kujadikan dia seorang putri suatu hari nanti, jadi kau harus mati demi dia."

Matanya membulat mendengar perkataan kakaknya.

"Mari bermain drama." Kenny menyeringai, memperlihatkan pisaunya yang berkilat. "Kau menjadi korbannya dan aku yang merupakan mata-mata kerajaan akan menghabisimu dan suamimu."

"Kau jangan main-main-" perkataannya terpotong ketika terdengar suara gaduh dari depan pondok.

"Mikasa, larilah! Larilah dari pintu belakang!"

Mendengar jeritan ibunya, Kenny bangun bersamaan dengan didobraknya pintu terbuka. Mikasa tidak sempat bersuara ketika melihat leher ibunya disayat dengan pisau oleh Kenny. Berdiri kaku menonton pembunuhan ibunya, cipratan darah mengenai mukanya dan tubuhnya.

Kenny dengan cepat menusuk pisau ke arah Ayah Mikasa yang mencoba melawan.

"Kenny, ternyata kau sudah lebih dulu di sini. Kami tertolong." salah seorang prajurit istana membungkuk, menatap Kenny dengan tampang datar.

Kenny meraih leher Mikasa, membantingnya ke lantai berkayu. Mikasa tersengal, berusaha membebaskan diri.

"Sebaiknya kau tidak bergerak agar ini menjadi lebih mudah." Kenny berbisik.

"Kenny-"

"Biar aku yang menghabisi nyawanya. Kalian pergilah. Katakan tugas sudah kelar olehku."

"Baiklah, kami percayakan padamu!"

Kenny memamerkan giginya yang jelek pada mereka, menyeringai dingin dan menunduk pada gadis itu. Dia tahu mereka cukup bodoh untuk meninggalkan gadis ini padanya. Mempercayakan seorang mata-mata yang menyembunyikan mantan permaisuri.

"Dengar Mikasa, jika kau ingin hidup, berbaringlah sebentar di rumah ini. Kau akan selamat tidak lama lagi." Kenny memukul sepupunya sampai pingsan dan menyematkan surat yang telah ditulisnya kepada Dr. Yeager.

Dia bangun dan meninggalkan pondok setelah meletakkan bendera istana di atas jasad kedua orang tua Mikasa.

Grisha Yeager berlari menuju pondok di tengah hutan, tidak menghiraukan hujan deras yang membuatnya hampir basah kuat. Tubuhnya bergetar melihat dua orang tua yang dikenalnya dengan baik kini sudah tiada. Menerima burung merpati pengirim pesan akan informasi yang didapat dari Kenny Ackerman, dia tahu apa yang harus dilakukannya.

Dilihatnya gadis kecil yang kini sudah sadar, terduduk dan melamun dalam diam. Pembantaian kedua orang tuanya masih menghantui pikirannya. Perlu waktu untuk Grisha menyadarkan Mikasa dan ikut dengannya. Anak laki-lakinya yang memaksa ikut menyaksikan keburukan istana, melihat bendera yang sengaja diletakkan di atas kedua orang tua Mikasa. Menggandeng tangan gadis kecil itu, dia mengalungkan syall merahnya, berusaha untuk menutupi wajahnya dengan niat untuk menyembunyikan identitas Mikasa.

"Mikasa, mungkin ini berat, tapi kuharap kau mau tinggal dengan kami?"

"Dr. Yeager, apa salahku pada istana?"

Eren menyelak. "Kau tidak salah! Suatu saat, kau akan mampu untuk membalaskan dendammu!"

"Eren, yang kau katakan itu salah. Mungkin sebaiknya dia melupakan dendamnya agar bisa hidup tentram." Grisha menggandeng pulang Mikasa bersamanya.

Eren memberenggut, tidak menjawab.

Seminggu tidak akan cukup untuk membuat Mikasa melupakan kejadian tersebut. Hal itu semakin buruk ketika gadis itu hanya ingin mendekam di kamar, gemetar hebat ketika seseorang masuk kamarnya. Grisha memutuskan untuk menghipnotis gadis itu agar hidup tenang. Memanggil Eren untuk membantu, dia menghipnotis Mikasa.

Grisha mengangkat tangannya di hadapan Mikasa yang kini menatap kosong.

"Dengar Mikasa, kau akan ingat semuanya bila diperlukan suatu saat nanti. Namun untuk saat ini kau akan melupakan semuanya. Bila kau melihat Eren menggigit tangannya, kau akan ingat semuanya."

Eren melakukan apa yang disuruhnya. Dia menggigit tangan kanannya.

"Mulai saat ini kau anak perempuan keluarga Yeager." Grisha menepuk tangannya sekali dengan keras. Mikasa mengerjap, menatap Grisha yang tersenyum.

"Kau baik-baik saja? Sepertinya kau mengalami mimpi yang sangat buruk."

Dia mengangguk bingung.

"Syukurlah, tidurlah dengan tenang malam ini."

Tiga tahun setelah Mikasa tinggal di kediaman Grisha Yeager bersama Carla and Eren, Mikasa tumbuh besar sebagai gadis sederhana. Mereka bermain dengan Armin, teman terdekat Eren yang tinggal dengan kakeknya.

Di tengah kedamaian dalam hidup Mikasa, rakyat menerima kabar bahwa permaisuri meninggal karena sulit melahirkan bayi perempuan. Adik perempuan Levi yang masih berusia 3 tahun dinikahkan kepada Raja Magnolia. Membenci tindakan ayahnya, Levi yang saat itu berusia 10 tahun memupuk dengki yang mendalam terhadap ayahnya. Dia bertekad menjadi raja dan menghapuskan peraturan yang tidak memperbolehkan seorang perempuan memegang takhta.

Malam saat Levi merayakan ulang tahun yang ketiga belas raja diracun, meninggal dunia pada perjamuan makan malam. Anggur yang dituang Levi berkali-kali pada ayahandanya mengandung racun. Seluruh istana tidak berani menyangkal siapa pun, mengetahui bahwa putra mahkotalah yang menjadi dalang kematian raja. Levi naik tahta dan memegang kuasa dua tahun lebih awal dari upacara kedewasaannya.

Kehidupan Mikasa bersama dengan kembali terusik oleh istana. Dia harus menerima berita buruk bahwa ayah Eren dijatuhkan hukuman mati karena dicurigai melakukan praktek rahasia dan terlarang. Malam itu Carla dengan sigap menarik keduanya ke ruang bawah tanah Grisha yang selama ini dilarang dimasuki oleh anak-anak itu. Eren melihat beberapa jenis obat-obatan yang masih dalam proses.

Carla mencengkeram tangan Eren, melepaskan perhatiannya dari penelitian yang dilakukan Grisha. "Dengar, Eren. Kau harus melindungi Mikasa, apa pun yang terjadi. Mikasa, lindungi anakku yang bodoh ini agar tetap hidup. Kalian harus menjaga satu sama lain." Carla menggiring kedua anaknya sembunyi di dalam lemari. Berjongkok dan menaruh telunjuk di depan bibirnya.

"Berjanjilah bahwa kalian tidak akan mengeluarkan bunyi apa pun, sampai semuanya tenang. Jangan pedulikan jeritan apa pun."

"Bagaimana dengan ayah?"

"Ayahmu sudah dibawa ke istana, dia tidak akan kembali, Eren. Ingat satu hal, dia tidak akan melakukan praktek terlarang tanpa ijin kerajaan. Permaisuri memang kesulitan saat melahirkan bayi perempuan. Dia bisa diobati namun raja menolak."

Eren menggeram, Mikasa menarik baju Carla.

"Mikasa, kuharap kau menjadi putri yang baik. Aku bersyukur bisa mengasuh putri sepertimu." Carla mencium kening Mikasa, mendorongnya ke arah Eren dan berdiri. "Setelah ini pergilah ke rumah Armin dan tetaplah hidup." Carla menutup lemari.

Mikasa berkutat melepaskan diri. Eren memeluknya, menggeleng kepala. Eren menarik kain dan menyelubungi Mikasa sebisa mungkin. Suara derap kaki dan pecahnya botol obat membuat keduanya tahu bahwa kerajaan sudah mengobrak-abrik seisi rumah. Pekikan Carla membuat Eren melonjak. Dia yakin ibunya tengah dihabisi. Berusaha untuk menahan diri agar tidak keluar, Eren menutup telinganya. Mikasa merepet pada Eren saat pintu lemari dibuka perlahan. Sesosok mata dingin yang mengawasi dari luar membuat kedua anak tersebut duduk kaku menahan nafas. Eren balas menatap, mata hijaunya berpendar di tengah kegelapan. siap melompat apabila sang pengintai menerkam mereka. Jemari Eren mencengkeram pisau lipat yang disembunyikan di dalam kantong jaketnya.

Pintu lemari ditutup. Eren mengerjap dalam gelap. Entah siapa yang menyembunyikan mereka dan berbohong bahwa lemari persembunyian itu kosong, Eren tidak tahu bagaimana dia bisa berterima kasih.

Sesaat suasana sunyi senyap. Eren perlahan membuka pintu, mengintip keluar dengan pisau di tangannya. Dia menghela nafas dan menyambar lengan Mikasa, membantunya berdiri. Melihat jasad ibunya tergeletak dengan bendera istana menutupi tubuhnya, Eren berlutut, menahan diri untuk tidak berlari menuju istana.

Setelah mendapat bantuan kakek Armin untuk menguburkan Carla, Eren dan Mikasa tinggal bersama Armin.

"Lalu sekarang kita berada di dalam istana yang memporak-porandakan keluarga kita." Eren menatap Mikasa yang sulit percaya akan kejadian yang menimpanya.

"Ini dongeng 'kan? Ini tidak nyata." Mikasa berbisik.

"Percaya atau tidak, kau putri raja. Seharusnya yang memimpin rakyat adalah kau, bukan…" Eren tidak berani meneruskan. Dia mengangkat tangan kanan, menunjukannya pada Mikasa. Mata saudarinya mengikuti gerakan tangan Eren. Eren menggigit punggung tangannya sendiri. Seperti deja vu yang menyerang tiba-tiba, hipnotis yang diberikan Grisha buyar. Ingatannya menyeruak masuk secara paksa. Mikasa mengerang sambil memegangi kepalanya. Eren mengawasi, takut apabila dia melakukan kesalahan. Ekspresi gadis itu berubah, sinar matanya perlahan meredup. Eren langsung tahu ingatan yang terkunci kini kembali.

"Kalau sudah begini tidak ada gunanya menutupi semuanya. Tapi, sekarang kau ingat, apa yang akan dilakukan?"

"Armin… menyusun rencana." Mikasa meringis di tengah sakit kepala yang menyerang.

Eren menarik nafas tertahan. Dia meremas coretan kertas Armin.

"Apa yang harus kulakukan untuk keluar dari sangkar. Tanyakan itu padanya."

Mikasa mengangguk. Dia mengambil coretan Armin dan menyimpannya dalam celemek.

"Jangan lupa kau bakar itu." Eren memperingatkan.

Mikasa berdiri sebelum menatap kembali ke arah Eren. "Kenapa jubah raja masih di situ?"

Eren melihat jubah Levi yang belum diambil kembali. "Dia meninggalkannya kemarin dalam sangkar dan tidak mengambilnya lagi."

"Berikan padaku, biar kubakar bersama kertas ini."

"Apa? Tunggu, Mikasa!" Eren menarik jubah itu lepas dari tangannya. "Apa kau mau digantung? Tinggalkan jubah ini dan pergilah kembali ke kamarmu." Eren protes ketika gadis itu tidak jadi meninggalkannya.


"Apa yang ingin kau bicarakan, Raja?"

Levi menyilang tangan. "Apa kau tahu bahwa Eren masuk kemari hanya dengan tujuan untuk melihat laut?"

Farlan menggeleng. "Jika memang benar begitu, apa tidak kau bebaskan dia?"

Mata Levi berkilat. "Apa menurutmu dia masih akan berusaha kabur? Erwin mendapat mainan baru, bukan berarti aku akan membiarkannya menyentuh Eren."

"Jika kau mau, kau bisa rajin mengajaknya melihat laut. Dengan kondisi di dalam sangkar. Mungkin membebaskannya pada siang hari?"

"Lalu mengurungnya pada saat matahari terbenam. Bagus sekali idemu."

"Kau hanya tidak ingin orang lain menyentuhnya, bukan?"

"Apa itu salah?"

Farlan mendengus dan menggeleng kepala. "Biar kuulangi, apa kau sudah tahu apa artinya cinta, Levi?"

"Aku hanya tahu bahwa setiap harem adalah milikku. Eren akan menjadi milikku selamanya." Levi mengangkat bahu. "Meskipun aku harus mengurungnya dalam sangkar. Akan kubuat dia hanya melihatku."

Farlan tidak mengatakan apapun lagi. Mungkin sang adik dapat membantu dari jauh.

"Pergilah, biar aku yang menjaga Eren malam ini."

"Kau menyuruhku istirahat?" Farlan terkejut.

"Aku bisa melindungi diri sendiri, Farlan. Berbicara mengenai hal ini, aku punya tugas lagi untukmu. Awasi Erwin."

Farlan menghela nafas. "Kau sudah memerintahkan aku untuk melakukannya beberapa kali. Dia tidak akan bisa menyentuh Eren di dalam sangkar."

"Bukan itu, aku merasakan firasat lain. Apa kau belum tahu bahwa aku baru membunuh salah satu pengawalku malam ini, sebelum kau balik dari tugasmu mengawasi Erwin? Aku hendak ke kamar Eren saat dia berani masuk ke dalam kamarnya dan berdiri di depan sangkar. Mulai besok, sangkar Eren akan dipindahkan ke kamarku."

Mata Farlan membulat. "Lalu kau menyuruhku meninggalkanmu?! Yang benar saja!"

"Ini perintah. Kau satu-satunya yang bisa kupercaya saat ini. Jangan membuatku kecewa, Farlan."

Farlan membungkuk rendah. "Baik, Tuanku."

"Sebelum kau pergi, bakar mayat di dalam ruang pembersih sebelum terjadi kegaduhan."

"Kau menyeretnya ke sana?! Apa yang akan dikatakan pelayan jika mereka menemukannya?"

"Katakan saja ini akibatnya jika berani menyentuh harem raja." Levi mengangkat bahu.

Sekali lagi Farlan menghela nafas.


Tepukan pada pundak membuat Armin melonjak kaget, terbangun dari tidurnya. Dia mendongak dan melihat Erwin tersenyum padanya. Bangun dari kursi, Armin hampir menggigit lidahnya sendiri.

"M-ma-aaf… A-aku tertidur dan-"

"Armin, perkenalkan. Kenny Ackerman."

Armin melihat kakak dari ibu Mikasa Ackerman. Pria jangkung itu menyeringai padanya, berjalan cepat dan menjabat tangannya.

"Perkenalkan, di jenius Armin Arlert? Kupikir Erwin memperkerjakan siapa, dia menyuruh bocah sepertimu?" Kenny melepaskan Armin setelah mengguncang tangannya cukup keras.

Armin mengangguk. "Aku hanya membantu operasi strategi."

"Tidak hanya aku yang akan bekerja sama dengan orang dalam, tapi beberapa prajurit terdahulu yang menyuarakan kegetiran mereka juga akan ikut dalam melancarkan operasi ini." Kenny melanjutkan.

"Jadi…" pandangan Armin bergulir pada Erwin.

"Permasalahan mengenai operasi ini akan kita bicarakan lebih lanjut. Kenny disini bertugas sebagai mata-mata istana. Besok malam setelah lonceng tanda tengah malam berbunyi, kita akan bertemu lagi. Akan ada lebih banyak orang besok."

Armin tahu dia tidak akan bisa mundur. Pembunuh handal sekaligus mata-mata istana sudah berada di hadapannya. Dia mengepal kuat-kuat sampai buku-buku jarinya memutih.

TBC